logotype
Donate
HFHI Air Bersih (1)
Perspektif Habitat

Musim Kemarau Tiba, Ini Cara Bijak Mengelola Air Bersih di Rumah

(Ilustrasi) Sejumlah warga mengantre untuk mengambil air bersih yang didistribusikan menggunakan truk tangki. Foto: Kevin Herbian

Musim kemarau bukan hanya menghadirkan cuaca yang lebih terik, tetapi juga mengingatkan kita bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga di Indonesia.

Jakarta, 29 Juli 2026 – Krisis air bersih mulai dirasakan di sejumlah wilayah seiring berkurangnya curah hujan. Di Kabupaten Karawang, misalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendistribusikan sekitar 150 ribu liter air bersih kepada 7.704 jiwa di enam desa yang terdampak kekeringan pada 22 Juli 2026 lalu. Di daerah lain, sebanyak 125 kepala keluarga di Kampung Gunung Batur, Kota Cilegon, harus mengantre dan berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju sumber mata air Sumur Bendung demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kondisi ini menjadi semakin berat bagi kelompok rentan, terutama perempuan, yang kerap memikul jeriken atau galon berisi air sejauh sekitar satu kilometer.

Air bersih memiliki peran yang jauh melampaui kebutuhan untuk minum. Air menjadi fondasi bagi kesehatan keluarga, sanitasi yang layak, hingga kebersihan rumah. Ketersediaan air yang memadai memungkinkan keluarga memasak dengan aman, mencuci, menjaga kebersihan diri, serta menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat. Sebaliknya, ketika akses air bersih terbatas, beban rumah tangga sering kali meningkat dan lebih banyak dirasakan oleh perempuan, anak-anak, lansia, maupun penyandang disabilitas. Pada akhirnya, rumah yang kokoh sekalipun belum sepenuhnya dapat disebut layak huni apabila penghuninya masih kesulitan memperoleh air bersih setiap hari.

Di tengah tantangan tersebut, setiap keluarga dapat mulai membangun kebiasaan sederhana untuk menggunakan air secara lebih bijak. Selain membantu menjaga persediaan selama musim kemarau, langkah-langkah ini juga dapat mengurangi pemborosan dan mendorong pemanfaatan air yang lebih efisien.

1. Tampung air hujan untuk kebutuhan non-konsumsi

Jika memungkinkan, manfaatkan air hujan sebagai cadangan untuk menyiram tanaman, membersihkan halaman, atau keperluan lain yang tidak memerlukan air minum. Pastikan air ditampung dalam wadah yang bersih dan tertutup.

2. Segera perbaiki keran atau pipa yang bocor

Tetesan air yang terlihat sepele dapat menyebabkan banyak air terbuang setiap hari. Pemeriksaan rutin pada keran, sambungan pipa, maupun selang air dapat membantu mencegah pemborosan yang tidak disadari.

(Ilustrasi) Seorang warga menggunakan air bersih untuk merebus air minum. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni

3. Manfaatkan kembali air yang masih layak digunakan

Air bekas mencuci beras, sayuran, atau buah masih dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman maupun membersihkan area luar rumah. Cara sederhana ini membantu mengurangi penggunaan air bersih tanpa mengurangi manfaatnya.

4. Dahulukan kebutuhan yang paling penting

Saat persediaan air terbatas, prioritaskan penggunaannya untuk kebutuhan pokok seperti minum, memasak, dan menjaga kebersihan diri serta sanitasi keluarga. Dengan begitu, kebutuhan dasar tetap dapat terpenuhi meskipun pasokan air berkurang.

5. Simpan cadangan air dengan cara yang aman

Memiliki persediaan air bersih dapat menjadi langkah antisipasi ketika distribusi air terganggu. Gunakan wadah yang tertutup rapat agar air tetap bersih dan terlindung dari debu maupun serangga.

6. Rutin bersihkan tempat penyimpanan air

Bak penampungan, toren, maupun wadah penyimpanan air perlu dibersihkan secara berkala untuk menjaga kualitas air dan mencegah pertumbuhan lumut, kotoran, maupun mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.

Mengelola air secara bijak merupakan langkah sederhana yang dapat dimulai dari rumah. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten tidak hanya membantu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.

Di saat masih banyak masyarakat yang harus berjuang untuk memperoleh air bersih setiap hari, menggunakan air secara bertanggung jawab menjadi salah satu bentuk kepedulian agar sumber daya yang sangat berharga ini tetap dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, hari ini maupun di masa mendatang.

(kh/av)

HFH – Hyundai (1)
Aksi Relawan

Global Village ‘Happy Move’ Satukan Mahasiswa Korea dan Indonesia Bangun Rumah Layak Huni di Tangerang

Tangerang, 22 Juli 2026 – Apa jadinya jika ratusan mahasiswa asal Korea Selatan berbondong-bondong datang ke Indonesia, bukan untuk berlibur, melainkan menghabiskan waktu mereka membangun rumah layak huni bagi keluarga yang membutuhkan?

Pemandangan itulah yang terlihat di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, ketika semangat gotong royong melampaui batas negara dan bahasa, membuktikan bahwa kepedulian dapat menyatukan siapa saja.

Selama enam hari, pada 13–18 Juli 2026, sebanyak 120 relawan gabungan yang terdiri dari mahasiswa Korea Selatan dan mahasiswa Universitas Indonesia terlibat langsung dalam pembangunan delapan rumah layak huni bagi delapan keluarga. Mulai dari membangun pondasi, mengikat besi untuk struktur bangunan, hingga memasang dinding, seluruh proses dilakukan bersama-sama di bawah pendampingan tim konstruksi Habitat for Humanity.

Kegiatan bertajuk “Happy Move” ini merupakan bagian dari program Global Village, hasil kolaborasi antara Habitat for Humanity Korea dan Habitat for Humanity Indonesia yang didukung oleh Hyundai Motor Group. Teriknya matahari dan pekerjaan fisik yang cukup berat tidak menyurutkan semangat para relawan. Justru dari setiap adukan semen, pemasangan bata, hingga tawa yang dibagikan bersama warga, tumbuh pengalaman yang sulit dilupakan.

Bagi Lee, salah satu relawan asal Korea Selatan, pengalaman tersebut menjadi kunjungan pertamanya ke Indonesia sekaligus kesempatan berharga untuk mengenal masyarakat secara lebih dekat. “Ini kunjungan pertama saya ke Indonesia. Saya sangat senang bisa berada di sini. Masyarakat menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah. Sambutan itu membuat kami semakin bersemangat untuk ikut membangun dan berbagi kebaikan bersama,” ungkap Lee.

Semangat yang sama juga dirasakan Sekar, mahasiswa Universitas Indonesia yang bergabung sebagai relawan. Baginya, melihat langsung kondisi rumah-rumah warga memberikan pemahaman bahwa masih banyak keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memiliki tempat tinggal yang aman. “Setelah melihat langsung lingkungan dan kondisi rumah di sini, saya merasa keluarga-keluarga ini memang sangat layak mendapatkan bantuan. Sebagian besar mengalami keterbatasan ekonomi, sehingga sulit memperbaiki rumah mereka sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Foto: 30 Relawan BOSCH Bangun Akses Air Bersih untuk 40 Rumah di Bekasi

Delapan keluarga penerima manfaat dalam program ini berasal dari kelompok masyarakat dengan pendapatan desil 1 dan 2. Sebagian besar bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan harian yang umumnya tidak melebihi Rp100.000,-. Kondisi tersebut membuat impian memiliki rumah yang layak sering kali harus tertunda karena kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas utama.

Karena itu, bagi para relawan, setiap pekerjaan yang mereka lakukan bukan sekadar membangun dinding atau memasang pondasi, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi keluarga penerima manfaat. “Kami berharap apa yang kami lakukan di sini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup keluarga penerima manfaat melalui hadirnya rumah yang lebih layak,” kata Sekar.

Lee pun berharap rumah-rumah yang mereka bangun dapat menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi setiap keluarga. “Kami berharap setelah rumah ini selesai dibangun, setiap keluarga dapat memulai babak baru dalam hidup mereka dengan rasa aman dan penuh harapan,” tuturnya.

Harapan tersebut begitu dirasakan oleh Suheni, salah satu penerima manfaat yang tak kuasa menyembunyikan rasa harunya melihat rumah impiannya mulai berdiri. “Saya enggak bisa berkata apa-apa, benar-benar terharu. Terima kasih banyak sudah membantu keluarga saya,” ucap Suheni.

Kebahagiaan itu kemudian dirayakan melalui seremoni penyerahan kunci rumah layak huni yang diselenggarakan pada 17 Juli 2026. Secara simbolis, kunci rumah diserahkan oleh Won Sung Hong, Head of Department Corporate Affairs Team of Hyundai Motor Company Asia Pacific, kepada delapan keluarga pemilik rumah. Suasana semakin hangat dengan pertunjukan seni yang menampilkan budaya Indonesia dan Korea Selatan sebagai wujud persahabatan serta pertukaran budaya antara kedua negara.

Semangat berbagi tidak berhenti di lokasi pembangunan rumah. Pada hari terakhir kegiatan, 18 Juli 2026, para relawan mengunjungi siswa-siswi MI Nurul Iman untuk berbagi keceriaan melalui berbagai aktivitas edukatif, mulai dari membuat kerajinan tangan, belajar mencuci tangan dengan benar, hingga memainkan permainan tradisional bersama.

Melalui Global Village Program, pembangunan rumah menjadi lebih dari sekadar proses konstruksi. Program ini menghadirkan ruang bagi relawan dari berbagai negara untuk belajar, bekerja sama, dan membangun hubungan dengan masyarakat setempat. Dari setiap rumah yang berdiri, lahir pula persahabatan lintas budaya, semangat gotong royong, dan harapan bahwa kepedulian yang dibangun bersama mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi banyak keluarga.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Arada (2)
Kabar Habitat

Habitat Indonesia Perluas Akses Air Bersih bagi 525 Keluarga di Kapanewon Panggang, Gunungkidul

Foto udara Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Gunungkidul, 21 Juli 2026 – Setelah berhasil menghadirkan akses air bersih bagi lebih dari 250 sambungan rumah di Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Habitat for Humanity Indonesia kembali memperluas upayanya melalui dukungan para dermawan. Kali ini, program penyediaan air bersih difokuskan di Kapanewon Panggang dengan target menjangkau 525 keluarga yang tersebar di empat dusun di Kalurahan Girisuko. 

Perluasan program ini berangkat dari tantangan yang telah lama dihadapi masyarakat. Bentang alam karst yang mendominasi wilayah Kapanewon Panggang membuat ketersediaan air bersih menjadi persoalan yang terus berulang, terutama saat musim kemarau. Di tengah kondisi tersebut, ratusan keluarga masih bergantung pada pembelian air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Setiap bulan, rata-rata keluarga harus mengeluarkan sekitar Rp300.000,- untuk membeli dua tangki air bersih yang kemudian ditampung di bak penampungan di halaman rumah. Bagi banyak keluarga, pengeluaran tersebut menjadi beban yang cukup besar, tetapi tetap harus dilakukan demi memastikan kebutuhan dasar seperti memasak, mandi, mencuci, dan minum tetap terpenuhi. 

Suwiyati, salah satu warga Kalurahan Girisuko, mengambil air dari bak penampungan di samping rumahnya yang diisi melalui pasokan air dari mobil tangki. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kesulitan itu turut dirasakan Suwiyati, salah seorang warga Kalurahan Girisuko. Baginya, membeli air bersih bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat dihindari meski harus mengorbankan sebagian penghasilan keluarga. “Mau gimana lagi, Mas. Mau enggak mau, air bersih ini tetap harus kami beli untuk kebutuhan sehari-hari. Meski berat karena harus mengeluarkan uang tiga ratus ribu setiap bulan, kami tetap harus mencukupinya,” tuturnya. 

Tantangan yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada besarnya biaya. Ketika musim kemarau tiba, pasokan air bersih juga semakin terbatas. Tangki air menjadi lebih sulit diperoleh, dan apabila tersedia, harganya kerap meningkat dibandingkan hari-hari biasa. Kondisi ini membuat masyarakat menghadapi ketidakpastian, baik dari sisi ketersediaan maupun biaya yang harus dikeluarkan. 

Baca juga: Pelatihan GEDSI: Penguatan Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul

Melihat kondisi tersebut, Habitat for Humanity Indonesia melakukan asesmen untuk mengidentifikasi sumber air yang berpotensi dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sumber mata air Goa Wuluh Kumet dan Sungai Kedung Lumut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di wilayah tersebut. 

Melalui proyek yang kini tengah berjalan, air bersih direncanakan akan dialirkan ke 525 sambungan rumah di Dusun Gebang, Pacar 1, Sanglor 1, dan Sanglor 2. Pembangunan sistem ini juga akan dilengkapi dengan bak penampung dan sistem filtrasi untuk membantu menjaga kualitas air sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga. 

Tim Habitat for Humanity Indonesia bersama sejumlah warga melakukan penyambungan pipa HDPE dalam program penyediaan akses air bersih di Kalurahan Girisuko, Kabupaten Gunungkidul. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Habitat for Humanity Indonesia, rumah layak huni tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang kokoh, tetapi juga oleh terpenuhinya kebutuhan dasar yang menunjang kualitas hidup penghuninya. Akses terhadap air bersih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hunian layak karena berperan penting dalam mendukung kesehatan keluarga, menjaga sanitasi, serta menciptakan lingkungan tempat tinggal yang aman, sehat, dan bermartabat. 

Pembangunan infrastruktur ini juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Secara bergotong royong, kelompok-kelompok warga telah mulai menggali jalur perpipaan, memasang pipa HDPE, hingga memasang meteran air di rumah-rumah penerima manfaat. Keterlibatan masyarakat tidak hanya mempercepat proses pembangunan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki sehingga fasilitas yang dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. 

Gotong royong warga Kalurahan Girisuko membangun jalur pipa dalam program penyediaan akses air bersih. Foto: HFHI/Patrick Cahyo

Selain membangun infrastruktur, Habitat for Humanity Indonesia turut memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan. Seluruh keluarga penerima manfaat akan mengikuti pelatihan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sementara pelatihan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) diberikan untuk mendorong pengelolaan air yang lebih inklusif dan memberikan ruang partisipasi yang setara bagi seluruh kelompok masyarakat. Di sisi lain, komite air yang dibentuk di tingkat komunitas juga akan memperoleh pelatihan pengelolaan dan pemeliharaan sarana agar sistem yang dibangun dapat terus berfungsi dengan baik dalam jangka panjang. 

Melalui kolaborasi antara masyarakat, Habitat for Humanity Indonesia, dan para dermawan, program ini diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan. Tidak hanya mempermudah akses terhadap air bersih, tetapi juga membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga, meningkatkan kesehatan, serta memperkuat kualitas hunian dan kehidupan masyarakat di Kapanewon Panggang untuk tahun-tahun mendatang. 

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – IES
Kabar Habitat

Yayasan IES Jakarta dan Habitat Indonesia Tuntaskan Pembangunan 56 Rumah Layak Huni di Kabupaten Tangerang

Tangerang, 15 Juli 2026 – Yayasan IES Jakarta bersama Habitat for Humanity Indonesia secara resmi menyerahkan dukungan rumah layak huni kepada 56 keluarga di Desa Margamulya, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Penyerahan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian program pembangunan rumah layak huni yang telah berlangsung sejak 2023 untuk membantu keluarga berpenghasilan rendah memperoleh tempat tinggal yang aman dan nyaman.

Seremoni penyerahan kunci rumah secara simbolis dilakukan oleh Kamlesh Chandiramani, Chief Financial Officer (CFO) Yayasan IES Jakarta, kepada Syafei, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Margamulya, yang mewakili keluarga penerima manfaat. Kegiatan tersebut turut disaksikan oleh Kevin Sutantyo dan Wai Toong Chong dari Mission Project Team IES, Abraham Tulung selaku General Manager Resource Development Habitat for Humanity Indonesia, serta puluhan keluarga penerima manfaat.

Menandai fase akhir program, sebanyak 30 sukarelawan Yayasan IES Jakarta turut ambil bagian dalam kegiatan volunteering dengan mengecat tiga rumah terakhir dari total 56 rumah yang telah dibangun. Pada kesempatan yang sama, para sukarelawan juga menanam 70 pohon di sekitar kawasan permukiman sebagai upaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau, teduh, dan nyaman bagi masyarakat. Pohon yang ditanam terdiri atas berbagai jenis tanaman produktif, seperti kelengkeng dan mangga, serta pohon pucuk merah yang menghiasi area jalan di sekitar permukiman.

Baca juga: Tawa, Peluh, dan Harapan: Cerita Relawan IES di Mauk, Tangerang

Syafei menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang telah terjalin selama program berlangsung. Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya menghadirkan rumah yang lebih layak bagi masyarakat, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi lingkungan Desa Margamulya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan IES Jakarta dan Habitat Indonesia atas dukungan yang telah diberikan. Sekarang kami bisa melihat sendiri perubahan yang terjadi. Kampung Bebulak menjadi jauh lebih rapi, tertata, dan membawa semangat baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kamlesh Chandiramani. Ia mengatakan bahwa kolaborasi antara Yayasan IES Jakarta dan Habitat Indonesia telah memberikan manfaat yang dirasakan tidak hanya oleh keluarga penerima rumah, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya. “Kami bangga dapat menjadi bagian dari perubahan ini. Dampak yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh pemilik rumah, tetapi juga oleh masyarakat sekitar yang kini memiliki lingkungan tempat tinggal yang lebih baik, tertata, dan nyaman,” ungkap Kamlesh.

Bagi Tinah, salah satu keluarga penerima manfaat, rumah yang kini ditempatinya menghadirkan rasa aman yang selama ini diimpikan. “Terima kasih banyak kepada Habitat Indonesia dan Yayasan IES Jakarta atas bantuan ini. Sekarang rumah kami sudah tidak bocor lagi, terasa lebih aman, dan saya bisa lebih tenang menjalani hari-hari bersama keluarga,” tuturnya.

Kolaborasi antara Yayasan IES Jakarta dan Habitat for Humanity Indonesia diharapkan dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat. Bersama para mitra dan dermawan, Habitat Indonesia terus berupaya mewujudkan visinya agar setiap keluarga memiliki kesempatan untuk tinggal di rumah yang layak, aman, dan menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – BMZ II
Kabar Habitat

Membedah GEDSI, Memahami Hak dan Kesempatan yang Sama Warga pada Pembangunan di Nglipar

Gunungkidul, 9 Juli 2026 – “Gender itu kalau saya tahunya kelompok janda. Saya pernah diundang kelompok yang mengatasnamakan gender. Saya tanya, yang saya paham gender itu adalah janda, tetapi kenapa kok ibu ini dimasukkan ke gender ya padahal bukan janda. Itu yang saya tahu pertama kali. Ternyata saya salah,” ucap Agus Suwarjo selaku Lurah di Kalurahan Pengkol, Nglipar, Gunung Kidul, dalam sambutannya ketika membuka kegiatan Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) di Balai Kalurahan Pengkol.

Gender maupun GEDSI masih terdengar asing di Pengkol maupun Nglipar khususnya bagi peserta Sinau Bareng Warga. Beberapa memaknai gender adalah adalah perbedaan biologis antara laki- laki dan perempuan. “Setahu saya gender itu adalah perbedaan kelamin saja antara laki- laki dan perempuan, sebelum mengikuti kegiatan ini,” ungkap Iqbal Nur selaku perwakilan dari Karang Taruna dari 15 peserta yang terlibat.

Setelah mengikuti kegiatan “Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI” yang merupakan kolaborasi antara Habitat for Humanity Indonesia, SPEK-HAM, dan SAPDA dalam Program ACCESS, Iqbal menjadi paham bahwasanya Gender merupakan konstruk sosial yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan dimana keduanya sebenarnya bisa dipertukarkan. Iqbal juga mengaku, setelah mengikuti “Sinau Bareng Warga: Pengarustamaan GEDSI”, ia jadi memahami bahwa semua manusia punya hak yang sama, punya kesempatan yang sama, baik itu laki- laki maupun perempuan. Laki-laki dan perempuan itu secara biologis tidak bisa diubah. Secara kondisi sosial bisa diubah.

Peserta Sinau Bareng Warga mempresentasikan hasil pemetaan masalah dan potensi di desa mereka di Kabupaten Gunungkidul.

Baca juga: Mendorong Pembangunan Inklusif dari Tingkat Komunitas melalui Ruang Belajar Bersama Warga

Dalam konteks pembangunan, Amin Nurohman selaku narasumber pada “Sinau Bareng Warga” yang sudah terlaksana di Kalurahan Pengkol dan Pilangrejo menjelaskan bahwa memahami gender, berarti memahami bahwa laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam pembangunan.

 “Jika dalam pembangunan itu ada ekonominya, kalau misal dapat bantuan ya sama-sama mendapatkan bantuan, kalau misal ada pembangunan jalan ya sama-sama mendapatkan jalan yang baik yang bisa digunakan,” jelas Amin. Bagitu juga ketika mendapatkan bantuan air bersih, baik laki- laki maupun perempuan, keduanya berhak atas pengunaan air bersih tersebut dengan baik.

Keterlibatan perwakilan dari kelompok- kelompok yang ada di Nglipar seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, kelompok disabilitas, Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Dukuh atau kepala dusun, kelompok rentan, serta kelompok-kelompok lainnya diharapkan dapat membaca dan menjabarkan peta permasalahan maupun peta potensi dan memberikan masukan pada musyawarah pembangunan, kepada pemerintah terdekat untuk mewujudkan pembangunan yang inklusi.

Foto & Penulis: SAPDA/Wulan Dwi

(av/kh)

HFHI
Kisah Perubahan

Kisah Yanto dari Kaki Pegunungan Bondowoso, Bertahan di Tengah Rumah yang Rapuh

Suara hujan bagi sebagian orang mungkin terdengar menenangkan. Namun bagi Yanto, setiap tetes yang jatuh di atas atap rumahnya dulu justru membawa kegelisahan.

Bondowoso, 7 Juli 2026 – Selama hampir sepuluh tahun, pria 34 tahun yang tinggal di Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso ini hidup bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana yang kondisinya terus menurun dimakan usia. Lantainya masih berupa tanah, dindingnya tersusun dari lembaran triplek yang mulai lapuk dan berlubang di berbagai sisi, sementara atap asbes yang menaunginya telah dipenuhi celah yang membuat air hujan leluasa masuk ke dalam rumah.

“Dahulu atapnya bocor, pinggirnya itu bolong-bolong. Waktu hujan deras, ya kebocoran, kebasahan kita di dalam,” kenang Yanto.

Sebagai buruh serabutan dengan penghasilan sekitar Rp50.000 per hari, Yanto tidak memiliki banyak pilihan. Sebagian besar pendapatannya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri dan putri tunggal mereka yang kini berusia enam tahun. Jika ada sedikit uang tersisa, prioritas tetap jatuh pada kebutuhan makan keluarga.

“Harus ngirit. Kalau enggak ngirit ya enggak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Tinggal di kawasan pegunungan menghadirkan tantangan tersendiri. Saat malam tiba, udara dingin menyelimuti rumah dari berbagai arah. Angin masuk melalui celah-celah dinding yang berlubang, sementara atap yang sudah rusak tak lagi mampu memberikan perlindungan yang semestinya. Yanto dan keluarganya hanya bisa mengandalkan selimut untuk menghangatkan tubuh.

Di tengah segala keterbatasan itu, satu hal yang paling sering menghantui pikirannya adalah keselamatan keluarga. “Saya sedih, bahkan sampai menangis kalau melihat kondisi rumah ini. Tapi ya mau gimana lagi, mau benerin tidak ada uang. Buat makan saja yang penting cukup,” tuturnya.

Kekhawatiran itu semakin besar setiap kali ia membayangkan kemungkinan terburuk terjadi. Rumah yang terus menua membuatnya cemas apabila suatu saat diterpa bencana atau gempa yang dapat menyebabkan bangunan tersebut roboh. Di saat yang sama, keberadaan atap asbes juga menjadi sumber kecemasan lain karena material tersebut diketahui memiliki risiko terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak yang setiap hari tumbuh dan beraktivitas di bawahnya.

Istri dan putri Yanto berada di dalam rumah mereka yang belum layak huni di Kabupaten Bondowoso. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Di tengah situasi yang serba sulit itu, Yanto tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah. Hingga suatu hari, tim Habitat for Humanity Indonesia datang melakukan survei ke rumahnya.

Awalnya ia mengira kunjungan tersebut hanyalah pendataan biasa. Namun rasa terkejut muncul ketika ia mengetahui bahwa keluarganya terpilih sebagai penerima bantuan pembangunan rumah layak huni.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Selama proses pembangunan berlangsung, Yanto turut terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan yang bisa ia lakukan. Mulai dari menggali septic tank, mengangkat material bangunan, hingga membantu berbagai kebutuhan konstruksi lainnya.

Bagi Yanto, rumah itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada tenaga, waktu, dan semangat yang ia curahkan selama proses pembangunannya berlangsung.

Perubahan yang ia rasakan kemudian begitu nyata. Kini rumahnya tampil jauh berbeda. Dinding berwarna krem menggantikan material lama yang rapuh, sementara struktur bangunan yang lebih kuat menghadirkan rasa aman yang selama bertahun-tahun ia impikan.

“Anak dan istri saya sudah senang sekali. Enggak kebocoran lagi. Saya juga enggak takut rumah akan roboh,” katanya dengan senyum lega.

Potret keluarga Yanto berdiri di teras rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bondowoso. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dampaknya tidak hanya terlihat dari kondisi fisik rumah. Yanto juga melihat perubahan dalam keseharian keluarganya. Sang istri dan putri kini dapat beristirahat dengan lebih nyaman tanpa harus menghadapi udara dingin yang menyusup dari celah-celah dinding. Mereka juga tidak lagi tinggal di bawah atap asbes yang selama ini menjadi kekhawatiran keluarga.

Putrinya pun tumbuh menjadi anak yang lebih ceria. Halaman rumah yang kini lebih aman memberinya ruang untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar. “Dulu kalau main banyak saya larangnya. Saya khawatir rumahnya terlalu jorok atau bisa melukai anak saya. Sekarang dia bisa bebas main di mana saja,” ujar Yanto.

Malam-malam yang dulu dipenuhi kecemasan perlahan berganti menjadi waktu istirahat yang lebih tenang. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebihan saat hujan turun atau ketika angin pegunungan bertiup kencang.

Ketenangan itu memberi Yanto energi baru untuk terus bekerja dan menatap masa depan keluarganya dengan lebih optimistis. Ia kini bisa memusatkan perhatian pada hal-hal yang sebelumnya sering tertutupi oleh kekhawatiran soal rumah, termasuk menyiapkan biaya pendidikan bagi putri kecilnya.

Bagi Yanto, perubahan ini bukan hanya tentang memiliki tempat tinggal yang lebih aman. Ini adalah kesempatan untuk menjalani hidup dengan perasaan yang lebih tenang, menjaga keluarganya dengan lebih baik, dan melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa masa depan yang ia impikan untuk sang putri kini terasa jauh lebih dekat dari sebelumnya.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – BSPS
Kabar Habitat

Sinergi Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen Dukung Peningkatan Kualitas Hunian bagi 101 Keluarga

Sragen, 30 Juni 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Sragen terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan akses terhadap hunian layak bagi keluarga berpenghasilan rendah. Komitmen tersebut ditandai melalui seremoni penyerahan bantuan peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang diselenggarakan di Pendopo Sumonegaran, Kabupaten Sragen. 

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, S.IP., M.A., bersama Kepala BP3K Jawa III, Aldino Herupriawan, S.T., M.T., Anggota Komisi V DPR RI, Ir. Sriyanto Saputro, M.M., serta Senior Manager of Field Operation Habitat Indonesia, Rudi Nadapdap. Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi antara pemerintah daerah dan Habitat Indonesia dalam mendukung penyediaan hunian yang lebih aman, sehat, dan layak bagi masyarakat yang membutuhkan. 

Kolaborasi ini difokuskan untuk menjangkau keluarga yang berada pada kelompok desil pendapatan 1 dan 2, perempuan kepala keluarga, serta keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas. Sepanjang tahun 2026, program ini menargetkan pembangunan dan peningkatan kualitas rumah bagi 101 keluarga dari total 904 keluarga yang menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Sragen. 

Kolaborasi tersebut lahir dari kebutuhan yang masih besar terhadap hunian layak di Kabupaten Sragen. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sragen, wilayah ini menjadi salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di kawasan Solo Raya dan termasuk delapan kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Dari total 1.021.435 penduduk, sebanyak 110.650 jiwa atau sekitar 12,41 persen masih hidup di bawah garis kemiskinan. 

Tantangan tersebut juga tercermin pada sektor perumahan. Sebanyak 13.945 keluarga dari kelompok desil pendapatan 1 dan 2 masih menempati rumah yang tidak layak huni. Di antaranya terdapat 3.229 rumah tangga yang dikepalai perempuan, 1.912 keluarga dengan anggota penyandang disabilitas, serta 2.151 keluarga yang masih masuk dalam kategori backlog perumahan. 

Baca juga: Kolaborasi untuk Hunian Layak: Menjawab Tantangan Backlog Perumahan di Sragen

Untuk menjawab tantangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia menggandeng Pemerintah Kabupaten Sragen melalui skema pendanaan pendamping (match-funding) yang melengkapi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Melalui skema ini, bantuan pemerintah sebesar Rp20 juta dipadankan dengan dukungan dana sebesar Rp20 juta dari para dermawan Habitat Indonesia, sehingga nilai bantuan yang diterima setiap keluarga menjadi lebih optimal untuk memenuhi standar rumah layak huni. 

Dalam pelaksanaannya, keluarga penerima manfaat tidak dibebani kontribusi finansial. Sebagai gantinya, mereka berpartisipasi melalui kontribusi tenaga (sweat equity) selama proses pembangunan rumah. Habitat Indonesia juga memberikan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, pengawasan konstruksi, pengelolaan material, hingga memastikan hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga, termasuk memperhatikan aspek aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan keamanan bagi rumah tangga yang dikepalai perempuan. 

Selain peningkatan kualitas fisik rumah, program ini turut memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan Building Back Safer (BBS). Pelatihan tersebut membekali keluarga dengan pengetahuan mengenai konstruksi rumah yang lebih aman dan tahan terhadap risiko bencana. Berbagai kegiatan advokasi, seperti lokakarya dan kampanye publik, juga dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hunian layak yang inklusif dan berkelanjutan. 

Melalui kolaborasi ini, Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sragen berharap semakin banyak keluarga dapat tinggal di rumah yang aman, sehat, dan layak, sekaligus memperkuat upaya bersama dalam mengurangi kemiskinan hunian di Kabupaten Sragen. 

(kh/av)

HFHI – Arada
Kabar Habitat

Pelatihan GEDSI: Penguatan Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul, 29 Juni 2026 – Akses terhadap air bersih dan hunian layak sering dianggap kebutuhan dasar yang sudah merata, namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang setara dalam mengakses, menggunakan, maupun terlibat dalam pengambilan keputusan terkait layanan tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Pelatihan Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Di wilayah dengan karakteristik geografis karst, ketersediaan air bersih menjadi tantangan yang semakin terasa saat musim kemarau. Namun, dampaknya tidak dialami secara setara. Perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas kerap menghadapi beban lebih besar, mulai dari keterbatasan akses hingga hambatan mobilitas dalam memperoleh air maupun layanan dasar lainnya. Di saat yang sama, keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan di tingkat komunitas masih terbatas.

Sebanyak 23 perwakilan warga, yang terdiri dari perangkat desa, perempuan kepala keluarga, lansia, hingga perwakilan keluarga penyandang disabilitas, mengikuti pelatihan ini. Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak untuk memahami ketimpangan akses, memetakan kondisi di lapangan, hingga mengeksplorasi bagaimana keputusan desa dapat lebih inklusif melalui berbagai simulasi dan diskusi interaktif.

Dari proses tersebut, peserta mulai melihat bahwa isu air bersih dan hunian tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang siapa yang terlibat, siapa yang terdampak, dan siapa yang belum terwakili. Pendekatan GEDSI membuka ruang refleksi bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus mempertimbangkan akses, kontrol, manfaat, dan partisipasi secara adil bagi seluruh kelompok masyarakat.

Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman dan kapasitas masyarakat agar lebih responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. Harapannya, praktik inklusif ini dapat terus diterapkan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya di tingkat desa sehingga pembangunan benar-benar dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.

Yuk lihat keseruan mereka dalam foto-foto di bawah ini.

Ibu Carik (Sekretaris Desa), Wahyu Setyoningsih, membuka rangkaian Pelatihan Gender Dasar (GEDSI) dalam Pengelolaan Air Bersih dan Hunian Inklusif di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan air dan hunian yang lebih inklusif serta berkeadilan bagi semua kelompok.

Sebelum sesi pelatihan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pengisian lembar pre-test. Tahap ini dilakukan untuk mengukur pemahaman awal peserta terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif, sekaligus menjadi dasar evaluasi pembelajaran di akhir kegiatan.

Sesi pelatihan dimulai dengan aktivitas interaktif, di mana peserta diajak untuk menuliskan berbagai kegiatan sehari-hari dan mengelompokkannya berdasarkan peran laki-laki dan perempuan. Kegiatan ini membuka ruang refleksi bahwa tidak semua pekerjaan dibatasi oleh peran gender tertentu, karena banyak aktivitas yang dapat dilakukan secara setara oleh laki-laki maupun perempuan.

Di tengah sesi pelatihan, Alimah selaku Gender Officer Habitat for Humanity Indonesia mengajak perwakilan peserta untuk melakukan role play sebagai sosok ayah dan ibu dalam sebuah keluarga yang menghadapi berbagai persoalan. Aktivitas ini membantu peserta memahami perbedaan peran, tantangan, serta beban yang sering muncul dalam dinamika keluarga sehari-hari.

Baca juga: Foto: Meningkatkan Kesehatan Komunitas melalui Pelatihan PHBS

Pelatihan yang terbagi ke dalam empat sesi ini juga membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD). Melalui diskusi kelompok ini, peserta dapat saling bertukar pandangan dan memperdalam pemahaman terkait isu GEDSI dalam pengelolaan air bersih dan hunian inklusif di tingkat komunitas.

Salah satu peserta perempuan sambil tertawa mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar pekerjaan rumah masih lebih banyak dijalankan oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Pernyataan sederhana ini kemudian menjadi pemantik diskusi yang lebih dalam mengenai pembagian peran di dalam rumah tangga.

Sebelum sesi pelatihan berakhir, peserta diajak mengikuti permainan Power Walk (Langkah Maju) yang dirancang untuk merepresentasikan perbedaan akses, kesempatan, dan posisi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai faktor dapat memengaruhi sejauh mana seseorang dapat melangkah dalam kehidupan.

Pelatihan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara seluruh peserta dan tim Habitat for Humanity Indonesia. Momen ini menjadi penanda kebersamaan setelah rangkaian pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya pengelolaan air bersih dan hunian yang inklusif.

Foto & Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Tak Lagi Mengungsi Saat Hujan: Perjuangan Andri Mewujudkan Rumah Layak untuk Keluarganya

Garut, 22 Juni 2026 – Andri (36) tinggal bersama istrinya, Rina (33), serta dua anak mereka di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Anak pertamanya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, sementara si bungsu masih berusia tiga tahun. Selama tujuh tahun terakhir, keluarga kecil ini hidup di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak.

Sehari-hari, Andri bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Jika sedang ada pekerjaan, ia menjadi buruh tani atau membantu mencari rumput untuk pakan ternak di kebun milik warga. Namun, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari.

Dengan pendapatan yang terbatas itu, Andri hanya mampu memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit. Lantai rumah yang masih berupa tanah terkadang ia tambal menggunakan semen jika memiliki uang lebih.“Kalau ada rezeki sedikit, saya pakai buat nambal lantai pakai semen. Tapi cuma sebagian, enggak bisa semuanya,” ujar Andri.

Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atap rumah terbuat dari asbes tanpa plafon, material yang berisiko bagi kesehatan, terlebih bagi anak-anak yang setiap hari tinggal di dalamnya. Dinding rumah pun terbuat dari bilik bambu yang sudah berlubang di banyak bagian, membuat udara dingin dan air hujan mudah masuk ke dalam rumah.

Ketakutan terbesar datang setiap musim hujan tiba. “Kalau hujannya kecil, kami masih berani bertahan di dalam rumah. Tapi kalau hujan besar ditambah angin kencang, kami pasti ngungsi karena takut rumah roboh,” tutur Andri. “Yang paling repot itu kalau hujan malam. Di sini gelap dan minim lampu jalan. Kami harus lari-larian ke rumah orang tua buat numpang ngungsi,” kenangnya.

Istri Andri, Rina (36), bersama putrinya berdiri di depan rumah mereka yang tidak layak huni di Kabupaten Garut. Foto: Tim HFHI

Masa paling berat datang ketika Rina mengandung anak kedua mereka. Saat itu kondisi ekonomi keluarga benar-benar berada di titik terendah, sementara hari persalinan semakin dekat. “Waktu itu saya sempat merasa putus asa. Saya merasa belum bisa jadi suami dan ayah yang berguna buat keluarga,” ujar Andri.

Ditambah lagi, kondisi rumah yang rapuh membuat mereka khawatir akan keselamatan bayi yang akan lahir. Setelah anak bungsunya lahir, Andri dan keluarganya akhirnya memutuskan mengungsi sementara ke rumah orang tua selama dua bulan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di tengah segala perjuangan itu, Andri hanya bisa terus berusaha sambil menyerahkan sisanya kepada Tuhan. “Saya belajar buat sadar diri. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin cari nafkah. Selebihnya saya serahkan sama Allah,” katanya.

Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan

Harapan baru akhirnya datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra membangun kembali rumah milik Andri menjadi layak huni bersama 84 keluarga lainnya di Kabupaten Garut. “Syukur Alhamdulillah, hidup saya seperti punya semangat baru waktu tahu rumah saya dipilih untuk dibangun kembali,” ujar Andri penuh haru.

Baginya, rumah baru ini merupakan jawaban atas perjuangan panjang yang selama ini ia jalani bersama keluarga. “Ini seperti hasil perjuangan saya dan keluarga selama ini buat punya rumah yang layak. Saya yakin ini jawaban dari doa-doa kami,” katanya.

Kini, rumah Andri berdiri jauh lebih kokoh dan aman. Tidak hanya dibangun dengan dinding dan atap yang layak, rumah tersebut juga dilengkapi berbagai furnitur seperti meja dan kursi ruang keluarga, kasur, lemari pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.

Potret keluarga Andri berdiri di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan Astra di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan itu membawa rasa aman yang selama ini tidak pernah benar-benar mereka rasakan. “Rumah ini bikin saya lebih percaya diri, ada yang bisa saya banggakan. Yang paling penting, sekarang saya udah enggak takut lagi kalau hujan dan enggak perlu numpang ke rumah orang tua,” ujar Andri sambil tersenyum.

Tak berhenti sampai di situ, Habitat Indonesia juga mengajak Andri terlibat dalam pembangunan rumah layak huni untuk keluarga lain di lingkungannya. Berbekal pengalaman sebagai tukang bangunan, kini Andri bekerja membantu pembangunan rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di kebun setengah hari.

Kesempatan itu turut membantu meningkatkan penghasilannya. “Sekarang penghasilan saya ada tambahan, jadi bisa dua kali lebih besar dibanding sebelumnya,” kata Andri.

Perubahan juga dirasakan oleh anak-anak mereka. Andri percaya, kondisi rumah yang lebih aman dan nyaman membuat kesehatan fisik maupun mental anak-anaknya menjadi jauh lebih baik. Anak-anaknya kini tidak lagi merasa malu dengan rumah mereka sendiri.

Di rumah yang baru ini, Andri akhirnya menemukan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia cari yaitu, rasa tenang. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Astra. Rumah ini benar-benar jadi tempat yang layak untuk ditinggali. Rumah yang layak itu ya seperti ini,” tutup Andri.

Kisah Andri menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan hanya soal bangunan yang kokoh, tetapi tentang menghadirkan rasa aman, menjaga martabat keluarga, dan membuka harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Sabu
Kabar Habitat

Menjemput Harapan di Sabu Raijua: Air Bersih sebagai Katalis Kehidupan

Sabu Raijua, 17 Juni 2026 – Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal dengan pesona savananya. Namun di balik keindahan itu, alam menyimpan tantangan besar: musim kering ekstrem yang berlangsung hingga 8 bulan berturut-turut setiap tahun. Di Kabupaten Sabu Raijua, tantangan ini memicu krisis harian. Data BPS NTT 2023 menunjukkan hanya 46,65% penduduk yang memiliki akses air minum bersih, tertinggal jauh dari rata-rata nasional yang mencapai lebih dari 91%.

Bagi Ibu Libertina Ludji (73), angka statistik ini adalah realitas yang menguras peluh. Selama puluhan tahun di Kecamatan Sabu Liae, wanita tangguh ini harus berjalan kaki sejauh 500 meter membelah perbukitan, memikul jeriken demi jeriken air dari sumur umum yang sering kali surut saat kemarau.

Membeli air tangki seharga Rp250.000 untuk 4.000-5.000 liter menjadi jalan keluar terakhir yang menjepit. Biaya ini teramat mahal bagi warga Sabu Raijua, di mana rata-rata pendapatan per kapita (2025) hanya Rp 1,56 juta per bulan—atau seperempat dari rata-rata nasional. Di sini, air bersih telah lama menjadi kemewahan yang merenggut kesejahteraan warga.

Melihat kondisi ini, Habitat for Humanity Indonesia hadir membangun sumur umum yang diprioritaskan bagi 8 keluarga yang paling membutuhkan. “Kami senang sekali ada sumur baru ini. Sudah puluhan tahun saya harus pikul air. Sekarang kami tinggal putar keran, air sudah mengalir,” ungkap Ibu Libertina penuh syukur.

Bagi Habitat Indonesia, tempat tinggal yang layak tidak hanya berdiri atas atap dan dinding yang kokoh, melainkan juga ekosistem pendukung yang sehat. Akses air bersih ini membawa dampak domino yang mengubah masa depan masyarakat Sabu Raijua dalam jangka panjang. Dari sisi kesehatan, kehadiran air bersih secara instan memangkas risiko penyakit bawaan air seperti diare dan tifus, yang selama ini menjadi akar masalah stunting serta kematian anak di daerah terpencil.

Baca juga: Mengalirkan Harapan, Membangun Ketangguhan: Upaya Tiga Tahun Habitat for Humanity Indonesia Meningkatkan Akses Air dan Sanitasi di Indonesia

Lebih dari itu, intervensi ini memicu kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Waktu dan energi warga yang dulu habis untuk mengantre dan memikul air kini dapat dialihkan untuk kegiatan yang jauh lebih produktif. Akses air yang stabil membuka peluang baru yang sebelumnya mustahil, seperti berkebun sayur di pekarangan rumah, beternak dengan lebih baik, hingga membuka usaha kecil demi mendongkrak pendapatan keluarga.

Setelah merasakan dampak kesehatan dan kemandirian ekonomi, kedelapan keluarga penerima manfaat kini bergerak secara swadaya merencanakan pembangunan bak penampungan umum. Mereka ingin memastikan bahwa berkah air bersih ini tidak berhenti di mereka, melainkan dapat dialirkan lebih luas ke rumah-rumah tetangga di sekitarnya.

Semangat kebersamaan warga Sabu Raijua inilah yang menghidupkan visi Habitat Indonesia selama 29 tahun berkiprah: mewujudkan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak. Melalui penyediaan akses air bersih yang terintegrasi ini, kami terus berkomitmen membangun rumah, komunitas, dan harapan, memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, mandiri, dan bermartabat.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)