Nusa Tenggara Timur, 19 Agustus 2026 – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 membawa duka mendalam bagi ribuan keluarga, khususnya di sejumlah wilayah Pulau Flores. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah dan berbagai fasilitas umum, sekaligus memaksa puluhan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WITA, sebanyak 70 jiwa meninggal dunia, sementara 1.184 jiwa lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan sakit. Sebanyak 40.216 jiwa juga masih mengungsi yang tersebar di 11 kabupaten/kota terdampak. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, mencapai 15.465 jiwa.
Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan hunian warga. Sedikitnya 11.950 keluarga tercatat mengalami kerusakan rumah, dengan rincian 5.518 rumah rusak berat, 1.924 rumah rusak sedang, dan 4.508 rumah rusak ringan. Kerusakan tidak hanya terjadi pada tempat tinggal, tetapi juga fasilitas yang menunjang kehidupan masyarakat sehari-hari.
BNPB mencatat sedikitnya 208 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, disusul 75 fasilitas pelayanan kesehatan, 39 kantor, dan 53 rumah ibadah yang turut terdampak. Angka tersebut masih dapat berubah seiring dengan proses pendataan dan verifikasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama berbagai pihak di lapangan.
Aksi Habitat for Humanity Indonesia

Tim Habitat for Humanity Indonesia meninjau rumah yang rusak akibat gempa Flores di Desa Tueng, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (19/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian
Melihat besarnya dampak terhadap hunian masyarakat, Habitat for Humanity Indonesia merespons dengan mengirimkan tim Roster Deployment ke wilayah terdampak. Tim ini melakukan kaji cepat untuk memahami tingkat kerusakan rumah dan kondisi hunian keluarga terdampak, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan shelter yang paling mendesak.
Kaji cepat tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan bentuk intervensi Habitat Indonesia dalam mendukung proses pemulihan hunian masyarakat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Selain melihat tingkat kerusakan, asesmen juga diperlukan untuk memastikan respons yang diberikan sesuai dengan kebutuhan keluarga dan kondisi wilayah terdampak.
Melalui program Flores Housing Recovery, Habitat for Humanity akan memprioritaskan dukungan pada kebutuhan hunian masyarakat terdampak. Dalam tahap awal, respons akan diarahkan pada pendistribusian Emergency Shelter Kit.
Untuk pemulihan jangka panjang, Habitat juga mempersiapkan intervensi perbaikan rumah (house repair) serta seismic retrofitting, yaitu penguatan struktur bangunan agar rumah menjadi lebih aman dan lebih tahan terhadap risiko gempa di masa mendatang. Bentuk dan cakupan intervensi akan disesuaikan dengan hasil asesmen yang dilakukan oleh tim di lapangan.
Respons ini merupakan bagian dari upaya Habitat for Humanity Indonesia untuk membantu keluarga terdampak tidak hanya mendapatkan perlindungan setelah bencana, tetapi juga memiliki kesempatan untuk kembali tinggal di hunian yang lebih aman dan tangguh.
Habitat Indonesia mengajak Sahabat Habitat untuk turut mendukung keluarga yang terdampak gempa Flores. Dukungan yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan hunian sekaligus mendukung proses pemulihan rumah keluarga terdampak dalam jangka panjang.
Mari bersama menguatkan keluarga terdampak gempa di Flores dengan berdonasi di bawah ini.

Penulis: Kevin Herbian
Grafis: Tias Ester Widhari
(kh/av)





