Tangerang, 13 Januari 2026 – Sore itu, Durahman (55) bersama istrinya, Rohayati (48), sedang berkumpul bersama di ruang tengah rumah barunya, menyaksikan anak-anak dan cucunya bermain dengan tawa riang, tanpa gangguan kebocoran atau udara pengap seperti yang dulu mereka rasakan.
Setiap sudut rumah baru ini menyimpan kebahagiaan yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupnya bersama keluarga di rumah tua yang rapuh penuh keterbatasan, namun hari ini, keadaan terasa berbalik. Rumah kini menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat, sebuah hadiah dari kerja keras dan doa yang tak pernah padam.
Sebelum memiliki rumah layak huni, kehidupan Durahman penuh ketidakpastian. Ia bekerja sebagai buruh serabutan, siap mengerjakan apa saja yang diminta, mulai dari kuli cangkul hingga tukang bangunan. Penghasilannya pun tak menentu, hanya lima puluh ribu rupiah per hari bila ada panggilan kerja. Dua tahun sebelumnya, saat tubuhnya masih kuat, Durahman menempuh jalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan dan menjual barang rongsokan. Namun usia dan kondisi tubuh membuatnya tak lagi sanggup menempuh pekerjaan berat itu.
Di sisi lain, Rohayati, setia mengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak perempuan, dengan dua anak sulung yang telah menikah dan tinggal bersebelahan. Anak ketiga berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, sementara anak bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Keterbatasan ini sering membuat Durahman dan istrinya merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.
Rumah lama yang mereka tempati juga memperparah kesulitan itu. Sebagian dindingnya dari bata, sebagian lagi dari bilik bambu tanpa tiang struktur kokoh. Atap yang menua menjadi sarang kebocoran di musim hujan.
“Itu rumah sering banget kebocoran, Pak. Saya kasihan sama anak saya, suka terganggu belajarnya di rumah. Saya coba benerin seadanya, saya tambal-tambal tetap bocor,” kenang Durahman.

Meski lantainya dari keramik, keramik itu sendiri adalah hasil jerih payahnya memungut barang rongsok. “Makanya lantai saya itu belang-belang, beda-beda,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Soal sanitasi turut menjadi tantangan besar. Keluarga hanya memiliki bilik mandi sederhana, sedangkan kebutuhan buang air besar harus menumpang ke rumah orang tua atau pergi ke empang. Meski begitu, Durahman tetap bersyukur keluarga bisa berkumpul di rumah, meski penuh keterbatasan.
“Sebenernya saya ingin sekali bisa memberikan tempat tinggal layak untuk keluarga saya. Tapi untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Anak yang paling kecil pernah bilang kepengen punya rumah dua lantai. Tapi saya cuma bilang, ‘Berdoa aja ya Nak,’” ujarnya.
Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya
Harapan itu akhirnya menjumpai jalan melalui program Rumah Layak Huni yang dijalankan oleh Habitat for Humanity Indonesia, bekerja sama dengan MedcoEnergi dan Medco Foundation. Rumah Durahman, beserta 14 keluarga lain di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibangun kembali sebagai bagian dari total 45 rumah layak huni yang dibangun di tiga wilayah yakni, Tangerang, Palembang, dan Situbondo.
“Bapak enggak pernah menyangka ternyata rumah Bapak bisa dibedah dan jadi bagus seperti ini,” ujar Durahman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
Perubahan terlihat dari setiap sudut rumah, mulai dari atap baru yang rapat, dinding kokoh berwarna krem, lantai keramik seragam, serta fasilitas sanitasi yang layak.
Pertama kali tidur di rumah baru, Durahman mengaku sulit memejamkan mata. Bayangan rumah lama yang bocor dan rapuh masih terngiang di kepala. Namun pagi berikutnya, tawa anak-anak yang belajar dan bermain di ruang tengah membuatnya tersadar, mereka kini benar-benar memiliki tempat yang aman dan nyaman. Binatang pengganggu seperti tikus tak lagi mengusik, udara bersih memenuhi setiap ruang, dan toilet sendiri memberikan rasa martabat dan kebersihan yang tak ternilai.
Dengan rumah baru yang kini aman dan nyaman, Durahman mulai memikirkan langkah berikutnya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan mewujudkan impian anak-anaknya. “Perlahan-lahan, sambil saya cari tambahan modal, saya ingin kembali berjualan rongsokan ke kota. Tapi saat ini saya mau fokus dulu agar anak ketiga saya bisa bersekolah lagi, dia ingin ikut pesantren seperti kakaknya,” ujar Durahman.
Ia juga menegaskan, rumah ini bukan hanya untuknya, melainkan untuk anak bungsu yang masih kecil, sebagai warisan kenyamanan, keamanan, dan kesempatan.

Hidup keluarga Durahman kini penuh kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai. Ia bisa duduk bersama anak-anak dan cucunya di ruang tengah, menyaksikan mereka belajar, bermain, dan tertawa, sesuatu yang dulu terasa mustahil.
Setiap bata yang tersusun, setiap genteng yang menahan hujan, bukan hanya bangunan fisik, melainkan saksi bisu dari doa, harapan, dan cinta yang melekat pada dinding rumah. Rumah Durahman kini adalah fondasi masa depan, tempat di mana generasi berikutnya dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan penuh percaya diri.
Seperti cahaya mentari yang menembus jendela rumah baru, rumah ini menyalakan harapan baru bagi keluarga Durahman. Dan dengan setiap dukungan yang diberikan, lebih banyak keluarga seperti Durahman dapat merasakan hangatnya doa yang terwujud, ketekunan yang berbuah nyata, dan kehidupan yang lebih layak.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




