logotype
Donate

Kategori: Kabar Habitat

HFHI Flores (3)
Kabar Habitat

Habitat Indonesia dan Pemkab Nagekeo Perkuat Komitmen Pemulihan Pascagempa Flores

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam upaya pemulihan pascagempa Flores (9/9). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Nagekeo, 10 September 2026 – Memasuki fase pemulihan pascabencana Gempa Flores, Habitat for Humanity Indonesia memperkuat komitmen jangka panjang bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, untuk mendukung keluarga-keluarga terdampak agar dapat kembali pulih secara bertahap.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, dan Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman. Penandatanganan dilaksanakan secara hybrid pada Rabu, 9 September 2026, sebagai landasan kolaborasi dalam pelaksanaan program pemulihan pascabencana di Kabupaten Nagekeo.

Melalui kerja sama ini, Habitat Indonesia akan menjalankan program Flores Housing Recovery yang berfokus pada pemulihan hunian dan layanan dasar bagi keluarga terdampak gempa, khususnya di Kecamatan Aesesa. Program ini direncanakan berlangsung selama satu tahun ke depan dengan melibatkan koordinasi bersama pemerintah daerah serta pemangku kepentingan terkait.

Dalam pelaksanaannya, program pemulihan akan mencakup beberapa bentuk dukungan. Habitat Indonesia akan membantu perbaikan dan perkuatan struktur bangunan (retrofitting) bagi 200 rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat gempa. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu keluarga memiliki hunian yang lebih layak dan aman.

Selain pemulihan hunian, dukungan juga akan diarahkan pada pemulihan akses rumah tangga terhadap layanan air bersih dan sanitasi yang aman. Edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat turut menjadi bagian dari program melalui pelatihan mengenai praktik Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) serta prinsip pembangunan dan perbaikan hunian yang lebih aman terhadap risiko bencana melalui pendekatan Build Back Safer.

Pemulihan juga akan menyasar fasilitas publik yang terdampak bencana. Habitat Indonesia merencanakan rehabilitasi sekolah dan pos kesehatan masyarakat untuk membantu memulihkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan primer.

“Pemerintah Kabupaten Nagekeo, bersama masyarakat, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Habitat for Humanity Indonesia serta para donatur atas dukungan yang diberikan. Kami menerima dukungan ini sebagai bagian dari upaya bersama untuk membantu masyarakat Nagekeo melewati masa pemulihan pascabencana,” ujar Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus.

Distribusi 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) ke lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (31/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Memulai pemulihan dari langkah awal

Komitmen pemulihan jangka panjang ini melanjutkan respons Habitat Indonesia yang telah dilakukan sejak fase awal pascabencana. Sebelumnya, pada 31 Agustus 2026, Habitat Indonesia melalui dukungan para donatur telah menyalurkan 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) kepada keluarga terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Aesesa, yaitu Desa Aeramo, Marapokot, Nangadhero, Tonggurambang, dan Waekokak.

Paket ESK berisi berbagai perlengkapan pertukangan yang dapat digunakan keluarga untuk membersihkan sisa material gempa serta melakukan perbaikan darurat pada rumah yang mengalami kerusakan. Dukungan ini menjadi langkah awal agar keluarga dapat mulai melakukan pemulihan hunian secara mandiri sesuai dengan kondisi rumah masing-masing.

Bagi Habitat Indonesia, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pemberian bantuan darurat. Perbaikan hunian, pemulihan layanan dasar, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga rehabilitasi fasilitas publik perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Dukungan dari para donatur Habitat for Humanity Indonesia menjadi momentum untuk terus berbuat kebaikan dan membantu keluarga terdampak. Harapannya, dukungan ini dapat membantu keluarga memulihkan rumah mereka secara bertahap dan membangun kembali kehidupan yang lebih aman setelah bencana,” kata Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman.

Melalui program Flores Housing Recovery, Habitat Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo berupaya memastikan proses pemulihan berjalan secara terarah dan menjawab kebutuhan masyarakat terdampak. Kolaborasi lintas pihak menjadi penting agar keluarga tidak hanya mendapatkan bantuan pada masa tanggap darurat, tetapi juga memiliki dukungan untuk membangun kembali hunian dan kehidupan mereka dalam jangka panjang.

Proses pemulihan pascabencana merupakan perjalanan yang membutuhkan waktu dan gotong royong dari berbagai pihak. Karena itu, Habitat Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat untuk turut ambil bagian dalam mendukung keluarga terdampak Gempa Flores.

Mari bersama membantu keluarga di Flores memulihkan hunian, membangun kembali kehidupan, dan menciptakan masa depan yang lebih aman. Salurkan donasi melalui informasi yang tercantum pada flyer kampanye.

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI – Microsoft_3
Kabar Habitat

Membangun Ruang Belajar yang Lebih Layak bagi Siswa-Siswi di Karawang dan Cikarang

Karawang, 10 September 2026 – Sahut-menyahut suara riang siswa terdengar ketika bel masuk berbunyi, menandai dimulainya kegiatan belajar di SDN Wanakerta 1, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang. Sebanyak 184 siswa menjalani aktivitas belajar di sekolah tersebut setiap harinya. Namun, proses belajar mengajar di sekolah ini menghadapi kendala setelah salah satu ruang kelas mengalami kerusakan cukup parah.

Atap ruang kelas yang telah rapuh akhirnya ambruk dan menyebabkan ruangan tersebut tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi serupa juga terlihat pada plafon yang ikut mengalami kerusakan. Para siswa pun harus menggunakan ruang kelas lain secara bergantian, sehingga kegiatan belajar tidak dapat berlangsung secara optimal.

“Atapnya bocor, kemudian plafonnya juga sampai rubuh karena rangka atapnya sudah rapuh. Untungnya saat kejadian tidak ada anak didik kami di dalam kelas. Harapannya kondisi ini bisa segera diperbaiki agar kegiatan belajar mengajar lebih optimal dan anak-anak tidak perlu lagi menumpang kelas atau belajar secara bergantian,” ujar Drs. Jasa Rohdiat, Kepala SDN Wanakerta 1.

Tidak hanya ruang kelas, fasilitas sanitasi di sekolah tersebut juga menghadapi keterbatasan. Dua dari fasilitas toilet yang tersedia mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan. Kondisi ini membuat jumlah toilet yang dapat digunakan menjadi terbatas dan siswa harus mengantre ketika ingin menggunakannya.

Kondisi fasilitas pendidikan seperti yang dialami SDN Wanakerta 1 masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia. Sekitar 30 persen sekolah dasar di wilayah pedesaan masih membutuhkan renovasi besar, sementara sekitar 20 persen belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Kondisi bangunan dan fasilitas sekolah yang kurang memadai dapat memengaruhi kenyamanan serta keamanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

Tantangan tersebut juga terlihat di sekitar kawasan industri Karawang International Industrial City (KIIC) di Kabupaten Karawang dan Greenland International Industrial Center (GIIC) di Kabupaten Bekasi. Di empat desa yang berada dalam radius 5–7 kilometer dari kedua kawasan industri tersebut, terdapat 41 sekolah mulai dari jenjang PAUD hingga SMA. Diperkirakan sekitar 21 sekolah masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ruang kelas yang padat, bangunan yang mengalami kerusakan, keterbatasan fasilitas sanitasi, hingga minimnya sarana pendukung pembelajaran.

Kondisi salah satu ruang kelas yang tidak layak di SDN Wanakerta 1, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Foto: Tim HFHI

Melihat kebutuhan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia menggandeng Microsoft untuk meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan di sekitar kawasan KIIC dan GIIC. Upaya ini merupakan bagian dari program pendidikan Habitat yang melihat keterkaitan erat antara hunian layak, lingkungan belajar, dan kualitas hidup keluarga berpenghasilan rendah.

Habitat Indonesia memandang bahwa rumah layak dan lingkungan belajar yang layak merupakan dua hal yang saling berkaitan. Anak-anak membutuhkan tempat tinggal yang aman untuk beristirahat dan belajar di rumah, sekaligus sekolah yang nyaman agar dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas fasilitas pendidikan menjadi bagian dari upaya Habitat dalam mendukung peningkatan kualitas hidup keluarga berpenghasilan rendah secara menyeluruh.

Saat ini, tim Habitat Indonesia tengah melakukan asesmen mendalam terhadap sekolah-sekolah di empat wilayah sasaran, yaitu Desa Wanakerta, Wanasari, Sukamahi, dan Pasiranji. Asesmen dilakukan untuk memahami kondisi fasilitas secara lebih menyeluruh, mengidentifikasi kebutuhan prioritas, serta memastikan bentuk renovasi yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.

Berdasarkan hasil asesmen tersebut, sebanyak 15 sekolah akan dipilih untuk mendapatkan dukungan renovasi. Setiap sekolah akan menyusun usulan berdasarkan kebutuhan prioritasnya, sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.

Dukungan renovasi dapat mencakup berbagai perbaikan non-struktural, seperti perbaikan plafon, lantai, dinding, pengecatan, fasilitas sanitasi, maupun peningkatan akses air bersih. Jenis pekerjaan akan ditentukan berdasarkan hasil asesmen dan usulan dari masing-masing sekolah.

Tim Habitat for Humanity Indonesia bersama perwakilan Microsoft melakukan asesmen mendalam terhadap 15 sekolah di wilayah Kabupaten Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Foto: Tim HFHI

Selain memperbaiki fasilitas fisik, program ini juga mendorong agar renovasi mempertimbangkan aspek inklusivitas. Sekolah akan didorong untuk menerapkan fasilitas dan desain yang lebih ramah bagi perempuan serta penyandang disabilitas, sehingga lingkungan belajar dapat digunakan secara aman dan nyaman oleh seluruh siswa.

Aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian dari perencanaan. Penggunaan material lokal yang tahan lama, pemanfaatan pencahayaan dan ventilasi alami, serta efisiensi penggunaan air dan energi akan dipertimbangkan dalam proses renovasi. Sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah, pendekatan terhadap ketahanan perubahan iklim seperti perbaikan drainase, perlindungan dari banjir, maupun pemanfaatan air hujan juga dapat diterapkan.

Program ini tidak berhenti pada pembangunan atau perbaikan fasilitas. Sekolah juga akan didorong untuk memiliki rasa kepemilikan terhadap fasilitas yang telah diperbaiki. Keterlibatan pihak sekolah dalam menentukan prioritas renovasi menjadi salah satu langkah untuk memastikan fasilitas yang dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi dengan Microsoft, Habitat for Humanity Indonesia berharap dukungan terhadap 15 sekolah di sekitar KIIC dan GIIC dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih aman, sehat, nyaman, dan inklusif. Sebab, ketika anak-anak memiliki ruang yang layak untuk belajar, mereka tidak hanya mendapatkan tempat yang lebih baik untuk menuntut ilmu, tetapi juga ruang yang mendukung mereka untuk tumbuh, berkembang, dan mempersiapkan masa depan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI Flores2
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Emergency Shelter Kit untuk Keluarga Terdampak Gempa Flores

Nagekeo, 31 Agustus 2026 – Habitat for Humanity Indonesia mulai menyalurkan bantuan darurat bagi keluarga terdampak gempa bumi Flores yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Bantuan ini menjadi bagian dari langkah awal Habitat Indonesia dalam mendukung pemulihan hunian dan lingkungan tempat tinggal masyarakat terdampak bencana.

Melalui dukungan para donatur, Habitat Indonesia menyalurkan 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) kepada keluarga terdampak di lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bantuan tersebut didistribusikan kepada keluarga di Desa Aeramo, Marapokot, Nangadhero, Tonggurambang, dan Waekokak.

Paket bantuan ini disesuaikan dengan kebutuhan keluarga terdampak untuk membersihkan sisa material bangunan dan melakukan perbaikan awal pada rumah, terutama hunian yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Perlengkapan tersebut diharapkan dapat membantu warga memulai proses pemulihan rumah dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan.

Secara simbolis, Habitat for Humanity Indonesia menyerahkan paket bantuan ESK kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo yang diwakili oleh Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, di Posko BPBD Nagekeo.

“Saya mewakili masyarakat Nagekeo mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan yang diberikan, khususnya bantuan alat pertukangan dan perlengkapan kerja. Bantuan ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk membersihkan dan memperbaiki rumah yang terdampak, yang kemudian diharapkan dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga.” ujar Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada.

Simbolis penyerahan 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (31/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Mendukung Perbaikan Rumah dan Pembersihan Puing

Bantuan yang diberikan disusun berdasarkan kebutuhan keluarga di lapangan. Selain berfungsi sebagai perlindungan sementara, perlengkapan di dalam Emergency Shelter Kit dapat digunakan masyarakat untuk melakukan pembersihan sisa material bangunan sekaligus mendukung perbaikan awal rumah.

Setiap keluarga menerima satu lembar terpal berukuran 2 x 25 meter sebagai perlindungan sementara. Paket tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah peralatan pertukangan, seperti palu atau martil ukuran sedang, gergaji kayu, linggis, sekop, cangkul lengkap dengan gagang, serta 2 kilogram paku berukuran 7 cm dan 10 cm.

Untuk mendukung keselamatan warga selama melakukan pekerjaan, setiap paket juga dilengkapi dengan dua tali tambang, enam pasang sarung tangan, satu helm proyek, satu pasang sepatu boots, dan satu kacamata keselamatan.

Penyediaan peralatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan Habitat Indonesia untuk memastikan keluarga terdampak tidak hanya mendapatkan bantuan perlindungan sementara, tetapi juga memiliki dukungan awal untuk mulai membersihkan dan memulihkan lingkungan rumah mereka.

Distribusi 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) ke lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (31/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Langkah Awal Menuju Pemulihan Jangka Panjang

Penyaluran Emergency Shelter Kit menjadi bagian awal dari rencana pemulihan Habitat Indonesia di wilayah terdampak gempa Flores. Ke depan, dukungan akan diarahkan pada kebutuhan pemulihan hunian dan lingkungan secara lebih menyeluruh berdasarkan hasil asesmen di lapangan.

Fokus pemulihan mencakup perbaikan dan penguatan struktur bangunan atau retrofitting pada rumah terdampak, terutama untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan bangunan terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Habitat Indonesia juga akan mendukung pemulihan akses keluarga terhadap air bersih dan sanitasi yang aman, termasuk melalui edukasi dan pelatihan praktik kebersihan serta sanitasi atau Water, Sanitation and Hygiene (WASH).

Selain itu, pendekatan Build Back Safer akan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Pendekatan ini mendorong agar rumah yang diperbaiki atau dibangun kembali tidak hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi juga lebih aman dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.

Dukungan pemulihan juga akan diarahkan pada fasilitas publik yang terdampak, termasuk sekolah dan pos kesehatan masyarakat, sehingga masyarakat dapat kembali memperoleh akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan dasar yang aman dan layak.

Proses pemulihan pascabencana membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, Habitat for Humanity Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat untuk turut mengambil bagian dalam membantu keluarga terdampak gempa Flores.

Dukungan masyarakat akan membantu memperkuat proses pemulihan, mulai dari penyediaan kebutuhan darurat, pembersihan dan perbaikan rumah, hingga pembangunan kembali hunian yang lebih aman dan tangguh bagi keluarga penyintas.

Mari bersama membantu keluarga terdampak gempa Flores untuk bangkit dan membangun kembali rumah serta kehidupan mereka. Donasi dapat disalurkan melalui transfer atau QRIS pada flyer kampanye di bawah ini. 

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI _ CEO1
Kabar Habitat

CEO Build 2026: Libatkan Lebih dari 80 Pemimpin Bisnis untuk Bangun 40 Rumah Layak Huni di Bogor

Bogor, 29 Agustus 2026 – Habitat for Humanity Indonesia kembali menyelenggarakan CEO Build 2026, kegiatan amal dan sukarela yang mempertemukan para pengusaha, CEO, dan top eksekutif untuk bersama-sama mendukung penyediaan rumah layak huni bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kembali dipimpin oleh Edwin Soeryadjaya, kegiatan tahun ini melibatkan lebih dari 80 peserta dan dilaksanakan di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Melalui CEO Build 2026, para peserta tidak hanya memberikan dukungan melalui penggalangan dana, tetapi juga terlibat langsung dalam pembangunan tujuh rumah layak huni bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Habitat for Humanity Indonesia dalam mendukung upaya mengatasi backlog perumahan di Indonesia sekaligus mendorong keterlibatan sektor swasta dalam menghadirkan hunian yang layak bagi masyarakat yang membutuhkan.

Melalui pengalaman turun langsung ke lapangan, para pemimpin bisnis diajak untuk memahami tantangan kemiskinan perumahan sekaligus mengambil peran dalam menciptakan lingkungan permukiman yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2015, CEO Build telah berkontribusi dalam pembangunan 122 rumah layak huni di berbagai wilayah Indonesia. Kontribusi tersebut mencakup empat rumah di Kabupaten Bogor pada 2015, 11 rumah di Kabupaten Gresik pada 2019, 29 rumah di Kabupaten Banyuwangi pada 2022, 38 rumah di Kabupaten Bogor pada 2025, serta 40 rumah yang dibangun melalui CEO Build 2026 di Desa Wanaherang, Kabupaten Bogor. Capaian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemimpin bisnis, sektor swasta, dan Habitat Indonesia dapat terus berkembang untuk memperluas dampak dan mendukung lebih banyak keluarga memperoleh hunian yang layak.

“Kegiatan volunteerism selalu memberikan nilai yang luar biasa, baik bagi saya pribadi maupun bagi lingkungan di sekitar saya. Saya sangat bersyukur, melalui kegiatan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun ini, semakin banyak rekan pebisnis yang turut mengambil bagian dalam membangun Indonesia. Saya berharap semangat kebaikan ini dapat terus ditularkan, sehingga semakin banyak keluarga dapat memperoleh rumah yang layak huni,” ujar Edwin Soeryadjaya.

Selain pembangunan 40 rumah di Desa Wanaherang, Bogor, melalui kegiatan ini Habitat Indonesia juga menggalang dana untuk mendukung pemulihan keluarga penyintas gempa Flores. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menghadirkan hunian yang aman dan layak bagi masyarakat terdampak bencana. Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk program renovasi 200 rumah rusak ringan dan sedang di Flores, sekaligus memperluas dampak gerakan kerelawanan yang diinisiasi bersama para pemimpin bisnis dan mitra Habitat Indonesia.

Baca juga: CEO Build 2025: Kolaborasi 58 CEO Bangun Rumah Layak Huni untuk Keluarga Berpenghasilan Rendah di Bogor

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, menekankan bahwa persoalan perumahan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta.

“Sejalan dengan SDG 11, kami terus mendorong keterlibatan sektor swasta dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan lingkungan permukiman yang berkelanjutan. Kami berharap semangat kolaborasi ini dapat terus tumbuh dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut berkontribusi dalam mengatasi persoalan perumahan di Indonesia,” ungkap Handoko Ngadiman.

Habitat for Humanity Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, donatur, mitra, dan pihak yang telah mendukung pelaksanaan CEO Build 2026. Kegiatan ini juga dapat terlaksana dengan baik dengan dukungan dari PT Astra Internasional Tbk., PT Mortar Abadi, MPM, Tower Bersama Group, PT Adakom International Technology, Merdeka Copper Gold, Adaro Andalan, Sikular Karya Indonesia, dan sponsor lainnya. Harapannya, kolaborasi ini dapat terus berkembang menjadi berbagai bentuk dukungan dan kemitraan untuk membantu lebih banyak keluarga memiliki tempat tinggal yang layak. Lebih dari sekadar membangun rumah, CEO Build menjadi pengingat bahwa kepemimpinan memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan nyata.

Foto: HFHI/Astridinar Vania, Budi Ariyanto, Syefira Salsabilla

Penulis: Syefira Salsabilla

(ss/kh)

HFHI2
Kabar Habitat

Setelah Gempa, Abdul Rajak Memilih Bangkit dan Menjaga Harapan Keluarganya

Nusa Tenggara Timur, 28 Agustus 2026 – Pagi 15 Agustus 2026 seharusnya menjadi awal hari yang biasa bagi Abdul Rajak dan keluarganya. Namun, dalam hitungan menit, gempa bumi mengguncang Flores dan mengubah cara mereka memandang rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung. Meski bangunan rumahnya masih berdiri, rasa aman di dalamnya belum sepenuhnya kembali. 

Abdul, warga Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih mengingat pagi itu dengan jelas. Sekitar pukul 06.00 WITA, setelah sempat kembali tidur usai salat subuh, ia merasakan guncangan yang semakin kuat. Dari tempatnya berada di Kecamatan Congkar, ia segera berusaha memastikan kondisi istri dan anak-anaknya yang berada di rumah. 

Tak lama kemudian, kabar yang ia tunggu datang. Istri, keponakan, dan kedua anak perempuannya telah menyelamatkan diri dan berada di lokasi pengungsian bersama warga lainnya. Anak-anaknya sempat menangis dan ketakutan, tetapi mereka berhasil keluar dari rumah dengan selamat. 

Bagi Abdul, keselamatan keluarganya menjadi hal pertama yang ia syukuri. Namun, ketika kembali melihat kondisi rumah dan lingkungan di sekitarnya, ia menyadari bahwa gempa telah meninggalkan kerusakan yang tidak sedikit. 

Gudang miliknya hancur total. Kios di bagian depan rumah mengalami keretakan pada bagian atas, sementara beberapa bagian lainnya juga terdampak. Pagar musala di dekat rumahnya turut roboh. Beruntung, rumah utama dan beberapa fasilitas lainnya masih dapat digunakan. 

Setelah gempa, Abdul bersama keluarganya memilih bermalam di tenda yang didirikan di luar rumah. Gempa susulan yang masih terjadi membuat mereka belum berani kembali tidur di dalam bangunan. Bantuan dari warga sekitar berupa selimut, pakaian, kasur, dan kebutuhan lainnya turut membantu keluarga melewati malam-malam pertama setelah bencana. 

Namun, bagi keluarga Abdul, persoalan terbesar bukan hanya tempat untuk tidur. Rasa takut juga masih tinggal, terutama pada anak bungsunya. Meskipun rumah mereka tidak mengalami kerusakan berat, sang anak masih trauma dan belum berani tidur di dalam rumah. Setiap pagi, keluarga kembali ke rumah untuk membersihkan, menyiapkan makanan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Ketika malam tiba, mereka kembali ke tempat yang dianggap lebih aman. 

Hari-hari setelah gempa pun berjalan dengan cara yang berbeda. Aktivitas perlahan kembali dilakukan, tetapi selalu ada kewaspadaan terhadap kemungkinan guncangan berikutnya. 

Di tengah kondisi tersebut, Abdul tidak ingin keluarganya terus-menerus berada dalam ketakutan. Ia kemudian mengambil langkah sederhana yang bisa dilakukannya sendiri. Dengan memanfaatkan kayu yang tersedia, ia mulai membangun sebuah gazebo di samping rumah untuk menjadi tempat beristirahat sementara bagi keluarganya. 

Abdul membangun gazebo di samping rumahnya sebagai tempat pengungsian sementara pascagempa Flores di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Abdul, membangun tempat berlindung sederhana itu bukan sekadar persoalan menyediakan ruang untuk tidur. Ada harapan yang ingin ia tumbuhkan kembali di tengah keluarganya. “Kita tidak boleh terlalu larut dalam musibah. Selama masih bisa melakukan sesuatu, kita harus berusaha. Saya harus menunjukkan kepada anak dan keluarga bahwa kami bisa melewati keadaan ini, supaya mereka juga merasa lebih kuat dan nyaman.” 

Semangat itu menjadi cara Abdul menghadapi situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menyadari bahwa gempa bukan sesuatu yang dapat dikendalikan, tetapi bagaimana seseorang merespons keadaan setelahnya masih menjadi pilihan. 

Menurutnya, keluarga membutuhkan sosok yang mampu tetap berdiri ketika keadaan sedang tidak menentu. Bukan karena rasa takut hilang begitu saja, melainkan karena kehidupan harus tetap berjalan. “Kita memang harus menerima bahwa ini adalah musibah yang terjadi di luar kehendak kita. Tetapi kita juga harus bangkit dan berusaha. Apa yang masih bisa kita lakukan, kita lakukan. Saya ingin anak-anak dan keluarga saya melihat bahwa kami masih punya harapan,” tuturnya. 

Harapan tersebut menjadi semakin penting ketika rumah tidak lagi sekadar bangunan bagi Abdul. Sebelum gempa, rumah adalah tempat keluarganya berkumpul, beristirahat, berbicara, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah gempa, makna itu terasa semakin dalam. 

Rumah menjadi tempat yang ingin kembali dituju, sekaligus tempat yang untuk sementara harus dijauhi karena rasa takut. “Rumah bagi saya adalah tempat keluarga berkumpul dan saling melindungi. Di sanalah kami berkomunikasi, beristirahat, dan berlindung dari panas, hujan, maupun berbagai keadaan yang tidak terduga,” katanya. 

Karena itu, bagi Abdul, memiliki rumah yang aman bukan hanya tentang memiliki atap dan dinding. Rumah adalah bagian dari rasa aman sebuah keluarga. Ketika tempat berlindung itu terganggu, kehidupan keluarga pun ikut berubah. 

Kini, meski rumahnya masih berdiri, Abdul memilih untuk tidak menunggu keadaan pulih dengan sendirinya. Ia membersihkan rumah, membangun tempat berlindung sementara, dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari sebisa mungkin. Perlahan, ia berusaha mengembalikan rasa normal yang sempat hilang. 

Namun, perjalanan pemulihan setelah bencana tentu tidak berhenti ketika gempa mereda. Bagi banyak keluarga di Flores, kebutuhan untuk mendapatkan kembali rumah yang aman dan layak masih menjadi bagian penting dari proses bangkit. 

Mari bersama membantu keluarga terdampak gempa Flores untuk mendapatkan kembali tempat tinggal yang aman dan layak. Dukungan Anda dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan setelah bencana. Donasi dapat disalurkan melalui:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI Flores3
Kabar Habitat

Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung: Kisah Yofita Bertahan Setelah Gempa Flores

Nusa Tenggara Timur, 22 Agustus 2026 – Pagi itu, Yofita Damul (37) sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Nasi sudah dimasak, sayur sedang dipanaskan, dan sebentar lagi keluarganya akan bersiap menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, pagi yang tenang itu berubah dalam sekejap ketika tanah mulai berguncang. 

“Anak-anak langsung teriak, ‘Mama, ini ada apa?’ Saya juga panik. Saya langsung bilang, ‘Ayo kita keluar, kita keluar, Nak!’” kenang Yofita. 

Gempa berkekuatan Magnitudo 7.7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, membuat rumah Yofita di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tidak lagi dapat ditempati seperti sebelumnya. Saat guncangan terjadi, pikirannya hanya tertuju pada keselamatan anak-anak dan ibunya yang sedang sakit dan mengalami kesulitan untuk berdiri. 

Dalam situasi yang serba panik, Yofita bersama keluarganya berusaha keluar dari rumah. Ibunya kemudian dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Rumah yang selama ini menjadi tempat keluarganya berlindung pun hanya dapat mereka saksikan dari luar ketika guncangan terjadi. 

“Waktu itu kami langsung angkat Mama keluar. Kami sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, yang penting semua bisa keluar dan selamat. Setelah itu kami hanya bisa melihat rumah ini berguncang di depan mata,” tuturnya. 

Di tengah rasa takut, ada satu hal yang membuat Yofita tetap bersyukur. Tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. “Yang ada di pikiran memang kacau sekali. Tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena kami semua selamat. Tidak ada korban. Rumah ini rusak, mau tidak mau kami harus menerima kenyataannya. Yang penting keluarga kami selamat,” ujar Yofita. 

Namun, keselamatan dari gempa bukan berarti persoalan selesai. Setelah rumah tidak lagi dapat menjadi tempat tinggal yang aman, Yofita dan keluarganya harus mencari tempat untuk berlindung sementara. 

Kerusakan rumah Yovita setelah diguncang gempa Flores di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (18/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kini, sebuah tenda didirikan di halaman rumah tetangganya. Di tempat yang terbatas itu, tiga keluarga harus berbagi ruang untuk beristirahat dan menjalani aktivitas sehari-hari. Keluarga Yofita sendiri berjumlah sembilan orang, termasuk anak-anak, ibunya yang sedang sakit, serta seorang anak yang dititipkan kepadanya karena orang tuanya sedang berada di Kalimantan.  

“Sekarang kami tinggal di tenda di depan rumah tetangga. Sudah beberapa hari kami di sana sejak kejadian. Satu tenda ini ditempati tiga keluarga. Kalau keluarga saya sendiri ada sembilan orang,” kata Yofita. 

Bagi keluarga dengan jumlah anggota yang cukup banyak, tinggal di tenda bukanlah kondisi yang mudah untuk dijalani dalam waktu lama. Terlebih, Yofita harus memastikan kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi dan ibunya yang sedang sakit tetap mendapatkan perhatian. 

Karena itu, ketika ditanya apa yang paling dibutuhkan keluarganya saat ini, Yofita tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. “Yang paling utama itu tempat tinggal, Pak. Tidak mungkin kami lama-lama tidur di tenda, apalagi kami punya anak. Kami juga membutuhkan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. 

Tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan asesmen terhadap rumah Yovita yang terdampak gempa Flores di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (18/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Harapan untuk memiliki rumah yang aman bukanlah sesuatu yang baru bagi Yofita. Sebelum rumahnya terdampak gempa, hunian tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang bersama keluarga. 

Pada 2019, Yofita merantau ke Kalimantan selama hampir lima tahun untuk bekerja dan mengumpulkan penghasilan. Dari hasil perjuangan tersebut, rumah mulai dibangun pada Maret 2019. Setelah beberapa waktu, ia dan keluarganya kembali ke kampung halaman pada Januari 2021 dan menetap di rumah tersebut hingga gempa terjadi. 

Rumah itu bukan sekadar bangunan bagi Yofita. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang keluarganya untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Namun, gempa membuat tempat yang dibangun melalui perjuangan bertahun-tahun tersebut tidak lagi dapat memberikan rasa aman seperti sebelumnya. 

Kini, Yofita kembali berada dalam situasi ketika tempat tinggal menjadi kebutuhan paling mendesak. Baginya, pemulihan bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga mengembalikan ruang bagi keluarganya untuk hidup bersama dengan aman. 

Kondisi Yofita menggambarkan bagaimana bencana dapat memberikan dampak yang jauh lebih panjang daripada sekadar kerusakan fisik. Ketika rumah terdampak, aktivitas sehari-hari, pengasuhan anak, kesehatan anggota keluarga, hingga rasa aman ikut terganggu. 

Di tengah kondisi tersebut, dukungan untuk pemulihan hunian menjadi bagian penting agar keluarga terdampak dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Habitat for Humanity hadir untuk merespons kebutuhan hunian keluarga terdampak gempa di Flores melalui upaya pemulihan sektor perumahan dan permukiman. 

Bagi Yofita, harapan itu kini sederhana yakni, keluarganya dapat kembali memiliki tempat untuk pulang, bukan sekadar tenda sementara, tetapi rumah yang mampu memberikan rasa aman bagi anak-anak dan keluarganya. “Yang saya harapkan sekarang semoga kami bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang layak. Kami ingin kembali hidup tenang bersama keluarga. Itu yang paling kami butuhkan,” ungkapnya. 

Perjalanan Yofita setelah gempa masih panjang. Rumah yang dahulu dibangun melalui bertahun-tahun perjuangan kini membutuhkan pemulihan. Namun, di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ia memilih untuk tetap bersyukur karena satu hal yang paling berharga masih dimilikinya yaitu, keluarganya selamat. 

Bagi keluarga seperti Yofita, dukungan untuk pemulihan rumah berarti lebih dari sekadar membangun kembali sebuah bangunan. Ini adalah upaya untuk mengembalikan rasa aman, menjaga keluarga tetap bersama, dan membantu mereka perlahan menata kembali kehidupan setelah bencana. 

Mari bersama membantu ribuan keluarga seperti Yofita agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Donasi dapat disalurkan melalui:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

Thumbnail – Website Blog
Kabar Habitat

Gempa Bumi Flores: Habitat for Humanity Indonesia Terjunkan Tim untuk Kaji Cepat Dampak Kerusakan Hunian

Nusa Tenggara Timur, 19 Agustus 2026 – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 membawa duka mendalam bagi ribuan keluarga, khususnya di sejumlah wilayah Pulau Flores. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah dan berbagai fasilitas umum, sekaligus memaksa puluhan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WITA, sebanyak 70 jiwa meninggal dunia, sementara 1.184 jiwa lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan sakit. Sebanyak 40.216 jiwa juga masih mengungsi yang tersebar di 11 kabupaten/kota terdampak. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, mencapai 15.465 jiwa.

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan hunian warga. Sedikitnya 11.950 keluarga tercatat mengalami kerusakan rumah, dengan rincian 5.518 rumah rusak berat, 1.924 rumah rusak sedang, dan 4.508 rumah rusak ringan. Kerusakan tidak hanya terjadi pada tempat tinggal, tetapi juga fasilitas yang menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari.

BNPB mencatat sedikitnya 208 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, disusul 75 fasilitas pelayanan kesehatan, 39 kantor, dan 53 rumah ibadah yang turut terdampak. Angka tersebut masih dapat berubah seiring dengan proses pendataan dan verifikasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama berbagai pihak di lapangan.

Aksi Habitat for Humanity Indonesia

Tim Habitat for Humanity Indonesia meninjau rumah yang rusak akibat gempa Flores di Desa Tueng, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (19/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Melihat besarnya dampak terhadap hunian masyarakat, Habitat for Humanity Indonesia merespons dengan mengirimkan tim Roster Deployment ke wilayah terdampak. Tim ini melakukan kaji cepat untuk memahami tingkat kerusakan rumah dan kondisi hunian keluarga terdampak, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan shelter yang paling mendesak.

Kaji cepat tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan bentuk intervensi Habitat Indonesia dalam mendukung proses pemulihan hunian masyarakat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Selain melihat tingkat kerusakan, asesmen juga diperlukan untuk memastikan respons yang diberikan sesuai dengan kebutuhan keluarga dan kondisi wilayah terdampak.

Melalui program Flores Housing Recovery, Habitat for Humanity akan memprioritaskan dukungan pada kebutuhan hunian masyarakat terdampak. Dalam tahap awal, respons akan diarahkan pada pendistribusian Emergency Shelter Kit.

Untuk pemulihan jangka panjang, Habitat juga mempersiapkan intervensi perbaikan rumah (house repair) serta seismic retrofitting, yaitu penguatan struktur bangunan agar rumah menjadi lebih aman dan lebih tahan terhadap risiko gempa di masa mendatang. Bentuk dan cakupan intervensi akan disesuaikan dengan hasil asesmen yang dilakukan oleh tim di lapangan.

Respons ini merupakan bagian dari upaya Habitat for Humanity Indonesia untuk membantu keluarga terdampak tidak hanya mendapatkan perlindungan setelah bencana, tetapi juga memiliki kesempatan untuk kembali tinggal di hunian yang lebih aman dan tangguh.

Habitat Indonesia mengajak Sahabat Habitat untuk turut mendukung keluarga yang terdampak gempa Flores. Dukungan yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan hunian sekaligus mendukung proses pemulihan rumah keluarga terdampak dalam jangka panjang.

Mari bersama menguatkan keluarga terdampak gempa di Flores dengan berdonasi di bawah ini.

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI – Posco
Kabar Habitat

POSCO 1% Foundation Berkolaborasi Bersama Habitat for Humanity Indonesia Renovasi SDN Belumbang di Cilegon

Cilegon, 6 Agustus 2026 – Sebanyak 50 relawan dari POSCO 1% Foundation berpartisipasi dalam kegiatan volunteering bertajuk “1% Global Village Volunteer” yang berlangsung pada 3–6 Agustus 2026 di SDN Belumbang, Kota Cilegon, Banten. Kegiatan ini merupakan wujud komitmen POSCO 1% Foundation bersama Habitat for Humanity Indonesia dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi anak-anak Indonesia.

Selama tiga hari, pada 3–5 Agustus, para relawan terlibat langsung dalam pembangunan dinding untuk satu ruang kelas baru serta pengecatan enam ruang kelas yang telah ada, baik pada bagian dalam maupun luar bangunan. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan POSCO 1% Foundation terhadap pembangunan satu ruang kelas baru, renovasi enam ruang kelas, serta pembangunan tiga toilet baru di SDN Belumbang.

SDN Belumbang merupakan sekolah dasar dengan jumlah siswa terbanyak di Kota Cilegon, yaitu mencapai 460 siswa. Namun, sekolah ini sebelumnya hanya memiliki enam ruang kelas yang harus digunakan secara bergantian oleh seluruh siswa, sehingga memengaruhi efektivitas dan kenyamanan proses pembelajaran. Selain itu, kondisi bangunan sekolah juga memprihatinkan, dengan dinding yang mengelupas serta beberapa ruang kelas mengalami kerusakan struktur dan retakan yang cukup parah.

“Dengan kondisi kelas yang ada ini tentunya sangat jauh dari kata cukup. Dengan jumlah siswa sebanyak 460, siswa jadi harus dibagi ke dalam sesi pagi dan siang, dan ini cukup mengganggu kenyamanan siswa dalam kegiatan belajar mengajar,” ujar Uung Rosdiana, S.Pd., Kepala SDN Belumbang.

Melalui dukungan pembangunan dan renovasi tersebut, diharapkan SDN Belumbang dapat memberikan ruang belajar yang lebih memadai sehingga para siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan lebih nyaman, sehat, dan penuh semangat.

Selain berkontribusi dalam pembangunan fisik sekolah, pada 6 Agustus para relawan juga mengadakan sesi edukasi budaya Korea yang diikuti oleh sekitar 60 siswa SDN Belumbang. Berbagai kegiatan interaktif diselenggarakan untuk mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Korea, di antaranya menghias eco-bag, membuat name tag menggunakan huruf Korea (Hangeul), mewarnai masker tradisional Korea, serta membuat bingkai foto polaroid. Suasana penuh antusias dan keceriaan mewarnai kegiatan tersebut, sekaligus memberikan pengalaman belajar lintas budaya bagi para siswa.

Baca juga: Membangun Indonesia: Kolaborasi POSCO dan Habitat for Humanity Wujudkan Rumah Layak di Cilegon

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Dedication Ceremony yang dihadiri oleh Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, President Director PT Krakatau POSCO Kim Young-joong, serta Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia Handoko Ngadiman. Acara ini menjadi simbol penyerahan hasil kolaborasi sekaligus bentuk apresiasi kepada seluruh relawan dan pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan lingkungan belajar yang lebih baik bagi anak-anak di SDN Belumbang.

“Kami sangat berterima kasih kepada POSCO 1% Foundation dan PT Krakatau POSCO yang senantiasa memberikan kontribusi dan kepedulian kepada masyarakat Kota Cilegon melalui pembangunan rumah layak huni dan renovasi SDN Belumbang. Kami berharap apa yang telah dilakukan POSCO dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi industri-industri lainnya di Kota Cilegon untuk turut berkontribusi dan bersama-sama mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Fajar Hadi Prabowo, Wakil Wali Kota Cilegon.

Handoko Ngadiman, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, menyoroti keterkaitan antara hunian yang layak dan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak. “Di Habitat for Humanity Indonesia, kami percaya bahwa rumah yang layak dan lingkungan belajar yang aman adalah fondasi penting bagi generasi mendatang. Proyek ini mencerminkan komitmen bersama untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, melalui pembangunan ruang kelas baru, penyediaan fasilitas sanitasi yang lebih layak, dan perbaikan lingkungan sekolah di SDN Belumbang,” sampainya.

Kolaborasi antara POSCO 1% Foundation dan Habitat for Humanity Indonesia memperlihatkan bagaimana kolaborasi sektor swasta, masyarakat, dan organisasi sosial dapat membuka pintu bagi pemenuhan kesejahteraan anak-anak di Provinsi Banten khususnya Kota Cilegon. Melalui penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih layak serta kegiatan pertukaran budaya, kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang anak-anak sekaligus mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Korea Selatan.

Foto & Penulis: Syefira Salsabilla

(ss/kh)

HFHI
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia Raih Penghargaan dari Menko AHY atas Kontribusi dalam Penataan Permukiman Kumuh Terpadu di Gresik

Gresik, 1 Agustus 2026 – Habitat for Humanity Indonesia menerima penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), atas kontribusinya dalam mendukung pengentasan permukiman kumuh terpadu di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian peresmian kawasan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tematik Pengentasan Permukiman Kumuh Terpadu (TPKT) Tahun Anggaran 2025 yang berlangsung pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Apresiasi tersebut menjadi pengakuan atas kolaborasi Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Group dalam mendukung penataan kawasan melalui pembangunan 21 rumah layak huni, penyelenggaraan pelatihan rumah sehat dan konstruksi dasar bagi 99 warga, serta pembangunan gerbang kawasan relokasi sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman, sehat, dan tertata.

Kontribusi Habitat Indonesia merupakan bagian dari program penataan permukiman terpadu yang diinisiasi pemerintah untuk mengatasi kawasan kumuh melalui kolaborasi lintas sektor. Di Desa Campurejo, penataan dilakukan pada kawasan pesisir seluas 7,11 hektare yang dihuni sekitar 1.152 jiwa. Selain pembangunan rumah, kawasan tersebut kini dilengkapi dengan berbagai infrastruktur dasar, mulai dari jalan lingkungan, drainase, jaringan air bersih, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), tandon air, hingga fasilitas pengelolaan sampah berbasis Reduce, Reuse, Recycle (3R).

Dalam sambutannya, Menko AHY menegaskan bahwa penataan kawasan tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan berbagai mitra pembangunan agar mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat. “Penataan kawasan harus menghadirkan lingkungan yang semakin maju, semakin sejahtera, dan semakin asri. Semua itu dimulai dari rumah dan keluarga sebagai fondasi kehidupan masyarakat,” ujar AHY.

Program di Desa Campurejo juga menjadi contoh penerapan skema pendanaan hibrida (hybrid financing) yang menggabungkan pendanaan pemerintah melalui DAK TPKT dengan dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari sektor swasta. Dari total 166 unit rumah yang ditangani, sebanyak 145 unit dibangun melalui pendanaan DAK TPKT, sementara 21 unit rumah lainnya direalisasikan melalui dukungan Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Group. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana kemitraan lintas sektor mampu mempercepat penyediaan hunian layak sekaligus mendorong penataan kawasan secara menyeluruh.

Foto rumah layak huni yang dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Group di Desa Campurejo, Kabupaten Gresik. Foto: Istimewa

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Terima Penghargaan dari Kementerian PUPR

Saat meninjau kawasan, AHY juga memastikan sejumlah fasilitas dasar telah berfungsi dengan baik, termasuk jaringan air bersih yang kini dapat dimanfaatkan oleh warga. Menurutnya, perubahan yang terjadi di Desa Campurejo tidak hanya terlihat dari rumah-rumah yang berdiri lebih layak, tetapi juga dari lingkungan yang kini lebih tertata dan nyaman untuk dihuni.

“Perubahannya terlihat nyata. Bukan hanya rumah yang dibangun, tetapi juga lingkungan dan fasilitas pendukungnya sehingga kawasan ini menjadi lebih nyaman untuk ditinggali,” kata AHY.

Perubahan tersebut turut dirasakan Imam Ansori, salah seorang nelayan sekaligus pemilik rumah. Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah dengan atap yang bocor, kini ia dan keluarganya dapat menikmati tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. “Dulu setiap hujan kami selalu cemas karena air masuk dari atap yang bocor. Sekarang kami bisa tinggal lebih tenang. Rumah ini benar-benar mengubah kehidupan keluarga kami,” ujar Imam Ansori.

Penghargaan dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia menjadi apresiasi atas kontribusi Habitat for Humanity Indonesia dalam mendukung penataan kawasan permukiman secara terpadu. Melalui kolaborasi bersama pemerintah dan sektor swasta, Habitat Indonesia terus mendorong terwujudnya hunian yang layak, lingkungan yang sehat, serta kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan.

(kh/av)

HFHI_MAG3
Kabar Habitat

Rumah Inklusif, Langkah Awal Menuju Hidup yang Lebih Mandiri

Yogyakarta, 31 Juli 2026 – Bagi sebagian besar orang, rumah adalah tempat untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan merasakan kenyamanan serta rasa aman. Namun, bagi banyak penyandang disabilitas di Indonesia, rumah masih menyimpan berbagai tantangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tangga tanpa jalur landai, kamar mandi yang sempit, lantai yang tidak rata, hingga akses yang sulit dijangkau membuat rumah belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mudah diakses.

Tantangan tersebut masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Data menunjukkan, sekitar 9,9 juta keluarga di Indonesia masih menghadapi backlog perumahan. Sementara, 26,9 juta keluarga tinggal di rumah yang belum memenuhi standar kelayakan. Kondisi ini menjadi semakin kompleks bagi keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas. Diperkirakan terdapat sekitar 23 juta penyandang disabilitas di Indonesia, tetapi hanya sebagian kecil hunian yang telah dilengkapi fasilitas dasar yang mendukung aksesibilitas, seperti jalur landai, pegangan tangan, maupun sanitasi yang ramah disabilitas.

Tidak hanya terbatas pada aspek infrastruktur, berbagai faktor lain seperti keterbatasan ekonomi, minimnya pemahaman mengenai pentingnya hunian yang inklusif, serta stigma terhadap penyandang disabilitas juga menjadi hambatan dalam mewujudkan tempat tinggal yang layak dan aksesibel. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti menuju kamar mandi, keluar rumah, atau berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain masih sering bergantung pada bantuan anggota keluarga lainnya.

Sinergi Asuransi MAG dan Habitat Indonesia

Berangkat dari kondisi tersebut, PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (Asuransi MAG) bersama Habitat for Humanity Indonesia berkolaborasi membangun 10 rumah layak huni yang lebih inklusif bagi keluarga penyandang disabilitas di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setiap rumah dibangun dengan memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan penghuninya. Berbagai fitur aksesibilitas, seperti kamar mandi yang lebih aman, pegangan tangan (handrail), jalur yang mudah dilalui, serta tata ruang yang mendukung mobilitas, dihadirkan untuk menciptakan hunian yang lebih inklusif. Melalui fasilitas tersebut, rumah diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlindung secara fisik, tetapi juga memberikan rasa aman, meningkatkan kemandirian, serta mendukung penyandang disabilitas menjalani kehidupan yang lebih bermartabat.

Salah satu rumah inklusif yang dibangun oleh Asuransi MAG bersama Habitat Indonesia di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Tim HFHI

Baca juga: Tingkatkan Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Tangerang: Habitat for Humanity Indonesia dan Asuransi Multi Artha Guna Inisiasikan Pembangunan Lima Toilet di Kecamatan Mauk

Selain pembangunan rumah, program ini juga menghadirkan pelatihan mengenai hunian inklusif yang diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari penyandang disabilitas, anggota keluarga, serta para pemangku kepentingan. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman bahwa hunian yang layak tidak hanya memenuhi aspek keamanan dan kekuatan bangunan, tetapi juga mampu menghadirkan aksesibilitas, rasa aman, serta kesempatan yang setara bagi setiap penghuninya.

Salah satu penerima manfaat program ini adalah keluarga Legimin (65), warga Dusun Bulak, Kalurahan Tuksono. Selama bertahun-tahun, Legimin dan keluarganya menjalani kehidupan dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Saat ini, aktivitasnya semakin terbatas karena mengalami gangguan mobilitas akibat penyakit yang dideritanya. Di tengah kondisi tersebut, anak keduanya yang merupakan penyandang disabilitas mental tetap memiliki semangat untuk mandiri. Ia masih mampu berkomunikasi dengan baik dan bekerja sebagai buruh serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebelum mendapatkan bantuan, kondisi rumah yang mereka huni masih jauh dari kata layak. Dinding batako yang dibangun tanpa struktur yang memadai, lantai yang sebagian masih berupa tanah dan semen, atap yang rapuh, serta kamar mandi yang belum memenuhi standar kelayakan membuat aktivitas sehari-hari menjadi penuh tantangan. Bagi Legimin dan anaknya, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kenyamanan, tetapi juga membatasi ruang gerak dan kemandirian mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Mempunyai keluarga dengan dua penyandang disabilitas, sementara kondisi ekonomi juga terbatas, memiliki rumah yang layak adalah impian kami. Sekarang rumah ini sangat membantu aktivitas sehari-hari karena dibuat lebih ramah bagi kondisi kami, sehingga kami bisa hidup lebih mandiri,” ujar Legimin

Legimin (65) menggunakan handrail di dalam rumahnya yang telah layak huni dan inklusif, yang dibangun oleh Asuransi MAG bersama Habitat Indonesia di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Tim HFHI

Perubahan positif juga dirasakan oleh keluarga Rahmad (27) di Dusun Demangan. Sejak lahir, Rahmad mengalami keterbatasan mobilitas sehingga seluruh aktivitas sehari-hari, mulai dari mandi hingga menggunakan toilet, masih bergantung pada bantuan orang tua maupun saudara-saudaranya. Sebelum menerima bantuan, Rahmad tidur di lantai ruang belakang yang berdekatan dengan dapur dan kamar mandi. Setiap kali hendak mandi, ia harus digendong karena ukuran pintu kamar mandi yang terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan kursi roda untuk melintas.

Kini, kondisi tersebut telah berubah. Rumah yang dibangun dengan memperhatikan kebutuhan aksesibilitas memberikan ruang gerak yang lebih aman dan nyaman bagi Rahmad. Dengan fasilitas yang lebih ramah disabilitas, ia mulai mampu beraktivitas secara lebih mandiri, termasuk menuju kamar mandi tanpa harus selalu bergantung pada bantuan anggota keluarga.

“Dulu banyak sekali kendala yang kami hadapi. Alhamdulillah sekarang rumah baru ini dibuat sesuai kebutuhan anak kami yang difabel. Rumah ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi jauh lebih mudah. Bahkan sekarang anak kami sudah bisa ke kamar mandi sendiri,” tutur orang tua Rahmad.

Perubahan yang dirasakan oleh keluarga-keluarga penerima manfaat menunjukkan bahwa rumah layak tidak hanya diukur dari kekuatan bangunannya, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang hidup yang aman, nyaman, dan mudah diakses oleh setiap orang. Ketika hambatan fisik di dalam rumah dapat diminimalkan, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih besar untuk hidup mandiri, menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih aman, serta berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Melalui kolaborasi antara Asuransi MAG dan Habitat for Humanity Indonesia, pembangunan rumah inklusif ini diharapkan tidak hanya memberikan hunian yang lebih layak bagi 10 keluarga penerima manfaat, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa setiap rumah seharusnya dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan seluruh penghuninya. Pada akhirnya, rumah yang benar-benar layak bukan sekadar tempat untuk berteduh, melainkan ruang yang menghadirkan rasa aman, kesempatan yang setara, dan martabat bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya.

(kh/av)