Tangerang, 8 Januari 2026 – Di sebuah sudut desa yang tenang di Kabupaten Tangerang, Kamila duduk menggendong bayi bungsunya di teras rumah barunya yang kini berdiri kokoh. Sesekali ia memandangi dinding yang bersih, atap yang rapat, dan lantai yang tak lagi becek. Satu anaknya yang lain berlarian kecil di ruang tengah sambil tertawa, suara yang dulu sering tenggelam oleh derasnya hujan yang menembus atap rumah lama mereka.
Tiga minggu sudah Kamila tinggal di rumah layak huni ini, namun rasa syukurnya seolah tak pernah surut. Setiap pagi, saat membuka mata, ia masih sering tertegun. “Ya Allah… beneran rumah saya sudah seperti ini,” ujarnya lirih, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa mimpi yang dulu terasa begitu jauh kini telah menjadi kenyataan.
Sebelum Rumah Baru Itu Ada
Beberapa bulan ke belakang, kehidupan Kamila jauh dari rasa aman seperti yang ia rasakan hari ini. Ia dan keluarga kecilnya hidup dalam rumah yang hampir roboh dengan bilik bambu yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan.
“Kalau hujan, kami pasti angkat kasur. Nadahin bocor pakai panci,” kenangnya. Dalam sekali hujan deras, air tak hanya turun dari atas, tapi juga merembes dari bawah. Lantai tanah berubah menjadi lumpur, basah di mana-mana. Tidak jarang, malam-malam keluarga kecil itu terjaga, bukan karena bayi menangis, melainkan karena takut atap runtuh.
Pada masa kehamilannya, ketakutan itu semakin besar. “Waktu itu saya masih mengandung anak yang kecil ini… saya sering merasa sedih, Pak. Kepikiran gimana kalau nanti melahirkan tapi masih tinggal di rumah seperti itu. Takut roboh… takut kenapa-kenapa sama anak saya.”
Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tak bisa berbuat banyak. Suaminya, Samsul—lelaki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh serabutan—menghabiskan hari-harinya di sawah atau di proyek bangunan dengan upah Rp50.000 per hari. Itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka.
Dengan satu anak sekolah TK dan satu bayi, kebutuhan sehari-hari sering kali tak terpenuhi. “Kadang mau beli beras aja harus hutang ke warung tetangga,” kata Kamila. Untuk biaya sekolah anaknya, yang hampir satu juta rupiah, Samsul pun sering terpaksa menyicil atau meminjam sana-sini. “Berat rasanya, Pak…” ucap Kamila.
Saking terdesaknya keadaan, Kamila pernah berencana bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Ia mengurus dokumen, mengisi formulir, bahkan kehilangan ijazahnya di tengah proses administrasi yang panjang. Namun pada akhirnya, ia membatalkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Samsul.
“Suami saya bilang, ‘Sabar ya, Mah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mamah di sini aja, enggak usah berangkat. Kita jaga keluarga dan anak-anak kita.’”
Saat Kamila menirukan ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena cinta, tapi karena ia tahu keputusannya bertahan hanyalah karena keluarga, meski itu berarti terus tinggal di rumah yang nyaris tidak bisa disebut rumah.
“Apa daya, Pak… kemampuan kami cuma seperti ini. Setiap dapat uang lebih, langsung habis buat bayar hutang,” ungkapnya.

Baca juga: Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama
Harapan Datang Mengetuk Pintu
Harapan itu datang pada hari yang tidak pernah ia duga. “Saya masih ingat… waktu tim Habitat datang pertama kali buat survei. Rasanya lega sekali. Waktu itu aja saya sudah punya sedikit harapan. Tapi begitu benar-benar terpilih dapat bantuan… Masya Allah, bersyukur sekali.”
Habitat for Humanity Indonesia bersama donatur membangun kembali rumah Kamila dari nol, memberinya struktur yang kuat, dinding yang kokoh, atap yang tidak lagi bocor, dan ruang-ruang yang membuat keluarganya bisa bernapas lega. Sebelum ditempati, Kamila bahkan ikut swadaya semampunya untuk membangun dapur dan merapikan beberapa bagian rumah, usaha kecil yang dilakukan dari hati yang besar.
Saat ia melihat rumah itu selesai dibangun, Kamila hanya mampu menunduk dan menangis. “Ya Allah… apa ini jawaban dari larangan suami saya pergi ke luar negeri? Mungkin kalau saya tetap berangkat, saya enggak bakal dapat semua ini.”
Tiga minggu tinggal di rumah baru membuat hidup keluarga ini berubah drastis. “Tidak ada lagi bocor, tidak ada lagi cerita angkat kasur,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Rasanya aman, nyaman… tidur pun lebih nyenyak.”
Namun perubahan terbesar bukan pada rumahnya, melainkan pada pikirannya. Kamila kini bisa fokus mengurus anak-anaknya tanpa dihantui rasa takut rumah roboh atau biaya perbaikan. Ia bisa memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan sekadar bertahan hidup hari demi hari. Dan dengan tidak adanya lagi pengeluaran mendesak untuk memperbaiki rumah, keluarga kecil ini bisa mulai perlahan melunasi hutang-hutangnya.
“Rumah ini… anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.
Kamila tahu betul bahwa keberuntungannya tidak dialami semua orang. “Jutaan keluarga di luar sana juga bermimpi punya rumah seperti ini, Pak. Tapi kemampuan mereka… ya mungkin sama seperti kami dulu. Serba terbatas.”
Cerita Kamila menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan pondasi bagi keluarga untuk hidup layak, membesarkan anak dengan aman, dan bermimpi lebih tinggi. Dan bagi keluarga seperti Kamila, tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.
Bantu wujudkan lebih banyak rumah layak bagi keluarga di Indonesia: habitatindonesia.org/donate
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)





