Waspada Gempa
Talkshow bersama Maestro

Waspada Gempa<br>Talkshow bersama Maestro

Minggu, 9 May 2021, Berada di posisi Ring of Fire, Indonesia berpotensi sangat tinggi mengalami gempa bumi, namun sayangnya masyarakat belum memiliki rumah yang ramah gempa sehingga ketika gempa datang, masyarakat harus mengalami dampak yang sangat berat, seperti yang terjadi di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat dimana rumah yang rusak mencapai puluhan ribu unit.

Sunday, May, 9th 2021, being in the Ring of Fire position, Indonesia has a very high potential to experience earthquakes, but unfortunately, the community hasn’t a friendly house yet that makes them get a very heavy impact when the earthquakes come as happened in Mamuju and Majene, West Sulawesi where there were thousands of units of houses damaged.

Habitat for Humanity Indonesia, organisasi kemanusiaan yang sangat ahli di bidang perumahan layak terus berupaya memberikan edukasi dan mendorong masyarakat agar memiliki rumah yang ramah gempa. Misi ini diwujudkan dengan mengajak Maestro, Pemerintah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dan BMKG mengadakan talk show yang disiarkan secara live di kanal Maestro bertema “Waspada Gempa” Minggu, 9 Mei 2021.

Habitat for Humanity Indonesia as a humanitarian organization that is very expert in building and providing decent housing continues to provide education and encourage the community to have earthquake-friendly houses. To continue this mission, Habitat Indonesia collaborates with Maestro, Mamuju regency government, and BMKG to present a live talk show on the Maestro channel with the theme “Earthquake Alert” on Sunday, May, 9th 2021.

Pada talkshow tersebut Habitat Indonesia melalui Susanto, Direktur Nasional menyampaikan “Di zaman modern ini banyak orang berpikir kalau rumah dengan semen dan bata itu lebih bergengsi. Masyarakat yang tinggal di daerah sekitar gempa merasa lebih bergengsi jika membangun rumah dengan mencampurkan tiang kayu dan dinding bata padahal jika tidak memperhatikan alat penguat antara kayu dan bata, justru rumah akan lebih parah dan mudah roboh saat gempa terjadi. Habitat Indonesia mendorong masyarakat memiliki rumah ramah gempa dengan membangun kembali bangunan rumah yang dekat dengan kearifan lokal seperti rumah yangn terbuat dari kayu”.During the talk show, Habitat Indonesia through Susanto, National Director said “In modern time, many people think that houses with cement and bricks are more prestigious,

people who live in the area around the earthquake feel more prestigious if they build a house by mixing wooden poles and brick walls but they don’t pay attention to the reinforcement between wood and brick which will worsen and easily broken when the earthquake occurs. Habitat Indonesia encourages people to have an earthquake-friendly house by re-building house that is close to local design such as a house made from wood. 

Paskah gempa di Mamuju, Habitat Indonesia memberikan pelatihan membangun rumah dengan teknologi foresemen kepada masyarakat yaitu teknik memperkuat dinding bangunan rumah dengan menambahkan anyaman kawat ayam atau kawat besi dengan ketebalan lebih dari 1 milimeter. Anyaman kawat yang rapat itu diletakkan pada jarak 1 sentimeter dari dinding bangunan. Agar tidak bergeser, anyaman itu diikat menggunakan kawat pengikat pada paku payung yang ditancapkan di dinding bangunan yang terbuat dari susunan bata ringan maupun batako. Anyaman kawat itu nantinya akan tertutup setelah dinding diplester menggunakan adukan semen dengan ketebalan 2 sentimeter.

After the earthquake in Mamuju, Habitat Indonesia gives the training to build houses with fore cement technology to the community which is a technique that strengthening the walls of the house by adding woven chicken wire or iron wire with a thickness of more than 1 millimeter. The tightly woven wire is placed at a distance of 1 centimeter from the wall of the building. In order not to shift, the webbing is tied using wire ties to the tacks that are embedded in the walls of the building made of lightweight bricks or concrete blocks. That wire will be closed after the walls are plastered using cement mortar with a thickness of two centimeters. 

Bupati Mamuju, Siti Sutinah Suhardi menambahkan bahwa di Mamuju sendiri, seiring perkembangan zaman, model rumah panggung memang ditinggalkan karena tidak seindah rumah modern “Dulu, masyarakat Mamuju rata-rata membangun rumah dengan batu, tetapi setelah gempa, masyarakat sangat semangat membangun kembali rumah dari kayu”.

Mamuju regent, Siti Sutinah Suhardi added that in Mamuju itself, along with the times, the model of stilt houses was indeed abandoned because it was not as beautiful as modern houses “In the past, the people of Mamuju mostly built houses with stones, but after the earthquake, people were very enthusiastic about rebuilding houses from wood”.

Saran yang disampaikan oleh Habitat dan Bupati Mamuju juga diperkuat oleh Daryono, Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG “Kalau belum bisa mewujudkan bangunan tahan gempa yang lebih mahal, masyarakat dapat membangun bangunan yang berbahan ringan dari kayu dan bambu yang didesain menarik”. The suggestion given by Habitat and the regent of Mamuju was also strengthened by Daryono, Head of the Earthquake and Tsunami Division of the BMKG “If you are not able to create more expensive earthquake-resistant buildings, the community can build buildings made of lightweight wood and bamboo which are designed attractively”.

Daryono menambahkan bahwa pemerintah setempat juga perlu melakukan penataan ruang berbasis risiko tsunami untuk mencegah masyarakat bermukim di pesisir pantai yang pernah dilanda tsunami “Tapi kalau memang tidak bisa dipindah, masyarakat harus memahami apa yang disebut sebagai evakuasi mandiri yaitu dengan cara menjadikan guncangan gempa yang terjadi itu sebagai peringatan dini tsunami,” jelas Daryono. Setidaknya ada tiga sesar (patahan) yang perlu diwaspadai karena sudah cukup lama tidak melepaskan energi gempa kuat yaitu Sesar Matano di Morowali, Sulawesi Tengah, Sesar naik selat Makassar dan Sesar Walanae yang berada di Parepare hingga Bulukumba di Sulawesi Selatan, tambah Daryono.

Daryono added that the local government also needs to carry out tsunami risk-based spatial planning to prevent people from living on the coast that was hit by the tsunami “But if it cannot move, the community must understand with what it is called independent evacuation by making the earthquake shocks that occur as a warning early in the tsunami”, explained Daryono. There are at least three faults that need to be watched out for because they have not released strong earthquake energy for quite a while, such as the Matano Fault in Morowali, Central Sulawesi, the rising Fault of the Makassar Strait, and the Waianae Fault in Parapare to Bulukumba in South Sulawesi”, added Daryono. 

Habitat Indonesia akan terus berupaya memberikan kontribusi dalam menangani bencana alam dan gempa bumi di Indonesia khususnya mengenai pentingnya penyediaan rumah ramah gempa mengingat Indonesia tidak akan pernah lepas dari ancaman bencana alam dan gempa bumi berkepanjangan.

Habitat Indonesia will continue to strive to contribute in dealing with the earthquakes in Indonesia, especially regarding the importance of providing earthquake-friendly housing considering that Indonesia will never be free from the threat of earthquakes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares