Sabu Raijua, 12 Juni 2026 – Pagi hari di Pulau Sabu sering dimulai dengan debu. Saat musim kering datang, angin membawa serpihan daun kering dari atap rumah Joni yang mulai lapuk. Lantainya harus disapu berkali-kali setiap hari, tetapi debu tetap masuk melalui celah dinding tripleks yang rapuh.
Beberapa bulan lalu, anak bungsu Joni yang baru berusia tiga bulan jatuh sakit. Ia mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Di rumah kecil itu, udara terasa pengap karena tidak ada jendela untuk sirkulasi. Ketika angin bertiup kencang, debu dari atap daun terus berjatuhan ke dalam rumah. “Kalau malam angin besar, kami takut anak-anak makin sesak,” kata Joni.
Kisah Joni mencerminkan situasi yang dihadapi banyak keluarga di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini baru saja mengalami kekeringan ekstrem selama 128 hari tanpa hujan, lebih dari dua kali lipat ambang kekeringan ekstrem nasional menurut BMKG pada 2025. Musim kering yang panjang membuat masyarakat semakin rentan terhadap masalah kesehatan dan kondisi hunian yang buruk.

Kondisi rumah milik Joni sebelum dibangun menjadi rumah layak huni di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Foto: Tim HFHI
Di Nusa Tenggara Timur sendiri, angka kejadian ISPA mencapai 36,3%. Kondisi rumah dengan ventilasi minim, atap yang lapuk, serta sanitasi yang buruk menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Di Kecamatan Sabu Liae, tempat Joni tinggal, 23.809 keluarga masih hidup di rumah tidak layak huni. Banyak rumah dibangun dari material seadanya dan belum mampu memberikan perlindungan yang aman terhadap panas ekstrem, debu, maupun cuaca yang tidak menentu.
Di tengah kondisi itu, Joni tetap menjalani pekerjaannya sebagai mentor di Pusat Pengembangan Anak (PPA) di gereja lokal. Dengan penghasilan sekitar Rp1 juta (sekitar $56.58 USD) per bulan, ia dan istrinya berusaha memenuhi kebutuhan tiga anak mereka. Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat ketika anak-anak sakit, memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.
“Atapnya sering bocor dan debunya banyak sekali. Tapi waktu itu kami belum tahu harus mulai dari mana,” ujarnya.

Potret keluarga Joni di depan rumah mereka setelah dibangun menjadi rumah layak huni di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Foto: Tim HFHI
Ketika program perbaikan rumah hadir di wilayahnya, Joni memutuskan ikut terlibat penuh. Ia melengkapi dokumen yang dibutuhkan dan mulai mengumpulkan batu kali sendiri untuk fondasi rumah barunya.
Bagi Joni, rumah itu bukan sekadar bangunan baru. Itu adalah kesempatan agar anak-anaknya bisa tumbuh dengan lebih sehat.
Kini rumah mereka memiliki dinding yang lebih kokoh, atap yang aman, dan ventilasi yang membuat udara mengalir lebih baik. Debu tidak lagi memenuhi ruangan setiap hari. “Saya lega sekarang anak-anak sudah jarang batuk. Kami juga tidur lebih tenang,” kata Joni.
Perubahan itu terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka. Uang yang sebelumnya sering dipakai untuk membeli obat mulai disisihkan untuk kebutuhan sekolah dan makanan anak-anak. Joni juga tidak lagi dihantui kekhawatiran setiap kali musim panas datang atau angin bertiup kencang.
Bagi banyak keluarga di Pulau Sabu, rumah layak huni lebih dari tempat berlindung. Rumah yang sehat membantu anak-anak tetap sehat, membantu orang tua menjaga penghasilan mereka, dan memberi keluarga kesempatan untuk memikirkan masa depan dengan lebih tenang. Di wilayah yang semakin rentan terhadap cuaca ekstrem, rumah yang aman juga menjadi perlindungan pertama bagi keluarga untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
Bagi Joni, perubahan itu dimulai dari satu hal sederhana: rumah yang membuat anaknya bisa bernapas lebih lega.
Penulis: Astridinar Vania
(av/kh)




