logotype
Donate
HFHI – Arada
Kabar Habitat

Pelatihan GEDSI: Penguatan Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul, 29 Juni 2026 – Akses terhadap air bersih dan hunian layak sering dianggap kebutuhan dasar yang sudah merata, namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses, menggunakan, maupun terlibat dalam pengambilan keputusan terkait layanan tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Pelatihan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Di wilayah dengan karakteristik geografis karst, ketersediaan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa saat musim kemarau. Namun, dampaknya tidak dialami secara setara. Perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas kerap menghadapi beban lebih besar, mulai dari keterbatasan akses hingga hambatan mobilitas dalam memperoleh air maupun layanan dasar lainnya. Di saat yang sama, keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan di tingkat komunitas masih terbatas.

Sebanyak 23 perwakilan warga, yang terdiri dari perangkat desa, perempuan kepala keluarga, lansia, hingga perwakilan keluarga penyandang disabilitas, mengikuti pelatihan ini. Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak untuk memahami ketimpangan akses, memetakan kondisi di lapangan, hingga mengeksplorasi bagaimana keputusan desa dapat lebih inklusif melalui berbagai simulasi dan diskusi interaktif.

Dari proses tersebut, peserta mulai melihat bahwa isu air bersih dan hunian tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang siapa yang terlibat, siapa yang terdampak, dan siapa yang belum terwakili. Pendekatan GEDSI membuka ruang refleksi bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus mempertimbangkan akses, kontrol, manfaat, dan partisipasi secara adil bagi seluruh kelompok masyarakat.

Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman dan kapasitas masyarakat agar lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. Harapannya, praktik inklusif ini dapat terus diterapkan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya di tingkat desa sehingga pembangunan benar-benar dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.

Yuk lihat keseruan mereka dalam foto-foto di bawah ini.

Ibu Carik (Sekretaris Desa), Wahyu Setyoningsih, membuka rangkaian Pelatihan Gender Dasar (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan air dan hunian yang lebih inklusif serta berkeadilan bagi semua kelompok.

Sebelum sesi pelatihan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pengisian lembar pre-test. Tahap ini dilakukan untuk mengukur pemahaman awal peserta terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif, sekaligus menjadi dasar evaluasi pembelajaran di akhir kegiatan.

Sesi pelatihan dimulai dengan aktivitas interaktif, di mana peserta diajak untuk menuliskan berbagai kegiatan sehari-hari dan mengelompokkannya berdasarkan peran laki-laki dan perempuan. Kegiatan ini membuka ruang refleksi bahwa tidak semua pekerjaan dibatasi oleh peran gender tertentu, karena banyak aktivitas yang dapat dilakukan secara setara oleh laki-laki maupun perempuan.

Di tengah sesi pelatihan, Alimah selaku Gender Officer Habitat for Humanity Indonesia mengajak perwakilan peserta untuk melakukan role play sebagai sosok ayah dan ibu dalam sebuah keluarga yang menghadapi berbagai persoalan. Aktivitas ini membantu peserta memahami perbedaan peran, tantangan, serta beban yang sering muncul dalam dinamika keluarga sehari-hari.

Baca juga: Foto: Meningkatkan Kesehatan Komunitas melalui Pelatihan PHBS

Pelatihan yang terbagi ke dalam empat sesi ini juga membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD). Melalui diskusi kelompok ini, peserta dapat saling bertukar pandangan dan memperdalam pemahaman terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif di tingkat komunitas.

Salah satu peserta perempuan sambil tertawa mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar pekerjaan rumah masih lebih banyak dijalankan oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Pernyataan sederhana ini kemudian menjadi pemantik diskusi yang lebih dalam mengenai pembagian peran di dalam rumah tangga.

Sebelum sesi pelatihan berakhir, peserta diajak mengikuti permainan Power Walk (Langkah Maju) yang dirancang untuk merepresentasikan perbedaan akses, kesempatan, dan posisi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai faktor dapat memengaruhi sejauh mana seseorang dapat melangkah dalam kehidupan.

Pelatihan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara seluruh peserta dan tim Habitat for Humanity Indonesia. Momen ini menjadi penanda kebersamaan setelah rangkaian pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya pengelolaan air bersih dan hunian yang inklusif.

Foto & Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Tak Lagi Mengungsi Saat Hujan: Perjuangan Andri Mewujudkan Rumah Layak untuk Keluarganya

Garut, 22 Juni 2026 – Andri (36) tinggal bersama istrinya, Rina (33), serta dua anak mereka di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Anak pertamanya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, sementara si bungsu masih berusia tiga tahun. Selama tujuh tahun terakhir, keluarga kecil ini hidup di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak.

Sehari-hari, Andri bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Jika sedang ada pekerjaan, ia menjadi buruh tani atau membantu mencari rumput untuk pakan ternak di kebun milik warga. Namun, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari.

Dengan pendapatan yang terbatas itu, Andri hanya mampu memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit. Lantai rumah yang masih berupa tanah terkadang ia tambal menggunakan semen jika memiliki uang lebih.“Kalau ada rezeki sedikit, saya pakai buat nambal lantai pakai semen. Tapi cuma sebagian, enggak bisa semuanya,” ujar Andri.

Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atap rumah terbuat dari asbes tanpa plafon, material yang berisiko bagi kesehatan, terlebih bagi anak-anak yang setiap hari tinggal di dalamnya. Dinding rumah pun terbuat dari bilik bambu yang sudah berlubang di banyak bagian, membuat udara dingin dan air hujan mudah masuk ke dalam rumah.

Ketakutan terbesar datang setiap musim hujan tiba. “Kalau hujannya kecil, kami masih berani bertahan di dalam rumah. Tapi kalau hujan besar ditambah angin kencang, kami pasti ngungsi karena takut rumah roboh,” tutur Andri. “Yang paling repot itu kalau hujan malam. Di sini gelap dan minim lampu jalan. Kami harus lari-larian ke rumah orang tua buat numpang ngungsi,” kenangnya.

Istri Andri, Rina (36), bersama putrinya berdiri di depan rumah mereka yang tidak layak huni di Kabupaten Garut. Foto: Tim HFHI

Masa paling berat datang ketika Rina mengandung anak kedua mereka. Saat itu kondisi ekonomi keluarga benar-benar berada di titik terendah, sementara hari persalinan semakin dekat. “Waktu itu saya sempat merasa putus asa. Saya merasa belum bisa jadi suami dan ayah yang berguna buat keluarga,” ujar Andri.

Ditambah lagi, kondisi rumah yang rapuh membuat mereka khawatir akan keselamatan bayi yang akan lahir. Setelah anak bungsunya lahir, Andri dan keluarganya akhirnya memutuskan mengungsi sementara ke rumah orang tua selama dua bulan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di tengah segala perjuangan itu, Andri hanya bisa terus berusaha sambil menyerahkan sisanya kepada Tuhan. “Saya belajar buat sadar diri. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin cari nafkah. Selebihnya saya serahkan sama Allah,” katanya.

Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Harapan baru akhirnya datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra membangun kembali rumah milik Andri menjadi layak huni bersama 84 keluarga lainnya di Kabupaten Garut. “Syukur Alhamdulillah, hidup saya seperti punya semangat baru waktu tahu rumah saya dipilih untuk dibangun kembali,” ujar Andri penuh haru.

Baginya, rumah baru ini merupakan jawaban atas perjuangan panjang yang selama ini ia jalani bersama keluarga. “Ini seperti hasil perjuangan saya dan keluarga selama ini buat punya rumah yang layak. Saya yakin ini jawaban dari doa-doa kami,” katanya.

Kini, rumah Andri berdiri jauh lebih kokoh dan aman. Tidak hanya dibangun dengan dinding dan atap yang layak, rumah tersebut juga dilengkapi berbagai furnitur seperti meja dan kursi ruang keluarga, kasur, lemari pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.

Potret keluarga Andri berdiri di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan Astra di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan itu membawa rasa aman yang selama ini tidak pernah benar-benar mereka rasakan. “Rumah ini bikin saya lebih percaya diri, ada yang bisa saya banggakan. Yang paling penting, sekarang saya udah enggak takut lagi kalau hujan dan enggak perlu numpang ke rumah orang tua,” ujar Andri sambil tersenyum.

Tak berhenti sampai di situ, Habitat Indonesia juga mengajak Andri terlibat dalam pembangunan rumah layak huni untuk keluarga lain di lingkungannya. Berbekal pengalaman sebagai tukang bangunan, kini Andri bekerja membantu pembangunan rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di kebun setengah hari.

Kesempatan itu turut membantu meningkatkan penghasilannya. “Sekarang penghasilan saya ada tambahan, jadi bisa dua kali lebih besar dibanding sebelumnya,” kata Andri.

Perubahan juga dirasakan oleh anak-anak mereka. Andri percaya, kondisi rumah yang lebih aman dan nyaman membuat kesehatan fisik maupun mental anak-anaknya menjadi jauh lebih baik. Anak-anaknya kini tidak lagi merasa malu dengan rumah mereka sendiri.

Di rumah yang baru ini, Andri akhirnya menemukan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia cari yaitu, rasa tenang. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Astra. Rumah ini benar-benar jadi tempat yang layak untuk ditinggali. Rumah yang layak itu ya seperti ini,” tutup Andri.

Kisah Andri menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan hanya soal bangunan yang kokoh, tetapi tentang menghadirkan rasa aman, menjaga martabat keluarga, dan membuka harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Sabu
Kabar Habitat

Menjemput Harapan di Sabu Raijua: Air Bersih sebagai Katalis Kehidupan

Sabu Raijua, 17 Juni 2026 – Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal dengan pesona savananya. Namun di balik keindahan itu, alam menyimpan tantangan besar: musim kering ekstrem yang berlangsung hingga 8 bulan berturut-turut setiap tahun. Di Kabupaten Sabu Raijua, tantangan ini memicu krisis harian. Data BPS NTT 2023 menunjukkan hanya 46,65% penduduk yang memiliki akses air minum bersih, tertinggal jauh dari rata-rata nasional yang mencapai lebih dari 91%.

Bagi Ibu Libertina Ludji (73), angka statistik ini adalah realitas yang menguras peluh. Selama puluhan tahun di Kecamatan Sabu Liae, wanita tangguh ini harus berjalan kaki sejauh 500 meter membelah perbukitan, memikul jeriken demi jeriken air dari sumur umum yang sering kali surut saat kemarau.

Membeli air tangki seharga Rp250.000 untuk 4.000-5.000 liter menjadi jalan keluar terakhir yang menjepit. Biaya ini teramat mahal bagi warga Sabu Raijua, di mana rata-rata pendapatan per kapita (2025) hanya Rp 1,56 juta per bulan—atau seperempat dari rata-rata nasional. Di sini, air bersih telah lama menjadi kemewahan yang merenggut kesejahteraan warga.

Melihat kondisi ini, Habitat for Humanity Indonesia hadir membangun sumur umum yang diprioritaskan bagi 8 keluarga yang paling membutuhkan. “Kami senang sekali ada sumur baru ini. Sudah puluhan tahun saya harus pikul air. Sekarang kami tinggal putar keran, air sudah mengalir,” ungkap Ibu Libertina penuh syukur.

Bagi Habitat Indonesia, tempat tinggal yang layak tidak hanya berdiri atas atap dan dinding yang kokoh, melainkan juga ekosistem pendukung yang sehat. Akses air bersih ini membawa dampak domino yang mengubah masa depan masyarakat Sabu Raijua dalam jangka panjang. Dari sisi kesehatan, kehadiran air bersih secara instan memangkas risiko penyakit bawaan air seperti diare dan tifus, yang selama ini menjadi akar masalah stunting serta kematian anak di daerah terpencil.

Baca juga: Mengalirkan Harapan, Membangun Ketangguhan: Upaya Tiga Tahun Habitat for Humanity Indonesia Meningkatkan Akses Air dan Sanitasi di Indonesia

Lebih dari itu, intervensi ini memicu kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Waktu dan energi warga yang dulu habis untuk mengantre dan memikul air kini dapat dialihkan untuk kegiatan yang jauh lebih produktif. Akses air yang stabil membuka peluang baru yang sebelumnya mustahil, seperti berkebun sayur di pekarangan rumah, beternak dengan lebih baik, hingga membuka usaha kecil demi mendongkrak pendapatan keluarga.

Setelah merasakan dampak kesehatan dan kemandirian ekonomi, kedelapan keluarga penerima manfaat kini bergerak secara swadaya merencanakan pembangunan bak penampungan umum. Mereka ingin memastikan bahwa berkah air bersih ini tidak berhenti di mereka, melainkan dapat dialirkan lebih luas ke rumah-rumah tetangga di sekitarnya.

Semangat kebersamaan warga Sabu Raijua inilah yang menghidupkan visi Habitat Indonesia selama 29 tahun berkiprah: mewujudkan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak. Melalui penyediaan akses air bersih yang terintegrasi ini, kami terus berkomitmen membangun rumah, komunitas, dan harapan, memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, mandiri, dan bermartabat.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – Songs for NTT (3)
Kisah Perubahan

Membuka Pintu pada Keluarga yang Lebih Sehat di Pulau Sabu

Sabu Raijua, 12 Juni 2026 – Pagi hari di Pulau Sabu sering dimulai dengan debu. Saat musim kering datang, angin membawa serpihan daun kering dari atap rumah Joni yang mulai lapuk. Lantainya harus disapu berkali-kali setiap hari, tetapi debu tetap masuk melalui celah dinding tripleks yang rapuh.

Beberapa bulan lalu, anak bungsu Joni yang baru berusia tiga bulan jatuh sakit. Ia mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Di rumah kecil itu, udara terasa pengap karena tidak ada jendela untuk sirkulasi. Ketika angin bertiup kencang, debu dari atap daun terus berjatuhan ke dalam rumah. “Kalau malam angin besar, kami takut anak-anak makin sesak,” kata Joni.

Kisah Joni mencerminkan situasi yang dihadapi banyak keluarga di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini baru saja mengalami kekeringan ekstrem selama 128 hari tanpa hujan, lebih dari dua kali lipat ambang kekeringan ekstrem nasional menurut BMKG pada 2025. Musim kering yang panjang membuat masyarakat semakin rentan terhadap masalah kesehatan dan kondisi hunian yang buruk.

Kondisi rumah milik Joni sebelum dibangun menjadi rumah layak huni di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Foto: Tim HFHI

Di Nusa Tenggara Timur sendiri, angka kejadian ISPA mencapai 36,3%. Kondisi rumah dengan ventilasi minim, atap yang lapuk, serta sanitasi yang buruk menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Di Kecamatan Sabu Liae, tempat Joni tinggal, 23.809 keluarga masih hidup di rumah tidak layak huni. Banyak rumah dibangun dari material seadanya dan belum mampu memberikan perlindungan yang aman terhadap panas ekstrem, debu, maupun cuaca yang tidak menentu.

Di tengah kondisi itu, Joni tetap menjalani pekerjaannya sebagai mentor di Pusat Pengembangan Anak (PPA) di gereja lokal. Dengan penghasilan sekitar Rp1 juta (sekitar $56.58 USD) per bulan, ia dan istrinya berusaha memenuhi kebutuhan tiga anak mereka. Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat ketika anak-anak sakit, memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.

“Atapnya sering bocor dan debunya banyak sekali. Tapi waktu itu kami belum tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.

Potret keluarga Joni di depan rumah mereka setelah dibangun menjadi rumah layak huni di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Foto: Tim HFHI

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Hadir di Sabu Raijua, NTT: Upaya Menjawab Tantangan Hunian Layak di Selatan Indonesia

Ketika program perbaikan rumah hadir di wilayahnya, Joni memutuskan ikut terlibat penuh. Ia melengkapi dokumen yang dibutuhkan dan mulai mengumpulkan batu kali sendiri untuk fondasi rumah barunya.

Bagi Joni, rumah itu bukan sekadar bangunan baru. Itu adalah kesempatan agar anak-anaknya bisa tumbuh dengan lebih sehat.

Kini rumah mereka memiliki dinding yang lebih kokoh, atap yang aman, dan ventilasi yang membuat udara mengalir lebih baik. Debu tidak lagi memenuhi ruangan setiap hari. “Saya lega sekarang anak-anak sudah jarang batuk. Kami juga tidur lebih tenang,” kata Joni.

Perubahan itu terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka. Uang yang sebelumnya sering dipakai untuk membeli obat mulai disisihkan untuk kebutuhan sekolah dan makanan anak-anak. Joni juga tidak lagi dihantui kekhawatiran setiap kali musim panas datang atau angin bertiup kencang.

Bagi banyak keluarga di Pulau Sabu, rumah layak huni lebih dari tempat berlindung. Rumah yang sehat membantu anak-anak tetap sehat, membantu orang tua menjaga penghasilan mereka, dan memberi keluarga kesempatan untuk memikirkan masa depan dengan lebih tenang. Di wilayah yang semakin rentan terhadap cuaca ekstrem, rumah yang aman juga menjadi perlindungan pertama bagi keluarga untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Bagi Joni, perubahan itu dimulai dari satu hal sederhana: rumah yang membuat anaknya bisa bernapas lebih lega.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – Pakuwon
Kisah Perubahan

Rumah yang Dulu Ditakuti, Kini Jadi Tempat Pulang Penuh Harapan

Bogor, 13 Mei 2026 – Ada rasa cemas yang tak pernah benar-benar pergi dari benak Ahmad. Setiap malam saat ia berangkat bekerja, pikirannya selalu tertinggal di rumah, pada istri dan putrinya yang harus bertahan di dalam hunian yang rapuh.

Ahmad (48), seorang buruh harian pabrik, tinggal bersama keluarga kecilnya di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika ada sedikit sisa, uang itu digunakan untuk memperbaiki rumah seadanya, sekadar agar tidak terlalu bocor saat hujan turun.

Rumah yang mereka tempati saat itu jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, atap gentengnya rapuh, dan struktur bangunannya mulai melemah dimakan usia. “Kalau ada hujan angin, itu kami takut rumah roboh,” ujar Ahmad.

Potret Ahmad bersama istrinya berdiri di depan rumah mereka sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Peduli menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Ari Darmawan

Kekhawatiran itu semakin besar karena Ahmad kerap bekerja pada shift malam. “Setiap saya bekerja, saya selalu khawatir sama anak dan istri di rumah. Kepikiran terus, pikiran enggak tenang, takut rumah kenapa-kenapa,” tuturnya.

Namun bukan hanya soal keamanan yang membebani pikirannya. Sebagai seorang ayah, hatinya terasa semakin berat ketika mengetahui putrinya merasa malu dengan kondisi rumah mereka.

“Anak saya cerita, kalau temannya mau main, ia selalu bilang ‘jangan di rumah aku’, mungkin dia tahu kondisi rumahnya kaya gini, jelek,” kata Ahmad. “Saya sebagai orang tua mengerti, pasti dia merasa malu ya, rumahnya enggak seperti yang lain.”

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia dan Pakuwon Group Lanjutkan Kolaborasi Bangun Hunian Layak di Gresik

Melihat kondisi tersebut, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan Pakuwon Peduli hadir memberikan harapan baru. Melalui program pembangunan rumah layak huni, rumah Ahmad dibangun kembali bersama 19 keluarga lainnya di Desa Karanggan. Selain itu, dukungan juga diberikan kepada 20 keluarga melalui pembangunan sarana toilet rumah tangga, serta perbaikan lima fasilitas umum di wilayah tersebut.

“Terima kasih banyak saya ucapkan untuk Pakuwon yang telah membantu keluarga saya. Bantuan ini berharga sekali buat saya dan keluarga saya,” ujar Ahmad penuh syukur.

Kini, rumah Ahmad berdiri kokoh dengan dinding berwarna biru yang rapi, atap yang kuat, dan struktur bangunan yang jauh lebih aman. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka.

Ahmad mengaku, kehadiran rumah baru ini telah mengubah banyak hal. Ia tidak lagi dihantui rasa khawatir setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Tidak ada lagi kekhawatiran akan kebocoran atau ancaman bangunan roboh. Beban yang selama ini ia rasakan perlahan terangkat.

Potret kebahagiaan keluarga Ahmad di depan rumah mereka yang telah layak huni setelah dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Peduli di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Lebih dari itu, rumah ini juga mengembalikan rasa percaya diri dan martabat keluarga. Putrinya kini tidak lagi merasa malu. Ia mulai berani mengundang teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Perubahan paling nyata pun mulai terlihat. Setelah beberapa bulan menempati rumah baru, putrinya menunjukkan peningkatan prestasi di sekolah. Dari sebelumnya berada di peringkat ketiga, kini ia berhasil naik ke peringkat kedua di kelasnya.

Kisah Ahmad menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan sekadar tempat tinggal, tetapi fondasi penting yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, dari rasa aman, kesehatan, hingga kepercayaan diri dan masa depan anak.

Masih banyak keluarga seperti Ahmad yang menanti kesempatan untuk merasakan perubahan serupa. Mari bersama menjadi bagian dari perubahan ini, dan bantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang layak untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

Kontes Tukang Tenaga Kerja Konstruksi 2026: Dari Kompetensi Menjadi Kontribusi
Kabar Habitat

Kontes Tukang Tenaga Kerja Konstruksi 2026: Dari Kompetensi Menjadi Kontribusi

Tangerang, 8 Mei 2026 – Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga kerja konstruksi di Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia melalui program BMZ menyelenggarakan Kontes Tukang Tenaga Kerja Konstruksi 2026, sebuah kompetisi berbasis praktik lapangan yang dirancang untuk menguji keterampilan teknis pekerja konstruksi secara langsung. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para pekerja untuk membangun kepercayaan diri, memperkuat portofolio profesional, serta menunjukkan kompetensi mereka melalui hasil kerja yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 2–3 Mei 2026 di Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, dengan melibatkan 180 pekerja konstruksi yang terbagi ke dalam 18 tim. Masing-masing tim bertanggung jawab membangun 1 unit dapur, sehingga selama dua hari pelaksanaan, total 18 dapur berhasil dibangun untuk keluarga penerima manfaat di kawasan tersebut.

Dalam proses pembangunan, peserta berkompetisi pada lima bidang utama pekerjaan konstruksi, yaitu pembangunan dinding hebel, instalasi perpipaan air bersih dan air kotor, pemasangan rangka atap baja ringan, keramik lantai, serta pengecatan dinding. Seluruh proses kerja dinilai secara menyeluruh berdasarkan kualitas teknis pekerjaan, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), ketepatan waktu penyelesaian, serta kualitas finishing dari hasil pembangunan.

Baca juga: Dorong Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja, Habitat Indonesia Paparkan Studi Nasional Implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) di Sektor Konstruksi

Melalui kegiatan ini, Habitat for Humanity Indonesia tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja konstruksi, tetapi juga memperkuat penerapan standar bangunan yang aman, sehat, dan berkualitas. Di saat yang sama, para peserta memperoleh pengalaman praktik yang dapat meningkatkan daya saing dan membuka peluang kerja yang lebih luas di masa depan.

“Ketika tenaga kerja konstruksi dibekali dengan keterampilan yang baik, memahami standar keselamatan kerja, dan memiliki kepercayaan diri atas kompetensinya, mereka tidak hanya siap terjun ke dunia konstruksi, tetapi juga siap membangun masa depan yang lebih baik bagi diri, keluarga, dan komunitasnya,” ujar Arwin Soelaksono selaku Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Kompetisi ini menghadirkan dampak langsung bagi masyarakat Tanjung Kait melalui terbangunnya 18 dapur, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga. Sebuah wujud nyata bahwa peningkatan keterampilan tenaga kerja dapat berjalan beriringan dengan pembangunan yang membawa perubahan positif bagi komunitas.

Foto: HFHI/Kevin Herbian

Penulis: Syefira Salsabilla

(av/kh)

HFHI (3)
Kisah Perubahan

Dari Rasa Khawatir Menjadi Rasa Syukur: Perjalanan Pak Rigo Memiliki Rumah Layak

Pagi dan malam tak lagi terasa sama bagi Rigo Suhendra. Di balik hari-harinya yang sederhana, ada satu hal yang selalu menghantui pikirannya, apakah rumahnya masih akan berdiri saat hujan datang lagi?

Bogor, 5 Mei 2026 – Rigo, 47 tahun, adalah seorang buruh serabutan yang menggantungkan hidup dari pekerjaan apa saja yang bisa ia dapatkan. Terkadang ia menjadi kuli bangunan, di hari lain menjadi sopir, atau pekerjaan lain yang datang silih berganti tanpa kepastian. Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp100.000, Rp50.000, atau bahkan tidak sama sekali. Bersama sang istri, Laya (46), yang menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, mereka berjuang memenuhi kebutuhan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Di tengah keterbatasan itu, keluarga kecil ini harus bertahan di sebuah rumah peninggalan orang tua Rigo. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru tak mampu memberikan rasa aman sepenuhnya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, diselingi potongan triplek dan GRC seadanya. Dari luar, rumah itu tampak rapuh. Dari dalam, kekhawatiran selalu hadir.

Bagi Rigo, kenyamanan bukan lagi soal pilihan, melainkan penerimaan. Ia mencoba berdamai dengan keadaan, meyakinkan dirinya bahwa apa yang dimiliki saat ini harus tetap dijalani. Namun, di balik itu semua, tersimpan keinginan sederhana yang sulit ia wujudkan.

“Siapa sih yang enggak ingin punya rumah bagus, tapi ya kemampuan kita cuma segini, mau diapain lagi,” ujar Rigo.

Setiap kali hujan deras turun, rasa tenang itu runtuh seketika. Air merembes dari atap dan dinding yang berlubang, membasahi lantai rumah, bahkan membuat mereka kesulitan untuk beristirahat dengan layak. Tidak jarang, malam-malam mereka dihabiskan dengan rasa waswas.

Kondisi rumah milik Rigo sebelum menerima dukungan pembangunan rumah layak huni dari para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Ari Darmawan

Di saat-saat seperti itu, yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman, tetapi juga ketakutan. Rigo kerap diliputi kekhawatiran rumahnya akan roboh diterpa angin kencang. Pikiran tentang keselamatan keluarga terus menghantui, sementara kemampuan untuk memperbaiki rumah sangat terbatas. Ia hanya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilan hariannya untuk menambal bagian rumah yang rusak, meski ia tahu itu belum cukup.

Di balik semua itu, ada keinginan sederhana yang terus ia simpan, memiliki rumah yang layak untuk keluarganya. Sebuah tempat yang bisa benar-benar melindungi, bukan sekadar bertahan. Namun, bagi Rigo, keinginan itu terasa jauh dari jangkauan. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia hanya bisa berusaha semampunya dan menyerahkan sisanya pada harapan.

Kondisi rumah yang tidak layak ini juga berdampak pada anak-anaknya. Rigo menyadari bahwa putranya kerap merasa malu untuk mengundang teman-temannya datang ke rumah. Ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh bersama, justru menjadi sumber rasa tidak percaya diri.

Baca juga: Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya

Hingga suatu hari, harapan itu datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para dermawan memilih rumah Rigo di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sebagai salah satu penerima bantuan rumah layak huni.

Kabar tersebut sempat disambut dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada rasa bahagia dan syukur yang begitu besar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran baru, apakah ia harus mengeluarkan biaya yang tidak mampu ia tanggung. Kekhawatiran itu akhirnya terjawab ketika ia mengetahui bahwa program ini tidak menuntut kontribusi finansial, melainkan partisipasi tenaga melalui swadaya.

Seiring berjalannya waktu, rumah yang dahulu rapuh perlahan berubah. Dinding-dinding lama yang berlubang digantikan dengan bangunan yang kokoh. Kini, berdiri sebuah rumah dengan dinding berwarna biru terang, sederhana, namun penuh makna. Bagi Rigo, rumah itu bukan hanya bangunan baru, tetapi juga jawaban atas doa-doa yang selama ini ia panjatkan.

Perubahan ini membawa dampak yang begitu nyata bagi keluarga Rigo. Rasa aman yang dulu tidak pernah benar-benar hadir, kini bisa mereka rasakan setiap hari. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebih saat hujan turun, tidak ada lagi rasa takut rumah akan roboh.

Potret Rigo bersama istrinya di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan itu juga dirasakan oleh anak-anak Rigo. Jika dulu mereka kerap menahan diri karena rasa malu, kini suasana itu perlahan berganti. Anak-anaknya mulai percaya diri, bahkan sudah berani mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama.

Rigo sendiri merasakan perubahan besar dalam dirinya. Beban yang selama ini ia pikul perlahan terangkat. Ia tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Sebaliknya, kini ia melangkah dengan perasaan lebih tenang dan semangat baru untuk menjalani hidup.

“Alhamdulillah sekarang rumah saya benar-benar layak. Akhirnya saya bisa memberikan tempat berlindung yang terbaik bagi keluarga kecil saya. Plong rasanya, seperti beban di pundak hilang,” ujar Rigo. “Seperti mimpi… tiba-tiba punya rumah bagus, layak,” tambahnya.

Baginya, rumah ini adalah lebih dari sekadar tempat tinggal. Ini adalah simbol harapan yang akhirnya terwujud, sebuah bukti bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.

Kini, setiap sudut rumah itu menyimpan cerita perjuangan dan rasa syukur. Dan bagi Rigo, kebahagiaan sederhana itu terasa begitu utuh. Karena akhirnya, ia bisa memberikan tempat berlindung yang layak bagi keluarga yang ia cintai.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

Thumbnail – Website Blog (1)
Kabar Habitat

Menyemai Harapan, Menuai Perubahan: 29 Tahun Habitat Indonesia

Jakarta, 1 Mei 2026 – Tanggal 1 Mei 2026 menjadi momen istimewa bagi Habitat for Humanity Indonesia. Di usia yang ke-29, perjalanan panjang ini tidak sekadar menandai bertambahnya waktu, tetapi juga merefleksikan komitmen yang terus hidup untuk menghadirkan hunian layak dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga berpenghasilan rendah di berbagai penjuru Indonesia, khususnya mereka yang berada di desil 1 dan 2, perempuan kepala keluarga, serta keluarga dengan anggota disabilitas.

Selama hampir tiga dekade, langkah Habitat Indonesia telah menjangkau lebih dari 223.277 keluarga. Angka ini bukan sekadar capaian, melainkan representasi dari perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga Indonesia. Melalui berbagai program seperti pembangunan rumah layak huni, penyediaan akses air bersih dan sanitasi, respons tanggap bencana, pemberdayaan ekonomi, hingga pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, Habitat Indonesia terus berupaya menjawab kebutuhan dasar sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.

Di penghujung fiskal 2026, kontribusi tersebut terus menunjukkan perkembangan yang positif. Habitat Indonesia berhasil membangun 40.230 rumah layak huni, meningkat dari 39.478 unit pada tahun sebelumnya. Selain itu, sebanyak 32.541 keluarga kini telah memperoleh akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, naik dari 31.375 keluarga di tahun 2025. Upaya peningkatan kualitas hunian juga tercermin dari 76.467 keluarga yang menerima dukungan pendanaan renovasi rumah, memperkuat komitmen untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih aman dan sehat.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat dedikasi banyak pihak yang bekerja dengan sepenuh hati. Sepanjang tahun fiskal 2026, sebanyak 1.234 relawan dari berbagai latar belakang turut ambil bagian dalam kegiatan pembangunan rumah layak huni. Bersama staf Habitat Indonesia, para mitra, dan donatur, mereka menjadi bagian penting dari gerakan kolektif yang menghadirkan perubahan nyata di lapangan.

Kolaborasi menjadi fondasi utama dari setiap capaian ini. Dukungan yang terus mengalir dari berbagai pihak memungkinkan Habitat Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan misinya. Tanpa sinergi yang kuat antara masyarakat, mitra, dan para relawan, perjalanan ini tidak akan sampai pada titik sekarang.

Dalam satu tahun terakhir, Habitat for Humanity Indonesia juga memperkuat langkahnya melalui kerja sama strategis bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta pemerintah daerah untuk mendukung program nasional Tiga Juta Rumah. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mendorong terciptanya kawasan permukiman yang tertata dan berkelanjutan. Salah satu wujud nyata dari kerja sama ini adalah revitalisasi Kampung Tanjung Kait di Kabupaten Tangerang, di mana sebanyak 110 keluarga nelayan kini telah memiliki akses terhadap kepemilikan tanah serta rumah layak huni yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana dasar, sehingga menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan terencana.

Pencapaian program unggulan Habitat for Humanity Indonesia selama 29 Tahun. Grafis: HFHI/Tias Ester Widhari

Baca juga: Transformasi Tanjung Kait: Menko Infrastruktur dan Jajaran Pejabat Tinggi Tinjau Model Pemukiman Nelayan Tangguh dan Berkeadilan

Direktur Nasional Habitat Indonesia, Handoko Ngadiman, menegaskan bahwa seluruh capaian ini tidak terlepas dari kekuatan kolaborasi yang terbangun selama ini.

“Kami percaya bahwa setiap orang berhak memiliki tempat tinggal yang layak. Apa yang telah kami capai hingga hari ini adalah hasil dari kepercayaan dan kerja bersama banyak pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh mitra, donatur, dan relawan yang telah berjalan bersama kami menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di Indonesia,” ujar Handoko.

Ke depan, Habitat Indonesia terus berkomitmen untuk memperluas dampak programnya. Tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, setiap inisiatif dirancang untuk memberikan perubahan yang berkelanjutan, mendorong kemandirian, meningkatkan kualitas hidup, serta membuka peluang yang lebih luas bagi keluarga penerima manfaat.

Handoko juga menekankan bahwa perubahan yang berarti hanya dapat terwujud melalui kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.

“Kami yakin, ketika berbagai pihak bergerak bersama, kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera bagi lebih banyak keluarga di Indonesia,” tambahnya.

Perjalanan ini tentu belum berakhir. Masih banyak keluarga yang menantikan akses terhadap hunian yang layak dan kehidupan yang lebih baik. Namun dengan semangat kolaborasi yang terus terjaga, Habitat Indonesia akan tetap melangkah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi bagian dari perubahan yang nyata.

Mari bersama-sama melanjutkan langkah ini, menyemai lebih banyak harapan, menghadirkan lebih banyak kehidupan yang layak, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

Thumbnail – Website Blog
Aksi Relawan

Foto: 30 Relawan BOSCH Bangun Akses Air Bersih untuk 40 Rumah di Bekasi

Bekasi, 28 April 2026 – Akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan nyata bagi sebagian masyarakat, termasuk di Desa Pasirranji dan Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Keterbatasan distribusi air yang belum merata membuat warga harus berjuang lebih keras memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau tiba.

Menjawab tantangan tersebut, Bosch Indonesia bersama Habitat for Humanity Indonesia melalui program “BOSCH Water Project” menghadirkan dukungan berupa pembangunan sambungan air PDAM ke 40 rumah di kedua desa.

Sebanyak 30 relawan Bosch Indonesia hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan volunteering pada 22 April 2026 lalu. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kolaborasi, di mana para relawan berkontribusi langsung dalam proses pembangunan untuk mendukung perubahan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga penerima manfaat.

Fenny Sofyan, Country Head of Corporate Communications, Branding Management, and Government Relations BOSCH Indonesia, menyampaikan:

“Kegiatan ini menjadi suatu kebanggaan bagi kami dapat terlibat langsung dalam membangun akses air bersih bagi keluarga-keluarga di sini. Dengan apa yang kita lakukan bersama, saya berharap keluarga penerima manfaat dapat merasakan peningkatan kualitas hidup, karena air adalah kebutuhan yang sangat mendasar, dan dampaknya bisa meluas, termasuk pada kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka.” ujarnya.

Yuk, simak momen kebersamaan dan semangat para relawan dalam menghadirkan akses air bersih melalui foto-foto berikut ini.

Kegiatan dimulai dengan persiapan. Para relawan mengenakan helm keselamatan dan sarung tangan sebagai bentuk komitmen untuk bekerja dengan aman sebelum turun ke lapangan.
Sebelum memulai aktivitas, para relawan mengikuti sesi pemanasan bersama untuk memastikan kondisi tubuh tetap prima selama kegiatan berlangsung.
Arahan teknis diberikan oleh Konkordius Nobel, Project Coordinator Habitat for Humanity Indonesia. Para relawan dikenalkan dengan peralatan yang akan digunakan dan dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai peran masing-masing.
Kelompok pertama mulai menggali saluran pipa. Tanah demi tanah diangkat untuk membuka jalur bagi pemasangan pipa HDPE yang akan mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga.
Di bawah terik matahari, semangat para relawan tetap terjaga. Kerja sama dan kebersamaan menjadi energi yang menggerakkan setiap langkah di lapangan.
Menggunakan bor BOSCH, relawan berupaya membongkar lapisan beton untuk membuka jalur baru bagi pemasangan pipa air bersih.
Di sisi lain, kelompok relawan lainnya mempersiapkan bata ringan sebagai dudukan untuk pemasangan meteran air di setiap rumah penerima manfaat.
Junianto Nugroho, Senior Project Manager Habitat for Humanity Indonesia, memberikan arahan langsung kepada relawan dalam proses pemasangan meteran air agar sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Upaya bersama akhirnya membuahkan hasil. Meteran air berhasil terpasang, dan aliran air bersih mulai mengalir ke rumah warga untuk pertama kalinya.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama para relawan BOSCH. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – IES (7)
Aksi Relawan

Tawa, Peluh, dan Harapan: Cerita Relawan IES di Mauk, Tangerang

Tangerang, 18 April 2026 – Pagi itu, sinar matahari perlahan menembus sela-sela tenda putih yang berdiri di lokasi pembangunan rumah layak huni di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Udara terasa hangat, bukan hanya karena mentari yang mulai meninggi, tetapi juga karena energi puluhan relawan yang telah bersiap memulai hari dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Sebanyak 40 relawan dari Yayasan IES Jakarta hadir dengan satu tujuan yang sama, terlibat langsung dalam proses pembangunan rumah layak huni bersama Habitat for Humanity Indonesia. Bagi sebagian dari mereka, ini menjadi pengalaman pertama terjun langsung ke lapangan konstruksi, memegang alat bangunan, dan berkontribusi secara nyata dalam proses pembangunan rumah.

Kegiatan bertajuk “Building Hearts” yang dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026 lalu menjadi ruang bagi para relawan untuk tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dan merasakan. Sebelum aktivitas dimulai, seluruh peserta mengikuti sesi safety briefing dan pemanasan. Langkah ini menjadi penting untuk memastikan setiap proses berjalan dengan aman, terlebih bagi relawan yang belum terbiasa dengan aktivitas fisik di lapangan.

Setelah itu, para relawan dibagi ke dalam empat kelompok. Dua kelompok bertugas menggali pondasi, sementara dua kelompok lainnya mulai memasang dinding rumah. Aktivitas yang tampak sederhana ini menjadi fondasi awal dari perubahan besar bagi empat keluarga penerima manfaat yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Keempat keluarga tersebut merupakan bagian dari masyarakat berpenghasilan rendah yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh harian lepas, dengan penghasilan tidak lebih dari Rp1.500.000 per bulan. Dengan kondisi tersebut, mereka harus bertahan di hunian yang jauh dari kata layak. Namun, melalui dukungan berkelanjutan dari relawan Yayasan IES Jakarta sejak tahun 2023, mereka kini menjadi bagian dari 56 keluarga yang mendapatkan kesempatan untuk memiliki rumah yang lebih aman dan layak huni.

Baca juga: Menyemai Asa Kedua Bersama IES Jakarta Melalui Rumah Layak Huni

Di bawah terik matahari, suasana di lokasi pembangunan terasa hidup. Para relawan bekerja bahu membahu, saling membantu, dan tidak jarang diselingi tawa serta canda yang mencairkan suasana. Aktivitas seperti menggali tanah atau memasang material bangunan yang sebelumnya terasa asing, kini justru menjadi pengalaman yang penuh makna.

Salah satu relawan, Markus, yang telah mengikuti kegiatan ini untuk ketiga kalinya, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung di lapangan memberinya perspektif baru tentang arti berbagi.

“Buat saya, kegiatan ini adalah bentuk nyata bagaimana kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi untuk sesama. Lewat pembangunan rumah layak huni ini, saya berharap keluarga-keluarga yang menerima bisa benar-benar memperbaiki kualitas hidup mereka ke depan,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Rajib, relawan lainnya, yang melihat pembangunan rumah ini sebagai awal dari perubahan yang lebih besar bagi para penerima manfaat.

“Saya percaya rumah ini bisa jadi pondasi awal untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan tempat tinggal yang layak, keluarga-keluarga ini punya kesempatan lebih besar untuk berkembang, termasuk memberikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka,” ungkap Rajib.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru, dari aksi-aksi sederhana yang dilakukan bersama, dampak yang lebih luas dapat tercipta. Meski kegiatan berlangsung hingga tengah hari, pengalaman yang didapat para relawan terasa jauh lebih panjang dari waktu yang mereka habiskan di lokasi.

Lebih dari sekadar membangun rumah, hari itu menjadi tentang membangun empati, memperluas cara pandang, serta merasakan secara langsung bagaimana sebuah hunian layak dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Dalam beberapa minggu ke depan, empat keluarga penerima manfaat akan segera menempati rumah baru mereka. Sebuah tempat tinggal yang tidak hanya lebih kokoh secara fisik, tetapi juga menghadirkan rasa aman, kenyamanan, dan harapan baru.

Semoga rumah-rumah ini menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik, tempat di mana setiap anggota keluarga dapat beristirahat dengan tenang, berbagi kehangatan, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Foto: HFHI/Astridinar Vania

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)