logotype
Donate

Kategori: Kisah Perubahan

HFHI – Pakuwon
Kisah Perubahan

Rumah yang Dulu Ditakuti, Kini Jadi Tempat Pulang Penuh Harapan

Bogor, 13 Mei 2026 – Ada rasa cemas yang tak pernah benar-benar pergi dari benak Ahmad. Setiap malam saat ia berangkat bekerja, pikirannya selalu tertinggal di rumah, pada istri dan putrinya yang harus bertahan di dalam hunian yang rapuh.

Ahmad (48), seorang buruh harian pabrik, tinggal bersama keluarga kecilnya di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika ada sedikit sisa, uang itu digunakan untuk memperbaiki rumah seadanya, sekadar agar tidak terlalu bocor saat hujan turun.

Rumah yang mereka tempati saat itu jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, atap gentengnya rapuh, dan struktur bangunannya mulai melemah dimakan usia. “Kalau ada hujan angin, itu kami takut rumah roboh,” ujar Ahmad.

Potret Ahmad bersama istrinya berdiri di depan rumah mereka sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Peduli menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Ari Darmawan

Kekhawatiran itu semakin besar karena Ahmad kerap bekerja pada shift malam. “Setiap saya bekerja, saya selalu khawatir sama anak dan istri di rumah. Kepikiran terus, pikiran enggak tenang, takut rumah kenapa-kenapa,” tuturnya.

Namun bukan hanya soal keamanan yang membebani pikirannya. Sebagai seorang ayah, hatinya terasa semakin berat ketika mengetahui putrinya merasa malu dengan kondisi rumah mereka.

“Anak saya cerita, kalau temannya mau main, ia selalu bilang ‘jangan di rumah aku’, mungkin dia tahu kondisi rumahnya kaya gini, jelek,” kata Ahmad. “Saya sebagai orang tua mengerti, pasti dia merasa malu ya, rumahnya enggak seperti yang lain.”

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia dan Pakuwon Group Lanjutkan Kolaborasi Bangun Hunian Layak di Gresik

Melihat kondisi tersebut, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan Pakuwon Peduli hadir memberikan harapan baru. Melalui program pembangunan rumah layak huni, rumah Ahmad dibangun kembali bersama 19 keluarga lainnya di Desa Karanggan. Selain itu, dukungan juga diberikan kepada 20 keluarga melalui pembangunan sarana toilet rumah tangga, serta perbaikan lima fasilitas umum di wilayah tersebut.

“Terima kasih banyak saya ucapkan untuk Pakuwon yang telah membantu keluarga saya. Bantuan ini berharga sekali buat saya dan keluarga saya,” ujar Ahmad penuh syukur.

Kini, rumah Ahmad berdiri kokoh dengan dinding berwarna biru yang rapi, atap yang kuat, dan struktur bangunan yang jauh lebih aman. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka.

Ahmad mengaku, kehadiran rumah baru ini telah mengubah banyak hal. Ia tidak lagi dihantui rasa khawatir setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Tidak ada lagi kekhawatiran akan kebocoran atau ancaman bangunan roboh. Beban yang selama ini ia rasakan perlahan terangkat.

Potret kebahagiaan keluarga Ahmad di depan rumah mereka yang telah layak huni setelah dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Peduli di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Lebih dari itu, rumah ini juga mengembalikan rasa percaya diri dan martabat keluarga. Putrinya kini tidak lagi merasa malu. Ia mulai berani mengundang teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Perubahan paling nyata pun mulai terlihat. Setelah beberapa bulan menempati rumah baru, putrinya menunjukkan peningkatan prestasi di sekolah. Dari sebelumnya berada di peringkat ketiga, kini ia berhasil naik ke peringkat kedua di kelasnya.

Kisah Ahmad menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan sekadar tempat tinggal, tetapi fondasi penting yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, dari rasa aman, kesehatan, hingga kepercayaan diri dan masa depan anak.

Masih banyak keluarga seperti Ahmad yang menanti kesempatan untuk merasakan perubahan serupa. Mari bersama menjadi bagian dari perubahan ini, dan bantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang layak untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI (3)
Kisah Perubahan

Dari Rasa Khawatir Menjadi Rasa Syukur: Perjalanan Pak Rigo Memiliki Rumah Layak

Pagi dan malam tak lagi terasa sama bagi Rigo Suhendra. Di balik hari-harinya yang sederhana, ada satu hal yang selalu menghantui pikirannya, apakah rumahnya masih akan berdiri saat hujan datang lagi?

Bogor, 5 Mei 2026 – Rigo, 47 tahun, adalah seorang buruh serabutan yang menggantungkan hidup dari pekerjaan apa saja yang bisa ia dapatkan. Terkadang ia menjadi kuli bangunan, di hari lain menjadi sopir, atau pekerjaan lain yang datang silih berganti tanpa kepastian. Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp100.000, Rp50.000, atau bahkan tidak sama sekali. Bersama sang istri, Laya (46), yang menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, mereka berjuang memenuhi kebutuhan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Di tengah keterbatasan itu, keluarga kecil ini harus bertahan di sebuah rumah peninggalan orang tua Rigo. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru tak mampu memberikan rasa aman sepenuhnya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, diselingi potongan triplek dan GRC seadanya. Dari luar, rumah itu tampak rapuh. Dari dalam, kekhawatiran selalu hadir.

Bagi Rigo, kenyamanan bukan lagi soal pilihan, melainkan penerimaan. Ia mencoba berdamai dengan keadaan, meyakinkan dirinya bahwa apa yang dimiliki saat ini harus tetap dijalani. Namun, di balik itu semua, tersimpan keinginan sederhana yang sulit ia wujudkan.

“Siapa sih yang enggak ingin punya rumah bagus, tapi ya kemampuan kita cuma segini, mau diapain lagi,” ujar Rigo.

Setiap kali hujan deras turun, rasa tenang itu runtuh seketika. Air merembes dari atap dan dinding yang berlubang, membasahi lantai rumah, bahkan membuat mereka kesulitan untuk beristirahat dengan layak. Tidak jarang, malam-malam mereka dihabiskan dengan rasa waswas.

Kondisi rumah milik Rigo sebelum menerima dukungan pembangunan rumah layak huni dari para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Ari Darmawan

Di saat-saat seperti itu, yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman, tetapi juga ketakutan. Rigo kerap diliputi kekhawatiran rumahnya akan roboh diterpa angin kencang. Pikiran tentang keselamatan keluarga terus menghantui, sementara kemampuan untuk memperbaiki rumah sangat terbatas. Ia hanya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilan hariannya untuk menambal bagian rumah yang rusak, meski ia tahu itu belum cukup.

Di balik semua itu, ada keinginan sederhana yang terus ia simpan, memiliki rumah yang layak untuk keluarganya. Sebuah tempat yang bisa benar-benar melindungi, bukan sekadar bertahan. Namun, bagi Rigo, keinginan itu terasa jauh dari jangkauan. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia hanya bisa berusaha semampunya dan menyerahkan sisanya pada harapan.

Kondisi rumah yang tidak layak ini juga berdampak pada anak-anaknya. Rigo menyadari bahwa putranya kerap merasa malu untuk mengundang teman-temannya datang ke rumah. Ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh bersama, justru menjadi sumber rasa tidak percaya diri.

Baca juga: Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya

Hingga suatu hari, harapan itu datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para dermawan memilih rumah Rigo di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sebagai salah satu penerima bantuan rumah layak huni.

Kabar tersebut sempat disambut dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada rasa bahagia dan syukur yang begitu besar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran baru, apakah ia harus mengeluarkan biaya yang tidak mampu ia tanggung. Kekhawatiran itu akhirnya terjawab ketika ia mengetahui bahwa program ini tidak menuntut kontribusi finansial, melainkan partisipasi tenaga melalui swadaya.

Seiring berjalannya waktu, rumah yang dahulu rapuh perlahan berubah. Dinding-dinding lama yang berlubang digantikan dengan bangunan yang kokoh. Kini, berdiri sebuah rumah dengan dinding berwarna biru terang, sederhana, namun penuh makna. Bagi Rigo, rumah itu bukan hanya bangunan baru, tetapi juga jawaban atas doa-doa yang selama ini ia panjatkan.

Perubahan ini membawa dampak yang begitu nyata bagi keluarga Rigo. Rasa aman yang dulu tidak pernah benar-benar hadir, kini bisa mereka rasakan setiap hari. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebih saat hujan turun, tidak ada lagi rasa takut rumah akan roboh.

Potret Rigo bersama istrinya di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan itu juga dirasakan oleh anak-anak Rigo. Jika dulu mereka kerap menahan diri karena rasa malu, kini suasana itu perlahan berganti. Anak-anaknya mulai percaya diri, bahkan sudah berani mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama.

Rigo sendiri merasakan perubahan besar dalam dirinya. Beban yang selama ini ia pikul perlahan terangkat. Ia tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Sebaliknya, kini ia melangkah dengan perasaan lebih tenang dan semangat baru untuk menjalani hidup.

“Alhamdulillah sekarang rumah saya benar-benar layak. Akhirnya saya bisa memberikan tempat berlindung yang terbaik bagi keluarga kecil saya. Plong rasanya, seperti beban di pundak hilang,” ujar Rigo. “Seperti mimpi… tiba-tiba punya rumah bagus, layak,” tambahnya.

Baginya, rumah ini adalah lebih dari sekadar tempat tinggal. Ini adalah simbol harapan yang akhirnya terwujud, sebuah bukti bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.

Kini, setiap sudut rumah itu menyimpan cerita perjuangan dan rasa syukur. Dan bagi Rigo, kebahagiaan sederhana itu terasa begitu utuh. Karena akhirnya, ia bisa memberikan tempat berlindung yang layak bagi keluarga yang ia cintai.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI
Kisah Perubahan

Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya

Tangerang, 17 April 2026 – Ada masa ketika hujan bukanlah sesuatu yang dinanti, melainkan ditakuti. Bagi Siti, setiap angin kencang dan derasnya air hujan justru menjadi tanda bahwa ia dan keluarganya harus bersiap meninggalkan rumah, bukan untuk mencari perlindungan, tetapi untuk menghindari bahaya.

Siti, 40 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Rajeg, Kabupaten Tangerang bersama suami dan tiga orang anaknya. Suaminya bekerja sebagai pedagang barang rongsokan di Jakarta, dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam seminggu, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp200.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah hingga makan sehari-hari.

Kondisi rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari lapisan seng, triplek, dan terpal yang ditopang bilik bambu. Atap gentengnya banyak yang pecah, sementara lantainya masih berupa tanah. Bahkan, rumah itu tidak memiliki kamar mandi dan toilet sendiri.

“Rumah dulu kalau dibilang enggak layak, ya memang enggak layak Pak. Kalau ada hujan, ya kita sekeluarga kebocoran. Kalau ada hujan angin besar, bukannya kita berlindung di dalam, tapi malah keluar rumah, takut kerobohan,” ujar Siti.

Ketiadaan fasilitas dasar membuat kehidupan sehari-hari menjadi penuh keterbatasan. Untuk kebutuhan sederhana seperti mandi, buang air, hingga memasak, Siti harus bergantung pada rumah orang tua atau saudara. “Mau buang air besar ya numpang, mau mandi ya numpang. Buat masak aja saya minta air,” tuturnya.

Potret keluarga Siti di depan rumah mereka yang belum layak huni di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Indah Mai

Dalam kondisi serba terbatas, Siti juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kebutuhan makan keluarga tidak selalu terpenuhi. Ada hari ketika mereka bisa makan di pagi hari, tetapi tidak di sore hari, atau sebaliknya. Situasi ini tentu berdampak pada tumbuh kembang anak-anaknya, yang kesulitan mendapatkan ruang yang layak untuk bermain maupun belajar.

“Hidup kami serba pas-pasan Pak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bapak kan kerjanya kalau pulang seminggu atau dua minggu sekali, tergantung Bapak pas pulang bisa bawa uang,” kata Siti.

Ujian hidup semakin berat ketika sang suami jatuh sakit. Tanpa pemasukan, Siti harus menghadapi kondisi yang serba tidak pasti di tengah kebutuhan anak-anak yang terus berjalan.

“Dulu waktu sebelum rumah ini dibangun, Bapak pernah jatuh sakit, Bapak tidak kerja, dan anak-anak lagi butuh uang untuk sekolah. Saya bingung dan menangis harus seperti apa, tidak ada pemasukan sama sekali, ditambah lagi rumah tidak layak seperti itu,” kenangnya.

Dalam situasi tersebut, Siti hanya bisa mengandalkan bantuan dari orang tua dan saudara. Rasa malu kerap menghampiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di lingkungan sekitar demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan.

Di tengah segala keterbatasan itu, Siti hanya bisa bertahan dan berserah. “Ya karena keterbatasan ini, saya hanya bisa menyesuaikan dengan kondisi rumah dan berserah kepada Allah,” ujarnya.

Hingga akhirnya, harapan itu datang. Melalui dukungan para dermawan, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah milik Siti menjadi hunian yang layak. Kini, rumah Siti telah berubah sepenuhnya. Dinding berwarna krem berdiri kokoh, atap yang kuat melindungi dari panas dan hujan, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak kini tersedia di dalam rumah.

“Alhamdulillah sekarang rumah saya sudah jadi layak huni. Kalau hujan saya sudah enggak pernah kebocoran lagi, dan enggak perlu lagi lari keluar rumah, ke rumah saudara,” ujar Siti dengan penuh syukur.

Potret keluarga Siti di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni

Perubahan ini membawa dampak besar bagi kehidupan keluarganya. Siti kini merasa lebih percaya diri dan tidak lagi merasa malu. “Sekarang saya lebih banyak bersyukurnya, akhirnya saya punya rumah seperti tetangga-tetangga saya. Apalagi sekarang saya punya toilet dan kamar sendiri, saya sudah enggak malu lagi harus menumpang ke rumah orang,” katanya.

Anak-anak Siti pun kini memiliki ruang sendiri untuk beristirahat dan belajar. Jika dulu mereka harus tidur di area dapur, kini mereka memiliki kamar yang memberikan kenyamanan dan privasi. “Kalau sekarang kan enggak (seperti dulu), anak-anak punya kamar khusus untuk tidur, tidak dicampur lagi,” ujar Siti.

Selain itu, kondisi rumah yang lebih layak juga turut mendukung kesehatan keluarga. Lingkungan yang lebih bersih, sanitasi yang memadai, serta struktur bangunan yang aman memberikan rasa tenang yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.

Dengan perubahan ini, Siti menatap masa depan dengan harapan baru. “Saya harap rumah baru ini bisa mengantarkan rejeki yang baru buat keluarga saya, dan masa sulit dahulu tidak terulang kembali,” ujarnya.

Siti adalah satu dari jutaan keluarga di Indonesia yang telah keluar dari belenggu rumah tidak layak. Di balik setiap rumah yang berdiri, ada cerita tentang ketahanan, harapan, dan mimpi yang perlahan mulai terwujud. “Rumah bagi saya adalah segala-galanya,” tutupnya.

Mari bersama membantu lebih banyak keluarga seperti Siti untuk memiliki rumah yang aman dan layak huni. Kunjungi tautan ini dan jadilah bagian dari perubahan nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Medco
Kisah Perubahan

Untuk Istri yang Telah Tiada, Rumah Ini Akhirnya Terwujud

Tangerang, 7 April 2026 – Ada luka yang tak selalu terlihat, tetapi terasa setiap kali hujan turun. Bagi Banhawi, setiap tetes air yang jatuh dari atap rumahnya dulu bukan hanya kebocoran, tetapi juga pengingat akan hidup yang penuh keterbatasan.

Di usia 53 tahun, Banhawi menjalani hari-harinya sebagai pencari barang rongsokan di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari, tergantung seberapa banyak barang yang berhasil ia kumpulkan. Dari penghasilan itu, ia harus memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menghadapi ujian berat ketika sang istri jatuh sakit akibat tumor.

Selama empat tahun, Banhawi berjuang merawat istrinya. Biaya obat sebesar Rp100.000 yang hanya cukup untuk tiga hari menjadi beban yang harus ia tanggung di tengah penghasilan yang pas-pasan. Di saat yang sama, rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak.

Banhawi mencari barang rongsokan sebagai sumber penghasilan utama untuk menghidupi keluarganya sehari-hari dan membiayai pengobatan mendiang istrinya yang pernah menderita tumor di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu yang sudah rapuh, berlubang, dan dipenuhi rayap. Sebagian struktur rumah bahkan mulai miring, dengan atap penyangga yang telah patah. Ketika hujan datang, rumah itu tak lagi mampu memberikan perlindungan.

“Kalau ceritain rumah yang dulu itu saya sedih. Waktu hujan, saya tidak bisa tidur, nadahin bocor-bocor pakai bak,” ujar Banhawi.

Upaya memperbaiki atap dengan plastik pun tak mampu menahan derasnya air hujan. Malam-malam panjang dilalui dengan rasa cemas dan ketidaknyamanan. Bahkan, rasa malu kerap menghampiri ketika ada tetangga yang ingin berkunjung.

“Melihat rumah orang lain sudah pada bagus, tapi rumah saya sendiri apa adanya, di situ saya sangat sedih. Ada tetangga mau ke rumah, saya malu,” kenangnya.

Potret Banhawi di depan rumahnya yang tidak layak huni sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama MedcoEnergi dan Medco Foundation di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Di balik semua keterbatasan itu, Banhawi menyimpan satu keinginan sederhana yakni, membahagiakan istrinya dengan menghadirkan rumah yang layak. Ia terus berusaha memperbaiki rumah seadanya, sambil tetap memenuhi kebutuhan pengobatan sang istri.

“Saya masih ingat dulu Ibu itu selalu bilang ke saya, ‘tolong rumah ini terus diperbaiki, asal jangan ada yang patah atau roboh’. Nah, di situ saya terus perbaiki rumah seadanya sembari saya terus belikan Ibu obat,” ujar Banhawi.

Namun waktu berkata lain. Sang istri akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Banhawi dengan kenangan, harapan yang belum sempat terwujud, dan rumah yang masih jauh dari kata aman.

Hingga akhirnya, titik balik itu datang. Melalui dukungan dari MedcoEnergi dan Medco Foundation, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah Banhawi menjadi layak huni. Ia menjadi salah satu dari 14 keluarga di Rajeg yang menerima manfaat program pembangunan rumah layak huni, bagian dari total 45 rumah yang dibangun di Tangerang, Palembang, dan Bondowoso.

Para relawan MedcoEnergi dan Medco Foundation terlibat dalam pembangunan rumah layak huni milik Bapak Banhawi dan 14 rumah lainnya di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati

Kini, rumah Banhawi berdiri kokoh dengan dinding berwarna putih dan atap baja ringan yang kuat. Rumah itu dilengkapi dua kamar tidur, ruang keluarga, serta kamar mandi dan toilet yang layak, memberikan rasa aman sekaligus mendukung kesehatan melalui sanitasi yang lebih baik.

Perubahan itu membawa ketenangan yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Alhamdulillah sekarang saya jauh lebih tenang, senang bukan main, berbeda dengan yang dulu. Mau ninggalin rumah untuk cari barang rongsok juga sudah enggak khawatir lagi,” katanya.

Lebih dari sekadar tempat tinggal, rumah ini juga menghadirkan semangat baru dalam hidupnya. Banhawi kini bekerja lebih giat, bahkan penghasilannya meningkat hingga Rp300.000 sampai Rp400.000 per hari. Ia mulai merencanakan masa depan, sesuatu yang dulu terasa begitu jauh.

Ke depan, ia ingin merenovasi dapur dan menambahkan kanopi di halaman depan rumahnya secara mandiri, dengan menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit.

Potret Banhawi di depan rumahnya yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama MedcoEnergi dan Medco Foundation di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Di balik senyum dan semangat barunya, tersimpan pula satu harapan yang tak sempat terwujud bersama sang istri. “Kalau umpamanya Ibu masih ada saat ini, saya rasa pasti Ibu senangnya bukan main. Karena ini cita-citanya Ibu untuk bisa punya rumah yang bagus seperti ini,” ucapnya pelan.

Kini, rumah yang dulu penuh kekhawatiran telah berubah menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, tenang, dan harapan baru. Bagi Banhawi, rumah ini bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga bukti bahwa perubahan nyata bisa terjadi. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.

Yuk, simak lebih banyak cerita perubahan lainnya dan lihat bagaimana setiap dukungan Anda dapat menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME
Kisah Perubahan

Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati

Gunungkidul, 16 Maret 2026 – Ada rasa haru yang tidak bisa terbendung ketika Karju mengenang perjalanan hidupnya. Di usia yang sudah menginjak 75 tahun, ia tak pernah membayangkan bahwa di masa tuanya, ia dan sang istri akhirnya bisa menikmati dapur dan toilet yang lebih layak di rumah sederhana mereka di Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Karju dan istrinya, Jumiyati yang berusia 64 tahun, adalah pasangan petani sederhana. Sehari-hari mereka mengandalkan hasil sawah untuk menyambung hidup. Padi yang mereka tanam sebagian dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dijual untuk membeli kebutuhan dapur. Jika hasil panen tidak banyak, mereka memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kebun.

“Enggak cuma padi, mas. Apapun yang ada di kebun seperti pisang, atau ada ayam, apapun kami jual. Yang penting bisa makan setiap harinya,” ujar Karju.

Namun kehidupan sederhana itu juga diiringi berbagai keterbatasan. Dapur rumah mereka hanya berdinding bambu yang sudah rapuh dan berlubang dimakan usia. Kondisi tersebut sering menyulitkan Jumiyati ketika menyiapkan makanan untuk suaminya, terlebih ketika hujan atau angin kencang datang.

Tak jarang, binatang juga masuk melalui celah-celah bambu, membuat dapur menjadi kotor dan berbau tidak sedap. Bagi pasangan lansia ini, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga kesehatan mereka.

Potret Jumiyati berdiri di depan dapur yang tidak layak sebelum Habitat for Humanity Indonesia merenovasi bangunan tersebut di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Kesulitan lain yang sudah mereka hadapi selama puluhan tahun adalah tidak adanya fasilitas sanitasi yang layak di rumah. Setiap kali ingin menggunakan toilet, mereka harus keluar rumah dan berjalan beberapa meter.

“Saya selalu berdoa, semoga dan mudah-mudahan bisa punya rejeki memiliki dapur dan toilet yang bagus,” kata Karju.

Ia juga sering merasa khawatir setiap kali terjadi gempa atau angin kencang, sesuatu yang bukan hal asing di wilayah Gunungkidul. “Kalau misalkan ada gempa, disini kan terasa sekali ya, mas. Atau ada angin kencang, kami takut dapur atau toiletnya rubuh. Apalagi bahannya cuma dari bambu,” ujarnya.

Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Doa yang selama ini mereka panjatkan akhirnya menemukan jalannya. Melalui program peningkatan akses air bersih dan sanitasi layak (WASH), Habitat for Humanity Indonesia bersama para dermawan membantu membangun kembali ruang dapur dan toilet milik Karju dan Jumiyati agar lebih aman dan layak digunakan. Program ini tidak hanya menyentuh keluarga mereka, tetapi juga membantu 24 keluarga lainnya di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Kini dapur dan toilet baru berdiri kokoh di rumah mereka. Perubahan itu terasa bukan hanya secara fisik, tetapi juga di dalam hati pasangan lansia ini. Perasaan cemas yang dulu sering datang perlahan digantikan dengan rasa tenang.

“Ya tenang, perasaan lega. Enggak ada lagi rasa atau pikiran khawatir. Dapur dan toilet yang baru jauh lebih bagus dan kokoh,” ujar Karju.

Dapur baru itu kini menjadi ruang yang paling sering mereka gunakan. Apalagi di saat bulan suci Ramadhan, tempat itu menjadi saksi kebahagiaan sederhana mereka. “Kami sekarang sahur dan berbuka puasa ya di dapur ini. Senang dan bahagia rasanya,” kata Karju dengan senyum.

Karju dan Jumiyati menikmati hidangan di dapur yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Keberadaan toilet yang kini berada di dalam rumah juga membawa kenyamanan tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah tidak lagi muda. “Sekarang juga kami sudah tidak khawatir lagi kalau ke toilet malam hari atau saat hujan, karena toiletnya sudah di dalam rumah. Membantu kami sekali,” tambahnya.

Bagi Karju dan Jumiyati, dapur dan toilet yang baru bukan sekadar bangunan semata. Ia menjadi simbol harapan, ketenangan, dan martabat yang lebih terjaga di masa tua mereka. Di usia senja, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu, memiliki rumah yang aman dan layak menjadi berkah yang sangat berarti.

Perubahan kecil seperti ini membuktikan bahwa dukungan dan kepedulian dapat menghadirkan dampak besar bagi kehidupan keluarga yang membutuhkan. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk menjalani hari-hari dengan rasa aman, nyaman, dan penuh harapan.

Yuk, simak lebih banyak kisah inspiratif lainnya tentang bagaimana program Habitat for Humanity Indonesia menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di berbagai daerah di sini. Setiap cerita adalah bukti bahwa bersama, kita bisa membangun rumah sekaligus membangun harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME Wash
Kisah Perubahan

Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Setiap hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, dapur kecil itu sudah hidup. Asap tipis mengepul, tangan terampil membentuk adonan bakso cilok, dan harapan kembali diracik sejak pukul tiga dini hari.

Di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Ibu Sri Lestari (45) menghabiskan hampir seluruh harinya di dapur. Bersama sang suami, Bapak Sumarno (49), mereka menggantungkan hidup dari bakso cilok dan susu kedelai yang dijual berkeliling. Dari subuh hingga larut malam, Ibu Sri menyiapkan dagangan yang kemudian dibawa suaminya menyusuri kampung demi kampung.

Namun, dapur tempat harapan itu diracik jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tua tanpa ventilasi yang memadai. Cahaya matahari sulit masuk, sehingga bahkan di siang hari lampu harus tetap menyala agar ia bisa melihat adonan yang diolahnya. Ketika hujan turun deras, air merembes masuk melalui celah-celah dinding dan atap yang bocor.

“Dulu kalau hujan deras, airnya masuk ke dalam dapur. Jadinya saya harus berhenti memasak bakso di sini. Alhasil suami saya enggak bisa berjualan,” tutur Ibu Sri.

Kondisi dapur milik Sri Lestari sebelum direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Bukan hanya dapur yang menjadi tantangan. Toilet rumah mereka berada di luar, terpisah dari bangunan utama. Untuk menggunakannya, keluarga harus berjalan kaki melewati halaman yang gelap dan licin, terutama saat hujan turun atau malam tiba. Kekhawatiran akan terpeleset selalu menghantui. Di sisi lain, rasa malu juga kerap muncul karena belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak.

“Kalau sudah hujan deras, kami takut licin dan takut jatuh. Kalau malam hari juga gelap sekali. Kami juga malu punya toilet di luar,” ungkapnya pelan.

Baca juga: Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Melalui Program Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan para donatur membangun kembali dapur dan toilet milik keluarga Ibu Sri. Dapur baru kini berdiri kokoh dengan dinding permanen berwarna hijau, dilengkapi ventilasi dan jendela yang memungkinkan cahaya serta udara mengalir bebas. Toilet pun dibangun lebih aman dan menyatu dengan rumah, memberikan rasa nyaman dan privasi bagi seluruh keluarga.

Perubahan itu terasa sejak hari pertama.

Kini, dari kejauhan, aroma sedap bakso kembali tercium setiap pagi. Asap mengepul tanpa henti dari dapur yang jauh lebih terang dan sehat. Ibu Sri tak lagi khawatir ketika hujan turun. Ia bisa terus memasak kapan pun diperlukan.

“Sekarang kalau pintunya ditutup saja masih terang, cahaya dari luar masuk. Ventilasinya juga banyak, jadi hawanya enak,” katanya sambil tersenyum.

Sri Lestari memasak adonan bakso cilok di dapurnya yang telah direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dengan dapur yang lebih aman dan nyaman, produksi hariannya meningkat dari 5 kilogram menjadi 7 kilogram per hari. Ia bahkan mulai menambah varian bakso kuah. Penghasilan keluarga pun bertambah sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari dibandingkan sebelumnya. Ketika dagangan Bapak Sumarno habis, Ibu Sri kini bisa segera menyusul untuk memasok kembali tanpa hambatan.

“Sekarang kalau barang dagangan Bapak habis, saya sudah bisa langsung samperin untuk ngasih baksonya lagi,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Ibu Sri dan suaminya, perubahan ini bukan hanya tentang bangunan fisik. Ini tentang semangat yang tumbuh kembali. Tentang keyakinan bahwa kerja keras mereka bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi dua anak yang masih bersekolah.

“Dengan dapur dan toilet baru ini, menambah semangat saya dan suami untuk berjualan demi menghidupi dua anak kami,” tuturnya haru.

Ke depan, Ibu Sri bermimpi dapat membeli kulkas atau freezer baru agar produksi bisa semakin meningkat. Ia ingin usahanya terus berkembang, selangkah demi selangkah.

Kisah Ibu Sri adalah bukti bahwa akses terhadap hunian dan sanitasi yang layak bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang membuka peluang ekonomi, menjaga kesehatan keluarga, dan memulihkan martabat.

Potret Sri Lestari saat tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan wawancara dan monitoring ke rumahnya di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dukungan para donatur telah membantu menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga seperti Ibu Sri. Setiap kontribusi yang diberikan turut mengubah dapur yang gelap menjadi ruang penuh cahaya dan harapan.

Yuk, baca kisah inspiratif lainnya dan lihat bagaimana dukungan Anda dapat menghadirkan perubahan nyata bagi lebih banyak keluarga di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Bogor, 2 Februari 2026 – Di sebuah sudut Kabupaten Bogor, Ibu Kokom (55) kerap duduk termenung di depan rumahnya saat matahari sore mulai turun. Ia adalah seorang janda, seorang ibu rumah tangga, sekaligus ibu kepala keluarga bagi lima orang anaknya. Dalam diam, ia sering memandangi rumah yang telah lama menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi keluarganya, rumah yang menyimpan banyak cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang nyaris padam.

Sejak tahun 2012, hidup Ibu Kokom berubah sepenuhnya. Kepergian sang suami meninggalkan duka yang mendalam sekaligus beban besar yang harus ia pikul sendiri. Sejak hari itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, membesarkan kelima anaknya dengan segala keterbatasan. Tahun demi tahun dilalui dengan tertatih-tatih. Ia berusaha berlapang dada, meski kenyataan sering kali terasa begitu berat.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru perlahan kehilangan fungsinya. Bangunan itu pernah roboh sebagian, lalu diperbaiki seadanya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tanpa struktur yang kokoh, hanya ditopang oleh kayu-kayu sederhana. Atap seng yang telah dimakan usia menjadi pelindung yang rapuh. Dari kejauhan, rumah itu tampak miring, seakan bisa runtuh lagi kapan saja.

Selama bertahun-tahun, Ibu Kokom dan anak-anaknya hidup tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk buang air, mereka mengandalkan aliran kali kecil di sekitar rumah. Di dekat situ terdapat sumber mata air kecil yang kerap digunakan untuk mandi dan membersihkan diri.

“Kalau sudah kepepet, saya suka menumpang ke rumah tetangga,” tutur Ibu Kokom pelan. “Tapi itu enggak sering, karena malu. Rasanya enggak enak banget numpang.”

Ibu Kokom membawa ember dan gayung, berjalan menuju aliran kali kecil untuk membersihkan diri di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Rumah Ibu Kokom letaknya cukup jauh dari tempat tinggal sanak saudara. Sejak suaminya tiada, ia hanya bisa mengandalkan tetangga di sekitar. Namun bantuan itu tak selalu mudah diterima. Ada rasa sungkan, ada rasa tidak enak hati, terlebih ketika kebaikan tidak selalu datang setiap waktu.

“Saya pernah, karena sering numpang toilet, sampai pintu toiletnya dikunci. Enggak boleh numpang lagi,” kenangnya.

Pengalaman itu meninggalkan luka kecil di hati Ibu Kokom. Bukan karena marah, melainkan karena merasa tak berdaya. Ia tahu, tidak semua orang bisa terus berbagi, dan ia pun lelah harus selalu berada di posisi meminta.

Di tengah keterbatasan itu, Ibu Kokom tetap menyimpan satu mimpi sederhana, memiliki rumah yang layak. Bukan rumah mewah, bukan pula rumah besar. Ia hanya ingin rumah yang bisa melindungi keluarganya, meringankan beban hidup, dan memberi rasa aman bagi anak-anaknya. Doa itu tak pernah putus ia panjatkan, setiap kali beribadah, setiap kali rasa lelah datang. Hingga suatu hari, doa tersebut menemukan jalannya.

Baca juga: Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra datang menemui Ibu Kokom dan menawarkan bantuan perbaikan rumah agar menjadi layak huni. Kabar itu datang seperti cahaya di tengah kelelahan panjang yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, saya sama anak-anak senang banget,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Proses pembangunan rumah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. Banyak tangan terlibat, banyak kebaikan yang mengalir. Tetangga dan warga sekitar ikut membantu secara swadaya, mengangkut material, membongkar rumah lama, hingga menggali septictank. Rumah yang dulu rapuh perlahan berubah menjadi bangunan yang kokoh dan aman.

Kini, beban yang selama ini menghimpit pundaknya terasa terangkat. Rumahnya tidak lagi menjadi sumber kecemasan. “Ibu sekarang sudah enggak pernah kepikiran macem-macem soal rumah,” katanya. “Rumahnya kuat, bagus, dan kami sekarang punya kamar mandi dan toilet sendiri. Enggak perlu ke kali lagi.”

Lebih dari sekadar bangunan fisik, rumah layak huni ini turut memulihkan martabat keluarga Ibu Kokom. Mereka kini memiliki ruang privasi yang terjaga, kebersihan yang lebih baik, dan rasa percaya diri yang perlahan tumbuh. Anak-anak tak lagi merasa rendah diri, dan Ibu Kokom tak lagi diliputi rasa malu.

Ibu Kokom membersihkan lantai kamar mandi di rumahnya yang kini telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Ibu Kokom, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Rumah ini adalah tempat berteduh dari kerasnya hidup, tempat harapan kembali disemai, dan tempat masa depan anak-anaknya mulai dirancang dengan lebih tenang.

“Rumah itu tempat kita pulang setiap hari,” ucapnya. “Dan rumah ini akan jadi tempat segalanya untuk masa depan anak-anak.”

Masih banyak keluarga seperti Ibu Kokom yang memendam harapan serupa, harapan sederhana untuk hidup lebih layak, namun terhalang oleh keterbatasan. Setiap rumah yang dibangun bukan hanya mengubah wujud sebuah bangunan, tetapi juga mengubah arah hidup sebuah keluarga.

Uluran tangan yang tepat bisa menjadi jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan. Jika kamu ingin menjadi bagian dari perubahan itu, kebaikanmu dapat disalurkan melalui: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MPM
Kisah Perubahan

Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Bogor, 21 Januari 2026 – Pagi itu, Muhamad Qosim berdiri sejenak di ambang pintu rumahnya yang kini berwarna biru cerah. Rumah kecil yang dulu terasa pengap dan penuh kekhawatiran, kini tampak lapang dan menenangkan. Sesuatu yang dulu hampir mustahil ia bayangkan, kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Qosim yang berusia 47 tahun bukanlah sosok yang asing di Kantor Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 2020, ia bekerja sebagai office boy di kantor desa tersebut. Lima tahun lebih ia mengabdi, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan kantor, dan memastikan aktivitas pelayanan berjalan lancar. Upah yang ia terima tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan, jumlah yang harus ia kelola dengan sangat irit untuk menghidupi istrinya, Ella yang berusia 41 tahun, serta tiga orang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan berusia dua tahun.

Sebelum menjadi office boy, Qosim bekerja sebagai pengendara ojek pangkalan. Pekerjaan berpindah-pindah sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun satu hal yang tak pernah berubah, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan keinginannya memberikan rasa aman bagi orang-orang yang ia cintai.

Rumah yang mereka tempati bukan rumah baru. Dua puluh tahun lalu, Qosim membeli rumah itu dari neneknya dengan luas tanah hanya 21 meter persegi. Ketika masih berdua dengan istrinya, rumah itu terasa cukup. Namun seiring bertambahnya anak, ruang yang sempit mulai terasa menekan.

“Sejak saya punya rumah ini, belum pernah dibangun atau dibesarin. Kondisinya seperti ini saja. Paling saya perbaiki sedikit demi sedikit kalau bocor atau dindingnya mulai kelupas,” tutur Qosim.

Qosim menunjukkan titik kebocoran di rumahnya saat proses pembongkaran rumah yang akan dibangun kembali menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Atap rumahnya masih menggunakan asbes, material yang ia ketahui berisiko bagi kesehatan keluarga. Namun mengganti atap dengan genteng juga bukan hal mudah karena keterbatasan biaya. “Kalau mau ganti atap genteng, saya enggak sanggup. Biayanya besar, sementara penghasilan saya cuma cukup buat makan dan sekolah anak,” katanya pelan.

Setiap kali menemukan dinding berlubang atau bagian rumah yang mulai keropos, Qosim selalu berusaha memperbaikinya. Rasa takut rumah tersebut dapat membahayakan keluarganya sewaktu-waktu menjadi penggeraknya, walau kondisi finansial sering kali tidak memadai. Akibatnya, uang yang ia miliki selalu habis untuk menambal kerusakan. Hidup mereka pun berjalan dalam kondisi pas-pasan, nyaris tanpa ruang untuk menabung. Penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Perubahan mulai datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Mitra Pinasthika Mustika hadir di Desa Sentul. Melalui proses asesmen, rumah yang ditempati Qosim dinilai membutuhkan peningkatan menjadi rumah layak huni. Kondisi kerusakan rumah, masuk dalam kelompok ekonomi terendah, dan kepadatan jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan luas rumah menjadi pertimbangan Qosim untuk dibangunkan rumah layak huni.

Proses pembangunan rumah baru menjadi momen yang penuh harap. Perlahan, rumah lama yang rapuh berganti menjadi hunian yang lebih luas dan kokoh. Kini, rumah Qosim berdiri dengan luas 28 meter persegi, berwarna biru cerah yang memancarkan suasana berbeda dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur banget punya rumah ini. Senangnya sekeluarga bukan main. Anak saya yang paling kecil saja waktu itu langsung bilang, kamarnya mau di sebelah sini,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan rumah yang lebih luas, Qosim tidak lagi harus berbagi kasur dengan seluruh anggota keluarga. Ia, istri, dan anak bungsunya kini memiliki kamar sendiri, sementara dua anak lainnya juga memiliki ruang tidur masing-masing.

Qosim dan istrinya, Ella, bermain bersama putra bungsunya di ruang tengah rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

“Saya juga merasa lebih percaya diri. Sekarang enggak malu lagi kalau nerima tamu. Dulu sering saya arahkan ke rumah orang tua karena rumah sendiri sempit dan kurang layak,” tuturnya.

Keberkahan rumah layak huni itu tidak berhenti pada perubahan fisik. Beberapa minggu setelah rumahnya selesai dibangun, Qosim mendapatkan tawaran untuk mengemban peran baru sebagai staf pelayanan di kantor desa. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Qosim, rumah layak huni bukanlah penyebab langsung dari perubahan statusnya. Namun rumah itu menjadi fondasi yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Dengan kondisi hidup yang lebih stabil, ia mampu menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam bekerja.

“Sekarang saya punya semangat baru. Saya ingin kerja lebih giat, nabung pelan-pelan. Ke depan saya ingin nambah satu kamar lagi,” katanya penuh harap.

Kisah Qosim membuktikan bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah fondasi kehidupan yang membuka ruang bagi perubahan. Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, harapan pun menemukan tempat untuk tumbuh.

Bagi Qosim, rumah layak huni itu telah mengantarkannya bukan hanya pada tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga pada kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MedcoEnergi
Kisah Perubahan

Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Tangerang, 13 Januari 2026 – Sore itu, Durahman (55) bersama istrinya, Rohayati (48), sedang berkumpul bersama di ruang tengah rumah barunya, menyaksikan anak-anak dan cucunya bermain dengan tawa riang, tanpa gangguan kebocoran atau udara pengap seperti yang dulu mereka rasakan.

Setiap sudut rumah baru ini menyimpan kebahagiaan yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupnya bersama keluarga di rumah tua yang rapuh penuh keterbatasan, namun hari ini, keadaan terasa berbalik. Rumah kini menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat, sebuah hadiah dari kerja keras dan doa yang tak pernah padam.

Sebelum memiliki rumah layak huni, kehidupan Durahman penuh ketidakpastian. Ia bekerja sebagai buruh serabutan, siap mengerjakan apa saja yang diminta, mulai dari kuli cangkul hingga tukang bangunan. Penghasilannya pun tak menentu, hanya lima puluh ribu rupiah per hari bila ada panggilan kerja. Dua tahun sebelumnya, saat tubuhnya masih kuat, Durahman menempuh jalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan dan menjual barang rongsokan. Namun usia dan kondisi tubuh membuatnya tak lagi sanggup menempuh pekerjaan berat itu.

Di sisi lain, Rohayati, setia mengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak perempuan, dengan dua anak sulung yang telah menikah dan tinggal bersebelahan. Anak ketiga berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, sementara anak bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Keterbatasan ini sering membuat Durahman dan istrinya merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.

Rumah lama yang mereka tempati juga memperparah kesulitan itu. Sebagian dindingnya dari bata, sebagian lagi dari bilik bambu tanpa tiang struktur kokoh. Atap yang menua menjadi sarang kebocoran di musim hujan.

“Itu rumah sering banget kebocoran, Pak. Saya kasihan sama anak saya, suka terganggu belajarnya di rumah. Saya coba benerin seadanya, saya tambal-tambal tetap bocor,” kenang Durahman.

Kondisi rumah milik Durahman sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia dan MedcoEnergi di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Meski lantainya dari keramik, keramik itu sendiri adalah hasil jerih payahnya memungut barang rongsok. “Makanya lantai saya itu belang-belang, beda-beda,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Soal sanitasi turut menjadi tantangan besar. Keluarga hanya memiliki bilik mandi sederhana, sedangkan kebutuhan buang air besar harus menumpang ke rumah orang tua atau pergi ke empang. Meski begitu, Durahman tetap bersyukur keluarga bisa berkumpul di rumah, meski penuh keterbatasan.

“Sebenernya saya ingin sekali bisa memberikan tempat tinggal layak untuk keluarga saya. Tapi untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Anak yang paling kecil pernah bilang kepengen punya rumah dua lantai. Tapi saya cuma bilang, ‘Berdoa aja ya Nak,’” ujarnya.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Harapan itu akhirnya menjumpai jalan melalui program Rumah Layak Huni yang dijalankan oleh Habitat for Humanity Indonesia, bekerja sama dengan MedcoEnergi dan Medco Foundation. Rumah Durahman, beserta 14 keluarga lain di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibangun kembali sebagai bagian dari total 45 rumah layak huni yang dibangun di tiga wilayah yakni, Tangerang, Palembang, dan Situbondo.

“Bapak enggak pernah menyangka ternyata rumah Bapak bisa dibedah dan jadi bagus seperti ini,” ujar Durahman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Perubahan terlihat dari setiap sudut rumah, mulai dari atap baru yang rapat, dinding kokoh berwarna krem, lantai keramik seragam, serta fasilitas sanitasi yang layak.

Pertama kali tidur di rumah baru, Durahman mengaku sulit memejamkan mata. Bayangan rumah lama yang bocor dan rapuh masih terngiang di kepala. Namun pagi berikutnya, tawa anak-anak yang belajar dan bermain di ruang tengah membuatnya tersadar, mereka kini benar-benar memiliki tempat yang aman dan nyaman. Binatang pengganggu seperti tikus tak lagi mengusik, udara bersih memenuhi setiap ruang, dan toilet sendiri memberikan rasa martabat dan kebersihan yang tak ternilai.

Dengan rumah baru yang kini aman dan nyaman, Durahman mulai memikirkan langkah berikutnya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan mewujudkan impian anak-anaknya. “Perlahan-lahan, sambil saya cari tambahan modal, saya ingin kembali berjualan rongsokan ke kota. Tapi saat ini saya mau fokus dulu agar anak ketiga saya bisa bersekolah lagi, dia ingin ikut pesantren seperti kakaknya,” ujar Durahman.

Ia juga menegaskan, rumah ini bukan hanya untuknya, melainkan untuk anak bungsu yang masih kecil, sebagai warisan kenyamanan, keamanan, dan kesempatan.

Potret keluarga Durahman di depan rumah miliknya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Hidup keluarga Durahman kini penuh kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai. Ia bisa duduk bersama anak-anak dan cucunya di ruang tengah, menyaksikan mereka belajar, bermain, dan tertawa, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Setiap bata yang tersusun, setiap genteng yang menahan hujan, bukan hanya bangunan fisik, melainkan saksi bisu dari doa, harapan, dan cinta yang melekat pada dinding rumah. Rumah Durahman kini adalah fondasi masa depan, tempat di mana generasi berikutnya dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan penuh percaya diri.

Seperti cahaya mentari yang menembus jendela rumah baru, rumah ini menyalakan harapan baru bagi keluarga Durahman. Dan dengan setiap dukungan yang diberikan, lebih banyak keluarga seperti Durahman dapat merasakan hangatnya doa yang terwujud, ketekunan yang berbuah nyata, dan kehidupan yang lebih layak.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Kamila
Kisah Perubahan

Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Tangerang, 8 Januari 2026 – Di sebuah sudut desa yang tenang di Kabupaten Tangerang, Kamila duduk menggendong bayi bungsunya di teras rumah barunya yang kini berdiri kokoh. Sesekali ia memandangi dinding yang bersih, atap yang rapat, dan lantai yang tak lagi becek. Satu anaknya yang lain berlarian kecil di ruang tengah sambil tertawa, suara yang dulu sering tenggelam oleh derasnya hujan yang menembus atap rumah lama mereka.

Tiga minggu sudah Kamila tinggal di rumah layak huni ini, namun rasa syukurnya seolah tak pernah surut. Setiap pagi, saat membuka mata, ia masih sering tertegun. “Ya Allah… beneran rumah saya sudah seperti ini,” ujarnya lirih, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa mimpi yang dulu terasa begitu jauh kini telah menjadi kenyataan.

Sebelum Rumah Baru Itu Ada

Beberapa bulan ke belakang, kehidupan Kamila jauh dari rasa aman seperti yang ia rasakan hari ini. Ia dan keluarga kecilnya hidup dalam rumah yang hampir roboh dengan bilik bambu yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan.

“Kalau hujan, kami pasti angkat kasur. Nadahin bocor pakai panci,” kenangnya. Dalam sekali hujan deras, air tak hanya turun dari atas, tapi juga merembes dari bawah. Lantai tanah berubah menjadi lumpur, basah di mana-mana. Tidak jarang, malam-malam keluarga kecil itu terjaga, bukan karena bayi menangis, melainkan karena takut atap runtuh.

Pada masa kehamilannya, ketakutan itu semakin besar. “Waktu itu saya masih mengandung anak yang kecil ini… saya sering merasa sedih, Pak. Kepikiran gimana kalau nanti melahirkan tapi masih tinggal di rumah seperti itu. Takut roboh… takut kenapa-kenapa sama anak saya.”

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tak bisa berbuat banyak. Suaminya, Samsul—lelaki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh serabutan—menghabiskan hari-harinya di sawah atau di proyek bangunan dengan upah Rp50.000 per hari. Itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Dengan satu anak sekolah TK dan satu bayi, kebutuhan sehari-hari sering kali tak terpenuhi. “Kadang mau beli beras aja harus hutang ke warung tetangga,” kata Kamila. Untuk biaya sekolah anaknya, yang hampir satu juta rupiah, Samsul pun sering terpaksa menyicil atau meminjam sana-sini. “Berat rasanya, Pak…” ucap Kamila.

Saking terdesaknya keadaan, Kamila pernah berencana bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Ia mengurus dokumen, mengisi formulir, bahkan kehilangan ijazahnya di tengah proses administrasi yang panjang. Namun pada akhirnya, ia membatalkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Samsul.

“Suami saya bilang, ‘Sabar ya, Mah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mamah di sini aja, enggak usah berangkat. Kita jaga keluarga dan anak-anak kita.’”

Saat Kamila menirukan ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena cinta, tapi karena ia tahu keputusannya bertahan hanyalah karena keluarga, meski itu berarti terus tinggal di rumah yang nyaris tidak bisa disebut rumah.

“Apa daya, Pak… kemampuan kami cuma seperti ini. Setiap dapat uang lebih, langsung habis buat bayar hutang,” ungkapnya.

Potret keluarga Kamila di depan rumahnya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Harapan Datang Mengetuk Pintu

Harapan itu datang pada hari yang tidak pernah ia duga. “Saya masih ingat… waktu tim Habitat datang pertama kali buat survei. Rasanya lega sekali. Waktu itu aja saya sudah punya sedikit harapan. Tapi begitu benar-benar terpilih dapat bantuan… Masya Allah, bersyukur sekali.”

Habitat for Humanity Indonesia bersama donatur membangun kembali rumah Kamila dari nol, memberinya struktur yang kuat, dinding yang kokoh, atap yang tidak lagi bocor, dan ruang-ruang yang membuat keluarganya bisa bernapas lega. Sebelum ditempati, Kamila bahkan ikut swadaya semampunya untuk membangun dapur dan merapikan beberapa bagian rumah, usaha kecil yang dilakukan dari hati yang besar.

Saat ia melihat rumah itu selesai dibangun, Kamila hanya mampu menunduk dan menangis. “Ya Allah… apa ini jawaban dari larangan suami saya pergi ke luar negeri? Mungkin kalau saya tetap berangkat, saya enggak bakal dapat semua ini.”

Tiga minggu tinggal di rumah baru membuat hidup keluarga ini berubah drastis. “Tidak ada lagi bocor, tidak ada lagi cerita angkat kasur,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Rasanya aman, nyaman… tidur pun lebih nyenyak.”

Namun perubahan terbesar bukan pada rumahnya, melainkan pada pikirannya. Kamila kini bisa fokus mengurus anak-anaknya tanpa dihantui rasa takut rumah roboh atau biaya perbaikan. Ia bisa memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan sekadar bertahan hidup hari demi hari. Dan dengan tidak adanya lagi pengeluaran mendesak untuk memperbaiki rumah, keluarga kecil ini bisa mulai perlahan melunasi hutang-hutangnya.

“Rumah ini… anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.

Kamila tahu betul bahwa keberuntungannya tidak dialami semua orang. “Jutaan keluarga di luar sana juga bermimpi punya rumah seperti ini, Pak. Tapi kemampuan mereka… ya mungkin sama seperti kami dulu. Serba terbatas.”

Cerita Kamila menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan pondasi bagi keluarga untuk hidup layak, membesarkan anak dengan aman, dan bermimpi lebih tinggi. Dan bagi keluarga seperti Kamila, tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.

Bantu wujudkan lebih banyak rumah layak bagi keluarga di Indonesia: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)