logotype
Donate
HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Sudah bertahun-tahun Nining hidup di antara rasa lelah, cemas, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam. Di rumah sederhana yang nyaris roboh itu, ia merawat kedua orang tuanya yang sakit stroke sambil berusaha bertahan dengan segala keterbatasan hidup.

Garut, 9 Juni 2026 – Nining (46), seorang ibu kepala keluarga asal Cikajang, Kabupaten Garut, menghabiskan sebagian besar harinya untuk mengurus kedua orang tuanya yang sakit. Sang ayah masih bisa berjalan perlahan dengan bantuan tongkat, sementara ibunya hanya bisa terbaring di atas kasur. Di saat yang sama, Nining juga masih harus membesarkan anak bungsunya yang kini duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nining mengandalkan bantuan dari dua anaknya yang telah berkeluarga dan bekerja. Uang yang diberikan setiap bulan itu harus dibagi untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus membeli obat bagi kedua orang tuanya. Bahkan, tak jarang ia harus berhutang di warung milik tetangga demi bisa tetap bertahan hidup. “Cukup enggak cukup, ya dicukup-cukupin,” ujar Nining pelan.

Di tengah himpitan ekonomi, kondisi rumah yang mereka tempati justru semakin memperberat kehidupannya. Rumah itu terbuat dari bilik bambu dan papan kayu dengan atap genteng yang sudah keropos. Ketika hujan turun, air masuk dari berbagai sisi rumah dan membuat keadaan menjadi kacau.

“Kesulitan terbesar saya itu ekonomi. Saya cuma mengandalkan uang dari anak-anak yang dikasih sebulan sekali. Uang itu harus dibagi buat kebutuhan hidup dan merawat orang tua. Belum lagi tinggal di rumah yang enggak layak seperti ini, pikiran saya campur aduk,” tutur Nining.

Nining menuntun orang tuanya berjalan di samping rumah mereka yang belum layak huni di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Demi menambah penghasilan, Nining sesekali bekerja sebagai buruh tani di kebun milik tetangganya dengan upah tak lebih dari Rp30 ribu per hari. Namun bahkan saat bekerja, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. “Kalau saya lagi berkebun, saya selalu kepikiran orang tua di rumah karena kondisi rumahnya sudah enggak layak,” katanya.

Merawat kedua orang tua di rumah yang rapuh juga menjadi tantangan tersendiri. Saat hujan deras turun dan air mulai masuk ke dalam rumah, Nining harus memindahkan kedua orang tuanya ke sudut-sudut rumah yang masih kering agar tidak terkena bocor.

“Pernah waktu hujan gede, bagian belakang rumah roboh. Saya panik minta bantuan tetangga karena takut kena orang tua. Untungnya enggak sampai menimpa mereka dan masih sempat dipindahin,” kenangnya.

Setelah kejadian itu, Nining hanya mampu memperbaiki rumah seadanya. Ia menggunakan kayu sebagai penyangga bangunan dan menutup bagian yang rusak dengan spanduk agar rumah tetap bisa ditempati.

Di balik semua perjuangan itu, tersimpan satu penyesalan yang terus membekas di hati Nining. Ia percaya kondisi ibunya semakin memburuk setelah terjatuh di kamar mandi rumah mereka yang masih berlantai tanah dan licin.

Sebelum bertemu dengan Habitat for Humanity Indonesia, Nining bahkan sempat bercita-cita bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Baginya, itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa memperbaiki rumah dan membiayai pengobatan kedua orang tuanya.

Potret Nining bersama orang tuanya berdiri di depan rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Harapan yang selama ini terasa jauh akhirnya datang. Bersama dukungan Astra, Habitat Indonesia membangun kembali rumah milik Nining menjadi layak huni bersama 84 keluarga lainnya di Kabupaten Garut.

Kini, rumah Nining berdiri kokoh dengan dinding berwarna kuning yang cerah. Tidak hanya lebih aman dan nyaman, rumah tersebut juga dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan lansia dan disabilitas. Rumah Nining dilengkapi handrail di ruang tamu dan kamar mandi, serta desain pintu yang dibuat lebih lebar dibandingkan rumah pada umumnya agar memudahkan mobilitas kedua orang tuanya.

Selain itu, rumah tersebut juga dilengkapi berbagai furnitur seperti meja dan kursi ruang tamu, lemari pakaian, hingga kasur tidur yang membuat rumah terasa jauh lebih layak dan nyaman untuk ditempati.

Bagi Nining, rumah ini adalah jawaban dari doa-doa panjang yang ia panjatkan selama lebih dari tujuh tahun. Ia mengaku pernah beberapa kali mendapat tawaran bantuan, namun belum pernah benar-benar terwujud hingga akhirnya bantuan itu datang melalui Habitat Indonesia dan Astra.

“Perubahan rumah saya banyak sekali. Yang paling penting sekarang rumah sudah enggak pernah bocor lagi. Rumah juga jauh lebih bagus dan enak dilihat. Saya juga sekarang udah enggak minder dan malu lagi sama tetangga,” ujar Nining dengan mata berkaca-kaca.

Orang tua Nining menggunakan handrail yang tersedia di dalam rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kehadiran rumah layak huni ini juga membawa ketenangan baru dalam hidupnya. Kini, Nining tidak lagi dihantui rasa takut berlebihan setiap kali harus meninggalkan rumah untuk mencari penghasilan tambahan. Selain itu, rumahnya kini dilengkapi dengan handrail (pegangan pengaman), memudahkan ayahnya yang lansia untuk berjalan berkeliling rumah dengan lebih stabil dan aman.

“Karena rumah ini udah layak banget, sekarang saya sudah enggak pernah takut atau khawatir lagi kalau ninggalin orang tua sebentar buat kerja cari uang tambahan jadi buruh tani,” tuturnya.

Rumah ini menjadi simbol perjuangan dan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Di tengah segala keterbatasan, Nining tak pernah berhenti berusaha memberikan tempat tinggal yang aman dan layak bagi kedua orang tuanya untuk menjalani masa tua mereka dengan lebih nyaman dan bermartabat.

Kisah Nining menjadi pengingat bahwa rumah layak huni bukan hanya tentang dinding dan atap, tetapi tentang rasa aman, ketenangan, dan harapan baru bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Masih banyak keluarga seperti Nining yang menanti kesempatan untuk memiliki rumah layak huni. Mari bersama menjadi bagian dari perubahan dan membantu lebih banyak keluarga mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – BMZ II
Kabar Habitat

Mendorong Pembangunan Inklusif dari Tingkat Komunitas melalui Ruang Belajar Bersama Warga

Gunungkidul, 5 Juni 2026 – Sebagai bagian dari komitmen untuk membangun komunitas yang lebih tangguh dan inklusif, Habitat for Humanity Indonesia bersama mitra lokal, Sentra Advokasi Perempuan, Disabilitas, dan Anak (SAPDA), terus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa melalui pendekatan yang berpusat pada kesetaraan dan inklusi sosial.

Melalui program Advancing Climate Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions (ACCESS), Habitat Indonesia mendukung penyelenggaraan kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) yang dilaksanakan di Balai Kalurahan Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, pada 30 April 2026 lalu. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi warga untuk memahami pentingnya pembangunan yang inklusif, di mana setiap suara, terutama perempuan, penyandang disabilitas, lansia, pemuda, dan kelompok rentan lainnya memiliki ruang yang setara untuk didengar.

Sebanyak 15 perwakilan warga dari Padukuhan Kepuhsari dan Ngrandu terlibat aktif dalam diskusi yang difasilitasi SAPDA. Dalam suasana yang terbuka dan partisipatif, warga diajak untuk mengidentifikasi tantangan, memetakan sumber daya yang tersedia, serta merumuskan ide-ide pembangunan yang lebih responsif terhadap kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.

Nuryadin Edy Purnama, Project Officer SAPDA, menegaskan pentingnya proses ini sebagai langkah awal membangun desa yang lebih inklusif. “Tujuan dari kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI adalah agar kita bersama-sama dapat mengidentifikasi, mengenal, dan melihat secara utuh berbagai kendala maupun sumber daya yang ada di desa ini, yang nantinya menjadi modal kita untuk bersinergi dengan desa,” ungkapnya.

Dukungan terhadap pendekatan partisipatif ini juga disampaikan oleh pemerintah Kalurahan Katongan. Wawan, Kamituo yang mewakili Lurah Katongan, menyampaikan bahwa pembangunan desa harus menjadi upaya bersama, dengan melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali. “Bapak dan Ibu memiliki hak yang sama sebagai warga, dan juga bisa ikut serta dalam merencanakan arah tujuan, khususnya di Kalurahan Katongan ini. Harapannya, seberapa yang bisa kita beri, bukan seberapa yang kita dapatkan. Jika itu menjadi niat bersama, tujuan baik ini akan bisa kita lakukan untuk mencapai kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Perspektif serupa juga disampaikan oleh Wasingastu Zakiyah, salah satu narasumber kegiatan, yang menekankan bahwa pembangunan inklusif harus memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal. “Dalam proses pembangunan yang inklusif, sudah seharusnya melibatkan semua pihak. Tidak boleh ada yang tertinggal, terutama mereka yang selama ini masih terpinggirkan, agar bisa terfasilitasi secara setara dalam perencanaan maupun pembangunan desa,” jelasnya.

Melalui kolaborasi dengan SAPDA dalam Program ACCESS, Habitat Indonesia percaya bahwa membangun komunitas yang tangguh tidak hanya dimulai dari penyediaan akses terhadap layanan dasar, tetapi juga dari membuka ruang dialog yang aman, setara, dan inklusif. Sebab ketika setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, pembangunan dapat benar-benar menjadi milik semua.

Penulis: SAPDA

(kh/av)