Garut, 22 Juni 2026 – Andri (36) tinggal bersama istrinya, Rina (33), serta dua anak mereka di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Anak pertamanya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, sementara si bungsu masih berusia tiga tahun. Selama tujuh tahun terakhir, keluarga kecil ini hidup di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak.
Sehari-hari, Andri bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Jika sedang ada pekerjaan, ia menjadi buruh tani atau membantu mencari rumput untuk pakan ternak di kebun milik warga. Namun, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari.
Dengan pendapatan yang terbatas itu, Andri hanya mampu memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit. Lantai rumah yang masih berupa tanah terkadang ia tambal menggunakan semen jika memiliki uang lebih.“Kalau ada rezeki sedikit, saya pakai buat nambal lantai pakai semen. Tapi cuma sebagian, enggak bisa semuanya,” ujar Andri.
Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atap rumah terbuat dari asbes tanpa plafon, material yang berisiko bagi kesehatan, terlebih bagi anak-anak yang setiap hari tinggal di dalamnya. Dinding rumah pun terbuat dari bilik bambu yang sudah berlubang di banyak bagian, membuat udara dingin dan air hujan mudah masuk ke dalam rumah.
Ketakutan terbesar datang setiap musim hujan tiba. “Kalau hujannya kecil, kami masih berani bertahan di dalam rumah. Tapi kalau hujan besar ditambah angin kencang, kami pasti ngungsi karena takut rumah roboh,” tutur Andri. “Yang paling repot itu kalau hujan malam. Di sini gelap dan minim lampu jalan. Kami harus lari-larian ke rumah orang tua buat numpang ngungsi,” kenangnya.

Istri Andri, Rina (36), bersama putrinya berdiri di depan rumah mereka yang tidak layak huni di Kabupaten Garut. Foto: Tim HFHI
Masa paling berat datang ketika Rina mengandung anak kedua mereka. Saat itu kondisi ekonomi keluarga benar-benar berada di titik terendah, sementara hari persalinan semakin dekat. “Waktu itu saya sempat merasa putus asa. Saya merasa belum bisa jadi suami dan ayah yang berguna buat keluarga,” ujar Andri.
Ditambah lagi, kondisi rumah yang rapuh membuat mereka khawatir akan keselamatan bayi yang akan lahir. Setelah anak bungsunya lahir, Andri dan keluarganya akhirnya memutuskan mengungsi sementara ke rumah orang tua selama dua bulan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Di tengah segala perjuangan itu, Andri hanya bisa terus berusaha sambil menyerahkan sisanya kepada Tuhan. “Saya belajar buat sadar diri. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin cari nafkah. Selebihnya saya serahkan sama Allah,” katanya.
Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan
Harapan baru akhirnya datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra membangun kembali rumah milik Andri menjadi layak huni bersama 84 keluarga lainnya di Kabupaten Garut. “Syukur Alhamdulillah, hidup saya seperti punya semangat baru waktu tahu rumah saya dipilih untuk dibangun kembali,” ujar Andri penuh haru.
Baginya, rumah baru ini merupakan jawaban atas perjuangan panjang yang selama ini ia jalani bersama keluarga. “Ini seperti hasil perjuangan saya dan keluarga selama ini buat punya rumah yang layak. Saya yakin ini jawaban dari doa-doa kami,” katanya.
Kini, rumah Andri berdiri jauh lebih kokoh dan aman. Tidak hanya dibangun dengan dinding dan atap yang layak, rumah tersebut juga dilengkapi berbagai furnitur seperti meja dan kursi ruang keluarga, kasur, lemari pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.

Potret keluarga Andri berdiri di depan rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan Astra di Kabupaten Garut. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Perubahan itu membawa rasa aman yang selama ini tidak pernah benar-benar mereka rasakan. “Rumah ini bikin saya lebih percaya diri, ada yang bisa saya banggakan. Yang paling penting, sekarang saya udah enggak takut lagi kalau hujan dan enggak perlu numpang ke rumah orang tua,” ujar Andri sambil tersenyum.
Tak berhenti sampai di situ, Habitat Indonesia juga mengajak Andri terlibat dalam pembangunan rumah layak huni untuk keluarga lain di lingkungannya. Berbekal pengalaman sebagai tukang bangunan, kini Andri bekerja membantu pembangunan rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di kebun setengah hari.
Kesempatan itu turut membantu meningkatkan penghasilannya. “Sekarang penghasilan saya ada tambahan, jadi bisa dua kali lebih besar dibanding sebelumnya,” kata Andri.
Perubahan juga dirasakan oleh anak-anak mereka. Andri percaya, kondisi rumah yang lebih aman dan nyaman membuat kesehatan fisik maupun mental anak-anaknya menjadi jauh lebih baik. Anak-anaknya kini tidak lagi merasa malu dengan rumah mereka sendiri.
Di rumah yang baru ini, Andri akhirnya menemukan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia cari yaitu, rasa tenang. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Astra. Rumah ini benar-benar jadi tempat yang layak untuk ditinggali. Rumah yang layak itu ya seperti ini,” tutup Andri.
Kisah Andri menjadi bukti bahwa rumah layak huni bukan hanya soal bangunan yang kokoh, tetapi tentang menghadirkan rasa aman, menjaga martabat keluarga, dan membuka harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




