
Foto udara Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Gunungkidul, 21 Juli 2026 – Setelah berhasil menghadirkan akses air bersih bagi lebih dari 250 sambungan rumah di Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Habitat for Humanity Indonesia kembali memperluas upayanya melalui dukungan para dermawan. Kali ini, program penyediaan air bersih difokuskan di Kapanewon Panggang dengan target menjangkau 525 keluarga yang tersebar di empat dusun di Kalurahan Girisuko.
Perluasan program ini berangkat dari tantangan yang telah lama dihadapi masyarakat. Bentang alam karst yang mendominasi wilayah Kapanewon Panggang membuat ketersediaan air bersih menjadi persoalan yang terus berulang, terutama saat musim kemarau. Di tengah kondisi tersebut, ratusan keluarga masih bergantung pada pembelian air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap bulan, rata-rata keluarga harus mengeluarkan sekitar Rp300.000,- untuk membeli dua tangki air bersih yang kemudian ditampung di bak penampungan di halaman rumah. Bagi banyak keluarga, pengeluaran tersebut menjadi beban yang cukup besar, tetapi tetap harus dilakukan demi memastikan kebutuhan dasar seperti memasak, mandi, mencuci, dan minum tetap terpenuhi.

Suwiyati, salah satu warga Kalurahan Girisuko, mengambil air dari bak penampungan di samping rumahnya yang diisi melalui pasokan air dari mobil tangki. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Kesulitan itu turut dirasakan Suwiyati, salah seorang warga Kalurahan Girisuko. Baginya, membeli air bersih bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat dihindari meski harus mengorbankan sebagian penghasilan keluarga. “Mau gimana lagi, Mas. Mau enggak mau, air bersih ini tetap harus kami beli untuk kebutuhan sehari-hari. Meski berat karena harus mengeluarkan uang tiga ratus ribu setiap bulan, kami tetap harus mencukupinya,” tuturnya.
Tantangan yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada besarnya biaya. Ketika musim kemarau tiba, pasokan air bersih juga semakin terbatas. Tangki air menjadi lebih sulit diperoleh, dan apabila tersedia, harganya kerap meningkat dibandingkan hari-hari biasa. Kondisi ini membuat masyarakat menghadapi ketidakpastian, baik dari sisi ketersediaan maupun biaya yang harus dikeluarkan.
Melihat kondisi tersebut, Habitat for Humanity Indonesia melakukan asesmen untuk mengidentifikasi sumber air yang berpotensi dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sumber mata air Goa Wuluh Kumet dan Sungai Kedung Lumut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Melalui proyek yang kini tengah berjalan, air bersih direncanakan akan dialirkan ke 525 sambungan rumah di Dusun Gebang, Pacar 1, Sanglor 1, dan Sanglor 2. Pembangunan sistem ini juga akan dilengkapi dengan bak penampung dan sistem filtrasi untuk membantu menjaga kualitas air sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga.

Tim Habitat for Humanity Indonesia bersama sejumlah warga melakukan penyambungan pipa HDPE dalam program penyediaan akses air bersih di Kalurahan Girisuko, Kabupaten Gunungkidul. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Bagi Habitat for Humanity Indonesia, rumah layak huni tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang kokoh, tetapi juga oleh terpenuhinya kebutuhan dasar yang menunjang kualitas hidup penghuninya. Akses terhadap air bersih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hunian layak karena berperan penting dalam mendukung kesehatan keluarga, menjaga sanitasi, serta menciptakan lingkungan tempat tinggal yang aman, sehat, dan bermartabat.
Pembangunan infrastruktur ini juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Secara bergotong royong, kelompok-kelompok warga telah mulai menggali jalur perpipaan, memasang pipa HDPE, hingga memasang meteran air di rumah-rumah penerima manfaat. Keterlibatan masyarakat tidak hanya mempercepat proses pembangunan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki sehingga fasilitas yang dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Gotong royong warga Kalurahan Girisuko membangun jalur pipa dalam program penyediaan akses air bersih. Foto: HFHI/Patrick Cahyo
Selain membangun infrastruktur, Habitat for Humanity Indonesia turut memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan. Seluruh keluarga penerima manfaat akan mengikuti pelatihan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sementara pelatihan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) diberikan untuk mendorong pengelolaan air yang lebih inklusif dan memberikan ruang partisipasi yang setara bagi seluruh kelompok masyarakat. Di sisi lain, komite air yang dibentuk di tingkat komunitas juga akan memperoleh pelatihan pengelolaan dan pemeliharaan sarana agar sistem yang dibangun dapat terus berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, Habitat for Humanity Indonesia, dan para dermawan, program ini diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan. Tidak hanya mempermudah akses terhadap air bersih, tetapi juga membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga, meningkatkan kesehatan, serta memperkuat kualitas hunian dan kehidupan masyarakat di Kapanewon Panggang untuk tahun-tahun mendatang.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)





