logotype
Donate
HFHI – Medco
Kisah Perubahan

Untuk Istri yang Telah Tiada, Rumah Ini Akhirnya Terwujud

Tangerang, 7 April 2026 – Ada luka yang tak selalu terlihat, tetapi terasa setiap kali hujan turun. Bagi Banhawi, setiap tetes air yang jatuh dari atap rumahnya dulu bukan hanya kebocoran, tetapi juga pengingat akan hidup yang penuh keterbatasan.

Di usia 53 tahun, Banhawi menjalani hari-harinya sebagai pencari barang rongsokan di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari, tergantung seberapa banyak barang yang berhasil ia kumpulkan. Dari penghasilan itu, ia harus memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menghadapi ujian berat ketika sang istri jatuh sakit akibat tumor.

Selama empat tahun, Banhawi berjuang merawat istrinya. Biaya obat sebesar Rp100.000 yang hanya cukup untuk tiga hari menjadi beban yang harus ia tanggung di tengah penghasilan yang pas-pasan. Di saat yang sama, rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak.

Banhawi mencari barang rongsokan sebagai sumber penghasilan utama untuk menghidupi keluarganya sehari-hari dan membiayai pengobatan mendiang istrinya yang pernah menderita tumor di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu yang sudah rapuh, berlubang, dan dipenuhi rayap. Sebagian struktur rumah bahkan mulai miring, dengan atap penyangga yang telah patah. Ketika hujan datang, rumah itu tak lagi mampu memberikan perlindungan.

“Kalau ceritain rumah yang dulu itu saya sedih. Waktu hujan, saya tidak bisa tidur, nadahin bocor-bocor pakai bak,” ujar Banhawi.

Upaya memperbaiki atap dengan plastik pun tak mampu menahan derasnya air hujan. Malam-malam panjang dilalui dengan rasa cemas dan ketidaknyamanan. Bahkan, rasa malu kerap menghampiri ketika ada tetangga yang ingin berkunjung.

“Melihat rumah orang lain sudah pada bagus, tapi rumah saya sendiri apa adanya, di situ saya sangat sedih. Ada tetangga mau ke rumah, saya malu,” kenangnya.

Potret Banhawi di depan rumahnya yang tidak layak huni sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama MedcoEnergi dan Medco Foundation di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Di balik semua keterbatasan itu, Banhawi menyimpan satu keinginan sederhana yakni, membahagiakan istrinya dengan menghadirkan rumah yang layak. Ia terus berusaha memperbaiki rumah seadanya, sambil tetap memenuhi kebutuhan pengobatan sang istri.

“Saya masih ingat dulu Ibu itu selalu bilang ke saya, ‘tolong rumah ini terus diperbaiki, asal jangan ada yang patah atau roboh’. Nah, di situ saya terus perbaiki rumah seadanya sembari saya terus belikan Ibu obat,” ujar Banhawi.

Namun waktu berkata lain. Sang istri akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Banhawi dengan kenangan, harapan yang belum sempat terwujud, dan rumah yang masih jauh dari kata aman.

Hingga akhirnya, titik balik itu datang. Melalui dukungan dari MedcoEnergi dan Medco Foundation, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah Banhawi menjadi layak huni. Ia menjadi salah satu dari 14 keluarga di Rajeg yang menerima manfaat program pembangunan rumah layak huni, bagian dari total 45 rumah yang dibangun di Tangerang, Palembang, dan Bondowoso.

Para relawan MedcoEnergi dan Medco Foundation terlibat dalam pembangunan rumah layak huni milik Bapak Banhawi dan 14 rumah lainnya di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati

Kini, rumah Banhawi berdiri kokoh dengan dinding berwarna putih dan atap baja ringan yang kuat. Rumah itu dilengkapi dua kamar tidur, ruang keluarga, serta kamar mandi dan toilet yang layak, memberikan rasa aman sekaligus mendukung kesehatan melalui sanitasi yang lebih baik.

Perubahan itu membawa ketenangan yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Alhamdulillah sekarang saya jauh lebih tenang, senang bukan main, berbeda dengan yang dulu. Mau ninggalin rumah untuk cari barang rongsok juga sudah enggak khawatir lagi,” katanya.

Lebih dari sekadar tempat tinggal, rumah ini juga menghadirkan semangat baru dalam hidupnya. Banhawi kini bekerja lebih giat, bahkan penghasilannya meningkat hingga Rp300.000 sampai Rp400.000 per hari. Ia mulai merencanakan masa depan, sesuatu yang dulu terasa begitu jauh.

Ke depan, ia ingin merenovasi dapur dan menambahkan kanopi di halaman depan rumahnya secara mandiri, dengan menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit.

Potret Banhawi di depan rumahnya yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama MedcoEnergi dan Medco Foundation di Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Di balik senyum dan semangat barunya, tersimpan pula satu harapan yang tak sempat terwujud bersama sang istri. “Kalau umpamanya Ibu masih ada saat ini, saya rasa pasti Ibu senangnya bukan main. Karena ini cita-citanya Ibu untuk bisa punya rumah yang bagus seperti ini,” ucapnya pelan.

Kini, rumah yang dulu penuh kekhawatiran telah berubah menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, tenang, dan harapan baru. Bagi Banhawi, rumah ini bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga bukti bahwa perubahan nyata bisa terjadi. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.

Yuk, simak lebih banyak cerita perubahan lainnya dan lihat bagaimana setiap dukungan Anda dapat menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME Wash
Kabar Habitat

Mengalirkan Harapan, Membangun Ketangguhan: Upaya Tiga Tahun Habitat for Humanity Indonesia Meningkatkan Akses Air dan Sanitasi di Indonesia

Yogyakarta, 31 Maret 2026 – Air adalah sumber kehidupan dan merupakan hak dasar setiap manusia. Namun, bagi sebagian masyarakat di Indonesia, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi tantangan yang nyata.

Sebagai bagian dari komitmen global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-6 (SDG 6), akses terhadap air minum aman, sanitasi layak, dan praktik hidup bersih yang baik merupakan fondasi penting dalam menciptakan kehidupan yang sehat dan bermartabat. Tanpa itu, rumah tidak sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang

Menjawab tantangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia melalui proyek “Strengthening Local Community Resilience in the Water and Sanitation Sector” telah melaksanakan program peningkatan akses air, sanitasi, dan hunian layak secara terpadu selama tiga tahun.

Program ini dilaksanakan secara bertahap di tiga wilayah, yakni Babakan Madang (Bogor) pada Maret 2023–Maret 2024, Wringinanom (Gresik) pada Maret 2024–Maret 2025, dan Nglipar (Gunung Kidul, Yogyakarta) pada Maret 2025–Maret 2026. Pendekatan bertahap ini memungkinkan adaptasi terhadap konteks lokal, sekaligus memperkuat kualitas implementasi melalui pembelajaran dari setiap fase.

Dari Infrastruktur hingga Perubahan Perilaku

Melalui pendekatan terpadu, program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku dan penguatan kapasitas masyarakat.

Sebanyak 75 rumah direnovasi dengan fokus pada peningkatan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan, termasuk pembangunan toilet higienis, penyediaan tangki air, serta perbaikan dapur dan ventilasi. Selain itu, 60 keluarga kini memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi pribadi yang lebih aman dan layak.

Di tingkat komunitas, lebih dari 2.250 keluarga atau lebih dari 10.000 jiwa kini mendapatkan akses air bersih melalui berbagai solusi yang disesuaikan dengan kondisi lokal, mulai dari pemanfaatan mata air hingga sistem distribusi air berbasis komunitas yang dikelola secara mandiri. Upaya ini turut diperkuat melalui renovasi 32 posyandu guna meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak.

Lebih dari sekadar pembangunan, program ini juga menekankan pentingnya perubahan perilaku sebagai kunci keberlanjutan. Sebanyak 135 keluarga mendapatkan edukasi mengenai perawatan rumah dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam keseharian. Sementara itu, 2.250 masyarakat lainnya dibekali pengetahuan tentang praktik higiene, sanitasi, serta kesehatan keluarga, termasuk penggunaan air yang aman dan kebiasaan mencuci tangan.

Untuk memastikan keberlanjutan, sebanyak 90 anggota komite air lokal juga diperkuat kapasitasnya untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan fasilitas air di tingkat komunitas. Kesadaran publik juga diperluas melalui berbagai kegiatan kampanye yang menjangkau lebih dari 3.775 individu, termasuk melalui peringatan Hari Air Sedunia dan Hari Toilet Sedunia, serta berbagai aktivitas edukatif lainnya yang mendorong kepedulian terhadap air bersih dan sanitasi.

Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Pembelajaran Berbasis Data untuk Dampak Berkelanjutan

Sebagai bagian dari sistem Monitoring, Evaluation, Accountability, and Learning (MEAL), studi awal (baseline) telah dilakukan di setiap lokasi untuk memetakan kondisi awal terkait kualitas hunian, akses air dan sanitasi, perilaku WASH, serta kapasitas komunitas.

Setelah seluruh intervensi selesai, studi akhir (endline/impact study) dilakukan untuk mengukur sejauh mana proyek ini memberikan perubahan yang nyata dan terukur dalam kehidupan masyarakat.

Hasil studi ini tidak hanya menjadi laporan evaluasi, tetapi juga menjadi dasar pembelajaran yang lebih luas. Melalui kegiatan Learning Event, temuan berbasis bukti akan didiseminasikan untuk merefleksikan efektivitas pendekatan hunian terintegrasi dengan WASH, sekaligus mengeksplorasi potensi replikasi model ini dalam mendukung pencapaian SDG 6 dan peningkatan kualitas permukiman.

Mendorong Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat

Sebagai penutup rangkaian program, Habitat for Humanity Indonesia menyelenggarakan Learning Event pada Selasa, 31 Maret 2026. Kegiatan ini turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, akademisi, serta perwakilan komunitas.

Melalui forum ini, para peserta bersama-sama merefleksikan capaian program, mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan, serta merumuskan rekomendasi strategis berbasis bukti untuk penguatan layanan WASH yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dan mendorong komitmen bersama dalam menghadirkan akses air bersih, sanitasi layak, dan hunian yang sehat bagi seluruh masyarakat.

Mengalirkan Harapan, Menguatkan Kehidupan

Selama tiga tahun pelaksanaan, program ini telah memberikan dampak bagi lebih dari 200.000 jiwa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, dampak yang dihadirkan tidak hanya terletak pada infrastruktur yang dibangun, melainkan pada perubahan kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat.

Bersama pemerintah, mitra, dan komunitas, Habitat for Humanity Indonesia terus berupaya untuk memperkuat ketangguhan dan menghadirkan kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Karena setiap keluarga berhak untuk hidup dengan layak, sehat, dan bermartabat.

Foto: HFHI/Patrik Cahyo & Kevin Herbian

Penulis: Syefira Salsabilla

(av/kh)

HFHI – Backlog
Perspektif Habitat

Backlog Perumahan di Indonesia: Tantangan Besar dan Upaya Kolaboratif Mewujudkan Hunian Layak

Jakarta, 30 Maret 2026 – Tingginya kesenjangan antara jumlah rumah yang dibutuhkan masyarakat dengan ketersediaan hunian yang layak, tidak hanya menjadi perhatian pemerintah tetapi juga berbagai pihak termasuk organisasi non-profit seperti Habitat for Humanity Indonesia. Habitat Indonesia berfokus pada kelompok yang paling terdampak adalah keluarga berpenghasilan paling rendah pada kelompok desil 1 dan 2, perempuan kepala rumah tangga, dan masyarakat dengan disabilitas.

Memahami Besarnya Tantangan Backlog Perumahan

Data yang dikutip dari laman resmi pemerintah (pkp.go.id) menunjukkan bahwa persoalan backlog perumahan di Indonesia masih berada pada angka yang cukup tinggi. Tercatat terdapat 29.171.222 keluarga yang mengalami backlog perumahan, yang terdiri dari dua kategori utama yaitu, backlog kepemilikan dan backlog kelayakan hunian.

Sebanyak 12.573.383 keluarga termasuk dalam backlog kepemilikan, yaitu keluarga yang belum memiliki rumah sendiri. Sementara itu, 16.597.839 keluarga lainnya mengalami backlog kelayakan hunian, yaitu keluarga yang sudah memiliki tempat tinggal namun kondisinya belum memenuhi standar rumah layak huni.

Sebaran backlog ini juga menunjukkan konsentrasi yang cukup besar di wilayah Pulau Jawa. Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai wilayah dengan backlog perumahan tertinggi, diikuti oleh Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di wilayah tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penyediaan hunian yang memadai.

Potret keluarga yang tinggal di hunian tidak layak di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Lantas Mengapa Backlog Perumahan Masih Tinggi?

Tingginya angka backlog perumahan tidak terjadi tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi kondisi ini.

Salah satunya adalah keterbatasan skema pembiayaan perumahan yang masih belum sepenuhnya menjangkau keluarga berpenghasilan rendah, terutama mereka yang bekerja di sektor informal. Tanpa akses pembiayaan yang terjangkau, banyak keluarga kesulitan untuk memiliki rumah sendiri.

Selain itu, pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang cepat sering kali tidak diimbangi dengan penyediaan hunian yang memadai. Kondisi ini kemudian memicu munculnya permukiman padat, hunian informal, hingga kawasan yang berkembang tanpa perencanaan yang baik.

Persoalan lain juga berkaitan dengan kualitas rumah dan lingkungan permukiman. Masih banyak rumah yang belum memenuhi standar teknis dan kesehatan, mulai dari konstruksi bangunan yang tidak aman, keterbatasan ruang, hingga kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Data menunjukkan bahwa sekitar 12,8 persen kawasan permukiman masih tergolong kumuh, sementara sekitar 30 persen bangunan belum memenuhi ketentuan teknis bangunan yang layak. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan perumahan tidak hanya terkait jumlah rumah, tetapi juga kualitas hunian dan lingkungan tempat tinggal.

Baca juga: Memahami Retrofitting: Upaya Memperkuat Rumah Penyintas Pascabencana di Sumatera

Kolaborasi untuk Mengurangi Backlog Perumahan

Untuk mengatasi persoalan tersebut, berbagai upaya terus dilakukan melalui kebijakan dan program strategis pemerintah.

Dalam konteks backlog kepemilikan rumah, pemerintah melalui BP Tapera menginisiasi Program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) yang memberikan skema pembiayaan rumah yang lebih terjangkau bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Sementara itu, untuk mengatasi backlog kelayakan hunian, pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menjalankan Program BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya). Program ini bertujuan membantu keluarga berpenghasilan rendah meningkatkan kualitas rumah mereka agar memenuhi standar hunian yang layak.

Dalam pelaksanaannya, berbagai pihak turut berkolaborasi untuk memperluas dampak program ini. Salah satunya adalah keterlibatan Habitat for Humanity Indonesia yang ikut mendukung implementasi program peningkatan kualitas rumah bagi masyarakat.

Salah satu contoh kolaborasi tersebut terlihat dalam program “Gerakan Untuk Membangun Rumah Sehat, Berdaya Guna Secara Terintegrasi dan Kolaboratif Melalui Aksi Nyata” atau disingkat GUMREGAH TENAN yang dilaksanakan pada tahun 2024 di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Dalam program ini, Habitat Indonesia dipercaya sebagai mitra utama pemerintah untuk memberikan dukungan dana komplementer yang melengkapi pendanaan dari Program BSPS. Kolaborasi ini memungkinkan pembangunan dan peningkatan kualitas rumah bagi 109 keluarga berpenghasilan rendah yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Nglipar, Playen, dan Patuk.

Program yang berjalan selama satu tahun tersebut berhasil memberikan perubahan nyata bagi keluarga penerima manfaat. Rumah-rumah yang sebelumnya tidak memenuhi standar kelayakan kini telah diperbaiki sehingga lebih aman, sehat, dan layak dihuni. Dengan demikian, keluarga-keluarga tersebut secara bertahap dapat keluar dari kondisi backlog hunian tidak layak.

Wujud rumah layak huni yang dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia melalui dukungan dana Program BSPS di Gunungkidul, Yogyakarta. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Melanjutkan Upaya Bersama

Upaya untuk menghadirkan hunian layak bagi masyarakat tentu tidak berhenti sampai di sini. Dalam waktu dekat, pada pertengahan tahun 2026, Habitat for Humanity Indonesia kembali melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kali ini bersama Pemerintah Kabupaten Sragen untuk mendukung pelaksanaan Program BSPS yang menyasar ratusan keluarga lainnya.

Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci penting dalam menjawab tantangan backlog perumahan di Indonesia. Ketika pemerintah, organisasi masyarakat, sektor swasta, dan komunitas bergerak bersama, upaya menghadirkan rumah layak huni bagi keluarga berpenghasilan rendah dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, rumah yang layak bukan hanya soal tempat tinggal. Ia adalah fondasi bagi kesehatan, martabat, dan masa depan yang lebih baik bagi setiap keluarga.

Mari terus membersamai gerakan ini. Dukungan dari #SahabatHabitat sangat berarti untuk membantu lebih banyak keluarga di Indonesia memiliki rumah yang aman, sehat, dan layak huni. Bersama, kita dapat menjadi bagian dari perubahan nyata bagi mereka yang masih menantikan tempat tinggal yang layak untuk keluarganya.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Gender
Perspektif Habitat

Perempuan di Balik Pembangunan Rumah Layak Huni

Jakarta, 25 Maret 2026 – Ketika berbicara tentang pembangunan rumah layak huni, banyak orang membayangkan para tukang yang bekerja di bawah terik matahari, mulai dari mengangkat bata, mencampur semen, dan memasang dinding. Namun di balik proses tersebut, ada peran penting yang sering luput dari perhatian yaitu, keterlibatan perempuan dalam merancang, membangun, hingga menjaga keberlangsungan rumah dan komunitasnya.

Di berbagai belahan dunia, isu keterlibatan perempuan dalam pembangunan komunitas semakin mendapat perhatian. Kesetaraan gender dan pembangunan yang inklusif kini menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan global, karena pengalaman menunjukkan bahwa perempuan sering kali memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya. Ketika perempuan diberi ruang untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, hasil pembangunan tidak hanya lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat, tetapi juga lebih berkelanjutan.

Pendekatan inilah yang juga diupayakan oleh Habitat for Humanity Indonesia dalam berbagai programnya. Pembangunan rumah tidak hanya dipandang sebagai proses membangun struktur fisik, tetapi juga sebagai proses memberdayakan komunitas, termasuk memastikan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat, menyampaikan pendapat, dan menjadi bagian dari perubahan di lingkungannya.

Perempuan sebagai Perencana Komunitas

Salah satu contoh nyata terlihat dalam program revitalisasi kampung Tanjung Kait di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Dalam proses perencanaan pembangunan, perempuan di kampung tersebut dilibatkan secara aktif dalam berbagai musyawarah komunitas.

Di forum-forum diskusi ini, para perempuan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari kondisi rumah yang tidak layak, sanitasi yang kurang memadai, hingga kebutuhan ruang yang lebih aman bagi keluarga mereka. Tidak hanya menyampaikan masalah, mereka juga ikut merumuskan solusi serta menentukan seperti apa lingkungan tempat tinggal mereka seharusnya dibangun kembali.

Partisipasi perempuan dalam menyuarakan aspirasi mereka pada program revitalisasi Kampung Tanjung Kait di Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Pendekatan partisipatif ini menjadi penting karena perempuan sering kali memiliki perspektif yang sangat dekat dengan kebutuhan rumah tangga. Mereka memahami bagaimana ruang dapur digunakan setiap hari, bagaimana anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk tumbuh, hingga bagaimana akses air bersih dan sanitasi memengaruhi kesehatan keluarga.

Ketika suara perempuan diikutsertakan dalam perencanaan, pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah yang lebih layak, tetapi juga lingkungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dari Musyawarah ke Aksi Lapangan

Keterlibatan perempuan tidak berhenti pada ruang diskusi. Dalam proses pembangunan rumah di Kampung Tanjung Kait, para perempuan juga turun langsung membantu berbagai pekerjaan di lapangan.

Sebagian dari mereka adalah ibu rumah tangga, pengupas kerang, hingga keluarga nelayan yang sehari-harinya bergantung pada hasil laut. Namun ketika pembangunan dimulai, mereka dengan sukarela ikut terlibat dalam berbagai aktivitas mulai dari mengangkut material bangunan, membantu pengecatan dinding, hingga menyiapkan kebutuhan logistik bagi para pekerja.

Potret Nimah (55) saat terlibat langsung dalam pembangunan rumah layak huni miliknya melalui program revitalisasi Kampung Tanjung Kait di Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Salah satunya adalah Nimah (55 tahun), warga Kampung Tanjung Kait yang rumahnya turut direvitalisasi. Bagi Nimah, keterlibatan tersebut bukan sekadar membantu pekerjaan fisik, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap masa depan komunitasnya.

“Rumah ini adalah rumah saya dan untuk komunitas saya sendiri, jadi saya merasa perlu ikut terlibat dalam setiap pembangunan,” ujarnya.

Semangat seperti inilah yang membuat proses pembangunan menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur. Ia berubah menjadi gerakan gotong royong yang memperkuat rasa kepemilikan bersama terhadap lingkungan tempat tinggal.

Baca juga: Memahami Retrofitting: Upaya Memperkuat Rumah Penyintas Pascabencana di Sumatera

Perempuan dan Ketangguhan Pasca Bencana

Peran perempuan juga terlihat jelas dalam situasi pemulihan pasca bencana. Ketika bencana melanda wilayah Sibolga dan sekitarnya pada akhir 2025 lalu, proses pemulihan tidak hanya melibatkan tenaga relawan dan organisasi kemanusiaan, tetapi juga masyarakat setempat termasuk para perempuan.

Dalam berbagai kegiatan pemulihan, para ibu dan perempuan di komunitas tersebut turut bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan, memilah material yang masih bisa digunakan, hingga membantu menata kembali lingkungan tempat tinggal mereka.

Aksi gotong royong penyintas perempuan saat membersihkan material puing pascabencana di Sibolga, Sumatera Utara. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Bagi banyak keluarga, perempuan sering menjadi figur yang menjaga stabilitas rumah tangga ketika situasi sulit terjadi. Mereka memastikan anak-anak tetap merasa aman, mengatur kebutuhan sehari-hari, dan pada saat yang sama ikut terlibat dalam upaya membangun kembali kehidupan yang sempat terguncang.

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa ketangguhan komunitas tidak hanya dibangun dari kekuatan fisik, tetapi juga dari solidaritas dan kepedulian yang tumbuh di antara para anggotanya.

Relawan Perempuan yang Menggerakkan Perubahan

Di berbagai program pembangunan rumah layak huni yang digagas Habitat for Humanity Indonesia, perempuan juga kerap terlibat sebagai relawan. Tidak jarang mereka ikut mengambil bagian dalam kegiatan pembangunan yang selama ini identik dengan pekerjaan laki-laki.

Mulai dari menggali pondasi, membantu memasang dinding, hingga melakukan pengecatan rumah, para relawan perempuan menunjukkan bahwa semangat untuk membantu sesama tidak mengenal batasan peran. Kehadiran mereka tidak hanya menambah tenaga, tetapi juga membawa energi kebersamaan yang memperkuat semangat gotong royong di lapangan.

Melalui keterlibatan ini, perempuan tidak lagi dipandang hanya sebagai penerima manfaat dari program pembangunan, tetapi juga sebagai aktor penting yang ikut mendorong perubahan.

Aksi relawan perempuan mengikat besi untuk struktur bangunan rumah layak huni saat kegiatan volunteering Habitat for Humanity Indonesia di Kabupaten Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembangunan rumah layak huni yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan. Ketika perempuan dilibatkan secara aktif, pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah yang lebih kokoh secara fisik, tetapi juga komunitas yang lebih kuat, inklusif, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan.

Perempuan membawa perspektif yang unik dalam melihat kebutuhan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Mereka menjadi jembatan antara kebutuhan rumah tangga dan kepentingan komunitas yang lebih luas.

Di banyak tempat, perubahan sering dimulai dari langkah-langkah kecil, dari suara yang didengar dalam musyawarah, dari tangan yang ikut mengecat dinding rumah, atau dari semangat untuk bangkit bersama setelah bencana. Dan sering kali, di balik perubahan-perubahan itu, ada perempuan yang bekerja dengan penuh ketulusan untuk membangun rumah, harapan, dan masa depan komunitasnya.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME
Kisah Perubahan

Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati

Gunungkidul, 16 Maret 2026 – Ada rasa haru yang tidak bisa terbendung ketika Karju mengenang perjalanan hidupnya. Di usia yang sudah menginjak 75 tahun, ia tak pernah membayangkan bahwa di masa tuanya, ia dan sang istri akhirnya bisa menikmati dapur dan toilet yang lebih layak di rumah sederhana mereka di Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Karju dan istrinya, Jumiyati yang berusia 64 tahun, adalah pasangan petani sederhana. Sehari-hari mereka mengandalkan hasil sawah untuk menyambung hidup. Padi yang mereka tanam sebagian dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dijual untuk membeli kebutuhan dapur. Jika hasil panen tidak banyak, mereka memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kebun.

“Enggak cuma padi, mas. Apapun yang ada di kebun seperti pisang, atau ada ayam, apapun kami jual. Yang penting bisa makan setiap harinya,” ujar Karju.

Namun kehidupan sederhana itu juga diiringi berbagai keterbatasan. Dapur rumah mereka hanya berdinding bambu yang sudah rapuh dan berlubang dimakan usia. Kondisi tersebut sering menyulitkan Jumiyati ketika menyiapkan makanan untuk suaminya, terlebih ketika hujan atau angin kencang datang.

Tak jarang, binatang juga masuk melalui celah-celah bambu, membuat dapur menjadi kotor dan berbau tidak sedap. Bagi pasangan lansia ini, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga kesehatan mereka.

Potret Jumiyati berdiri di depan dapur yang tidak layak sebelum Habitat for Humanity Indonesia merenovasi bangunan tersebut di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Kesulitan lain yang sudah mereka hadapi selama puluhan tahun adalah tidak adanya fasilitas sanitasi yang layak di rumah. Setiap kali ingin menggunakan toilet, mereka harus keluar rumah dan berjalan beberapa meter.

“Saya selalu berdoa, semoga dan mudah-mudahan bisa punya rejeki memiliki dapur dan toilet yang bagus,” kata Karju.

Ia juga sering merasa khawatir setiap kali terjadi gempa atau angin kencang, sesuatu yang bukan hal asing di wilayah Gunungkidul. “Kalau misalkan ada gempa, disini kan terasa sekali ya, mas. Atau ada angin kencang, kami takut dapur atau toiletnya rubuh. Apalagi bahannya cuma dari bambu,” ujarnya.

Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Doa yang selama ini mereka panjatkan akhirnya menemukan jalannya. Melalui program peningkatan akses air bersih dan sanitasi layak (WASH), Habitat for Humanity Indonesia bersama para dermawan membantu membangun kembali ruang dapur dan toilet milik Karju dan Jumiyati agar lebih aman dan layak digunakan. Program ini tidak hanya menyentuh keluarga mereka, tetapi juga membantu 24 keluarga lainnya di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Kini dapur dan toilet baru berdiri kokoh di rumah mereka. Perubahan itu terasa bukan hanya secara fisik, tetapi juga di dalam hati pasangan lansia ini. Perasaan cemas yang dulu sering datang perlahan digantikan dengan rasa tenang.

“Ya tenang, perasaan lega. Enggak ada lagi rasa atau pikiran khawatir. Dapur dan toilet yang baru jauh lebih bagus dan kokoh,” ujar Karju.

Dapur baru itu kini menjadi ruang yang paling sering mereka gunakan. Apalagi di saat bulan suci Ramadhan, tempat itu menjadi saksi kebahagiaan sederhana mereka. “Kami sekarang sahur dan berbuka puasa ya di dapur ini. Senang dan bahagia rasanya,” kata Karju dengan senyum.

Karju dan Jumiyati menikmati hidangan di dapur yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Keberadaan toilet yang kini berada di dalam rumah juga membawa kenyamanan tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah tidak lagi muda. “Sekarang juga kami sudah tidak khawatir lagi kalau ke toilet malam hari atau saat hujan, karena toiletnya sudah di dalam rumah. Membantu kami sekali,” tambahnya.

Bagi Karju dan Jumiyati, dapur dan toilet yang baru bukan sekadar bangunan semata. Ia menjadi simbol harapan, ketenangan, dan martabat yang lebih terjaga di masa tua mereka. Di usia senja, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu, memiliki rumah yang aman dan layak menjadi berkah yang sangat berarti.

Perubahan kecil seperti ini membuktikan bahwa dukungan dan kepedulian dapat menghadirkan dampak besar bagi kehidupan keluarga yang membutuhkan. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk menjalani hari-hari dengan rasa aman, nyaman, dan penuh harapan.

Yuk, simak lebih banyak kisah inspiratif lainnya tentang bagaimana program Habitat for Humanity Indonesia menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di berbagai daerah di sini. Setiap cerita adalah bukti bahwa bersama, kita bisa membangun rumah sekaligus membangun harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Jasindo (1)
Kabar Habitat

UMKM Karawang Siap Naik Kelas Lewat Pelatihan GoGreen dan Inklusif

Karawang, 9 Maret 2026 – Emang bisa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas? Jawabannya sangat bisa.

Melalui pelatihan yang digagas oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Asuransi Jasindo), sebanyak 20 pelaku UMKM di Kabupaten Karawang kini memiliki wawasan baru tentang konsep GoGreen dan bisnis inklusif untuk menjawab tantangan pasar yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.

Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya keberlanjutan pemberdayaan keluarga penerima manfaat program rumah layak huni. Sejumlah pelaku UMKM yang terlibat merupakan keluarga yang menjalankan usaha rumahan yang tumbuh dari hunian yang lebih layak. Dari rumah yang aman dan sehat tersebut, mereka mulai merintis berbagai usaha kecil untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Sebanyak 20 pelaku UMKM di Kabupaten Karawang mengikuti kegiatan ini, termasuk lima pelaku usaha penyandang disabilitas. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ruang pembelajaran yang inklusif, sehingga setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kapasitas dan memperluas peluang usaha.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak 25 hingga 27 Februari 2026, digelar di Aula Kantor Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Karawang. Selama kegiatan, para peserta dibekali berbagai materi komprehensif yang dirancang untuk memperkuat daya saing usaha mereka di tengah perubahan tren pasar.

Materi yang diberikan mencakup pemahaman tentang konsep bisnis hijau (green business), cara mengidentifikasi peluang ramah lingkungan dalam usaha yang dijalankan, hingga menyusun perencanaan bisnis hijau melalui business model canvas sederhana. Peserta juga mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan ide menjadi desain kemasan ramah lingkungan, memahami prinsip desain berkelanjutan dan pemilihan material yang tepat, hingga mempersiapkan produksi kemasan hijau sebagai bagian dari strategi pemasaran yang bernilai tambah.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber berpengalaman, yakni Dr. Agung Surya Dwianto, SE., MM., CHRP, Dr. Didin Hikmah Perkasa, SE., MM., dan Nur Endah Retno Wuryandari, S.Sos., MM., yang membagikan perspektif akademis sekaligus praktik bisnis yang relevan dengan kebutuhan UMKM saat ini.

Baca juga: Foto: Meningkatkan Kesehatan Komunitas melalui Pelatihan PHBS

Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku UMKM dalam menerapkan konsep GoGreen secara konkret dalam proses produksi dan pengemasan. Selain itu, program ini mendorong inovasi produk berbasis material ramah lingkungan serta memperluas akses pasar melalui penguatan branding dan peluang kolaborasi dengan sektor swasta.

Lebih jauh, inisiatif ini dirancang untuk membangun ekosistem bisnis hijau yang terintegrasi di Kabupaten Karawang. Pelaku UMKM diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada pelestarian sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat. Melalui penerapan prinsip produksi bersih, efisiensi energi, serta pengelolaan limbah yang lebih baik, UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar.

Komitmen kolaborasi ini juga ditandai dengan penyerahan mockup secara simbolis oleh Head of TJSL Jasindo, Bapak Firman, kepada Kepala Dinas Perindagkop UKM Kabupaten Karawang, Bapak H. Dindin Rachmadhy, S.Sos., M.M. Penyerahan ini menjadi simbol dukungan terhadap penguatan ekosistem UMKM yang lebih berkelanjutan dan inklusif di Karawang.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal merupakan langkah strategis dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan baru, para pelaku UMKM Karawang kini semakin siap untuk naik kelas—bukan hanya dari sisi skala usaha, tetapi juga dari sisi dampak positif yang mereka berikan bagi lingkungan dan masyarakat.

Foto: HFHI/Edwin Manahan

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME Wash
Kisah Perubahan

Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Setiap hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, dapur kecil itu sudah hidup. Asap tipis mengepul, tangan terampil membentuk adonan bakso cilok, dan harapan kembali diracik sejak pukul tiga dini hari.

Di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Ibu Sri Lestari (45) menghabiskan hampir seluruh harinya di dapur. Bersama sang suami, Bapak Sumarno (49), mereka menggantungkan hidup dari bakso cilok dan susu kedelai yang dijual berkeliling. Dari subuh hingga larut malam, Ibu Sri menyiapkan dagangan yang kemudian dibawa suaminya menyusuri kampung demi kampung.

Namun, dapur tempat harapan itu diracik jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tua tanpa ventilasi yang memadai. Cahaya matahari sulit masuk, sehingga bahkan di siang hari lampu harus tetap menyala agar ia bisa melihat adonan yang diolahnya. Ketika hujan turun deras, air merembes masuk melalui celah-celah dinding dan atap yang bocor.

“Dulu kalau hujan deras, airnya masuk ke dalam dapur. Jadinya saya harus berhenti memasak bakso di sini. Alhasil suami saya enggak bisa berjualan,” tutur Ibu Sri.

Kondisi dapur milik Sri Lestari sebelum direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Bukan hanya dapur yang menjadi tantangan. Toilet rumah mereka berada di luar, terpisah dari bangunan utama. Untuk menggunakannya, keluarga harus berjalan kaki melewati halaman yang gelap dan licin, terutama saat hujan turun atau malam tiba. Kekhawatiran akan terpeleset selalu menghantui. Di sisi lain, rasa malu juga kerap muncul karena belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak.

“Kalau sudah hujan deras, kami takut licin dan takut jatuh. Kalau malam hari juga gelap sekali. Kami juga malu punya toilet di luar,” ungkapnya pelan.

Baca juga: Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Melalui Program Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan para donatur membangun kembali dapur dan toilet milik keluarga Ibu Sri. Dapur baru kini berdiri kokoh dengan dinding permanen berwarna hijau, dilengkapi ventilasi dan jendela yang memungkinkan cahaya serta udara mengalir bebas. Toilet pun dibangun lebih aman dan menyatu dengan rumah, memberikan rasa nyaman dan privasi bagi seluruh keluarga.

Perubahan itu terasa sejak hari pertama.

Kini, dari kejauhan, aroma sedap bakso kembali tercium setiap pagi. Asap mengepul tanpa henti dari dapur yang jauh lebih terang dan sehat. Ibu Sri tak lagi khawatir ketika hujan turun. Ia bisa terus memasak kapan pun diperlukan.

“Sekarang kalau pintunya ditutup saja masih terang, cahaya dari luar masuk. Ventilasinya juga banyak, jadi hawanya enak,” katanya sambil tersenyum.

Sri Lestari memasak adonan bakso cilok di dapurnya yang telah direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dengan dapur yang lebih aman dan nyaman, produksi hariannya meningkat dari 5 kilogram menjadi 7 kilogram per hari. Ia bahkan mulai menambah varian bakso kuah. Penghasilan keluarga pun bertambah sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari dibandingkan sebelumnya. Ketika dagangan Bapak Sumarno habis, Ibu Sri kini bisa segera menyusul untuk memasok kembali tanpa hambatan.

“Sekarang kalau barang dagangan Bapak habis, saya sudah bisa langsung samperin untuk ngasih baksonya lagi,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Ibu Sri dan suaminya, perubahan ini bukan hanya tentang bangunan fisik. Ini tentang semangat yang tumbuh kembali. Tentang keyakinan bahwa kerja keras mereka bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi dua anak yang masih bersekolah.

“Dengan dapur dan toilet baru ini, menambah semangat saya dan suami untuk berjualan demi menghidupi dua anak kami,” tuturnya haru.

Ke depan, Ibu Sri bermimpi dapat membeli kulkas atau freezer baru agar produksi bisa semakin meningkat. Ia ingin usahanya terus berkembang, selangkah demi selangkah.

Kisah Ibu Sri adalah bukti bahwa akses terhadap hunian dan sanitasi yang layak bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang membuka peluang ekonomi, menjaga kesehatan keluarga, dan memulihkan martabat.

Potret Sri Lestari saat tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan wawancara dan monitoring ke rumahnya di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dukungan para donatur telah membantu menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga seperti Ibu Sri. Setiap kontribusi yang diberikan turut mengubah dapur yang gelap menjadi ruang penuh cahaya dan harapan.

Yuk, baca kisah inspiratif lainnya dan lihat bagaimana dukungan Anda dapat menghadirkan perubahan nyata bagi lebih banyak keluarga di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Perspektif Habitat

Memahami Retrofitting: Upaya Memperkuat Rumah Penyintas Pascabencana di Sumatera

Foto udara Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, dua bulan setelah dilanda bencana banjir bandang. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Sibolga, 23 Februari 2026 – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera meninggalkan dampak kerusakan hunian dalam skala besar. Mengutip laman BNPB (10/2), sebanyak 301.102 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 58.505 rusak berat, 66.785 rusak sedang, dan 175.722 rusak ringan. Kerusakan tersebut tersebar di 53 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, menunjukkan luasnya dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat.

Besarnya angka kerusakan ini tidak hanya berarti hilangnya tempat tinggal, tetapi juga hilangnya rasa aman bagi ribuan keluarga. Proses pemulihan pun tidak cukup sebatas membersihkan puing, melainkan membutuhkan upaya membangun kembali hunian agar lebih kuat dan tahan terhadap risiko bencana di masa depan.

Menjawab kebutuhan tersebut, pada 21 Januari 2026, Habitat for Humanity Indonesia memulai komitmen jangka panjang selama dua tahun untuk mendampingi pemulihan keluarga terdampak di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun pertama, fokus diarahkan pada perbaikan dan retrofitting 500 rumah dengan kategori rusak ringan hingga sedang, sehingga rumah yang masih dapat dihuni bisa diperkuat tanpa harus dibangun ulang sepenuhnya.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan retrofitting?

Sebelum memahami metode retrofitting, penting untuk mengenali terlebih dahulu bagaimana tingkat kerusakan rumah diklasifikasikan. Berdasarkan Buku Tata Cara Identifikasi dan Verifikasi Kerusakan yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2021 melalui laman perkim.id, kerusakan rumah dibagi menjadi tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat. Penilaian dilakukan dengan melihat kondisi komponen struktural seperti pondasi, kolom, dan balok, serta komponen non-struktural seperti dinding, atap, dan lantai.

Project Management Support Habitat for Humanity Indonesia, Dwijo Andrijanto, melakukan asesmen mendalam terhadap rumah rusak ringan hingga sedang pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Rumah rusak ringan umumnya hanya mengalami kerusakan pada elemen non-struktural, seperti plafon atau penutup atap, sehingga masih aman untuk dihuni. Sementara itu, rusak sedang mencakup sebagian elemen struktur maupun non-struktur yang terdampak. Rumah ini masih dapat ditempati, tetapi perlu segera diperbaiki agar kerusakan tidak meluas. Adapun rusak berat terjadi ketika sebagian besar komponen bangunan mengalami kerusakan, sehingga berbahaya untuk ditinggali dan sering kali memerlukan pembangunan kembali secara menyeluruh.

Baca juga: Menjangkau 676 Keluarga, Habitat Indonesia Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatera Utara

Apa itu retrofitting?

Untuk rumah dengan kategori ringan hingga sedang inilah Habitat for Humanity Indonesia menerapkan metode retrofitting. Mengutip siagabencana.com, retrofitting merupakan teknik memperkuat atau memodifikasi bangunan yang sudah ada dengan menambahkan elemen baru tanpa membongkar keseluruhan struktur. Pendekatan ini memungkinkan rumah diperbaiki secara lebih efisien, hemat biaya, sekaligus meningkatkan ketahanannya.

Penerapannya dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti menambah atau mempertebal dinding, memasang kawat ayam sebelum diplester, hingga sistem jacketing dengan tambahan tulangan besi. Strategi tersebut bertujuan meningkatkan kekuatan, kekakuan, dan kelenturan struktur agar bangunan lebih tahan terhadap tekanan atau guncangan saat bencana. Program Director Habitat for Humanity Indonesia, Arwin Soelaksono, yang berpengalaman bekerja bersama American Red Cross, menyebutkan bahwa retrofitting dapat dilakukan dengan dana relatif minim namun tetap efektif memperkuat rumah.

Salah satu penerapan metode retrofitting yang dilakukan Habitat for Humanity Indonesia untuk memperkuat bangunan rumah di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dilansir dari Tempo, metode retrofit bahkan dapat dimulai dari langkah sederhana seperti menambal retakan tembok, menginjeksikan air semen, dan mengikat komponen penahan beban agar bangunan bekerja sebagai satu kesatuan struktur. Menariknya, pendekatan ini tidak hanya digunakan setelah bencana terjadi, tetapi juga dapat diterapkan sebagai langkah mitigasi bagi rumah-rumah di wilayah rawan risiko bencana.

Melalui pendekatan retrofitting, proses pemulihan tidak sekadar mengembalikan rumah ke kondisi semula, tetapi juga membangun hunian yang lebih aman dan tangguh untuk jangka panjang. Habitat for Humanity Indonesia percaya bahwa membangun kembali berarti membangun dengan lebih baik, sehingga keluarga penyintas dapat kembali menjalani hidup dengan rasa aman.

Untuk itu, Habitat Indonesia terus mengajak masyarakat luas berpartisipasi dalam upaya pemulihan pascabencana ini. Dukungan dari para dermawan akan membantu lebih banyak keluarga memperbaiki rumah mereka dan memulai kembali kehidupan dengan harapan baru.

Salurkan dukungan Anda melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Tanjung Kait
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Tangerang Resmikan Revitalisasi Tanjung Kait untuk Masyarakat Pesisir

Tangerang, 13 Februari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) secara resmi melaksanakan acara Serah Terima Program Revitalisasi Tanjung Kait yang berlangsung di Kampung Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, pada Jumat (13/2). Acara ini diresmikan langsung oleh Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia Handoko Ngadiman, Bupati Kabupaten Tangerang Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., serta perwakilan dari Kementerian PKP.

Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait merupakan inisiatif kolaboratif multipihak yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir, khususnya keluarga nelayan berpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian layak, akses kepemilihan lahan, serta pembangunan infrastruktur dasar yang mendukung kehidupan yang lebih sehat dan aman. Program ini menjangkau sekitar 110 keluarga yang sebelumnya tinggal dalam kondisi permukiman yang tidak layak, dengan keterbatasan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan fasilitas dasar lainnya.

Melalui program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan rumah layak huni yang dirancang lebih aman dan tahan terhadap risiko lingkungan pesisir, tetapi juga memperoleh kepastian hak atas tanah melalui skema pembiayaan yang difasilitasi bersama mitra, serta dukungan selama masa pembangunan. Pembangunan kawasan juga dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti jalan lingkungan, drainase, jaringan air bersih, fasilitas umum, dan ruang komunal yang mendorong kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

Sejak dimulai pada 2021 melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan warga, pemerintah daerah, Koperasi Mitra Dhuafa (Komida), Selavip, PT. Lautan Luas Tbk, BMI Monier, PT Avia Avian Tbk, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, dan PT Prudential Life Assurance, revitalisasi ini menjadi simbol transformasi kawasan pesisir yang sebelumnya tergolong kumuh menjadi lingkungan permukiman yang tertata, aman, dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka.

Baca juga: Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, menyampaikan bahwa program ini merupakan kolaborasi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

“Melihat keluarga-keluarga di Tanjung Kait kini memiliki rumah yang aman dan kepastian tempat tinggal adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Kami berharap revitalisasi ini menjadi fondasi yang kuat bagi masyarakat Tanjung Kait untuk terus berkembang menata masa depan yang lebih baik. Dengan lingkungan yang lebih sehat dan akses infrastruktur yang lebih baik, kami percaya perubahan positif ini akan menghadirkan rasa aman dan martabat bagi setiap penerima bantuan rumah layak huni. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra yang secara aktif terlibat dalam revitalisasi ini,” ujar Handoko Ngadiman.

Bupati Kabupaten Tangerang, Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir, khususnya para nelayan yang menjadi bagian penting dalam perekonomian daerah. Revitalisasi ini sejalan dengan visi pembangunan wilayah yang berkelanjutan dan inklusif, dengan menghadirkan lingkungan hunian yang sehat, aman, dan tertata.

Dengan selesainya pembangunan dan dilaksanakannya serah terima ini, masyarakat Kampung Tanjung Kait kini memiliki awal baru, lingkungan yang lebih layak huni, lebih aman, dan memberikan harapan baru bagi generasi mendatang. Revitalisasi ini juga diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi penataan kampung-kampung pesisir di berbagai daerah lainnya, sehingga semakin banyak keluarga yang dapat merasakan manfaat dari hunian yang layak, lingkungan yang sehat, dan kehidupan yang lebih sejahtera.

Foto & Penulis: HFHI/Syefira Salsabilla

(kh/av)

HFHI – Thunderbird
Aksi Relawan

Relawan Thunderbird Menggali Asa, Membangun Rumah untuk Keluarga Pak Ade

Bogor, 18 Februari 2026 – Pagi itu, langit Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tampak menghitam. Awan tebal menggantung rendah, dan tak lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi tanah di lokasi pembangunan rumah milik Bapak Ade Saputra. Tanah menjadi becek, udara terasa dingin, tetapi suasana di tempat ini justru dipenuhi rasa semangat.

Sebanyak 16 relawan dari Thunderbird sudah bersiap memulai hari mereka. Sepatu berlumpur dan pakaian yang perlahan basah oleh hujan tak mengurangi senyum di wajah mereka. Tak ada raut gelisah, yang terlihat justru antusiasme dan tawa kecil. Hari itu, mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk membantu membangun rumah layak huni bagi Pak Ade dan keluarganya.

Pak Ade adalah seorang kepala keluarga dengan tiga orang anak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh serabutan, menerima pekerjaan apa pun yang datang. Penghasilannya tak menentu, sementara rumah yang ditempati selama ini jauh dari kata aman dan nyaman. Dindingnya rapuh tanpa struktur yang kuat, dan atapnya sudah berlubang di banyak sisi. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk hingga menggenangi lantai rumah. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah itu justru sering membuat keluarga mereka khawatir.

Melihat kondisi tersebut, pembangunan rumah layak huni menjadi harapan baru bagi Pak Ade. Harapan itu kini perlahan mulai terwujud, dibangun bersama-sama oleh tangan-tangan para relawan yang bekerja tanpa pamrih.

Baca juga: Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Para relawan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian merangkai besi untuk memperkuat struktur bangunan, memastikan rumah berdiri kokoh dan aman. Kelompok lainnya menggali tanah untuk pondasi. Suara cangkul menghantam tanah, gesekan besi, dan obrolan ringan saling bersahutan, menciptakan irama kerja yang terasa akrab. Meski keringat mengucur dan tenaga terkuras, tak satu pun berhenti, karena mereka tahu setiap langkah kecil hari itu berarti besar bagi satu keluarga.

Muhammad, salah satu relawan, mengaku merasa seperti berada di rumah sendiri. “Saya dan teman-teman disambut hangat sekali. Kami senang bisa membantu keluarga Pak Ade. Semoga setelah rumah ini selesai, rumahnya membawa berkah dan kehidupan yang lebih baik untuk mereka,” ujarnya.

Bagi para relawan Thunderbird, kegiatan ini bukan sekadar aksi sukarela biasa. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sederhana dapat memberi dampak nyata. Dari kebersamaan, gotong royong, dan waktu yang mereka luangkan, tumbuh rasa empati yang semakin dalam terhadap perjuangan keluarga seperti Pak Ade.

Habitat for Humanity Indonesia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang telah memberikan tenaga dan hati dalam proses pembangunan ini. Di tengah hujan dan tanah berlumpur, mereka membuktikan bahwa harapan bisa dibangun bersama.

Perlahan, fondasi rumah mulai terbentuk, dinding demi dinding berdiri, dan impian Pak Ade tentang tempat tinggal yang aman akhirnya semakin dekat menjadi kenyataan. Kelak, rumah ini bukan hanya bangunan fisik semata, melainkan ruang untuk berteduh, berkumpul, dan memulai hari-hari yang lebih tenang bersama keluarga.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)