Gunungkidul, 5 Juni 2026 – Sebagai bagian dari komitmen untuk membangun komunitas yang lebih tangguh dan inklusif, Habitat for Humanity Indonesia bersama mitra lokal, Sentra Advokasi Perempuan, Disabilitas, dan Anak (SAPDA), terus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa melalui pendekatan yang berpusat pada kesetaraan dan inklusi sosial.
Melalui program Advancing Climate Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions (ACCESS), Habitat Indonesia mendukung penyelenggaraan kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) yang dilaksanakan di Balai Kalurahan Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, pada 30 April 2026 lalu. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi warga untuk memahami pentingnya pembangunan yang inklusif, di mana setiap suara, terutama perempuan, penyandang disabilitas, lansia, pemuda, dan kelompok rentan lainnya memiliki ruang yang setara untuk didengar.
Sebanyak 15 perwakilan warga dari Padukuhan Kepuhsari dan Ngrandu terlibat aktif dalam diskusi yang difasilitasi SAPDA. Dalam suasana yang terbuka dan partisipatif, warga diajak untuk mengidentifikasi tantangan, memetakan sumber daya yang tersedia, serta merumuskan ide-ide pembangunan yang lebih responsif terhadap kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Nuryadin Edy Purnama, Project Officer SAPDA, menegaskan pentingnya proses ini sebagai langkah awal membangun desa yang lebih inklusif. “Tujuan dari kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI adalah agar kita bersama-sama dapat mengidentifikasi, mengenal, dan melihat secara utuh berbagai kendala maupun sumber daya yang ada di desa ini, yang nantinya menjadi modal kita untuk bersinergi dengan desa,” ungkapnya.
Dukungan terhadap pendekatan partisipatif ini juga disampaikan oleh pemerintah Kalurahan Katongan. Wawan, Kamituo yang mewakili Lurah Katongan, menyampaikan bahwa pembangunan desa harus menjadi upaya bersama, dengan melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali. “Bapak dan Ibu memiliki hak yang sama sebagai warga, dan juga bisa ikut serta dalam merencanakan arah tujuan, khususnya di Kalurahan Katongan ini. Harapannya, seberapa yang bisa kita beri, bukan seberapa yang kita dapatkan. Jika itu menjadi niat bersama, tujuan baik ini akan bisa kita lakukan untuk mencapai kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Perspektif serupa juga disampaikan oleh Wasingastu Zakiyah, salah satu narasumber kegiatan, yang menekankan bahwa pembangunan inklusif harus memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal. “Dalam proses pembangunan yang inklusif, sudah seharusnya melibatkan semua pihak. Tidak boleh ada yang tertinggal, terutama mereka yang selama ini masih terpinggirkan, agar bisa terfasilitasi secara setara dalam perencanaan maupun pembangunan desa,” jelasnya.
Melalui kolaborasi dengan SAPDA dalam Program ACCESS, Habitat Indonesia percaya bahwa membangun komunitas yang tangguh tidak hanya dimulai dari penyediaan akses terhadap layanan dasar, tetapi juga dari membuka ruang dialog yang aman, setara, dan inklusif. Sebab ketika setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, pembangunan dapat benar-benar menjadi milik semua.
Penulis: SAPDA
(kh/av)




