Karawang, 16 September 2026 – Bagi sebagian keluarga, pagi hari mungkin dimulai dengan menyiapkan sarapan dan memastikan anak-anak siap berangkat sekolah. Namun bagi keluarga Sami (53), waktu pagi pernah diawali dengan pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu, dari mana mereka mendapatkan air untuk mandi hari itu?
Di Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga bagi Sami dan keluarganya. Ketersediaannya menentukan bagaimana anak-anaknya memulai hari, apakah mereka dapat berangkat ke sekolah dengan nyaman, hingga berapa banyak pengeluaran yang harus disisihkan keluarga setiap bulan.
Sami sehari-hari berjualan makanan ringan dan jajanan untuk anak-anak di depan rumahnya. Dari usaha kecil tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp50.000 per hari. Sementara suaminya, Caplin (55), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Dengan pendapatan yang terbatas, setiap pengeluaran rumah tangga harus diperhitungkan dengan cermat, termasuk untuk mendapatkan air yang layak digunakan.
Selama ini, keluarga Sami menggunakan air dari sebuah sumur bantuan pemerintah desa yang dimanfaatkan bersama oleh empat keluarga. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian. Namun, air dari sumur itu terasa pahit sehingga tidak dapat digunakan untuk minum maupun kebutuhan konsumsi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Sami harus membeli air isi ulang. Bukan hanya untuk minum keluarganya, air tersebut juga dibutuhkan untuk membuat minuman es yang ia jual di depan rumah.
“Setiap bulan saya harus membeli sekitar 20 galon. Satu galonnya Rp5.000, jadi kurang lebih Rp100.000 saya keluarkan hanya untuk air. Air itu untuk kebutuhan minum keluarga sekaligus untuk membuat minuman yang saya jual. Jadi memang harus dihitung betul-betul supaya kebutuhan lainnya tetap terpenuhi,” tutur Sami.
Namun, ketergantungan pada sumur tidak selalu membuat kebutuhan air keluarga Sami terpenuhi. Ketika musim kemarau datang dan debit air sumur menurun, Sami dan keluarga harus bergantian menggunakan sumber air yang tersedia. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan terpaksa kembali mengandalkan aliran irigasi yang airnya keruh dan tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari.

Aliran air irigasi yang digunakan keluarga Sami dan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Bagi Sami, persoalan itu menjadi semakin berat ketika anak-anaknya harus menggunakan air tersebut untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Tidak jarang, mereka mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air dari aliran irigasi. Kondisi tersebut juga mengganggu kenyamanan anak-anak dalam menjalani aktivitas, termasuk ketika mereka harus belajar di sekolah.
“Kalau dulu, hampir setiap pagi setelah subuh anak-anak sudah mandi di kali sebelum berangkat sekolah. Mereka sebenarnya tidak nyaman karena harus mandi di tempat terbuka dan takut dilihat orang. Belum lagi setelahnya kulit mereka sering terasa gatal. Sebagai orang tua, saya tentu sedih melihat anak-anak harus mengalami keadaan seperti itu,” kata Sami.
Air yang seharusnya menjadi bagian paling mendasar dari kehidupan sehari-hari justru pernah menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga Sami. Keterbatasan akses air bukan hanya menyangkut kebutuhan untuk minum atau mandi, tetapi juga menyentuh kesehatan, kenyamanan, privasi, hingga kesempatan anak-anak untuk memulai hari dan belajar tanpa gangguan.
Kondisi tersebut mulai berubah ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Habitat for Humanity Belanda membangun sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air dari aliran irigasi setempat. Air tersebut diolah melalui sistem filtrasi sebelum disalurkan kepada 10 keluarga prioritas yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses air bersih, termasuk keluarga Sami.
Untuk memastikan air yang dihasilkan aman digunakan, air yang telah melalui proses filtrasi juga menjalani pengujian di laboratorium. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kualitas air memenuhi standar yang dipersyaratkan sebelum dimanfaatkan oleh keluarga.

Bangunan pengolahan dan filtrasi air irigasi yang dibangun oleh Habitat for Humanity untuk menghasilkan air bersih di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Kini, setelah sekitar dua minggu menggunakan air dari sistem baru tersebut, Sami merasakan perubahan yang sebelumnya sulit ia bayangkan. Air yang dahulu harus dicari, dihemat, atau dibeli, kini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan keluarga di rumah.
“Alhamdulillah, sekarang kami punya sumber air baru. Kami tidak perlu lagi repot mencari air atau khawatir ketika musim kemarau. Airnya juga jauh lebih baik daripada yang kami gunakan sebelumnya. Kulit tidak lagi terasa kasar setelah mandi,” ujarnya.
Perubahan paling terasa bagi Sami terlihat pada anak-anaknya. Mereka tidak lagi harus pergi ke aliran irigasi untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Tidak ada lagi rasa khawatir harus mandi di ruang terbuka atau menggunakan air yang membuat kulit mereka gatal.
“Yang paling membuat saya senang adalah melihat anak-anak sekarang bisa mandi dengan air yang bersih. Kulit mereka juga tidak seperti dulu yang sering gatal setelah menggunakan air kali. Mereka jadi lebih nyaman dan bisa berangkat sekolah tanpa harus memikirkan hal seperti itu lagi,” kata Sami.
Bagi anak-anak, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Sami, bisa mandi dengan air yang bersih dan aman berarti lebih dari sekadar kenyamanan. Ada rasa aman, privasi, dan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Sami menggunakan air bersih yang mengalir di rumahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mengolah air untuk berjualan es jajanan di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Air bersih juga membawa perubahan dalam aktivitas ekonomi Sami. Selama ini, sebagian pengeluaran untuk membeli air isi ulang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung usaha kecilnya berjualan minuman. Dengan adanya sumber air baru, ketergantungan terhadap pembelian air isi ulang mulai berkurang.
“Airnya juga enak untuk dikonsumsi. Yang paling terasa, sekarang kami tidak perlu terlalu sering membeli air isi ulang. Untuk jualan juga lebih ringan karena kebutuhan air sudah tersedia, jadi modal yang biasanya dipakai membeli air bisa lebih dihemat,” tutur Sami.
Sami memang belum dapat menghitung secara pasti berapa besar tambahan keuntungan yang diperolehnya karena sistem air bersih tersebut baru digunakan selama sekitar dua minggu. Namun, baginya, berkurangnya pengeluaran untuk membeli air sudah menjadi bantuan yang berarti bagi keluarga.
Di tengah musim kemarau, ketika ketersediaan air menjadi persoalan bagi banyak keluarga di sekitarnya, Sami kini tidak lagi memandang datangnya musim kering dengan kekhawatiran yang sama. Bersama sembilan keluarga lainnya di Desa Baturaden, ia mulai merasakan bagaimana akses air yang lebih layak dapat mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, air bersih bukan hanya tentang air yang mengalir dari keran. Di dalamnya ada kesehatan anak yang lebih terjaga, ada kesempatan untuk berangkat ke sekolah dengan lebih nyaman, ada pengeluaran keluarga yang dapat ditekan, dan ada usaha kecil yang dapat berjalan dengan lebih ringan.
Lebih jauh, akses terhadap air bersih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hunian yang layak. Rumah yang aman dan nyaman tidak cukup hanya memiliki dinding dan atap yang kokoh. Keluarga juga membutuhkan akses terhadap kebutuhan dasar yang memungkinkan mereka hidup sehat, menjaga kebersihan, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan bermartabat.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




