logotype
Donate

Kategori: Kabar Habitat

HFHI – IES
Kabar Habitat

Yayasan IES Jakarta dan Habitat Indonesia Tuntaskan Pembangunan 56 Rumah Layak Huni di Kabupaten Tangerang

Tangerang, 15 Juli 2026 – Yayasan IES Jakarta bersama Habitat for Humanity Indonesia secara resmi menyerahkan dukungan rumah layak huni kepada 56 keluarga di Desa Margamulya, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Penyerahan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian program pembangunan rumah layak huni yang telah berlangsung sejak 2023 untuk membantu keluarga berpenghasilan rendah memperoleh tempat tinggal yang aman dan nyaman.

Seremoni penyerahan kunci rumah secara simbolis dilakukan oleh Kamlesh Chandiramani, Chief Financial Officer (CFO) Yayasan IES Jakarta, kepada Syafei, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Margamulya, yang mewakili keluarga penerima manfaat. Kegiatan tersebut turut disaksikan oleh Kevin Sutantyo dan Wai Toong Chong dari Mission Project Team IES, Abraham Tulung selaku General Manager Resource Development Habitat for Humanity Indonesia, serta puluhan keluarga penerima manfaat.

Menandai fase akhir program, sebanyak 30 sukarelawan Yayasan IES Jakarta turut ambil bagian dalam kegiatan volunteering dengan mengecat tiga rumah terakhir dari total 56 rumah yang telah dibangun. Pada kesempatan yang sama, para sukarelawan juga menanam 70 pohon di sekitar kawasan permukiman sebagai upaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau, teduh, dan nyaman bagi masyarakat. Pohon yang ditanam terdiri atas berbagai jenis tanaman produktif, seperti kelengkeng dan mangga, serta pohon pucuk merah yang menghiasi area jalan di sekitar permukiman.

Baca juga: Tawa, Peluh, dan Harapan: Cerita Relawan IES di Mauk, Tangerang

Syafei menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang telah terjalin selama program berlangsung. Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya menghadirkan rumah yang lebih layak bagi masyarakat, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi lingkungan Desa Margamulya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan IES Jakarta dan Habitat Indonesia atas dukungan yang telah diberikan. Sekarang kami bisa melihat sendiri perubahan yang terjadi. Kampung Bebulak menjadi jauh lebih rapi, tertata, dan membawa semangat baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kamlesh Chandiramani. Ia mengatakan bahwa kolaborasi antara Yayasan IES Jakarta dan Habitat Indonesia telah memberikan manfaat yang dirasakan tidak hanya oleh keluarga penerima rumah, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya. “Kami bangga dapat menjadi bagian dari perubahan ini. Dampak yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh pemilik rumah, tetapi juga oleh masyarakat sekitar yang kini memiliki lingkungan tempat tinggal yang lebih baik, tertata, dan nyaman,” ungkap Kamlesh.

Bagi Tinah, salah satu keluarga penerima manfaat, rumah yang kini ditempatinya menghadirkan rasa aman yang selama ini diimpikan. “Terima kasih banyak kepada Habitat Indonesia dan Yayasan IES Jakarta atas bantuan ini. Sekarang rumah kami sudah tidak bocor lagi, terasa lebih aman, dan saya bisa lebih tenang menjalani hari-hari bersama keluarga,” tuturnya.

Kolaborasi antara Yayasan IES Jakarta dan Habitat for Humanity Indonesia diharapkan dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat. Bersama para mitra dan dermawan, Habitat Indonesia terus berupaya mewujudkan visinya agar setiap keluarga memiliki kesempatan untuk tinggal di rumah yang layak, aman, dan menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – BMZ II
Kabar Habitat

Membedah GEDSI, Memahami Hak dan Kesempatan yang Sama Warga pada Pembangunan di Nglipar

Gunungkidul, 9 Juli 2026 – “Gender itu kalau saya tahunya kelompok janda. Saya pernah diundang kelompok yang mengatasnamakan gender. Saya tanya, yang saya paham gender itu adalah janda, tetapi kenapa kok ibu ini dimasukkan ke gender ya padahal bukan janda. Itu yang saya tahu pertama kali. Ternyata saya salah,” ucap Agus Suwarjo selaku Lurah di Kalurahan Pengkol, Nglipar, Gunung Kidul, dalam sambutannya ketika membuka kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) di Balai Kalurahan Pengkol.

Gender maupun GEDSI masih terdengar asing di Pengkol maupun Nglipar khususnya bagi peserta Sinau Bareng Warga. Beberapa memaknai gender adalah adalah perbedaan biologis antara laki- laki dan perempuan. “Setahu saya gender itu adalah perbedaan kelamin saja antara laki- laki dan perempuan, sebelum mengikuti kegiatan ini,” ungkap Iqbal Nur selaku perwakilan dari Karang Taruna dari 15 peserta yang terlibat.

Setelah mengikuti kegiatan “Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI” yang merupakan kolaborasi antara Habitat for Humanity Indonesia, SPEK-HAM, dan SAPDA dalam Program ACCESS, Iqbal menjadi paham bahwasanya Gender merupakan konstruk sosial yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan dimana keduanya sebenarnya bisa dipertukarkan. Iqbal juga mengaku, setelah mengikuti “Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI”, ia jadi memahami bahwa semua manusia punya hak yang sama, punya kesempatan yang sama, baik itu laki- laki maupun perempuan. Laki-laki dan perempuan itu secara biologis tidak bisa diubah. Secara kondisi sosial bisa diubah.

Peserta Sinau Bareng Warga mempresentasikan hasil pemetaan masalah dan potensi di desa mereka di Kabupaten Gunungkidul.

Baca juga: Mendorong Pembangunan Inklusif dari Tingkat Komunitas melalui Ruang Belajar Bersama Warga

Dalam konteks pembangunan, Amin Nurohman selaku narasumber pada “Sinau Bareng Warga” yang sudah terlaksana di Kalurahan Pengkol dan Pilangrejo menjelaskan bahwa memahami gender, berarti memahami bahwa laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam pembangunan.

 “Jika dalam pembangunan itu ada ekonominya, kalau misal dapat bantuan ya sama-sama mendapatkan bantuan, kalau misal ada pembangunan jalan ya sama-sama mendapatkan jalan yang baik yang bisa digunakan,” jelas Amin. Bagitu juga ketika mendapatkan bantuan air bersih, baik laki- laki maupun perempuan, keduanya berhak atas pengunaan air bersih tersebut dengan baik.

Keterlibatan perwakilan dari kelompok- kelompok yang ada di Nglipar seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, kelompok disabilitas, Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Dukuh atau kepala dusun, kelompok rentan, serta kelompok-kelompok lainnya diharapkan dapat membaca dan menjabarkan peta permasalahan maupun peta potensi dan memberikan masukan pada musyawarah pembangunan, kepada pemerintah terdekat untuk mewujudkan pembangunan yang inklusi.

Foto & Penulis: SAPDA/Wulan Dwi

(av/kh)

HFHI – BSPS
Kabar Habitat

Sinergi Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen Dukung Peningkatan Kualitas Hunian bagi 101 Keluarga

Sragen, 30 Juni 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Sragen terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan akses terhadap hunian layak bagi keluarga berpenghasilan rendah. Komitmen tersebut ditandai melalui seremoni penyerahan bantuan peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang diselenggarakan di Pendopo Sumonegaran, Kabupaten Sragen. 

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, S.IP., M.A., bersama Kepala BP3K Jawa III, Aldino Herupriawan, S.T., M.T., Anggota Komisi V DPR RI, Ir. Sriyanto Saputro, M.M., serta Senior Manager of Field Operation Habitat Indonesia, Rudi Nadapdap. Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi antara pemerintah daerah dan Habitat Indonesia dalam mendukung penyediaan hunian yang lebih aman, sehat, dan layak bagi masyarakat yang membutuhkan. 

Kolaborasi ini difokuskan untuk menjangkau keluarga yang berada pada kelompok desil pendapatan 1 dan 2, perempuan kepala keluarga, serta keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas. Sepanjang tahun 2026, program ini menargetkan pembangunan dan peningkatan kualitas rumah bagi 101 keluarga dari total 904 keluarga yang menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Sragen. 

Kolaborasi tersebut lahir dari kebutuhan yang masih besar terhadap hunian layak di Kabupaten Sragen. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sragen, wilayah ini menjadi salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di kawasan Solo Raya dan termasuk delapan kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Dari total 1.021.435 penduduk, sebanyak 110.650 jiwa atau sekitar 12,41 persen masih hidup di bawah garis kemiskinan. 

Tantangan tersebut juga tercermin pada sektor perumahan. Sebanyak 13.945 keluarga dari kelompok desil pendapatan 1 dan 2 masih menempati rumah yang tidak layak huni. Di antaranya terdapat 3.229 rumah tangga yang dikepalai perempuan, 1.912 keluarga dengan anggota penyandang disabilitas, serta 2.151 keluarga yang masih masuk dalam kategori backlog perumahan. 

Baca juga: Kolaborasi untuk Hunian Layak: Menjawab Tantangan Backlog Perumahan di Sragen

Untuk menjawab tantangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia menggandeng Pemerintah Kabupaten Sragen melalui skema pendanaan pendamping (match-funding) yang melengkapi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Melalui skema ini, bantuan pemerintah sebesar Rp20 juta dipadankan dengan dukungan dana sebesar Rp20 juta dari para dermawan Habitat Indonesia, sehingga nilai bantuan yang diterima setiap keluarga menjadi lebih optimal untuk memenuhi standar rumah layak huni. 

Dalam pelaksanaannya, keluarga penerima manfaat tidak dibebani kontribusi finansial. Sebagai gantinya, mereka berpartisipasi melalui kontribusi tenaga (sweat equity) selama proses pembangunan rumah. Habitat Indonesia juga memberikan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, pengawasan konstruksi, pengelolaan material, hingga memastikan hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga, termasuk memperhatikan aspek aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan keamanan bagi rumah tangga yang dikepalai perempuan. 

Selain peningkatan kualitas fisik rumah, program ini turut memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan Building Back Safer (BBS). Pelatihan tersebut membekali keluarga dengan pengetahuan mengenai konstruksi rumah yang lebih aman dan tahan terhadap risiko bencana. Berbagai kegiatan advokasi, seperti lokakarya dan kampanye publik, juga dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hunian layak yang inklusif dan berkelanjutan. 

Melalui kolaborasi ini, Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen berharap semakin banyak keluarga dapat tinggal di rumah yang aman, sehat, dan layak, sekaligus memperkuat upaya bersama dalam mengurangi kemiskinan hunian di Kabupaten Sragen. 

(kh/av)

HFHI – Arada
Kabar Habitat

Pelatihan GEDSI: Penguatan Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul, 29 Juni 2026 – Akses terhadap air bersih dan hunian layak sering dianggap kebutuhan dasar yang sudah merata, namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses, menggunakan, maupun terlibat dalam pengambilan keputusan terkait layanan tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Pelatihan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Di wilayah dengan karakteristik geografis karst, ketersediaan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa saat musim kemarau. Namun, dampaknya tidak dialami secara setara. Perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas kerap menghadapi beban lebih besar, mulai dari keterbatasan akses hingga hambatan mobilitas dalam memperoleh air maupun layanan dasar lainnya. Di saat yang sama, keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan di tingkat komunitas masih terbatas.

Sebanyak 23 perwakilan warga, yang terdiri dari perangkat desa, perempuan kepala keluarga, lansia, hingga perwakilan keluarga penyandang disabilitas, mengikuti pelatihan ini. Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak untuk memahami ketimpangan akses, memetakan kondisi di lapangan, hingga mengeksplorasi bagaimana keputusan desa dapat lebih inklusif melalui berbagai simulasi dan diskusi interaktif.

Dari proses tersebut, peserta mulai melihat bahwa isu air bersih dan hunian tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang siapa yang terlibat, siapa yang terdampak, dan siapa yang belum terwakili. Pendekatan GEDSI membuka ruang refleksi bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus mempertimbangkan akses, kontrol, manfaat, dan partisipasi secara adil bagi seluruh kelompok masyarakat.

Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman dan kapasitas masyarakat agar lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. Harapannya, praktik inklusif ini dapat terus diterapkan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya di tingkat desa sehingga pembangunan benar-benar dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.

Yuk lihat keseruan mereka dalam foto-foto di bawah ini.

Ibu Carik (Sekretaris Desa), Wahyu Setyoningsih, membuka rangkaian Pelatihan Gender Dasar (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan air dan hunian yang lebih inklusif serta berkeadilan bagi semua kelompok.

Sebelum sesi pelatihan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pengisian lembar pre-test. Tahap ini dilakukan untuk mengukur pemahaman awal peserta terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif, sekaligus menjadi dasar evaluasi pembelajaran di akhir kegiatan.

Sesi pelatihan dimulai dengan aktivitas interaktif, di mana peserta diajak untuk menuliskan berbagai kegiatan sehari-hari dan mengelompokkannya berdasarkan peran laki-laki dan perempuan. Kegiatan ini membuka ruang refleksi bahwa tidak semua pekerjaan dibatasi oleh peran gender tertentu, karena banyak aktivitas yang dapat dilakukan secara setara oleh laki-laki maupun perempuan.

Di tengah sesi pelatihan, Alimah selaku Gender Officer Habitat for Humanity Indonesia mengajak perwakilan peserta untuk melakukan role play sebagai sosok ayah dan ibu dalam sebuah keluarga yang menghadapi berbagai persoalan. Aktivitas ini membantu peserta memahami perbedaan peran, tantangan, serta beban yang sering muncul dalam dinamika keluarga sehari-hari.

Baca juga: Foto: Meningkatkan Kesehatan Komunitas melalui Pelatihan PHBS

Pelatihan yang terbagi ke dalam empat sesi ini juga membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD). Melalui diskusi kelompok ini, peserta dapat saling bertukar pandangan dan memperdalam pemahaman terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif di tingkat komunitas.

Salah satu peserta perempuan sambil tertawa mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar pekerjaan rumah masih lebih banyak dijalankan oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Pernyataan sederhana ini kemudian menjadi pemantik diskusi yang lebih dalam mengenai pembagian peran di dalam rumah tangga.

Sebelum sesi pelatihan berakhir, peserta diajak mengikuti permainan Power Walk (Langkah Maju) yang dirancang untuk merepresentasikan perbedaan akses, kesempatan, dan posisi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai faktor dapat memengaruhi sejauh mana seseorang dapat melangkah dalam kehidupan.

Pelatihan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara seluruh peserta dan tim Habitat for Humanity Indonesia. Momen ini menjadi penanda kebersamaan setelah rangkaian pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya pengelolaan air bersih dan hunian yang inklusif.

Foto & Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Sabu
Kabar Habitat

Menjemput Harapan di Sabu Raijua: Air Bersih sebagai Katalis Kehidupan

Sabu Raijua, 17 Juni 2026 – Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal dengan pesona savananya. Namun di balik keindahan itu, alam menyimpan tantangan besar: musim kering ekstrem yang berlangsung hingga 8 bulan berturut-turut setiap tahun. Di Kabupaten Sabu Raijua, tantangan ini memicu krisis harian. Data BPS NTT 2023 menunjukkan hanya 46,65% penduduk yang memiliki akses air minum bersih, tertinggal jauh dari rata-rata nasional yang mencapai lebih dari 91%.

Bagi Ibu Libertina Ludji (73), angka statistik ini adalah realitas yang menguras peluh. Selama puluhan tahun di Kecamatan Sabu Liae, wanita tangguh ini harus berjalan kaki sejauh 500 meter membelah perbukitan, memikul jeriken demi jeriken air dari sumur umum yang sering kali surut saat kemarau.

Membeli air tangki seharga Rp250.000 untuk 4.000-5.000 liter menjadi jalan keluar terakhir yang menjepit. Biaya ini teramat mahal bagi warga Sabu Raijua, di mana rata-rata pendapatan per kapita (2025) hanya Rp 1,56 juta per bulan—atau seperempat dari rata-rata nasional. Di sini, air bersih telah lama menjadi kemewahan yang merenggut kesejahteraan warga.

Melihat kondisi ini, Habitat for Humanity Indonesia hadir membangun sumur umum yang diprioritaskan bagi 8 keluarga yang paling membutuhkan. “Kami senang sekali ada sumur baru ini. Sudah puluhan tahun saya harus pikul air. Sekarang kami tinggal putar keran, air sudah mengalir,” ungkap Ibu Libertina penuh syukur.

Bagi Habitat Indonesia, tempat tinggal yang layak tidak hanya berdiri atas atap dan dinding yang kokoh, melainkan juga ekosistem pendukung yang sehat. Akses air bersih ini membawa dampak domino yang mengubah masa depan masyarakat Sabu Raijua dalam jangka panjang. Dari sisi kesehatan, kehadiran air bersih secara instan memangkas risiko penyakit bawaan air seperti diare dan tifus, yang selama ini menjadi akar masalah stunting serta kematian anak di daerah terpencil.

Baca juga: Mengalirkan Harapan, Membangun Ketangguhan: Upaya Tiga Tahun Habitat for Humanity Indonesia Meningkatkan Akses Air dan Sanitasi di Indonesia

Lebih dari itu, intervensi ini memicu kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Waktu dan energi warga yang dulu habis untuk mengantre dan memikul air kini dapat dialihkan untuk kegiatan yang jauh lebih produktif. Akses air yang stabil membuka peluang baru yang sebelumnya mustahil, seperti berkebun sayur di pekarangan rumah, beternak dengan lebih baik, hingga membuka usaha kecil demi mendongkrak pendapatan keluarga.

Setelah merasakan dampak kesehatan dan kemandirian ekonomi, kedelapan keluarga penerima manfaat kini bergerak secara swadaya merencanakan pembangunan bak penampungan umum. Mereka ingin memastikan bahwa berkah air bersih ini tidak berhenti di mereka, melainkan dapat dialirkan lebih luas ke rumah-rumah tetangga di sekitarnya.

Semangat kebersamaan warga Sabu Raijua inilah yang menghidupkan visi Habitat Indonesia selama 29 tahun berkiprah: mewujudkan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak. Melalui penyediaan akses air bersih yang terintegrasi ini, kami terus berkomitmen membangun rumah, komunitas, dan harapan, memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, mandiri, dan bermartabat.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – BMZ II
Kabar Habitat

Mendorong Pembangunan Inklusif dari Tingkat Komunitas melalui Ruang Belajar Bersama Warga

Gunungkidul, 5 Juni 2026 – Sebagai bagian dari komitmen untuk membangun komunitas yang lebih tangguh dan inklusif, Habitat for Humanity Indonesia bersama mitra lokal, Sentra Advokasi Perempuan, Disabilitas, dan Anak (SAPDA), terus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa melalui pendekatan yang berpusat pada kesetaraan dan inklusi sosial.

Melalui program Advancing Climate Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions (ACCESS), Habitat Indonesia mendukung penyelenggaraan kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) yang dilaksanakan di Balai Kalurahan Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, pada 30 April 2026 lalu. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi warga untuk memahami pentingnya pembangunan yang inklusif, di mana setiap suara, terutama perempuan, penyandang disabilitas, lansia, pemuda, dan kelompok rentan lainnya memiliki ruang yang setara untuk didengar.

Sebanyak 15 perwakilan warga dari Padukuhan Kepuhsari dan Ngrandu terlibat aktif dalam diskusi yang difasilitasi SAPDA. Dalam suasana yang terbuka dan partisipatif, warga diajak untuk mengidentifikasi tantangan, memetakan sumber daya yang tersedia, serta merumuskan ide-ide pembangunan yang lebih responsif terhadap kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.

Nuryadin Edy Purnama, Project Officer SAPDA, menegaskan pentingnya proses ini sebagai langkah awal membangun desa yang lebih inklusif. “Tujuan dari kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI adalah agar kita bersama-sama dapat mengidentifikasi, mengenal, dan melihat secara utuh berbagai kendala maupun sumber daya yang ada di desa ini, yang nantinya menjadi modal kita untuk bersinergi dengan desa,” ungkapnya.

Dukungan terhadap pendekatan partisipatif ini juga disampaikan oleh pemerintah Kalurahan Katongan. Wawan, Kamituo yang mewakili Lurah Katongan, menyampaikan bahwa pembangunan desa harus menjadi upaya bersama, dengan melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali. “Bapak dan Ibu memiliki hak yang sama sebagai warga, dan juga bisa ikut serta dalam merencanakan arah tujuan, khususnya di Kalurahan Katongan ini. Harapannya, seberapa yang bisa kita beri, bukan seberapa yang kita dapatkan. Jika itu menjadi niat bersama, tujuan baik ini akan bisa kita lakukan untuk mencapai kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Perspektif serupa juga disampaikan oleh Wasingastu Zakiyah, salah satu narasumber kegiatan, yang menekankan bahwa pembangunan inklusif harus memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal. “Dalam proses pembangunan yang inklusif, sudah seharusnya melibatkan semua pihak. Tidak boleh ada yang tertinggal, terutama mereka yang selama ini masih terpinggirkan, agar bisa terfasilitasi secara setara dalam perencanaan maupun pembangunan desa,” jelasnya.

Melalui kolaborasi dengan SAPDA dalam Program ACCESS, Habitat Indonesia percaya bahwa membangun komunitas yang tangguh tidak hanya dimulai dari penyediaan akses terhadap layanan dasar, tetapi juga dari membuka ruang dialog yang aman, setara, dan inklusif. Sebab ketika setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, pembangunan dapat benar-benar menjadi milik semua.

Penulis: SAPDA

(kh/av)

Kontes Tukang Tenaga Kerja Konstruksi 2026: Dari Kompetensi Menjadi Kontribusi
Kabar Habitat

Kontes Tukang Tenaga Kerja Konstruksi 2026: Dari Kompetensi Menjadi Kontribusi

Tangerang, 8 Mei 2026 – Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kerja konstruksi di Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia melalui program BMZ menyelenggarakan Kontes Tukang Tenaga Kerja Konstruksi 2026, sebuah kompetisi berbasis praktik lapangan yang dirancang untuk menguji keterampilan teknis pekerja konstruksi secara langsung. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para pekerja untuk membangun kepercayaan diri, memperkuat portofolio profesional, serta menunjukkan kompetensi mereka melalui hasil kerja yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 2–3 Mei 2026 di Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, dengan melibatkan 180 pekerja konstruksi yang terbagi ke dalam 18 tim. Masing-masing tim bertanggung jawab membangun 1 unit dapur, sehingga selama dua hari pelaksanaan, total 18 dapur berhasil dibangun untuk keluarga penerima manfaat di kawasan tersebut.

Dalam proses pembangunan, peserta berkompetisi pada lima bidang utama pekerjaan konstruksi, yaitu pembangunan dinding hebel, instalasi perpipaan air bersih dan air kotor, pemasangan rangka atap baja ringan, keramik lantai, serta pengecatan dinding. Seluruh proses kerja dinilai secara menyeluruh berdasarkan kualitas teknis pekerjaan, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), ketepatan waktu penyelesaian, serta kualitas finishing dari hasil pembangunan.

Baca juga: Dorong Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja, Habitat Indonesia Paparkan Studi Nasional Implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) di Sektor Konstruksi

Melalui kegiatan ini, Habitat for Humanity Indonesia tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja konstruksi, tetapi juga memperkuat penerapan standar bangunan yang aman, sehat, dan berkualitas. Di saat yang sama, para peserta memperoleh pengalaman praktik yang dapat meningkatkan daya saing dan membuka peluang kerja yang lebih luas di masa depan.

“Ketika tenaga kerja konstruksi dibekali dengan keterampilan yang baik, memahami standar keselamatan kerja, dan memiliki kepercayaan diri atas kompetensinya, mereka tidak hanya siap terjun ke dunia konstruksi, tetapi juga siap membangun masa depan yang lebih baik bagi diri, keluarga, dan komunitasnya,” ujar Arwin Soelaksono selaku Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Kompetisi ini menghadirkan dampak langsung bagi masyarakat Tanjung Kait melalui terbangunnya 18 dapur, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga. Sebuah wujud nyata bahwa peningkatan keterampilan tenaga kerja dapat berjalan beriringan dengan pembangunan yang membawa perubahan positif bagi komunitas.

Foto: HFHI/Kevin Herbian

Penulis: Syefira Salsabilla

(av/kh)

Thumbnail – Website Blog (1)
Kabar Habitat

Menyemai Harapan, Menuai Perubahan: 29 Tahun Habitat Indonesia

Jakarta, 1 Mei 2026 – Tanggal 1 Mei 2026 menjadi momen istimewa bagi Habitat for Humanity Indonesia. Di usia yang ke-29, perjalanan panjang ini tidak sekadar menandai bertambahnya waktu, tetapi juga merefleksikan komitmen yang terus hidup untuk menghadirkan hunian layak dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga berpenghasilan rendah di berbagai penjuru Indonesia, khususnya mereka yang berada di desil 1 dan 2, perempuan kepala keluarga, serta keluarga dengan anggota disabilitas.

Selama hampir tiga dekade, langkah Habitat Indonesia telah menjangkau lebih dari 223.277 keluarga. Angka ini bukan sekadar capaian, melainkan representasi dari perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga Indonesia. Melalui berbagai program seperti pembangunan rumah layak huni, penyediaan akses air bersih dan sanitasi, respons tanggap bencana, pemberdayaan ekonomi, hingga pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, Habitat Indonesia terus berupaya menjawab kebutuhan dasar sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.

Di penghujung fiskal 2026, kontribusi tersebut terus menunjukkan perkembangan yang positif. Habitat Indonesia berhasil membangun 40.230 rumah layak huni, meningkat dari 39.478 unit pada tahun sebelumnya. Selain itu, sebanyak 32.541 keluarga kini telah memperoleh akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, naik dari 31.375 keluarga di tahun 2025. Upaya peningkatan kualitas hunian juga tercermin dari 76.467 keluarga yang menerima dukungan pendanaan renovasi rumah, memperkuat komitmen untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih aman dan sehat.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat dedikasi banyak pihak yang bekerja dengan sepenuh hati. Sepanjang tahun fiskal 2026, sebanyak 1.234 relawan dari berbagai latar belakang turut ambil bagian dalam kegiatan pembangunan rumah layak huni. Bersama staf Habitat Indonesia, para mitra, dan donatur, mereka menjadi bagian penting dari gerakan kolektif yang menghadirkan perubahan nyata di lapangan.

Kolaborasi menjadi fondasi utama dari setiap capaian ini. Dukungan yang terus mengalir dari berbagai pihak memungkinkan Habitat Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan misinya. Tanpa sinergi yang kuat antara masyarakat, mitra, dan para relawan, perjalanan ini tidak akan sampai pada titik sekarang.

Dalam satu tahun terakhir, Habitat for Humanity Indonesia juga memperkuat langkahnya melalui kerja sama strategis bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta pemerintah daerah untuk mendukung program nasional Tiga Juta Rumah. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mendorong terciptanya kawasan permukiman yang tertata dan berkelanjutan. Salah satu wujud nyata dari kerja sama ini adalah revitalisasi Kampung Tanjung Kait di Kabupaten Tangerang, di mana sebanyak 110 keluarga nelayan kini telah memiliki akses terhadap kepemilikan tanah serta rumah layak huni yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana dasar, sehingga menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan terencana.

Pencapaian program unggulan Habitat for Humanity Indonesia selama 29 Tahun. Grafis: HFHI/Tias Ester Widhari

Baca juga: Transformasi Tanjung Kait: Menko Infrastruktur dan Jajaran Pejabat Tinggi Tinjau Model Pemukiman Nelayan Tangguh dan Berkeadilan

Direktur Nasional Habitat Indonesia, Handoko Ngadiman, menegaskan bahwa seluruh capaian ini tidak terlepas dari kekuatan kolaborasi yang terbangun selama ini.

“Kami percaya bahwa setiap orang berhak memiliki tempat tinggal yang layak. Apa yang telah kami capai hingga hari ini adalah hasil dari kepercayaan dan kerja bersama banyak pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh mitra, donatur, dan relawan yang telah berjalan bersama kami menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di Indonesia,” ujar Handoko.

Ke depan, Habitat Indonesia terus berkomitmen untuk memperluas dampak programnya. Tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, setiap inisiatif dirancang untuk memberikan perubahan yang berkelanjutan, mendorong kemandirian, meningkatkan kualitas hidup, serta membuka peluang yang lebih luas bagi keluarga penerima manfaat.

Handoko juga menekankan bahwa perubahan yang berarti hanya dapat terwujud melalui kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.

“Kami yakin, ketika berbagai pihak bergerak bersama, kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera bagi lebih banyak keluarga di Indonesia,” tambahnya.

Perjalanan ini tentu belum berakhir. Masih banyak keluarga yang menantikan akses terhadap hunian yang layak dan kehidupan yang lebih baik. Namun dengan semangat kolaborasi yang terus terjaga, Habitat Indonesia akan tetap melangkah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi bagian dari perubahan yang nyata.

Mari bersama-sama melanjutkan langkah ini, menyemai lebih banyak harapan, menghadirkan lebih banyak kehidupan yang layak, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Prudential1
Kabar Habitat

Habitat Indonesia dan Prudential Lanjutkan Program Desa Maju Prudential di Bogor

Bogor, 20 April 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Prudential Indonesia kembali melanjutkan Program Desa Maju Prudential (DMP) untuk tahun kedua. Keberlanjutan program ini menegaskan komitmen kedua pihak dalam mendorong peningkatan kualitas hunian, kesehatan, dan ketahanan masyarakat secara terpadu.

Pelaksanaan program tahun ini ditandai dengan keterlibatan 110 relawan Prudential Indonesia dalam berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang berlangsung di Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor pada 11 dan 18 April 2026 lalu. Para relawan terlibat langsung dalam pembangunan pondasi dan dinding rumah layak huni, pengelolaan sampah, pembuatan lubang biopori, hingga penyelenggaraan edukasi kesehatan (health talk) dan layanan pemeriksaan kesehatan (medical check up) bagi warga. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada 7 April.

Pada tahun kedua implementasinya, program DMP menargetkan pembangunan 15 rumah layak huni baru serta 10 unit toilet rumah tangga. Selain itu, program ini juga mencakup renovasi dua sekolah, penanaman 60 bibit tanaman, serta berbagai pelatihan bagi masyarakat. Sebanyak 110 keluarga akan menerima pelatihan konstruksi dasar dan rumah sehat, pengelolaan sampah, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Program ini juga diperluas dengan pelatihan pendekatan partisipatif untuk kesadaran tempat tinggal yang aman (PASSA) bagi anggota Destana, serta pelatihan manajemen risiko bencana berbasis masyarakat (CBDRM).

Capaian ini melanjutkan hasil positif yang telah diraih pada tahun sebelumnya. Pada fase awal program, DMP berhasil membangun 12 rumah layak huni baru dan 11 toilet rumah tangga, serta merenovasi dua sekolah. Program juga mendorong ekspansi bank sampah mandiri beserta fasilitas pendukungnya, menanam 48 bibit tanaman, serta memberikan pelatihan konstruksi dasar dan rumah sehat kepada 100 keluarga. Selain itu, sebanyak 175 pengurus sampah dan perwakilan keluarga mendapatkan pelatihan pengelolaan sampah, serta 100 keluarga menerima pelatihan PHBS.

Baca juga: Revitalisasi Kampung Tanjung Kait: Sinergi Habitat for Humanity Indonesia, Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Prudential Pemenuhan Rumah Layak Huni

Maria Rosalinda, Chief Risk & Compliance Officer Prudential Indonesia, menyampaikan harapannya agar program ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Saya mewakili Prudential, berharap dengan adanya program Desa Maju Prudential ini dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga baik melalui pembangunan rumah layak huni, sarana toilet, maupun melalui kegiatan layanan kesehatan yang diselenggarakan seperti hari ini,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri, yang menilai program ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat. “Dengan adanya program ini, sangat bermanfaat sekali bagi masyarakat Gunung Putri khususnya untuk penerima manfaat langsung program DMP. Saya mengapresiasi kolaborasi dan dukungan antara Prudential Indonesia dengan Habitat Indonesia yang telah terjalin selama tiga tahun ini, serta sejalan dengan program pemerintah yaitu Nol Rumah Tidak Layak Huni. Saya juga bersyukur karena program ini tidak hanya fokus pada pembangunan rumah, melainkan juga sektor kesehatan dan pendidikan,” ungkapnya.

Sepanjang tahun 2025, program Desa Maju Prudential telah menjangkau total 18.160 penerima manfaat di Desa Gunung Putri, yang terdiri dari 1.861 penerima manfaat langsung dan 16.299 penerima manfaat tidak langsung.

Ke depan, kolaborasi antara Habitat Indonesia dan Prudential Indonesia diharapkan terus memperluas dampak program melalui pendekatan yang terintegrasi, tidak hanya pada penyediaan hunian layak, tetapi juga peningkatan kualitas kesehatan, lingkungan, dan kapasitas masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Foto: HFHI/Astridinar Vania

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Tanjung Kait4
Kabar Habitat

Transformasi Tanjung Kait: Menko Infrastruktur dan Jajaran Pejabat Tinggi Tinjau Model Pemukiman Nelayan Tangguh dan Berkeadilan

Tangerang, 16 April 2026 – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP), Wakil Gubernur Banten, dan Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau hasil revitalisasi Kampung Nelayan Tanjung Kait oleh Habitat for Humanity Indonesia di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang pada hari Kamis (16/4). Kunjungan ini menandai keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil dalam menciptakan model pemukiman pesisir yang inklusif dan tahan iklim.

“Kita sama-sama melihat kawasan pemukiman nelayan kini bertransformasi menjadi layak untuk ditinggali. Kita ingin memastikan kawasan ini tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga produktif. Bersama Habitat for Humanity Indonesia yang membangun dan perbaikan 110 rumah, kita lihat secara langsung masyarakat senang dapat tinggal di rumah yang nyaman. Saya sangat mengapresiasi tiap pihak, Kementerian KKP, Kementerian ATR-BP, Pemerintah Banten dan Kabupaten Tangerang, juga Koperasi Mitra Dhuafa yang berkolaborasi dalam revitalisasi desa nelayan ini. Harapannya kita bisa terus memperkuat masyarakat di sini dari waktu ke waktu,” ujar AHY.

“Harapan kami, semoga sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga nonpemerintah terkait penataan kawasan pesisir dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir yang tidak hanya membangun hunian yang layak tapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakatnya,” tambah Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid.

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Tangerang Resmikan Revitalisasi Tanjung Kait untuk Masyarakat Pesisir

Program revitalisasi Tanjung Kait, yang merupakan bagian dari kampanye global “Home Equals” oleh Habitat for Humanity Indonesia, telah berhasil mengubah kawasan informal yang rentan menjadi lingkungan hunian yang legal dan layak bagi 110 keluarga nelayan tradisional. Proyek ini membuktikan bahwa tantangan pemukiman di Indonesia dapat diatasi melalui pendekatan holistik yang berpusat pada masyarakat, mendinginkan kontrak sosial yang selama ini terabaikan akibat ketimpangan.

“Transformasi Tanjung Kait dari kumuh menjadi pemukiman legal bagi 110 keluarga nelayan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang kompleks. Menggunakan metode partisipatif, warga terlibat aktif merancang hunian tahan iklim dan mitigasi bencana. Keberhasilan ini didukung manajemen kuat antara Habitat Indonesia, pemerintah, serta donor seperti Prudential, PT Lautan Luas, dan mitra industri lainnya untuk membangun ekosistem hunian berkeadilan,” terang Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Revitalisasi Kampung Tanjung Kait didasarkan pada empat pilar utama yang bertujuan memulihkan martabat manusia dan keadilan sosial:

  1. Kepastian Hak Atas Tanah (Tenure Security): Memutus siklus kerentanan dengan memfasilitasi akses kepemilikan tanah legal melalui skema pembiayaan inklusif bersama Koperasi KOMIDA.
  2. Partisipasi Bermakna: Warga terlibat aktif sebagai arsitek masa depan mereka sendiri melalui metode PASSA (Participatory Approach for Safe Shelter and Settlements Awareness).
  3. Adaptasi Perubahan Iklim: Pembangunan unit rumah yang dirancang dengan prinsip Build Back Safer (BBS) untuk menghadapi ancaman banjir rob dan angin ekstrem di wilayah pesisir.
  4. Akses Layanan Dasar: Penyediaan infrastruktur terintegrasi mulai dari air bersih, sanitasi, hingga jaringan listrik dan drainase guna memulihkan martabat dan produktivitas warga.

Program yang dimulai sejak Juni 2023 ini telah melewati berbagai tahapan krusial, termasuk legalisasi lahan pada Oktober 2024 dan penyelesaian konstruksi pada Desember 2025. Kini, warga telah kembali ke hunian yang permanen dan sehat. Ke depan, Tanjung Kait diproyeksikan menjadi “Desa Wisata Nelayan Tradisional” untuk mendorong kemandirian ekonomi dan ekologi masyarakat.

Foto & Penulis: HFHI/Astridinar Vania

(as/kh)