Karawang, 10 September 2026 – Sahut-menyahut suara riang siswa terdengar ketika bel masuk berbunyi, menandai dimulainya kegiatan belajar di SDN Wanakerta 1, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang. Sebanyak 184 siswa menjalani aktivitas belajar di sekolah tersebut setiap harinya. Namun, proses belajar mengajar di sekolah ini menghadapi kendala setelah salah satu ruang kelas mengalami kerusakan cukup parah.
Atap ruang kelas yang telah rapuh akhirnya ambruk dan menyebabkan ruangan tersebut tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi serupa juga terlihat pada plafon yang ikut mengalami kerusakan. Para siswa pun harus menggunakan ruang kelas lain secara bergantian, sehingga kegiatan belajar tidak dapat berlangsung secara optimal.
“Atapnya bocor, kemudian plafonnya juga sampai rubuh karena rangka atapnya sudah rapuh. Untungnya saat kejadian tidak ada anak didik kami di dalam kelas. Harapannya kondisi ini bisa segera diperbaiki agar kegiatan belajar mengajar lebih optimal dan anak-anak tidak perlu lagi menumpang kelas atau belajar secara bergantian,” ujar Drs. Jasa Rohdiat, Kepala SDN Wanakerta 1.
Tidak hanya ruang kelas, fasilitas sanitasi di sekolah tersebut juga menghadapi keterbatasan. Dua dari fasilitas toilet yang tersedia mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan. Kondisi ini membuat jumlah toilet yang dapat digunakan menjadi terbatas dan siswa harus mengantre ketika ingin menggunakannya.
Kondisi fasilitas pendidikan seperti yang dialami SDN Wanakerta 1 masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia. Sekitar 30 persen sekolah dasar di wilayah pedesaan masih membutuhkan renovasi besar, sementara sekitar 20 persen belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Kondisi bangunan dan fasilitas sekolah yang kurang memadai dapat memengaruhi kenyamanan serta keamanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran.
Tantangan tersebut juga terlihat di sekitar kawasan industri Karawang International Industrial City (KIIC) di Kabupaten Karawang dan Greenland International Industrial Center (GIIC) di Kabupaten Bekasi. Di empat desa yang berada dalam radius 5–7 kilometer dari kedua kawasan industri tersebut, terdapat 41 sekolah mulai dari jenjang PAUD hingga SMA. Diperkirakan sekitar 21 sekolah masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ruang kelas yang padat, bangunan yang mengalami kerusakan, keterbatasan fasilitas sanitasi, hingga minimnya sarana pendukung pembelajaran.

Kondisi salah satu ruang kelas yang tidak layak di SDN Wanakerta 1, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Foto: Tim HFHI
Melihat kebutuhan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia menggandeng Microsoft untuk meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan di sekitar kawasan KIIC dan GIIC. Upaya ini merupakan bagian dari program pendidikan Habitat yang melihat keterkaitan erat antara hunian layak, lingkungan belajar, dan kualitas hidup keluarga berpenghasilan rendah.
Habitat Indonesia memandang bahwa rumah layak dan lingkungan belajar yang layak merupakan dua hal yang saling berkaitan. Anak-anak membutuhkan tempat tinggal yang aman untuk beristirahat dan belajar di rumah, sekaligus sekolah yang nyaman agar dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas fasilitas pendidikan menjadi bagian dari upaya Habitat dalam mendukung peningkatan kualitas hidup keluarga berpenghasilan rendah secara menyeluruh.
Saat ini, tim Habitat Indonesia tengah melakukan asesmen mendalam terhadap sekolah-sekolah di empat wilayah sasaran, yaitu Desa Wanakerta, Wanasari, Sukamahi, dan Pasiranji. Asesmen dilakukan untuk memahami kondisi fasilitas secara lebih menyeluruh, mengidentifikasi kebutuhan prioritas, serta memastikan bentuk renovasi yang direncanakan benar-benar sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.
Berdasarkan hasil asesmen tersebut, sebanyak 15 sekolah akan dipilih untuk mendapatkan dukungan renovasi. Setiap sekolah akan menyusun usulan berdasarkan kebutuhan prioritasnya, sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.
Dukungan renovasi dapat mencakup berbagai perbaikan non-struktural, seperti perbaikan plafon, lantai, dinding, pengecatan, fasilitas sanitasi, maupun peningkatan akses air bersih. Jenis pekerjaan akan ditentukan berdasarkan hasil asesmen dan usulan dari masing-masing sekolah.

Tim Habitat for Humanity Indonesia bersama perwakilan Microsoft melakukan asesmen mendalam terhadap 15 sekolah di wilayah Kabupaten Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Foto: Tim HFHI
Selain memperbaiki fasilitas fisik, program ini juga mendorong agar renovasi mempertimbangkan aspek inklusivitas. Sekolah akan didorong untuk menerapkan fasilitas dan desain yang lebih ramah bagi perempuan serta penyandang disabilitas, sehingga lingkungan belajar dapat digunakan secara aman dan nyaman oleh seluruh siswa.
Aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian dari perencanaan. Penggunaan material lokal yang tahan lama, pemanfaatan pencahayaan dan ventilasi alami, serta efisiensi penggunaan air dan energi akan dipertimbangkan dalam proses renovasi. Sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah, pendekatan terhadap ketahanan perubahan iklim seperti perbaikan drainase, perlindungan dari banjir, maupun pemanfaatan air hujan juga dapat diterapkan.
Program ini tidak berhenti pada pembangunan atau perbaikan fasilitas. Sekolah juga akan didorong untuk memiliki rasa kepemilikan terhadap fasilitas yang telah diperbaiki. Keterlibatan pihak sekolah dalam menentukan prioritas renovasi menjadi salah satu langkah untuk memastikan fasilitas yang dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Melalui kolaborasi dengan Microsoft, Habitat for Humanity Indonesia berharap dukungan terhadap 15 sekolah di sekitar KIIC dan GIIC dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih aman, sehat, nyaman, dan inklusif. Sebab, ketika anak-anak memiliki ruang yang layak untuk belajar, mereka tidak hanya mendapatkan tempat yang lebih baik untuk menuntut ilmu, tetapi juga ruang yang mendukung mereka untuk tumbuh, berkembang, dan mempersiapkan masa depan.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)





