logotype
Donate

Kategori: Kisah Perubahan

HFH -3
Kisah Perubahan

Ketika Air Bersih Akhirnya Mengalir ke Rumah Nenih

Karawang, 21 September 2026 – Pagi itu, rasa haru, sedih, sekaligus bahagia bercampur dalam diri Nenih, warga Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang. Setelah melewati 61 tahun kehidupannya, untuk pertama kalinya ia dapat merasakan air bersih mengalir langsung di rumahnya. Air yang bagi sebagian orang mungkin menjadi bagian sederhana dari keseharian, bagi Nenih merupakan sesuatu yang sejak lama hanya bisa ia harapkan.

Semasa hidupnya, Nenih terbiasa mengandalkan aliran air irigasi yang berada sekitar 100 meter dari rumahnya. Air tersebut menjadi sumber utama untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci pakaian, hingga mencuci beras dan bahan makanan. Padahal, kondisi air tidaklah layak. Airnya kerap keruh, berbau, dan bercampur dengan kotoran.

Tidak hanya Nenih, sejumlah keluarga di sekitar tempat tinggalnya juga menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada aliran irigasi tersebut. Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, membuat sumur menjadi salah satu pilihan. Namun, pilihan tersebut tidak mudah bagi Nenih yang harus menjalani kehidupan dengan penghasilan terbatas.

Nenih adalah seorang janda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak lebih dari Rp100.000 per hari. Di rumah, ia juga merawat dan membesarkan cucunya karena orang tuanya bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di luar negeri. Dengan penghasilan yang terbatas dan berbagai kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, menyediakan sumber air sendiri menjadi sesuatu yang belum mampu ia wujudkan.

Untuk kebutuhan minum, Nenih selama ini harus membeli air isi ulang. Setiap galon dihargai sekitar Rp5.000 dan dalam satu bulan ia dapat menghabiskan hingga 30 galon, atau sekitar Rp150.000 hanya untuk mendapatkan air yang layak dikonsumsi.

“Kalau satu galon Rp5.000, dalam sebulan bisa sampai 30 galon. Jadi sekitar Rp150.000 untuk air minum saja. Cukup enggak cukup, ya harus dicukupin. Mau bagaimana lagi, air tetap harus ada, tapi pengeluaran itu harus dibagi juga untuk makan dan kebutuhan sekolah,” ujar Nenih.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika musim kemarau tiba. Debit air irigasi yang selama ini menjadi tumpuan keluarga semakin berkurang, bahkan terkadang hanya menyisakan air yang sangat keruh. Pada saat seperti itu, Nenih harus menunggu hingga pagi ketika kondisi air sedikit lebih baik untuk mengambilnya dan kemudian membawanya pulang.

“Kalau musim kemarau, airnya semakin sedikit dan keruh. Solusinya saya harus menghemat air. Biasanya setiap pagi saya lihat dulu kondisi airnya. Kalau airnya agak mendingan, saya ambil lalu saya pikul ke rumah,” ceritanya.

Nenih menggunakan aliran air irigasi untuk mencuci pakaian, sayuran, dan bahan makanan, hingga mandi sebelum menerima bantuan air bersih dari Habitat for Humanity di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Jarak 100 meter dari rumah menuju sumber air mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Namun bagi Nenih, perjalanan tersebut bukanlah hal yang ringan. Penglihatannya pada mata sebelah kiri mengalami gangguan setelah kecelakaan kerja. Kondisi tersebut membuat aktivitas mengambil dan membawa air menjadi semakin melelahkan, terlebih ketika harus dilakukan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Penggunaan air dari irigasi juga membawa kekhawatiran tersendiri bagi Nenih. Ia bercerita bahwa cucunya beberapa kali mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air tersebut. Air yang keruh dan bercampur kotoran membuat aktivitas sederhana seperti mandi dan mencuci menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani dengan keterbatasan.

Kondisi yang dialami Nenih menunjukkan bahwa akses air bersih bukan sekadar persoalan tersedianya air untuk diminum. Air yang aman dan layak digunakan merupakan bagian penting dari hunian yang layak karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, kenyamanan, serta kemampuan keluarga menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih aman dan bermartabat.

Hingga akhirnya cahaya harapan datang. Perubahan mulai dirasakan Nenih ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Habitat for Humanity Belanda membangun sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air dari aliran irigasi setempat. Sistem tersebut dilengkapi dengan teknologi filtrasi untuk mengolah air sebelum disalurkan kepada 10 keluarga prioritas yang sebelumnya tidak memiliki akses air bersih yang memadai.

Untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan, air yang telah melalui proses filtrasi juga diuji di laboratorium. Langkah ini dilakukan untuk memastikan air yang tersedia memenuhi standar kelayakan sebelum digunakan oleh keluarga penerima manfaat.

Kini, air yang dahulu harus diambil dan dipikul dari aliran irigasi sejauh sekitar 100 meter dapat diperoleh lebih dekat dari rumah Nenih. “Sekarang saya sudah tidak pernah lagi menggunakan air dari kali. Mulai dari mandi, buang air, mencuci pakaian, sampai mencuci sayuran, semuanya sudah pakai air yang baru ini,” kata Nenih.

Perubahan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi Nenih. Ia tidak lagi harus menunggu kondisi air irigasi membaik, mengangkut air ke rumah, atau khawatir ketika musim kemarau membuat sumber air semakin sulit digunakan.

Yang paling ia rasakan adalah perubahan bagi cucu-cucunya. “Cucu saya juga senang sekali bisa mandi pakai air yang bersih. Sekarang mereka tidak lagi marah-marah karena harus mandi menggunakan air yang butek dan bercampur kotoran. Saya juga senang melihat mereka bisa mandi dengan lebih nyaman,” ujar Nenih.

Nenih membasuh muka cucunya dengan air bersih yang telah tersambung di rumahnya berkat dukungan Habitat for Humanity di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Nenih, tersedianya air bersih juga membawa harapan baru bagi kesehatan keluarganya. Jika sebelumnya penggunaan air dari irigasi kerap diikuti keluhan gatal-gatal pada kulit, kini ia merasa lebih tenang karena kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan menggunakan air yang lebih bersih dan aman.

Ia bahkan mulai menggunakan air tersebut untuk kebutuhan konsumsi. “Saya coba air ini untuk memasak dan membuat kopi. Rasanya enak sekali, Pak. Sekarang saya jauh lebih tenang karena bisa menggunakan air yang bersih,” katanya.

Akses air bersih juga memberikan perubahan dari sisi ekonomi. Sebelumnya, sekitar Rp150.000 setiap bulan harus dialokasikan Nenih untuk membeli air isi ulang. Dengan tersedianya akses air bersih, pengeluaran tersebut tidak lagi menjadi beban seperti sebelumnya.

Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, penghematan tersebut berarti lebih banyak ruang untuk memenuhi kebutuhan lain. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli air kini dapat disisihkan atau dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Setelah 61 tahun hidup dengan keterbatasan air bersih, Nenih akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia miliki yakni, air yang lebih aman dan layak dapat digunakan tanpa harus pergi jauh dari rumah.

“Ini keberkahan yang besar sekali bagi saya. Saya tidak pernah membayangkan di usia saya yang sekarang akhirnya bisa merasakan air bersih mengalir dekat rumah. Dulu setiap mau menggunakan air harus memikirkan dari mana mengambilnya, sekarang saya bisa menggunakannya dengan lebih mudah,” ungkap Nenih.

Namun, kebahagiaan Nenih tidak hanya berhenti pada apa yang kini dirasakan keluarganya. Ia berharap fasilitas air bersih yang telah dibangun dapat dirawat dan dijaga bersama agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Saya berharap fasilitas air ini bisa terus dijaga dan dirawat supaya manfaatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga bisa digunakan untuk anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya juga berharap tetangga-tetangga lain yang belum mendapatkan air bersih nantinya bisa merasakan manfaat yang sama seperti saya,” harapnya.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI_ (2)
Kisah Perubahan

Air Bersih untuk Kesehatan, Pendidikan, dan Harapan Keluarga Sami

Karawang, 16 September 2026 – Bagi sebagian keluarga, pagi hari mungkin dimulai dengan menyiapkan sarapan dan memastikan anak-anak siap berangkat sekolah. Namun bagi keluarga Sami (53), waktu pagi pernah diawali dengan pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu, dari mana mereka mendapatkan air untuk mandi hari itu?

Di Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga bagi Sami dan keluarganya. Ketersediaannya menentukan bagaimana anak-anaknya memulai hari, apakah mereka dapat berangkat ke sekolah dengan nyaman, hingga berapa banyak pengeluaran yang harus disisihkan keluarga setiap bulan.

Sami sehari-hari berjualan makanan ringan dan jajanan untuk anak-anak di depan rumahnya. Dari usaha kecil tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp50.000 per hari. Sementara suaminya, Caplin (55), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Dengan pendapatan yang terbatas, setiap pengeluaran rumah tangga harus diperhitungkan dengan cermat, termasuk untuk mendapatkan air yang layak digunakan.

Selama ini, keluarga Sami menggunakan air dari sebuah sumur bantuan pemerintah desa yang dimanfaatkan bersama oleh empat keluarga. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian. Namun, air dari sumur itu terasa pahit sehingga tidak dapat digunakan untuk minum maupun kebutuhan konsumsi.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Sami harus membeli air isi ulang. Bukan hanya untuk minum keluarganya, air tersebut juga dibutuhkan untuk membuat minuman es yang ia jual di depan rumah.

“Setiap bulan saya harus membeli sekitar 20 galon. Satu galonnya Rp5.000, jadi kurang lebih Rp100.000 saya keluarkan hanya untuk air. Air itu untuk kebutuhan minum keluarga sekaligus untuk membuat minuman yang saya jual. Jadi memang harus dihitung betul-betul supaya kebutuhan lainnya tetap terpenuhi,” tutur Sami.

Namun, ketergantungan pada sumur tidak selalu membuat kebutuhan air keluarga Sami terpenuhi. Ketika musim kemarau datang dan debit air sumur menurun, Sami dan keluarga harus bergantian menggunakan sumber air yang tersedia. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan terpaksa kembali mengandalkan aliran irigasi yang airnya keruh dan tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari.

Aliran air irigasi yang digunakan keluarga Sami dan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Sami, persoalan itu menjadi semakin berat ketika anak-anaknya harus menggunakan air tersebut untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Tidak jarang, mereka mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air dari aliran irigasi. Kondisi tersebut juga mengganggu kenyamanan anak-anak dalam menjalani aktivitas, termasuk ketika mereka harus belajar di sekolah.

“Kalau dulu, hampir setiap pagi setelah subuh anak-anak sudah mandi di kali sebelum berangkat sekolah. Mereka sebenarnya tidak nyaman karena harus mandi di tempat terbuka dan takut dilihat orang. Belum lagi setelahnya kulit mereka sering terasa gatal. Sebagai orang tua, saya tentu sedih melihat anak-anak harus mengalami keadaan seperti itu,” kata Sami.

Air yang seharusnya menjadi bagian paling mendasar dari kehidupan sehari-hari justru pernah menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga Sami. Keterbatasan akses air bukan hanya menyangkut kebutuhan untuk minum atau mandi, tetapi juga menyentuh kesehatan, kenyamanan, privasi, hingga kesempatan anak-anak untuk memulai hari dan belajar tanpa gangguan.

Kondisi tersebut mulai berubah ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Habitat for Humanity Belanda membangun sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air dari aliran irigasi setempat. Air tersebut diolah melalui sistem filtrasi sebelum disalurkan kepada 10 keluarga prioritas yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses air bersih, termasuk keluarga Sami.

Untuk memastikan air yang dihasilkan aman digunakan, air yang telah melalui proses filtrasi juga menjalani pengujian di laboratorium. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kualitas air memenuhi standar yang dipersyaratkan sebelum dimanfaatkan oleh keluarga.

Bangunan pengolahan dan filtrasi air irigasi yang dibangun oleh Habitat for Humanity untuk menghasilkan air bersih di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kini, setelah sekitar dua minggu menggunakan air dari sistem baru tersebut, Sami merasakan perubahan yang sebelumnya sulit ia bayangkan. Air yang dahulu harus dicari, dihemat, atau dibeli, kini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan keluarga di rumah.

“Alhamdulillah, sekarang kami punya sumber air baru. Kami tidak perlu lagi repot mencari air atau khawatir ketika musim kemarau. Airnya juga jauh lebih baik daripada yang kami gunakan sebelumnya. Kulit tidak lagi terasa kasar setelah mandi,” ujarnya.

Perubahan paling terasa bagi Sami terlihat pada anak-anaknya. Mereka tidak lagi harus pergi ke aliran irigasi untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Tidak ada lagi rasa khawatir harus mandi di ruang terbuka atau menggunakan air yang membuat kulit mereka gatal.

“Yang paling membuat saya senang adalah melihat anak-anak sekarang bisa mandi dengan air yang bersih. Kulit mereka juga tidak seperti dulu yang sering gatal setelah menggunakan air kali. Mereka jadi lebih nyaman dan bisa berangkat sekolah tanpa harus memikirkan hal seperti itu lagi,” kata Sami.

Bagi anak-anak, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Sami, bisa mandi dengan air yang bersih dan aman berarti lebih dari sekadar kenyamanan. Ada rasa aman, privasi, dan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Sami menggunakan air bersih yang mengalir di rumahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mengolah air untuk berjualan es jajanan di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Air bersih juga membawa perubahan dalam aktivitas ekonomi Sami. Selama ini, sebagian pengeluaran untuk membeli air isi ulang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung usaha kecilnya berjualan minuman. Dengan adanya sumber air baru, ketergantungan terhadap pembelian air isi ulang mulai berkurang.

“Airnya juga enak untuk dikonsumsi. Yang paling terasa, sekarang kami tidak perlu terlalu sering membeli air isi ulang. Untuk jualan juga lebih ringan karena kebutuhan air sudah tersedia, jadi modal yang biasanya dipakai membeli air bisa lebih dihemat,” tutur Sami.

Sami memang belum dapat menghitung secara pasti berapa besar tambahan keuntungan yang diperolehnya karena sistem air bersih tersebut baru digunakan selama sekitar dua minggu. Namun, baginya, berkurangnya pengeluaran untuk membeli air sudah menjadi bantuan yang berarti bagi keluarga.

Di tengah musim kemarau, ketika ketersediaan air menjadi persoalan bagi banyak keluarga di sekitarnya, Sami kini tidak lagi memandang datangnya musim kering dengan kekhawatiran yang sama. Bersama sembilan keluarga lainnya di Desa Baturaden, ia mulai merasakan bagaimana akses air yang lebih layak dapat mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, air bersih bukan hanya tentang air yang mengalir dari keran. Di dalamnya ada kesehatan anak yang lebih terjaga, ada kesempatan untuk berangkat ke sekolah dengan lebih nyaman, ada pengeluaran keluarga yang dapat ditekan, dan ada usaha kecil yang dapat berjalan dengan lebih ringan.

Lebih jauh, akses terhadap air bersih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hunian yang layak. Rumah yang aman dan nyaman tidak cukup hanya memiliki dinding dan atap yang kokoh. Keluarga juga membutuhkan akses terhadap kebutuhan dasar yang memungkinkan mereka hidup sehat, menjaga kebersihan, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan bermartabat.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI4
Kisah Perubahan

Cerita Kristin: Memulai Kembali dari Reruntuhan Rumah Setelah Gempa Flores

Nagekeo, 7 September 2026 – Bagi Kristina Wae, rumah sederhana di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah ia dan keluarganya makan bersama, berbagi cerita, dan menjalani hari-hari dengan bahagia. Namun, gempa Flores mengubah semuanya dalam hitungan menit.

Saat gempa terjadi, Kristin, 39 tahun, bersama suaminya, Fransiskus Lita (40), dan ketiga anak mereka berusaha menyelamatkan diri dari rumah yang mulai runtuh. Bagian depan rumah mengalami kerusakan, sementara dapur di bagian belakang juga tidak luput dari reruntuhan. Jalan keluar yang biasa mereka gunakan pun tidak lagi aman.

“Waktu gempa kami langsung khawatir dan menangis. Kami ingin keluar lewat depan, tetapi teras sudah mulai runtuh. Mau ke belakang, dapur juga sudah runtuh. Syukurlah ada pintu samping. Suami saya mendobrak pintu itu dan kami semua keluar lewat sana,” kenang Kristin.

Tidak ada barang yang sempat dibawa. Bagi Kristin dan keluarganya, keselamatan menjadi satu-satunya hal yang penting saat itu.

Kehilangan tempat tinggal, tetapi tidak kehilangan harapan

Sebelum gempa, Kristin menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai petani. Keluarga mereka juga beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan keluarga bergantung pada hasil pertanian dan penjualan ternak, dengan pendapatan yang tidak menentu dan tidak lebih dari Rp2 juta per bulan.

Ketiga anak mereka juga menjadi alasan bagi Kristin dan suaminya untuk terus bertahan. Kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak, tetap harus dipenuhi meskipun rumah mereka kini tidak lagi dapat dihuni.

“Rumah itu segalanya buat keluarga saya. Itu tempat ternyaman untuk keluarga kecil saya. Walaupun rumahnya sederhana, di situlah banyak kebahagiaan yang kami curahkan,” ujar Kristin.

Setelah gempa, keluarga Kristin mengungsi ke Bukit Danga, cukup jauh dari rumah mereka. Selama sekitar dua minggu, mereka tinggal di tenda pengungsian dan bertahan dengan bantuan makanan serta kebutuhan dasar dari pemerintah.

Namun, Kristin menyadari bahwa ia tidak bisa terus berada di tempat pengungsian. Di rumahnya masih ada ternak yang dapat membantu menopang kehidupan keluarga. Anak-anaknya juga harus kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, setelah sekitar dua minggu di Bukit Danga, Kristin dan keluarganya memutuskan kembali ke Marapokot. Mereka mendirikan tenda di samping rumah yang rusak dan tinggal di sana untuk sementara waktu.

“Kalau kami terus tinggal di atas, bagaimana dengan penghasilan? Kami punya anak sekolah. Kami masih punya ternak yang mungkin bisa membantu kehidupan kami setiap hari. Jadi kami memilih untuk bangkit lagi,” katanya.

Kristina Wae menunjukkan bagian rumahnya yang roboh akibat gempa di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Sebuah paket yang menjadi awal untuk bangkit

Beberapa hari setelah kembali ke rumah, Kristin mendapat kabar dari aparat desa untuk datang ke kantor desa. Ia tidak mengetahui bahwa kedatangannya berkaitan dengan bantuan yang akan diterimanya.

Motor miliknya masih tertindih reruntuhan rumah, sehingga ia harus menggunakan ojek milik tetangga untuk menuju kantor desa.

Setibanya di sana, Kristin sempat merasa ragu dan tidak mengetahui apa yang akan diterimanya. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa keluarganya mendapatkan seperangkat perlengkapan untuk membantu membersihkan rumah yang terdampak gempa.

Bantuan tersebut merupakan Emergency Shelter Kit (ESK) yang disalurkan Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para donatur. Sebanyak 100 paket ESK diberikan kepada 100 keluarga terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, sebagai bagian dari program Flores Housing Recovery.

Berbeda dari bantuan kebutuhan sehari-hari, ESK berisi berbagai perlengkapan yang dapat digunakan keluarga untuk membersihkan sisa material gempa dan melakukan perbaikan awal pada rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang.

Bagi Kristin, paket tersebut datang pada saat yang tepat. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Sekecil apa pun bantuannya, saya bisa menikmatinya,” tutur Kristin.

Lebih dari sekadar perlengkapan, bagi Kristin, ESK menjadi dorongan untuk mulai melakukan sesuatu. Rumahnya memang belum bisa langsung dibangun kembali. Modal untuk memperbaikinya pun belum tersedia. Namun, ia kini memiliki alat untuk memulai dari hal yang paling sederhana yaitu, membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit.

Kristina Wae membuka isi paket Emergency Shelter Kit (ESK) dari Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Setelah Gempa, Abdul Rajak Memilih Bangkit dan Menjaga Harapan Keluarganya

Membersihkan dapur, menyiapkan langkah berikutnya

Kristin berencana memulai dari bagian dapur. Bagian tersebut menjadi salah satu area rumah yang mengalami kerusakan dan ia berharap dapat membersihkannya agar bisa kembali digunakan untuk memasak.

“Paling tidak dapur kami bersihkan dulu supaya bisa digunakan untuk memasak. Kami kerjakan pelan-pelan dengan alat ini,” ujarnya.

Keinginan untuk memperbaiki rumah sebenarnya sudah ada bahkan sebelum gempa terjadi. Kristin bercerita bahwa keluarganya sempat membeli satu rit pasir untuk memperbaiki lantai dapur. Mereka berencana membeli semen keesokan harinya untuk melanjutkan pekerjaan. Namun, gempa datang sebelum rencana tersebut terlaksana.

Pasir yang sudah dibeli pun belum sempat digunakan ketika keluarga harus meninggalkan rumah demi menyelamatkan diri. Rencana sederhana untuk membuat rumah menjadi lebih baik terpaksa tertunda.

Kini, Kristin kembali mencoba memulai dari awal. “Bantuan seperti ini membuat saya merasa harus lebih kuat dan membangkitkan semangat. Saya ingin membangun rumah saya lagi, walaupun sekarang masih harus menunggu modal atau rezeki. Untuk saat ini kami membersihkan pelan-pelan. Kalau nanti ada rezeki, kami ingin membangun rumah yang lebih layak,” katanya.

Bagi Habitat for Humanity Indonesia, langkah kecil seperti membersihkan rumah merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Karena itu, bantuan ESK tidak hanya ditujukan untuk membantu keluarga menangani sisa material gempa, tetapi juga menjadi salah satu langkah awal agar keluarga dapat mulai mengambil kembali kendali atas proses pemulihan rumah mereka.

Penyaluran ESK ini sekaligus menjadi bagian awal dari rencana pemulihan hunian di Aesesa, Nagekeo. Ke depan, Habitat Indonesia akan mendukung perbaikan dan penguatan rumah melalui pendekatan retrofitting bagi 200 keluarga, sehingga rumah yang diperbaiki tidak hanya menjadi lebih layak, tetapi juga lebih aman dan tangguh menghadapi risiko bencana.

Kristina Wae menggunakan salah satu perkakas dari Emergency Shelter Kit Habitat for Humanity Indonesia untuk membersihkan puing-puing sisa gempa di rumahnya di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dari rumah yang runtuh, tumbuh kembali harapan

Hari-hari Kristin kini masih jauh dari kata mudah. Ia dan keluarganya masih tinggal di tenda yang didirikan di samping rumah. Sebagian besar bangunan tidak dapat ditempati karena mengalami kerusakan dan retakan.

Namun, di tengah keterbatasan itu, Kristin memilih untuk tidak berhenti. Ia mulai membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit sambil menunggu kesempatan dan rezeki untuk membangun kembali. Bagi dirinya, proses tersebut bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga tentang mengembalikan tempat yang selama ini menjadi pusat kehidupan keluarganya.

Rumah yang dulu sederhana telah menjadi saksi berbagai kebahagiaan keluarganya. Kini, rumah itu juga menjadi tempat Kristin menaruh harapan untuk memulai kembali. “Rumah adalah segalanya bagi keluarga saya,” katanya.

Bagi Kristin dan keluarga terdampak lainnya, pemulihan mungkin tidak terjadi dalam satu hari. Tetapi dari sebuah tenda, beberapa alat sederhana, dan kemauan untuk mulai membersihkan kembali, sebuah langkah pertama telah dimulai.

Dukungan Sahabat Habitat dapat membantu keluarga terdampak gempa Flores membangun kembali hunian yang lebih aman dan layak. Mari bersama mendukung pemulihan rumah bagi keluarga di Nagekeo melalui program Flores Housing Recovery.

Salurkan donasi melalui informasi pada flyer kampanye di bawah ini:

Penulis: Kevin Herbian

Grafis: Tias Ester Widhari

(kh/av)

HFHI
Kisah Perubahan

Kisah Yanto dari Kaki Pegunungan Bondowoso, Bertahan di Tengah Rumah yang Rapuh

Suara hujan bagi sebagian orang mungkin terdengar menenangkan. Namun bagi Yanto, setiap tetes yang jatuh di atas atap rumahnya dulu justru membawa kegelisahan.

Bondowoso, 7 Juli 2026 – Selama hampir sepuluh tahun, pria 34 tahun yang tinggal di Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso ini hidup bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana yang kondisinya terus menurun dimakan usia. Lantainya masih berupa tanah, dindingnya tersusun dari lembaran triplek yang mulai lapuk dan berlubang di berbagai sisi, sementara atap asbes yang menaunginya telah dipenuhi celah yang membuat air hujan leluasa masuk ke dalam rumah.

“Dahulu atapnya bocor, pinggirnya itu bolong-bolong. Waktu hujan deras, ya kebocoran, kebasahan kita di dalam,” kenang Yanto.

Sebagai buruh serabutan dengan penghasilan sekitar Rp50.000 per hari, Yanto tidak memiliki banyak pilihan. Sebagian besar pendapatannya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri dan putri tunggal mereka yang kini berusia enam tahun. Jika ada sedikit uang tersisa, prioritas tetap jatuh pada kebutuhan makan keluarga.

“Harus ngirit. Kalau enggak ngirit ya enggak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Tinggal di kawasan pegunungan menghadirkan tantangan tersendiri. Saat malam tiba, udara dingin menyelimuti rumah dari berbagai arah. Angin masuk melalui celah-celah dinding yang berlubang, sementara atap yang sudah rusak tak lagi mampu memberikan perlindungan yang semestinya. Yanto dan keluarganya hanya bisa mengandalkan selimut untuk menghangatkan tubuh.

Di tengah segala keterbatasan itu, satu hal yang paling sering menghantui pikirannya adalah keselamatan keluarga. “Saya sedih, bahkan sampai menangis kalau melihat kondisi rumah ini. Tapi ya mau gimana lagi, mau benerin tidak ada uang. Buat makan saja yang penting cukup,” tuturnya.

Kekhawatiran itu semakin besar setiap kali ia membayangkan kemungkinan terburuk terjadi. Rumah yang terus menua membuatnya cemas apabila suatu saat diterpa bencana atau gempa yang dapat menyebabkan bangunan tersebut roboh. Di saat yang sama, keberadaan atap asbes juga menjadi sumber kecemasan lain karena material tersebut diketahui memiliki risiko terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak yang setiap hari tumbuh dan beraktivitas di bawahnya.

Istri dan putri Yanto berada di dalam rumah mereka yang belum layak huni di Kabupaten Bondowoso. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Di tengah situasi yang serba sulit itu, Yanto tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah. Hingga suatu hari, tim Habitat for Humanity Indonesia datang melakukan survei ke rumahnya.

Awalnya ia mengira kunjungan tersebut hanyalah pendataan biasa. Namun rasa terkejut muncul ketika ia mengetahui bahwa keluarganya terpilih sebagai penerima bantuan pembangunan rumah layak huni.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Selama proses pembangunan berlangsung, Yanto turut terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan yang bisa ia lakukan. Mulai dari menggali septic tank, mengangkat material bangunan, hingga membantu berbagai kebutuhan konstruksi lainnya.

Bagi Yanto, rumah itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada tenaga, waktu, dan semangat yang ia curahkan selama proses pembangunannya berlangsung.

Perubahan yang ia rasakan kemudian begitu nyata. Kini rumahnya tampil jauh berbeda. Dinding berwarna krem menggantikan material lama yang rapuh, sementara struktur bangunan yang lebih kuat menghadirkan rasa aman yang selama bertahun-tahun ia impikan.

“Anak dan istri saya sudah senang sekali. Enggak kebocoran lagi. Saya juga enggak takut rumah akan roboh,” katanya dengan senyum lega.

Potret keluarga Yanto berdiri di teras rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bondowoso. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dampaknya tidak hanya terlihat dari kondisi fisik rumah. Yanto juga melihat perubahan dalam keseharian keluarganya. Sang istri dan putri kini dapat beristirahat dengan lebih nyaman tanpa harus menghadapi udara dingin yang menyusup dari celah-celah dinding. Mereka juga tidak lagi tinggal di bawah atap asbes yang selama ini menjadi kekhawatiran keluarga.

Putrinya pun tumbuh menjadi anak yang lebih ceria. Halaman rumah yang kini lebih aman memberinya ruang untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar. “Dulu kalau main banyak saya larangnya. Saya khawatir rumahnya terlalu jorok atau bisa melukai anak saya. Sekarang dia bisa bebas main di mana saja,” ujar Yanto.

Malam-malam yang dulu dipenuhi kecemasan perlahan berganti menjadi waktu istirahat yang lebih tenang. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebihan saat hujan turun atau ketika angin pegunungan bertiup kencang.

Ketenangan itu memberi Yanto energi baru untuk terus bekerja dan menatap masa depan keluarganya dengan lebih optimistis. Ia kini bisa memusatkan perhatian pada hal-hal yang sebelumnya sering tertutupi oleh kekhawatiran soal rumah, termasuk menyiapkan biaya pendidikan bagi putri kecilnya.

Bagi Yanto, perubahan ini bukan hanya tentang memiliki tempat tinggal yang lebih aman. Ini adalah kesempatan untuk menjalani hidup dengan perasaan yang lebih tenang, menjaga keluarganya dengan lebih baik, dan melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa masa depan yang ia impikan untuk sang putri kini terasa jauh lebih dekat dari sebelumnya.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Tak Lagi Mengungsi Saat Hujan: Perjuangan Andri Mewujudkan Rumah Layak untuk Keluarganya

Garut, 22 Juni 2026 – Andri (36) tinggal bersama istrinya, Rina (33), serta dua anak mereka di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Anak pertamanya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, sementara si bungsu masih berusia tiga tahun. Selama tujuh tahun terakhir, keluarga kecil ini hidup di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak.

Sehari-hari, Andri bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Jika sedang ada pekerjaan, ia menjadi buruh tani atau membantu mencari rumput untuk pakan ternak di kebun milik warga. Namun, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari.

Dengan pendapatan yang terbatas itu, Andri hanya mampu memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit. Lantai rumah yang masih berupa tanah terkadang ia tambal menggunakan semen jika memiliki uang lebih.“Kalau ada rezeki sedikit, saya pakai buat nambal lantai pakai semen. Tapi cuma sebagian, enggak bisa semuanya,” ujar Andri.

Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atap rumah terbuat dari asbes tanpa plafon, material yang berisiko bagi kesehatan, terlebih bagi anak-anak yang setiap hari tinggal di dalamnya. Dinding rumah pun terbuat dari bilik bambu yang sudah berlubang di banyak bagian, membuat udara dingin dan air hujan mudah masuk ke dalam rumah.

Ketakutan terbesar datang setiap musim hujan tiba. “Kalau hujannya kecil, kami masih berani bertahan di dalam rumah. Tapi kalau hujan besar ditambah angin kencang, kami pasti ngungsi karena takut rumah roboh,” tutur Andri. “Yang paling repot itu kalau hujan malam. Di sini gelap dan minim lampu jalan. Kami harus lari-larian ke rumah orang tua buat numpang ngungsi,” kenangnya.

Istri Andri, Rina (36), bersama putrinya berdiri di depan rumah mereka yang tidak layak huni di Kabupaten Garut. Foto: Tim HFHI

Masa paling berat datang ketika Rina mengandung anak kedua mereka. Saat itu kondisi ekonomi keluarga benar-benar berada di titik terendah, sementara hari persalinan semakin dekat. “Waktu itu saya sempat merasa putus asa. Saya merasa belum bisa jadi suami dan ayah yang berguna buat keluarga,” ujar Andri.

Ditambah lagi, kondisi rumah yang rapuh membuat mereka khawatir akan keselamatan bayi yang akan lahir. Setelah anak bungsunya lahir, Andri dan keluarganya akhirnya memutuskan mengungsi sementara ke rumah orang tua selama dua bulan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di tengah segala perjuangan itu, Andri hanya bisa terus berusaha sambil menyerahkan sisanya kepada Tuhan. “Saya belajar buat sadar diri. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin cari nafkah. Selebihnya saya serahkan sama Allah,” katanya.

Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Harapan baru akhirnya datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra membangun kembali rumah milik Andri menjadi layak huni bersama 84 keluarga lainnya di Kabupaten Garut. “Syukur Alhamdulillah, hidup saya seperti punya semangat baru waktu tahu rumah saya dipilih untuk dibangun kembali,” ujar Andri penuh haru.

Baginya, rumah baru ini merupakan jawaban atas perjuangan panjang yang selama ini ia jalani bersama keluarga. “Ini seperti hasil perjuangan saya dan keluarga selama ini buat punya rumah yang layak. Saya yakin ini jawaban dari doa-doa kami,” katanya.

Kini, rumah Andri berdiri jauh lebih kokoh dan aman. Tidak hanya dibangun dengan dinding dan atap yang layak, rumah tersebut juga dilengkapi berbagai furnitur seperti meja dan kursi ruang keluarga, kasur, lemari pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.

Potret keluarga Andri berdiri di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan Astra di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan itu membawa rasa aman yang selama ini tidak pernah benar-benar mereka rasakan. “Rumah ini bikin saya lebih percaya diri, ada yang bisa saya banggakan. Yang paling penting, sekarang saya udah enggak takut lagi kalau hujan dan enggak perlu numpang ke rumah orang tua,” ujar Andri sambil tersenyum.

Tak berhenti sampai di situ, Habitat Indonesia juga mengajak Andri terlibat dalam pembangunan rumah layak huni untuk keluarga lain di lingkungannya. Berbekal pengalaman sebagai tukang bangunan, kini Andri bekerja membantu pembangunan rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di kebun setengah hari.

Kesempatan itu turut membantu meningkatkan penghasilannya. “Sekarang penghasilan saya ada tambahan, jadi bisa dua kali lebih besar dibanding sebelumnya,” kata Andri.

Perubahan juga dirasakan oleh anak-anak mereka. Andri percaya, kondisi rumah yang lebih aman dan nyaman membuat kesehatan fisik maupun mental anak-anaknya menjadi jauh lebih baik. Anak-anaknya kini tidak lagi merasa malu dengan rumah mereka sendiri.

Di rumah yang baru ini, Andri akhirnya menemukan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia cari yaitu, rasa tenang. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Astra. Rumah ini benar-benar jadi tempat yang layak untuk ditinggali. Rumah yang layak itu ya seperti ini,” tutup Andri.

Kisah Andri menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan hanya soal bangunan yang kokoh, tetapi tentang menghadirkan rasa aman, menjaga martabat keluarga, dan membuka harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Songs for NTT (3)
Kisah Perubahan

Membuka Pintu pada Keluarga yang Lebih Sehat di Pulau Sabu

Sabu Raijua, 12 Juni 2026 – Pagi hari di Pulau Sabu sering dimulai dengan debu. Saat musim kering datang, angin membawa serpihan daun kering dari atap rumah Joni yang mulai lapuk. Lantainya harus disapu berkali-kali setiap hari, tetapi debu tetap masuk melalui celah dinding tripleks yang rapuh.

Beberapa bulan lalu, anak bungsu Joni yang baru berusia tiga bulan jatuh sakit. Ia mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Di rumah kecil itu, udara terasa pengap karena tidak ada jendela untuk sirkulasi. Ketika angin bertiup kencang, debu dari atap daun terus berjatuhan ke dalam rumah. “Kalau malam angin besar, kami takut anak-anak makin sesak,” kata Joni.

Kisah Joni mencerminkan situasi yang dihadapi banyak keluarga di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini baru saja mengalami kekeringan ekstrem selama 128 hari tanpa hujan, lebih dari dua kali lipat ambang kekeringan ekstrem nasional menurut BMKG pada 2025. Musim kering yang panjang membuat masyarakat semakin rentan terhadap masalah kesehatan dan kondisi hunian yang buruk.

Kondisi rumah milik Joni sebelum dibangun menjadi rumah layak huni di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Foto: Tim HFHI

Di Nusa Tenggara Timur sendiri, angka kejadian ISPA mencapai 36,3%. Kondisi rumah dengan ventilasi minim, atap yang lapuk, serta sanitasi yang buruk menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Di Kecamatan Sabu Liae, tempat Joni tinggal, 23.809 keluarga masih hidup di rumah tidak layak huni. Banyak rumah dibangun dari material seadanya dan belum mampu memberikan perlindungan yang aman terhadap panas ekstrem, debu, maupun cuaca yang tidak menentu.

Di tengah kondisi itu, Joni tetap menjalani pekerjaannya sebagai mentor di Pusat Pengembangan Anak (PPA) di gereja lokal. Dengan penghasilan sekitar Rp1 juta (sekitar $56.58 USD) per bulan, ia dan istrinya berusaha memenuhi kebutuhan tiga anak mereka. Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat ketika anak-anak sakit, memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.

“Atapnya sering bocor dan debunya banyak sekali. Tapi waktu itu kami belum tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.

Potret keluarga Joni di depan rumah mereka setelah dibangun menjadi rumah layak huni di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Foto: Tim HFHI

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Hadir di Sabu Raijua, NTT: Upaya Menjawab Tantangan Hunian Layak di Selatan Indonesia

Ketika program perbaikan rumah hadir di wilayahnya, Joni memutuskan ikut terlibat penuh. Ia melengkapi dokumen yang dibutuhkan dan mulai mengumpulkan batu kali sendiri untuk fondasi rumah barunya.

Bagi Joni, rumah itu bukan sekadar bangunan baru. Itu adalah kesempatan agar anak-anaknya bisa tumbuh dengan lebih sehat.

Kini rumah mereka memiliki dinding yang lebih kokoh, atap yang aman, dan ventilasi yang membuat udara mengalir lebih baik. Debu tidak lagi memenuhi ruangan setiap hari. “Saya lega sekarang anak-anak sudah jarang batuk. Kami juga tidur lebih tenang,” kata Joni.

Perubahan itu terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka. Uang yang sebelumnya sering dipakai untuk membeli obat mulai disisihkan untuk kebutuhan sekolah dan makanan anak-anak. Joni juga tidak lagi dihantui kekhawatiran setiap kali musim panas datang atau angin bertiup kencang.

Bagi banyak keluarga di Pulau Sabu, rumah layak huni lebih dari tempat berlindung. Rumah yang sehat membantu anak-anak tetap sehat, membantu orang tua menjaga penghasilan mereka, dan memberi keluarga kesempatan untuk memikirkan masa depan dengan lebih tenang. Di wilayah yang semakin rentan terhadap cuaca ekstrem, rumah yang aman juga menjadi perlindungan pertama bagi keluarga untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Bagi Joni, perubahan itu dimulai dari satu hal sederhana: rumah yang membuat anaknya bisa bernapas lebih lega.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Sudah bertahun-tahun Nining hidup di antara rasa lelah, cemas, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam. Di rumah sederhana yang nyaris roboh itu, ia merawat kedua orang tuanya yang sakit stroke sambil berusaha bertahan dengan segala keterbatasan hidup.

Garut, 9 Juni 2026 – Nining (46), seorang ibu kepala keluarga asal Cikajang, Kabupaten Garut, menghabiskan sebagian besar harinya untuk mengurus kedua orang tuanya yang sakit. Sang ayah masih bisa berjalan perlahan dengan bantuan tongkat, sementara ibunya hanya bisa terbaring di atas kasur. Di saat yang sama, Nining juga masih harus membesarkan anak bungsunya yang kini duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nining mengandalkan bantuan dari dua anaknya yang telah berkeluarga dan bekerja. Uang yang diberikan setiap bulan itu harus dibagi untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus membeli obat bagi kedua orang tuanya. Bahkan, tak jarang ia harus berhutang di warung milik tetangga demi bisa tetap bertahan hidup. “Cukup enggak cukup, ya dicukup-cukupin,” ujar Nining pelan.

Di tengah himpitan ekonomi, kondisi rumah yang mereka tempati justru semakin memperberat kehidupannya. Rumah itu terbuat dari bilik bambu dan papan kayu dengan atap genteng yang sudah keropos. Ketika hujan turun, air masuk dari berbagai sisi rumah dan membuat keadaan menjadi kacau.

“Kesulitan terbesar saya itu ekonomi. Saya cuma mengandalkan uang dari anak-anak yang dikasih sebulan sekali. Uang itu harus dibagi buat kebutuhan hidup dan merawat orang tua. Belum lagi tinggal di rumah yang enggak layak seperti ini, pikiran saya campur aduk,” tutur Nining.

Nining menuntun orang tuanya berjalan di samping rumah mereka yang belum layak huni di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Demi menambah penghasilan, Nining sesekali bekerja sebagai buruh tani di kebun milik tetangganya dengan upah tak lebih dari Rp30 ribu per hari. Namun bahkan saat bekerja, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. “Kalau saya lagi berkebun, saya selalu kepikiran orang tua di rumah karena kondisi rumahnya sudah enggak layak,” katanya.

Merawat kedua orang tua di rumah yang rapuh juga menjadi tantangan tersendiri. Saat hujan deras turun dan air mulai masuk ke dalam rumah, Nining harus memindahkan kedua orang tuanya ke sudut-sudut rumah yang masih kering agar tidak terkena bocor.

“Pernah waktu hujan gede, bagian belakang rumah roboh. Saya panik minta bantuan tetangga karena takut kena orang tua. Untungnya enggak sampai menimpa mereka dan masih sempat dipindahin,” kenangnya.

Setelah kejadian itu, Nining hanya mampu memperbaiki rumah seadanya. Ia menggunakan kayu sebagai penyangga bangunan dan menutup bagian yang rusak dengan spanduk agar rumah tetap bisa ditempati.

Di balik semua perjuangan itu, tersimpan satu penyesalan yang terus membekas di hati Nining. Ia percaya kondisi ibunya semakin memburuk setelah terjatuh di kamar mandi rumah mereka yang masih berlantai tanah dan licin.

Sebelum bertemu dengan Habitat for Humanity Indonesia, Nining bahkan sempat bercita-cita bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Baginya, itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa memperbaiki rumah dan membiayai pengobatan kedua orang tuanya.

Potret Nining bersama orang tuanya berdiri di depan rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Harapan yang selama ini terasa jauh akhirnya datang. Bersama dukungan Astra, Habitat Indonesia membangun kembali rumah milik Nining menjadi layak huni bersama 84 keluarga lainnya di Kabupaten Garut.

Kini, rumah Nining berdiri kokoh dengan dinding berwarna kuning yang cerah. Tidak hanya lebih aman dan nyaman, rumah tersebut juga dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan lansia dan disabilitas. Rumah Nining dilengkapi handrail di ruang tamu dan kamar mandi, serta desain pintu yang dibuat lebih lebar dibandingkan rumah pada umumnya agar memudahkan mobilitas kedua orang tuanya.

Selain itu, rumah tersebut juga dilengkapi berbagai furnitur seperti meja dan kursi ruang tamu, lemari pakaian, hingga kasur tidur yang membuat rumah terasa jauh lebih layak dan nyaman untuk ditempati.

Bagi Nining, rumah ini adalah jawaban dari doa-doa panjang yang ia panjatkan selama lebih dari tujuh tahun. Ia mengaku pernah beberapa kali mendapat tawaran bantuan, namun belum pernah benar-benar terwujud hingga akhirnya bantuan itu datang melalui Habitat Indonesia dan Astra.

“Perubahan rumah saya banyak sekali. Yang paling penting sekarang rumah sudah enggak pernah bocor lagi. Rumah juga jauh lebih bagus dan enak dilihat. Saya juga sekarang udah enggak minder dan malu lagi sama tetangga,” ujar Nining dengan mata berkaca-kaca.

Orang tua Nining menggunakan handrail yang tersedia di dalam rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kehadiran rumah layak huni ini juga membawa ketenangan baru dalam hidupnya. Kini, Nining tidak lagi dihantui rasa takut berlebihan setiap kali harus meninggalkan rumah untuk mencari penghasilan tambahan. Selain itu, rumahnya kini dilengkapi dengan handrail (pegangan pengaman), memudahkan ayahnya yang lansia untuk berjalan berkeliling rumah dengan lebih stabil dan aman.

“Karena rumah ini udah layak banget, sekarang saya sudah enggak pernah takut atau khawatir lagi kalau ninggalin orang tua sebentar buat kerja cari uang tambahan jadi buruh tani,” tuturnya.

Rumah ini menjadi simbol perjuangan dan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Di tengah segala keterbatasan, Nining tak pernah berhenti berusaha memberikan tempat tinggal yang aman dan layak bagi kedua orang tuanya untuk menjalani masa tua mereka dengan lebih nyaman dan bermartabat.

Kisah Nining menjadi pengingat bahwa rumah layak huni bukan hanya tentang dinding dan atap, tetapi tentang rasa aman, ketenangan, dan harapan baru bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Masih banyak keluarga seperti Nining yang menanti kesempatan untuk memiliki rumah layak huni. Mari bersama menjadi bagian dari perubahan dan membantu lebih banyak keluarga mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Pakuwon
Kisah Perubahan

Rumah yang Dulu Ditakuti, Kini Jadi Tempat Pulang Penuh Harapan

Bogor, 13 Mei 2026 – Ada rasa cemas yang tak pernah benar-benar pergi dari benak Ahmad. Setiap malam saat ia berangkat bekerja, pikirannya selalu tertinggal di rumah, pada istri dan putrinya yang harus bertahan di dalam hunian yang rapuh.

Ahmad (48), seorang buruh harian pabrik, tinggal bersama keluarga kecilnya di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika ada sedikit sisa, uang itu digunakan untuk memperbaiki rumah seadanya, sekadar agar tidak terlalu bocor saat hujan turun.

Rumah yang mereka tempati saat itu jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, atap gentengnya rapuh, dan struktur bangunannya mulai melemah dimakan usia. “Kalau ada hujan angin, itu kami takut rumah roboh,” ujar Ahmad.

Potret Ahmad bersama istrinya berdiri di depan rumah mereka sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Peduli menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Ari Darmawan

Kekhawatiran itu semakin besar karena Ahmad kerap bekerja pada shift malam. “Setiap saya bekerja, saya selalu khawatir sama anak dan istri di rumah. Kepikiran terus, pikiran enggak tenang, takut rumah kenapa-kenapa,” tuturnya.

Namun bukan hanya soal keamanan yang membebani pikirannya. Sebagai seorang ayah, hatinya terasa semakin berat ketika mengetahui putrinya merasa malu dengan kondisi rumah mereka.

“Anak saya cerita, kalau temannya mau main, ia selalu bilang ‘jangan di rumah aku’, mungkin dia tahu kondisi rumahnya kaya gini, jelek,” kata Ahmad. “Saya sebagai orang tua mengerti, pasti dia merasa malu ya, rumahnya enggak seperti yang lain.”

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia dan Pakuwon Group Lanjutkan Kolaborasi Bangun Hunian Layak di Gresik

Melihat kondisi tersebut, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan Pakuwon Peduli hadir memberikan harapan baru. Melalui program pembangunan rumah layak huni, rumah Ahmad dibangun kembali bersama 19 keluarga lainnya di Desa Karanggan. Selain itu, dukungan juga diberikan kepada 20 keluarga melalui pembangunan sarana toilet rumah tangga, serta perbaikan lima fasilitas umum di wilayah tersebut.

“Terima kasih banyak saya ucapkan untuk Pakuwon yang telah membantu keluarga saya. Bantuan ini berharga sekali buat saya dan keluarga saya,” ujar Ahmad penuh syukur.

Kini, rumah Ahmad berdiri kokoh dengan dinding berwarna biru yang rapi, atap yang kuat, dan struktur bangunan yang jauh lebih aman. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka.

Ahmad mengaku, kehadiran rumah baru ini telah mengubah banyak hal. Ia tidak lagi dihantui rasa khawatir setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Tidak ada lagi kekhawatiran akan kebocoran atau ancaman bangunan roboh. Beban yang selama ini ia rasakan perlahan terangkat.

Potret kebahagiaan keluarga Ahmad di depan rumah mereka yang telah layak huni setelah dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Peduli di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Lebih dari itu, rumah ini juga mengembalikan rasa percaya diri dan martabat keluarga. Putrinya kini tidak lagi merasa malu. Ia mulai berani mengundang teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Perubahan paling nyata pun mulai terlihat. Setelah beberapa bulan menempati rumah baru, putrinya menunjukkan peningkatan prestasi di sekolah. Dari sebelumnya berada di peringkat ketiga, kini ia berhasil naik ke peringkat kedua di kelasnya.

Kisah Ahmad menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan sekadar tempat tinggal, tetapi fondasi penting yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, dari rasa aman, kesehatan, hingga kepercayaan diri dan masa depan anak.

Masih banyak keluarga seperti Ahmad yang menanti kesempatan untuk merasakan perubahan serupa. Mari bersama menjadi bagian dari perubahan ini, dan bantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang layak untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI (3)
Kisah Perubahan

Dari Rasa Khawatir Menjadi Rasa Syukur: Perjalanan Pak Rigo Memiliki Rumah Layak

Pagi dan malam tak lagi terasa sama bagi Rigo Suhendra. Di balik hari-harinya yang sederhana, ada satu hal yang selalu menghantui pikirannya, apakah rumahnya masih akan berdiri saat hujan datang lagi?

Bogor, 5 Mei 2026 – Rigo, 47 tahun, adalah seorang buruh serabutan yang menggantungkan hidup dari pekerjaan apa saja yang bisa ia dapatkan. Terkadang ia menjadi kuli bangunan, di hari lain menjadi sopir, atau pekerjaan lain yang datang silih berganti tanpa kepastian. Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp100.000, Rp50.000, atau bahkan tidak sama sekali. Bersama sang istri, Laya (46), yang menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, mereka berjuang memenuhi kebutuhan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Di tengah keterbatasan itu, keluarga kecil ini harus bertahan di sebuah rumah peninggalan orang tua Rigo. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru tak mampu memberikan rasa aman sepenuhnya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, diselingi potongan triplek dan GRC seadanya. Dari luar, rumah itu tampak rapuh. Dari dalam, kekhawatiran selalu hadir.

Bagi Rigo, kenyamanan bukan lagi soal pilihan, melainkan penerimaan. Ia mencoba berdamai dengan keadaan, meyakinkan dirinya bahwa apa yang dimiliki saat ini harus tetap dijalani. Namun, di balik itu semua, tersimpan keinginan sederhana yang sulit ia wujudkan.

“Siapa sih yang enggak ingin punya rumah bagus, tapi ya kemampuan kita cuma segini, mau diapain lagi,” ujar Rigo.

Setiap kali hujan deras turun, rasa tenang itu runtuh seketika. Air merembes dari atap dan dinding yang berlubang, membasahi lantai rumah, bahkan membuat mereka kesulitan untuk beristirahat dengan layak. Tidak jarang, malam-malam mereka dihabiskan dengan rasa waswas.

Kondisi rumah milik Rigo sebelum menerima dukungan pembangunan rumah layak huni dari para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Ari Darmawan

Di saat-saat seperti itu, yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman, tetapi juga ketakutan. Rigo kerap diliputi kekhawatiran rumahnya akan roboh diterpa angin kencang. Pikiran tentang keselamatan keluarga terus menghantui, sementara kemampuan untuk memperbaiki rumah sangat terbatas. Ia hanya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilan hariannya untuk menambal bagian rumah yang rusak, meski ia tahu itu belum cukup.

Di balik semua itu, ada keinginan sederhana yang terus ia simpan, memiliki rumah yang layak untuk keluarganya. Sebuah tempat yang bisa benar-benar melindungi, bukan sekadar bertahan. Namun, bagi Rigo, keinginan itu terasa jauh dari jangkauan. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia hanya bisa berusaha semampunya dan menyerahkan sisanya pada harapan.

Kondisi rumah yang tidak layak ini juga berdampak pada anak-anaknya. Rigo menyadari bahwa putranya kerap merasa malu untuk mengundang teman-temannya datang ke rumah. Ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh bersama, justru menjadi sumber rasa tidak percaya diri.

Baca juga: Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya

Hingga suatu hari, harapan itu datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para dermawan memilih rumah Rigo di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sebagai salah satu penerima bantuan rumah layak huni.

Kabar tersebut sempat disambut dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada rasa bahagia dan syukur yang begitu besar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran baru, apakah ia harus mengeluarkan biaya yang tidak mampu ia tanggung. Kekhawatiran itu akhirnya terjawab ketika ia mengetahui bahwa program ini tidak menuntut kontribusi finansial, melainkan partisipasi tenaga melalui swadaya.

Seiring berjalannya waktu, rumah yang dahulu rapuh perlahan berubah. Dinding-dinding lama yang berlubang digantikan dengan bangunan yang kokoh. Kini, berdiri sebuah rumah dengan dinding berwarna biru terang, sederhana, namun penuh makna. Bagi Rigo, rumah itu bukan hanya bangunan baru, tetapi juga jawaban atas doa-doa yang selama ini ia panjatkan.

Perubahan ini membawa dampak yang begitu nyata bagi keluarga Rigo. Rasa aman yang dulu tidak pernah benar-benar hadir, kini bisa mereka rasakan setiap hari. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebih saat hujan turun, tidak ada lagi rasa takut rumah akan roboh.

Potret Rigo bersama istrinya di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan itu juga dirasakan oleh anak-anak Rigo. Jika dulu mereka kerap menahan diri karena rasa malu, kini suasana itu perlahan berganti. Anak-anaknya mulai percaya diri, bahkan sudah berani mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama.

Rigo sendiri merasakan perubahan besar dalam dirinya. Beban yang selama ini ia pikul perlahan terangkat. Ia tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Sebaliknya, kini ia melangkah dengan perasaan lebih tenang dan semangat baru untuk menjalani hidup.

“Alhamdulillah sekarang rumah saya benar-benar layak. Akhirnya saya bisa memberikan tempat berlindung yang terbaik bagi keluarga kecil saya. Plong rasanya, seperti beban di pundak hilang,” ujar Rigo. “Seperti mimpi… tiba-tiba punya rumah bagus, layak,” tambahnya.

Baginya, rumah ini adalah lebih dari sekadar tempat tinggal. Ini adalah simbol harapan yang akhirnya terwujud, sebuah bukti bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.

Kini, setiap sudut rumah itu menyimpan cerita perjuangan dan rasa syukur. Dan bagi Rigo, kebahagiaan sederhana itu terasa begitu utuh. Karena akhirnya, ia bisa memberikan tempat berlindung yang layak bagi keluarga yang ia cintai.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI
Kisah Perubahan

Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya

Tangerang, 17 April 2026 – Ada masa ketika hujan bukanlah sesuatu yang dinanti, melainkan ditakuti. Bagi Siti, setiap angin kencang dan derasnya air hujan justru menjadi tanda bahwa ia dan keluarganya harus bersiap meninggalkan rumah, bukan untuk mencari perlindungan, tetapi untuk menghindari bahaya.

Siti, 40 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Rajeg, Kabupaten Tangerang bersama suami dan tiga orang anaknya. Suaminya bekerja sebagai pedagang barang rongsokan di Jakarta, dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam seminggu, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp200.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah hingga makan sehari-hari.

Kondisi rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari lapisan seng, triplek, dan terpal yang ditopang bilik bambu. Atap gentengnya banyak yang pecah, sementara lantainya masih berupa tanah. Bahkan, rumah itu tidak memiliki kamar mandi dan toilet sendiri.

“Rumah dulu kalau dibilang enggak layak, ya memang enggak layak Pak. Kalau ada hujan, ya kita sekeluarga kebocoran. Kalau ada hujan angin besar, bukannya kita berlindung di dalam, tapi malah keluar rumah, takut kerobohan,” ujar Siti.

Ketiadaan fasilitas dasar membuat kehidupan sehari-hari menjadi penuh keterbatasan. Untuk kebutuhan sederhana seperti mandi, buang air, hingga memasak, Siti harus bergantung pada rumah orang tua atau saudara. “Mau buang air besar ya numpang, mau mandi ya numpang. Buat masak aja saya minta air,” tuturnya.

Potret keluarga Siti di depan rumah mereka yang belum layak huni di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Indah Mai

Dalam kondisi serba terbatas, Siti juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kebutuhan makan keluarga tidak selalu terpenuhi. Ada hari ketika mereka bisa makan di pagi hari, tetapi tidak di sore hari, atau sebaliknya. Situasi ini tentu berdampak pada tumbuh kembang anak-anaknya, yang kesulitan mendapatkan ruang yang layak untuk bermain maupun belajar.

“Hidup kami serba pas-pasan Pak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bapak kan kerjanya kalau pulang seminggu atau dua minggu sekali, tergantung Bapak pas pulang bisa bawa uang,” kata Siti.

Ujian hidup semakin berat ketika sang suami jatuh sakit. Tanpa pemasukan, Siti harus menghadapi kondisi yang serba tidak pasti di tengah kebutuhan anak-anak yang terus berjalan.

“Dulu waktu sebelum rumah ini dibangun, Bapak pernah jatuh sakit, Bapak tidak kerja, dan anak-anak lagi butuh uang untuk sekolah. Saya bingung dan menangis harus seperti apa, tidak ada pemasukan sama sekali, ditambah lagi rumah tidak layak seperti itu,” kenangnya.

Dalam situasi tersebut, Siti hanya bisa mengandalkan bantuan dari orang tua dan saudara. Rasa malu kerap menghampiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di lingkungan sekitar demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan.

Di tengah segala keterbatasan itu, Siti hanya bisa bertahan dan berserah. “Ya karena keterbatasan ini, saya hanya bisa menyesuaikan dengan kondisi rumah dan berserah kepada Allah,” ujarnya.

Hingga akhirnya, harapan itu datang. Melalui dukungan para dermawan, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah milik Siti menjadi hunian yang layak. Kini, rumah Siti telah berubah sepenuhnya. Dinding berwarna krem berdiri kokoh, atap yang kuat melindungi dari panas dan hujan, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak kini tersedia di dalam rumah.

“Alhamdulillah sekarang rumah saya sudah jadi layak huni. Kalau hujan saya sudah enggak pernah kebocoran lagi, dan enggak perlu lagi lari keluar rumah, ke rumah saudara,” ujar Siti dengan penuh syukur.

Potret keluarga Siti di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni

Perubahan ini membawa dampak besar bagi kehidupan keluarganya. Siti kini merasa lebih percaya diri dan tidak lagi merasa malu. “Sekarang saya lebih banyak bersyukurnya, akhirnya saya punya rumah seperti tetangga-tetangga saya. Apalagi sekarang saya punya toilet dan kamar sendiri, saya sudah enggak malu lagi harus menumpang ke rumah orang,” katanya.

Anak-anak Siti pun kini memiliki ruang sendiri untuk beristirahat dan belajar. Jika dulu mereka harus tidur di area dapur, kini mereka memiliki kamar yang memberikan kenyamanan dan privasi. “Kalau sekarang kan enggak (seperti dulu), anak-anak punya kamar khusus untuk tidur, tidak dicampur lagi,” ujar Siti.

Selain itu, kondisi rumah yang lebih layak juga turut mendukung kesehatan keluarga. Lingkungan yang lebih bersih, sanitasi yang memadai, serta struktur bangunan yang aman memberikan rasa tenang yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.

Dengan perubahan ini, Siti menatap masa depan dengan harapan baru. “Saya harap rumah baru ini bisa mengantarkan rejeki yang baru buat keluarga saya, dan masa sulit dahulu tidak terulang kembali,” ujarnya.

Siti adalah satu dari jutaan keluarga di Indonesia yang telah keluar dari belenggu rumah tidak layak. Di balik setiap rumah yang berdiri, ada cerita tentang ketahanan, harapan, dan mimpi yang perlahan mulai terwujud. “Rumah bagi saya adalah segala-galanya,” tutupnya.

Mari bersama membantu lebih banyak keluarga seperti Siti untuk memiliki rumah yang aman dan layak huni. Kunjungi tautan ini dan jadilah bagian dari perubahan nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)