Bogor, 13 Mei 2026 – Ada rasa cemas yang tak pernah benar-benar pergi dari benak Ahmad. Setiap malam saat ia berangkat bekerja, pikirannya selalu tertinggal di rumah, pada istri dan putrinya yang harus bertahan di dalam hunian yang rapuh.
Ahmad (48), seorang buruh harian pabrik, tinggal bersama keluarga kecilnya di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika ada sedikit sisa, uang itu digunakan untuk memperbaiki rumah seadanya, sekadar agar tidak terlalu bocor saat hujan turun.
Rumah yang mereka tempati saat itu jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk, atap gentengnya rapuh, dan struktur bangunannya mulai melemah dimakan usia. “Kalau ada hujan angin, itu kami takut rumah roboh,” ujar Ahmad.

Kekhawatiran itu semakin besar karena Ahmad kerap bekerja pada shift malam. “Setiap saya bekerja, saya selalu khawatir sama anak dan istri di rumah. Kepikiran terus, pikiran enggak tenang, takut rumah kenapa-kenapa,” tuturnya.
Namun bukan hanya soal keamanan yang membebani pikirannya. Sebagai seorang ayah, hatinya terasa semakin berat ketika mengetahui putrinya merasa malu dengan kondisi rumah mereka.
“Anak saya cerita, kalau temannya mau main, ia selalu bilang ‘jangan di rumah aku’, mungkin dia tahu kondisi rumahnya kaya gini, jelek,” kata Ahmad. “Saya sebagai orang tua mengerti, pasti dia merasa malu ya, rumahnya enggak seperti yang lain.”
Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia dan Pakuwon Group Lanjutkan Kolaborasi Bangun Hunian Layak di Gresik
Melihat kondisi tersebut, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan Pakuwon Peduli hadir memberikan harapan baru. Melalui program pembangunan rumah layak huni, rumah Ahmad dibangun kembali bersama 19 keluarga lainnya di Desa Karanggan. Selain itu, dukungan juga diberikan kepada 20 keluarga melalui pembangunan sarana toilet rumah tangga, serta perbaikan lima fasilitas umum di wilayah tersebut.
“Terima kasih banyak saya ucapkan untuk Pakuwon yang telah membantu keluarga saya. Bantuan ini berharga sekali buat saya dan keluarga saya,” ujar Ahmad penuh syukur.
Kini, rumah Ahmad berdiri kokoh dengan dinding berwarna biru yang rapi, atap yang kuat, dan struktur bangunan yang jauh lebih aman. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka.
Ahmad mengaku, kehadiran rumah baru ini telah mengubah banyak hal. Ia tidak lagi dihantui rasa khawatir setiap kali meninggalkan rumah untuk bekerja. Tidak ada lagi kekhawatiran akan kebocoran atau ancaman bangunan roboh. Beban yang selama ini ia rasakan perlahan terangkat.

Lebih dari itu, rumah ini juga mengembalikan rasa percaya diri dan martabat keluarga. Putrinya kini tidak lagi merasa malu. Ia mulai berani mengundang teman-temannya datang ke rumah untuk belajar bersama, sesuatu yang dulu terasa mustahil.
Perubahan paling nyata pun mulai terlihat. Setelah beberapa bulan menempati rumah baru, putrinya menunjukkan peningkatan prestasi di sekolah. Dari sebelumnya berada di peringkat ketiga, kini ia berhasil naik ke peringkat kedua di kelasnya.
Kisah Ahmad menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan sekadar tempat tinggal, tetapi fondasi penting yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, dari rasa aman, kesehatan, hingga kepercayaan diri dan masa depan anak.
Masih banyak keluarga seperti Ahmad yang menanti kesempatan untuk merasakan perubahan serupa. Mari bersama menjadi bagian dari perubahan ini, dan bantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang layak untuk kehidupan yang lebih baik.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




