logotype
Donate

Kategori: Kisah Perubahan

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Bogor, 2 Februari 2026 – Di sebuah sudut Kabupaten Bogor, Ibu Kokom (55) kerap duduk termenung di depan rumahnya saat matahari sore mulai turun. Ia adalah seorang janda, seorang ibu rumah tangga, sekaligus ibu kepala keluarga bagi lima orang anaknya. Dalam diam, ia sering memandangi rumah yang telah lama menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi keluarganya, rumah yang menyimpan banyak cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang nyaris padam.

Sejak tahun 2012, hidup Ibu Kokom berubah sepenuhnya. Kepergian sang suami meninggalkan duka yang mendalam sekaligus beban besar yang harus ia pikul sendiri. Sejak hari itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, membesarkan kelima anaknya dengan segala keterbatasan. Tahun demi tahun dilalui dengan tertatih-tatih. Ia berusaha berlapang dada, meski kenyataan sering kali terasa begitu berat.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru perlahan kehilangan fungsinya. Bangunan itu pernah roboh sebagian, lalu diperbaiki seadanya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tanpa struktur yang kokoh, hanya ditopang oleh kayu-kayu sederhana. Atap seng yang telah dimakan usia menjadi pelindung yang rapuh. Dari kejauhan, rumah itu tampak miring, seakan bisa runtuh lagi kapan saja.

Selama bertahun-tahun, Ibu Kokom dan anak-anaknya hidup tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk buang air, mereka mengandalkan aliran kali kecil di sekitar rumah. Di dekat situ terdapat sumber mata air kecil yang kerap digunakan untuk mandi dan membersihkan diri.

“Kalau sudah kepepet, saya suka menumpang ke rumah tetangga,” tutur Ibu Kokom pelan. “Tapi itu enggak sering, karena malu. Rasanya enggak enak banget numpang.”

Ibu Kokom membawa ember dan gayung, berjalan menuju aliran kali kecil untuk membersihkan diri di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Rumah Ibu Kokom letaknya cukup jauh dari tempat tinggal sanak saudara. Sejak suaminya tiada, ia hanya bisa mengandalkan tetangga di sekitar. Namun bantuan itu tak selalu mudah diterima. Ada rasa sungkan, ada rasa tidak enak hati, terlebih ketika kebaikan tidak selalu datang setiap waktu.

“Saya pernah, karena sering numpang toilet, sampai pintu toiletnya dikunci. Enggak boleh numpang lagi,” kenangnya.

Pengalaman itu meninggalkan luka kecil di hati Ibu Kokom. Bukan karena marah, melainkan karena merasa tak berdaya. Ia tahu, tidak semua orang bisa terus berbagi, dan ia pun lelah harus selalu berada di posisi meminta.

Di tengah keterbatasan itu, Ibu Kokom tetap menyimpan satu mimpi sederhana, memiliki rumah yang layak. Bukan rumah mewah, bukan pula rumah besar. Ia hanya ingin rumah yang bisa melindungi keluarganya, meringankan beban hidup, dan memberi rasa aman bagi anak-anaknya. Doa itu tak pernah putus ia panjatkan, setiap kali beribadah, setiap kali rasa lelah datang. Hingga suatu hari, doa tersebut menemukan jalannya.

Baca juga: Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra datang menemui Ibu Kokom dan menawarkan bantuan perbaikan rumah agar menjadi layak huni. Kabar itu datang seperti cahaya di tengah kelelahan panjang yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, saya sama anak-anak senang banget,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Proses pembangunan rumah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. Banyak tangan terlibat, banyak kebaikan yang mengalir. Tetangga dan warga sekitar ikut membantu secara swadaya, mengangkut material, membongkar rumah lama, hingga menggali septictank. Rumah yang dulu rapuh perlahan berubah menjadi bangunan yang kokoh dan aman.

Kini, beban yang selama ini menghimpit pundaknya terasa terangkat. Rumahnya tidak lagi menjadi sumber kecemasan. “Ibu sekarang sudah enggak pernah kepikiran macem-macem soal rumah,” katanya. “Rumahnya kuat, bagus, dan kami sekarang punya kamar mandi dan toilet sendiri. Enggak perlu ke kali lagi.”

Lebih dari sekadar bangunan fisik, rumah layak huni ini turut memulihkan martabat keluarga Ibu Kokom. Mereka kini memiliki ruang privasi yang terjaga, kebersihan yang lebih baik, dan rasa percaya diri yang perlahan tumbuh. Anak-anak tak lagi merasa rendah diri, dan Ibu Kokom tak lagi diliputi rasa malu.

Ibu Kokom membersihkan lantai kamar mandi di rumahnya yang kini telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Ibu Kokom, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Rumah ini adalah tempat berteduh dari kerasnya hidup, tempat harapan kembali disemai, dan tempat masa depan anak-anaknya mulai dirancang dengan lebih tenang.

“Rumah itu tempat kita pulang setiap hari,” ucapnya. “Dan rumah ini akan jadi tempat segalanya untuk masa depan anak-anak.”

Masih banyak keluarga seperti Ibu Kokom yang memendam harapan serupa, harapan sederhana untuk hidup lebih layak, namun terhalang oleh keterbatasan. Setiap rumah yang dibangun bukan hanya mengubah wujud sebuah bangunan, tetapi juga mengubah arah hidup sebuah keluarga.

Uluran tangan yang tepat bisa menjadi jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan. Jika kamu ingin menjadi bagian dari perubahan itu, kebaikanmu dapat disalurkan melalui: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MPM
Kisah Perubahan

Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Bogor, 21 Januari 2026 – Pagi itu, Muhamad Qosim berdiri sejenak di ambang pintu rumahnya yang kini berwarna biru cerah. Rumah kecil yang dulu terasa pengap dan penuh kekhawatiran, kini tampak lapang dan menenangkan. Sesuatu yang dulu hampir mustahil ia bayangkan, kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Qosim yang berusia 47 tahun bukanlah sosok yang asing di Kantor Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 2020, ia bekerja sebagai office boy di kantor desa tersebut. Lima tahun lebih ia mengabdi, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan kantor, dan memastikan aktivitas pelayanan berjalan lancar. Upah yang ia terima tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan, jumlah yang harus ia kelola dengan sangat irit untuk menghidupi istrinya, Ella yang berusia 41 tahun, serta tiga orang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan berusia dua tahun.

Sebelum menjadi office boy, Qosim bekerja sebagai pengendara ojek pangkalan. Pekerjaan berpindah-pindah sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun satu hal yang tak pernah berubah, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan keinginannya memberikan rasa aman bagi orang-orang yang ia cintai.

Rumah yang mereka tempati bukan rumah baru. Dua puluh tahun lalu, Qosim membeli rumah itu dari neneknya dengan luas tanah hanya 21 meter persegi. Ketika masih berdua dengan istrinya, rumah itu terasa cukup. Namun seiring bertambahnya anak, ruang yang sempit mulai terasa menekan.

“Sejak saya punya rumah ini, belum pernah dibangun atau dibesarin. Kondisinya seperti ini saja. Paling saya perbaiki sedikit demi sedikit kalau bocor atau dindingnya mulai kelupas,” tutur Qosim.

Qosim menunjukkan titik kebocoran di rumahnya saat proses pembongkaran rumah yang akan dibangun kembali menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Atap rumahnya masih menggunakan asbes, material yang ia ketahui berisiko bagi kesehatan keluarga. Namun mengganti atap dengan genteng juga bukan hal mudah karena keterbatasan biaya. “Kalau mau ganti atap genteng, saya enggak sanggup. Biayanya besar, sementara penghasilan saya cuma cukup buat makan dan sekolah anak,” katanya pelan.

Setiap kali menemukan dinding berlubang atau bagian rumah yang mulai keropos, Qosim selalu berusaha memperbaikinya. Rasa takut rumah tersebut dapat membahayakan keluarganya sewaktu-waktu menjadi penggeraknya, walau kondisi finansial sering kali tidak memadai. Akibatnya, uang yang ia miliki selalu habis untuk menambal kerusakan. Hidup mereka pun berjalan dalam kondisi pas-pasan, nyaris tanpa ruang untuk menabung. Penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Perubahan mulai datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Mitra Pinasthika Mustika hadir di Desa Sentul. Melalui proses asesmen, rumah yang ditempati Qosim dinilai membutuhkan peningkatan menjadi rumah layak huni. Kondisi kerusakan rumah, masuk dalam kelompok ekonomi terendah, dan kepadatan jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan luas rumah menjadi pertimbangan Qosim untuk dibangunkan rumah layak huni.

Proses pembangunan rumah baru menjadi momen yang penuh harap. Perlahan, rumah lama yang rapuh berganti menjadi hunian yang lebih luas dan kokoh. Kini, rumah Qosim berdiri dengan luas 28 meter persegi, berwarna biru cerah yang memancarkan suasana berbeda dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur banget punya rumah ini. Senangnya sekeluarga bukan main. Anak saya yang paling kecil saja waktu itu langsung bilang, kamarnya mau di sebelah sini,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan rumah yang lebih luas, Qosim tidak lagi harus berbagi kasur dengan seluruh anggota keluarga. Ia, istri, dan anak bungsunya kini memiliki kamar sendiri, sementara dua anak lainnya juga memiliki ruang tidur masing-masing.

Qosim dan istrinya, Ella, bermain bersama putra bungsunya di ruang tengah rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

“Saya juga merasa lebih percaya diri. Sekarang enggak malu lagi kalau nerima tamu. Dulu sering saya arahkan ke rumah orang tua karena rumah sendiri sempit dan kurang layak,” tuturnya.

Keberkahan rumah layak huni itu tidak berhenti pada perubahan fisik. Beberapa minggu setelah rumahnya selesai dibangun, Qosim mendapatkan tawaran untuk mengemban peran baru sebagai staf pelayanan di kantor desa. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Qosim, rumah layak huni bukanlah penyebab langsung dari perubahan statusnya. Namun rumah itu menjadi fondasi yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Dengan kondisi hidup yang lebih stabil, ia mampu menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam bekerja.

“Sekarang saya punya semangat baru. Saya ingin kerja lebih giat, nabung pelan-pelan. Ke depan saya ingin nambah satu kamar lagi,” katanya penuh harap.

Kisah Qosim membuktikan bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah fondasi kehidupan yang membuka ruang bagi perubahan. Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, harapan pun menemukan tempat untuk tumbuh.

Bagi Qosim, rumah layak huni itu telah mengantarkannya bukan hanya pada tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga pada kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MedcoEnergi
Kisah Perubahan

Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Tangerang, 13 Januari 2026 – Sore itu, Durahman (55) bersama istrinya, Rohayati (48), sedang berkumpul bersama di ruang tengah rumah barunya, menyaksikan anak-anak dan cucunya bermain dengan tawa riang, tanpa gangguan kebocoran atau udara pengap seperti yang dulu mereka rasakan.

Setiap sudut rumah baru ini menyimpan kebahagiaan yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupnya bersama keluarga di rumah tua yang rapuh penuh keterbatasan, namun hari ini, keadaan terasa berbalik. Rumah kini menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat, sebuah hadiah dari kerja keras dan doa yang tak pernah padam.

Sebelum memiliki rumah layak huni, kehidupan Durahman penuh ketidakpastian. Ia bekerja sebagai buruh serabutan, siap mengerjakan apa saja yang diminta, mulai dari kuli cangkul hingga tukang bangunan. Penghasilannya pun tak menentu, hanya lima puluh ribu rupiah per hari bila ada panggilan kerja. Dua tahun sebelumnya, saat tubuhnya masih kuat, Durahman menempuh jalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan dan menjual barang rongsokan. Namun usia dan kondisi tubuh membuatnya tak lagi sanggup menempuh pekerjaan berat itu.

Di sisi lain, Rohayati, setia mengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak perempuan, dengan dua anak sulung yang telah menikah dan tinggal bersebelahan. Anak ketiga berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, sementara anak bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Keterbatasan ini sering membuat Durahman dan istrinya merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.

Rumah lama yang mereka tempati juga memperparah kesulitan itu. Sebagian dindingnya dari bata, sebagian lagi dari bilik bambu tanpa tiang struktur kokoh. Atap yang menua menjadi sarang kebocoran di musim hujan.

“Itu rumah sering banget kebocoran, Pak. Saya kasihan sama anak saya, suka terganggu belajarnya di rumah. Saya coba benerin seadanya, saya tambal-tambal tetap bocor,” kenang Durahman.

Kondisi rumah milik Durahman sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia dan MedcoEnergi di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Meski lantainya dari keramik, keramik itu sendiri adalah hasil jerih payahnya memungut barang rongsok. “Makanya lantai saya itu belang-belang, beda-beda,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Soal sanitasi turut menjadi tantangan besar. Keluarga hanya memiliki bilik mandi sederhana, sedangkan kebutuhan buang air besar harus menumpang ke rumah orang tua atau pergi ke empang. Meski begitu, Durahman tetap bersyukur keluarga bisa berkumpul di rumah, meski penuh keterbatasan.

“Sebenernya saya ingin sekali bisa memberikan tempat tinggal layak untuk keluarga saya. Tapi untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Anak yang paling kecil pernah bilang kepengen punya rumah dua lantai. Tapi saya cuma bilang, ‘Berdoa aja ya Nak,’” ujarnya.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Harapan itu akhirnya menjumpai jalan melalui program Rumah Layak Huni yang dijalankan oleh Habitat for Humanity Indonesia, bekerja sama dengan MedcoEnergi dan Medco Foundation. Rumah Durahman, beserta 14 keluarga lain di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibangun kembali sebagai bagian dari total 45 rumah layak huni yang dibangun di tiga wilayah yakni, Tangerang, Palembang, dan Situbondo.

“Bapak enggak pernah menyangka ternyata rumah Bapak bisa dibedah dan jadi bagus seperti ini,” ujar Durahman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Perubahan terlihat dari setiap sudut rumah, mulai dari atap baru yang rapat, dinding kokoh berwarna krem, lantai keramik seragam, serta fasilitas sanitasi yang layak.

Pertama kali tidur di rumah baru, Durahman mengaku sulit memejamkan mata. Bayangan rumah lama yang bocor dan rapuh masih terngiang di kepala. Namun pagi berikutnya, tawa anak-anak yang belajar dan bermain di ruang tengah membuatnya tersadar, mereka kini benar-benar memiliki tempat yang aman dan nyaman. Binatang pengganggu seperti tikus tak lagi mengusik, udara bersih memenuhi setiap ruang, dan toilet sendiri memberikan rasa martabat dan kebersihan yang tak ternilai.

Dengan rumah baru yang kini aman dan nyaman, Durahman mulai memikirkan langkah berikutnya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan mewujudkan impian anak-anaknya. “Perlahan-lahan, sambil saya cari tambahan modal, saya ingin kembali berjualan rongsokan ke kota. Tapi saat ini saya mau fokus dulu agar anak ketiga saya bisa bersekolah lagi, dia ingin ikut pesantren seperti kakaknya,” ujar Durahman.

Ia juga menegaskan, rumah ini bukan hanya untuknya, melainkan untuk anak bungsu yang masih kecil, sebagai warisan kenyamanan, keamanan, dan kesempatan.

Potret keluarga Durahman di depan rumah miliknya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Hidup keluarga Durahman kini penuh kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai. Ia bisa duduk bersama anak-anak dan cucunya di ruang tengah, menyaksikan mereka belajar, bermain, dan tertawa, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Setiap bata yang tersusun, setiap genteng yang menahan hujan, bukan hanya bangunan fisik, melainkan saksi bisu dari doa, harapan, dan cinta yang melekat pada dinding rumah. Rumah Durahman kini adalah fondasi masa depan, tempat di mana generasi berikutnya dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan penuh percaya diri.

Seperti cahaya mentari yang menembus jendela rumah baru, rumah ini menyalakan harapan baru bagi keluarga Durahman. Dan dengan setiap dukungan yang diberikan, lebih banyak keluarga seperti Durahman dapat merasakan hangatnya doa yang terwujud, ketekunan yang berbuah nyata, dan kehidupan yang lebih layak.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Kamila
Kisah Perubahan

Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Tangerang, 8 Januari 2026 – Di sebuah sudut desa yang tenang di Kabupaten Tangerang, Kamila duduk menggendong bayi bungsunya di teras rumah barunya yang kini berdiri kokoh. Sesekali ia memandangi dinding yang bersih, atap yang rapat, dan lantai yang tak lagi becek. Satu anaknya yang lain berlarian kecil di ruang tengah sambil tertawa, suara yang dulu sering tenggelam oleh derasnya hujan yang menembus atap rumah lama mereka.

Tiga minggu sudah Kamila tinggal di rumah layak huni ini, namun rasa syukurnya seolah tak pernah surut. Setiap pagi, saat membuka mata, ia masih sering tertegun. “Ya Allah… beneran rumah saya sudah seperti ini,” ujarnya lirih, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa mimpi yang dulu terasa begitu jauh kini telah menjadi kenyataan.

Sebelum Rumah Baru Itu Ada

Beberapa bulan ke belakang, kehidupan Kamila jauh dari rasa aman seperti yang ia rasakan hari ini. Ia dan keluarga kecilnya hidup dalam rumah yang hampir roboh dengan bilik bambu yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan.

“Kalau hujan, kami pasti angkat kasur. Nadahin bocor pakai panci,” kenangnya. Dalam sekali hujan deras, air tak hanya turun dari atas, tapi juga merembes dari bawah. Lantai tanah berubah menjadi lumpur, basah di mana-mana. Tidak jarang, malam-malam keluarga kecil itu terjaga, bukan karena bayi menangis, melainkan karena takut atap runtuh.

Pada masa kehamilannya, ketakutan itu semakin besar. “Waktu itu saya masih mengandung anak yang kecil ini… saya sering merasa sedih, Pak. Kepikiran gimana kalau nanti melahirkan tapi masih tinggal di rumah seperti itu. Takut roboh… takut kenapa-kenapa sama anak saya.”

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tak bisa berbuat banyak. Suaminya, Samsul—lelaki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh serabutan—menghabiskan hari-harinya di sawah atau di proyek bangunan dengan upah Rp50.000 per hari. Itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Dengan satu anak sekolah TK dan satu bayi, kebutuhan sehari-hari sering kali tak terpenuhi. “Kadang mau beli beras aja harus hutang ke warung tetangga,” kata Kamila. Untuk biaya sekolah anaknya, yang hampir satu juta rupiah, Samsul pun sering terpaksa menyicil atau meminjam sana-sini. “Berat rasanya, Pak…” ucap Kamila.

Saking terdesaknya keadaan, Kamila pernah berencana bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Ia mengurus dokumen, mengisi formulir, bahkan kehilangan ijazahnya di tengah proses administrasi yang panjang. Namun pada akhirnya, ia membatalkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Samsul.

“Suami saya bilang, ‘Sabar ya, Mah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mamah di sini aja, enggak usah berangkat. Kita jaga keluarga dan anak-anak kita.’”

Saat Kamila menirukan ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena cinta, tapi karena ia tahu keputusannya bertahan hanyalah karena keluarga, meski itu berarti terus tinggal di rumah yang nyaris tidak bisa disebut rumah.

“Apa daya, Pak… kemampuan kami cuma seperti ini. Setiap dapat uang lebih, langsung habis buat bayar hutang,” ungkapnya.

Potret keluarga Kamila di depan rumahnya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Harapan Datang Mengetuk Pintu

Harapan itu datang pada hari yang tidak pernah ia duga. “Saya masih ingat… waktu tim Habitat datang pertama kali buat survei. Rasanya lega sekali. Waktu itu aja saya sudah punya sedikit harapan. Tapi begitu benar-benar terpilih dapat bantuan… Masya Allah, bersyukur sekali.”

Habitat for Humanity Indonesia bersama donatur membangun kembali rumah Kamila dari nol, memberinya struktur yang kuat, dinding yang kokoh, atap yang tidak lagi bocor, dan ruang-ruang yang membuat keluarganya bisa bernapas lega. Sebelum ditempati, Kamila bahkan ikut swadaya semampunya untuk membangun dapur dan merapikan beberapa bagian rumah, usaha kecil yang dilakukan dari hati yang besar.

Saat ia melihat rumah itu selesai dibangun, Kamila hanya mampu menunduk dan menangis. “Ya Allah… apa ini jawaban dari larangan suami saya pergi ke luar negeri? Mungkin kalau saya tetap berangkat, saya enggak bakal dapat semua ini.”

Tiga minggu tinggal di rumah baru membuat hidup keluarga ini berubah drastis. “Tidak ada lagi bocor, tidak ada lagi cerita angkat kasur,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Rasanya aman, nyaman… tidur pun lebih nyenyak.”

Namun perubahan terbesar bukan pada rumahnya, melainkan pada pikirannya. Kamila kini bisa fokus mengurus anak-anaknya tanpa dihantui rasa takut rumah roboh atau biaya perbaikan. Ia bisa memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan sekadar bertahan hidup hari demi hari. Dan dengan tidak adanya lagi pengeluaran mendesak untuk memperbaiki rumah, keluarga kecil ini bisa mulai perlahan melunasi hutang-hutangnya.

“Rumah ini… anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.

Kamila tahu betul bahwa keberuntungannya tidak dialami semua orang. “Jutaan keluarga di luar sana juga bermimpi punya rumah seperti ini, Pak. Tapi kemampuan mereka… ya mungkin sama seperti kami dulu. Serba terbatas.”

Cerita Kamila menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan pondasi bagi keluarga untuk hidup layak, membesarkan anak dengan aman, dan bermimpi lebih tinggi. Dan bagi keluarga seperti Kamila, tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.

Bantu wujudkan lebih banyak rumah layak bagi keluarga di Indonesia: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – HDRR
Kisah Perubahan

15 Tahun Transformasi Kampung Jogoyudan Pasca Erupsi Merapi

Yogyakarta, 3 Desember 2025 – Setiap sudut Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, kini tampak hidup kembali. Tapi lebih dari satu dekade lalu, kawasan ini nyaris kehilangan harapan.

Bagi Rodi Firdaus, Ketua RW 10, ingatan tentang bencana erupsi Gunung Merapi pada 2010 masih terpatri jelas. Kala itu, hujan deras melanda dan lahar dingin mengalir deras ke pemukiman, membawa pasir dan batu sebesar mobil. Hampir 200 rumah terendam, tanggul pembatas tidak mampu menahan arus deras, dan banyak warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka tertimbun lumpur.

“Air waktu itu bergelombang sampai setinggi empat meter. Semuanya terbawa arus, pasir, batu… semua hanyut ke rumah warga,” ujar Rodi, mengenang kejadian itu. Siti Fathonah, warga RW 10, mengingat betul bagaimana paniknya warga kala itu. “Sore itu saya sedang arisan di Balai Warga. Tiba-tiba air deras masuk halaman rumah. Semua terkejut, berlarian menyelamatkan diri,” kata Siti. “Tiga kali banjir datang berturut-turut. Rasanya hampir frustasi.” tambahnya.

Bencana itu menghancurkan fisik dan semangat warga. Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kini rusak berat, sebagian hilang tertimbun lumpur, sebagian lagi kehilangan atap dan dinding. “Rasanya membangun kembali kehidupan di sini sudah tidak mungkin,” kenang Rodi.

Di tengah keterbatasan itu juga, bantuan dari pihak luar nyaris tak terlihat, karena kampung ini tidak masuk dalam titik fokus masa tanggap darurat. Warga merasa terasing dan putus asa.

Namun, harapan mulai muncul pada awal 2011. Habitat for Humanity Indonesia datang ke Jogoyudan, melakukan survei dan pendataan sebagai respons awal pasca-erupsi Merapi. Intervensi pertama berupa pembangunan tujuh sarana toilet komunal, langkah awal untuk memulihkan kebutuhan dasar. “Kami berdiskusi dengan tokoh masyarakat, mendengarkan kebutuhan warga. Dari situ lahir rencana membangun rumah layak huni kembali,” kata Wahyu Kustanta, Community Organizer Habitat Indonesia.

Awal pembangunan rumah dimulai dari RW 10 dengan tujuh rumah. Secara bertahap, pembangunan meluas ke RW 8, 11, 12, dan 13, hingga lebih dari 160 rumah layak huni berdiri kokoh. Rumah-rumah ini dibangun dengan prinsip keamanan, kualitas bahan yang tahan lama, dan desain yang mempertimbangkan kebutuhan warga. “Alhamdulillah, rumah saya ikut dibangun kembali. Karena saya punya usaha warung di rumah, rumah juga dibangun menyesuaikan usaha saya. Sangat membantu,” ungkap Siti Fathonah.

Foto udara Kampung Jogoyudan yang berada di Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta (9/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Selain rumah, Habitat Indonesia membangun sarana air bersih di beberapa titik kampung. Sistem air ini tidak hanya melayani keluarga yang terdampak, tetapi juga warga lain, sehingga akses air bersih merata. Warga juga terlibat langsung dalam pembangunan, menyumbangkan material, tenaga, dan ide. Tiga saluran air hujan juga turut dibangun melalui pendekatan Participatory Approach for Safe Shelter Awareness (PASSA), yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan.

“Keterlibatan warga sangat aktif. Mereka bukan hanya penerima bantuan, tapi juga bagian dari proses pembangunan,” kata Wahyu. “Gotong royong ini membuat mereka merasa memiliki rumahnya sendiri dan komunitas. Warga merasa terlahir kembali,” tambahnya.

Konsep transformation housing yang diterapkan di Jogoyudan tidak sekadar membangun fisik rumah, tetapi juga membangun kapasitas komunitas, memulihkan ekonomi lokal, dan membentuk kesadaran akan tanggung jawab kolektif.

Siti bercerita tentang dampak perubahan itu pada kehidupannya. “Rumah saya sudah layak huni ini membawa perubahan besar bagi hidup saya. Saya mulai menata kembali usaha warung, sedikit demi sedikit. Kini warung saya berkembang, memiliki banyak barang dagangan, dan keluarga merasa aman.” Transformasi ini tidak hanya menyentuh fisik rumah, tapi juga ekonomi rumah tangga dan rasa percaya diri warga.

Hingga penghujung 2025, semua sarana yang dibangun sejak masa pemulihan bencana masih digunakan dan dirawat warga. “Bahkan kami kembangkan dan perbaiki lagi,” kata Rodi. Fasilitas air bersih, misalnya, digunakan oleh warga untuk usaha laundry dan kegiatan ekonomi lain. Hasil pengelolaan air bersih yang dikelola oleh grup PASSA juga digunakan kembali untuk kesejahteraan masyarakat melalui simpan pinjam komunitas.

Program ini menunjukkan bahwa bencana bukanlah akhir, tetapi awal dari perubahan yang nyata. Warga yang semula kehilangan harapan kini menata kembali kehidupan mereka di tanah yang sama. Rumah layak huni, sarana air bersih, dan saluran air hujan bukan hanya aset fisik, tetapi simbol ketangguhan dan kemampuan warga untuk bangkit.

Lebih dari itu, program ini menekankan prinsip disaster risk reduction (DRR) melalui tranformation housing. Konsep ini memadukan pembangunan fisik rumah yang aman, partisipasi masyarakat, dan kesiapsiagaan terhadap bencana di masa depan. Warga yang pernah menjadi korban kini memahami bagaimana menata rumah dan lingkungan agar lebih tahan terhadap risiko, meningkatkan kesadaran kolektif, dan memperkuat komunitas.

Aktivitas warga Kampung Jogoyudan dalam merawat lingkungan di Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta (9/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kini, 15 tahun setelah bencana, Kampung Jogoyudan tidak hanya pulih, tetapi menjadi contoh nyata bahwa intervensi berbasis partisipasi masyarakat dapat mengubah kehidupan. Rumah-rumah yang kokoh, fasilitas air bersih yang merata, dan sistem saluran hujan yang berfungsi baik adalah bukti transformasi yang berkelanjutan. Warga tidak lagi hanya menunggu bantuan, melainkan mereka menjadi agen perubahan bagi komunitasnya sendiri.

Rodi menutup ceritanya dengan keyakinan, “Jika Habitat tidak hadir, mungkin kami tidak bisa tinggal kembali di sini. Sekarang kami tidak hanya punya rumah, tetapi juga rasa aman, ekonomi yang membaik, dan komunitas yang kuat.”

Bencana memang meninggalkan luka, tapi luka itu diubah menjadi fondasi baru untuk kehidupan yang lebih baik. Kampung Jogoyudan membuktikan bahwa pemulihan pasca-bencana bukan sekadar membangun kembali, tetapi menciptakan komunitas tangguh yang mampu menata kehidupan dengan mandiri dan berkelanjutan.

Simak video berikut untuk memahami lebih dalam tentang Housing Disaster Resilience and Recovery (HDRR)!

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Caterpillar
Kisah Perubahan

Ibu Asnah: Ketekunan dan Doa yang Membuka Pintu Rumah Layak Huni

Tangerang, 1 Desember 2025 – Asnah, 38 tahun, memulai hari sebelum fajar menyingsing. Sejak pukul lima pagi, ia sudah bersiap untuk bekerja di rumah tetangganya, membantu di warung sayur milik mereka. Aktivitasnya berlangsung hingga sore, dengan upah yang tak lebih dari enam puluh ribu rupiah per hari. Kadang, ketika tetangga membutuhkan, Asnah juga diminta membantu pekerjaan rumah mulai dari mencuci pakaian, menggosok baju, atau membersihkan rumah. Ia rela bekerja hingga larut malam demi tambahan penghasilan. Penghasilan ekstra ini sangat berarti, bisa mencapai seratus ribu rupiah, tak jarang juga ditambahkan sembako seperti beras, mie, bahkan telur.

Sebelum menjadi penjaga warung sayur, profesi utama Asnah adalah pembantu rumah tangga. Dari pekerjaan ini, ia bekerja keras, menabung sedikit demi sedikit, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, meski hidup mereka sangat sederhana. Suaminya, Niin, 49 tahun, bekerja sebagai buruh di penggilingan beras dengan upah lima puluh ribu rupiah per hari. Bersama, mereka tinggal di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dengan satu anak perempuan yang telah menikah dan masih tinggal bersama mereka.

Kehidupan mereka penuh tantangan. Rumah yang mereka tinggali lebih dari tiga puluh tahun hanyalah bangunan bambu, tanpa struktur kokoh, dengan lantai tanah yang mudah becek saat musim hujan. Genteng yang berlubang dan dinding bambu yang keropos membuat air merembes masuk ke rumah. “Kalau hujan deras, kami semua keluar rumah, numpang ke rumah saudara di sebelah,” kenang Asnah.

Masalah yang paling memilukan adalah ketiadaan toilet. “Saya harus menumpang ke rumah orang. Karena terlalu sering numpang, tetangga sampai mengunci toiletnya supaya keluarga saya tidak pakai,” ujarnya. Ketika keadaan benar-benar mendesak, mereka terpaksa buang air di jamban halaman belakang rumah, bahkan di malam hari dalam gelap gulita.

Krisis mereka tak berhenti di situ. Akses air bersih di rumah juga tidak tersedia. “Waktu saya masih bekerja sebagai pembantu, saya sampai berhutang ke sana-sini agar bisa mengebor air dan memasang sanyo,” cerita Asnah. Begitu pula listrik, hanya setelah menyicil, mereka bisa memasangnya dan berlangganan.

Ibu Asnah dan suaminya berdiri di depan rumah mereka yang tidak layak huni sesaat sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia di Tangerang. Foto: HFHI/Indah Mai

Setelah fasilitas air dan listrik tersedia, Asnah menyadari satu hal yang tak kalah penting yaitu, rumahnya harus diperbaiki agar layak huni. Namun takdir belum berpihak. “Pas semua hutang untuk air dan listrik lunas, beberapa bulan kemudian rumah saya roboh. Saya pulang kerja, rumah sudah rata. Saya menangis sejadi-jadinya. Sampai akhirnya saya pinjam uang lagi ke majikan saya, sampai beliau datang langsung melihat rumah saya,” kenangnya.

Dengan bantuan majikan, Asnah mendapat pinjaman empat juta rupiah untuk membangun kembali rumahnya. “Ya, dibangun sebisanya saja, dibantu saudara-saudara. Rumah berdiri dengan dinding bambu dan lantai tanah,” ujarnya. Meski sederhana, rumah itu menjadi tempat berlindung. Dari sisa reruntuhan yang masih bisa digunakan, Asnah dan keluarganya memanfaatkannya untuk membangun kembali rumah mereka.

Meski begitu, Asnah dan Niin tidak pernah putus harapan. Mereka terus berdoa dan menabung sedikit demi sedikit, menargetkan tahun 2026 untuk merenovasi rumah agar lebih kokoh dan layak. Namun kehidupan sehari-hari memaksa mereka menunda impian itu. Uang yang dikumpulkan selalu habis untuk kebutuhan keluarga, memaksa Asnah bekerja lebih giat hingga waktu bersama keluarga pun berkurang.

Hingga akhirnya, impian mereka menjadi nyata lebih cepat dari yang diperkirakan. Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan PT Caterpillar Indonesia dan PT Caterpillar Finance Indonesia memilih Asnah sebagai salah satu penerima program Rumah Layak Huni.

“Waktu saya dapat kabar lewat Pak RT bahwa rumah saya akan dibangun lebih layak, saya sangat bersyukur. Sampai terharu, enggak bisa berkata-kata,” ujar Asnah dengan mata berkaca-kaca.

Gotong royong relawan Caterpillar membangun rumah layak huni milik Ibu Asnah dan dua keluarga lainnya di Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Rumah Layak Jadi Tumpuan Hidup Keluarga Ibu Imas

Pada awal Agustus 2025, sebanyak 69 relawan karyawan Caterpillar memulai pembangunan pondasi rumah Asnah bersama dua keluarga lain. Perjuangan bertahun-tahun Asnah akhirnya membuahkan hasil, rumah layak huni yang bisa memberikan perlindungan dan martabat bagi keluarga.

“Usaha saya bertahun-tahun menghidupi keluarga banting tulang, baru kali ini punya rumah yang bagus. Dulu serba sulit, sampai beli gas untuk masak saja harus ngutang. Sekarang saya punya rumah layak, ada toilet dan kamar mandi, jadi enggak perlu numpang lagi. Saya enggak malu lagi,” ungkapnya penuh kebahagiaan.

Bantuan ini juga terasa seperti jawaban doa mereka. “Rencana saya mau renovasi rumah tahun depan, Alhamdulillah terjawab sekarang. Jadi saya bisa pakai uang tabungan untuk bayar semua hutang. Rasanya seperti memulai hidup dari nol, jauh lebih tenang,” tambah Asnah.

Selama hampir dua bulan pembangunan, Asnah dan Niin turut berkontribusi langsung. Mereka bangun lebih pagi, memindahkan material, dan bahkan menyediakan hidangan bagi para pekerja konstruksi, meski dengan keterbatasan mereka sendiri.

“Bapak selalu bantu pak tukang. Saya bekerja di rumah tetangga cari penghasilan tambahan. Bahkan majikan saya sering memberi lebih dari upah untuk bantu pembangunan rumah. Syukur, plafon rumah saya akhirnya terbeli tanpa hutang,” jelas Asnah.

Kini, rumah baru Asnah menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Udara lebih bersih, bebas tikus, dan cucu mereka pun tidak lagi rewel setiap malam karena kepanasan.

Potret keluarga kecil Ibu Asnah di depan rumah mereka yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Caterpillar di Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Ia kini tetap bekerja sebagai penjaga warung sayur tetangganya yang baru ia geluti setelah rumahnya layak huni, juga tetap menambah penghasilan sebagai pembantu rumah tangga di waktu kosong. Perubahan ini bukan sekadar soal pekerjaan, tapi juga martabat, kesehatan, dan stabilitas ekonomi keluarga.

“Rumah ini tempat saya berteduh sampai akhir hayat. Seumur hidup, keluarga pasti kembali ke rumah ini,” tutup Asnah dengan keyakinan dan senyum penuh haru.

Setiap bata yang tersusun, setiap lantai yang tertata rapi, bukan hanya sekadar bangunan, tapi saksi bisu perjuangan, harapan, dan doa yang tak pernah padam. Dengan bantuanmu, lebih banyak keluarga seperti Asnah bisa menyalakan cahaya di rumah mereka, menata hidup dari nol, dan menatap masa depan dengan percaya diri.

Mari bersama-sama menjadi bagian dari cerita ini, menanam kebaikan yang akan terus tumbuh di setiap rumah yang kita bantu. Kunjungi: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(av/kh)

HFHI – POSCO – Muhdi
Kisah Perubahan

Kisah Muhdi: Rumah Layak Huni Inklusif untuk Tunanetra di Cilegon

Cilegon, 26 November 2025 – Setiap hari, langkah-langkah kecil beriring pelan di jalanan Kota Cilegon. Di tangannya tersampir tas kecil berisi minyak pijat dan kain bersih, sementara tangan satunya menggenggam tongkat kecil yang menuntunnya melangkah. Di bawah terik matahari atau rintikan hujan yang mengguyur, sosok itu terus melangkah pasti, tanpa ragu meski pandangannya gelap sejak lahir.

Dialah Muhdi Hadi, seorang tukang pijat keliling berusia 40 tahun yang hidupnya diwarnai keteguhan dan kesabaran luar biasa. Bersama sang istri, Baitini (31 tahun), yang juga seorang tunanetra sejak lahir, mereka tinggal di rumah sederhana di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten. Pasangan ini tidak memiliki anak, namun keduanya saling melengkapi dalam menghadapi hari-hari yang penuh tantangan.

Setiap pagi, Muhdi memulai rutinitasnya dengan memeriksa minyak pijat dan kain yang selalu ia bawa. Ia berkeliling dari rumah ke rumah, menawarkan jasanya kepada warga sekitar. Penghasilannya tidak menentu, terkadang hanya Rp 400.000 hingga Rp 500.000 per bulan. Namun baginya, setiap rupiah adalah hasil dari keringat dan niat baik. “Pas-pasan, tapi cukup untuk makan sehari-hari,” ujarnya dengan nada ikhlas.

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, ada satu kenyataan pahit yang tak bisa ia abaikan yaitu, rumah tempat ia dan istrinya berteduh jauh dari kata layak. Bangunan itu sudah berusia tua, berdinding rapuh, dan beratap keropos. Setiap kali hujan deras datang, air menetes dari sela-sela atap, membuat seluruh lantai basah dan becek. Bahkan potongan atap yang lapuk kerap jatuh saat mereka sedang tertidur.

“Kalau hujan besar, air masuk dari mana-mana,” kenangnya. “Pernah waktu itu saya lagi mijat pelanggan di rumah, eh tiba-tiba bocor. Kami harus pindah-pindah tempat biar enggak kehujanan. Malu sekali rasanya, tapi saya enggak punya uang buat perbaiki rumah.”

Muhdi tahu betul bahayanya tinggal di rumah yang ringkih. “Karena bangunannya sudah reot dan keropos, kami takut aja gitu, apalagi kalau ada angin besar,” ujarnya pelan. “Pernah waktu angin kencang datang, saya sama istri cuma duduk di depan pintu, biar bisa cepat lari kalau sewaktu-waktu rumahnya rubuh.”

Kondisi rumah yang tak layak itu membuat kesehariannya semakin berat. “Saya ini sudah punya keterbatasan penglihatan,” katanya lirih. “Tinggal di rumah yang rusak, dalam suasana gelap, dan lembab bikin semua terasa lebih sulit.”

Muhdi memasuki rumahnya yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity bersama POSCO di Cilegon. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Namun di balik keterbatasan itu, Muhdi tak pernah kehilangan semangat. Ia terus berusaha, membuka jasa pijat di rumah kecilnya meski ruangan sempit itu sering bocor. Hingga suatu hari, kabar yang tak pernah ia bayangkan datang menghampiri. Habitat for Humanity bersama POSCO datang ke wilayahnya, mengabarkan bahwa mereka akan membangun kembali rumah-rumah tak layak huni, termasuk rumah miliknya.

“Saya sangat bahagia sekali, saking bahagianya saya bingung dan enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” tutur Muhdi haru.

Ketika pembangunan dimulai, ia tak hanya duduk diam menunggu. Meski memiliki keterbatasan, Muhdi ikut terlibat sebisanya, membantu menyediakan hidangan makanan ringan untuk pekerja konstruksi. Ia pun sering menelusuri dinding-dinding baru dengan jemarinya, menyentuh lantai yang kini kokoh, dan merasakan kesejukan ruangan yang dulu pengap dan lembab.

“Saya terharu meski saya tidak bisa melihat, tapi saya bisa merasakan bahwa rumah ini benar-benar layak buat saya,” ucapnya. “Rumah ini memang didesain untuk saya dan istri yang punya kebutuhan khusus. Ada pagarnya, ada pegangan di setiap ruangan, bahkan lantainya dibuat beda, ada bagian yang kasar, ada yang tidak. Ini sangat-sangat membantu kami.”

Kini, rumah baru itu bukan hanya tempat berlindung, tapi juga sumber harapan baru. Baitini, sang istri, mengaku tak lagi was-was setiap kali mendengar suara hujan atau angin malam. “Rumah itu kan tempat berlindung dari hujan dan panas,” katanya lembut. “Sekarang saya bersyukur punya rumah bagus seperti ini, rumah ini rasanya sudah jadi anugerah besar.”

Bagi Muhdi, rumah baru itu juga berarti kesempatan baru untuk memperbaiki taraf hidup. Ia berencana memasang plang usaha pijat di depan rumahnya, agar pelanggan lebih mudah menemukan jasanya. “Semoga rumah ini membawa berkah rezeki baru buat keluarga saya,” ucapnya penuh semangat. “Saya ingin nabung buat masa depan, siapa tahu nanti bisa buat biaya kalau kami punya anak.”

Muhdi bersama istrinya bersantai di kamar rumah layak huni mereka setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama POSCO di Cilegon. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Proyek pembangunan rumah ini merupakan bagian dari “2025 POSCO 1% Foundation Echo Village”, hasil kolaborasi antara Habitat for Humanity dan POSCO. Melalui inisiatif ini, enam rumah layak huni dibangun dengan desain ramah lingkungan dan aman bagi penghuninya. Inovasinya meliputi penggunaan eco-brick dari limbah plastik, sistem penampungan air hujan, serta septic tank dan soak pit untuk memastikan sanitasi yang sehat bagi keluarga penerima manfaat.

Tak berhenti di situ, proyek ini juga menghadirkan pelatihan manajemen rumah sehat dan Building Back Safer (BBS) bagi 50 keluarga lainnya di sekitar wilayah Ciwandan dan Citangkil. Para warga juga mendapatkan penguatan kapasitas melalui pelatihan bagi Tim Siaga Bencana Kelurahan (TBSK), serta difasilitasi untuk mengajukan status Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) ke BNPB, agar masyarakat memiliki dukungan resmi dalam penanggulangan bencana.

Kini, di antara deretan rumah baru yang berdiri kokoh di Cilegon, rumah kecil milik Muhdi menjadi simbol harapan. Ia mungkin tidak bisa melihatnya, tapi setiap kali tangannya menyentuh tembok rumah barunya, ia tahu perjuangannya tak sia-sia.

“Dulu saya cuma bisa bermimpi punya rumah kuat yang enggak bocor. Sekarang mimpi itu sudah jadi kenyataan.” tutup Muhdi.

Penulis: Kevin Herbian

(av/kh)

HFHI-Arthawena 01
Kisah Perubahan

Rumah yang Menghidupkan Harapan: Kisah Keluarga Alex dari Kupang Timur

21 November 2025 – Di sebuah dusun kecil di Kupang Timur, Kabupaten Kupang – Nusa Tenggara Timur, berdirilah rumah sederhana berukuran 4×6 meter milik Alex Batuk (46). Dindingnya dari bebak lontar, atapnya dari daun lontar yang telah mengering, dan lantainya masih berupa tanah. Di rumah inilah Alex tinggal bersama istrinya, Trudelyanti (34), serta tiga anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dan satu di antaranya seorang balita.

Setiap sudut rumah menyimpan kisah perjuangan. Ketika hujan deras datang, air masuk dari segala arah, membuat lantai becek dan lembap. Dinding-dinding dari lontar kerap rapuh dimakan usia, dan jendela satu-satunya tidak mampu menyalurkan udara dengan baik. Rumah itu telah mereka huni lebih dari tujuh tahun, tahun demi tahun yang penuh kekhawatiran dan harapan.

“Karena kondisi rumah menggunakan atap dari daun, setiap tiga tahun sekali saya harus menyisihkan uang untuk mengganti atap tersebut, begitupun dengan dinding setiap kali dirayapi,” tutur Alex. Penghasilan sebagai petani sebesar satu juta rupiah per bulan membuat setiap rupiah terasa berarti. Untuk menambah pemasukan, Alex berjualan gula pohon gewang di sela waktu luangnya.

Namun, yang paling menakutkan bagi keluarga kecil ini bukan hanya soal ekonomi. Ketika badai datang, rasa takut selalu menghantui. “Saya selalu was-was setiap ada angin besar, seperti waktu itu saat Seroja datang. Rumah saya bisa patah dan rubuh. Setiap ada angin kencang, kita duduk di depan pintu. Takut angin bawa, kita bisa lari keluar,” kenangnya.

Kondisi rumah Alex Batuk sebelum menerima dukungan pembangunan rumah layak huni di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Titik Balik Harapan Baru

Harapan baru datang ketika tim Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Arthawenasakti Gemilang datang ke kampung mereka. Setelah melihat kondisi rumah Alex yang tidak layak huni, Habitat Indonesia memutuskan untuk membantu membangun kembali rumahnya menjadi rumah yang lebih aman dan sehat untuk ditinggali.

Namun kisah ini tidak hanya berhenti pada bantuan semata. Saat program pembangunan dimulai, Alex yang mengaku pernah bekerja sebagai tukang bangunan diminta ikut bergabung sebagai pekerja konstruksi. Ia tidak sekadar penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun rumah impiannya sendiri.

“Sebelum Habitat hadir di kampung saya, saya juga mencari sambilan sebagai tukang bangunan. Jadi saya tahu betul mana rumah yang layak dan kokoh, saya tahu bagaimana pondasi yang kuat menggunakan cakar ayam,” ujar Alex.

Melalui pelatihan yang diberikan Habitat Indonesia, Alex semakin memahami pentingnya standar rumah tahan gempa dan struktur bangunan yang aman. Ia terlibat langsung dari awal hingga akhir proses pembangunan, memastikan setiap dinding berdiri tegak dan setiap atap terpasang kuat.

“Perbedannya luar biasa. Adanya bantuan rumah ini terasa sangat kuat dan kokoh, karena saya tahu betul pembangunan rumah ini seperti apa. Saya ikut terlibat langsung membangunnya,” katanya dengan senyum bangga.

Alex Batuk terlibat dalam proses pembangunan rumah layak huni bersama Habitat for Humanity Indonesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Baca juga: Hadiah dari Doa yang Tak Pernah Putus

Rumah yang Mengubah Hidup

Kini, rumah baru Alex telah berdiri kokoh. Bagi keluarga kecil itu, rumah ini bukan hanya tempat berlindung dari hujan dan panas, tetapi juga simbol kehidupan baru.

“Rumah itu kan tempat berlindung di dalam, saat hujan, panas. Sekarang saya bersyukur punya rumah bagus seperti ini,” kata Trudelyanti sambil menatap dinding baru rumahnya. “Rumah ini sangat pas untuk keluarga kami tinggal, dua anak kami bisa punya kamar sendiri.”

Lebih dari itu, rumah layak ini turut membawa perubahan nyata bagi ekonomi keluarga. Jika dulu sebagian penghasilan harus disisihkan untuk memperbaiki atap lontar atau mengganti dinding yang rusak, kini uang itu bisa digunakan untuk hal yang lebih penting yakni, pendidikan anak-anak mereka.

“Sekarang saya bisa menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan anak-anak. Tidak perlu lagi khawatir atap bocor atau rumah rusak,” ujar Alex penuh rasa syukur.

Setelah rumahnya selesai dibangun, Alex tetap memilih untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pekerja konstruksi bersama tim Habitat. Ia ingin membantu membangun rumah-rumah layak huni lainnya di desanya.

Kini, setiap kali ia membantu mendirikan rumah baru untuk tetangganya, ada semangat yang sama yang ia rasakan yaitu, semangat untuk memberi rasa aman dan harapan kepada keluarga lain, sebagaimana ia pernah menerimanya.

Potret keluarga Alex Batuk di depan rumah mereka yang telah layak huni di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Berkat dukungan PT Arthawenasakti Gemilang, program pembangunan rumah layak huni ini berhasil menghadirkan 100 rumah baru dan renovasi bagi keluarga di wilayah Kupang dan sekitarnya. Di balik angka itu, tersimpan kisah-kisah nyata seperti keluarga Alex, tentang perjuangan, ketulusan, dan harapan yang tumbuh di antara dinding rumah yang baru berdiri.

Karena bagi Alex dan banyak keluarga lainnya, rumah bukan hanya tempat tinggal. Rumah adalah tempat di mana harapan tumbuh, cinta berdiam, dan kehidupan dimulai kembali.

Penulis: Kevin Herbian

(av/kh)

HU – HFHI – Nimah
Kisah Perubahan

Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Yuk, berkenalan dengan Ibu Nimah, salah satu perempuan warga Kampung Tanjung Kait yang ikut terlibat langsung dalam membangun rumah layak huni.  

Tangerang, 13 Oktober 2025 – Ada semangat yang tak pernah padam dari sosok sederhana bernama Ibu Nimah. Setiap pagi, perempuan berusia 55 tahun ini selalu memulai hari dengan sebuah pertanyaan kecil dalam hati, “Apa yang bisa saya bantu hari ini? Apa yang bisa saya lakukan hari ini?” Kalimat sederhana itu menjadi pemantik energi yang membuatnya tetap kuat, meski hidup tidak selalu mudah baginya. 

Ibu Nimah adalah salah satu warga Kampung Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang, yang rumahnya ikut dibangun kembali dalam Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait. Program ini menghadirkan 110 rumah layak huni baru untuk warga, sekaligus infrastruktur penunjang yang lebih memadai. Bagi Nimah, program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan kesempatan untuk ikut meninggalkan jejak dalam membangun kampungnya. 

Awal Mula Perjalanan 

Awalnya, keterlibatan Ibu Nimah di proyek pembangunan ini sederhana saja. Ia hanya menyediakan minuman dan makanan ringan untuk para pekerja yang sibuk membangun rumah-rumah di kampungnya. Namun, semakin hari, ia merasa bahwa dirinya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar. Ia menyadari, meski tak punya cukup uang untuk memperbaiki rumahnya sendiri, setidaknya ia masih memiliki tenaga. “Saya enggak punya uang, enggak punya apa-apa. Tapi saya punya tenaga, dan itu yang bisa saya berikan,” ungkapnya. 

Sejak saat itu, Nimah tak lagi sekadar berdiri di pinggir, melainkan turun langsung ke lapangan, ikut bergotong royong bersama warga lainnya, termasuk para perempuan, membantu para pekerja konstruksi. 

Keterlibatan Nimah ini tentu tidak lepas dari kondisi rumah lamanya. Selama puluhan tahun, ia tinggal di rumah yang semakin hari semakin rapuh. Dindingnya retak, lantai tak lagi rata, dan atap bocor setiap kali hujan turun. Yang paling parah, setiap kali pasang air laut datang, rumahnya kerap terendam banjir. Air asin menggenang hingga ke dalam rumah, merusak perabotan, membuat dinding lembab, dan memicu kerusakan lebih parah. 

Sebagai seorang janda yang menggantungkan hidup dari penghasilan anak-anaknya dan sesekali bekerja serabutan seperti mengupas kerang, Nimah tidak memiliki cukup biaya untuk memperbaiki rumah. Rasa cemas selalu menghantui, terutama saat hujan deras disertai pasang laut. Ia tak pernah tahu kapan rumahnya bisa benar-benar roboh. 

Namun, kondisi pilu itu perlahan terjawab ketika Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait hadir. Program ini digagas oleh Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang, Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA), serta didukung oleh para donatur. Bagi Nimah, program ini adalah anugerah yang menjawab doa-doanya selama ini. 

Potret Nimah yang tampak sibuk mengamplas dinding rumahnya di Kampung Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang (2/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Penguatan Kapasitas Warga Jadi Kunci Strategi Keberlanjutan Revitasisasi Kampung Tanjung Kait

Saat proses pembangunan dimulai, Nimah semakin tergerak untuk turut serta. Ia sadar, rumahnya sendiri termasuk yang akan dibangun. Karena itu, ia merasa perlu memberikan jejak kontribusi. Nimah selalu berusaha ikut berkontribusi dengan cara yang ia mampu. Mulai dari pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membantu mengangkut material ringan, merapikan area kerja, hingga ikut memberi sentuhan sederhana di dinding. Meski terlihat sepele, baginya setiap usaha adalah bentuk nyata keterlibatan dalam membangun rumah impian. 

“Awalnya tukang-tukang itu kasihan lihat saya. Tapi setelah mereka lihat semangat saya, malah mereka jadi semangat juga. Saya enggak malu, enggak canggung, karena saya yakin tenaga saya ini bisa berguna,” tuturnya dengan wajah berbinar. 

Keterlibatan Nimah memberi warna tersendiri di tengah hiruk pikuk pembangunan. Para pekerja dan warga lain melihat keteguhan seorang perempuan yang tidak menyerah pada keadaan. Gotong royong yang ia jalani bersama warga lain semakin memperkuat ikatan sosial di Tanjung Kait. 

Bagi Nimah, setiap tetes keringat adalah doa. Ia percaya bahwa usahanya ini akan meninggalkan kenangan indah, bukan hanya karena ia membantu membangun rumahnya sendiri, tetapi juga karena ia ikut membangun masa depan kampungnya. 

Kini, rumah baru Nimah memang belum selesai sepenuhnya. Ia masih sibuk membantu proses akhir, mulai dari mengamplas hingga mengecat dinding. Meski begitu, ada harapan besar yang ia titipkan pada rumah itu. “Saya berharap rumah baru ini bisa memberi kebahagiaan lahir dan batin. Bisa jadi tempat aman untuk saya dan anak-anak, tempat untuk kami berkumpul tanpa takut banjir atau atap bocor lagi,” ujarnya penuh harap. 

Harapan Nimah sederhana, tetapi sarat makna. Ia ingin rumah barunya kelak menjadi sumber ketenangan, tempat yang membuatnya merasa tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang bencana, dan menjadi simbol semangat baru dalam hidupnya. 

Keterlibatan Nimah ini merupakan bentuk kontribusi nyata warga dalam proses pembangunan rumah layak huni di kampungnya, sekaligus semangat nyata bagaimana peran perempuan bisa memberi dampak positif (2/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Sejarah Baru Dimulai: Revitalisasi Kampung Tanjung Kait Demi 110 Keluarga Dapatkan Kepemilikan Tanah dan Rumah Layak Huni

Perempuan dan Ruang Partisipasi 

Lebih dari sekadar membangun rumah, kisah Nimah juga menyingkap isu penting yakni, keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan komunitas. Selama ini, pekerjaan konstruksi sering dianggap hanya urusan laki-laki. Namun, kehadiran Nimah membuktikan bahwa perempuan juga mampu mengambil peran aktif, meski dengan segala keterbatasan. 

Semangat Nimah adalah gambaran nyata bagaimana pemberdayaan perempuan bisa memberi dampak positif. Kehadirannya di lokasi pembangunan menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya menunggu hasil, melainkan juga bisa menjadi bagian dari proses. Di Tanjung Kait, suara dan tenaga perempuan ikut membangun pondasi bukan hanya rumah, tetapi juga kebersamaan dan kemandirian masyarakat. 

Dari kisah ini juga mengajarkan bahwa kontribusi tidak selalu diukur dari besarnya harta atau banyaknya materi yang diberikan. Dalam keterbatasannya, Nimah tetap mampu memberi sumbangsih besar melalui tenaga, semangat, dan ketekunan. Kisah ini sekaligus menjadi cerminan bahwa revitalisasi kampung bukan hanya tentang membangun rumah, melainkan juga tentang membangun manusia mulai dari kesadaran, kemandirian, dan partisipasi, termasuk dari kaum perempuan. 

Akhir kata, Ibu Nimah berdiri sebagai simbol sederhana yang menyimpan arti besar bahwa setiap orang, siapa pun dia, mampu menjadi bagian dari perubahan. 

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HU – HFHI Prudential – 01
Kisah Perubahan

Rumah Layak Jadi Tumpuan Hidup Keluarga Ibu Imas

Bogor, 30 September 2025 – Ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan dari wajah Imas Laelasari (52). Senyum itu lahir dari hadirnya sebuah rumah layak nan sederhana yang membawa rasa aman, ketenangan, sekaligus secercah harapan baru bagi dirinya dan ketiga anaknya. Di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, rumah dengan dinding berkelir merah dan abu itu kini berdiri kokoh, menggantikan bangunan lama yang rapuh dan penuh perasaan resah. 

Sejak 2015, Imas menempati rumah yang jauh dari kata layak. Bangunan tanpa struktur kuat itu membuat dinding retak di berbagai sisi. Atap bocor, lantai keramik hancur, dan setiap malam ia harus berdoa agar rumah tidak runtuh menimpa keluarga kecilnya. “Waktu itu malam hari saya sedang menonton TV bersama anak pertama saya, tiba-tiba atap genteng jatuh roboh. Panik sekali saya. Saya khawatir sewaktu-waktu bisa menimpa saya dan anak-anak,” kenang Imas. 

Doa agar rumahnya bisa kembali layak selalu ia panjatkan. Ia masih teringat pesan mendiang suaminya sebelum berpulang delapan tahun lalu, “Rumah ini jangan sampai dijual, ya Mah, supaya bisa ditempati anak-anak kita nanti.” Pesan itu tertanam kuat, sehingga meski kondisi rumah memburuk, ia tetap bertahan. Namun, memperbaiki rumah bukan hal mudah. Untuk kebutuhan sehari-hari saja, Imas hanya bisa mengandalkan penghasilan anak-anaknya yang sering kali tidak menentu. 

“Kalau rumah ini roboh, saya benar-benar bingung harus tinggal di mana. Makanya saya cuma bisa berdoa semoga ada jalan keluar,” ucap Imas lirih. 

Imas menunjukkan kondisi rumahnya yang tidak layak huni sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia dan Prudential Indonesia di Gunung Putri, Bogor (18/1). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Rumah Layak Ubah Masa Depan Keluarga Iqballudin

Jawaban itu akhirnya datang. Habitat for Humanity Indonesia bersama Prudential Indonesia melalui Program Desa Maju Prudential hadir membangun kembali rumah milik Imas. Dindingnya kini berdiri kokoh, atapnya kuat, lantainya rapi, dan ruangan dalamnya jauh lebih nyaman. Toilet yang dulu membuatnya takut karena pernah dimasuki ular, kini sudah bersih dan aman digunakan. 

“Alhamdulillah, Ibu senang sekali dan banyak-banyak terima kasih kepada semuanya yang telah membantu keluarga Ibu. Sekarang keadaan jauh lebih berubah. Ibu udah enggak pernah takut atau khawatir lagi rumah bakalan roboh,” tutur Imas dengan lega. 

Lebih dari sekadar bangunan rumah, yang hadir bagi Imas adalah rasa aman. Ia tidak lagi cemas dinding retak akan runtuh, tidak lagi khawatir pencuri mudah masuk, dan tidak lagi waswas ketika hujan deras turun.  

Rumah ini juga turut memunculkan semangat baru. Tak berselang lama setelah berdiri, Imas mencoba mencari modal untuk berjualan makanan ringan di depan rumah. Ia ingin memanfaatkan ruang baru itu sebagai titik awal usaha kecil, agar bisa sedikit demi sedikit mandiri. 

“Rumah itu hartanya Ibu. Andai saja Bapak masih ada, pasti beliau juga senang lihat rumah ini,” ucapnya sambil menahan haru. 

Imas menata dagangan di warung kecil depan rumahnya yang telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Prudential Indonesia di Gunung Putri, Bogor (28/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan yang dirasakan Imas sejalan dengan tujuan besar Program Desa Maju Prudential tahap ketiga yang berjalan sejak November 2024. Program ini tidak hanya membangun rumah seperti milik Imas, tetapi juga memberi dampak luas bagi komunitas. Ada 27 unit rumah layak huni baru yang dibangun, 21 unit toilet rumah tangga baru, serta renovasi 4 fasilitas pendidikan dan umum. Selain itu, program ini menyediakan mesin untuk mengubah sampah menjadi biji plastik, mengadakan pelatihan pengolahan sampah bagi 210 peserta, melatih 75 pengurus pengolahan sampah, hingga memberikan edukasi tentang konstruksi dasar rumah sehat, perilaku hidup bersih dan sehat, serta mitigasi bencana bagi masyarakat. 

Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya dinilai sebagai tempat berteduh. Namun bagi Imas, rumah baru ini adalah simbol kehidupan baru. Dari rumah ini, ia kembali menemukan semangat, harapan, dan keberanian untuk melangkah maju bersama anak-anaknya. 

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)