Pagi dan malam tak lagi terasa sama bagi Rigo Suhendra. Di balik hari-harinya yang sederhana, ada satu hal yang selalu menghantui pikirannya, apakah rumahnya masih akan berdiri saat hujan datang lagi?
Bogor, 5 Mei 2026 – Rigo, 47 tahun, adalah seorang buruh serabutan yang menggantungkan hidup dari pekerjaan apa saja yang bisa ia dapatkan. Terkadang ia menjadi kuli bangunan, di hari lain menjadi sopir, atau pekerjaan lain yang datang silih berganti tanpa kepastian. Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp100.000, Rp50.000, atau bahkan tidak sama sekali. Bersama sang istri, Laya (46), yang menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, mereka berjuang memenuhi kebutuhan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Di tengah keterbatasan itu, keluarga kecil ini harus bertahan di sebuah rumah peninggalan orang tua Rigo. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru tak mampu memberikan rasa aman sepenuhnya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, diselingi potongan triplek dan GRC seadanya. Dari luar, rumah itu tampak rapuh. Dari dalam, kekhawatiran selalu hadir.
Bagi Rigo, kenyamanan bukan lagi soal pilihan, melainkan penerimaan. Ia mencoba berdamai dengan keadaan, meyakinkan dirinya bahwa apa yang dimiliki saat ini harus tetap dijalani. Namun, di balik itu semua, tersimpan keinginan sederhana yang sulit ia wujudkan.
“Siapa sih yang enggak ingin punya rumah bagus, tapi ya kemampuan kita cuma segini, mau diapain lagi,” ujar Rigo.
Setiap kali hujan deras turun, rasa tenang itu runtuh seketika. Air merembes dari atap dan dinding yang berlubang, membasahi lantai rumah, bahkan membuat mereka kesulitan untuk beristirahat dengan layak. Tidak jarang, malam-malam mereka dihabiskan dengan rasa waswas.

Di saat-saat seperti itu, yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman, tetapi juga ketakutan. Rigo kerap diliputi kekhawatiran rumahnya akan roboh diterpa angin kencang. Pikiran tentang keselamatan keluarga terus menghantui, sementara kemampuan untuk memperbaiki rumah sangat terbatas. Ia hanya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilan hariannya untuk menambal bagian rumah yang rusak, meski ia tahu itu belum cukup.
Di balik semua itu, ada keinginan sederhana yang terus ia simpan, memiliki rumah yang layak untuk keluarganya. Sebuah tempat yang bisa benar-benar melindungi, bukan sekadar bertahan. Namun, bagi Rigo, keinginan itu terasa jauh dari jangkauan. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia hanya bisa berusaha semampunya dan menyerahkan sisanya pada harapan.
Kondisi rumah yang tidak layak ini juga berdampak pada anak-anaknya. Rigo menyadari bahwa putranya kerap merasa malu untuk mengundang teman-temannya datang ke rumah. Ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh bersama, justru menjadi sumber rasa tidak percaya diri.
Baca juga: Dulu Lari Keluar Rumah, Kini Siti Merasa Aman di Dalamnya
Hingga suatu hari, harapan itu datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para dermawan memilih rumah Rigo di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sebagai salah satu penerima bantuan rumah layak huni.
Kabar tersebut sempat disambut dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada rasa bahagia dan syukur yang begitu besar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran baru, apakah ia harus mengeluarkan biaya yang tidak mampu ia tanggung. Kekhawatiran itu akhirnya terjawab ketika ia mengetahui bahwa program ini tidak menuntut kontribusi finansial, melainkan partisipasi tenaga melalui swadaya.
Seiring berjalannya waktu, rumah yang dahulu rapuh perlahan berubah. Dinding-dinding lama yang berlubang digantikan dengan bangunan yang kokoh. Kini, berdiri sebuah rumah dengan dinding berwarna biru terang, sederhana, namun penuh makna. Bagi Rigo, rumah itu bukan hanya bangunan baru, tetapi juga jawaban atas doa-doa yang selama ini ia panjatkan.
Perubahan ini membawa dampak yang begitu nyata bagi keluarga Rigo. Rasa aman yang dulu tidak pernah benar-benar hadir, kini bisa mereka rasakan setiap hari. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebih saat hujan turun, tidak ada lagi rasa takut rumah akan roboh.

Perubahan itu juga dirasakan oleh anak-anak Rigo. Jika dulu mereka kerap menahan diri karena rasa malu, kini suasana itu perlahan berganti. Anak-anaknya mulai percaya diri, bahkan sudah berani mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama.
Rigo sendiri merasakan perubahan besar dalam dirinya. Beban yang selama ini ia pikul perlahan terangkat. Ia tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Sebaliknya, kini ia melangkah dengan perasaan lebih tenang dan semangat baru untuk menjalani hidup.
“Alhamdulillah sekarang rumah saya benar-benar layak. Akhirnya saya bisa memberikan tempat berlindung yang terbaik bagi keluarga kecil saya. Plong rasanya, seperti beban di pundak hilang,” ujar Rigo. “Seperti mimpi… tiba-tiba punya rumah bagus, layak,” tambahnya.
Baginya, rumah ini adalah lebih dari sekadar tempat tinggal. Ini adalah simbol harapan yang akhirnya terwujud, sebuah bukti bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.
Kini, setiap sudut rumah itu menyimpan cerita perjuangan dan rasa syukur. Dan bagi Rigo, kebahagiaan sederhana itu terasa begitu utuh. Karena akhirnya, ia bisa memberikan tempat berlindung yang layak bagi keluarga yang ia cintai.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)



