Gunungkidul, 29 Juni 2026 – Akses terhadap air bersih dan hunian layak sering dianggap kebutuhan dasar yang sudah merata, namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses, menggunakan, maupun terlibat dalam pengambilan keputusan terkait layanan tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Pelatihan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
Di wilayah dengan karakteristik geografis karst, ketersediaan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa saat musim kemarau. Namun, dampaknya tidak dialami secara setara. Perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas kerap menghadapi beban lebih besar, mulai dari keterbatasan akses hingga hambatan mobilitas dalam memperoleh air maupun layanan dasar lainnya. Di saat yang sama, keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan di tingkat komunitas masih terbatas.
Sebanyak 23 perwakilan warga, yang terdiri dari perangkat desa, perempuan kepala keluarga, lansia, hingga perwakilan keluarga penyandang disabilitas, mengikuti pelatihan ini. Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak untuk memahami ketimpangan akses, memetakan kondisi di lapangan, hingga mengeksplorasi bagaimana keputusan desa dapat lebih inklusif melalui berbagai simulasi dan diskusi interaktif.
Dari proses tersebut, peserta mulai melihat bahwa isu air bersih dan hunian tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang siapa yang terlibat, siapa yang terdampak, dan siapa yang belum terwakili. Pendekatan GEDSI membuka ruang refleksi bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus mempertimbangkan akses, kontrol, manfaat, dan partisipasi secara adil bagi seluruh kelompok masyarakat.
Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman dan kapasitas masyarakat agar lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. Harapannya, praktik inklusif ini dapat terus diterapkan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya di tingkat desa sehingga pembangunan benar-benar dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.
Yuk lihat keseruan mereka dalam foto-foto di bawah ini.

Ibu Carik (Sekretaris Desa), Wahyu Setyoningsih, membuka rangkaian Pelatihan Gender Dasar (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan air dan hunian yang lebih inklusif serta berkeadilan bagi semua kelompok.

Sebelum sesi pelatihan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pengisian lembar pre-test. Tahap ini dilakukan untuk mengukur pemahaman awal peserta terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif, sekaligus menjadi dasar evaluasi pembelajaran di akhir kegiatan.

Sesi pelatihan dimulai dengan aktivitas interaktif, di mana peserta diajak untuk menuliskan berbagai kegiatan sehari-hari dan mengelompokkannya berdasarkan peran laki-laki dan perempuan. Kegiatan ini membuka ruang refleksi bahwa tidak semua pekerjaan dibatasi oleh peran gender tertentu, karena banyak aktivitas yang dapat dilakukan secara setara oleh laki-laki maupun perempuan.

Di tengah sesi pelatihan, Alimah selaku Gender Officer Habitat for Humanity Indonesia mengajak perwakilan peserta untuk melakukan role play sebagai sosok ayah dan ibu dalam sebuah keluarga yang menghadapi berbagai persoalan. Aktivitas ini membantu peserta memahami perbedaan peran, tantangan, serta beban yang sering muncul dalam dinamika keluarga sehari-hari.
Baca juga: Foto: Meningkatkan Kesehatan Komunitas melalui Pelatihan PHBS

Pelatihan yang terbagi ke dalam empat sesi ini juga membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD). Melalui diskusi kelompok ini, peserta dapat saling bertukar pandangan dan memperdalam pemahaman terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif di tingkat komunitas.

Salah satu peserta perempuan sambil tertawa mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar pekerjaan rumah masih lebih banyak dijalankan oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Pernyataan sederhana ini kemudian menjadi pemantik diskusi yang lebih dalam mengenai pembagian peran di dalam rumah tangga.

Sebelum sesi pelatihan berakhir, peserta diajak mengikuti permainan Power Walk (Langkah Maju) yang dirancang untuk merepresentasikan perbedaan akses, kesempatan, dan posisi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai faktor dapat memengaruhi sejauh mana seseorang dapat melangkah dalam kehidupan.

Pelatihan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara seluruh peserta dan tim Habitat for Humanity Indonesia. Momen ini menjadi penanda kebersamaan setelah rangkaian pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya pengelolaan air bersih dan hunian yang inklusif.
Foto & Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




