Karawang, 21 September 2026 – Pagi itu, rasa haru, sedih, sekaligus bahagia bercampur dalam diri Nenih, warga Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang. Setelah melewati 61 tahun kehidupannya, untuk pertama kalinya ia dapat merasakan air bersih mengalir langsung di rumahnya. Air yang bagi sebagian orang mungkin menjadi bagian sederhana dari keseharian, bagi Nenih merupakan sesuatu yang sejak lama hanya bisa ia harapkan.
Semasa hidupnya, Nenih terbiasa mengandalkan aliran air irigasi yang berada sekitar 100 meter dari rumahnya. Air tersebut menjadi sumber utama untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci pakaian, hingga mencuci beras dan bahan makanan. Padahal, kondisi air tidaklah layak. Airnya kerap keruh, berbau, dan bercampur dengan kotoran.
Tidak hanya Nenih, sejumlah keluarga di sekitar tempat tinggalnya juga menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada aliran irigasi tersebut. Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, membuat sumur menjadi salah satu pilihan. Namun, pilihan tersebut tidak mudah bagi Nenih yang harus menjalani kehidupan dengan penghasilan terbatas.
Nenih adalah seorang janda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak lebih dari Rp100.000 per hari. Di rumah, ia juga merawat dan membesarkan cucunya karena orang tuanya bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di luar negeri. Dengan penghasilan yang terbatas dan berbagai kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, menyediakan sumber air sendiri menjadi sesuatu yang belum mampu ia wujudkan.
Untuk kebutuhan minum, Nenih selama ini harus membeli air isi ulang. Setiap galon dihargai sekitar Rp5.000 dan dalam satu bulan ia dapat menghabiskan hingga 30 galon, atau sekitar Rp150.000 hanya untuk mendapatkan air yang layak dikonsumsi.
“Kalau satu galon Rp5.000, dalam sebulan bisa sampai 30 galon. Jadi sekitar Rp150.000 untuk air minum saja. Cukup enggak cukup, ya harus dicukupin. Mau bagaimana lagi, air tetap harus ada, tapi pengeluaran itu harus dibagi juga untuk makan dan kebutuhan sekolah,” ujar Nenih.
Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika musim kemarau tiba. Debit air irigasi yang selama ini menjadi tumpuan keluarga semakin berkurang, bahkan terkadang hanya menyisakan air yang sangat keruh. Pada saat seperti itu, Nenih harus menunggu hingga pagi ketika kondisi air sedikit lebih baik untuk mengambilnya dan kemudian membawanya pulang.
“Kalau musim kemarau, airnya semakin sedikit dan keruh. Solusinya saya harus menghemat air. Biasanya setiap pagi saya lihat dulu kondisi airnya. Kalau airnya agak mendingan, saya ambil lalu saya pikul ke rumah,” ceritanya.

Nenih menggunakan aliran air irigasi untuk mencuci pakaian, sayuran, dan bahan makanan, hingga mandi sebelum menerima bantuan air bersih dari Habitat for Humanity di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Jarak 100 meter dari rumah menuju sumber air mungkin terdengar tidak terlalu jauh. Namun bagi Nenih, perjalanan tersebut bukanlah hal yang ringan. Penglihatannya pada mata sebelah kiri mengalami gangguan setelah kecelakaan kerja. Kondisi tersebut membuat aktivitas mengambil dan membawa air menjadi semakin melelahkan, terlebih ketika harus dilakukan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Penggunaan air dari irigasi juga membawa kekhawatiran tersendiri bagi Nenih. Ia bercerita bahwa cucunya beberapa kali mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air tersebut. Air yang keruh dan bercampur kotoran membuat aktivitas sederhana seperti mandi dan mencuci menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani dengan keterbatasan.
Kondisi yang dialami Nenih menunjukkan bahwa akses air bersih bukan sekadar persoalan tersedianya air untuk diminum. Air yang aman dan layak digunakan merupakan bagian penting dari hunian yang layak karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, kenyamanan, serta kemampuan keluarga menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih aman dan bermartabat.
Hingga akhirnya cahaya harapan datang. Perubahan mulai dirasakan Nenih ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Habitat for Humanity Belanda membangun sistem penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air dari aliran irigasi setempat. Sistem tersebut dilengkapi dengan teknologi filtrasi untuk mengolah air sebelum disalurkan kepada 10 keluarga prioritas yang sebelumnya tidak memiliki akses air bersih yang memadai.
Untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan, air yang telah melalui proses filtrasi juga diuji di laboratorium. Langkah ini dilakukan untuk memastikan air yang tersedia memenuhi standar kelayakan sebelum digunakan oleh keluarga penerima manfaat.
Kini, air yang dahulu harus diambil dan dipikul dari aliran irigasi sejauh sekitar 100 meter dapat diperoleh lebih dekat dari rumah Nenih. “Sekarang saya sudah tidak pernah lagi menggunakan air dari kali. Mulai dari mandi, buang air, mencuci pakaian, sampai mencuci sayuran, semuanya sudah pakai air yang baru ini,” kata Nenih.
Perubahan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi Nenih. Ia tidak lagi harus menunggu kondisi air irigasi membaik, mengangkut air ke rumah, atau khawatir ketika musim kemarau membuat sumber air semakin sulit digunakan.
Yang paling ia rasakan adalah perubahan bagi cucu-cucunya. “Cucu saya juga senang sekali bisa mandi pakai air yang bersih. Sekarang mereka tidak lagi marah-marah karena harus mandi menggunakan air yang butek dan bercampur kotoran. Saya juga senang melihat mereka bisa mandi dengan lebih nyaman,” ujar Nenih.

Nenih membasuh muka cucunya dengan air bersih yang telah tersambung di rumahnya berkat dukungan Habitat for Humanity di Desa Baturaden, Kabupaten Karawang. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Bagi Nenih, tersedianya air bersih juga membawa harapan baru bagi kesehatan keluarganya. Jika sebelumnya penggunaan air dari irigasi kerap diikuti keluhan gatal-gatal pada kulit, kini ia merasa lebih tenang karena kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan menggunakan air yang lebih bersih dan aman.
Ia bahkan mulai menggunakan air tersebut untuk kebutuhan konsumsi. “Saya coba air ini untuk memasak dan membuat kopi. Rasanya enak sekali, Pak. Sekarang saya jauh lebih tenang karena bisa menggunakan air yang bersih,” katanya.
Akses air bersih juga memberikan perubahan dari sisi ekonomi. Sebelumnya, sekitar Rp150.000 setiap bulan harus dialokasikan Nenih untuk membeli air isi ulang. Dengan tersedianya akses air bersih, pengeluaran tersebut tidak lagi menjadi beban seperti sebelumnya.
Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, penghematan tersebut berarti lebih banyak ruang untuk memenuhi kebutuhan lain. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli air kini dapat disisihkan atau dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga.
Setelah 61 tahun hidup dengan keterbatasan air bersih, Nenih akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia miliki yakni, air yang lebih aman dan layak dapat digunakan tanpa harus pergi jauh dari rumah.
“Ini keberkahan yang besar sekali bagi saya. Saya tidak pernah membayangkan di usia saya yang sekarang akhirnya bisa merasakan air bersih mengalir dekat rumah. Dulu setiap mau menggunakan air harus memikirkan dari mana mengambilnya, sekarang saya bisa menggunakannya dengan lebih mudah,” ungkap Nenih.
Namun, kebahagiaan Nenih tidak hanya berhenti pada apa yang kini dirasakan keluarganya. Ia berharap fasilitas air bersih yang telah dibangun dapat dirawat dan dijaga bersama agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Saya berharap fasilitas air ini bisa terus dijaga dan dirawat supaya manfaatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga bisa digunakan untuk anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya juga berharap tetangga-tetangga lain yang belum mendapatkan air bersih nantinya bisa merasakan manfaat yang sama seperti saya,” harapnya.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)



