Nusa Tenggara Timur, 28 Agustus 2026 – Pagi 15 Agustus 2026 seharusnya menjadi awal hari yang biasa bagi Abdul Rajak dan keluarganya. Namun, dalam hitungan menit, gempa bumi mengguncang Flores dan mengubah cara mereka memandang rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung. Meski bangunan rumahnya masih berdiri, rasa aman di dalamnya belum sepenuhnya kembali.
Abdul, warga Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih mengingat pagi itu dengan jelas. Sekitar pukul 06.00 WITA, setelah sempat kembali tidur usai salat subuh, ia merasakan guncangan yang semakin kuat. Dari tempatnya berada di Kecamatan Congkar, ia segera berusaha memastikan kondisi istri dan anak-anaknya yang berada di rumah.
Tak lama kemudian, kabar yang ia tunggu datang. Istri, keponakan, dan kedua anak perempuannya telah menyelamatkan diri dan berada di lokasi pengungsian bersama warga lainnya. Anak-anaknya sempat menangis dan ketakutan, tetapi mereka berhasil keluar dari rumah dengan selamat.
Bagi Abdul, keselamatan keluarganya menjadi hal pertama yang ia syukuri. Namun, ketika kembali melihat kondisi rumah dan lingkungan di sekitarnya, ia menyadari bahwa gempa telah meninggalkan kerusakan yang tidak sedikit.
Gudang miliknya hancur total. Kios di bagian depan rumah mengalami keretakan pada bagian atas, sementara beberapa bagian lainnya juga terdampak. Pagar musala di dekat rumahnya turut roboh. Beruntung, rumah utama dan beberapa fasilitas lainnya masih dapat digunakan.
Setelah gempa, Abdul bersama keluarganya memilih bermalam di tenda yang didirikan di luar rumah. Gempa susulan yang masih terjadi membuat mereka belum berani kembali tidur di dalam bangunan. Bantuan dari warga sekitar berupa selimut, pakaian, kasur, dan kebutuhan lainnya turut membantu keluarga melewati malam-malam pertama setelah bencana.
Namun, bagi keluarga Abdul, persoalan terbesar bukan hanya tempat untuk tidur. Rasa takut juga masih tinggal, terutama pada anak bungsunya. Meskipun rumah mereka tidak mengalami kerusakan berat, sang anak masih trauma dan belum berani tidur di dalam rumah. Setiap pagi, keluarga kembali ke rumah untuk membersihkan, menyiapkan makanan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Ketika malam tiba, mereka kembali ke tempat yang dianggap lebih aman.
Hari-hari setelah gempa pun berjalan dengan cara yang berbeda. Aktivitas perlahan kembali dilakukan, tetapi selalu ada kewaspadaan terhadap kemungkinan guncangan berikutnya.
Di tengah kondisi tersebut, Abdul tidak ingin keluarganya terus-menerus berada dalam ketakutan. Ia kemudian mengambil langkah sederhana yang bisa dilakukannya sendiri. Dengan memanfaatkan kayu yang tersedia, ia mulai membangun sebuah gazebo di samping rumah untuk menjadi tempat beristirahat sementara bagi keluarganya.

Abdul membangun gazebo di samping rumahnya sebagai tempat pengungsian sementara pascagempa Flores di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Bagi Abdul, membangun tempat berlindung sederhana itu bukan sekadar persoalan menyediakan ruang untuk tidur. Ada harapan yang ingin ia tumbuhkan kembali di tengah keluarganya. “Kita tidak boleh terlalu larut dalam musibah. Selama masih bisa melakukan sesuatu, kita harus berusaha. Saya harus menunjukkan kepada anak dan keluarga bahwa kami bisa melewati keadaan ini, supaya mereka juga merasa lebih kuat dan nyaman.”
Semangat itu menjadi cara Abdul menghadapi situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menyadari bahwa gempa bukan sesuatu yang dapat dikendalikan, tetapi bagaimana seseorang merespons keadaan setelahnya masih menjadi pilihan.
Menurutnya, keluarga membutuhkan sosok yang mampu tetap berdiri ketika keadaan sedang tidak menentu. Bukan karena rasa takut hilang begitu saja, melainkan karena kehidupan harus tetap berjalan. “Kita memang harus menerima bahwa ini adalah musibah yang terjadi di luar kehendak kita. Tetapi kita juga harus bangkit dan berusaha. Apa yang masih bisa kita lakukan, kita lakukan. Saya ingin anak-anak dan keluarga saya melihat bahwa kami masih punya harapan,” tuturnya.
Harapan tersebut menjadi semakin penting ketika rumah tidak lagi sekadar bangunan bagi Abdul. Sebelum gempa, rumah adalah tempat keluarganya berkumpul, beristirahat, berbicara, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah gempa, makna itu terasa semakin dalam.
Rumah menjadi tempat yang ingin kembali dituju, sekaligus tempat yang untuk sementara harus dijauhi karena rasa takut. “Rumah bagi saya adalah tempat keluarga berkumpul dan saling melindungi. Di sanalah kami berkomunikasi, beristirahat, dan berlindung dari panas, hujan, maupun berbagai keadaan yang tidak terduga,” katanya.
Karena itu, bagi Abdul, memiliki rumah yang aman bukan hanya tentang memiliki atap dan dinding. Rumah adalah bagian dari rasa aman sebuah keluarga. Ketika tempat berlindung itu terganggu, kehidupan keluarga pun ikut berubah.
Kini, meski rumahnya masih berdiri, Abdul memilih untuk tidak menunggu keadaan pulih dengan sendirinya. Ia membersihkan rumah, membangun tempat berlindung sementara, dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari sebisa mungkin. Perlahan, ia berusaha mengembalikan rasa normal yang sempat hilang.
Namun, perjalanan pemulihan setelah bencana tentu tidak berhenti ketika gempa mereda. Bagi banyak keluarga di Flores, kebutuhan untuk mendapatkan kembali rumah yang aman dan layak masih menjadi bagian penting dari proses bangkit.
Mari bersama membantu keluarga terdampak gempa Flores untuk mendapatkan kembali tempat tinggal yang aman dan layak. Dukungan Anda dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan setelah bencana. Donasi dapat disalurkan melalui:

Penulis: Kevin Herbian
Grafis: Tias Ester Widhari
(kh/av)





