Tangerang, 17 April 2026 – Ada masa ketika hujan bukanlah sesuatu yang dinanti, melainkan ditakuti. Bagi Siti, setiap angin kencang dan derasnya air hujan justru menjadi tanda bahwa ia dan keluarganya harus bersiap meninggalkan rumah, bukan untuk mencari perlindungan, tetapi untuk menghindari bahaya.
Siti, 40 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Rajeg, Kabupaten Tangerang bersama suami dan tiga orang anaknya. Suaminya bekerja sebagai pedagang barang rongsokan di Jakarta, dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam seminggu, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp200.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolah hingga makan sehari-hari.
Kondisi rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari lapisan seng, triplek, dan terpal yang ditopang bilik bambu. Atap gentengnya banyak yang pecah, sementara lantainya masih berupa tanah. Bahkan, rumah itu tidak memiliki kamar mandi dan toilet sendiri.
“Rumah dulu kalau dibilang enggak layak, ya memang enggak layak Pak. Kalau ada hujan, ya kita sekeluarga kebocoran. Kalau ada hujan angin besar, bukannya kita berlindung di dalam, tapi malah keluar rumah, takut kerobohan,” ujar Siti.
Ketiadaan fasilitas dasar membuat kehidupan sehari-hari menjadi penuh keterbatasan. Untuk kebutuhan sederhana seperti mandi, buang air, hingga memasak, Siti harus bergantung pada rumah orang tua atau saudara. “Mau buang air besar ya numpang, mau mandi ya numpang. Buat masak aja saya minta air,” tuturnya.

Dalam kondisi serba terbatas, Siti juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kebutuhan makan keluarga tidak selalu terpenuhi. Ada hari ketika mereka bisa makan di pagi hari, tetapi tidak di sore hari, atau sebaliknya. Situasi ini tentu berdampak pada tumbuh kembang anak-anaknya, yang kesulitan mendapatkan ruang yang layak untuk bermain maupun belajar.
“Hidup kami serba pas-pasan Pak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bapak kan kerjanya kalau pulang seminggu atau dua minggu sekali, tergantung Bapak pas pulang bisa bawa uang,” kata Siti.
Ujian hidup semakin berat ketika sang suami jatuh sakit. Tanpa pemasukan, Siti harus menghadapi kondisi yang serba tidak pasti di tengah kebutuhan anak-anak yang terus berjalan.
“Dulu waktu sebelum rumah ini dibangun, Bapak pernah jatuh sakit, Bapak tidak kerja, dan anak-anak lagi butuh uang untuk sekolah. Saya bingung dan menangis harus seperti apa, tidak ada pemasukan sama sekali, ditambah lagi rumah tidak layak seperti itu,” kenangnya.
Dalam situasi tersebut, Siti hanya bisa mengandalkan bantuan dari orang tua dan saudara. Rasa malu kerap menghampiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di lingkungan sekitar demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan.
Di tengah segala keterbatasan itu, Siti hanya bisa bertahan dan berserah. “Ya karena keterbatasan ini, saya hanya bisa menyesuaikan dengan kondisi rumah dan berserah kepada Allah,” ujarnya.
Hingga akhirnya, harapan itu datang. Melalui dukungan para dermawan, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah milik Siti menjadi hunian yang layak. Kini, rumah Siti telah berubah sepenuhnya. Dinding berwarna krem berdiri kokoh, atap yang kuat melindungi dari panas dan hujan, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak kini tersedia di dalam rumah.
“Alhamdulillah sekarang rumah saya sudah jadi layak huni. Kalau hujan saya sudah enggak pernah kebocoran lagi, dan enggak perlu lagi lari keluar rumah, ke rumah saudara,” ujar Siti dengan penuh syukur.

Baca juga: Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni
Perubahan ini membawa dampak besar bagi kehidupan keluarganya. Siti kini merasa lebih percaya diri dan tidak lagi merasa malu. “Sekarang saya lebih banyak bersyukurnya, akhirnya saya punya rumah seperti tetangga-tetangga saya. Apalagi sekarang saya punya toilet dan kamar sendiri, saya sudah enggak malu lagi harus menumpang ke rumah orang,” katanya.
Anak-anak Siti pun kini memiliki ruang sendiri untuk beristirahat dan belajar. Jika dulu mereka harus tidur di area dapur, kini mereka memiliki kamar yang memberikan kenyamanan dan privasi. “Kalau sekarang kan enggak (seperti dulu), anak-anak punya kamar khusus untuk tidur, tidak dicampur lagi,” ujar Siti.
Selain itu, kondisi rumah yang lebih layak juga turut mendukung kesehatan keluarga. Lingkungan yang lebih bersih, sanitasi yang memadai, serta struktur bangunan yang aman memberikan rasa tenang yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.
Dengan perubahan ini, Siti menatap masa depan dengan harapan baru. “Saya harap rumah baru ini bisa mengantarkan rejeki yang baru buat keluarga saya, dan masa sulit dahulu tidak terulang kembali,” ujarnya.
Siti adalah satu dari jutaan keluarga di Indonesia yang telah keluar dari belenggu rumah tidak layak. Di balik setiap rumah yang berdiri, ada cerita tentang ketahanan, harapan, dan mimpi yang perlahan mulai terwujud. “Rumah bagi saya adalah segala-galanya,” tutupnya.
Mari bersama membantu lebih banyak keluarga seperti Siti untuk memiliki rumah yang aman dan layak huni. Kunjungi tautan ini dan jadilah bagian dari perubahan nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




