logotype
Donate
HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Menjangkau 676 Keluarga, Habitat Indonesia Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatera Utara

Tapanuli Tengah, 10 Februari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia terus mendampingi keluarga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Memasuki fase pasca tanggap darurat, fokus kini beralih pada pemulihan lingkungan dan perbaikan hunian, agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman dan layak.

Pada 31 Januari 2026, tim Habitat Indonesia melanjutkan distribusi community shelter kit yang menjangkau 170 kepala keluarga di Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Bantuan ini difokuskan pada penyediaan kereta sorong untuk mempercepat pembersihan puing, mengangkut sisa material bencana, sekaligus mendukung semangat gotong royong warga dalam menata kembali lingkungan dan fasilitas publik skala kecil.

Penyaluran tersebut melengkapi bantuan yang telah diberikan sebelumnya. Hingga akhir Januari 2026, total 676 keluarga di empat kecamatan di Kota Sibolga dan satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah telah menerima dukungan berupa family shelter kit maupun community shelter kit.

Menurut Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, distribusi ini menjadi langkah awal dari komitmen jangka panjang Habitat Indonesia di Sumatera Utara. Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, proses pemulihan dirancang berjalan seiring dengan upaya mitigasi risiko bencana. “Fokus kami bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi juga memperkuat ketangguhan komunitas agar lebih siap menghadapi bencana di masa depan,” ujarnya.

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Bantuan Shelter Kit dan Aneka Alat Pembersihan Puing di Sumatera Utara

Sejak 10 Desember 2025, tim Habitat Indonesia secara konsisten melakukan rapid assessment yang dilanjutkan dengan in-depth assessment untuk memetakan kebutuhan para penyintas, khususnya rumah dengan kerusakan ringan hingga sedang. Hasil kajian ini menjadi dasar pelaksanaan program perbaikan dan retrofitting bagi 500 rumah dalam dua tahun ke depan guna meningkatkan keamanan struktur hunian.

Ke depan, Habitat Indonesia juga merencanakan pembangunan kembali rumah bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan berat. Upaya ini sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan, dengan melibatkan para ibu sebagai penggerak utama dalam proses perbaikan dan pembangunan rumah, sehingga mereka memiliki peran penting dalam membangun kembali kehidupan keluarga dan komunitasnya.

Seluruh langkah ini dapat terwujud berkat dukungan para dermawan, mitra, dan berbagai pihak yang terus bergandeng tangan bersama Habitat for Humanity Indonesia. Habitat Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat yang ingin ikut ambil bagian dalam upaya pemulihan pascabencana di Sibolga dan sekitarnya. Dukungan Anda akan membantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang aman, layak, dan tangguh.

Salurkan bantuan melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Bogor, 2 Februari 2026 – Di sebuah sudut Kabupaten Bogor, Ibu Kokom (55) kerap duduk termenung di depan rumahnya saat matahari sore mulai turun. Ia adalah seorang janda, seorang ibu rumah tangga, sekaligus ibu kepala keluarga bagi lima orang anaknya. Dalam diam, ia sering memandangi rumah yang telah lama menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi keluarganya, rumah yang menyimpan banyak cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang nyaris padam.

Sejak tahun 2012, hidup Ibu Kokom berubah sepenuhnya. Kepergian sang suami meninggalkan duka yang mendalam sekaligus beban besar yang harus ia pikul sendiri. Sejak hari itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, membesarkan kelima anaknya dengan segala keterbatasan. Tahun demi tahun dilalui dengan tertatih-tatih. Ia berusaha berlapang dada, meski kenyataan sering kali terasa begitu berat.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru perlahan kehilangan fungsinya. Bangunan itu pernah roboh sebagian, lalu diperbaiki seadanya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tanpa struktur yang kokoh, hanya ditopang oleh kayu-kayu sederhana. Atap seng yang telah dimakan usia menjadi pelindung yang rapuh. Dari kejauhan, rumah itu tampak miring, seakan bisa runtuh lagi kapan saja.

Selama bertahun-tahun, Ibu Kokom dan anak-anaknya hidup tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk buang air, mereka mengandalkan aliran kali kecil di sekitar rumah. Di dekat situ terdapat sumber mata air kecil yang kerap digunakan untuk mandi dan membersihkan diri.

“Kalau sudah kepepet, saya suka menumpang ke rumah tetangga,” tutur Ibu Kokom pelan. “Tapi itu enggak sering, karena malu. Rasanya enggak enak banget numpang.”

Ibu Kokom membawa ember dan gayung, berjalan menuju aliran kali kecil untuk membersihkan diri di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Rumah Ibu Kokom letaknya cukup jauh dari tempat tinggal sanak saudara. Sejak suaminya tiada, ia hanya bisa mengandalkan tetangga di sekitar. Namun bantuan itu tak selalu mudah diterima. Ada rasa sungkan, ada rasa tidak enak hati, terlebih ketika kebaikan tidak selalu datang setiap waktu.

“Saya pernah, karena sering numpang toilet, sampai pintu toiletnya dikunci. Enggak boleh numpang lagi,” kenangnya.

Pengalaman itu meninggalkan luka kecil di hati Ibu Kokom. Bukan karena marah, melainkan karena merasa tak berdaya. Ia tahu, tidak semua orang bisa terus berbagi, dan ia pun lelah harus selalu berada di posisi meminta.

Di tengah keterbatasan itu, Ibu Kokom tetap menyimpan satu mimpi sederhana, memiliki rumah yang layak. Bukan rumah mewah, bukan pula rumah besar. Ia hanya ingin rumah yang bisa melindungi keluarganya, meringankan beban hidup, dan memberi rasa aman bagi anak-anaknya. Doa itu tak pernah putus ia panjatkan, setiap kali beribadah, setiap kali rasa lelah datang. Hingga suatu hari, doa tersebut menemukan jalannya.

Baca juga: Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra datang menemui Ibu Kokom dan menawarkan bantuan perbaikan rumah agar menjadi layak huni. Kabar itu datang seperti cahaya di tengah kelelahan panjang yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, saya sama anak-anak senang banget,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Proses pembangunan rumah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. Banyak tangan terlibat, banyak kebaikan yang mengalir. Tetangga dan warga sekitar ikut membantu secara swadaya, mengangkut material, membongkar rumah lama, hingga menggali septictank. Rumah yang dulu rapuh perlahan berubah menjadi bangunan yang kokoh dan aman.

Kini, beban yang selama ini menghimpit pundaknya terasa terangkat. Rumahnya tidak lagi menjadi sumber kecemasan. “Ibu sekarang sudah enggak pernah kepikiran macem-macem soal rumah,” katanya. “Rumahnya kuat, bagus, dan kami sekarang punya kamar mandi dan toilet sendiri. Enggak perlu ke kali lagi.”

Lebih dari sekadar bangunan fisik, rumah layak huni ini turut memulihkan martabat keluarga Ibu Kokom. Mereka kini memiliki ruang privasi yang terjaga, kebersihan yang lebih baik, dan rasa percaya diri yang perlahan tumbuh. Anak-anak tak lagi merasa rendah diri, dan Ibu Kokom tak lagi diliputi rasa malu.

Ibu Kokom membersihkan lantai kamar mandi di rumahnya yang kini telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Ibu Kokom, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Rumah ini adalah tempat berteduh dari kerasnya hidup, tempat harapan kembali disemai, dan tempat masa depan anak-anaknya mulai dirancang dengan lebih tenang.

“Rumah itu tempat kita pulang setiap hari,” ucapnya. “Dan rumah ini akan jadi tempat segalanya untuk masa depan anak-anak.”

Masih banyak keluarga seperti Ibu Kokom yang memendam harapan serupa, harapan sederhana untuk hidup lebih layak, namun terhalang oleh keterbatasan. Setiap rumah yang dibangun bukan hanya mengubah wujud sebuah bangunan, tetapi juga mengubah arah hidup sebuah keluarga.

Uluran tangan yang tepat bisa menjadi jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan. Jika kamu ingin menjadi bagian dari perubahan itu, kebaikanmu dapat disalurkan melalui: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MPM
Kisah Perubahan

Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Bogor, 21 Januari 2026 – Pagi itu, Muhamad Qosim berdiri sejenak di ambang pintu rumahnya yang kini berwarna biru cerah. Rumah kecil yang dulu terasa pengap dan penuh kekhawatiran, kini tampak lapang dan menenangkan. Sesuatu yang dulu hampir mustahil ia bayangkan, kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Qosim yang berusia 47 tahun bukanlah sosok yang asing di Kantor Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 2020, ia bekerja sebagai office boy di kantor desa tersebut. Lima tahun lebih ia mengabdi, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan kantor, dan memastikan aktivitas pelayanan berjalan lancar. Upah yang ia terima tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan, jumlah yang harus ia kelola dengan sangat irit untuk menghidupi istrinya, Ella yang berusia 41 tahun, serta tiga orang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan berusia dua tahun.

Sebelum menjadi office boy, Qosim bekerja sebagai pengendara ojek pangkalan. Pekerjaan berpindah-pindah sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun satu hal yang tak pernah berubah, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan keinginannya memberikan rasa aman bagi orang-orang yang ia cintai.

Rumah yang mereka tempati bukan rumah baru. Dua puluh tahun lalu, Qosim membeli rumah itu dari neneknya dengan luas tanah hanya 21 meter persegi. Ketika masih berdua dengan istrinya, rumah itu terasa cukup. Namun seiring bertambahnya anak, ruang yang sempit mulai terasa menekan.

“Sejak saya punya rumah ini, belum pernah dibangun atau dibesarin. Kondisinya seperti ini saja. Paling saya perbaiki sedikit demi sedikit kalau bocor atau dindingnya mulai kelupas,” tutur Qosim.

Qosim menunjukkan titik kebocoran di rumahnya saat proses pembongkaran rumah yang akan dibangun kembali menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Atap rumahnya masih menggunakan asbes, material yang ia ketahui berisiko bagi kesehatan keluarga. Namun mengganti atap dengan genteng juga bukan hal mudah karena keterbatasan biaya. “Kalau mau ganti atap genteng, saya enggak sanggup. Biayanya besar, sementara penghasilan saya cuma cukup buat makan dan sekolah anak,” katanya pelan.

Setiap kali menemukan dinding berlubang atau bagian rumah yang mulai keropos, Qosim selalu berusaha memperbaikinya. Rasa takut rumah tersebut dapat membahayakan keluarganya sewaktu-waktu menjadi penggeraknya, walau kondisi finansial sering kali tidak memadai. Akibatnya, uang yang ia miliki selalu habis untuk menambal kerusakan. Hidup mereka pun berjalan dalam kondisi pas-pasan, nyaris tanpa ruang untuk menabung. Penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Perubahan mulai datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Mitra Pinasthika Mustika hadir di Desa Sentul. Melalui proses asesmen, rumah yang ditempati Qosim dinilai membutuhkan peningkatan menjadi rumah layak huni. Kondisi kerusakan rumah, masuk dalam kelompok ekonomi terendah, dan kepadatan jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan luas rumah menjadi pertimbangan Qosim untuk dibangunkan rumah layak huni.

Proses pembangunan rumah baru menjadi momen yang penuh harap. Perlahan, rumah lama yang rapuh berganti menjadi hunian yang lebih luas dan kokoh. Kini, rumah Qosim berdiri dengan luas 28 meter persegi, berwarna biru cerah yang memancarkan suasana berbeda dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur banget punya rumah ini. Senangnya sekeluarga bukan main. Anak saya yang paling kecil saja waktu itu langsung bilang, kamarnya mau di sebelah sini,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan rumah yang lebih luas, Qosim tidak lagi harus berbagi kasur dengan seluruh anggota keluarga. Ia, istri, dan anak bungsunya kini memiliki kamar sendiri, sementara dua anak lainnya juga memiliki ruang tidur masing-masing.

Qosim dan istrinya, Ella, bermain bersama putra bungsunya di ruang tengah rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

“Saya juga merasa lebih percaya diri. Sekarang enggak malu lagi kalau nerima tamu. Dulu sering saya arahkan ke rumah orang tua karena rumah sendiri sempit dan kurang layak,” tuturnya.

Keberkahan rumah layak huni itu tidak berhenti pada perubahan fisik. Beberapa minggu setelah rumahnya selesai dibangun, Qosim mendapatkan tawaran untuk mengemban peran baru sebagai staf pelayanan di kantor desa. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Qosim, rumah layak huni bukanlah penyebab langsung dari perubahan statusnya. Namun rumah itu menjadi fondasi yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Dengan kondisi hidup yang lebih stabil, ia mampu menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam bekerja.

“Sekarang saya punya semangat baru. Saya ingin kerja lebih giat, nabung pelan-pelan. Ke depan saya ingin nambah satu kamar lagi,” katanya penuh harap.

Kisah Qosim membuktikan bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah fondasi kehidupan yang membuka ruang bagi perubahan. Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, harapan pun menemukan tempat untuk tumbuh.

Bagi Qosim, rumah layak huni itu telah mengantarkannya bukan hanya pada tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga pada kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Bantuan Shelter Kit dan Aneka Alat Pembersihan Puing di Sumatera Utara

Sibolga, 21 Januari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bergerak cepat dalam fase pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara pada akhir 2025. Melalui dukungan para donatur, Habitat Indonesia menyalurkan bantuan berupa 200 paket Shelter Kits & Rubble Removal dari total target 1000 paket untuk keluarga terdampak di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, dan sekitarnya. Aksi kemanusiaan ini terwujud berkat dukungan dana dari para donatur.

Momentum distribusi bantuan ini juga diperkuat dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Habitat for Humanity Indonesia dengan Kota Sibolga yang diwakili oleh Akhmad Syukri Nazry Penarik, S.Pd., M.H., selaku Walikota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, yang diwakili oleh Masinton Pasaribu, S.H., selaku Bupati Tapanuli Tengah. Kerja sama resmi ini dilakukan untuk mensinergikan data penerima manfaat serta memastikan bahwa proses pemulihan fisik rumah warga berjalan selaras dengan rencana tata ruang dan mitigasi bencana pemerintah daerah. Dengan dukungan legalitas ini, Habitat Indonesia mendapatkan akses lebih luas dalam mengoordinasikan bantuan teknis dan logistik di lapangan.

Distribusi bantuan dipimpin langsung oleh Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, dan Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia guna memastikan perlengkapan diterima langsung oleh keluarga yang membutuhkan untuk memulai perbaikan hunian secara mandiri.

Dukungan Aneka Alat Bantu Perbaikan Rumah dan Pembersihan Puing

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, paket yang dibagikan mencakup perlengkapan teknis untuk perbaikan rumah dan pembersihan sisa material banjir (rubble removal). Setiap keluarga menerima:

  • Material Pelindung: 2 lembar terpal ukuran 4×6 meter dan 15 lembar karung kapasitas 50 kg.
  • Perangkat Pertukangan: Palu/martil sedang, gergaji kayu, linggis, sekop, cangkul lengkap dengan gagang, serta 2 kg paku (ukuran 7 cm dan 10 cm).
  • Alat Keamanan Kerja: 3 rol tali tambang, 1 lusin sarung tangan, serta masing-masing 2 buah helm proyek, sepatu boot, dan kacamata safety untuk menjamin keselamatan warga saat bekerja.

Selain bantuan per keluarga, Habitat juga menyediakan Community Shelter Kit yang mencakup peralatan bersama seperti kereta sorong (wheelbarrow) sebanyak 5 unit per kelompok untuk mempercepat pembersihan lingkungan.

Baca juga: Ribuan Warga Sibolga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir dan Longsor: Habitat for Humanity Indonesia Ajak Publik Bergerak Pulihkan Rumah Layak Huni

Program Dua Tahun Pasca Bencana

Penyaluran shelter kit ini menandai dimulainya komitmen jangka panjang Habitat Indonesia selama satu tahun ke depan yang berfokus kepada perbaikan rumah dan retrofitting serta pembangunan hunian baru pada tahun kedua.

  1. Perbaikan rumah dan retrofitting untuk 500 rumah rusak ringan dan rusak sedang, yang merupakan perbaikan dan perkuatan struktur rumah agar lebih aman dari ancaman bencana di masa depan.
  2. Bagi warga yang rumahnya rusak berat, pembangunan kembali rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal pada tahun kedua
  3. Pemberdayaan perempuan di bidang pembangunan kembali untuk mendorong peran perempuan sebagai penggerak pembangunan kembali pasca bencana. Program ini menitikberatkan pada keterlibatan ibu-ibu dalam memimpin proses pemulihan dan pembangunan rumah bagi keluarga mereka. Secara khusus, program ini mendorong perempuan sebagai penggerak utama pembangunan.

“Distribusi shelter kit ini hanyalah langkah awal dari komitmen jangka panjang kami di Sumatera Utara. Melalui kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, kami memastikan bahwa proses pemulihan ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan selaras dengan mitigasi bencana daerah. Fokus kami adalah keberlanjutan; kami tidak hanya membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga membangun ketangguhan komunitas—terutama peran perempuan—agar mereka mampu menjaga dan mewariskan hunian yang lebih aman bagi generasi mendatang,” ujar Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia.

Habitat for Humanity Indonesia meyakini bahwa keterlibatan aktif perempuan sangat krusial dalam keberlanjutan pemulihan pascabencana. Sebagai sosok yang paling memahami kebutuhan domestik dan keamanan anggota keluarganya, perempuan memiliki ketelitian serta ketahanan emosional yang tinggi dalam mengelola perbaikan hunian. Dengan menempatkan perempuan sebagai pengambil keputusan dalam proses pembangunan, rumah yang dihasilkan tidak hanya menjadi bangunan fisik yang kokoh, tetapi juga menjadi ruang yang lebih aman, inklusif, dan tangguh bagi seluruh anggota keluarga di masa depan.

Habitat for Humanity Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat yang ingin turut mengambil bagian dalam upaya pemulihan pascabencana di Sibolga dan sekitarnya. Dukungan dari masyarakat luas akan memperkuat langkah pemulihan jangka panjang, mulai dari perbaikan rumah hingga pembangunan hunian yang lebih aman dan tangguh bagi keluarga penyintas. Uluran tangan dapat disalurkan melalui kampanye donasi di kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga, sebagai wujud solidaritas untuk membantu keluarga bangkit dan membangun kembali harapan mereka.

Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Astridinar Vania

(as/kh)

HFHI – MedcoEnergi
Kisah Perubahan

Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Tangerang, 13 Januari 2026 – Sore itu, Durahman (55) bersama istrinya, Rohayati (48), sedang berkumpul bersama di ruang tengah rumah barunya, menyaksikan anak-anak dan cucunya bermain dengan tawa riang, tanpa gangguan kebocoran atau udara pengap seperti yang dulu mereka rasakan.

Setiap sudut rumah baru ini menyimpan kebahagiaan yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupnya bersama keluarga di rumah tua yang rapuh penuh keterbatasan, namun hari ini, keadaan terasa berbalik. Rumah kini menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat, sebuah hadiah dari kerja keras dan doa yang tak pernah padam.

Sebelum memiliki rumah layak huni, kehidupan Durahman penuh ketidakpastian. Ia bekerja sebagai buruh serabutan, siap mengerjakan apa saja yang diminta, mulai dari kuli cangkul hingga tukang bangunan. Penghasilannya pun tak menentu, hanya lima puluh ribu rupiah per hari bila ada panggilan kerja. Dua tahun sebelumnya, saat tubuhnya masih kuat, Durahman menempuh jalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan dan menjual barang rongsokan. Namun usia dan kondisi tubuh membuatnya tak lagi sanggup menempuh pekerjaan berat itu.

Di sisi lain, Rohayati, setia mengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak perempuan, dengan dua anak sulung yang telah menikah dan tinggal bersebelahan. Anak ketiga berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, sementara anak bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Keterbatasan ini sering membuat Durahman dan istrinya merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.

Rumah lama yang mereka tempati juga memperparah kesulitan itu. Sebagian dindingnya dari bata, sebagian lagi dari bilik bambu tanpa tiang struktur kokoh. Atap yang menua menjadi sarang kebocoran di musim hujan.

“Itu rumah sering banget kebocoran, Pak. Saya kasihan sama anak saya, suka terganggu belajarnya di rumah. Saya coba benerin seadanya, saya tambal-tambal tetap bocor,” kenang Durahman.

Kondisi rumah milik Durahman sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia dan MedcoEnergi di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Meski lantainya dari keramik, keramik itu sendiri adalah hasil jerih payahnya memungut barang rongsok. “Makanya lantai saya itu belang-belang, beda-beda,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Soal sanitasi turut menjadi tantangan besar. Keluarga hanya memiliki bilik mandi sederhana, sedangkan kebutuhan buang air besar harus menumpang ke rumah orang tua atau pergi ke empang. Meski begitu, Durahman tetap bersyukur keluarga bisa berkumpul di rumah, meski penuh keterbatasan.

“Sebenernya saya ingin sekali bisa memberikan tempat tinggal layak untuk keluarga saya. Tapi untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Anak yang paling kecil pernah bilang kepengen punya rumah dua lantai. Tapi saya cuma bilang, ‘Berdoa aja ya Nak,’” ujarnya.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Harapan itu akhirnya menjumpai jalan melalui program Rumah Layak Huni yang dijalankan oleh Habitat for Humanity Indonesia, bekerja sama dengan MedcoEnergi dan Medco Foundation. Rumah Durahman, beserta 14 keluarga lain di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibangun kembali sebagai bagian dari total 45 rumah layak huni yang dibangun di tiga wilayah yakni, Tangerang, Palembang, dan Situbondo.

“Bapak enggak pernah menyangka ternyata rumah Bapak bisa dibedah dan jadi bagus seperti ini,” ujar Durahman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Perubahan terlihat dari setiap sudut rumah, mulai dari atap baru yang rapat, dinding kokoh berwarna krem, lantai keramik seragam, serta fasilitas sanitasi yang layak.

Pertama kali tidur di rumah baru, Durahman mengaku sulit memejamkan mata. Bayangan rumah lama yang bocor dan rapuh masih terngiang di kepala. Namun pagi berikutnya, tawa anak-anak yang belajar dan bermain di ruang tengah membuatnya tersadar, mereka kini benar-benar memiliki tempat yang aman dan nyaman. Binatang pengganggu seperti tikus tak lagi mengusik, udara bersih memenuhi setiap ruang, dan toilet sendiri memberikan rasa martabat dan kebersihan yang tak ternilai.

Dengan rumah baru yang kini aman dan nyaman, Durahman mulai memikirkan langkah berikutnya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan mewujudkan impian anak-anaknya. “Perlahan-lahan, sambil saya cari tambahan modal, saya ingin kembali berjualan rongsokan ke kota. Tapi saat ini saya mau fokus dulu agar anak ketiga saya bisa bersekolah lagi, dia ingin ikut pesantren seperti kakaknya,” ujar Durahman.

Ia juga menegaskan, rumah ini bukan hanya untuknya, melainkan untuk anak bungsu yang masih kecil, sebagai warisan kenyamanan, keamanan, dan kesempatan.

Potret keluarga Durahman di depan rumah miliknya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Hidup keluarga Durahman kini penuh kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai. Ia bisa duduk bersama anak-anak dan cucunya di ruang tengah, menyaksikan mereka belajar, bermain, dan tertawa, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Setiap bata yang tersusun, setiap genteng yang menahan hujan, bukan hanya bangunan fisik, melainkan saksi bisu dari doa, harapan, dan cinta yang melekat pada dinding rumah. Rumah Durahman kini adalah fondasi masa depan, tempat di mana generasi berikutnya dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan penuh percaya diri.

Seperti cahaya mentari yang menembus jendela rumah baru, rumah ini menyalakan harapan baru bagi keluarga Durahman. Dan dengan setiap dukungan yang diberikan, lebih banyak keluarga seperti Durahman dapat merasakan hangatnya doa yang terwujud, ketekunan yang berbuah nyata, dan kehidupan yang lebih layak.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Kamila
Kisah Perubahan

Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Tangerang, 8 Januari 2026 – Di sebuah sudut desa yang tenang di Kabupaten Tangerang, Kamila duduk menggendong bayi bungsunya di teras rumah barunya yang kini berdiri kokoh. Sesekali ia memandangi dinding yang bersih, atap yang rapat, dan lantai yang tak lagi becek. Satu anaknya yang lain berlarian kecil di ruang tengah sambil tertawa, suara yang dulu sering tenggelam oleh derasnya hujan yang menembus atap rumah lama mereka.

Tiga minggu sudah Kamila tinggal di rumah layak huni ini, namun rasa syukurnya seolah tak pernah surut. Setiap pagi, saat membuka mata, ia masih sering tertegun. “Ya Allah… beneran rumah saya sudah seperti ini,” ujarnya lirih, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa mimpi yang dulu terasa begitu jauh kini telah menjadi kenyataan.

Sebelum Rumah Baru Itu Ada

Beberapa bulan ke belakang, kehidupan Kamila jauh dari rasa aman seperti yang ia rasakan hari ini. Ia dan keluarga kecilnya hidup dalam rumah yang hampir roboh dengan bilik bambu yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan.

“Kalau hujan, kami pasti angkat kasur. Nadahin bocor pakai panci,” kenangnya. Dalam sekali hujan deras, air tak hanya turun dari atas, tapi juga merembes dari bawah. Lantai tanah berubah menjadi lumpur, basah di mana-mana. Tidak jarang, malam-malam keluarga kecil itu terjaga, bukan karena bayi menangis, melainkan karena takut atap runtuh.

Pada masa kehamilannya, ketakutan itu semakin besar. “Waktu itu saya masih mengandung anak yang kecil ini… saya sering merasa sedih, Pak. Kepikiran gimana kalau nanti melahirkan tapi masih tinggal di rumah seperti itu. Takut roboh… takut kenapa-kenapa sama anak saya.”

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tak bisa berbuat banyak. Suaminya, Samsul—lelaki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh serabutan—menghabiskan hari-harinya di sawah atau di proyek bangunan dengan upah Rp50.000 per hari. Itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Dengan satu anak sekolah TK dan satu bayi, kebutuhan sehari-hari sering kali tak terpenuhi. “Kadang mau beli beras aja harus hutang ke warung tetangga,” kata Kamila. Untuk biaya sekolah anaknya, yang hampir satu juta rupiah, Samsul pun sering terpaksa menyicil atau meminjam sana-sini. “Berat rasanya, Pak…” ucap Kamila.

Saking terdesaknya keadaan, Kamila pernah berencana bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Ia mengurus dokumen, mengisi formulir, bahkan kehilangan ijazahnya di tengah proses administrasi yang panjang. Namun pada akhirnya, ia membatalkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Samsul.

“Suami saya bilang, ‘Sabar ya, Mah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mamah di sini aja, enggak usah berangkat. Kita jaga keluarga dan anak-anak kita.’”

Saat Kamila menirukan ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena cinta, tapi karena ia tahu keputusannya bertahan hanyalah karena keluarga, meski itu berarti terus tinggal di rumah yang nyaris tidak bisa disebut rumah.

“Apa daya, Pak… kemampuan kami cuma seperti ini. Setiap dapat uang lebih, langsung habis buat bayar hutang,” ungkapnya.

Potret keluarga Kamila di depan rumahnya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Harapan Datang Mengetuk Pintu

Harapan itu datang pada hari yang tidak pernah ia duga. “Saya masih ingat… waktu tim Habitat datang pertama kali buat survei. Rasanya lega sekali. Waktu itu aja saya sudah punya sedikit harapan. Tapi begitu benar-benar terpilih dapat bantuan… Masya Allah, bersyukur sekali.”

Habitat for Humanity Indonesia bersama donatur membangun kembali rumah Kamila dari nol, memberinya struktur yang kuat, dinding yang kokoh, atap yang tidak lagi bocor, dan ruang-ruang yang membuat keluarganya bisa bernapas lega. Sebelum ditempati, Kamila bahkan ikut swadaya semampunya untuk membangun dapur dan merapikan beberapa bagian rumah, usaha kecil yang dilakukan dari hati yang besar.

Saat ia melihat rumah itu selesai dibangun, Kamila hanya mampu menunduk dan menangis. “Ya Allah… apa ini jawaban dari larangan suami saya pergi ke luar negeri? Mungkin kalau saya tetap berangkat, saya enggak bakal dapat semua ini.”

Tiga minggu tinggal di rumah baru membuat hidup keluarga ini berubah drastis. “Tidak ada lagi bocor, tidak ada lagi cerita angkat kasur,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Rasanya aman, nyaman… tidur pun lebih nyenyak.”

Namun perubahan terbesar bukan pada rumahnya, melainkan pada pikirannya. Kamila kini bisa fokus mengurus anak-anaknya tanpa dihantui rasa takut rumah roboh atau biaya perbaikan. Ia bisa memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan sekadar bertahan hidup hari demi hari. Dan dengan tidak adanya lagi pengeluaran mendesak untuk memperbaiki rumah, keluarga kecil ini bisa mulai perlahan melunasi hutang-hutangnya.

“Rumah ini… anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.

Kamila tahu betul bahwa keberuntungannya tidak dialami semua orang. “Jutaan keluarga di luar sana juga bermimpi punya rumah seperti ini, Pak. Tapi kemampuan mereka… ya mungkin sama seperti kami dulu. Serba terbatas.”

Cerita Kamila menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan pondasi bagi keluarga untuk hidup layak, membesarkan anak dengan aman, dan bermimpi lebih tinggi. Dan bagi keluarga seperti Kamila, tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.

Bantu wujudkan lebih banyak rumah layak bagi keluarga di Indonesia: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Sibolga
Kabar Habitat

Ribuan Warga Sibolga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir dan Longsor; Habitat for Humanity Indonesia Ajak Publik Bergerak Pulihkan Rumah Layak Huni

Sibolga, 5 Januari 2026 – Bencana banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang melanda bagian utara Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 telah meninggalkan duka mendalam. Jutaan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka hancur diterjang material longsor dan luapan sungai. Menanggapi krisis ini, Habitat for Humanity Indonesia menyerukan aksi solidaritas nasional untuk membantu proses pemulihan hunian bagi keluarga terdampak, khususya di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Berdasarkan laporan Rapid Assessment yang dilakukan Tim Rapid Assessment Habitat Indonesia pada periode 11–21 Desember 2025, tercatat 633 unit rumah rusak, dengan 311 di antaranya mengalami kerusakan berat yang membuat warga kehilangan tempat bernaung yang aman. Kondisi penyintas banjir dan longsor di Sibolga kini memasuki fase kritis. Laporan terbaru Joint Needs Assessment (JNA) 2025 mengungkapkan bahwa lebih dari 57% total rumah warga yang terdampak sudah tidak aman lagi untuk ditinggali. Habitat for Humanity Indonesia kini menyerukan tindakan segera dari seluruh lapisan masyarakat untuk membantu ribuan jiwa yang kehilangan tempat tinggal dan akses kesehatan dasar.

Krisis Kemanusiaan di Tengah Reruntuhan

Saat ini, diperkirakan 7.276 jiwa mengungsi. Wilayah Sibolga Selatan dan Sibolga Utara menjadi titik paling kritis, di mana ratusan rumah di lereng perbukitan dan bantaran sungai mengalami kerusakan struktural serius.

“Rumah bukan sekadar bangunan, ia adalah benteng perlindungan terakhir bagi sebuah keluarga. Di Sibolga, benteng itu runtuh bagi ratusan keluarga,” ujar Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia. “Kami hadir di lapangan tidak hanya untuk mendata kerusakan, tetapi untuk memastikan bahwa mereka bisa kembali ke rumah yang lebih aman, lebih layak, dan lebih tangguh terhadap bencana di masa depan.”

Langkah Nyata Habitat Indonesia di Lapangan

Habitat Indonesia telah menyusun rencana respon kemanusiaan tahun pertama yang berfokus pada:

  • Distribusi Recovery Shelter Kit (aneka alat menukang untuk perbaikan rumah): Menargetkan bantuan kepada 1.000 keluarga.
  • Perbaikan Hunian: Melakukan repair dan retrofitting (penguatan struktur) untuk 500 rumah.
  • Pemulihan Water, Sanitation, and Hygiene (WASH): Menyediakan akses air bersih, layanan sanitasi, serta pelatihan praktik membangun kembali dengan lebih aman (build back safer).
  • Dukungan di bidang Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI): Memastikan kelompok rentan (perempuan kepala rumah tangga, lansia, dan disabilitas) mendapatkan akses pasar dan bantuan tunai secara aman dan inklusif.

Panggilan Kemanusiaan: Mari Membangun Kembali

Pemulihan pascabencana membutuhkan sumber daya yang besar. Habitat for Humanity Indonesia mengajak sektor swasta, komunitas, dan individu untuk berkontribusi dalam misi kemanusiaan ini. Setiap dukungan yang diberikan akan disalurkan langsung untuk pengadaan material bangunan, alat pertukangan, dan pendampingan teknis pembangunan hunian yang aman.

Habitat for Humanity Indonesia mengajak Anda untuk mewujudkan harapan warga Sibolga melalui laman kitabisa.com/bangunharapansibolga atau melalui rekening donasi resmi Habitat for Humanity Indonesia: Bank BCA: 210-3002-958 (Habitat Kemanusiaan Ind Yay)

Mohon tambahkan angka ’26’ di akhir nominal donasi Anda (contoh: IDR 100.026) untuk membantu kami mengidentifikasi kontribusi Anda.

“Kami mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi. Dengan donasi Anda, kita tidak hanya memberikan atap, tetapi memberikan harapan baru bagi warga Sibolga untuk membangun dan menata kembali masa depan mereka,” tambah Arwin.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – 2025
Kabar Habitat

Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Jakarta, 31 Desember 2025 — Menjelang akhir perjalanan panjang di tahun 2025, Habitat for Humanity Indonesia ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para donatur, mitra, lembaga, sukarelawan, dan setiap individu yang telah berjalan berdampingan bersama kami sepanjang tahun ini.

Terima kasih atas waktu yang telah Anda bagikan. Atas energi yang telah Anda curahkan. Atas sumber daya yang ditawarkan dengan hati yang tulus. Di atas segalanya, terima kasih karena telah mempercayai visi sederhana namun kuat, bahwa setiap keluarga berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Setiap langkah yang diambil tahun ini lebih dari sekadar aktivitas. Setiap rumah yang kini berdiri tegak lebih dari sekadar bangunan. Setiap cerita yang kami dengar lebih dari sekadar laporan. Masing-masing adalah jejak kebaikan — sebuah warisan yang menetap dalam kehidupan keluarga-keluarga yang kini memiliki ruang aman untuk tumbuh, pulih, dan merencanakan masa depan yang lebih baik.

Saat kami menoleh ke belakang dan menelusuri kembali jalan kami sepanjang tahun 2025, kami menyadari bahwa dampak kolektif dari tindakan kita telah menjangkau jauh melampaui apa yang terlihat oleh mata.

Sejak tahun 1997 Habitat for Humanity hadir di Indonesia, kerja kolaboratif ini telah membantu 219.704 keluarga mencapai stabilitas, kemandirian, dan kesejahteraan. Sebanyak 39.870 rumah layak huni telah dibangun, menghadirkan keamanan yang telah lama dinantikan bagi ribuan keluarga.

Selain hunian, kami juga memperluas akses sanitasi dan air bersih. Sebanyak 31.842 fasilitas sanitasi yang memadai dan berbagai sumber air bersih kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak keluarga. Sementara itu, 787 fasilitas umum telah dibangun untuk memperkuat komunitas lokal.

Di balik angka-angka ini, terdapat tangan-tangan tak terhitung jumlahnya yang bekerja tanpa lelah di Indonesia selama lebih dari 28 tahun. Ada 54.747 sukarelawan Habitat yang tidak hanya mengangkat batu bata dan membangun dinding, tetapi juga menanam harapan. Terdapat pula inisiatif pengembangan pasar perumahan yang menjangkau 73.987 individu, membuka ekosistem yang lebih inklusif bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Berkat kedermawanan dan kasih sayang dari #SahabatHabitat, sebanyak 988.668 individu di seluruh Indonesia kini merasakan manfaat nyata dari program-program ini — mulai dari Batam, Tangerang, Bogor, Karawang, Garut, Cilegon, Palembang, Yogyakarta, Gresik, Kupang, hingga Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.

Ringkasan data capaian Habitat for Humanity Indonesia selama 28 tahun, mulai dari program rumah layak huni hingga program peningkatan kualitas hidup masyarakat. Infografis: HFHI/Tias Ester Widhari

Di antara ratusan ribu kisah yang ada, salah satunya mencerminkan perjalanan banyak keluarga. Amalia, penerima manfaat rumah layak huni di Mauk, Kabupaten Tangerang, telah menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam kondisi yang tidak aman, terus-menerus khawatir akan kebocoran saat hujan deras. Setiap malam, ia hanya bisa berharap anak-anaknya tetap sehat dan tidak merasa takut.

Hari ini, ekspresinya berubah saat ia menceritakan kehidupan barunya. “Di sini, saya akhirnya merasa seperti seorang ibu yang benar-benar memiliki tempat untuk melindungi anak-anak. Anak saya bisa belajar tanpa rasa khawatir, dan saya bisa memikirkan masa depan mereka dengan tenang. Rasanya seperti diberikan kesempatan kedua untuk menata kembali hidup kami,” tuturnya.

Kisah Amalia mengingatkan kita bahwa sebuah rumah bukan sekadar dinding dan atap. Rumah adalah sebuah awal — tempat di mana nilai-nilai, kasih sayang, pendidikan, dan harapan dipupuk.

Kontribusi Anda telah membantu mengurangi jumlah keluarga yang masih tinggal di hunian yang tidak layak. Namun, jika kita hanya fokus pada statistik, kita berisiko kehilangan makna mendalam dari perjalanan ini. Dampak yang sesungguhnya terletak pada hari-hari panjang di lapangan, keputusan-keputusan sulit, ketekunan dalam menghadapi rintangan, dan emosi yang dibagikan kepada keluarga-keluarga yang terus bertahan. Inilah yang mengubah perubahan menjadi kenyataan.

Menyambut 2026: Lanjutkan Harapan, Perkuat Kepedulian

Memasuki tahun 2026, Habitat for Humanity Indonesia dengan rendah hati memohon doa dan dukungan Anda. Tahun depan, kami akan memulai program pemulihan pascabencana selama dua tahun di Sibolga, Sumatera Utara.

Pada pertengahan Januari 2026, tim Habitat akan mendistribusikan shelter kits kepada 1.000 keluarga penyintas sebagai langkah awal untuk membangun kembali kehidupan mereka. Bagi siapa pun yang ingin menjadi bagian dari perjalanan pemulihan ini, Anda dapat berkontribusi melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Menyambut tahun baru, kami melangkah dengan keyakinan yang diperbarui—keyakinan bahwa setiap langkah kecil sangat berarti, dan ketika kita bergerak bersama, perubahan dapat terjadi berulang kali, berlipat ganda dengan cara yang mungkin tidak kita duga sebelumnya.

Habitat for Humanity Indonesia bangga dapat terus membangun masa depan bersama keluarga-keluarga di seluruh negeri—tidak hanya hari ini, tetapi juga di tahun-tahun mendatang.

Dengan rasa syukur yang mendalam, kami mengucapkan:

Terima kasih atas kepercayaan Anda,

terima kasih atas kerja keras Anda,

dan terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga besar Habitat for Humanity Indonesia.

Kami menantikan tahun-tahun ke depan yang penuh dengan kolaborasi, pertumbuhan, dan kisah-kisah luar biasa bersama Anda.

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Climate
Kabar Habitat

Dorong Strategi “Climate Resilient Housing 2030”, Habitat for Humanity Indonesia Gandeng Kolaborasi Lintas Sektor

Jakarta, 23 Desember 2025 – Perumahan yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan nasional bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan menyatakan bahwa hampir 80% bencana di Indonesia terkait hidroklimatologi (banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang/badai). Dampak ini sangat memukul masyarakat terutama wanita di permukiman informal dengan dampak kesehatan dan biaya hidup akibat kekeringan, kenaikan suhu dan naiknya permukaan laut.

Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Boby Wahyu Hernawan, menyampaikan dalam media briefing Kemenkeu (29 Mei 2024) tanpa langkah adaptasi serius, perubahan iklim diproyeksikan merugikan Indonesia hingga 2,87% dari PDB setiap tahunnya pada 2045.

Dalam sambutannya, Handoko Ngadiman (Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia) menyatakan, “Bagi keluarga besar Habitat for Humanity, perumahan tangguh iklim bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah per tahun adalah peluang strategis untuk memasukkan prinsip ketangguhan dan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan. Selain itu, kami menyadari pentingnya skema pembiayaan yang inklusif dan fleksibel—seperti pembiayaan mikro dan peningkatan rumah secara bertahap—agar keluarga berpenghasilan rendah, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan kelompok rentan tidak tertinggal. Pembiayaan yang inklusif ini juga diperlukan untuk membiayai perbaikan rumah menjadi adaptif terhadap iklim.”

Kolaborasi Strategis dan Kebijakan

Lokakarya yang dimoderatori oleh Dr. Saut Sagala (Global Resilience Specialist dari RDI dan Associate Professor dari ITB) menghadirkan para pakar dari berbagai institusi untuk menyelaraskan kebijakan adaptasi. Berdasarkan hasil curah gagasan, lokakarya ini merumuskan beberapa Temuan Kunci:

  • Ketahanan iklim di bidang perumahan telah dimandatkan dalam RPJPN-RPJMN dan terhubung dengan sektor air, sanitasi, serta tata ruang hingga level rumah tangga.
  • Implementasi di tingkat tapak masih belum konsisten meskipun perumahan merupakan bagian penting agenda adaptasi nasional.
  • Desain “passive cooling” berbasis kondisi lokal (seperti hasil kajian di Desa Wunung, Kabupaten Gunung Kidul) efektif meningkatkan kualitas udara dan kesejukan rumah.

“Program pembangunan rumah nasional merupakan peluang unik untuk memasukkan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan pemerintah. Kita perlu memastikan adanya enabler berupa kerangka kerja dan regulasi yang mendukung keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, agar target hunian layak dan tangguh tahun 2030 dapat tercapai,” Ira Lubis, ST., MIDP, Koordinator Bidang Perumahan, Kementerian PPN/Bappenas, menekankan pentingnya integrasi kebijakan

Khairunnisa Destyany Qatrunnada, S.Si., Staf Ahli Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, mewakili Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, menambahkan terkait aspek mitigasi dan adaptasi, “Mengadaptasi bangunan untuk menghadapi perubahan iklim dan mengurangi emisi adalah dua hal yang saling memperkuat. Kami mendukung langkah-langkah teknis seperti penggunaan material rendah karbon dan sistem drainase yang lebih baik untuk menjaga kohesi komunitas di lokasi asli mereka.” Selain itu, Prof. Ir. Suparwoko, MURP., Ph.D. (Universitas Islam Indonesia), juga menyoroti pentingnya panduan teknis perumahan adaptif yang kontekstual bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Ekosistem Pembiayaan dan Ekonomi Sirkular

Lokakarya ini juga membahas inovasi finansial bersama Tadianto Slamet Saputro dari Komida, yang menekankan pentingnya indikator ketangguhan yang dirancang secara bertahap agar peningkatan rumah tetap terjangkau bagi komunitas MBR. Di sisi lain, Novita Tan (Co-founder dan CEO Rebricks) memaparkan potensi ekonomi sirkular dalam sektor konstruksi untuk mengurangi risiko iklim sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Rekomendasi Utama Lokakarya

Sebagai hasil dari diskusi intensif, Habitat for Humanity Indonesia merangkum rekomendasi berikut:

  • Pendekatan Berbasis Bukti: Mengutamakan evidence-based design dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pada program perumahan MBR.
  • Inklusi Komunitas: Memprioritaskan intervensi dengan pemanfaatan material lokal dan penguatan kapasitas tukang setempat melalui pelatihan.
  • Pilot Project: Melaksanakan studi percontohan untuk menguji efektivitas panduan teknis di berbagai wilayah, terutama di wilayah rawan bencana.

Habitat for Humanity Indonesia berharap hasil lokakarya ini menjadi landasan kolaborasi jangka panjang melalui skema Public Private Partnership (PPP) demi mewujudkan hunian yang tangguh bagi masa depan Indonesia.

(av/as)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Awali Program Pemulihan Pasca Banjir Sumatera, Habitat for Humanity Indonesia Lakukan Kajian Cepat Pascabencana di Sibolga

Sibolga, 12 Desember 2025 – Lebih dari dua pekan pasca banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, puluhan ribu keluarga masih berada dalam kondisi sulit. Lebih dari 157.800 rumah rusak dan ratusan ribu warga masih mengungsi (BNPB, 12 Desember 2025). Di banyak titik, warga belum dapat kembali karena kondisi lingkungan yang belum aman dan rumah yang hancur diterjang material longsor.

Di Kota Sibolga, Sumatera Utara, dampak kerusakan juga sangat besar. Menurut laporan BPBD Kota Sibolga per 12 Desember 2025, sedikitnya 7.276 jiwa mengungsi, sementara 665 rumah mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat. Situasi ini membuat kebutuhan akan hunian, sanitasi, dan akses air bersih semakin mendesak, terutama di wilayah yang berada dekat tebing perbukitan dan bantaran sungai.

Asesmen di Lokasi Paling Terdampak

Sejak 10 Desember 2025, tim Habitat for Humanity Indonesia telah berada di Sibolga untuk melakukan asesmen cepat (rapid assessment) guna memetakan kebutuhan mendesak masyarakat khususnya rumah layak huni. Fokus utama pencatatan awal dilakukan di wilayah yang mengalami kerusakan terparah, yaitu Kecamatan Sibolga Utara, meliputi Kelurahan Simare Mare, Angin Nauli, dan Huta Tonga Tonga.

Di Kelurahan Simare Mare, tim menemukan puluhan rumah hancur tersapu banjir bandang dan longsoran material kayu serta batu dari bukit. Banyak keluarga harus meninggalkan rumah tanpa sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

Riang (43), salah satu penyintas yang kini mengungsi di gedung Bank Indonesia, menggambarkan detik-detik terjadinya bencana. “Seharian itu hujan deras dan mati lampu. Sekitar setengah satu malam, saya dengar suara gemuruh batu. Saat itu juga kami lari ke bawah, tak sempat selamatkan apa pun. Rumah saya hancur…,” ujarnya.

Kerusakan juga terjadi di Kelurahan Angin Nauli, di mana sejumlah rumah berdiri di atas daerah aliran sungai (DAS) dan tepi Sungai Aek Doras. Saat banjir bandang pada 25 November 2025, material lumpur, batu, dan kayu menyapu wilayah tersebut dan memicu gelombang air dari bukit menuju dataran rendah. Rumah-rumah mengalami kerusakan beragam dari ringan hingga sedang.

Pilu mendalam juga dirasakan warga Kelurahan Huta Tonga Tonga. Sebanyak 71 kepala keluarga terdampak, dan 51 rumah mengalami rusak berat setelah material pasir setinggi 1,5–2 meter masuk dan menimbun bagian dalam rumah mereka.

Ronald (55), salah satu warga yang memilih bertahan di rumahnya yang hampir tertutup pasir, bercerita kepada tim Habitat for Humanity Indonesia, “Saya tidur di atas sisa kasur yang sudah hampir menyentuh atap. Saya tetap tinggal karena ingin jaga rumah, takut barang dijarah. Tapi tiap hari pasir makin naik… rumah ini hampir tertimbun.”

Cerita para penyintas menggambarkan betapa tingginya kebutuhan akan bantuan pemulihan rumah dan pembersihan lingkungan di Sibolga.

Habitat Indonesia Siapkan Intervensi Dua Tahun untuk Pemulihan Sibolga

Berdasarkan hasil asesmen dan koordinasi di lapangan, Habitat for Humanity Indonesia merencanakan intervensi pemulihan selama dua tahun di Kota Sibolga dan wilayah sekitarnya.

Di tahun pertama, Habitat Indonesia akan berfokus pada dukungan darurat dan perbaikan dasar bagi keluarga terdampak, meliputi:

  • Distribusi shelter kit untuk 500 keluarga
  • Dukungan rubble removal equipment/assistance untuk membantu pembersihan material longsor
  • Perbaikan 500 rumah dengan penguatan struktur (retrofitting)
  • Pengembalian akses sanitasi dan air bersih (WASH)
  • Pelatihan WASH dan Build Back Safer untuk komunitas

Di tahun kedua, Habitat Indonesia akan membangun kembali 300 rumah layak huni berbasis kawasan bagi keluarga terdampak, dengan standar ketahanan lebih baik agar risiko bencana dapat diminimalkan di masa depan.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Habitat Indonesia untuk membantu para penyintas kembali memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan bermartabat.

#Bersama, Bangun Sumatera

Di tengah masa-masa sulit ini, dukungan dari berbagai pihak sangat berarti. Habitat for Humanity Indonesia mengajak masyarakat dari berbagai elemen, baik individu, korporasi, dan para mitra untuk turut serta dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan keluarga terdampak bencana di Sibolga.

Bagi Sahabat Habitat yang ingin berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini, donasi dapat disalurkan melalui BCA: 210-3002-958 (Habitat Kemanusiaan Ind Yay). Informasi lebih lengkap dapat dilihat pada flyer di bawah.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)