logotype
Donate
HFHI – Flores2
Perspektif Habitat

40 Hari Pasca-Gempa Flores: Mengapa Tenda Pengungsian Tak Lagi Aman Bagi Penyintas?

Nagekeo, 24 September 2026 – Memasuki 40 hari pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bayang-bayang duka dan perjuangan para penyintas belum juga usai. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 23 September 2026, tercatat lebih dari 29.980 jiwa masih bertahan di posko-posko pengungsian. Sebagian besar dari mereka, sekitar 26.089 keluarga, harus kehilangan tempat tinggal akibat rumah yang rusak berat.

Di Kabupaten Nagekeo, wilayah yang menjadi fokus program tanggap darurat dan pemulihan ‘Flores Housing Recovery’ oleh Habitat for Humanity Indonesia, setidaknya masih ada lebih dari 6.930 jiwa yang terpaksa menjadikan tenda darurat sebagai “rumah” sementara. Meskipun angka ini perlahan berkurang karena warga yang rumahnya aman atau hanya mengalami rusak ringan mulai kembali, ribuan jiwa lainnya masih terjebak dalam ketidakpastian.

Namun, di balik lembaran terpal yang menjadi pelindung dari terik dan hujan, ada ancaman nyata yang diam-diam mengintai. BNPB mencatat setidaknya 94 korban gempa meninggal dunia selama berada di pengungsian. Mayoritas dari mereka mengembuskan napas terakhir akibat penurunan kondisi kesehatan, faktor usia, serta komorbid (penyakit penyerta) yang memburuk akibat kondisi lingkungan pengungsian yang tak layak.

Tenda Darurat: Bukan untuk Hunian Jangka Panjang

Tenda pengungsian sejatinya dirancang sebagai tempat berlindung darurat untuk jangka pendek, beberapa hari hingga paling lama beberapa minggu. Ketika penyintas terpaksa menetap di dalam tenda hingga berbulan-bulan, risiko kesehatan fisik, mental, hingga ancaman keamanan sosial akan meningkat secara drastis.

Mengutip dari berbagai sumber rujukan kesehatan dan kebencanaan, berikut adalah bahaya utama menetap terlalu lama di tenda darurat:

1. Ancaman Kesehatan Fisik dan Potensi Wabah Penyakit

Lingkungan pengungsian yang padat, kotor, serta terus-menerus terpapar perubahan cuaca ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh secara signifikan. Beberapa ancaman penyakit yang sangat rawan mewabah di antaranya:

  • ISPA dan Pneumonia: Udara dingin malam hari, debu, serta sirkulasi udara yang buruk di dalam tenda yang penuh sesak menjadi pemicu utama. Pneumonia menjadi ancaman paling fatal, khususnya bagi bayi dan balita.
  • Penyakit Penularan Air dan Sanitasi (Diare & Tifoid): Akses air bersih yang terbatas serta fasilitas sanitasi yang belum memadai memicu penyebaran bakteri Salmonella typhi dan kuman pemicu diare akut.
  • Penyakit Vektor (Malaria & DBD): Struktur tenda yang terbuka memudahkan nyamuk masuk, terutama di kawasan endemis.
  • Memburuknya Penyakit Tidak Menular (PTN): Lansia menjadi kelompok paling rentan. Minimnya pasokan obat rutin serta nutrisi yang terbatas sering memicu lonjakan tekanan darah (hipertensi), nyeri otot kronis (mialgia), hingga komplikasi diabetes. (Sumber: Kementerian Kesehatan RI dan Tirto.id)

Kondisi tenda pengungsian di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, pascagempa Flores. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Emergency Shelter Kit untuk Keluarga Terdampak Gempa Flores

2. Krisis Kesehatan Mental dan Gangguan Psikologis Kronis

Kehilangan rumah, harta benda, dan mata pencaharian, ditambah ketidakpastian masa depan, memberikan tekanan mental yang sangat hebat.

  • Insomnia Akut: Suasana tenda yang riuh, tidak nyaman, serta rasa cemas akan gempa susulan membuat para pengungsi sulit tidur nyenyak, yang pada akhirnya merusak imunitas fisik.
  • Depresi dan Frustrasi: Rasa tidak berdaya akibat terputusnya akses pendidikan anak serta hilangnya pekerjaan dapat berkembang menjadi depresi berat.
  • PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder): Tanpa pendampingan psikososial (trauma healing) yang berkelanjutan, trauma mendalam akibat gempa dapat menetap dan menjadi gangguan stres pascatrauma dalam jangka panjang. (Sumber: IDN Times)

3. Kerentanan Sosial dan Isu Keamanan

Tenda komunal yang tidak memiliki sekat privat menciptakan ruang yang rawan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

  • Risiko Kekerasan Seksual: Fasilitas mandi dan toilet yang tidak privat serta kurangnya penerangan di area pengungsian meningkatkan risiko kejahatan seksual. Banyak korban ragu atau takut melapor karena situasi darurat yang membingungkan.
  • Gesekan Sosial: Distribusi bantuan logistik yang terkadang belum merata dapat memicu ketegangan dan konflik antarwarga di pengungsian.

Mengembalikan Harapan, Mengembalikan Rumah Mereka

Melihat kenyataan ini, Habitat for Humanity Indonesia menaruh perhatian mendalam terhadap proses pemulihan pascabencana di Flores. Fokus utama kami memastikan keluarga-keluarga penyintas dapat segera memiliki hunian yang aman, layak, dan sehat agar mereka bisa kembali menata kehidupan dengan bermartabat.

Tenda terpal tidak boleh menjadi tempat tumbuh kembang anak-anak atau tempat menghabiskan masa tua para lansia dalam jangka panjang. Mereka membutuhkan rumah yang tangguh untuk memulai kembali harapannya.

Bantu keluarga penyintas gempa Flores agar dapat segera memiliki hunian yang aman serta layak. Salurkan kepedulian terbaik Anda melalui informasi donasi pada flyer di bawah ini:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFH -3
Kisah Perubahan

Ketika Air Bersih Akhirnya Mengalir ke Rumah Nenih

Karawang, 21 September 2026 – Pagi itu, rasa haru, sedih, sekaligus bahagia bercampur dalam diri Nenih, warga Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang. Setelah melewati 61 tahun kehidupannya, untuk pertama kalinya ia dapat merasakan air bersih mengalir langsung di rumahnya. Air yang bagi sebagian orang mungkin menjadi bagian sederhana dari keseharian, bagi Nenih merupakan sesuatu yang sejak lama hanya bisa ia harapkan.

Semasa hidupnya, Nenih terbiasa mengandalkan aliran air irigasi yang berada sekitar 100 meter dari rumahnya. Air tersebut menjadi sumber utama untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci pakaian, hingga mencuci beras dan bahan makanan. Padahal, kondisi air tidaklah layak. Airnya kerap keruh, berbau, dan bercampur dengan kotoran.

Tidak hanya Nenih, sejumlah keluarga di sekitar tempat tinggalnya juga menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada aliran irigasi tersebut. Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, membuat sumur menjadi salah satu pilihan. Namun, pilihan tersebut tidak mudah bagi Nenih yang harus menjalani kehidupan dengan penghasilan terbatas.

Nenih adalah seorang janda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak lebih dari Rp100.000 per hari. Di rumah, ia juga merawat dan membesarkan cucunya karena orang tuanya bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di luar negeri. Dengan penghasilan yang terbatas dan berbagai kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, menyediakan sumber air sendiri menjadi sesuatu yang belum mampu ia wujudkan.

Untuk kebutuhan minum, Nenih selama ini harus membeli air isi ulang. Setiap galon dihargai sekitar Rp5.000 dan dalam satu bulan ia dapat menghabiskan hingga 30 galon, atau sekitar Rp150.000 hanya untuk mendapatkan air yang layak dikonsumsi.

“Kalau satu galon Rp5.000, dalam sebulan bisa sampai 30 galon. Jadi sekitar Rp150.000 untuk air minum saja. Cukup enggak cukup, ya harus dicukupin. Mau bagaimana lagi, air tetap harus ada, tapi pengeluaran itu harus dibagi juga untuk makan dan kebutuhan sekolah,” ujar Nenih.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika musim kemarau tiba. Debit air irigasi yang selama ini menjadi tumpuan keluarga semakin berkurang, bahkan terkadang hanya menyisakan air yang sangat keruh. Pada saat seperti itu, Nenih harus menunggu hingga pagi ketika kondisi air sedikit lebih baik untuk mengambilnya dan kemudian membawanya pulang.

“Kalau musim kemarau, airnya semakin sedikit dan keruh. Solusinya saya harus menghemat air. Biasanya setiap pagi saya lihat dulu kondisi airnya. Kalau airnya agak mendingan, saya ambil lalu saya pikul ke rumah,” ceritanya.

Nenih menggunakan aliran air irigasi untuk mencuci pakaian, sayuran, dan bahan makanan, hingga mandi sebelum menerima bantuan air bersih dari Habitat for Humanity di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Jarak 100 meter dari rumah menuju sumber air mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Namun bagi Nenih, perjalanan tersebut bukanlah hal yang ringan. Penglihatannya pada mata sebelah kiri mengalami gangguan setelah kecelakaan kerja. Kondisi tersebut membuat aktivitas mengambil dan membawa air menjadi semakin melelahkan, terlebih ketika harus dilakukan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Penggunaan air dari irigasi juga membawa kekhawatiran tersendiri bagi Nenih. Ia bercerita bahwa cucunya beberapa kali mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air tersebut. Air yang keruh dan bercampur kotoran membuat aktivitas sederhana seperti mandi dan mencuci menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani dengan keterbatasan.

Kondisi yang dialami Nenih menunjukkan bahwa akses air bersih bukan sekadar persoalan tersedianya air untuk diminum. Air yang aman dan layak digunakan merupakan bagian penting dari hunian yang layak karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, kenyamanan, serta kemampuan keluarga menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih aman dan bermartabat.

Hingga akhirnya cahaya harapan datang. Perubahan mulai dirasakan Nenih ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Habitat for Humanity Belanda membangun sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air dari aliran irigasi setempat. Sistem tersebut dilengkapi dengan teknologi filtrasi untuk mengolah air sebelum disalurkan kepada 10 keluarga prioritas yang sebelumnya tidak memiliki akses air bersih yang memadai.

Untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan, air yang telah melalui proses filtrasi juga diuji di laboratorium. Langkah ini dilakukan untuk memastikan air yang tersedia memenuhi standar kelayakan sebelum digunakan oleh keluarga penerima manfaat.

Kini, air yang dahulu harus diambil dan dipikul dari aliran irigasi sejauh sekitar 100 meter dapat diperoleh lebih dekat dari rumah Nenih. “Sekarang saya sudah tidak pernah lagi menggunakan air dari kali. Mulai dari mandi, buang air, mencuci pakaian, sampai mencuci sayuran, semuanya sudah pakai air yang baru ini,” kata Nenih.

Perubahan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi Nenih. Ia tidak lagi harus menunggu kondisi air irigasi membaik, mengangkut air ke rumah, atau khawatir ketika musim kemarau membuat sumber air semakin sulit digunakan.

Yang paling ia rasakan adalah perubahan bagi cucu-cucunya. “Cucu saya juga senang sekali bisa mandi pakai air yang bersih. Sekarang mereka tidak lagi marah-marah karena harus mandi menggunakan air yang butek dan bercampur kotoran. Saya juga senang melihat mereka bisa mandi dengan lebih nyaman,” ujar Nenih.

Nenih membasuh muka cucunya dengan air bersih yang telah tersambung di rumahnya berkat dukungan Habitat for Humanity di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Nenih, tersedianya air bersih juga membawa harapan baru bagi kesehatan keluarganya. Jika sebelumnya penggunaan air dari irigasi kerap diikuti keluhan gatal-gatal pada kulit, kini ia merasa lebih tenang karena kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan menggunakan air yang lebih bersih dan aman.

Ia bahkan mulai menggunakan air tersebut untuk kebutuhan konsumsi. “Saya coba air ini untuk memasak dan membuat kopi. Rasanya enak sekali, Pak. Sekarang saya jauh lebih tenang karena bisa menggunakan air yang bersih,” katanya.

Akses air bersih juga memberikan perubahan dari sisi ekonomi. Sebelumnya, sekitar Rp150.000 setiap bulan harus dialokasikan Nenih untuk membeli air isi ulang. Dengan tersedianya akses air bersih, pengeluaran tersebut tidak lagi menjadi beban seperti sebelumnya.

Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, penghematan tersebut berarti lebih banyak ruang untuk memenuhi kebutuhan lain. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli air kini dapat disisihkan atau dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Setelah 61 tahun hidup dengan keterbatasan air bersih, Nenih akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia miliki yakni, air yang lebih aman dan layak dapat digunakan tanpa harus pergi jauh dari rumah.

“Ini keberkahan yang besar sekali bagi saya. Saya tidak pernah membayangkan di usia saya yang sekarang akhirnya bisa merasakan air bersih mengalir dekat rumah. Dulu setiap mau menggunakan air harus memikirkan dari mana mengambilnya, sekarang saya bisa menggunakannya dengan lebih mudah,” ungkap Nenih.

Namun, kebahagiaan Nenih tidak hanya berhenti pada apa yang kini dirasakan keluarganya. Ia berharap fasilitas air bersih yang telah dibangun dapat dirawat dan dijaga bersama agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Saya berharap fasilitas air ini bisa terus dijaga dan dirawat supaya manfaatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga bisa digunakan untuk anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya juga berharap tetangga-tetangga lain yang belum mendapatkan air bersih nantinya bisa merasakan manfaat yang sama seperti saya,” harapnya.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI_ (2)
Kisah Perubahan

Air Bersih untuk Kesehatan, Pendidikan, dan Harapan Keluarga Sami

Karawang, 16 September 2026 – Bagi sebagian keluarga, pagi hari mungkin dimulai dengan menyiapkan sarapan dan memastikan anak-anak siap berangkat sekolah. Namun bagi keluarga Sami (53), waktu pagi pernah diawali dengan pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu, dari mana mereka mendapatkan air untuk mandi hari itu?

Di Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga bagi Sami dan keluarganya. Ketersediaannya menentukan bagaimana anak-anaknya memulai hari, apakah mereka dapat berangkat ke sekolah dengan nyaman, hingga berapa banyak pengeluaran yang harus disisihkan keluarga setiap bulan.

Sami sehari-hari berjualan makanan ringan dan jajanan untuk anak-anak di depan rumahnya. Dari usaha kecil tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp50.000 per hari. Sementara suaminya, Caplin (55), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Dengan pendapatan yang terbatas, setiap pengeluaran rumah tangga harus diperhitungkan dengan cermat, termasuk untuk mendapatkan air yang layak digunakan.

Selama ini, keluarga Sami menggunakan air dari sebuah sumur bantuan pemerintah desa yang dimanfaatkan bersama oleh empat keluarga. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian. Namun, air dari sumur itu terasa pahit sehingga tidak dapat digunakan untuk minum maupun kebutuhan konsumsi.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Sami harus membeli air isi ulang. Bukan hanya untuk minum keluarganya, air tersebut juga dibutuhkan untuk membuat minuman es yang ia jual di depan rumah.

“Setiap bulan saya harus membeli sekitar 20 galon. Satu galonnya Rp5.000, jadi kurang lebih Rp100.000 saya keluarkan hanya untuk air. Air itu untuk kebutuhan minum keluarga sekaligus untuk membuat minuman yang saya jual. Jadi memang harus dihitung betul-betul supaya kebutuhan lainnya tetap terpenuhi,” tutur Sami.

Namun, ketergantungan pada sumur tidak selalu membuat kebutuhan air keluarga Sami terpenuhi. Ketika musim kemarau datang dan debit air sumur menurun, Sami dan keluarga harus bergantian menggunakan sumber air yang tersedia. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan terpaksa kembali mengandalkan aliran irigasi yang airnya keruh dan tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari.

Aliran air irigasi yang digunakan keluarga Sami dan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Sami, persoalan itu menjadi semakin berat ketika anak-anaknya harus menggunakan air tersebut untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Tidak jarang, mereka mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air dari aliran irigasi. Kondisi tersebut juga mengganggu kenyamanan anak-anak dalam menjalani aktivitas, termasuk ketika mereka harus belajar di sekolah.

“Kalau dulu, hampir setiap pagi setelah subuh anak-anak sudah mandi di kali sebelum berangkat sekolah. Mereka sebenarnya tidak nyaman karena harus mandi di tempat terbuka dan takut dilihat orang. Belum lagi setelahnya kulit mereka sering terasa gatal. Sebagai orang tua, saya tentu sedih melihat anak-anak harus mengalami keadaan seperti itu,” kata Sami.

Air yang seharusnya menjadi bagian paling mendasar dari kehidupan sehari-hari justru pernah menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga Sami. Keterbatasan akses air bukan hanya menyangkut kebutuhan untuk minum atau mandi, tetapi juga menyentuh kesehatan, kenyamanan, privasi, hingga kesempatan anak-anak untuk memulai hari dan belajar tanpa gangguan.

Kondisi tersebut mulai berubah ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Habitat for Humanity Belanda membangun sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air dari aliran irigasi setempat. Air tersebut diolah melalui sistem filtrasi sebelum disalurkan kepada 10 keluarga prioritas yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses air bersih, termasuk keluarga Sami.

Untuk memastikan air yang dihasilkan aman digunakan, air yang telah melalui proses filtrasi juga menjalani pengujian di laboratorium. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kualitas air memenuhi standar yang dipersyaratkan sebelum dimanfaatkan oleh keluarga.

Bangunan pengolahan dan filtrasi air irigasi yang dibangun oleh Habitat for Humanity untuk menghasilkan air bersih di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kini, setelah sekitar dua minggu menggunakan air dari sistem baru tersebut, Sami merasakan perubahan yang sebelumnya sulit ia bayangkan. Air yang dahulu harus dicari, dihemat, atau dibeli, kini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan keluarga di rumah.

“Alhamdulillah, sekarang kami punya sumber air baru. Kami tidak perlu lagi repot mencari air atau khawatir ketika musim kemarau. Airnya juga jauh lebih baik daripada yang kami gunakan sebelumnya. Kulit tidak lagi terasa kasar setelah mandi,” ujarnya.

Perubahan paling terasa bagi Sami terlihat pada anak-anaknya. Mereka tidak lagi harus pergi ke aliran irigasi untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Tidak ada lagi rasa khawatir harus mandi di ruang terbuka atau menggunakan air yang membuat kulit mereka gatal.

“Yang paling membuat saya senang adalah melihat anak-anak sekarang bisa mandi dengan air yang bersih. Kulit mereka juga tidak seperti dulu yang sering gatal setelah menggunakan air kali. Mereka jadi lebih nyaman dan bisa berangkat sekolah tanpa harus memikirkan hal seperti itu lagi,” kata Sami.

Bagi anak-anak, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Sami, bisa mandi dengan air yang bersih dan aman berarti lebih dari sekadar kenyamanan. Ada rasa aman, privasi, dan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Sami menggunakan air bersih yang mengalir di rumahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mengolah air untuk berjualan es jajanan di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Air bersih juga membawa perubahan dalam aktivitas ekonomi Sami. Selama ini, sebagian pengeluaran untuk membeli air isi ulang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung usaha kecilnya berjualan minuman. Dengan adanya sumber air baru, ketergantungan terhadap pembelian air isi ulang mulai berkurang.

“Airnya juga enak untuk dikonsumsi. Yang paling terasa, sekarang kami tidak perlu terlalu sering membeli air isi ulang. Untuk jualan juga lebih ringan karena kebutuhan air sudah tersedia, jadi modal yang biasanya dipakai membeli air bisa lebih dihemat,” tutur Sami.

Sami memang belum dapat menghitung secara pasti berapa besar tambahan keuntungan yang diperolehnya karena sistem air bersih tersebut baru digunakan selama sekitar dua minggu. Namun, baginya, berkurangnya pengeluaran untuk membeli air sudah menjadi bantuan yang berarti bagi keluarga.

Di tengah musim kemarau, ketika ketersediaan air menjadi persoalan bagi banyak keluarga di sekitarnya, Sami kini tidak lagi memandang datangnya musim kering dengan kekhawatiran yang sama. Bersama sembilan keluarga lainnya di Desa Baturaden, ia mulai merasakan bagaimana akses air yang lebih layak dapat mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, air bersih bukan hanya tentang air yang mengalir dari keran. Di dalamnya ada kesehatan anak yang lebih terjaga, ada kesempatan untuk berangkat ke sekolah dengan lebih nyaman, ada pengeluaran keluarga yang dapat ditekan, dan ada usaha kecil yang dapat berjalan dengan lebih ringan.

Lebih jauh, akses terhadap air bersih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hunian yang layak. Rumah yang aman dan nyaman tidak cukup hanya memiliki dinding dan atap yang kokoh. Keluarga juga membutuhkan akses terhadap kebutuhan dasar yang memungkinkan mereka hidup sehat, menjaga kebersihan, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan bermartabat.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI Flores (3)
Kabar Habitat

Habitat Indonesia dan Pemkab Nagekeo Perkuat Komitmen Pemulihan Pascagempa Flores

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam upaya pemulihan pascagempa Flores (9/9). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Nagekeo, 10 September 2026 – Memasuki fase pemulihan pascabencana Gempa Flores, Habitat for Humanity Indonesia memperkuat komitmen jangka panjang bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, untuk mendukung keluarga-keluarga terdampak agar dapat kembali pulih secara bertahap.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, dan Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman. Penandatanganan dilaksanakan secara hybrid pada Rabu, 9 September 2026, sebagai landasan kolaborasi dalam pelaksanaan program pemulihan pascabencana di Kabupaten Nagekeo.

Melalui kerja sama ini, Habitat Indonesia akan menjalankan program Flores Housing Recovery yang berfokus pada pemulihan hunian dan layanan dasar bagi keluarga terdampak gempa, khususnya di Kecamatan Aesesa. Program ini direncanakan berlangsung selama satu tahun ke depan dengan melibatkan koordinasi bersama pemerintah daerah serta pemangku kepentingan terkait.

Dalam pelaksanaannya, program pemulihan akan mencakup beberapa bentuk dukungan. Habitat Indonesia akan membantu perbaikan dan perkuatan struktur bangunan (retrofitting) bagi 200 rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat gempa. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu keluarga memiliki hunian yang lebih layak dan aman.

Selain pemulihan hunian, dukungan juga akan diarahkan pada pemulihan akses rumah tangga terhadap layanan air bersih dan sanitasi yang aman. Edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat turut menjadi bagian dari program melalui pelatihan mengenai praktik Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) serta prinsip pembangunan dan perbaikan hunian yang lebih aman terhadap risiko bencana melalui pendekatan Build Back Safer.

Pemulihan juga akan menyasar fasilitas publik yang terdampak bencana. Habitat Indonesia merencanakan rehabilitasi sekolah dan pos kesehatan masyarakat untuk membantu memulihkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan primer.

“Pemerintah Kabupaten Nagekeo, bersama masyarakat, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Habitat for Humanity Indonesia serta para donatur atas dukungan yang diberikan. Kami menerima dukungan ini sebagai bagian dari upaya bersama untuk membantu masyarakat Nagekeo melewati masa pemulihan pascabencana,” ujar Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus.

Distribusi 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) ke lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (31/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Memulai pemulihan dari langkah awal

Komitmen pemulihan jangka panjang ini melanjutkan respons Habitat Indonesia yang telah dilakukan sejak fase awal pascabencana. Sebelumnya, pada 31 Agustus 2026, Habitat Indonesia melalui dukungan para donatur telah menyalurkan 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) kepada keluarga terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Aesesa, yaitu Desa Aeramo, Marapokot, Nangadhero, Tonggurambang, dan Waekokak.

Paket ESK berisi berbagai perlengkapan pertukangan yang dapat digunakan keluarga untuk membersihkan sisa material gempa serta melakukan perbaikan darurat pada rumah yang mengalami kerusakan. Dukungan ini menjadi langkah awal agar keluarga dapat mulai melakukan pemulihan hunian secara mandiri sesuai dengan kondisi rumah masing-masing.

Bagi Habitat Indonesia, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pemberian bantuan darurat. Perbaikan hunian, pemulihan layanan dasar, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga rehabilitasi fasilitas publik perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Dukungan dari para donatur Habitat for Humanity Indonesia menjadi momentum untuk terus berbuat kebaikan dan membantu keluarga terdampak. Harapannya, dukungan ini dapat membantu keluarga memulihkan rumah mereka secara bertahap dan membangun kembali kehidupan yang lebih aman setelah bencana,” kata Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman.

Melalui program Flores Housing Recovery, Habitat Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo berupaya memastikan proses pemulihan berjalan secara terarah dan menjawab kebutuhan masyarakat terdampak. Kolaborasi lintas pihak menjadi penting agar keluarga tidak hanya mendapatkan bantuan pada masa tanggap darurat, tetapi juga memiliki dukungan untuk membangun kembali hunian dan kehidupan mereka dalam jangka panjang.

Proses pemulihan pascabencana merupakan perjalanan yang membutuhkan waktu dan gotong royong dari berbagai pihak. Karena itu, Habitat Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat untuk turut ambil bagian dalam mendukung keluarga terdampak Gempa Flores.

Mari bersama membantu keluarga di Flores memulihkan hunian, membangun kembali kehidupan, dan menciptakan masa depan yang lebih aman. Salurkan donasi melalui informasi yang tercantum pada flyer kampanye.

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI – Microsoft_3
Kabar Habitat

Membangun Ruang Belajar yang Lebih Layak bagi Siswa-Siswi di Karawang dan Cikarang

Karawang, 10 September 2026 – Sahut-menyahut suara riang siswa terdengar ketika bel masuk berbunyi, menandai dimulainya kegiatan belajar di SDN Wanakerta 1, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang. Sebanyak 184 siswa menjalani aktivitas belajar di sekolah tersebut setiap harinya. Namun, proses belajar mengajar di sekolah ini menghadapi kendala setelah salah satu ruang kelas mengalami kerusakan cukup parah.

Atap ruang kelas yang telah rapuh akhirnya ambruk dan menyebabkan ruangan tersebut tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi serupa juga terlihat pada plafon yang ikut mengalami kerusakan. Para siswa pun harus menggunakan ruang kelas lain secara bergantian, sehingga kegiatan belajar tidak dapat berlangsung secara optimal.

“Atapnya bocor, kemudian plafonnya juga sampai rubuh karena rangka atapnya sudah rapuh. Untungnya saat kejadian tidak ada anak didik kami di dalam kelas. Harapannya kondisi ini bisa segera diperbaiki agar kegiatan belajar mengajar lebih optimal dan anak-anak tidak perlu lagi menumpang kelas atau belajar secara bergantian,” ujar Drs. Jasa Rohdiat, Kepala SDN Wanakerta 1.

Tidak hanya ruang kelas, fasilitas sanitasi di sekolah tersebut juga menghadapi keterbatasan. Dua dari fasilitas toilet yang tersedia mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan. Kondisi ini membuat jumlah toilet yang dapat digunakan menjadi terbatas dan siswa harus mengantre ketika ingin menggunakannya.

Kondisi fasilitas pendidikan seperti yang dialami SDN Wanakerta 1 masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia. Sekitar 30 persen sekolah dasar di wilayah pedesaan masih membutuhkan renovasi besar, sementara sekitar 20 persen belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Kondisi bangunan dan fasilitas sekolah yang kurang memadai dapat memengaruhi kenyamanan serta keamanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

Tantangan tersebut juga terlihat di sekitar kawasan industri Karawang International Industrial City (KIIC) di Kabupaten Karawang dan Greenland International Industrial Center (GIIC) di Kabupaten Bekasi. Di empat desa yang berada dalam radius 5–7 kilometer dari kedua kawasan industri tersebut, terdapat 41 sekolah mulai dari jenjang PAUD hingga SMA. Diperkirakan sekitar 21 sekolah masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ruang kelas yang padat, bangunan yang mengalami kerusakan, keterbatasan fasilitas sanitasi, hingga minimnya sarana pendukung pembelajaran.

Kondisi salah satu ruang kelas yang tidak layak di SDN Wanakerta 1, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Foto: Tim HFHI

Melihat kebutuhan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia menggandeng Microsoft untuk meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan di sekitar kawasan KIIC dan GIIC. Upaya ini merupakan bagian dari program pendidikan Habitat yang melihat keterkaitan erat antara hunian layak, lingkungan belajar, dan kualitas hidup keluarga berpenghasilan rendah.

Habitat Indonesia memandang bahwa rumah layak dan lingkungan belajar yang layak merupakan dua hal yang saling berkaitan. Anak-anak membutuhkan tempat tinggal yang aman untuk beristirahat dan belajar di rumah, sekaligus sekolah yang nyaman agar dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas fasilitas pendidikan menjadi bagian dari upaya Habitat dalam mendukung peningkatan kualitas hidup keluarga berpenghasilan rendah secara menyeluruh.

Saat ini, tim Habitat Indonesia tengah melakukan asesmen mendalam terhadap sekolah-sekolah di empat wilayah sasaran, yaitu Desa Wanakerta, Wanasari, Sukamahi, dan Pasiranji. Asesmen dilakukan untuk memahami kondisi fasilitas secara lebih menyeluruh, mengidentifikasi kebutuhan prioritas, serta memastikan bentuk renovasi yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.

Berdasarkan hasil asesmen tersebut, sebanyak 15 sekolah akan dipilih untuk mendapatkan dukungan renovasi. Setiap sekolah akan menyusun usulan berdasarkan kebutuhan prioritasnya, sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.

Dukungan renovasi dapat mencakup berbagai perbaikan non-struktural, seperti perbaikan plafon, lantai, dinding, pengecatan, fasilitas sanitasi, maupun peningkatan akses air bersih. Jenis pekerjaan akan ditentukan berdasarkan hasil asesmen dan usulan dari masing-masing sekolah.

Tim Habitat for Humanity Indonesia bersama perwakilan Microsoft melakukan asesmen mendalam terhadap 15 sekolah di wilayah Kabupaten Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Foto: Tim HFHI

Selain memperbaiki fasilitas fisik, program ini juga mendorong agar renovasi mempertimbangkan aspek inklusivitas. Sekolah akan didorong untuk menerapkan fasilitas dan desain yang lebih ramah bagi perempuan serta penyandang disabilitas, sehingga lingkungan belajar dapat digunakan secara aman dan nyaman oleh seluruh siswa.

Aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian dari perencanaan. Penggunaan material lokal yang tahan lama, pemanfaatan pencahayaan dan ventilasi alami, serta efisiensi penggunaan air dan energi akan dipertimbangkan dalam proses renovasi. Sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah, pendekatan terhadap ketahanan perubahan iklim seperti perbaikan drainase, perlindungan dari banjir, maupun pemanfaatan air hujan juga dapat diterapkan.

Program ini tidak berhenti pada pembangunan atau perbaikan fasilitas. Sekolah juga akan didorong untuk memiliki rasa kepemilikan terhadap fasilitas yang telah diperbaiki. Keterlibatan pihak sekolah dalam menentukan prioritas renovasi menjadi salah satu langkah untuk memastikan fasilitas yang dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi dengan Microsoft, Habitat for Humanity Indonesia berharap dukungan terhadap 15 sekolah di sekitar KIIC dan GIIC dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih aman, sehat, nyaman, dan inklusif. Sebab, ketika anak-anak memiliki ruang yang layak untuk belajar, mereka tidak hanya mendapatkan tempat yang lebih baik untuk menuntut ilmu, tetapi juga ruang yang mendukung mereka untuk tumbuh, berkembang, dan mempersiapkan masa depan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI4
Kisah Perubahan

Cerita Kristin: Memulai Kembali dari Reruntuhan Rumah Setelah Gempa Flores

Nagekeo, 7 September 2026 – Bagi Kristina Wae, rumah sederhana di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah ia dan keluarganya makan bersama, berbagi cerita, dan menjalani hari-hari dengan bahagia. Namun, gempa Flores mengubah semuanya dalam hitungan menit.

Saat gempa terjadi, Kristin, 39 tahun, bersama suaminya, Fransiskus Lita (40), dan ketiga anak mereka berusaha menyelamatkan diri dari rumah yang mulai runtuh. Bagian depan rumah mengalami kerusakan, sementara dapur di bagian belakang juga tidak luput dari reruntuhan. Jalan keluar yang biasa mereka gunakan pun tidak lagi aman.

“Waktu gempa kami langsung khawatir dan menangis. Kami ingin keluar lewat depan, tetapi teras sudah mulai runtuh. Mau ke belakang, dapur juga sudah runtuh. Syukurlah ada pintu samping. Suami saya mendobrak pintu itu dan kami semua keluar lewat sana,” kenang Kristin.

Tidak ada barang yang sempat dibawa. Bagi Kristin dan keluarganya, keselamatan menjadi satu-satunya hal yang penting saat itu.

Kehilangan tempat tinggal, tetapi tidak kehilangan harapan

Sebelum gempa, Kristin menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai petani. Keluarga mereka juga beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan keluarga bergantung pada hasil pertanian dan penjualan ternak, dengan pendapatan yang tidak menentu dan tidak lebih dari Rp2 juta per bulan.

Ketiga anak mereka juga menjadi alasan bagi Kristin dan suaminya untuk terus bertahan. Kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak, tetap harus dipenuhi meskipun rumah mereka kini tidak lagi dapat dihuni.

“Rumah itu segalanya buat keluarga saya. Itu tempat ternyaman untuk keluarga kecil saya. Walaupun rumahnya sederhana, di situlah banyak kebahagiaan yang kami curahkan,” ujar Kristin.

Setelah gempa, keluarga Kristin mengungsi ke Bukit Danga, cukup jauh dari rumah mereka. Selama sekitar dua minggu, mereka tinggal di tenda pengungsian dan bertahan dengan bantuan makanan serta kebutuhan dasar dari pemerintah.

Namun, Kristin menyadari bahwa ia tidak bisa terus berada di tempat pengungsian. Di rumahnya masih ada ternak yang dapat membantu menopang kehidupan keluarga. Anak-anaknya juga harus kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, setelah sekitar dua minggu di Bukit Danga, Kristin dan keluarganya memutuskan kembali ke Marapokot. Mereka mendirikan tenda di samping rumah yang rusak dan tinggal di sana untuk sementara waktu.

“Kalau kami terus tinggal di atas, bagaimana dengan penghasilan? Kami punya anak sekolah. Kami masih punya ternak yang mungkin bisa membantu kehidupan kami setiap hari. Jadi kami memilih untuk bangkit lagi,” katanya.

Kristina Wae menunjukkan bagian rumahnya yang roboh akibat gempa di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Sebuah paket yang menjadi awal untuk bangkit

Beberapa hari setelah kembali ke rumah, Kristin mendapat kabar dari aparat desa untuk datang ke kantor desa. Ia tidak mengetahui bahwa kedatangannya berkaitan dengan bantuan yang akan diterimanya.

Motor miliknya masih tertindih reruntuhan rumah, sehingga ia harus menggunakan ojek milik tetangga untuk menuju kantor desa.

Setibanya di sana, Kristin sempat merasa ragu dan tidak mengetahui apa yang akan diterimanya. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa keluarganya mendapatkan seperangkat perlengkapan untuk membantu membersihkan rumah yang terdampak gempa.

Bantuan tersebut merupakan Emergency Shelter Kit (ESK) yang disalurkan Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para donatur. Sebanyak 100 paket ESK diberikan kepada 100 keluarga terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, sebagai bagian dari program Flores Housing Recovery.

Berbeda dari bantuan kebutuhan sehari-hari, ESK berisi berbagai perlengkapan yang dapat digunakan keluarga untuk membersihkan sisa material gempa dan melakukan perbaikan awal pada rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang.

Bagi Kristin, paket tersebut datang pada saat yang tepat. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Sekecil apa pun bantuannya, saya bisa menikmatinya,” tutur Kristin.

Lebih dari sekadar perlengkapan, bagi Kristin, ESK menjadi dorongan untuk mulai melakukan sesuatu. Rumahnya memang belum bisa langsung dibangun kembali. Modal untuk memperbaikinya pun belum tersedia. Namun, ia kini memiliki alat untuk memulai dari hal yang paling sederhana yaitu, membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit.

Kristina Wae membuka isi paket Emergency Shelter Kit (ESK) dari Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Setelah Gempa, Abdul Rajak Memilih Bangkit dan Menjaga Harapan Keluarganya

Membersihkan dapur, menyiapkan langkah berikutnya

Kristin berencana memulai dari bagian dapur. Bagian tersebut menjadi salah satu area rumah yang mengalami kerusakan dan ia berharap dapat membersihkannya agar bisa kembali digunakan untuk memasak.

“Paling tidak dapur kami bersihkan dulu supaya bisa digunakan untuk memasak. Kami kerjakan pelan-pelan dengan alat ini,” ujarnya.

Keinginan untuk memperbaiki rumah sebenarnya sudah ada bahkan sebelum gempa terjadi. Kristin bercerita bahwa keluarganya sempat membeli satu rit pasir untuk memperbaiki lantai dapur. Mereka berencana membeli semen keesokan harinya untuk melanjutkan pekerjaan. Namun, gempa datang sebelum rencana tersebut terlaksana.

Pasir yang sudah dibeli pun belum sempat digunakan ketika keluarga harus meninggalkan rumah demi menyelamatkan diri. Rencana sederhana untuk membuat rumah menjadi lebih baik terpaksa tertunda.

Kini, Kristin kembali mencoba memulai dari awal. “Bantuan seperti ini membuat saya merasa harus lebih kuat dan membangkitkan semangat. Saya ingin membangun rumah saya lagi, walaupun sekarang masih harus menunggu modal atau rezeki. Untuk saat ini kami membersihkan pelan-pelan. Kalau nanti ada rezeki, kami ingin membangun rumah yang lebih layak,” katanya.

Bagi Habitat for Humanity Indonesia, langkah kecil seperti membersihkan rumah merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Karena itu, bantuan ESK tidak hanya ditujukan untuk membantu keluarga menangani sisa material gempa, tetapi juga menjadi salah satu langkah awal agar keluarga dapat mulai mengambil kembali kendali atas proses pemulihan rumah mereka.

Penyaluran ESK ini sekaligus menjadi bagian awal dari rencana pemulihan hunian di Aesesa, Nagekeo. Ke depan, Habitat Indonesia akan mendukung perbaikan dan penguatan rumah melalui pendekatan retrofitting bagi 200 keluarga, sehingga rumah yang diperbaiki tidak hanya menjadi lebih layak, tetapi juga lebih aman dan tangguh menghadapi risiko bencana.

Kristina Wae menggunakan salah satu perkakas dari Emergency Shelter Kit Habitat for Humanity Indonesia untuk membersihkan puing-puing sisa gempa di rumahnya di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dari rumah yang runtuh, tumbuh kembali harapan

Hari-hari Kristin kini masih jauh dari kata mudah. Ia dan keluarganya masih tinggal di tenda yang didirikan di samping rumah. Sebagian besar bangunan tidak dapat ditempati karena mengalami kerusakan dan retakan.

Namun, di tengah keterbatasan itu, Kristin memilih untuk tidak berhenti. Ia mulai membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit sambil menunggu kesempatan dan rezeki untuk membangun kembali. Bagi dirinya, proses tersebut bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga tentang mengembalikan tempat yang selama ini menjadi pusat kehidupan keluarganya.

Rumah yang dulu sederhana telah menjadi saksi berbagai kebahagiaan keluarganya. Kini, rumah itu juga menjadi tempat Kristin menaruh harapan untuk memulai kembali. “Rumah adalah segalanya bagi keluarga saya,” katanya.

Bagi Kristin dan keluarga terdampak lainnya, pemulihan mungkin tidak terjadi dalam satu hari. Tetapi dari sebuah tenda, beberapa alat sederhana, dan kemauan untuk mulai membersihkan kembali, sebuah langkah pertama telah dimulai.

Dukungan Sahabat Habitat dapat membantu keluarga terdampak gempa Flores membangun kembali hunian yang lebih aman dan layak. Mari bersama mendukung pemulihan rumah bagi keluarga di Nagekeo melalui program Flores Housing Recovery.

Salurkan donasi melalui informasi pada flyer kampanye di bawah ini:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI Flores2
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Emergency Shelter Kit untuk Keluarga Terdampak Gempa Flores

Nagekeo, 31 Agustus 2026 – Habitat for Humanity Indonesia mulai menyalurkan bantuan darurat bagi keluarga terdampak gempa bumi Flores yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Bantuan ini menjadi bagian dari langkah awal Habitat Indonesia dalam mendukung pemulihan hunian dan lingkungan tempat tinggal masyarakat terdampak bencana.

Melalui dukungan para donatur, Habitat Indonesia menyalurkan 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) kepada keluarga terdampak di lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bantuan tersebut didistribusikan kepada keluarga di Desa Aeramo, Marapokot, Nangadhero, Tonggurambang, dan Waekokak.

Paket bantuan ini disesuaikan dengan kebutuhan keluarga terdampak untuk membersihkan sisa material bangunan dan melakukan perbaikan awal pada rumah, terutama hunian yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Perlengkapan tersebut diharapkan dapat membantu warga memulai proses pemulihan rumah dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan.

Secara simbolis, Habitat for Humanity Indonesia menyerahkan paket bantuan ESK kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo yang diwakili oleh Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, di Posko BPBD Nagekeo.

“Saya mewakili masyarakat Nagekeo mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan yang diberikan, khususnya bantuan alat pertukangan dan perlengkapan kerja. Bantuan ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk membersihkan dan memperbaiki rumah yang terdampak, yang kemudian diharapkan dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga.” ujar Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada.

Simbolis penyerahan 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (31/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Mendukung Perbaikan Rumah dan Pembersihan Puing

Bantuan yang diberikan disusun berdasarkan kebutuhan keluarga di lapangan. Selain berfungsi sebagai perlindungan sementara, perlengkapan di dalam Emergency Shelter Kit dapat digunakan masyarakat untuk melakukan pembersihan sisa material bangunan sekaligus mendukung perbaikan awal rumah.

Setiap keluarga menerima satu lembar terpal berukuran 2 x 25 meter sebagai perlindungan sementara. Paket tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah peralatan pertukangan, seperti palu atau martil ukuran sedang, gergaji kayu, linggis, sekop, cangkul lengkap dengan gagang, serta 2 kilogram paku berukuran 7 cm dan 10 cm.

Untuk mendukung keselamatan warga selama melakukan pekerjaan, setiap paket juga dilengkapi dengan dua tali tambang, enam pasang sarung tangan, satu helm proyek, satu pasang sepatu boots, dan satu kacamata keselamatan.

Penyediaan peralatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan Habitat Indonesia untuk memastikan keluarga terdampak tidak hanya mendapatkan bantuan perlindungan sementara, tetapi juga memiliki dukungan awal untuk mulai membersihkan dan memulihkan lingkungan rumah mereka.

Distribusi 100 paket Emergency Shelter Kit (ESK) ke lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (31/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Langkah Awal Menuju Pemulihan Jangka Panjang

Penyaluran Emergency Shelter Kit menjadi bagian awal dari rencana pemulihan Habitat Indonesia di wilayah terdampak gempa Flores. Ke depan, dukungan akan diarahkan pada kebutuhan pemulihan hunian dan lingkungan secara lebih menyeluruh berdasarkan hasil asesmen di lapangan.

Fokus pemulihan mencakup perbaikan dan penguatan struktur bangunan atau retrofitting pada rumah terdampak, terutama untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan bangunan terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Habitat Indonesia juga akan mendukung pemulihan akses keluarga terhadap air bersih dan sanitasi yang aman, termasuk melalui edukasi dan pelatihan praktik kebersihan serta sanitasi atau Water, Sanitation and Hygiene (WASH).

Selain itu, pendekatan Build Back Safer akan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Pendekatan ini mendorong agar rumah yang diperbaiki atau dibangun kembali tidak hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi juga lebih aman dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.

Dukungan pemulihan juga akan diarahkan pada fasilitas publik yang terdampak, termasuk sekolah dan pos kesehatan masyarakat, sehingga masyarakat dapat kembali memperoleh akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan dasar yang aman dan layak.

Proses pemulihan pascabencana membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, Habitat for Humanity Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat untuk turut mengambil bagian dalam membantu keluarga terdampak gempa Flores.

Dukungan masyarakat akan membantu memperkuat proses pemulihan, mulai dari penyediaan kebutuhan darurat, pembersihan dan perbaikan rumah, hingga pembangunan kembali hunian yang lebih aman dan tangguh bagi keluarga penyintas.

Mari bersama membantu keluarga terdampak gempa Flores untuk bangkit dan membangun kembali rumah serta kehidupan mereka. Donasi dapat disalurkan melalui transfer atau QRIS pada flyer kampanye di bawah ini. 

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI _ CEO1
Kabar Habitat

CEO Build 2026: Libatkan Lebih dari 80 Pemimpin Bisnis untuk Bangun 40 Rumah Layak Huni di Bogor

Bogor, 29 Agustus 2026 – Habitat for Humanity Indonesia kembali menyelenggarakan CEO Build 2026, kegiatan amal dan sukarela yang mempertemukan para pengusaha, CEO, dan top eksekutif untuk bersama-sama mendukung penyediaan rumah layak huni bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kembali dipimpin oleh Edwin Soeryadjaya, kegiatan tahun ini melibatkan lebih dari 80 peserta dan dilaksanakan di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Melalui CEO Build 2026, para peserta tidak hanya memberikan dukungan melalui penggalangan dana, tetapi juga terlibat langsung dalam pembangunan tujuh rumah layak huni bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Habitat for Humanity Indonesia dalam mendukung upaya mengatasi backlog perumahan di Indonesia sekaligus mendorong keterlibatan sektor swasta dalam menghadirkan hunian yang layak bagi masyarakat yang membutuhkan.

Melalui pengalaman turun langsung ke lapangan, para pemimpin bisnis diajak untuk memahami tantangan kemiskinan perumahan sekaligus mengambil peran dalam menciptakan lingkungan permukiman yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2015, CEO Build telah berkontribusi dalam pembangunan 122 rumah layak huni di berbagai wilayah Indonesia. Kontribusi tersebut mencakup empat rumah di Kabupaten Bogor pada 2015, 11 rumah di Kabupaten Gresik pada 2019, 29 rumah di Kabupaten Banyuwangi pada 2022, 38 rumah di Kabupaten Bogor pada 2025, serta 40 rumah yang dibangun melalui CEO Build 2026 di Desa Wanaherang, Kabupaten Bogor. Capaian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemimpin bisnis, sektor swasta, dan Habitat Indonesia dapat terus berkembang untuk memperluas dampak dan mendukung lebih banyak keluarga memperoleh hunian yang layak.

“Kegiatan volunteerism selalu memberikan nilai yang luar biasa, baik bagi saya pribadi maupun bagi lingkungan di sekitar saya. Saya sangat bersyukur, melalui kegiatan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun ini, semakin banyak rekan pebisnis yang turut mengambil bagian dalam membangun Indonesia. Saya berharap semangat kebaikan ini dapat terus ditularkan, sehingga semakin banyak keluarga dapat memperoleh rumah yang layak huni,” ujar Edwin Soeryadjaya.

Selain pembangunan 40 rumah di Desa Wanaherang, Bogor, melalui kegiatan ini Habitat Indonesia juga menggalang dana untuk mendukung pemulihan keluarga penyintas gempa Flores. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menghadirkan hunian yang aman dan layak bagi masyarakat terdampak bencana. Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk program renovasi 200 rumah rusak ringan dan sedang di Flores, sekaligus memperluas dampak gerakan kerelawanan yang diinisiasi bersama para pemimpin bisnis dan mitra Habitat Indonesia.

Baca juga: CEO Build 2025: Kolaborasi 58 CEO Bangun Rumah Layak Huni untuk Keluarga Berpenghasilan Rendah di Bogor

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, menekankan bahwa persoalan perumahan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta.

“Sejalan dengan SDG 11, kami terus mendorong keterlibatan sektor swasta dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan lingkungan permukiman yang berkelanjutan. Kami berharap semangat kolaborasi ini dapat terus tumbuh dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut berkontribusi dalam mengatasi persoalan perumahan di Indonesia,” ungkap Handoko Ngadiman.

Habitat for Humanity Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, donatur, mitra, dan pihak yang telah mendukung pelaksanaan CEO Build 2026. Kegiatan ini juga dapat terlaksana dengan baik dengan dukungan dari PT Astra Internasional Tbk., PT Mortar Abadi, MPM, Tower Bersama Group, PT Adakom International Technology, Merdeka Copper Gold, Adaro Andalan, Sikular Karya Indonesia, dan sponsor lainnya. Harapannya, kolaborasi ini dapat terus berkembang menjadi berbagai bentuk dukungan dan kemitraan untuk membantu lebih banyak keluarga memiliki tempat tinggal yang layak. Lebih dari sekadar membangun rumah, CEO Build menjadi pengingat bahwa kepemimpinan memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan nyata.

Foto: HFHI/Astridinar Vania, Budi Ariyanto, Syefira Salsabilla

Penulis: Syefira Salsabilla

(ss/kh)

HFHI2
Kabar Habitat

Setelah Gempa, Abdul Rajak Memilih Bangkit dan Menjaga Harapan Keluarganya

Nusa Tenggara Timur, 28 Agustus 2026 – Pagi 15 Agustus 2026 seharusnya menjadi awal hari yang biasa bagi Abdul Rajak dan keluarganya. Namun, dalam hitungan menit, gempa bumi mengguncang Flores dan mengubah cara mereka memandang rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung. Meski bangunan rumahnya masih berdiri, rasa aman di dalamnya belum sepenuhnya kembali. 

Abdul, warga Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih mengingat pagi itu dengan jelas. Sekitar pukul 06.00 WITA, setelah sempat kembali tidur usai salat subuh, ia merasakan guncangan yang semakin kuat. Dari tempatnya berada di Kecamatan Congkar, ia segera berusaha memastikan kondisi istri dan anak-anaknya yang berada di rumah. 

Tak lama kemudian, kabar yang ia tunggu datang. Istri, keponakan, dan kedua anak perempuannya telah menyelamatkan diri dan berada di lokasi pengungsian bersama warga lainnya. Anak-anaknya sempat menangis dan ketakutan, tetapi mereka berhasil keluar dari rumah dengan selamat. 

Bagi Abdul, keselamatan keluarganya menjadi hal pertama yang ia syukuri. Namun, ketika kembali melihat kondisi rumah dan lingkungan di sekitarnya, ia menyadari bahwa gempa telah meninggalkan kerusakan yang tidak sedikit. 

Gudang miliknya hancur total. Kios di bagian depan rumah mengalami keretakan pada bagian atas, sementara beberapa bagian lainnya juga terdampak. Pagar musala di dekat rumahnya turut roboh. Beruntung, rumah utama dan beberapa fasilitas lainnya masih dapat digunakan. 

Setelah gempa, Abdul bersama keluarganya memilih bermalam di tenda yang didirikan di luar rumah. Gempa susulan yang masih terjadi membuat mereka belum berani kembali tidur di dalam bangunan. Bantuan dari warga sekitar berupa selimut, pakaian, kasur, dan kebutuhan lainnya turut membantu keluarga melewati malam-malam pertama setelah bencana. 

Namun, bagi keluarga Abdul, persoalan terbesar bukan hanya tempat untuk tidur. Rasa takut juga masih tinggal, terutama pada anak bungsunya. Meskipun rumah mereka tidak mengalami kerusakan berat, sang anak masih trauma dan belum berani tidur di dalam rumah. Setiap pagi, keluarga kembali ke rumah untuk membersihkan, menyiapkan makanan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Ketika malam tiba, mereka kembali ke tempat yang dianggap lebih aman. 

Hari-hari setelah gempa pun berjalan dengan cara yang berbeda. Aktivitas perlahan kembali dilakukan, tetapi selalu ada kewaspadaan terhadap kemungkinan guncangan berikutnya. 

Di tengah kondisi tersebut, Abdul tidak ingin keluarganya terus-menerus berada dalam ketakutan. Ia kemudian mengambil langkah sederhana yang bisa dilakukannya sendiri. Dengan memanfaatkan kayu yang tersedia, ia mulai membangun sebuah gazebo di samping rumah untuk menjadi tempat beristirahat sementara bagi keluarganya. 

Abdul membangun gazebo di samping rumahnya sebagai tempat pengungsian sementara pascagempa Flores di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Abdul, membangun tempat berlindung sederhana itu bukan sekadar persoalan menyediakan ruang untuk tidur. Ada harapan yang ingin ia tumbuhkan kembali di tengah keluarganya. “Kita tidak boleh terlalu larut dalam musibah. Selama masih bisa melakukan sesuatu, kita harus berusaha. Saya harus menunjukkan kepada anak dan keluarga bahwa kami bisa melewati keadaan ini, supaya mereka juga merasa lebih kuat dan nyaman.” 

Semangat itu menjadi cara Abdul menghadapi situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menyadari bahwa gempa bukan sesuatu yang dapat dikendalikan, tetapi bagaimana seseorang merespons keadaan setelahnya masih menjadi pilihan. 

Menurutnya, keluarga membutuhkan sosok yang mampu tetap berdiri ketika keadaan sedang tidak menentu. Bukan karena rasa takut hilang begitu saja, melainkan karena kehidupan harus tetap berjalan. “Kita memang harus menerima bahwa ini adalah musibah yang terjadi di luar kehendak kita. Tetapi kita juga harus bangkit dan berusaha. Apa yang masih bisa kita lakukan, kita lakukan. Saya ingin anak-anak dan keluarga saya melihat bahwa kami masih punya harapan,” tuturnya. 

Harapan tersebut menjadi semakin penting ketika rumah tidak lagi sekadar bangunan bagi Abdul. Sebelum gempa, rumah adalah tempat keluarganya berkumpul, beristirahat, berbicara, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah gempa, makna itu terasa semakin dalam. 

Rumah menjadi tempat yang ingin kembali dituju, sekaligus tempat yang untuk sementara harus dijauhi karena rasa takut. “Rumah bagi saya adalah tempat keluarga berkumpul dan saling melindungi. Di sanalah kami berkomunikasi, beristirahat, dan berlindung dari panas, hujan, maupun berbagai keadaan yang tidak terduga,” katanya. 

Karena itu, bagi Abdul, memiliki rumah yang aman bukan hanya tentang memiliki atap dan dinding. Rumah adalah bagian dari rasa aman sebuah keluarga. Ketika tempat berlindung itu terganggu, kehidupan keluarga pun ikut berubah. 

Kini, meski rumahnya masih berdiri, Abdul memilih untuk tidak menunggu keadaan pulih dengan sendirinya. Ia membersihkan rumah, membangun tempat berlindung sementara, dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari sebisa mungkin. Perlahan, ia berusaha mengembalikan rasa normal yang sempat hilang. 

Namun, perjalanan pemulihan setelah bencana tentu tidak berhenti ketika gempa mereda. Bagi banyak keluarga di Flores, kebutuhan untuk mendapatkan kembali rumah yang aman dan layak masih menjadi bagian penting dari proses bangkit. 

Mari bersama membantu keluarga terdampak gempa Flores untuk mendapatkan kembali tempat tinggal yang aman dan layak. Dukungan Anda dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan setelah bencana. Donasi dapat disalurkan melalui:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI Flores3
Kabar Habitat

Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung: Kisah Yofita Bertahan Setelah Gempa Flores

Nusa Tenggara Timur, 22 Agustus 2026 – Pagi itu, Yofita Damul (37) sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Nasi sudah dimasak, sayur sedang dipanaskan, dan sebentar lagi keluarganya akan bersiap menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, pagi yang tenang itu berubah dalam sekejap ketika tanah mulai berguncang. 

“Anak-anak langsung teriak, ‘Mama, ini ada apa?’ Saya juga panik. Saya langsung bilang, ‘Ayo kita keluar, kita keluar, Nak!’” kenang Yofita. 

Gempa berkekuatan Magnitudo 7.7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, membuat rumah Yofita di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tidak lagi dapat ditempati seperti sebelumnya. Saat guncangan terjadi, pikirannya hanya tertuju pada keselamatan anak-anak dan ibunya yang sedang sakit dan mengalami kesulitan untuk berdiri. 

Dalam situasi yang serba panik, Yofita bersama keluarganya berusaha keluar dari rumah. Ibunya kemudian dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Rumah yang selama ini menjadi tempat keluarganya berlindung pun hanya dapat mereka saksikan dari luar ketika guncangan terjadi. 

“Waktu itu kami langsung angkat Mama keluar. Kami sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, yang penting semua bisa keluar dan selamat. Setelah itu kami hanya bisa melihat rumah ini berguncang di depan mata,” tuturnya. 

Di tengah rasa takut, ada satu hal yang membuat Yofita tetap bersyukur. Tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. “Yang ada di pikiran memang kacau sekali. Tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena kami semua selamat. Tidak ada korban. Rumah ini rusak, mau tidak mau kami harus menerima kenyataannya. Yang penting keluarga kami selamat,” ujar Yofita. 

Namun, keselamatan dari gempa bukan berarti persoalan selesai. Setelah rumah tidak lagi dapat menjadi tempat tinggal yang aman, Yofita dan keluarganya harus mencari tempat untuk berlindung sementara. 

Kerusakan rumah Yovita setelah diguncang gempa Flores di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (18/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kini, sebuah tenda didirikan di halaman rumah tetangganya. Di tempat yang terbatas itu, tiga keluarga harus berbagi ruang untuk beristirahat dan menjalani aktivitas sehari-hari. Keluarga Yofita sendiri berjumlah sembilan orang, termasuk anak-anak, ibunya yang sedang sakit, serta seorang anak yang dititipkan kepadanya karena orang tuanya sedang berada di Kalimantan.  

“Sekarang kami tinggal di tenda di depan rumah tetangga. Sudah beberapa hari kami di sana sejak kejadian. Satu tenda ini ditempati tiga keluarga. Kalau keluarga saya sendiri ada sembilan orang,” kata Yofita. 

Bagi keluarga dengan jumlah anggota yang cukup banyak, tinggal di tenda bukanlah kondisi yang mudah untuk dijalani dalam waktu lama. Terlebih, Yofita harus memastikan kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi dan ibunya yang sedang sakit tetap mendapatkan perhatian. 

Karena itu, ketika ditanya apa yang paling dibutuhkan keluarganya saat ini, Yofita tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. “Yang paling utama itu tempat tinggal, Pak. Tidak mungkin kami lama-lama tidur di tenda, apalagi kami punya anak. Kami juga membutuhkan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. 

Tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan asesmen terhadap rumah Yovita yang terdampak gempa Flores di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (18/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Harapan untuk memiliki rumah yang aman bukanlah sesuatu yang baru bagi Yofita. Sebelum rumahnya terdampak gempa, hunian tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang bersama keluarga. 

Pada 2019, Yofita merantau ke Kalimantan selama hampir lima tahun untuk bekerja dan mengumpulkan penghasilan. Dari hasil perjuangan tersebut, rumah mulai dibangun pada Maret 2019. Setelah beberapa waktu, ia dan keluarganya kembali ke kampung halaman pada Januari 2021 dan menetap di rumah tersebut hingga gempa terjadi. 

Rumah itu bukan sekadar bangunan bagi Yofita. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang keluarganya untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Namun, gempa membuat tempat yang dibangun melalui perjuangan bertahun-tahun tersebut tidak lagi dapat memberikan rasa aman seperti sebelumnya. 

Kini, Yofita kembali berada dalam situasi ketika tempat tinggal menjadi kebutuhan paling mendesak. Baginya, pemulihan bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga mengembalikan ruang bagi keluarganya untuk hidup bersama dengan aman. 

Kondisi Yofita menggambarkan bagaimana bencana dapat memberikan dampak yang jauh lebih panjang daripada sekadar kerusakan fisik. Ketika rumah terdampak, aktivitas sehari-hari, pengasuhan anak, kesehatan anggota keluarga, hingga rasa aman ikut terganggu. 

Di tengah kondisi tersebut, dukungan untuk pemulihan hunian menjadi bagian penting agar keluarga terdampak dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Habitat for Humanity hadir untuk merespons kebutuhan hunian keluarga terdampak gempa di Flores melalui upaya pemulihan sektor perumahan dan permukiman. 

Bagi Yofita, harapan itu kini sederhana yakni, keluarganya dapat kembali memiliki tempat untuk pulang, bukan sekadar tenda sementara, tetapi rumah yang mampu memberikan rasa aman bagi anak-anak dan keluarganya. “Yang saya harapkan sekarang semoga kami bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang layak. Kami ingin kembali hidup tenang bersama keluarga. Itu yang paling kami butuhkan,” ungkapnya. 

Perjalanan Yofita setelah gempa masih panjang. Rumah yang dahulu dibangun melalui bertahun-tahun perjuangan kini membutuhkan pemulihan. Namun, di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ia memilih untuk tetap bersyukur karena satu hal yang paling berharga masih dimilikinya yaitu, keluarganya selamat. 

Bagi keluarga seperti Yofita, dukungan untuk pemulihan rumah berarti lebih dari sekadar membangun kembali sebuah bangunan. Ini adalah upaya untuk mengembalikan rasa aman, menjaga keluarga tetap bersama, dan membantu mereka perlahan menata kembali kehidupan setelah bencana. 

Mari bersama membantu ribuan keluarga seperti Yofita agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Donasi dapat disalurkan melalui:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)