
(Ilustrasi) Sejumlah warga mengantre untuk mengambil air bersih yang didistribusikan menggunakan truk tangki. Foto: Kevin Herbian
Musim kemarau bukan hanya menghadirkan cuaca yang lebih terik, tetapi juga mengingatkan kita bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga di Indonesia.
Jakarta, 29 Juli 2026 – Krisis air bersih mulai dirasakan di sejumlah wilayah seiring berkurangnya curah hujan. Di Kabupaten Karawang, misalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendistribusikan sekitar 150 ribu liter air bersih kepada 7.704 jiwa di enam desa yang terdampak kekeringan pada 22 Juli 2026 lalu. Di daerah lain, sebanyak 125 kepala keluarga di Kampung Gunung Batur, Kota Cilegon, harus mengantre dan berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju sumber mata air Sumur Bendung demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kondisi ini menjadi semakin berat bagi kelompok rentan, terutama perempuan, yang kerap memikul jeriken atau galon berisi air sejauh sekitar satu kilometer.
Air bersih memiliki peran yang jauh melampaui kebutuhan untuk minum. Air menjadi fondasi bagi kesehatan keluarga, sanitasi yang layak, hingga kebersihan rumah. Ketersediaan air yang memadai memungkinkan keluarga memasak dengan aman, mencuci, menjaga kebersihan diri, serta menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat. Sebaliknya, ketika akses air bersih terbatas, beban rumah tangga sering kali meningkat dan lebih banyak dirasakan oleh perempuan, anak-anak, lansia, maupun penyandang disabilitas. Pada akhirnya, rumah yang kokoh sekalipun belum sepenuhnya dapat disebut layak huni apabila penghuninya masih kesulitan memperoleh air bersih setiap hari.
Di tengah tantangan tersebut, setiap keluarga dapat mulai membangun kebiasaan sederhana untuk menggunakan air secara lebih bijak. Selain membantu menjaga persediaan selama musim kemarau, langkah-langkah ini juga dapat mengurangi pemborosan dan mendorong pemanfaatan air yang lebih efisien.
1. Tampung air hujan untuk kebutuhan non-konsumsi
Jika memungkinkan, manfaatkan air hujan sebagai cadangan untuk menyiram tanaman, membersihkan halaman, atau keperluan lain yang tidak memerlukan air minum. Pastikan air ditampung dalam wadah yang bersih dan tertutup.
2. Segera perbaiki keran atau pipa yang bocor
Tetesan air yang terlihat sepele dapat menyebabkan banyak air terbuang setiap hari. Pemeriksaan rutin pada keran, sambungan pipa, maupun selang air dapat membantu mencegah pemborosan yang tidak disadari.

(Ilustrasi) Seorang warga menggunakan air bersih untuk merebus air minum. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Baca juga: Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni
3. Manfaatkan kembali air yang masih layak digunakan
Air bekas mencuci beras, sayuran, atau buah masih dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman maupun membersihkan area luar rumah. Cara sederhana ini membantu mengurangi penggunaan air bersih tanpa mengurangi manfaatnya.
4. Dahulukan kebutuhan yang paling penting
Saat persediaan air terbatas, prioritaskan penggunaannya untuk kebutuhan pokok seperti minum, memasak, dan menjaga kebersihan diri serta sanitasi keluarga. Dengan begitu, kebutuhan dasar tetap dapat terpenuhi meskipun pasokan air berkurang.
5. Simpan cadangan air dengan cara yang aman
Memiliki persediaan air bersih dapat menjadi langkah antisipasi ketika distribusi air terganggu. Gunakan wadah yang tertutup rapat agar air tetap bersih dan terlindung dari debu maupun serangga.
6. Rutin bersihkan tempat penyimpanan air
Bak penampungan, toren, maupun wadah penyimpanan air perlu dibersihkan secara berkala untuk menjaga kualitas air dan mencegah pertumbuhan lumut, kotoran, maupun mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.
Mengelola air secara bijak merupakan langkah sederhana yang dapat dimulai dari rumah. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten tidak hanya membantu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.
Di saat masih banyak masyarakat yang harus berjuang untuk memperoleh air bersih setiap hari, menggunakan air secara bertanggung jawab menjadi salah satu bentuk kepedulian agar sumber daya yang sangat berharga ini tetap dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, hari ini maupun di masa mendatang.
(kh/av)




