logotype
Donate
HFHI – EME Wash
Kisah Perubahan

Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Setiap hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, dapur kecil itu sudah hidup. Asap tipis mengepul, tangan terampil membentuk adonan bakso cilok, dan harapan kembali diracik sejak pukul tiga dini hari.

Di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Ibu Sri Lestari (45) menghabiskan hampir seluruh harinya di dapur. Bersama sang suami, Bapak Sumarno (49), mereka menggantungkan hidup dari bakso cilok dan susu kedelai yang dijual berkeliling. Dari subuh hingga larut malam, Ibu Sri menyiapkan dagangan yang kemudian dibawa suaminya menyusuri kampung demi kampung.

Namun, dapur tempat harapan itu diracik jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tua tanpa ventilasi yang memadai. Cahaya matahari sulit masuk, sehingga bahkan di siang hari lampu harus tetap menyala agar ia bisa melihat adonan yang diolahnya. Ketika hujan turun deras, air merembes masuk melalui celah-celah dinding dan atap yang bocor.

“Dulu kalau hujan deras, airnya masuk ke dalam dapur. Jadinya saya harus berhenti memasak bakso di sini. Alhasil suami saya enggak bisa berjualan,” tutur Ibu Sri.

Kondisi dapur milik Sri Lestari sebelum direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Bukan hanya dapur yang menjadi tantangan. Toilet rumah mereka berada di luar, terpisah dari bangunan utama. Untuk menggunakannya, keluarga harus berjalan kaki melewati halaman yang gelap dan licin, terutama saat hujan turun atau malam tiba. Kekhawatiran akan terpeleset selalu menghantui. Di sisi lain, rasa malu juga kerap muncul karena belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak.

“Kalau sudah hujan deras, kami takut licin dan takut jatuh. Kalau malam hari juga gelap sekali. Kami juga malu punya toilet di luar,” ungkapnya pelan.

Baca juga: Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Melalui Program Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan para donatur membangun kembali dapur dan toilet milik keluarga Ibu Sri. Dapur baru kini berdiri kokoh dengan dinding permanen berwarna hijau, dilengkapi ventilasi dan jendela yang memungkinkan cahaya serta udara mengalir bebas. Toilet pun dibangun lebih aman dan menyatu dengan rumah, memberikan rasa nyaman dan privasi bagi seluruh keluarga.

Perubahan itu terasa sejak hari pertama.

Kini, dari kejauhan, aroma sedap bakso kembali tercium setiap pagi. Asap mengepul tanpa henti dari dapur yang jauh lebih terang dan sehat. Ibu Sri tak lagi khawatir ketika hujan turun. Ia bisa terus memasak kapan pun diperlukan.

“Sekarang kalau pintunya ditutup saja masih terang, cahaya dari luar masuk. Ventilasinya juga banyak, jadi hawanya enak,” katanya sambil tersenyum.

Sri Lestari memasak adonan bakso cilok di dapurnya yang telah direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dengan dapur yang lebih aman dan nyaman, produksi hariannya meningkat dari 5 kilogram menjadi 7 kilogram per hari. Ia bahkan mulai menambah varian bakso kuah. Penghasilan keluarga pun bertambah sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari dibandingkan sebelumnya. Ketika dagangan Bapak Sumarno habis, Ibu Sri kini bisa segera menyusul untuk memasok kembali tanpa hambatan.

“Sekarang kalau barang dagangan Bapak habis, saya sudah bisa langsung samperin untuk ngasih baksonya lagi,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Ibu Sri dan suaminya, perubahan ini bukan hanya tentang bangunan fisik. Ini tentang semangat yang tumbuh kembali. Tentang keyakinan bahwa kerja keras mereka bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi dua anak yang masih bersekolah.

“Dengan dapur dan toilet baru ini, menambah semangat saya dan suami untuk berjualan demi menghidupi dua anak kami,” tuturnya haru.

Ke depan, Ibu Sri bermimpi dapat membeli kulkas atau freezer baru agar produksi bisa semakin meningkat. Ia ingin usahanya terus berkembang, selangkah demi selangkah.

Kisah Ibu Sri adalah bukti bahwa akses terhadap hunian dan sanitasi yang layak bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang membuka peluang ekonomi, menjaga kesehatan keluarga, dan memulihkan martabat.

Potret Sri Lestari saat tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan wawancara dan monitoring ke rumahnya di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dukungan para donatur telah membantu menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga seperti Ibu Sri. Setiap kontribusi yang diberikan turut mengubah dapur yang gelap menjadi ruang penuh cahaya dan harapan.

Yuk, baca kisah inspiratif lainnya dan lihat bagaimana dukungan Anda dapat menghadirkan perubahan nyata bagi lebih banyak keluarga di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Perspektif Habitat

Memahami Retrofitting: Upaya Memperkuat Rumah Penyintas Pascabencana di Sumatera

Foto udara Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, dua bulan setelah dilanda bencana banjir bandang. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Sibolga, 23 Februari 2026 – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera meninggalkan dampak kerusakan hunian dalam skala besar. Mengutip laman BNPB (10/2), sebanyak 301.102 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 58.505 rusak berat, 66.785 rusak sedang, dan 175.722 rusak ringan. Kerusakan tersebut tersebar di 53 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, menunjukkan luasnya dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat.

Besarnya angka kerusakan ini tidak hanya berarti hilangnya tempat tinggal, tetapi juga hilangnya rasa aman bagi ribuan keluarga. Proses pemulihan pun tidak cukup sebatas membersihkan puing, melainkan membutuhkan upaya membangun kembali hunian agar lebih kuat dan tahan terhadap risiko bencana di masa depan.

Menjawab kebutuhan tersebut, pada 21 Januari 2026, Habitat for Humanity Indonesia memulai komitmen jangka panjang selama dua tahun untuk mendampingi pemulihan keluarga terdampak di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun pertama, fokus diarahkan pada perbaikan dan retrofitting 500 rumah dengan kategori rusak ringan hingga sedang, sehingga rumah yang masih dapat dihuni bisa diperkuat tanpa harus dibangun ulang sepenuhnya.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan retrofitting?

Sebelum memahami metode retrofitting, penting untuk mengenali terlebih dahulu bagaimana tingkat kerusakan rumah diklasifikasikan. Berdasarkan Buku Tata Cara Identifikasi dan Verifikasi Kerusakan yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2021 melalui laman perkim.id, kerusakan rumah dibagi menjadi tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat. Penilaian dilakukan dengan melihat kondisi komponen struktural seperti pondasi, kolom, dan balok, serta komponen non-struktural seperti dinding, atap, dan lantai.

Project Management Support Habitat for Humanity Indonesia, Dwijo Andrijanto, melakukan asesmen mendalam terhadap rumah rusak ringan hingga sedang pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Rumah rusak ringan umumnya hanya mengalami kerusakan pada elemen non-struktural, seperti plafon atau penutup atap, sehingga masih aman untuk dihuni. Sementara itu, rusak sedang mencakup sebagian elemen struktur maupun non-struktur yang terdampak. Rumah ini masih dapat ditempati, tetapi perlu segera diperbaiki agar kerusakan tidak meluas. Adapun rusak berat terjadi ketika sebagian besar komponen bangunan mengalami kerusakan, sehingga berbahaya untuk ditinggali dan sering kali memerlukan pembangunan kembali secara menyeluruh.

Baca juga: Menjangkau 676 Keluarga, Habitat Indonesia Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatera Utara

Apa itu retrofitting?

Untuk rumah dengan kategori ringan hingga sedang inilah Habitat for Humanity Indonesia menerapkan metode retrofitting. Mengutip siagabencana.com, retrofitting merupakan teknik memperkuat atau memodifikasi bangunan yang sudah ada dengan menambahkan elemen baru tanpa membongkar keseluruhan struktur. Pendekatan ini memungkinkan rumah diperbaiki secara lebih efisien, hemat biaya, sekaligus meningkatkan ketahanannya.

Penerapannya dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti menambah atau mempertebal dinding, memasang kawat ayam sebelum diplester, hingga sistem jacketing dengan tambahan tulangan besi. Strategi tersebut bertujuan meningkatkan kekuatan, kekakuan, dan kelenturan struktur agar bangunan lebih tahan terhadap tekanan atau guncangan saat bencana. Program Director Habitat for Humanity Indonesia, Arwin Soelaksono, yang berpengalaman bekerja bersama American Red Cross, menyebutkan bahwa retrofitting dapat dilakukan dengan dana relatif minim namun tetap efektif memperkuat rumah.

Salah satu penerapan metode retrofitting yang dilakukan Habitat for Humanity Indonesia untuk memperkuat bangunan rumah di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dilansir dari Tempo, metode retrofit bahkan dapat dimulai dari langkah sederhana seperti menambal retakan tembok, menginjeksikan air semen, dan mengikat komponen penahan beban agar bangunan bekerja sebagai satu kesatuan struktur. Menariknya, pendekatan ini tidak hanya digunakan setelah bencana terjadi, tetapi juga dapat diterapkan sebagai langkah mitigasi bagi rumah-rumah di wilayah rawan risiko bencana.

Melalui pendekatan retrofitting, proses pemulihan tidak sekadar mengembalikan rumah ke kondisi semula, tetapi juga membangun hunian yang lebih aman dan tangguh untuk jangka panjang. Habitat for Humanity Indonesia percaya bahwa membangun kembali berarti membangun dengan lebih baik, sehingga keluarga penyintas dapat kembali menjalani hidup dengan rasa aman.

Untuk itu, Habitat Indonesia terus mengajak masyarakat luas berpartisipasi dalam upaya pemulihan pascabencana ini. Dukungan dari para dermawan akan membantu lebih banyak keluarga memperbaiki rumah mereka dan memulai kembali kehidupan dengan harapan baru.

Salurkan dukungan Anda melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Tanjung Kait
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Tangerang Resmikan Revitalisasi Tanjung Kait untuk Masyarakat Pesisir

Tangerang, 13 Februari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) secara resmi melaksanakan acara Serah Terima Program Revitalisasi Tanjung Kait yang berlangsung di Kampung Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, pada Jumat (13/2). Acara ini diresmikan langsung oleh Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia Handoko Ngadiman, Bupati Kabupaten Tangerang Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., serta perwakilan dari Kementerian PKP.

Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait merupakan inisiatif kolaboratif multipihak yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir, khususnya keluarga nelayan berpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian layak, akses kepemilihan lahan, serta pembangunan infrastruktur dasar yang mendukung kehidupan yang lebih sehat dan aman. Program ini menjangkau sekitar 110 keluarga yang sebelumnya tinggal dalam kondisi permukiman yang tidak layak, dengan keterbatasan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan fasilitas dasar lainnya.

Melalui program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan rumah layak huni yang dirancang lebih aman dan tahan terhadap risiko lingkungan pesisir, tetapi juga memperoleh kepastian hak atas tanah melalui skema pembiayaan yang difasilitasi bersama mitra, serta dukungan selama masa pembangunan. Pembangunan kawasan juga dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti jalan lingkungan, drainase, jaringan air bersih, fasilitas umum, dan ruang komunal yang mendorong kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

Sejak dimulai pada 2021 melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan warga, pemerintah daerah, Koperasi Mitra Dhuafa (Komida), Selavip, PT. Lautan Luas Tbk, BMI Monier, PT Avia Avian Tbk, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, dan PT Prudential Life Assurance, revitalisasi ini menjadi simbol transformasi kawasan pesisir yang sebelumnya tergolong kumuh menjadi lingkungan permukiman yang tertata, aman, dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka.

Baca juga: Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, menyampaikan bahwa program ini merupakan kolaborasi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

“Melihat keluarga-keluarga di Tanjung Kait kini memiliki rumah yang aman dan kepastian tempat tinggal adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Kami berharap revitalisasi ini menjadi fondasi yang kuat bagi masyarakat Tanjung Kait untuk terus berkembang menata masa depan yang lebih baik. Dengan lingkungan yang lebih sehat dan akses infrastruktur yang lebih baik, kami percaya perubahan positif ini akan menghadirkan rasa aman dan martabat bagi setiap penerima bantuan rumah layak huni. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra yang secara aktif terlibat dalam revitalisasi ini,” ujar Handoko Ngadiman.

Bupati Kabupaten Tangerang, Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir, khususnya para nelayan yang menjadi bagian penting dalam perekonomian daerah. Revitalisasi ini sejalan dengan visi pembangunan wilayah yang berkelanjutan dan inklusif, dengan menghadirkan lingkungan hunian yang sehat, aman, dan tertata.

Dengan selesainya pembangunan dan dilaksanakannya serah terima ini, masyarakat Kampung Tanjung Kait kini memiliki awal baru, lingkungan yang lebih layak huni, lebih aman, dan memberikan harapan baru bagi generasi mendatang. Revitalisasi ini juga diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi penataan kampung-kampung pesisir di berbagai daerah lainnya, sehingga semakin banyak keluarga yang dapat merasakan manfaat dari hunian yang layak, lingkungan yang sehat, dan kehidupan yang lebih sejahtera.

Foto & Penulis: HFHI/Syefira Salsabilla

(kh/av)

HFHI – Thunderbird
Aksi Relawan

Relawan Thunderbird Menggali Asa, Membangun Rumah untuk Keluarga Pak Ade

Bogor, 18 Februari 2026 – Pagi itu, langit Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tampak menghitam. Awan tebal menggantung rendah, dan tak lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi tanah di lokasi pembangunan rumah milik Bapak Ade Saputra. Tanah menjadi becek, udara terasa dingin, tetapi suasana di tempat ini justru dipenuhi rasa semangat.

Sebanyak 16 relawan dari Thunderbird sudah bersiap memulai hari mereka. Sepatu berlumpur dan pakaian yang perlahan basah oleh hujan tak mengurangi senyum di wajah mereka. Tak ada raut gelisah, yang terlihat justru antusiasme dan tawa kecil. Hari itu, mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk membantu membangun rumah layak huni bagi Pak Ade dan keluarganya.

Pak Ade adalah seorang kepala keluarga dengan tiga orang anak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh serabutan, menerima pekerjaan apa pun yang datang. Penghasilannya tak menentu, sementara rumah yang ditempati selama ini jauh dari kata aman dan nyaman. Dindingnya rapuh tanpa struktur yang kuat, dan atapnya sudah berlubang di banyak sisi. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk hingga menggenangi lantai rumah. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah itu justru sering membuat keluarga mereka khawatir.

Melihat kondisi tersebut, pembangunan rumah layak huni menjadi harapan baru bagi Pak Ade. Harapan itu kini perlahan mulai terwujud, dibangun bersama-sama oleh tangan-tangan para relawan yang bekerja tanpa pamrih.

Baca juga: Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Para relawan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian merangkai besi untuk memperkuat struktur bangunan, memastikan rumah berdiri kokoh dan aman. Kelompok lainnya menggali tanah untuk pondasi. Suara cangkul menghantam tanah, gesekan besi, dan obrolan ringan saling bersahutan, menciptakan irama kerja yang terasa akrab. Meski keringat mengucur dan tenaga terkuras, tak satu pun berhenti, karena mereka tahu setiap langkah kecil hari itu berarti besar bagi satu keluarga.

Muhammad, salah satu relawan, mengaku merasa seperti berada di rumah sendiri. “Saya dan teman-teman disambut hangat sekali. Kami senang bisa membantu keluarga Pak Ade. Semoga setelah rumah ini selesai, rumahnya membawa berkah dan kehidupan yang lebih baik untuk mereka,” ujarnya.

Bagi para relawan Thunderbird, kegiatan ini bukan sekadar aksi sukarela biasa. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sederhana dapat memberi dampak nyata. Dari kebersamaan, gotong royong, dan waktu yang mereka luangkan, tumbuh rasa empati yang semakin dalam terhadap perjuangan keluarga seperti Pak Ade.

Habitat for Humanity Indonesia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang telah memberikan tenaga dan hati dalam proses pembangunan ini. Di tengah hujan dan tanah berlumpur, mereka membuktikan bahwa harapan bisa dibangun bersama.

Perlahan, fondasi rumah mulai terbentuk, dinding demi dinding berdiri, dan impian Pak Ade tentang tempat tinggal yang aman akhirnya semakin dekat menjadi kenyataan. Kelak, rumah ini bukan hanya bangunan fisik semata, melainkan ruang untuk berteduh, berkumpul, dan memulai hari-hari yang lebih tenang bersama keluarga.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Menjangkau 676 Keluarga, Habitat Indonesia Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatera Utara

Tapanuli Tengah, 10 Februari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia terus mendampingi keluarga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Memasuki fase pasca tanggap darurat, fokus kini beralih pada pemulihan lingkungan dan perbaikan hunian, agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman dan layak.

Pada 31 Januari 2026, tim Habitat Indonesia melanjutkan distribusi community shelter kit yang menjangkau 170 kepala keluarga di Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Bantuan ini difokuskan pada penyediaan kereta sorong untuk mempercepat pembersihan puing, mengangkut sisa material bencana, sekaligus mendukung semangat gotong royong warga dalam menata kembali lingkungan dan fasilitas publik skala kecil.

Penyaluran tersebut melengkapi bantuan yang telah diberikan sebelumnya. Hingga akhir Januari 2026, total 676 keluarga di empat kecamatan di Kota Sibolga dan satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah telah menerima dukungan berupa family shelter kit maupun community shelter kit.

Menurut Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, distribusi ini menjadi langkah awal dari komitmen jangka panjang Habitat Indonesia di Sumatera Utara. Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, proses pemulihan dirancang berjalan seiring dengan upaya mitigasi risiko bencana. “Fokus kami bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi juga memperkuat ketangguhan komunitas agar lebih siap menghadapi bencana di masa depan,” ujarnya.

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Bantuan Shelter Kit dan Aneka Alat Pembersihan Puing di Sumatera Utara

Sejak 10 Desember 2025, tim Habitat Indonesia secara konsisten melakukan rapid assessment yang dilanjutkan dengan in-depth assessment untuk memetakan kebutuhan para penyintas, khususnya rumah dengan kerusakan ringan hingga sedang. Hasil kajian ini menjadi dasar pelaksanaan program perbaikan dan retrofitting bagi 500 rumah dalam dua tahun ke depan guna meningkatkan keamanan struktur hunian.

Ke depan, Habitat Indonesia juga merencanakan pembangunan kembali rumah bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan berat. Upaya ini sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan, dengan melibatkan para ibu sebagai penggerak utama dalam proses perbaikan dan pembangunan rumah, sehingga mereka memiliki peran penting dalam membangun kembali kehidupan keluarga dan komunitasnya.

Seluruh langkah ini dapat terwujud berkat dukungan para dermawan, mitra, dan berbagai pihak yang terus bergandeng tangan bersama Habitat for Humanity Indonesia. Habitat Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat yang ingin ikut ambil bagian dalam upaya pemulihan pascabencana di Sibolga dan sekitarnya. Dukungan Anda akan membantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang aman, layak, dan tangguh.

Salurkan bantuan melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Bogor, 2 Februari 2026 – Di sebuah sudut Kabupaten Bogor, Ibu Kokom (55) kerap duduk termenung di depan rumahnya saat matahari sore mulai turun. Ia adalah seorang janda, seorang ibu rumah tangga, sekaligus ibu kepala keluarga bagi lima orang anaknya. Dalam diam, ia sering memandangi rumah yang telah lama menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi keluarganya, rumah yang menyimpan banyak cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang nyaris padam.

Sejak tahun 2012, hidup Ibu Kokom berubah sepenuhnya. Kepergian sang suami meninggalkan duka yang mendalam sekaligus beban besar yang harus ia pikul sendiri. Sejak hari itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, membesarkan kelima anaknya dengan segala keterbatasan. Tahun demi tahun dilalui dengan tertatih-tatih. Ia berusaha berlapang dada, meski kenyataan sering kali terasa begitu berat.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru perlahan kehilangan fungsinya. Bangunan itu pernah roboh sebagian, lalu diperbaiki seadanya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tanpa struktur yang kokoh, hanya ditopang oleh kayu-kayu sederhana. Atap seng yang telah dimakan usia menjadi pelindung yang rapuh. Dari kejauhan, rumah itu tampak miring, seakan bisa runtuh lagi kapan saja.

Selama bertahun-tahun, Ibu Kokom dan anak-anaknya hidup tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk buang air, mereka mengandalkan aliran kali kecil di sekitar rumah. Di dekat situ terdapat sumber mata air kecil yang kerap digunakan untuk mandi dan membersihkan diri.

“Kalau sudah kepepet, saya suka menumpang ke rumah tetangga,” tutur Ibu Kokom pelan. “Tapi itu enggak sering, karena malu. Rasanya enggak enak banget numpang.”

Ibu Kokom membawa ember dan gayung, berjalan menuju aliran kali kecil untuk membersihkan diri di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Rumah Ibu Kokom letaknya cukup jauh dari tempat tinggal sanak saudara. Sejak suaminya tiada, ia hanya bisa mengandalkan tetangga di sekitar. Namun bantuan itu tak selalu mudah diterima. Ada rasa sungkan, ada rasa tidak enak hati, terlebih ketika kebaikan tidak selalu datang setiap waktu.

“Saya pernah, karena sering numpang toilet, sampai pintu toiletnya dikunci. Enggak boleh numpang lagi,” kenangnya.

Pengalaman itu meninggalkan luka kecil di hati Ibu Kokom. Bukan karena marah, melainkan karena merasa tak berdaya. Ia tahu, tidak semua orang bisa terus berbagi, dan ia pun lelah harus selalu berada di posisi meminta.

Di tengah keterbatasan itu, Ibu Kokom tetap menyimpan satu mimpi sederhana, memiliki rumah yang layak. Bukan rumah mewah, bukan pula rumah besar. Ia hanya ingin rumah yang bisa melindungi keluarganya, meringankan beban hidup, dan memberi rasa aman bagi anak-anaknya. Doa itu tak pernah putus ia panjatkan, setiap kali beribadah, setiap kali rasa lelah datang. Hingga suatu hari, doa tersebut menemukan jalannya.

Baca juga: Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra datang menemui Ibu Kokom dan menawarkan bantuan perbaikan rumah agar menjadi layak huni. Kabar itu datang seperti cahaya di tengah kelelahan panjang yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, saya sama anak-anak senang banget,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Proses pembangunan rumah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. Banyak tangan terlibat, banyak kebaikan yang mengalir. Tetangga dan warga sekitar ikut membantu secara swadaya, mengangkut material, membongkar rumah lama, hingga menggali septictank. Rumah yang dulu rapuh perlahan berubah menjadi bangunan yang kokoh dan aman.

Kini, beban yang selama ini menghimpit pundaknya terasa terangkat. Rumahnya tidak lagi menjadi sumber kecemasan. “Ibu sekarang sudah enggak pernah kepikiran macem-macem soal rumah,” katanya. “Rumahnya kuat, bagus, dan kami sekarang punya kamar mandi dan toilet sendiri. Enggak perlu ke kali lagi.”

Lebih dari sekadar bangunan fisik, rumah layak huni ini turut memulihkan martabat keluarga Ibu Kokom. Mereka kini memiliki ruang privasi yang terjaga, kebersihan yang lebih baik, dan rasa percaya diri yang perlahan tumbuh. Anak-anak tak lagi merasa rendah diri, dan Ibu Kokom tak lagi diliputi rasa malu.

Ibu Kokom membersihkan lantai kamar mandi di rumahnya yang kini telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Ibu Kokom, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Rumah ini adalah tempat berteduh dari kerasnya hidup, tempat harapan kembali disemai, dan tempat masa depan anak-anaknya mulai dirancang dengan lebih tenang.

“Rumah itu tempat kita pulang setiap hari,” ucapnya. “Dan rumah ini akan jadi tempat segalanya untuk masa depan anak-anak.”

Masih banyak keluarga seperti Ibu Kokom yang memendam harapan serupa, harapan sederhana untuk hidup lebih layak, namun terhalang oleh keterbatasan. Setiap rumah yang dibangun bukan hanya mengubah wujud sebuah bangunan, tetapi juga mengubah arah hidup sebuah keluarga.

Uluran tangan yang tepat bisa menjadi jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan. Jika kamu ingin menjadi bagian dari perubahan itu, kebaikanmu dapat disalurkan melalui: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MPM
Kisah Perubahan

Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Bogor, 21 Januari 2026 – Pagi itu, Muhamad Qosim berdiri sejenak di ambang pintu rumahnya yang kini berwarna biru cerah. Rumah kecil yang dulu terasa pengap dan penuh kekhawatiran, kini tampak lapang dan menenangkan. Sesuatu yang dulu hampir mustahil ia bayangkan, kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Qosim yang berusia 47 tahun bukanlah sosok yang asing di Kantor Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 2020, ia bekerja sebagai office boy di kantor desa tersebut. Lima tahun lebih ia mengabdi, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan kantor, dan memastikan aktivitas pelayanan berjalan lancar. Upah yang ia terima tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan, jumlah yang harus ia kelola dengan sangat irit untuk menghidupi istrinya, Ella yang berusia 41 tahun, serta tiga orang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan berusia dua tahun.

Sebelum menjadi office boy, Qosim bekerja sebagai pengendara ojek pangkalan. Pekerjaan berpindah-pindah sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun satu hal yang tak pernah berubah, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan keinginannya memberikan rasa aman bagi orang-orang yang ia cintai.

Rumah yang mereka tempati bukan rumah baru. Dua puluh tahun lalu, Qosim membeli rumah itu dari neneknya dengan luas tanah hanya 21 meter persegi. Ketika masih berdua dengan istrinya, rumah itu terasa cukup. Namun seiring bertambahnya anak, ruang yang sempit mulai terasa menekan.

“Sejak saya punya rumah ini, belum pernah dibangun atau dibesarin. Kondisinya seperti ini saja. Paling saya perbaiki sedikit demi sedikit kalau bocor atau dindingnya mulai kelupas,” tutur Qosim.

Qosim menunjukkan titik kebocoran di rumahnya saat proses pembongkaran rumah yang akan dibangun kembali menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Atap rumahnya masih menggunakan asbes, material yang ia ketahui berisiko bagi kesehatan keluarga. Namun mengganti atap dengan genteng juga bukan hal mudah karena keterbatasan biaya. “Kalau mau ganti atap genteng, saya enggak sanggup. Biayanya besar, sementara penghasilan saya cuma cukup buat makan dan sekolah anak,” katanya pelan.

Setiap kali menemukan dinding berlubang atau bagian rumah yang mulai keropos, Qosim selalu berusaha memperbaikinya. Rasa takut rumah tersebut dapat membahayakan keluarganya sewaktu-waktu menjadi penggeraknya, walau kondisi finansial sering kali tidak memadai. Akibatnya, uang yang ia miliki selalu habis untuk menambal kerusakan. Hidup mereka pun berjalan dalam kondisi pas-pasan, nyaris tanpa ruang untuk menabung. Penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Perubahan mulai datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Mitra Pinasthika Mustika hadir di Desa Sentul. Melalui proses asesmen, rumah yang ditempati Qosim dinilai membutuhkan peningkatan menjadi rumah layak huni. Kondisi kerusakan rumah, masuk dalam kelompok ekonomi terendah, dan kepadatan jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan luas rumah menjadi pertimbangan Qosim untuk dibangunkan rumah layak huni.

Proses pembangunan rumah baru menjadi momen yang penuh harap. Perlahan, rumah lama yang rapuh berganti menjadi hunian yang lebih luas dan kokoh. Kini, rumah Qosim berdiri dengan luas 28 meter persegi, berwarna biru cerah yang memancarkan suasana berbeda dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur banget punya rumah ini. Senangnya sekeluarga bukan main. Anak saya yang paling kecil saja waktu itu langsung bilang, kamarnya mau di sebelah sini,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan rumah yang lebih luas, Qosim tidak lagi harus berbagi kasur dengan seluruh anggota keluarga. Ia, istri, dan anak bungsunya kini memiliki kamar sendiri, sementara dua anak lainnya juga memiliki ruang tidur masing-masing.

Qosim dan istrinya, Ella, bermain bersama putra bungsunya di ruang tengah rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

“Saya juga merasa lebih percaya diri. Sekarang enggak malu lagi kalau nerima tamu. Dulu sering saya arahkan ke rumah orang tua karena rumah sendiri sempit dan kurang layak,” tuturnya.

Keberkahan rumah layak huni itu tidak berhenti pada perubahan fisik. Beberapa minggu setelah rumahnya selesai dibangun, Qosim mendapatkan tawaran untuk mengemban peran baru sebagai staf pelayanan di kantor desa. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Qosim, rumah layak huni bukanlah penyebab langsung dari perubahan statusnya. Namun rumah itu menjadi fondasi yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Dengan kondisi hidup yang lebih stabil, ia mampu menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam bekerja.

“Sekarang saya punya semangat baru. Saya ingin kerja lebih giat, nabung pelan-pelan. Ke depan saya ingin nambah satu kamar lagi,” katanya penuh harap.

Kisah Qosim membuktikan bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah fondasi kehidupan yang membuka ruang bagi perubahan. Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, harapan pun menemukan tempat untuk tumbuh.

Bagi Qosim, rumah layak huni itu telah mengantarkannya bukan hanya pada tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga pada kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Bantuan Shelter Kit dan Aneka Alat Pembersihan Puing di Sumatera Utara

Sibolga, 21 Januari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bergerak cepat dalam fase pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara pada akhir 2025. Melalui dukungan para donatur, Habitat Indonesia menyalurkan bantuan berupa 200 paket Shelter Kits & Rubble Removal dari total target 1000 paket untuk keluarga terdampak di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, dan sekitarnya. Aksi kemanusiaan ini terwujud berkat dukungan dana dari para donatur.

Momentum distribusi bantuan ini juga diperkuat dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Habitat for Humanity Indonesia dengan Kota Sibolga yang diwakili oleh Akhmad Syukri Nazry Penarik, S.Pd., M.H., selaku Walikota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, yang diwakili oleh Masinton Pasaribu, S.H., selaku Bupati Tapanuli Tengah. Kerja sama resmi ini dilakukan untuk mensinergikan data penerima manfaat serta memastikan bahwa proses pemulihan fisik rumah warga berjalan selaras dengan rencana tata ruang dan mitigasi bencana pemerintah daerah. Dengan dukungan legalitas ini, Habitat Indonesia mendapatkan akses lebih luas dalam mengoordinasikan bantuan teknis dan logistik di lapangan.

Distribusi bantuan dipimpin langsung oleh Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, dan Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia guna memastikan perlengkapan diterima langsung oleh keluarga yang membutuhkan untuk memulai perbaikan hunian secara mandiri.

Dukungan Aneka Alat Bantu Perbaikan Rumah dan Pembersihan Puing

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, paket yang dibagikan mencakup perlengkapan teknis untuk perbaikan rumah dan pembersihan sisa material banjir (rubble removal). Setiap keluarga menerima:

  • Material Pelindung: 2 lembar terpal ukuran 4×6 meter dan 15 lembar karung kapasitas 50 kg.
  • Perangkat Pertukangan: Palu/martil sedang, gergaji kayu, linggis, sekop, cangkul lengkap dengan gagang, serta 2 kg paku (ukuran 7 cm dan 10 cm).
  • Alat Keamanan Kerja: 3 rol tali tambang, 1 lusin sarung tangan, serta masing-masing 2 buah helm proyek, sepatu boot, dan kacamata safety untuk menjamin keselamatan warga saat bekerja.

Selain bantuan per keluarga, Habitat juga menyediakan Community Shelter Kit yang mencakup peralatan bersama seperti kereta sorong (wheelbarrow) sebanyak 5 unit per kelompok untuk mempercepat pembersihan lingkungan.

Baca juga: Ribuan Warga Sibolga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir dan Longsor: Habitat for Humanity Indonesia Ajak Publik Bergerak Pulihkan Rumah Layak Huni

Program Dua Tahun Pasca Bencana

Penyaluran shelter kit ini menandai dimulainya komitmen jangka panjang Habitat Indonesia selama satu tahun ke depan yang berfokus kepada perbaikan rumah dan retrofitting serta pembangunan hunian baru pada tahun kedua.

  1. Perbaikan rumah dan retrofitting untuk 500 rumah rusak ringan dan rusak sedang, yang merupakan perbaikan dan perkuatan struktur rumah agar lebih aman dari ancaman bencana di masa depan.
  2. Bagi warga yang rumahnya rusak berat, pembangunan kembali rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal pada tahun kedua
  3. Pemberdayaan perempuan di bidang pembangunan kembali untuk mendorong peran perempuan sebagai penggerak pembangunan kembali pasca bencana. Program ini menitikberatkan pada keterlibatan ibu-ibu dalam memimpin proses pemulihan dan pembangunan rumah bagi keluarga mereka. Secara khusus, program ini mendorong perempuan sebagai penggerak utama pembangunan.

“Distribusi shelter kit ini hanyalah langkah awal dari komitmen jangka panjang kami di Sumatera Utara. Melalui kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, kami memastikan bahwa proses pemulihan ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan selaras dengan mitigasi bencana daerah. Fokus kami adalah keberlanjutan; kami tidak hanya membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga membangun ketangguhan komunitas—terutama peran perempuan—agar mereka mampu menjaga dan mewariskan hunian yang lebih aman bagi generasi mendatang,” ujar Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia.

Habitat for Humanity Indonesia meyakini bahwa keterlibatan aktif perempuan sangat krusial dalam keberlanjutan pemulihan pascabencana. Sebagai sosok yang paling memahami kebutuhan domestik dan keamanan anggota keluarganya, perempuan memiliki ketelitian serta ketahanan emosional yang tinggi dalam mengelola perbaikan hunian. Dengan menempatkan perempuan sebagai pengambil keputusan dalam proses pembangunan, rumah yang dihasilkan tidak hanya menjadi bangunan fisik yang kokoh, tetapi juga menjadi ruang yang lebih aman, inklusif, dan tangguh bagi seluruh anggota keluarga di masa depan.

Habitat for Humanity Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat yang ingin turut mengambil bagian dalam upaya pemulihan pascabencana di Sibolga dan sekitarnya. Dukungan dari masyarakat luas akan memperkuat langkah pemulihan jangka panjang, mulai dari perbaikan rumah hingga pembangunan hunian yang lebih aman dan tangguh bagi keluarga penyintas. Uluran tangan dapat disalurkan melalui kampanye donasi di kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga, sebagai wujud solidaritas untuk membantu keluarga bangkit dan membangun kembali harapan mereka.

Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Astridinar Vania

(as/kh)

HFHI – MedcoEnergi
Kisah Perubahan

Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Tangerang, 13 Januari 2026 – Sore itu, Durahman (55) bersama istrinya, Rohayati (48), sedang berkumpul bersama di ruang tengah rumah barunya, menyaksikan anak-anak dan cucunya bermain dengan tawa riang, tanpa gangguan kebocoran atau udara pengap seperti yang dulu mereka rasakan.

Setiap sudut rumah baru ini menyimpan kebahagiaan yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupnya bersama keluarga di rumah tua yang rapuh penuh keterbatasan, namun hari ini, keadaan terasa berbalik. Rumah kini menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat, sebuah hadiah dari kerja keras dan doa yang tak pernah padam.

Sebelum memiliki rumah layak huni, kehidupan Durahman penuh ketidakpastian. Ia bekerja sebagai buruh serabutan, siap mengerjakan apa saja yang diminta, mulai dari kuli cangkul hingga tukang bangunan. Penghasilannya pun tak menentu, hanya lima puluh ribu rupiah per hari bila ada panggilan kerja. Dua tahun sebelumnya, saat tubuhnya masih kuat, Durahman menempuh jalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan dan menjual barang rongsokan. Namun usia dan kondisi tubuh membuatnya tak lagi sanggup menempuh pekerjaan berat itu.

Di sisi lain, Rohayati, setia mengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak perempuan, dengan dua anak sulung yang telah menikah dan tinggal bersebelahan. Anak ketiga berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, sementara anak bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Keterbatasan ini sering membuat Durahman dan istrinya merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.

Rumah lama yang mereka tempati juga memperparah kesulitan itu. Sebagian dindingnya dari bata, sebagian lagi dari bilik bambu tanpa tiang struktur kokoh. Atap yang menua menjadi sarang kebocoran di musim hujan.

“Itu rumah sering banget kebocoran, Pak. Saya kasihan sama anak saya, suka terganggu belajarnya di rumah. Saya coba benerin seadanya, saya tambal-tambal tetap bocor,” kenang Durahman.

Kondisi rumah milik Durahman sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia dan MedcoEnergi di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Meski lantainya dari keramik, keramik itu sendiri adalah hasil jerih payahnya memungut barang rongsok. “Makanya lantai saya itu belang-belang, beda-beda,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Soal sanitasi turut menjadi tantangan besar. Keluarga hanya memiliki bilik mandi sederhana, sedangkan kebutuhan buang air besar harus menumpang ke rumah orang tua atau pergi ke empang. Meski begitu, Durahman tetap bersyukur keluarga bisa berkumpul di rumah, meski penuh keterbatasan.

“Sebenernya saya ingin sekali bisa memberikan tempat tinggal layak untuk keluarga saya. Tapi untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Anak yang paling kecil pernah bilang kepengen punya rumah dua lantai. Tapi saya cuma bilang, ‘Berdoa aja ya Nak,’” ujarnya.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Harapan itu akhirnya menjumpai jalan melalui program Rumah Layak Huni yang dijalankan oleh Habitat for Humanity Indonesia, bekerja sama dengan MedcoEnergi dan Medco Foundation. Rumah Durahman, beserta 14 keluarga lain di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibangun kembali sebagai bagian dari total 45 rumah layak huni yang dibangun di tiga wilayah yakni, Tangerang, Palembang, dan Situbondo.

“Bapak enggak pernah menyangka ternyata rumah Bapak bisa dibedah dan jadi bagus seperti ini,” ujar Durahman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Perubahan terlihat dari setiap sudut rumah, mulai dari atap baru yang rapat, dinding kokoh berwarna krem, lantai keramik seragam, serta fasilitas sanitasi yang layak.

Pertama kali tidur di rumah baru, Durahman mengaku sulit memejamkan mata. Bayangan rumah lama yang bocor dan rapuh masih terngiang di kepala. Namun pagi berikutnya, tawa anak-anak yang belajar dan bermain di ruang tengah membuatnya tersadar, mereka kini benar-benar memiliki tempat yang aman dan nyaman. Binatang pengganggu seperti tikus tak lagi mengusik, udara bersih memenuhi setiap ruang, dan toilet sendiri memberikan rasa martabat dan kebersihan yang tak ternilai.

Dengan rumah baru yang kini aman dan nyaman, Durahman mulai memikirkan langkah berikutnya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan mewujudkan impian anak-anaknya. “Perlahan-lahan, sambil saya cari tambahan modal, saya ingin kembali berjualan rongsokan ke kota. Tapi saat ini saya mau fokus dulu agar anak ketiga saya bisa bersekolah lagi, dia ingin ikut pesantren seperti kakaknya,” ujar Durahman.

Ia juga menegaskan, rumah ini bukan hanya untuknya, melainkan untuk anak bungsu yang masih kecil, sebagai warisan kenyamanan, keamanan, dan kesempatan.

Potret keluarga Durahman di depan rumah miliknya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Hidup keluarga Durahman kini penuh kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai. Ia bisa duduk bersama anak-anak dan cucunya di ruang tengah, menyaksikan mereka belajar, bermain, dan tertawa, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Setiap bata yang tersusun, setiap genteng yang menahan hujan, bukan hanya bangunan fisik, melainkan saksi bisu dari doa, harapan, dan cinta yang melekat pada dinding rumah. Rumah Durahman kini adalah fondasi masa depan, tempat di mana generasi berikutnya dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan penuh percaya diri.

Seperti cahaya mentari yang menembus jendela rumah baru, rumah ini menyalakan harapan baru bagi keluarga Durahman. Dan dengan setiap dukungan yang diberikan, lebih banyak keluarga seperti Durahman dapat merasakan hangatnya doa yang terwujud, ketekunan yang berbuah nyata, dan kehidupan yang lebih layak.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Kamila
Kisah Perubahan

Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Tangerang, 8 Januari 2026 – Di sebuah sudut desa yang tenang di Kabupaten Tangerang, Kamila duduk menggendong bayi bungsunya di teras rumah barunya yang kini berdiri kokoh. Sesekali ia memandangi dinding yang bersih, atap yang rapat, dan lantai yang tak lagi becek. Satu anaknya yang lain berlarian kecil di ruang tengah sambil tertawa, suara yang dulu sering tenggelam oleh derasnya hujan yang menembus atap rumah lama mereka.

Tiga minggu sudah Kamila tinggal di rumah layak huni ini, namun rasa syukurnya seolah tak pernah surut. Setiap pagi, saat membuka mata, ia masih sering tertegun. “Ya Allah… beneran rumah saya sudah seperti ini,” ujarnya lirih, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa mimpi yang dulu terasa begitu jauh kini telah menjadi kenyataan.

Sebelum Rumah Baru Itu Ada

Beberapa bulan ke belakang, kehidupan Kamila jauh dari rasa aman seperti yang ia rasakan hari ini. Ia dan keluarga kecilnya hidup dalam rumah yang hampir roboh dengan bilik bambu yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan.

“Kalau hujan, kami pasti angkat kasur. Nadahin bocor pakai panci,” kenangnya. Dalam sekali hujan deras, air tak hanya turun dari atas, tapi juga merembes dari bawah. Lantai tanah berubah menjadi lumpur, basah di mana-mana. Tidak jarang, malam-malam keluarga kecil itu terjaga, bukan karena bayi menangis, melainkan karena takut atap runtuh.

Pada masa kehamilannya, ketakutan itu semakin besar. “Waktu itu saya masih mengandung anak yang kecil ini… saya sering merasa sedih, Pak. Kepikiran gimana kalau nanti melahirkan tapi masih tinggal di rumah seperti itu. Takut roboh… takut kenapa-kenapa sama anak saya.”

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tak bisa berbuat banyak. Suaminya, Samsul—lelaki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh serabutan—menghabiskan hari-harinya di sawah atau di proyek bangunan dengan upah Rp50.000 per hari. Itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Dengan satu anak sekolah TK dan satu bayi, kebutuhan sehari-hari sering kali tak terpenuhi. “Kadang mau beli beras aja harus hutang ke warung tetangga,” kata Kamila. Untuk biaya sekolah anaknya, yang hampir satu juta rupiah, Samsul pun sering terpaksa menyicil atau meminjam sana-sini. “Berat rasanya, Pak…” ucap Kamila.

Saking terdesaknya keadaan, Kamila pernah berencana bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Ia mengurus dokumen, mengisi formulir, bahkan kehilangan ijazahnya di tengah proses administrasi yang panjang. Namun pada akhirnya, ia membatalkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Samsul.

“Suami saya bilang, ‘Sabar ya, Mah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mamah di sini aja, enggak usah berangkat. Kita jaga keluarga dan anak-anak kita.’”

Saat Kamila menirukan ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena cinta, tapi karena ia tahu keputusannya bertahan hanyalah karena keluarga, meski itu berarti terus tinggal di rumah yang nyaris tidak bisa disebut rumah.

“Apa daya, Pak… kemampuan kami cuma seperti ini. Setiap dapat uang lebih, langsung habis buat bayar hutang,” ungkapnya.

Potret keluarga Kamila di depan rumahnya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Harapan Datang Mengetuk Pintu

Harapan itu datang pada hari yang tidak pernah ia duga. “Saya masih ingat… waktu tim Habitat datang pertama kali buat survei. Rasanya lega sekali. Waktu itu aja saya sudah punya sedikit harapan. Tapi begitu benar-benar terpilih dapat bantuan… Masya Allah, bersyukur sekali.”

Habitat for Humanity Indonesia bersama donatur membangun kembali rumah Kamila dari nol, memberinya struktur yang kuat, dinding yang kokoh, atap yang tidak lagi bocor, dan ruang-ruang yang membuat keluarganya bisa bernapas lega. Sebelum ditempati, Kamila bahkan ikut swadaya semampunya untuk membangun dapur dan merapikan beberapa bagian rumah, usaha kecil yang dilakukan dari hati yang besar.

Saat ia melihat rumah itu selesai dibangun, Kamila hanya mampu menunduk dan menangis. “Ya Allah… apa ini jawaban dari larangan suami saya pergi ke luar negeri? Mungkin kalau saya tetap berangkat, saya enggak bakal dapat semua ini.”

Tiga minggu tinggal di rumah baru membuat hidup keluarga ini berubah drastis. “Tidak ada lagi bocor, tidak ada lagi cerita angkat kasur,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Rasanya aman, nyaman… tidur pun lebih nyenyak.”

Namun perubahan terbesar bukan pada rumahnya, melainkan pada pikirannya. Kamila kini bisa fokus mengurus anak-anaknya tanpa dihantui rasa takut rumah roboh atau biaya perbaikan. Ia bisa memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan sekadar bertahan hidup hari demi hari. Dan dengan tidak adanya lagi pengeluaran mendesak untuk memperbaiki rumah, keluarga kecil ini bisa mulai perlahan melunasi hutang-hutangnya.

“Rumah ini… anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.

Kamila tahu betul bahwa keberuntungannya tidak dialami semua orang. “Jutaan keluarga di luar sana juga bermimpi punya rumah seperti ini, Pak. Tapi kemampuan mereka… ya mungkin sama seperti kami dulu. Serba terbatas.”

Cerita Kamila menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan pondasi bagi keluarga untuk hidup layak, membesarkan anak dengan aman, dan bermimpi lebih tinggi. Dan bagi keluarga seperti Kamila, tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.

Bantu wujudkan lebih banyak rumah layak bagi keluarga di Indonesia: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)