Jakarta, 29 September 2026 – Rumah adalah titik awal dari segala hal dalam hidup kita. Di balik pintunya, ada tempat untuk beristirahat, bertumbuh, dan merajut harapan masa depan. Berdasarkan data Statistik Perumahan 2026 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 70,30% keluarga di Indonesia kini telah memiliki akses terhadap rumah layak huni. Angka ini menunjukkan tren positif dan peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang berada di angka 68,40%.
Peningkatan ini tentu merupakan kabar baik. Sebab, ketika sebuah keluarga mendapatkan akses terhadap rumah yang layak, dampak yang dihadirkan tidak berhenti pada berdirinya atap dan dinding saja.
Sebuah Rumah Layak yang Membuka Banyak Pintu
Akses terhadap hunian yang aman dan sehat membawa perubahan nyata bagi kehidupan sebuah keluarga. Rumah layak huni menjadi fondasi utama yang membuka berbagai pintu peluang:
- Pintu Kesehatan yang Lebih Baik: Dinding yang kokoh dan sanitasi yang higienis memutus rantai penyakit. Anak-anak tumbuh lebih sehat, terhindar dari risiko gatal-gatal, penyakit pencernaan, hingga stunting.
- Pintu Pendidikan dan Masa Depan: Tanpa rasa cemas akan atap yang bocor saat hujan turun, anak-anak dapat belajar dengan tenang, fokus meraih cita-cita, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
- Pintu Peluang Ekonomi: Saat orang tua tidak lagi dihabiskan energinya untuk memperbaiki rumah yang rusak atau mengkhawatirkan keselamatan tempat tinggal, mereka memiliki ruang pikiran dan waktu untuk mencari nafkah, berinovasi, bahkan memulai usaha kecil.
- Pintu Keamanan dan Martabat: Rumah yang aman melindungi keluarga dari bahaya cuaca ekstrem dan ancaman kejahatan. Lebih dari itu, hunian yang layak mengembalikan rasa percaya diri dan martabat setiap anggota keluarga di dalam masyarakat.
Realita Kesenjangan: Saat Jutaan Keluarga Masih Tertinggal
Meski capaian nasional menunjukkan kemajuan, kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan di lapangan. Angka 70,30% tersebut masih dibayangi oleh kesenjangan yang cukup lebar antarwilayah.
Pada tingkat provinsi, persentase keluarga yang memiliki akses terhadap rumah layak huni berkisar antara 7,30% hingga 89,13%. Papua Pegunungan menjadi wilayah dengan capaian terendah, di mana baru 7,30% keluarga yang dapat menikmati hunian layak. Artinya, kurang dari satu dari sepuluh keluarga di provinsi tersebut memiliki tempat tinggal yang memenuhi standar dasar.
Penting untuk dipahami bahwa kriteria “layak huni” bukan sekadar memiliki bangunan fisik yang berdiri. BPS menetapkan empat pilar utama yang harus dipenuhi secara bersamaan agar sebuah rumah dikategorikan layak huni:
- Ketahanan Bangunan (atap, dinding, dan lantai yang aman serta kokoh).
- Kecukupan Luas Lantai per Kapita (ruang gerak yang memadai bagi setiap anggota keluarga).
- Akses Air Minum Layak (sumber air yang bersih dan aman dikonsumsi).
- Sanitasi Layak (memiliki fasilitas toilet dan pembuangan yang higienis).

(Ilustrasi) Kondisi rumah tidak layak huni di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Mengapa Masih Banyak Keluarga yang Kesulitan?
Mewujudkan tempat tinggal yang layak bukanlah perkara mudah, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ada beberapa tantangan utama yang kerap menjebak mereka dalam lingkaran hunian tidak layak:
- Penghasilan yang Terbatas: Sebagian besar pendapatan keluarga berpenghasilan rendah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok harian seperti makan. Tidak ada sisa dana untuk menabung, apalagi membangun rumah.
- Kenaikan Harga Lahan dan Material: Laju kenaikan harga properti, lahan, dan bahan bangunan melonjak jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan rata-rata keluarga setiap tahunnya.
- Akses Pembiayaan yang Sulit: Skema pembiayaan perumahan dari lembaga keuangan resmi sering kali belum menjangkau keluarga yang bekerja di sektor informal dengan pendapatan tidak menentu.
- Keterbatasan Lahan di Perkotaan: Makin padatnya populasi membuat ketersediaan lahan kian menipis dan harganya tidak terjangkau.
- Lokasi Rumah Bantuan yang Jauh: Sebagian opsi rumah terjangkau berada jauh dari pusat ekonomi atau tempat kerja, yang justru menambah beban biaya transportasi harian bagi keluarga.
#OpenTheDoor: Mari Buka Pintu Harapan Bersama
Tantangan perumahan di Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun fisik bangunan baru. Perlunya perbaikan kualitas rumah yang sudah ada, penyediaan air bersih, serta pemerataan sanitasi menjadi kunci agar setiap keluarga tanpa terkecuali, dapat merasakan kehidupan yang sejahtera.
Melalui kampanye #OpenTheDoor, Habitat for Humanity Indonesia mengajak anak muda, komunitas, dan siapa saja untuk mengambil peran aktif. Kita semua bisa menjadi bagian dari perubahan ini dengan menyuarakan pentingnya rumah layak huni bagi setiap keluarga di Indonesia.
Karena saat kita membukakan pintu untuk sebuah rumah yang layak, kita tidak hanya memberikan tempat berteduh, tetapi juga membuka pintu menuju kesehatan, pendidikan, dan masa depan yang lebih baik.
Bagaimana kamu bisa membantu hari ini?
- Bagikan artikel ini di media sosialmu untuk menyebarkan kepedulian.
- Suarakan kampanye #OpenTheDoor agar makin banyak orang menyadari bahwa perubahan besar selalu dimulai dari rumah.
Mari bergerak bersama. Satu aksi kecilmu hari ini adalah kunci untuk membukakan pintu masa depan bagi keluarga yang membutuhkan.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)



