Tangerang, 7 April 2026 – Ada luka yang tak selalu terlihat, tetapi terasa setiap kali hujan turun. Bagi Banhawi, setiap tetes air yang jatuh dari atap rumahnya dulu bukan hanya kebocoran, tetapi juga pengingat akan hidup yang penuh keterbatasan.
Di usia 53 tahun, Banhawi menjalani hari-harinya sebagai pencari barang rongsokan di Rajeg, Kabupaten Tangerang. Penghasilannya tidak menentu, berkisar antara Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari, tergantung seberapa banyak barang yang berhasil ia kumpulkan. Dari penghasilan itu, ia harus memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menghadapi ujian berat ketika sang istri jatuh sakit akibat tumor.
Selama empat tahun, Banhawi berjuang merawat istrinya. Biaya obat sebesar Rp100.000 yang hanya cukup untuk tiga hari menjadi beban yang harus ia tanggung di tengah penghasilan yang pas-pasan. Di saat yang sama, rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak.

Dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu yang sudah rapuh, berlubang, dan dipenuhi rayap. Sebagian struktur rumah bahkan mulai miring, dengan atap penyangga yang telah patah. Ketika hujan datang, rumah itu tak lagi mampu memberikan perlindungan.
“Kalau ceritain rumah yang dulu itu saya sedih. Waktu hujan, saya tidak bisa tidur, nadahin bocor-bocor pakai bak,” ujar Banhawi.
Upaya memperbaiki atap dengan plastik pun tak mampu menahan derasnya air hujan. Malam-malam panjang dilalui dengan rasa cemas dan ketidaknyamanan. Bahkan, rasa malu kerap menghampiri ketika ada tetangga yang ingin berkunjung.
“Melihat rumah orang lain sudah pada bagus, tapi rumah saya sendiri apa adanya, di situ saya sangat sedih. Ada tetangga mau ke rumah, saya malu,” kenangnya.

Di balik semua keterbatasan itu, Banhawi menyimpan satu keinginan sederhana yakni, membahagiakan istrinya dengan menghadirkan rumah yang layak. Ia terus berusaha memperbaiki rumah seadanya, sambil tetap memenuhi kebutuhan pengobatan sang istri.
“Saya masih ingat dulu Ibu itu selalu bilang ke saya, ‘tolong rumah ini terus diperbaiki, asal jangan ada yang patah atau roboh’. Nah, di situ saya terus perbaiki rumah seadanya sembari saya terus belikan Ibu obat,” ujar Banhawi.
Namun waktu berkata lain. Sang istri akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Banhawi dengan kenangan, harapan yang belum sempat terwujud, dan rumah yang masih jauh dari kata aman.
Hingga akhirnya, titik balik itu datang. Melalui dukungan dari MedcoEnergi dan Medco Foundation, Habitat for Humanity Indonesia membangun kembali rumah Banhawi menjadi layak huni. Ia menjadi salah satu dari 14 keluarga di Rajeg yang menerima manfaat program pembangunan rumah layak huni, bagian dari total 45 rumah yang dibangun di Tangerang, Palembang, dan Bondowoso.

Baca juga: Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati
Kini, rumah Banhawi berdiri kokoh dengan dinding berwarna putih dan atap baja ringan yang kuat. Rumah itu dilengkapi dua kamar tidur, ruang keluarga, serta kamar mandi dan toilet yang layak, memberikan rasa aman sekaligus mendukung kesehatan melalui sanitasi yang lebih baik.
Perubahan itu membawa ketenangan yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Alhamdulillah sekarang saya jauh lebih tenang, senang bukan main, berbeda dengan yang dulu. Mau ninggalin rumah untuk cari barang rongsok juga sudah enggak khawatir lagi,” katanya.
Lebih dari sekadar tempat tinggal, rumah ini juga menghadirkan semangat baru dalam hidupnya. Banhawi kini bekerja lebih giat, bahkan penghasilannya meningkat hingga Rp300.000 sampai Rp400.000 per hari. Ia mulai merencanakan masa depan, sesuatu yang dulu terasa begitu jauh.
Ke depan, ia ingin merenovasi dapur dan menambahkan kanopi di halaman depan rumahnya secara mandiri, dengan menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit.

Di balik senyum dan semangat barunya, tersimpan pula satu harapan yang tak sempat terwujud bersama sang istri. “Kalau umpamanya Ibu masih ada saat ini, saya rasa pasti Ibu senangnya bukan main. Karena ini cita-citanya Ibu untuk bisa punya rumah yang bagus seperti ini,” ucapnya pelan.
Kini, rumah yang dulu penuh kekhawatiran telah berubah menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, tenang, dan harapan baru. Bagi Banhawi, rumah ini bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga bukti bahwa perubahan nyata bisa terjadi. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk hidup yang lebih baik.
Yuk, simak lebih banyak cerita perubahan lainnya dan lihat bagaimana setiap dukungan Anda dapat menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan di sini.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




