40 Hari Pasca-Gempa Flores: Mengapa Tenda Pengungsian Tak Lagi Aman Bagi Penyintas?
Nagekeo, 24 September 2026 – Memasuki 40 hari pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bayang-bayang duka dan perjuangan para penyintas belum juga usai. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 23 September 2026, tercatat lebih dari 29.980 jiwa masih bertahan di posko-posko pengungsian. Sebagian besar dari mereka, sekitar 26.089 keluarga, harus kehilangan tempat tinggal akibat rumah yang rusak berat.
Di Kabupaten Nagekeo, wilayah yang menjadi fokus program tanggap darurat dan pemulihan ‘Flores Housing Recovery’ oleh Habitat for Humanity Indonesia, setidaknya masih ada lebih dari 6.930 jiwa yang terpaksa menjadikan tenda darurat sebagai “rumah” sementara. Meskipun angka ini perlahan berkurang karena warga yang rumahnya aman atau hanya mengalami rusak ringan mulai kembali, ribuan jiwa lainnya masih terjebak dalam ketidakpastian.
Namun, di balik lembaran terpal yang menjadi pelindung dari terik dan hujan, ada ancaman nyata yang diam-diam mengintai. BNPB mencatat setidaknya 94 korban gempa meninggal dunia selama berada di pengungsian. Mayoritas dari mereka mengembuskan napas terakhir akibat penurunan kondisi kesehatan, faktor usia, serta komorbid (penyakit penyerta) yang memburuk akibat kondisi lingkungan pengungsian yang tak layak.
Tenda Darurat: Bukan untuk Hunian Jangka Panjang
Tenda pengungsian sejatinya dirancang sebagai tempat berlindung darurat untuk jangka pendek, beberapa hari hingga paling lama beberapa minggu. Ketika penyintas terpaksa menetap di dalam tenda hingga berbulan-bulan, risiko kesehatan fisik, mental, hingga ancaman keamanan sosial akan meningkat secara drastis.
Mengutip dari berbagai sumber rujukan kesehatan dan kebencanaan, berikut adalah bahaya utama menetap terlalu lama di tenda darurat:
1. Ancaman Kesehatan Fisik dan Potensi Wabah Penyakit
Lingkungan pengungsian yang padat, kotor, serta terus-menerus terpapar perubahan cuaca ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh secara signifikan. Beberapa ancaman penyakit yang sangat rawan mewabah di antaranya:
- ISPA dan Pneumonia: Udara dingin malam hari, debu, serta sirkulasi udara yang buruk di dalam tenda yang penuh sesak menjadi pemicu utama. Pneumonia menjadi ancaman paling fatal, khususnya bagi bayi dan balita.
- Penyakit Penularan Air dan Sanitasi (Diare & Tifoid): Akses air bersih yang terbatas serta fasilitas sanitasi yang belum memadai memicu penyebaran bakteri Salmonella typhi dan kuman pemicu diare akut.
- Penyakit Vektor (Malaria & DBD): Struktur tenda yang terbuka memudahkan nyamuk masuk, terutama di kawasan endemis.
- Memburuknya Penyakit Tidak Menular (PTN): Lansia menjadi kelompok paling rentan. Minimnya pasokan obat rutin serta nutrisi yang terbatas sering memicu lonjakan tekanan darah (hipertensi), nyeri otot kronis (mialgia), hingga komplikasi diabetes. (Sumber: Kementerian Kesehatan RI dan Tirto.id)

Kondisi tenda pengungsian di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, pascagempa Flores. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Emergency Shelter Kit untuk Keluarga Terdampak Gempa Flores
2. Krisis Kesehatan Mental dan Gangguan Psikologis Kronis
Kehilangan rumah, harta benda, dan mata pencaharian, ditambah ketidakpastian masa depan, memberikan tekanan mental yang sangat hebat.
- Insomnia Akut: Suasana tenda yang riuh, tidak nyaman, serta rasa cemas akan gempa susulan membuat para pengungsi sulit tidur nyenyak, yang pada akhirnya merusak imunitas fisik.
- Depresi dan Frustrasi: Rasa tidak berdaya akibat terputusnya akses pendidikan anak serta hilangnya pekerjaan dapat berkembang menjadi depresi berat.
- PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder): Tanpa pendampingan psikososial (trauma healing) yang berkelanjutan, trauma mendalam akibat gempa dapat menetap dan menjadi gangguan stres pascatrauma dalam jangka panjang. (Sumber: IDN Times)
3. Kerentanan Sosial dan Isu Keamanan
Tenda komunal yang tidak memiliki sekat privat menciptakan ruang yang rawan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
- Risiko Kekerasan Seksual: Fasilitas mandi dan toilet yang tidak privat serta kurangnya penerangan di area pengungsian meningkatkan risiko kejahatan seksual. Banyak korban ragu atau takut melapor karena situasi darurat yang membingungkan.
- Gesekan Sosial: Distribusi bantuan logistik yang terkadang belum merata dapat memicu ketegangan dan konflik antarwarga di pengungsian.
Mengembalikan Harapan, Mengembalikan Rumah Mereka
Melihat kenyataan ini, Habitat for Humanity Indonesia menaruh perhatian mendalam terhadap proses pemulihan pascabencana di Flores. Fokus utama kami memastikan keluarga-keluarga penyintas dapat segera memiliki hunian yang aman, layak, dan sehat agar mereka bisa kembali menata kehidupan dengan bermartabat.
Tenda terpal tidak boleh menjadi tempat tumbuh kembang anak-anak atau tempat menghabiskan masa tua para lansia dalam jangka panjang. Mereka membutuhkan rumah yang tangguh untuk memulai kembali harapannya.
Bantu keluarga penyintas gempa Flores agar dapat segera memiliki hunian yang aman serta layak. Salurkan kepedulian terbaik Anda melalui informasi donasi pada flyer di bawah ini:

Penulis: Kevin Herbian
Grafis: Tias Ester Widhari
(kh/av)


































