Sabu Raijua, 17 Juni 2026 – Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal dengan pesona savananya. Namun di balik keindahan itu, alam menyimpan tantangan besar: musim kering ekstrem yang berlangsung hingga 8 bulan berturut-turut setiap tahun. Di Kabupaten Sabu Raijua, tantangan ini memicu krisis harian. Data BPS NTT 2023 menunjukkan hanya 46,65% penduduk yang memiliki akses air minum bersih, tertinggal jauh dari rata-rata nasional yang mencapai lebih dari 91%.
Bagi Ibu Libertina Ludji (73), angka statistik ini adalah realitas yang menguras peluh. Selama puluhan tahun di Kecamatan Sabu Liae, wanita tangguh ini harus berjalan kaki sejauh 500 meter membelah perbukitan, memikul jeriken demi jeriken air dari sumur umum yang sering kali surut saat kemarau.
Membeli air tangki seharga Rp250.000 untuk 4.000-5.000 liter menjadi jalan keluar terakhir yang menjepit. Biaya ini teramat mahal bagi warga Sabu Raijua, di mana rata-rata pendapatan per kapita (2025) hanya Rp 1,56 juta per bulan—atau seperempat dari rata-rata nasional. Di sini, air bersih telah lama menjadi kemewahan yang merenggut kesejahteraan warga.
Melihat kondisi ini, Habitat for Humanity Indonesia hadir membangun sumur umum yang diprioritaskan bagi 8 keluarga yang paling membutuhkan. “Kami senang sekali ada sumur baru ini. Sudah puluhan tahun saya harus pikul air. Sekarang kami tinggal putar keran, air sudah mengalir,” ungkap Ibu Libertina penuh syukur.
Bagi Habitat Indonesia, tempat tinggal yang layak tidak hanya berdiri atas atap dan dinding yang kokoh, melainkan juga ekosistem pendukung yang sehat. Akses air bersih ini membawa dampak domino yang mengubah masa depan masyarakat Sabu Raijua dalam jangka panjang. Dari sisi kesehatan, kehadiran air bersih secara instan memangkas risiko penyakit bawaan air seperti diare dan tifus, yang selama ini menjadi akar masalah stunting serta kematian anak di daerah terpencil.
Lebih dari itu, intervensi ini memicu kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Waktu dan energi warga yang dulu habis untuk mengantre dan memikul air kini dapat dialihkan untuk kegiatan yang jauh lebih produktif. Akses air yang stabil membuka peluang baru yang sebelumnya mustahil, seperti berkebun sayur di pekarangan rumah, beternak dengan lebih baik, hingga membuka usaha kecil demi mendongkrak pendapatan keluarga.
Setelah merasakan dampak kesehatan dan kemandirian ekonomi, kedelapan keluarga penerima manfaat kini bergerak secara swadaya merencanakan pembangunan bak penampungan umum. Mereka ingin memastikan bahwa berkah air bersih ini tidak berhenti di mereka, melainkan dapat dialirkan lebih luas ke rumah-rumah tetangga di sekitarnya.
Semangat kebersamaan warga Sabu Raijua inilah yang menghidupkan visi Habitat Indonesia selama 29 tahun berkiprah: mewujudkan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak. Melalui penyediaan akses air bersih yang terintegrasi ini, kami terus berkomitmen membangun rumah, komunitas, dan harapan, memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, mandiri, dan bermartabat.
Penulis: Astridinar Vania
(av/kh)




