logotype
Donate

Kategori: Aksi Relawan

HFHI – IES (7)
Aksi Relawan

Tawa, Peluh, dan Harapan: Cerita Relawan IES di Mauk, Tangerang

Tangerang, 18 April 2026 – Pagi itu, sinar matahari perlahan menembus sela-sela tenda putih yang berdiri di lokasi pembangunan rumah layak huni di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Udara terasa hangat, bukan hanya karena mentari yang mulai meninggi, tetapi juga karena energi puluhan relawan yang telah bersiap memulai hari dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Sebanyak 40 relawan dari Yayasan IES Jakarta hadir dengan satu tujuan yang sama, terlibat langsung dalam proses pembangunan rumah layak huni bersama Habitat for Humanity Indonesia. Bagi sebagian dari mereka, ini menjadi pengalaman pertama terjun langsung ke lapangan konstruksi, memegang alat bangunan, dan berkontribusi secara nyata dalam proses pembangunan rumah.

Kegiatan bertajuk “Building Hearts” yang dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026 lalu menjadi ruang bagi para relawan untuk tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dan merasakan. Sebelum aktivitas dimulai, seluruh peserta mengikuti sesi safety briefing dan pemanasan. Langkah ini menjadi penting untuk memastikan setiap proses berjalan dengan aman, terlebih bagi relawan yang belum terbiasa dengan aktivitas fisik di lapangan.

Setelah itu, para relawan dibagi ke dalam empat kelompok. Dua kelompok bertugas menggali pondasi, sementara dua kelompok lainnya mulai memasang dinding rumah. Aktivitas yang tampak sederhana ini menjadi fondasi awal dari perubahan besar bagi empat keluarga penerima manfaat yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Keempat keluarga tersebut merupakan bagian dari masyarakat berpenghasilan rendah yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh harian lepas, dengan penghasilan tidak lebih dari Rp1.500.000 per bulan. Dengan kondisi tersebut, mereka harus bertahan di hunian yang jauh dari kata layak. Namun, melalui dukungan berkelanjutan dari relawan Yayasan IES Jakarta sejak tahun 2023, mereka kini menjadi bagian dari 56 keluarga yang mendapatkan kesempatan untuk memiliki rumah yang lebih aman dan layak huni.

Baca juga: Menyemai Asa Kedua Bersama IES Jakarta Melalui Rumah Layak Huni

Di bawah terik matahari, suasana di lokasi pembangunan terasa hidup. Para relawan bekerja bahu membahu, saling membantu, dan tidak jarang diselingi tawa serta canda yang mencairkan suasana. Aktivitas seperti menggali tanah atau memasang material bangunan yang sebelumnya terasa asing, kini justru menjadi pengalaman yang penuh makna.

Salah satu relawan, Markus, yang telah mengikuti kegiatan ini untuk ketiga kalinya, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung di lapangan memberinya perspektif baru tentang arti berbagi.

“Buat saya, kegiatan ini adalah bentuk nyata bagaimana kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi untuk sesama. Lewat pembangunan rumah layak huni ini, saya berharap keluarga-keluarga yang menerima bisa benar-benar memperbaiki kualitas hidup mereka ke depan,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Rajib, relawan lainnya, yang melihat pembangunan rumah ini sebagai awal dari perubahan yang lebih besar bagi para penerima manfaat.

“Saya percaya rumah ini bisa jadi pondasi awal untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan tempat tinggal yang layak, keluarga-keluarga ini punya kesempatan lebih besar untuk berkembang, termasuk memberikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka,” ungkap Rajib.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru, dari aksi-aksi sederhana yang dilakukan bersama, dampak yang lebih luas dapat tercipta. Meski kegiatan berlangsung hingga tengah hari, pengalaman yang didapat para relawan terasa jauh lebih panjang dari waktu yang mereka habiskan di lokasi.

Lebih dari sekadar membangun rumah, hari itu menjadi tentang membangun empati, memperluas cara pandang, serta merasakan secara langsung bagaimana sebuah hunian layak dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Dalam beberapa minggu ke depan, empat keluarga penerima manfaat akan segera menempati rumah baru mereka. Sebuah tempat tinggal yang tidak hanya lebih kokoh secara fisik, tetapi juga menghadirkan rasa aman, kenyamanan, dan harapan baru.

Semoga rumah-rumah ini menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik, tempat di mana setiap anggota keluarga dapat beristirahat dengan tenang, berbagi kehangatan, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Foto: HFHI/Astridinar Vania

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Thunderbird
Aksi Relawan

Relawan Thunderbird Menggali Asa, Membangun Rumah untuk Keluarga Pak Ade

Bogor, 18 Februari 2026 – Pagi itu, langit Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tampak menghitam. Awan tebal menggantung rendah, dan tak lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi tanah di lokasi pembangunan rumah milik Bapak Ade Saputra. Tanah menjadi becek, udara terasa dingin, tetapi suasana di tempat ini justru dipenuhi rasa semangat.

Sebanyak 16 relawan dari Thunderbird sudah bersiap memulai hari mereka. Sepatu berlumpur dan pakaian yang perlahan basah oleh hujan tak mengurangi senyum di wajah mereka. Tak ada raut gelisah, yang terlihat justru antusiasme dan tawa kecil. Hari itu, mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk membantu membangun rumah layak huni bagi Pak Ade dan keluarganya.

Pak Ade adalah seorang kepala keluarga dengan tiga orang anak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh serabutan, menerima pekerjaan apa pun yang datang. Penghasilannya tak menentu, sementara rumah yang ditempati selama ini jauh dari kata aman dan nyaman. Dindingnya rapuh tanpa struktur yang kuat, dan atapnya sudah berlubang di banyak sisi. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk hingga menggenangi lantai rumah. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah itu justru sering membuat keluarga mereka khawatir.

Melihat kondisi tersebut, pembangunan rumah layak huni menjadi harapan baru bagi Pak Ade. Harapan itu kini perlahan mulai terwujud, dibangun bersama-sama oleh tangan-tangan para relawan yang bekerja tanpa pamrih.

Baca juga: Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Para relawan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian merangkai besi untuk memperkuat struktur bangunan, memastikan rumah berdiri kokoh dan aman. Kelompok lainnya menggali tanah untuk pondasi. Suara cangkul menghantam tanah, gesekan besi, dan obrolan ringan saling bersahutan, menciptakan irama kerja yang terasa akrab. Meski keringat mengucur dan tenaga terkuras, tak satu pun berhenti, karena mereka tahu setiap langkah kecil hari itu berarti besar bagi satu keluarga.

Muhammad, salah satu relawan, mengaku merasa seperti berada di rumah sendiri. “Saya dan teman-teman disambut hangat sekali. Kami senang bisa membantu keluarga Pak Ade. Semoga setelah rumah ini selesai, rumahnya membawa berkah dan kehidupan yang lebih baik untuk mereka,” ujarnya.

Bagi para relawan Thunderbird, kegiatan ini bukan sekadar aksi sukarela biasa. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sederhana dapat memberi dampak nyata. Dari kebersamaan, gotong royong, dan waktu yang mereka luangkan, tumbuh rasa empati yang semakin dalam terhadap perjuangan keluarga seperti Pak Ade.

Habitat for Humanity Indonesia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang telah memberikan tenaga dan hati dalam proses pembangunan ini. Di tengah hujan dan tanah berlumpur, mereka membuktikan bahwa harapan bisa dibangun bersama.

Perlahan, fondasi rumah mulai terbentuk, dinding demi dinding berdiri, dan impian Pak Ade tentang tempat tinggal yang aman akhirnya semakin dekat menjadi kenyataan. Kelak, rumah ini bukan hanya bangunan fisik semata, melainkan ruang untuk berteduh, berkumpul, dan memulai hari-hari yang lebih tenang bersama keluarga.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)