Gunungkidul, 16 Maret 2026 – Ada rasa haru yang tidak bisa terbendung ketika Karju mengenang perjalanan hidupnya. Di usia yang sudah menginjak 75 tahun, ia tak pernah membayangkan bahwa di masa tuanya, ia dan sang istri akhirnya bisa menikmati dapur dan toilet yang lebih layak di rumah sederhana mereka di Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Karju dan istrinya, Jumiyati yang berusia 64 tahun, adalah pasangan petani sederhana. Sehari-hari mereka mengandalkan hasil sawah untuk menyambung hidup. Padi yang mereka tanam sebagian dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dijual untuk membeli kebutuhan dapur. Jika hasil panen tidak banyak, mereka memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kebun.
“Enggak cuma padi, mas. Apapun yang ada di kebun seperti pisang, atau ada ayam, apapun kami jual. Yang penting bisa makan setiap harinya,” ujar Karju.
Namun kehidupan sederhana itu juga diiringi berbagai keterbatasan. Dapur rumah mereka hanya berdinding bambu yang sudah rapuh dan berlubang dimakan usia. Kondisi tersebut sering menyulitkan Jumiyati ketika menyiapkan makanan untuk suaminya, terlebih ketika hujan atau angin kencang datang.
Tak jarang, binatang juga masuk melalui celah-celah bambu, membuat dapur menjadi kotor dan berbau tidak sedap. Bagi pasangan lansia ini, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga kesehatan mereka.

Kesulitan lain yang sudah mereka hadapi selama puluhan tahun adalah tidak adanya fasilitas sanitasi yang layak di rumah. Setiap kali ingin menggunakan toilet, mereka harus keluar rumah dan berjalan beberapa meter.
“Saya selalu berdoa, semoga dan mudah-mudahan bisa punya rejeki memiliki dapur dan toilet yang bagus,” kata Karju.
Ia juga sering merasa khawatir setiap kali terjadi gempa atau angin kencang, sesuatu yang bukan hal asing di wilayah Gunungkidul. “Kalau misalkan ada gempa, disini kan terasa sekali ya, mas. Atau ada angin kencang, kami takut dapur atau toiletnya rubuh. Apalagi bahannya cuma dari bambu,” ujarnya.
Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri
Doa yang selama ini mereka panjatkan akhirnya menemukan jalannya. Melalui program peningkatan akses air bersih dan sanitasi layak (WASH), Habitat for Humanity Indonesia bersama para dermawan membantu membangun kembali ruang dapur dan toilet milik Karju dan Jumiyati agar lebih aman dan layak digunakan. Program ini tidak hanya menyentuh keluarga mereka, tetapi juga membantu 24 keluarga lainnya di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kini dapur dan toilet baru berdiri kokoh di rumah mereka. Perubahan itu terasa bukan hanya secara fisik, tetapi juga di dalam hati pasangan lansia ini. Perasaan cemas yang dulu sering datang perlahan digantikan dengan rasa tenang.
“Ya tenang, perasaan lega. Enggak ada lagi rasa atau pikiran khawatir. Dapur dan toilet yang baru jauh lebih bagus dan kokoh,” ujar Karju.
Dapur baru itu kini menjadi ruang yang paling sering mereka gunakan. Apalagi di saat bulan suci Ramadhan, tempat itu menjadi saksi kebahagiaan sederhana mereka. “Kami sekarang sahur dan berbuka puasa ya di dapur ini. Senang dan bahagia rasanya,” kata Karju dengan senyum.

Keberadaan toilet yang kini berada di dalam rumah juga membawa kenyamanan tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah tidak lagi muda. “Sekarang juga kami sudah tidak khawatir lagi kalau ke toilet malam hari atau saat hujan, karena toiletnya sudah di dalam rumah. Membantu kami sekali,” tambahnya.
Bagi Karju dan Jumiyati, dapur dan toilet yang baru bukan sekadar bangunan semata. Ia menjadi simbol harapan, ketenangan, dan martabat yang lebih terjaga di masa tua mereka. Di usia senja, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu, memiliki rumah yang aman dan layak menjadi berkah yang sangat berarti.
Perubahan kecil seperti ini membuktikan bahwa dukungan dan kepedulian dapat menghadirkan dampak besar bagi kehidupan keluarga yang membutuhkan. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk menjalani hari-hari dengan rasa aman, nyaman, dan penuh harapan.
Yuk, simak lebih banyak kisah inspiratif lainnya tentang bagaimana program Habitat for Humanity Indonesia menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di berbagai daerah di sini. Setiap cerita adalah bukti bahwa bersama, kita bisa membangun rumah sekaligus membangun harapan.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)




