Nagekeo, 7 September 2026 – Bagi Kristina Wae, rumah sederhana di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah ia dan keluarganya makan bersama, berbagi cerita, dan menjalani hari-hari dengan bahagia. Namun, gempa Flores mengubah semuanya dalam hitungan menit.
Saat gempa terjadi, Kristin, 39 tahun, bersama suaminya, Fransiskus Lita (40), dan ketiga anak mereka berusaha menyelamatkan diri dari rumah yang mulai runtuh. Bagian depan rumah mengalami kerusakan, sementara dapur di bagian belakang juga tidak luput dari reruntuhan. Jalan keluar yang biasa mereka gunakan pun tidak lagi aman.
“Waktu gempa kami langsung khawatir dan menangis. Kami ingin keluar lewat depan, tetapi teras sudah mulai runtuh. Mau ke belakang, dapur juga sudah runtuh. Syukurlah ada pintu samping. Suami saya mendobrak pintu itu dan kami semua keluar lewat sana,” kenang Kristin.
Tidak ada barang yang sempat dibawa. Bagi Kristin dan keluarganya, keselamatan menjadi satu-satunya hal yang penting saat itu.
Kehilangan tempat tinggal, tetapi tidak kehilangan harapan
Sebelum gempa, Kristin menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai petani. Keluarga mereka juga beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan keluarga bergantung pada hasil pertanian dan penjualan ternak, dengan pendapatan yang tidak menentu dan tidak lebih dari Rp2 juta per bulan.
Ketiga anak mereka juga menjadi alasan bagi Kristin dan suaminya untuk terus bertahan. Kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak, tetap harus dipenuhi meskipun rumah mereka kini tidak lagi dapat dihuni.
“Rumah itu segalanya buat keluarga saya. Itu tempat ternyaman untuk keluarga kecil saya. Walaupun rumahnya sederhana, di situlah banyak kebahagiaan yang kami curahkan,” ujar Kristin.
Setelah gempa, keluarga Kristin mengungsi ke Bukit Danga, cukup jauh dari rumah mereka. Selama sekitar dua minggu, mereka tinggal di tenda pengungsian dan bertahan dengan bantuan makanan serta kebutuhan dasar dari pemerintah.
Namun, Kristin menyadari bahwa ia tidak bisa terus berada di tempat pengungsian. Di rumahnya masih ada ternak yang dapat membantu menopang kehidupan keluarga. Anak-anaknya juga harus kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, setelah sekitar dua minggu di Bukit Danga, Kristin dan keluarganya memutuskan kembali ke Marapokot. Mereka mendirikan tenda di samping rumah yang rusak dan tinggal di sana untuk sementara waktu.
“Kalau kami terus tinggal di atas, bagaimana dengan penghasilan? Kami punya anak sekolah. Kami masih punya ternak yang mungkin bisa membantu kehidupan kami setiap hari. Jadi kami memilih untuk bangkit lagi,” katanya.

Kristina Wae menunjukkan bagian rumahnya yang roboh akibat gempa di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Sebuah paket yang menjadi awal untuk bangkit
Beberapa hari setelah kembali ke rumah, Kristin mendapat kabar dari aparat desa untuk datang ke kantor desa. Ia tidak mengetahui bahwa kedatangannya berkaitan dengan bantuan yang akan diterimanya.
Motor miliknya masih tertindih reruntuhan rumah, sehingga ia harus menggunakan ojek milik tetangga untuk menuju kantor desa.
Setibanya di sana, Kristin sempat merasa ragu dan tidak mengetahui apa yang akan diterimanya. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa keluarganya mendapatkan seperangkat perlengkapan untuk membantu membersihkan rumah yang terdampak gempa.
Bantuan tersebut merupakan Emergency Shelter Kit (ESK) yang disalurkan Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan para donatur. Sebanyak 100 paket ESK diberikan kepada 100 keluarga terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, sebagai bagian dari program Flores Housing Recovery.
Berbeda dari bantuan kebutuhan sehari-hari, ESK berisi berbagai perlengkapan yang dapat digunakan keluarga untuk membersihkan sisa material gempa dan melakukan perbaikan awal pada rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Bagi Kristin, paket tersebut datang pada saat yang tepat. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Sekecil apa pun bantuannya, saya bisa menikmatinya,” tutur Kristin.
Lebih dari sekadar perlengkapan, bagi Kristin, ESK menjadi dorongan untuk mulai melakukan sesuatu. Rumahnya memang belum bisa langsung dibangun kembali. Modal untuk memperbaikinya pun belum tersedia. Namun, ia kini memiliki alat untuk memulai dari hal yang paling sederhana yaitu, membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit.

Kristina Wae membuka isi paket Emergency Shelter Kit (ESK) dari Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Baca juga: Setelah Gempa, Abdul Rajak Memilih Bangkit dan Menjaga Harapan Keluarganya
Membersihkan dapur, menyiapkan langkah berikutnya
Kristin berencana memulai dari bagian dapur. Bagian tersebut menjadi salah satu area rumah yang mengalami kerusakan dan ia berharap dapat membersihkannya agar bisa kembali digunakan untuk memasak.
“Paling tidak dapur kami bersihkan dulu supaya bisa digunakan untuk memasak. Kami kerjakan pelan-pelan dengan alat ini,” ujarnya.
Keinginan untuk memperbaiki rumah sebenarnya sudah ada bahkan sebelum gempa terjadi. Kristin bercerita bahwa keluarganya sempat membeli satu rit pasir untuk memperbaiki lantai dapur. Mereka berencana membeli semen keesokan harinya untuk melanjutkan pekerjaan. Namun, gempa datang sebelum rencana tersebut terlaksana.
Pasir yang sudah dibeli pun belum sempat digunakan ketika keluarga harus meninggalkan rumah demi menyelamatkan diri. Rencana sederhana untuk membuat rumah menjadi lebih baik terpaksa tertunda.
Kini, Kristin kembali mencoba memulai dari awal. “Bantuan seperti ini membuat saya merasa harus lebih kuat dan membangkitkan semangat. Saya ingin membangun rumah saya lagi, walaupun sekarang masih harus menunggu modal atau rezeki. Untuk saat ini kami membersihkan pelan-pelan. Kalau nanti ada rezeki, kami ingin membangun rumah yang lebih layak,” katanya.
Bagi Habitat for Humanity Indonesia, langkah kecil seperti membersihkan rumah merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Karena itu, bantuan ESK tidak hanya ditujukan untuk membantu keluarga menangani sisa material gempa, tetapi juga menjadi salah satu langkah awal agar keluarga dapat mulai mengambil kembali kendali atas proses pemulihan rumah mereka.
Penyaluran ESK ini sekaligus menjadi bagian awal dari rencana pemulihan hunian di Aesesa, Nagekeo. Ke depan, Habitat Indonesia akan mendukung perbaikan dan penguatan rumah melalui pendekatan retrofitting bagi 200 keluarga, sehingga rumah yang diperbaiki tidak hanya menjadi lebih layak, tetapi juga lebih aman dan tangguh menghadapi risiko bencana.

Kristina Wae menggunakan salah satu perkakas dari Emergency Shelter Kit Habitat for Humanity Indonesia untuk membersihkan puing-puing sisa gempa di rumahnya di Kabupaten Nagekeo, NTT. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Dari rumah yang runtuh, tumbuh kembali harapan
Hari-hari Kristin kini masih jauh dari kata mudah. Ia dan keluarganya masih tinggal di tenda yang didirikan di samping rumah. Sebagian besar bangunan tidak dapat ditempati karena mengalami kerusakan dan retakan.
Namun, di tengah keterbatasan itu, Kristin memilih untuk tidak berhenti. Ia mulai membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit sambil menunggu kesempatan dan rezeki untuk membangun kembali. Bagi dirinya, proses tersebut bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga tentang mengembalikan tempat yang selama ini menjadi pusat kehidupan keluarganya.
Rumah yang dulu sederhana telah menjadi saksi berbagai kebahagiaan keluarganya. Kini, rumah itu juga menjadi tempat Kristin menaruh harapan untuk memulai kembali. “Rumah adalah segalanya bagi keluarga saya,” katanya.
Bagi Kristin dan keluarga terdampak lainnya, pemulihan mungkin tidak terjadi dalam satu hari. Tetapi dari sebuah tenda, beberapa alat sederhana, dan kemauan untuk mulai membersihkan kembali, sebuah langkah pertama telah dimulai.
Dukungan Sahabat Habitat dapat membantu keluarga terdampak gempa Flores membangun kembali hunian yang lebih aman dan layak. Mari bersama mendukung pemulihan rumah bagi keluarga di Nagekeo melalui program Flores Housing Recovery.
Salurkan donasi melalui informasi pada flyer kampanye di bawah ini:

Penulis: Kevin Herbian
Grafis: Tias Ester Widhari
(kh/av)





