logotype
Donate
Thumbnail – Website Blog (1)
Kabar Habitat

Menyemai Harapan, Menuai Perubahan: 29 Tahun Habitat Indonesia

Jakarta, 1 Mei 2026 – Tanggal 1 Mei 2026 menjadi momen istimewa bagi Habitat for Humanity Indonesia. Di usia yang ke-29, perjalanan panjang ini tidak sekadar menandai bertambahnya waktu, tetapi juga merefleksikan komitmen yang terus hidup untuk menghadirkan hunian layak dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga berpenghasilan rendah di berbagai penjuru Indonesia, khususnya mereka yang berada di desil 1 dan 2, perempuan kepala keluarga, serta keluarga dengan anggota disabilitas.

Selama hampir tiga dekade, langkah Habitat Indonesia telah menjangkau lebih dari 223.277 keluarga. Angka ini bukan sekadar capaian, melainkan representasi dari perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga Indonesia. Melalui berbagai program seperti pembangunan rumah layak huni, penyediaan akses air bersih dan sanitasi, respons tanggap bencana, pemberdayaan ekonomi, hingga pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, Habitat Indonesia terus berupaya menjawab kebutuhan dasar sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.

Di penghujung fiskal 2026, kontribusi tersebut terus menunjukkan perkembangan yang positif. Habitat Indonesia berhasil membangun 40.230 rumah layak huni, meningkat dari 39.478 unit pada tahun sebelumnya. Selain itu, sebanyak 32.541 keluarga kini telah memperoleh akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, naik dari 31.375 keluarga di tahun 2025. Upaya peningkatan kualitas hunian juga tercermin dari 76.467 keluarga yang menerima dukungan pendanaan renovasi rumah, memperkuat komitmen untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih aman dan sehat.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat dedikasi banyak pihak yang bekerja dengan sepenuh hati. Sepanjang tahun fiskal 2026, sebanyak 1.234 relawan dari berbagai latar belakang turut ambil bagian dalam kegiatan pembangunan rumah layak huni. Bersama staf Habitat Indonesia, para mitra, dan donatur, mereka menjadi bagian penting dari gerakan kolektif yang menghadirkan perubahan nyata di lapangan.

Kolaborasi menjadi fondasi utama dari setiap capaian ini. Dukungan yang terus mengalir dari berbagai pihak memungkinkan Habitat Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan misinya. Tanpa sinergi yang kuat antara masyarakat, mitra, dan para relawan, perjalanan ini tidak akan sampai pada titik sekarang.

Dalam satu tahun terakhir, Habitat for Humanity Indonesia juga memperkuat langkahnya melalui kerja sama strategis bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta pemerintah daerah untuk mendukung program nasional Tiga Juta Rumah. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mendorong terciptanya kawasan permukiman yang tertata dan berkelanjutan. Salah satu wujud nyata dari kerja sama ini adalah revitalisasi Kampung Tanjung Kait di Kabupaten Tangerang, di mana sebanyak 110 keluarga nelayan kini telah memiliki akses terhadap kepemilikan tanah serta rumah layak huni yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana dasar, sehingga menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan terencana.

Pencapaian program unggulan Habitat for Humanity Indonesia selama 29 Tahun. Grafis: HFHI/Tias Ester Widhari

Baca juga: Transformasi Tanjung Kait: Menko Infrastruktur dan Jajaran Pejabat Tinggi Tinjau Model Pemukiman Nelayan Tangguh dan Berkeadilan

Direktur Nasional Habitat Indonesia, Handoko Ngadiman, menegaskan bahwa seluruh capaian ini tidak terlepas dari kekuatan kolaborasi yang terbangun selama ini.

“Kami percaya bahwa setiap orang berhak memiliki tempat tinggal yang layak. Apa yang telah kami capai hingga hari ini adalah hasil dari kepercayaan dan kerja bersama banyak pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh mitra, donatur, dan relawan yang telah berjalan bersama kami menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di Indonesia,” ujar Handoko.

Ke depan, Habitat Indonesia terus berkomitmen untuk memperluas dampak programnya. Tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, setiap inisiatif dirancang untuk memberikan perubahan yang berkelanjutan, mendorong kemandirian, meningkatkan kualitas hidup, serta membuka peluang yang lebih luas bagi keluarga penerima manfaat.

Handoko juga menekankan bahwa perubahan yang berarti hanya dapat terwujud melalui kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.

“Kami yakin, ketika berbagai pihak bergerak bersama, kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera bagi lebih banyak keluarga di Indonesia,” tambahnya.

Perjalanan ini tentu belum berakhir. Masih banyak keluarga yang menantikan akses terhadap hunian yang layak dan kehidupan yang lebih baik. Namun dengan semangat kolaborasi yang terus terjaga, Habitat Indonesia akan tetap melangkah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi bagian dari perubahan yang nyata.

Mari bersama-sama melanjutkan langkah ini, menyemai lebih banyak harapan, menghadirkan lebih banyak kehidupan yang layak, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – BOSCH1
Aksi Relawan

Foto: 30 Relawan BOSCH Bangun Akses Air Bersih untuk 40 Rumah di Bekasi

Bekasi, 28 April 2026 – Akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan nyata bagi sebagian masyarakat, termasuk di Desa Pasirranji dan Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Keterbatasan distribusi air yang belum merata membuat warga harus berjuang lebih keras memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau tiba.

Menjawab tantangan tersebut, Bosch Indonesia bersama Habitat for Humanity Indonesia melalui program “BOSCH Water Project” menghadirkan dukungan berupa pembangunan sambungan air PDAM ke 40 rumah di kedua desa.

Sebanyak 30 relawan Bosch Indonesia hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan volunteering pada 22 April 2026 lalu. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kolaborasi, di mana para relawan berkontribusi langsung dalam proses pembangunan untuk mendukung perubahan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga penerima manfaat.

Fenny Sofyan, Country Head of Corporate Communications, Branding Management, and Government Relations BOSCH Indonesia, menyampaikan:

“Kegiatan ini menjadi suatu kebanggaan bagi kami dapat terlibat langsung dalam membangun akses air bersih bagi keluarga-keluarga di sini. Dengan apa yang kita lakukan bersama, saya berharap keluarga penerima manfaat dapat merasakan peningkatan kualitas hidup, karena air adalah kebutuhan yang sangat mendasar, dan dampaknya bisa meluas, termasuk pada kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka.” ujarnya.

Yuk, simak momen kebersamaan dan semangat para relawan dalam menghadirkan akses air bersih melalui foto-foto berikut ini.

Kegiatan dimulai dengan persiapan. Para relawan mengenakan helm keselamatan dan sarung tangan sebagai bentuk komitmen untuk bekerja dengan aman sebelum turun ke lapangan.
Sebelum memulai aktivitas, para relawan mengikuti sesi pemanasan bersama untuk memastikan kondisi tubuh tetap prima selama kegiatan berlangsung.
Arahan teknis diberikan oleh Konkordius Nobel, Project Coordinator Habitat for Humanity Indonesia. Para relawan dikenalkan dengan peralatan yang akan digunakan dan dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai peran masing-masing.
Kelompok pertama mulai menggali saluran pipa. Tanah demi tanah diangkat untuk membuka jalur bagi pemasangan pipa HDPE yang akan mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga.
Di bawah terik matahari, semangat para relawan tetap terjaga. Kerja sama dan kebersamaan menjadi energi yang menggerakkan setiap langkah di lapangan.
Menggunakan bor BOSCH, relawan berupaya membongkar lapisan beton untuk membuka jalur baru bagi pemasangan pipa air bersih.
Di sisi lain, kelompok relawan lainnya mempersiapkan bata ringan sebagai dudukan untuk pemasangan meteran air di setiap rumah penerima manfaat.
Junianto Nugroho, Senior Project Manager Habitat for Humanity Indonesia, memberikan arahan langsung kepada relawan dalam proses pemasangan meteran air agar sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Upaya bersama akhirnya membuahkan hasil. Meteran air berhasil terpasang, dan aliran air bersih mulai mengalir ke rumah warga untuk pertama kalinya.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama para relawan BOSCH. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – IES (7)
Aksi Relawan

Tawa, Peluh, dan Harapan: Cerita Relawan IES di Mauk, Tangerang

Tangerang, 18 April 2026 – Pagi itu, sinar matahari perlahan menembus sela-sela tenda putih yang berdiri di lokasi pembangunan rumah layak huni di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Udara terasa hangat, bukan hanya karena mentari yang mulai meninggi, tetapi juga karena energi puluhan relawan yang telah bersiap memulai hari dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Sebanyak 40 relawan dari Yayasan IES Jakarta hadir dengan satu tujuan yang sama, terlibat langsung dalam proses pembangunan rumah layak huni bersama Habitat for Humanity Indonesia. Bagi sebagian dari mereka, ini menjadi pengalaman pertama terjun langsung ke lapangan konstruksi, memegang alat bangunan, dan berkontribusi secara nyata dalam proses pembangunan rumah.

Kegiatan bertajuk “Building Hearts” yang dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026 lalu menjadi ruang bagi para relawan untuk tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dan merasakan. Sebelum aktivitas dimulai, seluruh peserta mengikuti sesi safety briefing dan pemanasan. Langkah ini menjadi penting untuk memastikan setiap proses berjalan dengan aman, terlebih bagi relawan yang belum terbiasa dengan aktivitas fisik di lapangan.

Setelah itu, para relawan dibagi ke dalam empat kelompok. Dua kelompok bertugas menggali pondasi, sementara dua kelompok lainnya mulai memasang dinding rumah. Aktivitas yang tampak sederhana ini menjadi fondasi awal dari perubahan besar bagi empat keluarga penerima manfaat yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Keempat keluarga tersebut merupakan bagian dari masyarakat berpenghasilan rendah yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh harian lepas, dengan penghasilan tidak lebih dari Rp1.500.000 per bulan. Dengan kondisi tersebut, mereka harus bertahan di hunian yang jauh dari kata layak. Namun, melalui dukungan berkelanjutan dari relawan Yayasan IES Jakarta sejak tahun 2023, mereka kini menjadi bagian dari 56 keluarga yang mendapatkan kesempatan untuk memiliki rumah yang lebih aman dan layak huni.

Baca juga: Menyemai Asa Kedua Bersama IES Jakarta Melalui Rumah Layak Huni

Di bawah terik matahari, suasana di lokasi pembangunan terasa hidup. Para relawan bekerja bahu membahu, saling membantu, dan tidak jarang diselingi tawa serta canda yang mencairkan suasana. Aktivitas seperti menggali tanah atau memasang material bangunan yang sebelumnya terasa asing, kini justru menjadi pengalaman yang penuh makna.

Salah satu relawan, Markus, yang telah mengikuti kegiatan ini untuk ketiga kalinya, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung di lapangan memberinya perspektif baru tentang arti berbagi.

“Buat saya, kegiatan ini adalah bentuk nyata bagaimana kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi untuk sesama. Lewat pembangunan rumah layak huni ini, saya berharap keluarga-keluarga yang menerima bisa benar-benar memperbaiki kualitas hidup mereka ke depan,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Rajib, relawan lainnya, yang melihat pembangunan rumah ini sebagai awal dari perubahan yang lebih besar bagi para penerima manfaat.

“Saya percaya rumah ini bisa jadi pondasi awal untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan tempat tinggal yang layak, keluarga-keluarga ini punya kesempatan lebih besar untuk berkembang, termasuk memberikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka,” ungkap Rajib.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru, dari aksi-aksi sederhana yang dilakukan bersama, dampak yang lebih luas dapat tercipta. Meski kegiatan berlangsung hingga tengah hari, pengalaman yang didapat para relawan terasa jauh lebih panjang dari waktu yang mereka habiskan di lokasi.

Lebih dari sekadar membangun rumah, hari itu menjadi tentang membangun empati, memperluas cara pandang, serta merasakan secara langsung bagaimana sebuah hunian layak dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Dalam beberapa minggu ke depan, empat keluarga penerima manfaat akan segera menempati rumah baru mereka. Sebuah tempat tinggal yang tidak hanya lebih kokoh secara fisik, tetapi juga menghadirkan rasa aman, kenyamanan, dan harapan baru.

Semoga rumah-rumah ini menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik, tempat di mana setiap anggota keluarga dapat beristirahat dengan tenang, berbagi kehangatan, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Foto: HFHI/Astridinar Vania

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Prudential1
Kabar Habitat

Habitat Indonesia dan Prudential Lanjutkan Program Desa Maju Prudential di Bogor

Bogor, 20 April 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Prudential Indonesia kembali melanjutkan Program Desa Maju Prudential (DMP) untuk tahun kedua. Keberlanjutan program ini menegaskan komitmen kedua pihak dalam mendorong peningkatan kualitas hunian, kesehatan, dan ketahanan masyarakat secara terpadu.

Pelaksanaan program tahun ini ditandai dengan keterlibatan 110 relawan Prudential Indonesia dalam berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang berlangsung di Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor pada 11 dan 18 April 2026 lalu. Para relawan terlibat langsung dalam pembangunan pondasi dan dinding rumah layak huni, pengelolaan sampah, pembuatan lubang biopori, hingga penyelenggaraan edukasi kesehatan (health talk) dan layanan pemeriksaan kesehatan (medical check up) bagi warga. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada 7 April.

Pada tahun kedua implementasinya, program DMP menargetkan pembangunan 15 rumah layak huni baru serta 10 unit toilet rumah tangga. Selain itu, program ini juga mencakup renovasi dua sekolah, penanaman 60 bibit tanaman, serta berbagai pelatihan bagi masyarakat. Sebanyak 110 keluarga akan menerima pelatihan konstruksi dasar dan rumah sehat, pengelolaan sampah, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Program ini juga diperluas dengan pelatihan pendekatan partisipatif untuk kesadaran tempat tinggal yang aman (PASSA) bagi anggota Destana, serta pelatihan manajemen risiko bencana berbasis masyarakat (CBDRM).

Capaian ini melanjutkan hasil positif yang telah diraih pada tahun sebelumnya. Pada fase awal program, DMP berhasil membangun 12 rumah layak huni baru dan 11 toilet rumah tangga, serta merenovasi dua sekolah. Program juga mendorong ekspansi bank sampah mandiri beserta fasilitas pendukungnya, menanam 48 bibit tanaman, serta memberikan pelatihan konstruksi dasar dan rumah sehat kepada 100 keluarga. Selain itu, sebanyak 175 pengurus sampah dan perwakilan keluarga mendapatkan pelatihan pengelolaan sampah, serta 100 keluarga menerima pelatihan PHBS.

Baca juga: Revitalisasi Kampung Tanjung Kait: Sinergi Habitat for Humanity Indonesia, Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Prudential Pemenuhan Rumah Layak Huni

Maria Rosalinda, Chief Risk & Compliance Officer Prudential Indonesia, menyampaikan harapannya agar program ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Saya mewakili Prudential, berharap dengan adanya program Desa Maju Prudential ini dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga baik melalui pembangunan rumah layak huni, sarana toilet, maupun melalui kegiatan layanan kesehatan yang diselenggarakan seperti hari ini,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri, yang menilai program ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat. “Dengan adanya program ini, sangat bermanfaat sekali bagi masyarakat Gunung Putri khususnya untuk penerima manfaat langsung program DMP. Saya mengapresiasi kolaborasi dan dukungan antara Prudential Indonesia dengan Habitat Indonesia yang telah terjalin selama tiga tahun ini, serta sejalan dengan program pemerintah yaitu Nol Rumah Tidak Layak Huni. Saya juga bersyukur karena program ini tidak hanya fokus pada pembangunan rumah, melainkan juga sektor kesehatan dan pendidikan,” ungkapnya.

Sepanjang tahun 2025, program Desa Maju Prudential telah menjangkau total 18.160 penerima manfaat di Desa Gunung Putri, yang terdiri dari 1.861 penerima manfaat langsung dan 16.299 penerima manfaat tidak langsung.

Ke depan, kolaborasi antara Habitat Indonesia dan Prudential Indonesia diharapkan terus memperluas dampak program melalui pendekatan yang terintegrasi, tidak hanya pada penyediaan hunian layak, tetapi juga peningkatan kualitas kesehatan, lingkungan, dan kapasitas masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Foto: HFHI/Astridinar Vania

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI
Kisah Perubahan

Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya

Tangerang, 17 April 2026 – Ada masa ketika hujan bukanlah sesuatu yang dinanti, melainkan ditakuti. Bagi Siti, setiap angin kencang dan derasnya air hujan justru menjadi tanda bahwa ia dan keluarganya harus bersiap meninggalkan rumah, bukan untuk mencari perlindungan, tetapi untuk menghindari bahaya.

Siti, 40 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Rajeg, Kabupaten Tangerang bersama suami dan tiga orang anaknya. Suaminya bekerja sebagai pedagang barang rongsokan di Jakarta, dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam seminggu, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp200.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah hingga makan sehari-hari.

Kondisi rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari lapisan seng, triplek, dan terpal yang ditopang bilik bambu. Atap gentengnya banyak yang pecah, sementara lantainya masih berupa tanah. Bahkan, rumah itu tidak memiliki kamar mandi dan toilet sendiri.

“Rumah dulu kalau dibilang enggak layak, ya memang enggak layak Pak. Kalau ada hujan, ya kita sekeluarga kebocoran. Kalau ada hujan angin besar, bukannya kita berlindung di dalam, tapi malah keluar rumah, takut kerobohan,” ujar Siti.

Ketiadaan fasilitas dasar membuat kehidupan sehari-hari menjadi penuh keterbatasan. Untuk kebutuhan sederhana seperti mandi, buang air, hingga memasak, Siti harus bergantung pada rumah orang tua atau saudara. “Mau buang air besar ya numpang, mau mandi ya numpang. Buat masak aja saya minta air,” tuturnya.

Potret keluarga Siti di depan rumah mereka yang belum layak huni di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Indah Mai

Dalam kondisi serba terbatas, Siti juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kebutuhan makan keluarga tidak selalu terpenuhi. Ada hari ketika mereka bisa makan di pagi hari, tetapi tidak di sore hari, atau sebaliknya. Situasi ini tentu berdampak pada tumbuh kembang anak-anaknya, yang kesulitan mendapatkan ruang yang layak untuk bermain maupun belajar.

“Hidup kami serba pas-pasan Pak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bapak kan kerjanya kalau pulang seminggu atau dua minggu sekali, tergantung Bapak pas pulang bisa bawa uang,” kata Siti.

Ujian hidup semakin berat ketika sang suami jatuh sakit. Tanpa pemasukan, Siti harus menghadapi kondisi yang serba tidak pasti di tengah kebutuhan anak-anak yang terus berjalan.

“Dulu waktu sebelum rumah ini dibangun, Bapak pernah jatuh sakit, Bapak tidak kerja, dan anak-anak lagi butuh uang untuk sekolah. Saya bingung dan menangis harus seperti apa, tidak ada pemasukan sama sekali, ditambah lagi rumah tidak layak seperti itu,” kenangnya.

Dalam situasi tersebut, Siti hanya bisa mengandalkan bantuan dari orang tua dan saudara. Rasa malu kerap menghampiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di lingkungan sekitar demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan.

Di tengah segala keterbatasan itu, Siti hanya bisa bertahan dan berserah. “Ya karena keterbatasan ini, saya hanya bisa menyesuaikan dengan kondisi rumah dan berserah kepada Allah,” ujarnya.

Hingga akhirnya, harapan itu datang. Melalui dukungan para dermawan, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah milik Siti menjadi hunian yang layak. Kini, rumah Siti telah berubah sepenuhnya. Dinding berwarna krem berdiri kokoh, atap yang kuat melindungi dari panas dan hujan, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak kini tersedia di dalam rumah.

“Alhamdulillah sekarang rumah saya sudah jadi layak huni. Kalau hujan saya sudah enggak pernah kebocoran lagi, dan enggak perlu lagi lari keluar rumah, ke rumah saudara,” ujar Siti dengan penuh syukur.

Potret keluarga Siti di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni

Perubahan ini membawa dampak besar bagi kehidupan keluarganya. Siti kini merasa lebih percaya diri dan tidak lagi merasa malu. “Sekarang saya lebih banyak bersyukurnya, akhirnya saya punya rumah seperti tetangga-tetangga saya. Apalagi sekarang saya punya toilet dan kamar sendiri, saya sudah enggak malu lagi harus menumpang ke rumah orang,” katanya.

Anak-anak Siti pun kini memiliki ruang sendiri untuk beristirahat dan belajar. Jika dulu mereka harus tidur di area dapur, kini mereka memiliki kamar yang memberikan kenyamanan dan privasi. “Kalau sekarang kan enggak (seperti dulu), anak-anak punya kamar khusus untuk tidur, tidak dicampur lagi,” ujar Siti.

Selain itu, kondisi rumah yang lebih layak juga turut mendukung kesehatan keluarga. Lingkungan yang lebih bersih, sanitasi yang memadai, serta struktur bangunan yang aman memberikan rasa tenang yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.

Dengan perubahan ini, Siti menatap masa depan dengan harapan baru. “Saya harap rumah baru ini bisa mengantarkan rejeki yang baru buat keluarga saya, dan masa sulit dahulu tidak terulang kembali,” ujarnya.

Siti adalah satu dari jutaan keluarga di Indonesia yang telah keluar dari belenggu rumah tidak layak. Di balik setiap rumah yang berdiri, ada cerita tentang ketahanan, harapan, dan mimpi yang perlahan mulai terwujud. “Rumah bagi saya adalah segala-galanya,” tutupnya.

Mari bersama membantu lebih banyak keluarga seperti Siti untuk memiliki rumah yang aman dan layak huni. Kunjungi tautan ini dan jadilah bagian dari perubahan nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Tanjung Kait4
Kabar Habitat

Transformasi Tanjung Kait: Menko Infrastruktur dan Jajaran Pejabat Tinggi Tinjau Model Pemukiman Nelayan Tangguh dan Berkeadilan

Tangerang, 16 April 2026 – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP), Wakil Gubernur Banten, dan Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau hasil revitalisasi Kampung Nelayan Tanjung Kait oleh Habitat for Humanity Indonesia di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang pada hari Kamis (16/4). Kunjungan ini menandai keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil dalam menciptakan model pemukiman pesisir yang inklusif dan tahan iklim.

“Kita sama-sama melihat kawasan pemukiman nelayan kini bertransformasi menjadi layak untuk ditinggali. Kita ingin memastikan kawasan ini tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga produktif. Bersama Habitat for Humanity Indonesia yang membangun dan perbaikan 110 rumah, kita lihat secara langsung masyarakat senang dapat tinggal di rumah yang nyaman. Saya sangat mengapresiasi tiap pihak, Kementerian KKP, Kementerian ATR-BP, Pemerintah Banten dan Kabupaten Tangerang, juga Koperasi Mitra Dhuafa yang berkolaborasi dalam revitalisasi desa nelayan ini. Harapannya kita bisa terus memperkuat masyarakat di sini dari waktu ke waktu,” ujar AHY.

“Harapan kami, semoga sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga nonpemerintah terkait penataan kawasan pesisir dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir yang tidak hanya membangun hunian yang layak tapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakatnya,” tambah Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid.

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Tangerang Resmikan Revitalisasi Tanjung Kait untuk Masyarakat Pesisir

Program revitalisasi Tanjung Kait, yang merupakan bagian dari kampanye global “Home Equals” oleh Habitat for Humanity Indonesia, telah berhasil mengubah kawasan informal yang rentan menjadi lingkungan hunian yang legal dan layak bagi 110 keluarga nelayan tradisional. Proyek ini membuktikan bahwa tantangan pemukiman di Indonesia dapat diatasi melalui pendekatan holistik yang berpusat pada masyarakat, mendinginkan kontrak sosial yang selama ini terabaikan akibat ketimpangan.

“Transformasi Tanjung Kait dari kumuh menjadi pemukiman legal bagi 110 keluarga nelayan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang kompleks. Menggunakan metode partisipatif, warga terlibat aktif merancang hunian tahan iklim dan mitigasi bencana. Keberhasilan ini didukung manajemen kuat antara Habitat Indonesia, pemerintah, serta donor seperti Prudential, PT Lautan Luas, dan mitra industri lainnya untuk membangun ekosistem hunian berkeadilan,” terang Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia.

Revitalisasi Kampung Tanjung Kait didasarkan pada empat pilar utama yang bertujuan memulihkan martabat manusia dan keadilan sosial:

  1. Kepastian Hak Atas Tanah (Tenure Security): Memutus siklus kerentanan dengan memfasilitasi akses kepemilikan tanah legal melalui skema pembiayaan inklusif bersama Koperasi KOMIDA.
  2. Partisipasi Bermakna: Warga terlibat aktif sebagai arsitek masa depan mereka sendiri melalui metode PASSA (Participatory Approach for Safe Shelter and Settlements Awareness).
  3. Adaptasi Perubahan Iklim: Pembangunan unit rumah yang dirancang dengan prinsip Build Back Safer (BBS) untuk menghadapi ancaman banjir rob dan angin ekstrem di wilayah pesisir.
  4. Akses Layanan Dasar: Penyediaan infrastruktur terintegrasi mulai dari air bersih, sanitasi, hingga jaringan listrik dan drainase guna memulihkan martabat dan produktivitas warga.

Program yang dimulai sejak Juni 2023 ini telah melewati berbagai tahapan krusial, termasuk legalisasi lahan pada Oktober 2024 dan penyelesaian konstruksi pada Desember 2025. Kini, warga telah kembali ke hunian yang permanen dan sehat. Ke depan, Tanjung Kait diproyeksikan menjadi “Desa Wisata Nelayan Tradisional” untuk mendorong kemandirian ekonomi dan ekologi masyarakat.

Foto & Penulis: HFHI/Astridinar Vania

(as/kh)

HFHI – BMZ1
Kabar Habitat

Dorong Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja, Habitat Indonesia Paparkan Studi Nasional Implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) di Sektor Konstruksi

Tangerang, 14 April 2026 – Habitat for Humanity Indonesia menyampaikan hasil Studi Nasional Implementasi Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) di Sektor Konstruksi sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas dan daya saing tenaga kerja konstruksi di Indonesia, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sertifikasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kota Tangerang pada Selasa, 14 April 2026, dan menjadi wadah berbagi pembelajaran serta mendorong kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Sektor konstruksi memiliki peran strategis dalam pembangunan infrastruktur dan perumahan, sekaligus menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar. Sayangnya, hanya sekitar 6% atau 1 dari 17 tukang di Indonesia yang telah tersertifikasi. Oleh karena itu, peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi faktor kunci untuk memastikan pembangunan yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Sertifikat Keterampilan Kerja (SKK) pun menjadi instrumen krusial untuk memastikan tenaga kerja konstruksi memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional.

Studi nasional ini merupakan bagian dari rangkaian upaya Habitat for Humanity Indonesia dalam memperkuat ekosistem tenaga kerja konstruksi, yang telah dimulai sejak tahun 2023 melalui program pelatihan dan sertifikasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sepanjang 2023–2025, sebanyak 581 pekerja konstruksi di Kota dan Kabupaten Tangerang telah berhasil memperoleh sertifikasi nasional di berbagai bidang keterampilan.

Tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas, Habitat for Humanity Indonesia juga mendorong akses terhadap peluang kerja melalui penyelenggaraan Job Fair sektor konstruksi pada tahun 2025, yang mempertemukan tenaga kerja terlatih dengan berbagai perusahaan konstruksi nasional dan lokal. Upaya ini menegaskan pentingnya kesinambungan antara pelatihan, sertifikasi, dan penyerapan tenaga kerja dalam menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui studi nasional ini, Habitat Indonesia mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam implementasi SKK, yaitu keterbatasan akses informasi bagi pekerja informal, biaya sertifikasi yang masih menjadi hambatan, serta proses administrasi yang belum sepenuhnya ramah bagi pekerja di lapangan. Studi ini juga menyoroti peluang untuk memperkuat sistem sertifikasi di masa mendatang.

Baca juga: Mengukir Jalan Sukses Tukang Bangunan dan Kesempatan Bersaing di Dunia Kerja

Arwin Soelaksono selaku Program Director Habitat for Humanity Indonesia menyoroti pentingnya peran pekerja konstruksi dalam pembangunan serta tantangan dalam mengakses sertifikasi keterampilan. “Pekerja konstruksi memiliki peran penting dalam pembangunan, namun masih menghadapi tantangan dalam mengakses sertifikasi. Program yang telah Habitat Indonesia jalankan selama tiga tahun terakhir ini berupaya untuk mempersiapkan para pekerja konstruksi menjadi lebih terampil, terdidik, serta percaya diri dengan keterampilan yang mereka miliki. Melalui diseminasi ini, kami berharap semakin banyak tenaga kerja memiliki keterampilan terstandar dan akses terhadap peluang kerja yang lebih baik,” ujarnya.

Program yang telah berjalan sejak 2023 di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang ini menunjukkan hasil yang sangat signifikan, di mana 96% pekerja berhasil lulus sertifikasi. Pencapaian ini mengonfirmasi bahwa para pekerja pada dasarnya memiliki kapasitas dan kemampuan yang mumpuni. Hal ini membuktikan bahwa hambatan nyata yang selama ini dihadapi bukanlah kurangnya kompetensi individu, melainkan terbatasnya akses terhadap sistem sertifikasi itu sendiri.

Ir. Kimron Manik, Direktur Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) turut menegaskan bahwa sektor konstruksi merupakan salah satu pilar penting dalam mendukung kemajuan Indonesia. “Kegiatan pembangunan tidak terlepas dari sumber daya manusia di bidang konstruksi yang handal dan terampil. Kami mengapresiasi Habitat for Humanity Indonesia atas inisiatifnya dalam menyelenggarakan program pelatihan SKK serta melakukan studi lebih lanjut terkait implementasi SKK di sektor konstruksi. Kami berharap, hasil studi dan rekomendasi kebijakan ini dapat menjadi dasar untuk memperkuat kolaborasi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pelaku industri, lembaga pelatihan, dan organisasi masyarakat sipil dalam memperkuat sistem sertifikasi tenaga kerja konstruksi yang lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan.

Diseminasi hasil studi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Federal Jerman, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bappeda Kabupaten Tangerang, UPT BLK Dinas Ketenagakerjaan Tangerang, serta Dinas Bina Marga, bersama dengan perwakilan organisasi masyarakat sipil dan media.

Habitat for Humanity Indonesia berharap hasil studi ini dapat menjadi referensi strategis dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja konstruksi, memperluas akses sertifikasi bagi masyarakat, serta mendukung pembangunan perumahan yang aman dan layak bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Penulis: Syefira Salsabilla

(av/kh)

HFHI – BSPS Sragen
Kabar Habitat

Kolaborasi untuk Hunian Layak: Menjawab Tantangan Backlog Perumahan di Sragen

Sragen, 14 April 2026 – Sejak dilantiknya Prabowo Subianto sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024, program pembangunan perumahan nasional kembali menjadi prioritas. Salah satu inisiatif utama yang terus digalakkan adalah Program 3 Juta Rumah, yang bertujuan mengurangi kesenjangan akses hunian layak di Indonesia.

Urgensi program ini tidak lepas dari kondisi defisit perumahan yang masih tinggi dan bersifat multidimensi. Berdasarkan data Susenas tahun 2024, diperkirakan lebih dari 9,9 juta keluarga terdampak backlog perumahan, kondisi di mana keluarga tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak, bahkan sering kali harus tinggal secara berdesakan bersama beberapa generasi dalam satu atap.

Di sisi lain, sekitar 26,9 juta rumah tangga tinggal di hunian yang tidak aman, tidak sehat, atau dibangun dengan kualitas yang buruk. Kelompok yang paling terdampak adalah keluarga berpenghasilan rendah pada desil 1 dan 2. Tercatat sebanyak 2,59 juta keluarga dari kelompok ini masuk dalam kategori backlog perumahan, sementara sekitar 9 juta lainnya tinggal di hunian yang sangat tidak layak.

Ketimpangan yang Masih Terjadi

Kerentanan juga semakin terlihat pada rumah tangga yang dikepalai perempuan. Dari total keluarga terdampak backlog, sekitar 340.000 rumah tangga atau 22% merupakan rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan. Selain itu, terdapat 2,986 juta rumah tangga perempuan yang tinggal di hunian di bawah standar kelayakan, menegaskan adanya dimensi ketimpangan yang perlu ditangani secara lebih inklusif.

Kondisi tersebut tercermin secara nyata di Kabupaten Sragen, salah satu wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di kawasan Solo Raya dan termasuk dalam delapan wilayah termiskin di Jawa Tengah. Dari total populasi 1.021.435 jiwa, sebanyak 110.650 orang atau sekitar 12,41% hidup di bawah garis kemiskinan.

Permasalahan perumahan di Sragen pun menunjukkan tantangan yang serupa. Data Pemerintah Kabupaten Sragen mencatat sebanyak 13.945 keluarga berada dalam kelompok desil pendapatan 1 dan 2 yang tinggal di hunian tidak layak. Di dalamnya termasuk 3.229 rumah tangga yang dikepalai perempuan dan 1.912 keluarga dengan anggota disabilitas. Selain itu, terdapat 2.151 keluarga dari kelompok ini yang masuk dalam kategori backlog perumahan.

Kondisi rumah tidak layak huni di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Foto: Tim HFHI

Keterbatasan Skema yang Ada

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, pemerintah daerah Sragen menginisiasi program “Desa Tuntas RTLH (Rumah Tidak Layak Huni)” sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan hunian tidak layak. Program ini mengandalkan dua pendekatan utama.

Pertama, melalui keterlibatan pengembang perumahan untuk membangun rumah baru. Namun, pendekatan ini cenderung menyasar rumah tangga dengan pekerjaan formal dan kemampuan finansial yang lebih stabil, sehingga belum sepenuhnya menjangkau keluarga di desil 1 dan 2 yang bekerja di sektor informal.

Kedua, melalui dukungan pemerintah dalam program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Dalam skema ini, setiap rumah tangga menerima bantuan sebesar Rp20 juta, yang terdiri dari Rp17,5 juta untuk material dan Rp2,5 juta untuk upah tukang. Meskipun demikian, keterbatasan pendapatan membuat keluarga penerima masih kesulitan untuk menutup kekurangan biaya pembangunan.

Baca juga: Backlog Perumahan di Indonesia: Tantangan Besar dan Upaya Kolaboratif Mewujudkan Hunian Layak

Kolaborasi untuk Menutup Kesenjangan

Menjawab kesenjangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sragen melalui skema pendanaan pendamping (match-funding). Program ini dirancang untuk melengkapi subsidi BSPS dengan tambahan dukungan dana dari para dermawan, sehingga dapat menjangkau keluarga yang paling rentan.

Melalui skema ini, subsidi pemerintah sebesar Rp20 juta dipadankan dengan tambahan Rp20 juta dari Habitat Indonesia. Dengan demikian, keluarga penerima tidak dibebani kontribusi finansial, melainkan berpartisipasi melalui kontribusi tenaga atau sweat equity dalam proses pembangunan rumah mereka.

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman (kiri), menjalin kerja sama dengan Bupati Sragen (kanan) dalam program pendanaan pendamping (match funding) BSPS di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Foto: Tim HFHI

Kekuatan utama program ini terletak pada partisipasi aktif keluarga penerima manfaat. Mereka terlibat langsung dalam proses perencanaan rumah dengan pendampingan dari pengawas konstruksi Habitat Indonesia dan fasilitator pemerintah setempat. Selain itu, keluarga juga berperan dalam pengelolaan material, pengawasan tenaga kerja, hingga memastikan hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan, termasuk aspek aksesibilitas bagi penyandang disabilitas serta keamanan bagi rumah tangga yang dikepalai perempuan.

Tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, program ini juga mencakup pelatihan Building Back Safer (BBS) yang membekali keluarga dengan pengetahuan dan keterampilan konstruksi tahan bencana. Upaya ini diperkuat dengan kegiatan advokasi melalui lokakarya, kampanye, dan berbagai inisiatif lainnya untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu kemiskinan hunian serta pentingnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Program yang direncanakan berlangsung selama delapan bulan ini menargetkan 101 keluarga sebagai penerima manfaat utama melalui skema pendanaan kolaboratif. Selain itu, sebanyak 130 individu perwakilan keluarga akan mengikuti pelatihan BBS. Secara keseluruhan, program ini diharapkan memberikan manfaat langsung kepada 1.084 individu serta menjangkau 3.145 penerima manfaat tidak langsung.

Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi langkah konkret dalam mengurangi backlog perumahan, sekaligus memastikan bahwa keluarga yang paling rentan tidak tertinggal dalam akses terhadap hunian yang layak.

Mohon dukungan dan doa dari #SahabatHabitat agar pelaksanaan program ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak nyata bagi keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Medco
Kisah Perubahan

Untuk Istri yang Telah Tiada, Rumah Ini Akhirnya Terwujud

Tangerang, 7 April 2026 – Ada luka yang tak selalu terlihat, tetapi terasa setiap kali hujan turun. Bagi Banhawi, setiap tetes air yang jatuh dari atap rumahnya dulu bukan hanya kebocoran, tetapi juga pengingat akan hidup yang penuh keterbatasan.

Di usia 53 tahun, Banhawi menjalani hari-harinya sebagai pencari barang rongsokan di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari, tergantung seberapa banyak barang yang berhasil ia kumpulkan. Dari penghasilan itu, ia harus memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menghadapi ujian berat ketika sang istri jatuh sakit akibat tumor.

Selama empat tahun, Banhawi berjuang merawat istrinya. Biaya obat sebesar Rp100.000 yang hanya cukup untuk tiga hari menjadi beban yang harus ia tanggung di tengah penghasilan yang pas-pasan. Di saat yang sama, rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak.

Banhawi mencari barang rongsokan sebagai sumber penghasilan utama untuk menghidupi keluarganya sehari-hari dan membiayai pengobatan mendiang istrinya yang pernah menderita tumor di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu yang sudah rapuh, berlubang, dan dipenuhi rayap. Sebagian struktur rumah bahkan mulai miring, dengan atap penyangga yang telah patah. Ketika hujan datang, rumah itu tak lagi mampu memberikan perlindungan.

“Kalau ceritain rumah yang dulu itu saya sedih. Waktu hujan, saya tidak bisa tidur, nadahin bocor-bocor pakai bak,” ujar Banhawi.

Upaya memperbaiki atap dengan plastik pun tak mampu menahan derasnya air hujan. Malam-malam panjang dilalui dengan rasa cemas dan ketidaknyamanan. Bahkan, rasa malu kerap menghampiri ketika ada tetangga yang ingin berkunjung.

“Melihat rumah orang lain sudah pada bagus, tapi rumah saya sendiri apa adanya, di situ saya sangat sedih. Ada tetangga mau ke rumah, saya malu,” kenangnya.

Potret Banhawi di depan rumahnya yang tidak layak huni sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama MedcoEnergi dan Medco Foundation di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Di balik semua keterbatasan itu, Banhawi menyimpan satu keinginan sederhana yakni, membahagiakan istrinya dengan menghadirkan rumah yang layak. Ia terus berusaha memperbaiki rumah seadanya, sambil tetap memenuhi kebutuhan pengobatan sang istri.

“Saya masih ingat dulu Ibu itu selalu bilang ke saya, ‘tolong rumah ini terus diperbaiki, asal jangan ada yang patah atau roboh’. Nah, di situ saya terus perbaiki rumah seadanya sembari saya terus belikan Ibu obat,” ujar Banhawi.

Namun waktu berkata lain. Sang istri akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Banhawi dengan kenangan, harapan yang belum sempat terwujud, dan rumah yang masih jauh dari kata aman.

Hingga akhirnya, titik balik itu datang. Melalui dukungan dari MedcoEnergi dan Medco Foundation, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah Banhawi menjadi layak huni. Ia menjadi salah satu dari 14 keluarga di Rajeg yang menerima manfaat program pembangunan rumah layak huni, bagian dari total 45 rumah yang dibangun di Tangerang, Palembang, dan Bondowoso.

Para relawan MedcoEnergi dan Medco Foundation terlibat dalam pembangunan rumah layak huni milik Bapak Banhawi dan 14 rumah lainnya di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati

Kini, rumah Banhawi berdiri kokoh dengan dinding berwarna putih dan atap baja ringan yang kuat. Rumah itu dilengkapi dua kamar tidur, ruang keluarga, serta kamar mandi dan toilet yang layak, memberikan rasa aman sekaligus mendukung kesehatan melalui sanitasi yang lebih baik.

Perubahan itu membawa ketenangan yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Alhamdulillah sekarang saya jauh lebih tenang, senang bukan main, berbeda dengan yang dulu. Mau ninggalin rumah untuk cari barang rongsok juga sudah enggak khawatir lagi,” katanya.

Lebih dari sekadar tempat tinggal, rumah ini juga menghadirkan semangat baru dalam hidupnya. Banhawi kini bekerja lebih giat, bahkan penghasilannya meningkat hingga Rp300.000 sampai Rp400.000 per hari. Ia mulai merencanakan masa depan, sesuatu yang dulu terasa begitu jauh.

Ke depan, ia ingin merenovasi dapur dan menambahkan kanopi di halaman depan rumahnya secara mandiri, dengan menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit.

Potret Banhawi di depan rumahnya yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama MedcoEnergi dan Medco Foundation di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Di balik senyum dan semangat barunya, tersimpan pula satu harapan yang tak sempat terwujud bersama sang istri. “Kalau umpamanya Ibu masih ada saat ini, saya rasa pasti Ibu senangnya bukan main. Karena ini cita-citanya Ibu untuk bisa punya rumah yang bagus seperti ini,” ucapnya pelan.

Kini, rumah yang dulu penuh kekhawatiran telah berubah menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, tenang, dan harapan baru. Bagi Banhawi, rumah ini bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga bukti bahwa perubahan nyata bisa terjadi. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.

Yuk, simak lebih banyak cerita perubahan lainnya dan lihat bagaimana setiap dukungan Anda dapat menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME Wash
Kabar Habitat

Mengalirkan Harapan, Membangun Ketangguhan: Upaya Tiga Tahun Habitat for Humanity Indonesia Meningkatkan Akses Air dan Sanitasi di Indonesia

Yogyakarta, 31 Maret 2026 – Air adalah sumber kehidupan dan merupakan hak dasar setiap manusia. Namun, bagi sebagian masyarakat di Indonesia, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi tantangan yang nyata.

Sebagai bagian dari komitmen global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-6 (SDG 6), akses terhadap air minum aman, sanitasi layak, dan praktik hidup bersih yang baik merupakan fondasi penting dalam menciptakan kehidupan yang sehat dan bermartabat. Tanpa itu, rumah tidak sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang

Menjawab tantangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia melalui proyek “Strengthening Local Community Resilience in the Water and Sanitation Sector” telah melaksanakan program peningkatan akses air, sanitasi, dan hunian layak secara terpadu selama tiga tahun.

Program ini dilaksanakan secara bertahap di tiga wilayah, yakni Babakan Madang (Bogor) pada Maret 2023–Maret 2024, Wringinanom (Gresik) pada Maret 2024–Maret 2025, dan Nglipar (Gunung Kidul, Yogyakarta) pada Maret 2025–Maret 2026. Pendekatan bertahap ini memungkinkan adaptasi terhadap konteks lokal, sekaligus memperkuat kualitas implementasi melalui pembelajaran dari setiap fase.

Dari Infrastruktur hingga Perubahan Perilaku

Melalui pendekatan terpadu, program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku dan penguatan kapasitas masyarakat.

Sebanyak 75 rumah direnovasi dengan fokus pada peningkatan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan, termasuk pembangunan toilet higienis, penyediaan tangki air, serta perbaikan dapur dan ventilasi. Selain itu, 60 keluarga kini memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi pribadi yang lebih aman dan layak.

Di tingkat komunitas, lebih dari 2.250 keluarga atau lebih dari 10.000 jiwa kini mendapatkan akses air bersih melalui berbagai solusi yang disesuaikan dengan kondisi lokal, mulai dari pemanfaatan mata air hingga sistem distribusi air berbasis komunitas yang dikelola secara mandiri. Upaya ini turut diperkuat melalui renovasi 32 posyandu guna meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak.

Lebih dari sekadar pembangunan, program ini juga menekankan pentingnya perubahan perilaku sebagai kunci keberlanjutan. Sebanyak 135 keluarga mendapatkan edukasi mengenai perawatan rumah dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam keseharian. Sementara itu, 2.250 masyarakat lainnya dibekali pengetahuan tentang praktik higiene, sanitasi, serta kesehatan keluarga, termasuk penggunaan air yang aman dan kebiasaan mencuci tangan.

Untuk memastikan keberlanjutan, sebanyak 90 anggota komite air lokal juga diperkuat kapasitasnya untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan fasilitas air di tingkat komunitas. Kesadaran publik juga diperluas melalui berbagai kegiatan kampanye yang menjangkau lebih dari 3.775 individu, termasuk melalui peringatan Hari Air Sedunia dan Hari Toilet Sedunia, serta berbagai aktivitas edukatif lainnya yang mendorong kepedulian terhadap air bersih dan sanitasi.

Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Pembelajaran Berbasis Data untuk Dampak Berkelanjutan

Sebagai bagian dari sistem Monitoring, Evaluation, Accountability, and Learning (MEAL), studi awal (baseline) telah dilakukan di setiap lokasi untuk memetakan kondisi awal terkait kualitas hunian, akses air dan sanitasi, perilaku WASH, serta kapasitas komunitas.

Setelah seluruh intervensi selesai, studi akhir (endline/impact study) dilakukan untuk mengukur sejauh mana proyek ini memberikan perubahan yang nyata dan terukur dalam kehidupan masyarakat.

Hasil studi ini tidak hanya menjadi laporan evaluasi, tetapi juga menjadi dasar pembelajaran yang lebih luas. Melalui kegiatan Learning Event, temuan berbasis bukti akan didiseminasikan untuk merefleksikan efektivitas pendekatan hunian terintegrasi dengan WASH, sekaligus mengeksplorasi potensi replikasi model ini dalam mendukung pencapaian SDG 6 dan peningkatan kualitas permukiman.

Mendorong Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat

Sebagai penutup rangkaian program, Habitat for Humanity Indonesia menyelenggarakan Learning Event pada Selasa, 31 Maret 2026. Kegiatan ini turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, akademisi, serta perwakilan komunitas.

Melalui forum ini, para peserta bersama-sama merefleksikan capaian program, mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan, serta merumuskan rekomendasi strategis berbasis bukti untuk penguatan layanan WASH yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dan mendorong komitmen bersama dalam menghadirkan akses air bersih, sanitasi layak, dan hunian yang sehat bagi seluruh masyarakat.

Mengalirkan Harapan, Menguatkan Kehidupan

Selama tiga tahun pelaksanaan, program ini telah memberikan dampak bagi lebih dari 200.000 jiwa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, dampak yang dihadirkan tidak hanya terletak pada infrastruktur yang dibangun, melainkan pada perubahan kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat.

Bersama pemerintah, mitra, dan komunitas, Habitat for Humanity Indonesia terus berupaya untuk memperkuat ketangguhan dan menghadirkan kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Karena setiap keluarga berhak untuk hidup dengan layak, sehat, dan bermartabat.

Foto: HFHI/Patrik Cahyo & Kevin Herbian

Penulis: Syefira Salsabilla

(av/kh)