Yogyakarta, 31 Maret 2026 – Air adalah sumber kehidupan dan merupakan hak dasar setiap manusia. Namun, bagi sebagian masyarakat di Indonesia, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi tantangan yang nyata.
Sebagai bagian dari komitmen global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-6 (SDG 6), akses terhadap air minum aman, sanitasi layak, dan praktik hidup bersih yang baik merupakan fondasi penting dalam menciptakan kehidupan yang sehat dan bermartabat. Tanpa itu, rumah tidak sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang
Menjawab tantangan tersebut, Habitat for Humanity Indonesia melalui proyek “Strengthening Local Community Resilience in the Water and Sanitation Sector” telah melaksanakan program peningkatan akses air, sanitasi, dan hunian layak secara terpadu selama tiga tahun.
Program ini dilaksanakan secara bertahap di tiga wilayah, yakni Babakan Madang (Bogor) pada Maret 2023–Maret 2024, Wringinanom (Gresik) pada Maret 2024–Maret 2025, dan Nglipar (Gunung Kidul, Yogyakarta) pada Maret 2025–Maret 2026. Pendekatan bertahap ini memungkinkan adaptasi terhadap konteks lokal, sekaligus memperkuat kualitas implementasi melalui pembelajaran dari setiap fase.
Dari Infrastruktur hingga Perubahan Perilaku
Melalui pendekatan terpadu, program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku dan penguatan kapasitas masyarakat.
Sebanyak 75 rumah direnovasi dengan fokus pada peningkatan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan, termasuk pembangunan toilet higienis, penyediaan tangki air, serta perbaikan dapur dan ventilasi. Selain itu, 60 keluarga kini memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi pribadi yang lebih aman dan layak.
Di tingkat komunitas, lebih dari 2.250 keluarga atau lebih dari 10.000 jiwa kini mendapatkan akses air bersih melalui berbagai solusi yang disesuaikan dengan kondisi lokal, mulai dari pemanfaatan mata air hingga sistem distribusi air berbasis komunitas yang dikelola secara mandiri. Upaya ini turut diperkuat melalui renovasi 32 posyandu guna meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak.
Lebih dari sekadar pembangunan, program ini juga menekankan pentingnya perubahan perilaku sebagai kunci keberlanjutan. Sebanyak 135 keluarga mendapatkan edukasi mengenai perawatan rumah dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam keseharian. Sementara itu, 2.250 masyarakat lainnya dibekali pengetahuan tentang praktik higiene, sanitasi, serta kesehatan keluarga, termasuk penggunaan air yang aman dan kebiasaan mencuci tangan.
Untuk memastikan keberlanjutan, sebanyak 90 anggota komite air lokal juga diperkuat kapasitasnya untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan fasilitas air di tingkat komunitas. Kesadaran publik juga diperluas melalui berbagai kegiatan kampanye yang menjangkau lebih dari 3.775 individu, termasuk melalui peringatan Hari Air Sedunia dan Hari Toilet Sedunia, serta berbagai aktivitas edukatif lainnya yang mendorong kepedulian terhadap air bersih dan sanitasi.






Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri
Pembelajaran Berbasis Data untuk Dampak Berkelanjutan
Sebagai bagian dari sistem Monitoring, Evaluation, Accountability, and Learning (MEAL), studi awal (baseline) telah dilakukan di setiap lokasi untuk memetakan kondisi awal terkait kualitas hunian, akses air dan sanitasi, perilaku WASH, serta kapasitas komunitas.
Setelah seluruh intervensi selesai, studi akhir (endline/impact study) dilakukan untuk mengukur sejauh mana proyek ini memberikan perubahan yang nyata dan terukur dalam kehidupan masyarakat.
Hasil studi ini tidak hanya menjadi laporan evaluasi, tetapi juga menjadi dasar pembelajaran yang lebih luas. Melalui kegiatan Learning Event, temuan berbasis bukti akan didiseminasikan untuk merefleksikan efektivitas pendekatan hunian terintegrasi dengan WASH, sekaligus mengeksplorasi potensi replikasi model ini dalam mendukung pencapaian SDG 6 dan peningkatan kualitas permukiman.
Mendorong Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat
Sebagai penutup rangkaian program, Habitat for Humanity Indonesia menyelenggarakan Learning Event pada Selasa, 31 Maret 2026. Kegiatan ini turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, akademisi, serta perwakilan komunitas.
Melalui forum ini, para peserta bersama-sama merefleksikan capaian program, mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan, serta merumuskan rekomendasi strategis berbasis bukti untuk penguatan layanan WASH yang berkelanjutan.
Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor dan mendorong komitmen bersama dalam menghadirkan akses air bersih, sanitasi layak, dan hunian yang sehat bagi seluruh masyarakat.
Mengalirkan Harapan, Menguatkan Kehidupan
Selama tiga tahun pelaksanaan, program ini telah memberikan dampak bagi lebih dari 200.000 jiwa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, dampak yang dihadirkan tidak hanya terletak pada infrastruktur yang dibangun, melainkan pada perubahan kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat.
Bersama pemerintah, mitra, dan komunitas, Habitat for Humanity Indonesia terus berupaya untuk memperkuat ketangguhan dan menghadirkan kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Karena setiap keluarga berhak untuk hidup dengan layak, sehat, dan bermartabat.
Foto: HFHI/Patrik Cahyo & Kevin Herbian
Penulis: Syefira Salsabilla
(av/kh)




