Yogyakarta, 31 Juli 2026 – Bagi sebagian besar orang, rumah adalah tempat untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan merasakan kenyamanan serta rasa aman. Namun, bagi banyak penyandang disabilitas di Indonesia, rumah masih menyimpan berbagai tantangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tangga tanpa jalur landai, kamar mandi yang sempit, lantai yang tidak rata, hingga akses yang sulit dijangkau membuat rumah belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mudah diakses.
Tantangan tersebut masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Data menunjukkan, sekitar 9,9 juta keluarga di Indonesia masih menghadapi backlog perumahan. Sementara, 26,9 juta keluarga tinggal di rumah yang belum memenuhi standar kelayakan. Kondisi ini menjadi semakin kompleks bagi keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas. Diperkirakan terdapat sekitar 23 juta penyandang disabilitas di Indonesia, tetapi hanya sebagian kecil hunian yang telah dilengkapi fasilitas dasar yang mendukung aksesibilitas, seperti jalur landai, pegangan tangan, maupun sanitasi yang ramah disabilitas.
Tidak hanya terbatas pada aspek infrastruktur, berbagai faktor lain seperti keterbatasan ekonomi, minimnya pemahaman mengenai pentingnya hunian yang inklusif, serta stigma terhadap penyandang disabilitas juga menjadi hambatan dalam mewujudkan tempat tinggal yang layak dan aksesibel. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti menuju kamar mandi, keluar rumah, atau berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain masih sering bergantung pada bantuan anggota keluarga lainnya.
Sinergi Asuransi MAG dan Habitat Indonesia
Berangkat dari kondisi tersebut, PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (Asuransi MAG) bersama Habitat for Humanity Indonesia berkolaborasi membangun 10 rumah layak huni yang lebih inklusif bagi keluarga penyandang disabilitas di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Setiap rumah dibangun dengan memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan penghuninya. Berbagai fitur aksesibilitas, seperti kamar mandi yang lebih aman, pegangan tangan (handrail), jalur yang mudah dilalui, serta tata ruang yang mendukung mobilitas, dihadirkan untuk menciptakan hunian yang lebih inklusif. Melalui fasilitas tersebut, rumah diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlindung secara fisik, tetapi juga memberikan rasa aman, meningkatkan kemandirian, serta mendukung penyandang disabilitas menjalani kehidupan yang lebih bermartabat.

Salah satu rumah inklusif yang dibangun oleh Asuransi MAG bersama Habitat Indonesia di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Tim HFHI
Selain pembangunan rumah, program ini juga menghadirkan pelatihan mengenai hunian inklusif yang diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari penyandang disabilitas, anggota keluarga, serta para pemangku kepentingan. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman bahwa hunian yang layak tidak hanya memenuhi aspek keamanan dan kekuatan bangunan, tetapi juga mampu menghadirkan aksesibilitas, rasa aman, serta kesempatan yang setara bagi setiap penghuninya.
Salah satu penerima manfaat program ini adalah keluarga Legimin (65), warga Dusun Bulak, Kalurahan Tuksono. Selama bertahun-tahun, Legimin dan keluarganya menjalani kehidupan dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Saat ini, aktivitasnya semakin terbatas karena mengalami gangguan mobilitas akibat penyakit yang dideritanya. Di tengah kondisi tersebut, anak keduanya yang merupakan penyandang disabilitas mental tetap memiliki semangat untuk mandiri. Ia masih mampu berkomunikasi dengan baik dan bekerja sebagai buruh serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebelum mendapatkan bantuan, kondisi rumah yang mereka huni masih jauh dari kata layak. Dinding batako yang dibangun tanpa struktur yang memadai, lantai yang sebagian masih berupa tanah dan semen, atap yang rapuh, serta kamar mandi yang belum memenuhi standar kelayakan membuat aktivitas sehari-hari menjadi penuh tantangan. Bagi Legimin dan anaknya, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kenyamanan, tetapi juga membatasi ruang gerak dan kemandirian mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Mempunyai keluarga dengan dua penyandang disabilitas, sementara kondisi ekonomi juga terbatas, memiliki rumah yang layak adalah impian kami. Sekarang rumah ini sangat membantu aktivitas sehari-hari karena dibuat lebih ramah bagi kondisi kami, sehingga kami bisa hidup lebih mandiri,” ujar Legimin

Legimin (65) menggunakan handrail di dalam rumahnya yang telah layak huni dan inklusif, yang dibangun oleh Asuransi MAG bersama Habitat Indonesia di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Tim HFHI
Perubahan positif juga dirasakan oleh keluarga Rahmad (27) di Dusun Demangan. Sejak lahir, Rahmad mengalami keterbatasan mobilitas sehingga seluruh aktivitas sehari-hari, mulai dari mandi hingga menggunakan toilet, masih bergantung pada bantuan orang tua maupun saudara-saudaranya. Sebelum menerima bantuan, Rahmad tidur di lantai ruang belakang yang berdekatan dengan dapur dan kamar mandi. Setiap kali hendak mandi, ia harus digendong karena ukuran pintu kamar mandi yang terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan kursi roda untuk melintas.
Kini, kondisi tersebut telah berubah. Rumah yang dibangun dengan memperhatikan kebutuhan aksesibilitas memberikan ruang gerak yang lebih aman dan nyaman bagi Rahmad. Dengan fasilitas yang lebih ramah disabilitas, ia mulai mampu beraktivitas secara lebih mandiri, termasuk menuju kamar mandi tanpa harus selalu bergantung pada bantuan anggota keluarga.
“Dulu banyak sekali kendala yang kami hadapi. Alhamdulillah sekarang rumah baru ini dibuat sesuai kebutuhan anak kami yang difabel. Rumah ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi jauh lebih mudah. Bahkan sekarang anak kami sudah bisa ke kamar mandi sendiri,” tutur orang tua Rahmad.
Perubahan yang dirasakan oleh keluarga-keluarga penerima manfaat menunjukkan bahwa rumah layak tidak hanya diukur dari kekuatan bangunannya, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang hidup yang aman, nyaman, dan mudah diakses oleh setiap orang. Ketika hambatan fisik di dalam rumah dapat diminimalkan, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih besar untuk hidup mandiri, menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih aman, serta berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Melalui kolaborasi antara Asuransi MAG dan Habitat for Humanity Indonesia, pembangunan rumah inklusif ini diharapkan tidak hanya memberikan hunian yang lebih layak bagi 10 keluarga penerima manfaat, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa setiap rumah seharusnya dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan seluruh penghuninya. Pada akhirnya, rumah yang benar-benar layak bukan sekadar tempat untuk berteduh, melainkan ruang yang menghadirkan rasa aman, kesempatan yang setara, dan martabat bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya.
(kh/av)




