Nusa Tenggara Timur, 22 Agustus 2026 – Pagi itu, Yofita Damul (37) sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Nasi sudah dimasak, sayur sedang dipanaskan, dan sebentar lagi keluarganya akan bersiap menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, pagi yang tenang itu berubah dalam sekejap ketika tanah mulai berguncang.
“Anak-anak langsung teriak, ‘Mama, ini ada apa?’ Saya juga panik. Saya langsung bilang, ‘Ayo kita keluar, kita keluar, Nak!’” kenang Yofita.
Gempa berkekuatan Magnitudo 7.7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, membuat rumah Yofita di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tidak lagi dapat ditempati seperti sebelumnya. Saat guncangan terjadi, pikirannya hanya tertuju pada keselamatan anak-anak dan ibunya yang sedang sakit dan mengalami kesulitan untuk berdiri.
Dalam situasi yang serba panik, Yofita bersama keluarganya berusaha keluar dari rumah. Ibunya kemudian dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Rumah yang selama ini menjadi tempat keluarganya berlindung pun hanya dapat mereka saksikan dari luar ketika guncangan terjadi.
“Waktu itu kami langsung angkat Mama keluar. Kami sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, yang penting semua bisa keluar dan selamat. Setelah itu kami hanya bisa melihat rumah ini berguncang di depan mata,” tuturnya.
Di tengah rasa takut, ada satu hal yang membuat Yofita tetap bersyukur. Tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. “Yang ada di pikiran memang kacau sekali. Tapi saya bersyukur kepada Tuhan karena kami semua selamat. Tidak ada korban. Rumah ini rusak, mau tidak mau kami harus menerima kenyataannya. Yang penting keluarga kami selamat,” ujar Yofita.
Namun, keselamatan dari gempa bukan berarti persoalan selesai. Setelah rumah tidak lagi dapat menjadi tempat tinggal yang aman, Yofita dan keluarganya harus mencari tempat untuk berlindung sementara.

Kerusakan rumah Yovita setelah diguncang gempa Flores di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (18/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian
Kini, sebuah tenda didirikan di halaman rumah tetangganya. Di tempat yang terbatas itu, tiga keluarga harus berbagi ruang untuk beristirahat dan menjalani aktivitas sehari-hari. Keluarga Yofita sendiri berjumlah sembilan orang, termasuk anak-anak, ibunya yang sedang sakit, serta seorang anak yang dititipkan kepadanya karena orang tuanya sedang berada di Kalimantan.
“Sekarang kami tinggal di tenda di depan rumah tetangga. Sudah beberapa hari kami di sana sejak kejadian. Satu tenda ini ditempati tiga keluarga. Kalau keluarga saya sendiri ada sembilan orang,” kata Yofita.
Bagi keluarga dengan jumlah anggota yang cukup banyak, tinggal di tenda bukanlah kondisi yang mudah untuk dijalani dalam waktu lama. Terlebih, Yofita harus memastikan kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi dan ibunya yang sedang sakit tetap mendapatkan perhatian.
Karena itu, ketika ditanya apa yang paling dibutuhkan keluarganya saat ini, Yofita tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. “Yang paling utama itu tempat tinggal, Pak. Tidak mungkin kami lama-lama tidur di tenda, apalagi kami punya anak. Kami juga membutuhkan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan asesmen terhadap rumah Yovita yang terdampak gempa Flores di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (18/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian
Harapan untuk memiliki rumah yang aman bukanlah sesuatu yang baru bagi Yofita. Sebelum rumahnya terdampak gempa, hunian tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang bersama keluarga.
Pada 2019, Yofita merantau ke Kalimantan selama hampir lima tahun untuk bekerja dan mengumpulkan penghasilan. Dari hasil perjuangan tersebut, rumah mulai dibangun pada Maret 2019. Setelah beberapa waktu, ia dan keluarganya kembali ke kampung halaman pada Januari 2021 dan menetap di rumah tersebut hingga gempa terjadi.
Rumah itu bukan sekadar bangunan bagi Yofita. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang keluarganya untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Namun, gempa membuat tempat yang dibangun melalui perjuangan bertahun-tahun tersebut tidak lagi dapat memberikan rasa aman seperti sebelumnya.
Kini, Yofita kembali berada dalam situasi ketika tempat tinggal menjadi kebutuhan paling mendesak. Baginya, pemulihan bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga mengembalikan ruang bagi keluarganya untuk hidup bersama dengan aman.
Kondisi Yofita menggambarkan bagaimana bencana dapat memberikan dampak yang jauh lebih panjang daripada sekadar kerusakan fisik. Ketika rumah terdampak, aktivitas sehari-hari, pengasuhan anak, kesehatan anggota keluarga, hingga rasa aman ikut terganggu.
Di tengah kondisi tersebut, dukungan untuk pemulihan hunian menjadi bagian penting agar keluarga terdampak dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Habitat for Humanity hadir untuk merespons kebutuhan hunian keluarga terdampak gempa di Flores melalui upaya pemulihan sektor perumahan dan permukiman.
Bagi Yofita, harapan itu kini sederhana yakni, keluarganya dapat kembali memiliki tempat untuk pulang, bukan sekadar tenda sementara, tetapi rumah yang mampu memberikan rasa aman bagi anak-anak dan keluarganya. “Yang saya harapkan sekarang semoga kami bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang layak. Kami ingin kembali hidup tenang bersama keluarga. Itu yang paling kami butuhkan,” ungkapnya.
Perjalanan Yofita setelah gempa masih panjang. Rumah yang dahulu dibangun melalui bertahun-tahun perjuangan kini membutuhkan pemulihan. Namun, di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ia memilih untuk tetap bersyukur karena satu hal yang paling berharga masih dimilikinya yaitu, keluarganya selamat.
Bagi keluarga seperti Yofita, dukungan untuk pemulihan rumah berarti lebih dari sekadar membangun kembali sebuah bangunan. Ini adalah upaya untuk mengembalikan rasa aman, menjaga keluarga tetap bersama, dan membantu mereka perlahan menata kembali kehidupan setelah bencana.
Mari bersama membantu ribuan keluarga seperti Yofita agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. Donasi dapat disalurkan melalui:

Penulis: Kevin Herbian
Grafis: Tias Ester Widhari
(kh/av)



