Suara hujan bagi sebagian orang mungkin terdengar menenangkan. Namun bagi Yanto, setiap tetes yang jatuh di atas atap rumahnya dulu justru membawa kegelisahan.
Bondowoso, 7 Juli 2026 – Selama hampir sepuluh tahun, pria 34 tahun yang tinggal di Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso ini hidup bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana yang kondisinya terus menurun dimakan usia. Lantainya masih berupa tanah, dindingnya tersusun dari lembaran triplek yang mulai lapuk dan berlubang di berbagai sisi, sementara atap asbes yang menaunginya telah dipenuhi celah yang membuat air hujan leluasa masuk ke dalam rumah.
“Dahulu atapnya bocor, pinggirnya itu bolong-bolong. Waktu hujan deras, ya kebocoran, kebasahan kita di dalam,” kenang Yanto.
Sebagai buruh serabutan dengan penghasilan sekitar Rp50.000 per hari, Yanto tidak memiliki banyak pilihan. Sebagian besar pendapatannya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri dan putri tunggal mereka yang kini berusia enam tahun. Jika ada sedikit uang tersisa, prioritas tetap jatuh pada kebutuhan makan keluarga.
“Harus ngirit. Kalau enggak ngirit ya enggak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Tinggal di kawasan pegunungan menghadirkan tantangan tersendiri. Saat malam tiba, udara dingin menyelimuti rumah dari berbagai arah. Angin masuk melalui celah-celah dinding yang berlubang, sementara atap yang sudah rusak tak lagi mampu memberikan perlindungan yang semestinya. Yanto dan keluarganya hanya bisa mengandalkan selimut untuk menghangatkan tubuh.
Di tengah segala keterbatasan itu, satu hal yang paling sering menghantui pikirannya adalah keselamatan keluarga. “Saya sedih, bahkan sampai menangis kalau melihat kondisi rumah ini. Tapi ya mau gimana lagi, mau benerin tidak ada uang. Buat makan saja yang penting cukup,” tuturnya.
Kekhawatiran itu semakin besar setiap kali ia membayangkan kemungkinan terburuk terjadi. Rumah yang terus menua membuatnya cemas apabila suatu saat diterpa bencana atau gempa yang dapat menyebabkan bangunan tersebut roboh. Di saat yang sama, keberadaan atap asbes juga menjadi sumber kecemasan lain karena material tersebut diketahui memiliki risiko terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak yang setiap hari tumbuh dan beraktivitas di bawahnya.

Istri dan putri Yanto berada di dalam rumah mereka yang belum layak huni di Kabupaten Bondowoso. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Baca juga: Tujuh Tahun Menanti Rumah Layak: Perjuangan Nining Merawat Orang Tua di Tengah Keterbatasan
Di tengah situasi yang serba sulit itu, Yanto tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah. Hingga suatu hari, tim Habitat for Humanity Indonesia datang melakukan survei ke rumahnya.
Awalnya ia mengira kunjungan tersebut hanyalah pendataan biasa. Namun rasa terkejut muncul ketika ia mengetahui bahwa keluarganya terpilih sebagai penerima bantuan pembangunan rumah layak huni.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Selama proses pembangunan berlangsung, Yanto turut terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan yang bisa ia lakukan. Mulai dari menggali septic tank, mengangkat material bangunan, hingga membantu berbagai kebutuhan konstruksi lainnya.
Bagi Yanto, rumah itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada tenaga, waktu, dan semangat yang ia curahkan selama proses pembangunannya berlangsung.
Perubahan yang ia rasakan kemudian begitu nyata. Kini rumahnya tampil jauh berbeda. Dinding berwarna krem menggantikan material lama yang rapuh, sementara struktur bangunan yang lebih kuat menghadirkan rasa aman yang selama bertahun-tahun ia impikan.
“Anak dan istri saya sudah senang sekali. Enggak kebocoran lagi. Saya juga enggak takut rumah akan roboh,” katanya dengan senyum lega.

Potret keluarga Yanto berdiri di teras rumah mereka yang telah layak huni berkat dukungan para dermawan melalui Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Bondowoso. Foto: HFHI/Kevin Herbian
Dampaknya tidak hanya terlihat dari kondisi fisik rumah. Yanto juga melihat perubahan dalam keseharian keluarganya. Sang istri dan putri kini dapat beristirahat dengan lebih nyaman tanpa harus menghadapi udara dingin yang menyusup dari celah-celah dinding. Mereka juga tidak lagi tinggal di bawah atap asbes yang selama ini menjadi kekhawatiran keluarga.
Putrinya pun tumbuh menjadi anak yang lebih ceria. Halaman rumah yang kini lebih aman memberinya ruang untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitar. “Dulu kalau main banyak saya larangnya. Saya khawatir rumahnya terlalu jorok atau bisa melukai anak saya. Sekarang dia bisa bebas main di mana saja,” ujar Yanto.
Malam-malam yang dulu dipenuhi kecemasan perlahan berganti menjadi waktu istirahat yang lebih tenang. Tidak ada lagi kekhawatiran berlebihan saat hujan turun atau ketika angin pegunungan bertiup kencang.
Ketenangan itu memberi Yanto energi baru untuk terus bekerja dan menatap masa depan keluarganya dengan lebih optimistis. Ia kini bisa memusatkan perhatian pada hal-hal yang sebelumnya sering tertutupi oleh kekhawatiran soal rumah, termasuk menyiapkan biaya pendidikan bagi putri kecilnya.
Bagi Yanto, perubahan ini bukan hanya tentang memiliki tempat tinggal yang lebih aman. Ini adalah kesempatan untuk menjalani hidup dengan perasaan yang lebih tenang, menjaga keluarganya dengan lebih baik, dan melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa masa depan yang ia impikan untuk sang putri kini terasa jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




