Bogor, 21 Januari 2026 – Pagi itu, Muhamad Qosim berdiri sejenak di ambang pintu rumahnya yang kini berwarna biru cerah. Rumah kecil yang dulu terasa pengap dan penuh kekhawatiran, kini tampak lapang dan menenangkan. Sesuatu yang dulu hampir mustahil ia bayangkan, kini menjadi pemandangan sehari-hari.
Qosim yang berusia 47 tahun bukanlah sosok yang asing di Kantor Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 2020, ia bekerja sebagai office boy di kantor desa tersebut. Lima tahun lebih ia mengabdi, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan kantor, dan memastikan aktivitas pelayanan berjalan lancar. Upah yang ia terima tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan, jumlah yang harus ia kelola dengan sangat irit untuk menghidupi istrinya, Ella yang berusia 41 tahun, serta tiga orang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan berusia dua tahun.
Sebelum menjadi office boy, Qosim bekerja sebagai pengendara ojek pangkalan. Pekerjaan berpindah-pindah sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun satu hal yang tak pernah berubah, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan keinginannya memberikan rasa aman bagi orang-orang yang ia cintai.
Rumah yang mereka tempati bukan rumah baru. Dua puluh tahun lalu, Qosim membeli rumah itu dari neneknya dengan luas tanah hanya 21 meter persegi. Ketika masih berdua dengan istrinya, rumah itu terasa cukup. Namun seiring bertambahnya anak, ruang yang sempit mulai terasa menekan.
“Sejak saya punya rumah ini, belum pernah dibangun atau dibesarin. Kondisinya seperti ini saja. Paling saya perbaiki sedikit demi sedikit kalau bocor atau dindingnya mulai kelupas,” tutur Qosim.

Atap rumahnya masih menggunakan asbes, material yang ia ketahui berisiko bagi kesehatan keluarga. Namun mengganti atap dengan genteng juga bukan hal mudah karena keterbatasan biaya. “Kalau mau ganti atap genteng, saya enggak sanggup. Biayanya besar, sementara penghasilan saya cuma cukup buat makan dan sekolah anak,” katanya pelan.
Setiap kali menemukan dinding berlubang atau bagian rumah yang mulai keropos, Qosim selalu berusaha memperbaikinya. Rasa takut rumah tersebut dapat membahayakan keluarganya sewaktu-waktu menjadi penggeraknya, walau kondisi finansial sering kali tidak memadai. Akibatnya, uang yang ia miliki selalu habis untuk menambal kerusakan. Hidup mereka pun berjalan dalam kondisi pas-pasan, nyaris tanpa ruang untuk menabung. Penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak.
Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya
Perubahan mulai datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Mitra Pinasthika Mustika hadir di Desa Sentul. Melalui proses asesmen, rumah yang ditempati Qosim dinilai membutuhkan peningkatan menjadi rumah layak huni. Kondisi kerusakan rumah, masuk dalam kelompok ekonomi terendah, dan kepadatan jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan luas rumah menjadi pertimbangan Qosim untuk dibangunkan rumah layak huni.
Proses pembangunan rumah baru menjadi momen yang penuh harap. Perlahan, rumah lama yang rapuh berganti menjadi hunian yang lebih luas dan kokoh. Kini, rumah Qosim berdiri dengan luas 28 meter persegi, berwarna biru cerah yang memancarkan suasana berbeda dari sebelumnya.
“Alhamdulillah, saya bersyukur banget punya rumah ini. Senangnya sekeluarga bukan main. Anak saya yang paling kecil saja waktu itu langsung bilang, kamarnya mau di sebelah sini,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dengan rumah yang lebih luas, Qosim tidak lagi harus berbagi kasur dengan seluruh anggota keluarga. Ia, istri, dan anak bungsunya kini memiliki kamar sendiri, sementara dua anak lainnya juga memiliki ruang tidur masing-masing.

“Saya juga merasa lebih percaya diri. Sekarang enggak malu lagi kalau nerima tamu. Dulu sering saya arahkan ke rumah orang tua karena rumah sendiri sempit dan kurang layak,” tuturnya.
Keberkahan rumah layak huni itu tidak berhenti pada perubahan fisik. Beberapa minggu setelah rumahnya selesai dibangun, Qosim mendapatkan tawaran untuk mengemban peran baru sebagai staf pelayanan di kantor desa. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.
Bagi Qosim, rumah layak huni bukanlah penyebab langsung dari perubahan statusnya. Namun rumah itu menjadi fondasi yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Dengan kondisi hidup yang lebih stabil, ia mampu menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam bekerja.
“Sekarang saya punya semangat baru. Saya ingin kerja lebih giat, nabung pelan-pelan. Ke depan saya ingin nambah satu kamar lagi,” katanya penuh harap.
Kisah Qosim membuktikan bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah fondasi kehidupan yang membuka ruang bagi perubahan. Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, harapan pun menemukan tempat untuk tumbuh.
Bagi Qosim, rumah layak huni itu telah mengantarkannya bukan hanya pada tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga pada kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh harapan.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)





