logotype
Donate

Kategori: Kabar Habitat

HFHI – Sibolga
Kabar Habitat

Ribuan Warga Sibolga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir dan Longsor; Habitat for Humanity Indonesia Ajak Publik Bergerak Pulihkan Rumah Layak Huni

Sibolga, 5 Januari 2026 – Bencana banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang melanda bagian utara Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 telah meninggalkan duka mendalam. Jutaan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka hancur diterjang material longsor dan luapan sungai. Menanggapi krisis ini, Habitat for Humanity Indonesia menyerukan aksi solidaritas nasional untuk membantu proses pemulihan hunian bagi keluarga terdampak, khususya di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Berdasarkan laporan Rapid Assessment yang dilakukan Tim Rapid Assessment Habitat Indonesia pada periode 11–21 Desember 2025, tercatat 633 unit rumah rusak, dengan 311 di antaranya mengalami kerusakan berat yang membuat warga kehilangan tempat bernaung yang aman. Kondisi penyintas banjir dan longsor di Sibolga kini memasuki fase kritis. Laporan terbaru Joint Needs Assessment (JNA) 2025 mengungkapkan bahwa lebih dari 57% total rumah warga yang terdampak sudah tidak aman lagi untuk ditinggali. Habitat for Humanity Indonesia kini menyerukan tindakan segera dari seluruh lapisan masyarakat untuk membantu ribuan jiwa yang kehilangan tempat tinggal dan akses kesehatan dasar.

Krisis Kemanusiaan di Tengah Reruntuhan

Saat ini, diperkirakan 7.276 jiwa mengungsi. Wilayah Sibolga Selatan dan Sibolga Utara menjadi titik paling kritis, di mana ratusan rumah di lereng perbukitan dan bantaran sungai mengalami kerusakan struktural serius.

“Rumah bukan sekadar bangunan, ia adalah benteng perlindungan terakhir bagi sebuah keluarga. Di Sibolga, benteng itu runtuh bagi ratusan keluarga,” ujar Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia. “Kami hadir di lapangan tidak hanya untuk mendata kerusakan, tetapi untuk memastikan bahwa mereka bisa kembali ke rumah yang lebih aman, lebih layak, dan lebih tangguh terhadap bencana di masa depan.”

Langkah Nyata Habitat Indonesia di Lapangan

Habitat Indonesia telah menyusun rencana respon kemanusiaan tahun pertama yang berfokus pada:

  • Distribusi Recovery Shelter Kit (aneka alat menukang untuk perbaikan rumah): Menargetkan bantuan kepada 1.000 keluarga.
  • Perbaikan Hunian: Melakukan repair dan retrofitting (penguatan struktur) untuk 500 rumah.
  • Pemulihan Water, Sanitation, and Hygiene (WASH): Menyediakan akses air bersih, layanan sanitasi, serta pelatihan praktik membangun kembali dengan lebih aman (build back safer).
  • Dukungan di bidang Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI): Memastikan kelompok rentan (perempuan kepala rumah tangga, lansia, dan disabilitas) mendapatkan akses pasar dan bantuan tunai secara aman dan inklusif.

Panggilan Kemanusiaan: Mari Membangun Kembali

Pemulihan pascabencana membutuhkan sumber daya yang besar. Habitat for Humanity Indonesia mengajak sektor swasta, komunitas, dan individu untuk berkontribusi dalam misi kemanusiaan ini. Setiap dukungan yang diberikan akan disalurkan langsung untuk pengadaan material bangunan, alat pertukangan, dan pendampingan teknis pembangunan hunian yang aman.

Habitat for Humanity Indonesia mengajak Anda untuk mewujudkan harapan warga Sibolga melalui laman kitabisa.com/bangunharapansibolga atau melalui rekening donasi resmi Habitat for Humanity Indonesia: Bank BCA: 210-3002-958 (Habitat Kemanusiaan Ind Yay)

Mohon tambahkan angka ’26’ di akhir nominal donasi Anda (contoh: IDR 100.026) untuk membantu kami mengidentifikasi kontribusi Anda.

“Kami mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi. Dengan donasi Anda, kita tidak hanya memberikan atap, tetapi memberikan harapan baru bagi warga Sibolga untuk membangun dan menata kembali masa depan mereka,” tambah Arwin.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – 2025
Kabar Habitat

Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Jakarta, 31 Desember 2025 — Menjelang akhir perjalanan panjang di tahun 2025, Habitat for Humanity Indonesia ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para donatur, mitra, lembaga, sukarelawan, dan setiap individu yang telah berjalan berdampingan bersama kami sepanjang tahun ini.

Terima kasih atas waktu yang telah Anda bagikan. Atas energi yang telah Anda curahkan. Atas sumber daya yang ditawarkan dengan hati yang tulus. Di atas segalanya, terima kasih karena telah mempercayai visi sederhana namun kuat, bahwa setiap keluarga berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Setiap langkah yang diambil tahun ini lebih dari sekadar aktivitas. Setiap rumah yang kini berdiri tegak lebih dari sekadar bangunan. Setiap cerita yang kami dengar lebih dari sekadar laporan. Masing-masing adalah jejak kebaikan — sebuah warisan yang menetap dalam kehidupan keluarga-keluarga yang kini memiliki ruang aman untuk tumbuh, pulih, dan merencanakan masa depan yang lebih baik.

Saat kami menoleh ke belakang dan menelusuri kembali jalan kami sepanjang tahun 2025, kami menyadari bahwa dampak kolektif dari tindakan kita telah menjangkau jauh melampaui apa yang terlihat oleh mata.

Sejak tahun 1997 Habitat for Humanity hadir di Indonesia, kerja kolaboratif ini telah membantu 219.704 keluarga mencapai stabilitas, kemandirian, dan kesejahteraan. Sebanyak 39.870 rumah layak huni telah dibangun, menghadirkan keamanan yang telah lama dinantikan bagi ribuan keluarga.

Selain hunian, kami juga memperluas akses sanitasi dan air bersih. Sebanyak 31.842 fasilitas sanitasi yang memadai dan berbagai sumber air bersih kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak keluarga. Sementara itu, 787 fasilitas umum telah dibangun untuk memperkuat komunitas lokal.

Di balik angka-angka ini, terdapat tangan-tangan tak terhitung jumlahnya yang bekerja tanpa lelah di Indonesia selama lebih dari 28 tahun. Ada 54.747 sukarelawan Habitat yang tidak hanya mengangkat batu bata dan membangun dinding, tetapi juga menanam harapan. Terdapat pula inisiatif pengembangan pasar perumahan yang menjangkau 73.987 individu, membuka ekosistem yang lebih inklusif bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Berkat kedermawanan dan kasih sayang dari #SahabatHabitat, sebanyak 988.668 individu di seluruh Indonesia kini merasakan manfaat nyata dari program-program ini — mulai dari Batam, Tangerang, Bogor, Karawang, Garut, Cilegon, Palembang, Yogyakarta, Gresik, Kupang, hingga Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.

Ringkasan data capaian Habitat for Humanity Indonesia selama 28 tahun, mulai dari program rumah layak huni hingga program peningkatan kualitas hidup masyarakat. Infografis: HFHI/Tias Ester Widhari

Di antara ratusan ribu kisah yang ada, salah satunya mencerminkan perjalanan banyak keluarga. Amalia, penerima manfaat rumah layak huni di Mauk, Kabupaten Tangerang, telah menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam kondisi yang tidak aman, terus-menerus khawatir akan kebocoran saat hujan deras. Setiap malam, ia hanya bisa berharap anak-anaknya tetap sehat dan tidak merasa takut.

Hari ini, ekspresinya berubah saat ia menceritakan kehidupan barunya. “Di sini, saya akhirnya merasa seperti seorang ibu yang benar-benar memiliki tempat untuk melindungi anak-anak. Anak saya bisa belajar tanpa rasa khawatir, dan saya bisa memikirkan masa depan mereka dengan tenang. Rasanya seperti diberikan kesempatan kedua untuk menata kembali hidup kami,” tuturnya.

Kisah Amalia mengingatkan kita bahwa sebuah rumah bukan sekadar dinding dan atap. Rumah adalah sebuah awal — tempat di mana nilai-nilai, kasih sayang, pendidikan, dan harapan dipupuk.

Kontribusi Anda telah membantu mengurangi jumlah keluarga yang masih tinggal di hunian yang tidak layak. Namun, jika kita hanya fokus pada statistik, kita berisiko kehilangan makna mendalam dari perjalanan ini. Dampak yang sesungguhnya terletak pada hari-hari panjang di lapangan, keputusan-keputusan sulit, ketekunan dalam menghadapi rintangan, dan emosi yang dibagikan kepada keluarga-keluarga yang terus bertahan. Inilah yang mengubah perubahan menjadi kenyataan.

Menyambut 2026: Lanjutkan Harapan, Perkuat Kepedulian

Memasuki tahun 2026, Habitat for Humanity Indonesia dengan rendah hati memohon doa dan dukungan Anda. Tahun depan, kami akan memulai program pemulihan pascabencana selama dua tahun di Sibolga, Sumatera Utara.

Pada pertengahan Januari 2026, tim Habitat akan mendistribusikan shelter kits kepada 1.000 keluarga penyintas sebagai langkah awal untuk membangun kembali kehidupan mereka. Bagi siapa pun yang ingin menjadi bagian dari perjalanan pemulihan ini, Anda dapat berkontribusi melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Menyambut tahun baru, kami melangkah dengan keyakinan yang diperbarui—keyakinan bahwa setiap langkah kecil sangat berarti, dan ketika kita bergerak bersama, perubahan dapat terjadi berulang kali, berlipat ganda dengan cara yang mungkin tidak kita duga sebelumnya.

Habitat for Humanity Indonesia bangga dapat terus membangun masa depan bersama keluarga-keluarga di seluruh negeri—tidak hanya hari ini, tetapi juga di tahun-tahun mendatang.

Dengan rasa syukur yang mendalam, kami mengucapkan:

Terima kasih atas kepercayaan Anda,

terima kasih atas kerja keras Anda,

dan terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga besar Habitat for Humanity Indonesia.

Kami menantikan tahun-tahun ke depan yang penuh dengan kolaborasi, pertumbuhan, dan kisah-kisah luar biasa bersama Anda.

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Climate
Kabar Habitat

Dorong Strategi “Climate Resilient Housing 2030”, Habitat for Humanity Indonesia Gandeng Kolaborasi Lintas Sektor

Jakarta, 23 Desember 2025 – Perumahan yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan nasional bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan menyatakan bahwa hampir 80% bencana di Indonesia terkait hidroklimatologi (banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang/badai). Dampak ini sangat memukul masyarakat terutama wanita di permukiman informal dengan dampak kesehatan dan biaya hidup akibat kekeringan, kenaikan suhu dan naiknya permukaan laut.

Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Boby Wahyu Hernawan, menyampaikan dalam media briefing Kemenkeu (29 Mei 2024) tanpa langkah adaptasi serius, perubahan iklim diproyeksikan merugikan Indonesia hingga 2,87% dari PDB setiap tahunnya pada 2045.

Dalam sambutannya, Handoko Ngadiman (Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia) menyatakan, “Bagi keluarga besar Habitat for Humanity, perumahan tangguh iklim bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah per tahun adalah peluang strategis untuk memasukkan prinsip ketangguhan dan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan. Selain itu, kami menyadari pentingnya skema pembiayaan yang inklusif dan fleksibel—seperti pembiayaan mikro dan peningkatan rumah secara bertahap—agar keluarga berpenghasilan rendah, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan kelompok rentan tidak tertinggal. Pembiayaan yang inklusif ini juga diperlukan untuk membiayai perbaikan rumah menjadi adaptif terhadap iklim.”

Kolaborasi Strategis dan Kebijakan

Lokakarya yang dimoderatori oleh Dr. Saut Sagala (Global Resilience Specialist dari RDI dan Associate Professor dari ITB) menghadirkan para pakar dari berbagai institusi untuk menyelaraskan kebijakan adaptasi. Berdasarkan hasil curah gagasan, lokakarya ini merumuskan beberapa Temuan Kunci:

  • Ketahanan iklim di bidang perumahan telah dimandatkan dalam RPJPN-RPJMN dan terhubung dengan sektor air, sanitasi, serta tata ruang hingga level rumah tangga.
  • Implementasi di tingkat tapak masih belum konsisten meskipun perumahan merupakan bagian penting agenda adaptasi nasional.
  • Desain “passive cooling” berbasis kondisi lokal (seperti hasil kajian di Desa Wunung, Kabupaten Gunung Kidul) efektif meningkatkan kualitas udara dan kesejukan rumah.

“Program pembangunan rumah nasional merupakan peluang unik untuk memasukkan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan pemerintah. Kita perlu memastikan adanya enabler berupa kerangka kerja dan regulasi yang mendukung keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, agar target hunian layak dan tangguh tahun 2030 dapat tercapai,” Ira Lubis, ST., MIDP, Koordinator Bidang Perumahan, Kementerian PPN/Bappenas, menekankan pentingnya integrasi kebijakan

Khairunnisa Destyany Qatrunnada, S.Si., Staf Ahli Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, mewakili Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, menambahkan terkait aspek mitigasi dan adaptasi, “Mengadaptasi bangunan untuk menghadapi perubahan iklim dan mengurangi emisi adalah dua hal yang saling memperkuat. Kami mendukung langkah-langkah teknis seperti penggunaan material rendah karbon dan sistem drainase yang lebih baik untuk menjaga kohesi komunitas di lokasi asli mereka.” Selain itu, Prof. Ir. Suparwoko, MURP., Ph.D. (Universitas Islam Indonesia), juga menyoroti pentingnya panduan teknis perumahan adaptif yang kontekstual bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Ekosistem Pembiayaan dan Ekonomi Sirkular

Lokakarya ini juga membahas inovasi finansial bersama Tadianto Slamet Saputro dari Komida, yang menekankan pentingnya indikator ketangguhan yang dirancang secara bertahap agar peningkatan rumah tetap terjangkau bagi komunitas MBR. Di sisi lain, Novita Tan (Co-founder dan CEO Rebricks) memaparkan potensi ekonomi sirkular dalam sektor konstruksi untuk mengurangi risiko iklim sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Rekomendasi Utama Lokakarya

Sebagai hasil dari diskusi intensif, Habitat for Humanity Indonesia merangkum rekomendasi berikut:

  • Pendekatan Berbasis Bukti: Mengutamakan evidence-based design dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pada program perumahan MBR.
  • Inklusi Komunitas: Memprioritaskan intervensi dengan pemanfaatan material lokal dan penguatan kapasitas tukang setempat melalui pelatihan.
  • Pilot Project: Melaksanakan studi percontohan untuk menguji efektivitas panduan teknis di berbagai wilayah, terutama di wilayah rawan bencana.

Habitat for Humanity Indonesia berharap hasil lokakarya ini menjadi landasan kolaborasi jangka panjang melalui skema Public Private Partnership (PPP) demi mewujudkan hunian yang tangguh bagi masa depan Indonesia.

(av/as)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Awali Program Pemulihan Pasca Banjir Sumatera, Habitat for Humanity Indonesia Lakukan Kajian Cepat Pascabencana di Sibolga

Sibolga, 12 Desember 2025 – Lebih dari dua pekan pasca banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, puluhan ribu keluarga masih berada dalam kondisi sulit. Lebih dari 157.800 rumah rusak dan ratusan ribu warga masih mengungsi (BNPB, 12 Desember 2025). Di banyak titik, warga belum dapat kembali karena kondisi lingkungan yang belum aman dan rumah yang hancur diterjang material longsor.

Di Kota Sibolga, Sumatera Utara, dampak kerusakan juga sangat besar. Menurut laporan BPBD Kota Sibolga per 12 Desember 2025, sedikitnya 7.276 jiwa mengungsi, sementara 665 rumah mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat. Situasi ini membuat kebutuhan akan hunian, sanitasi, dan akses air bersih semakin mendesak, terutama di wilayah yang berada dekat tebing perbukitan dan bantaran sungai.

Asesmen di Lokasi Paling Terdampak

Sejak 10 Desember 2025, tim Habitat for Humanity Indonesia telah berada di Sibolga untuk melakukan asesmen cepat (rapid assessment) guna memetakan kebutuhan mendesak masyarakat khususnya rumah layak huni. Fokus utama pencatatan awal dilakukan di wilayah yang mengalami kerusakan terparah, yaitu Kecamatan Sibolga Utara, meliputi Kelurahan Simare Mare, Angin Nauli, dan Huta Tonga Tonga.

Di Kelurahan Simare Mare, tim menemukan puluhan rumah hancur tersapu banjir bandang dan longsoran material kayu serta batu dari bukit. Banyak keluarga harus meninggalkan rumah tanpa sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

Riang (43), salah satu penyintas yang kini mengungsi di gedung Bank Indonesia, menggambarkan detik-detik terjadinya bencana. “Seharian itu hujan deras dan mati lampu. Sekitar setengah satu malam, saya dengar suara gemuruh batu. Saat itu juga kami lari ke bawah, tak sempat selamatkan apa pun. Rumah saya hancur…,” ujarnya.

Kerusakan juga terjadi di Kelurahan Angin Nauli, di mana sejumlah rumah berdiri di atas daerah aliran sungai (DAS) dan tepi Sungai Aek Doras. Saat banjir bandang pada 25 November 2025, material lumpur, batu, dan kayu menyapu wilayah tersebut dan memicu gelombang air dari bukit menuju dataran rendah. Rumah-rumah mengalami kerusakan beragam dari ringan hingga sedang.

Pilu mendalam juga dirasakan warga Kelurahan Huta Tonga Tonga. Sebanyak 71 kepala keluarga terdampak, dan 51 rumah mengalami rusak berat setelah material pasir setinggi 1,5–2 meter masuk dan menimbun bagian dalam rumah mereka.

Ronald (55), salah satu warga yang memilih bertahan di rumahnya yang hampir tertutup pasir, bercerita kepada tim Habitat for Humanity Indonesia, “Saya tidur di atas sisa kasur yang sudah hampir menyentuh atap. Saya tetap tinggal karena ingin jaga rumah, takut barang dijarah. Tapi tiap hari pasir makin naik… rumah ini hampir tertimbun.”

Cerita para penyintas menggambarkan betapa tingginya kebutuhan akan bantuan pemulihan rumah dan pembersihan lingkungan di Sibolga.

Habitat Indonesia Siapkan Intervensi Dua Tahun untuk Pemulihan Sibolga

Berdasarkan hasil asesmen dan koordinasi di lapangan, Habitat for Humanity Indonesia merencanakan intervensi pemulihan selama dua tahun di Kota Sibolga dan wilayah sekitarnya.

Di tahun pertama, Habitat Indonesia akan berfokus pada dukungan darurat dan perbaikan dasar bagi keluarga terdampak, meliputi:

  • Distribusi shelter kit untuk 500 keluarga
  • Dukungan rubble removal equipment/assistance untuk membantu pembersihan material longsor
  • Perbaikan 500 rumah dengan penguatan struktur (retrofitting)
  • Pengembalian akses sanitasi dan air bersih (WASH)
  • Pelatihan WASH dan Build Back Safer untuk komunitas

Di tahun kedua, Habitat Indonesia akan membangun kembali 300 rumah layak huni berbasis kawasan bagi keluarga terdampak, dengan standar ketahanan lebih baik agar risiko bencana dapat diminimalkan di masa depan.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Habitat Indonesia untuk membantu para penyintas kembali memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan bermartabat.

#Bersama, Bangun Sumatera

Di tengah masa-masa sulit ini, dukungan dari berbagai pihak sangat berarti. Habitat for Humanity Indonesia mengajak masyarakat dari berbagai elemen, baik individu, korporasi, dan para mitra untuk turut serta dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan keluarga terdampak bencana di Sibolga.

Bagi Sahabat Habitat yang ingin berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini, donasi dapat disalurkan melalui BCA: 210-3002-958 (Habitat Kemanusiaan Ind Yay). Informasi lebih lengkap dapat dilihat pada flyer di bawah.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Pakuwon
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia dan Pakuwon Group Lanjutkan Kolaborasi Bangun Hunian Layak di Gresik

Gresik, 11 Desember 2025 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Group kembali melanjutkan komitmen bersama dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya untuk mengurangi angka jutaan keluarga yang masih tinggal di hunian tidak layak.  

Upaya ini diperkuat melalui program CSR Pakuwon Group yang pada tahun ini diarahkan untuk pembangunan 21 unit rumah layak huni di Desa Campurejo, Panceng, Kabupaten Gresik. Pembangunan tersebut secara resmi dimulai dengan seremoni peletakan batu pertama pada Kamis (4/12) lalu. 

Pada kesempatan ini, Bupati Gresik yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Fisik dan Prasarana, Johar Gunawan, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap sinergi yang terbangun dalam program ini. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas permukiman menjadi komitmen serius Pemerintah Kabupaten Gresik.  

Berdasarkan data Dinas Cipta Karya, Perumahan, dan Kawasan Permukiman serta Bappeda, terdapat 145 unit rumah yang menjadi sasaran peningkatan kualitas permukiman, serta 90 unit rumah baru yang dibangun sebagai lokasi relokasi warga dari tanah kas desa. 

“Dari 90 unit tersebut, 69 unit dibiayai negara dan 21 unit difasilitasi melalui CSR Pakuwon Group bersama Habitat for Humanity Indonesia. Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini dan berharap keluarga-keluarga dapat menjaga rumah yang telah dibangun,” ujar Johar Gunawan. 

Dukungan serupa disampaikan oleh Habitat for Humanity Indonesia melalui Abraham Tulung, Resources Development General Manager. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari perjalanan panjang Habitat Indonesia dalam membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga berpenghasilan rendah.  

“Habitat for Humanity Indonesia telah hadir lebih dari 10 tahun membangun hunian layak, menyediakan akses air bersih, serta menghadirkan community center dan sarana toilet bagi keluarga-keluarga yang termasuk dalam kategori desil 1 dan desil 2,” ujarnya. 

Direktur Pakuwon Group, Saibun Wijaya, juga menekankan pentingnya hunian yang aman sebagai fondasi bagi keluarga untuk berkembang. “Rumah yang kami bangun bersama Habitat Indonesia ini diharapkan dapat membantu pemilik rumah merencanakan masa depan dan membuka harapan baru bagi mereka,” katanya. 

Kolaborasi ini menjadi wujud nyata bagaimana sektor swasta, organisasi nirlaba, dan pemerintah daerah dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan solusi perumahan yang berkelanjutan. Dengan pembangunan 21 unit rumah layak huni ini, Desa Campurejo tidak hanya mendapat infrastruktur baru, tetapi juga peluang bagi warganya untuk memulai perjalanan menuju kehidupan yang lebih aman, sehat, dan bermartabat. 

(kh/av)

HFHI – PropCon Golf
Kabar Habitat

PropCon Golf Club Bersama Habitat for Humanity Indonesia Dorong Dampak Nyata Melalui Golf

Jakarta, 8 Desember 2025 – PropCon Golf Club kembali menyelenggarakan turnamen golf tahunannya bertajuk 17th Interdesign PropCon Not Another End of Year Golf Tournament 2025, yang sukses digelar pada Sabtu, 6 Desember 2025 di Damai Indah Golf – BSD Course. Ajang ini menjadi ruang temu para pegolf dari berbagai latar belakang, sekaligus wadah kolaborasi untuk menciptakan dampak sosial. 

Untuk kedua kalinya, PropCon Golf Club menggandeng Habitat for Humanity Indonesia sebagai charity partner, menegaskan komitmen berkelanjutan dalam mendukung akses sanitasi dan pendidikan yang layak. Melalui turnamen ini, berhasil dihimpun dana sebesar Rp103.000.000,-. 

Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk mendukung renovasi 5 unit toilet sekolah serta pembangunan 1 unit toilet baru di MTs–MA Batamiyah, Batam, guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan aman bagi para siswa. 

“Kami percaya bahwa olahraga dapat menjadi jembatan kolaborasi sekaligus sarana berbagi. Melalui turnamen ini, kami ingin menghadirkan dampak nyata yang bisa langsung dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” ujar Bapak Desmond Kandiawan, Ketua Propcon Golf Club. 

Sementara itu, Habitat for Humanity Indonesia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kolaborasi yang terus terjalin. “Ini merupakan sebuah kehormatan bagi Habitat Indonesia untuk kedua kalinya dipercaya sebagai charity partner oleh PropCon Golf Club. Dukungan PropCon Golf Club menjadi bagian penting dalam upaya kami memastikan sekolah memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Dari lapangan golf, harapan itu dibangun bersama,” ungkap Abraham Tulung, Resource Development General Manager Habitat for Humanity Indonesia. 

Turnamen berlangsung dengan suasana kompetitif namun tetap hangat dan bersahabat, mencerminkan semangat kebersamaan di antara para peserta. Lebih dari sekadar penutup tahun, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi mampu menghadirkan perubahan positif bagi masa depan generasi muda Indonesia. 

Simak tayangan video di bawah ini untuk melihat bagaimana kolaborasi Habitat for Humanity Indonesia dan PropCon Golf Club telah memberikan dampak nyata bagi dua sekolah di Karawang dan Gresik pada program sebelumnya:

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Syefira Salsabilla

(ia/kh)

HFHI – Centratama
Kabar Habitat

Akses Literasi Digital Baru bagi Siswa SMPN 1 Pakem

Sleman, 21 November 2025 – Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Centratama Group kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan literasi pendidikan di Indonesia melalui pembangunan perpustakaan digital di SMP Negeri 1 Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang inklusif dan modern dapat diwujudkan melalui sinergi antara sektor swasta dan lembaga sosial. 

Peresmian fasilitas tersebut dilakukan secara simbolis melalui pemotongan pita dan dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, Chief of Finance Officer PT Centratama Group, Caba Pinter, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, serta jajaran tenaga pendidik SMPN 1 Pakem. 

Program ini tidak hanya membangun ruang perpustakaan baru, tetapi juga melakukan renovasi menyeluruh, mulai dari pengerjaan bangunan, pengecatan mural, hingga penyediaan fasilitas pendukung seperti karpet, meja dan kursi belajar, sofa, LED TV, sound system, AC, komputer, dan berbagai furnitur lainnya. Semua fasilitas tersebut dirancang untuk menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman dan modern. 

PT Centratama Group juga memastikan bahwa teknologi menjadi elemen utama dalam transformasi ini. Mereka berkontribusi dalam instalasi software serta pelatihan penggunaan aplikasi Edoo, platform perpustakaan digital yang menyediakan lebih dari 1.000 e-book dari berbagai kategori. Handoko Ngadiman menjelaskan bahwa “Selama 10 tahun di SMPN 1 Pakem baru mendapatkan 1.000 buku cetak, namun dalam tiga minggu ini siswa sudah memiliki akses pada e-book sebanyak 487 buku dengan 709 salinan. Hal ini diharapkan dapat semakin meningkatkan dampak baik kepada siswa khususnya dunia literasi.” 

Baca juga: Pojok Baca Digital: Memperkaya Kesempatan Belajar Bersama

Dari pihak Centratama, Caba Pinter menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memperkuat pendidikan berbasis teknologi di Indonesia. “Program ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan kami. Kami percaya bahwa literasi digital merupakan fondasi penting untuk masa depan, dan melalui fasilitas ini kami ingin memastikan para siswa memiliki akses yang luas terhadap sumber belajar modern,” ujarnya. 

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menilai inisiatif ini sebagai langkah strategis dalam membangun budaya literasi di kalangan pelajar. Ia mengatakan, “Kehadiran perpustakaan digital ini tidak hanya menambah fasilitas belajar, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memperkuat literasi bagi anak-anak kita. Jadi, harapan saya fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena semaju apa pun teknologi, kalau tidak dimanfaatkan, tidak ada gunanya.” 

Dengan adanya perpustakaan digital, siswa dan guru kini dapat mengakses berbagai sumber bacaan kapan pun dan di mana pun melalui smartphone mereka. Selain meningkatkan mutu proses pembelajaran, fasilitas ini juga diharapkan mampu mendukung peningkatan prestasi akademik serta menjadi nilai tambah dalam penguatan akreditasi sekolah melalui pemanfaatan teknologi. 

Kepala SMPN 1 Pakem, Titin Sumarni, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menutup dengan mengatakan, “Harapannya ini dapat meningkatkan kompetensi literasi dan minat baca siswa-siswi kami. Terbukti dalam waktu tiga minggu setelah aktivasi dan pelatihan, sudah ada 145 digital buku yang diakses. Dengan adanya perpustakaan digital, ini lompatan yang luar biasa.”

Foto & Video: HFHI/Budi Ariyanto

(kh)

HFHI – Housing System
Kabar Habitat

Menuju Sistem Perumahan yang Lebih Inklusif

Jakarta, 17 November 2025 – Sekitar 2,8 miliar orang di seluruh dunia masih hidup tanpa hunian yang layak—angka yang mencengangkan, setara dengan sepertiga umat manusia yang setiap hari menghadapi risiko perubahan iklim yang semakin parah. Pemerintah dan berbagai lembaga perumahan telah bertahun-tahun berupaya mencari solusi, membangun program, dan merumuskan sistem untuk menjawab tantangan ini. Namun kenyataannya, defisit perumahan global tetap membesar, diperburuk oleh urbanisasi yang cepat, bencana yang makin intens, dan pemanasan global yang tidak menunjukkan tanda melambat.

Tantangan terbesar hari ini bukan hanya tentang membangun lebih banyak rumah, tetapi menyatukan berbagai sistem yang seharusnya saling mendukung dalam menyediakan hunian layak bagi masyarakat.

Mengurai Kerumitan Sistem Perumahan

Berbagai pihak—dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga sektor swasta—memiliki peran dan keahlian masing-masing dalam mendukung akses masyarakat terhadap perumahan yang layak. Namun, pendekatan yang masih terkotak-kotak dan praktik lama yang sulit berubah kerap menghambat integrasi upaya-upaya tersebut.

Melihat besarnya kebutuhan, perbaikan kecil tidak lagi memadai. Hanya membangun rumah atau merencanakan permukiman baru tidak akan menyelesaikan masalah. Tantangan yang lebih besar terletak pada bagaimana sistem yang mengatur akses masyarakat terhadap perumahan itu sendiri dapat diperbaiki. Sebab perumahan bukanlah satu sistem tunggal, melainkan jaringan kompleks yang mencakup pasar, institusi, kebijakan, hingga norma sosial.

Jika hambatan antar-sistem ini dapat diruntuhkan, sektor perumahan dapat berkembang menjadi ruang yang lebih kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Foto bersama para peserta workshop TCIS, yang menghabiskan beberapa hari di Jakarta untuk berbagi ide, pengalaman, dan strategi dalam mendorong solusi perumahan yang lebih tangguh bagi keluarga berpenghasilan rendah. Foto: HFHI/Astridinar Vania

Satu Langkah Kecil Menuju Perubahan Lebih Besar

Sepekan lalu, langkah menuju perubahan itu mulai terlihat ketika Terwilliger Center for Innovation in Shelter (TCIS) menyelenggarakan lokakarya peningkatan kapasitas bagi tim Habitat for Humanity dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.

Habitat for Humanity Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah acara ini, yang menghadirkan pengenalan terhadap systems thinking, human-centered design, dan pengembangan sistem pasar—tiga pendekatan penting untuk memperkuat ekosistem perumahan.

Materi yang dibahas memang berat, namun sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi sektor perumahan saat ini. Para peserta pulang dengan pemahaman baru yang lebih tajam serta kemampuan yang lebih kuat untuk menggerakkan solusi perumahan yang benar-benar menjangkau keluarga berpenghasilan rendah yang paling rentan.

Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Scott Merrill, Sheldon Yoder, dan Al Francis Razon, beserta seluruh tim TCIS. Dengan fasilitasi yang cermat dan kolaboratif, mereka mampu menyederhanakan konsep yang kompleks menjadi pengalaman belajar yang reflektif dan mudah diterapkan oleh rekan-rekan Habitat for Humanity dari seluruh kawasan.

Jika semua wawasan yang diperoleh dalam lokakarya ini mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata, bukan tidak mungkin lebih banyak keluarga di Asia-Pasifik akan segera mendapatkan akses ke hunian yang lebih sehat, aman, dan tangguh di masa depan.

Penulis: Arwin Soelaksono/Program Director Habitat for Humanity Indonesia

(kh/av)

HFHI – HFH COP30
Kabar Habitat

Laporan Habitat for Humanity Ungkap Minimnya Dukungan bagi Negara Rentan Perubahan Iklim

BELEM, Brasil (11 November 2025) — Habitat for Humanity International merilis laporan terbaru yang mengungkap bahwa negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim justru belum menjadi prioritas dalam kebijakan iklim nasional maupun pendanaan pembangunan terkait iklim.

Dalam laporan berjudul Climate Action through Housing and Informal Settlements, Habitat menelaah Nationally Determined Contribution (NDC) dari 188 negara, dokumen resmi yang berisi komitmen publik suatu negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim sesuai dengan tujuan Paris Agreement.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar NDC belum memasukkan aspek perumahan secara memadai, padahal sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Selain itu, hanya 11 negara yang menyinggung isu permukiman informal atau kawasan kumuh dalam NDC mereka, meski lebih dari 1 miliar orang di dunia tinggal di wilayah tersebut.

Laporan ini juga menemukan ketidaksesuaian antara komitmen dan pendanaan yakni, beberapa negara dengan komitmen tinggi terhadap perumahan, seperti Bahama dan Benin, justru menerima dukungan finansial yang sangat minim dari pendanaan pembangunan terkait iklim. Sebaliknya, sejumlah penerima dana iklim terbesar memiliki komitmen perumahan yang lemah. Costa Rica menjadi pengecualian yang menonjol karena berhasil menyelaraskan antara komitmen tinggi dan penerimaan dana iklim yang signifikan.

Secara keseluruhan, hanya sekitar 7% dari total pembiayaan pembangunan terkait iklim yang diarahkan untuk peningkatan perumahan secara bertahap di kawasan permukiman informal. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim masih belum menjadi prioritas dalam kebijakan maupun pendanaan global.

“Temuan dalam laporan ini sangat mengkhawatirkan, meskipun sayangnya tidak mengejutkan,” ujar Patrick Canagasingham, Chief Operating Officer Habitat for Humanity International. “Berkali-kali kami melihat bahwa masyarakat yang tinggal di permukiman informal, yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, justru menjadi kelompok yang paling sedikit menerima dukungan dalam hal kebijakan maupun pendanaan. Kami mendesak pemerintah untuk mengintegrasikan aspek perumahan ke dalam NDC mereka demi memastikan ketahanan dan keamanan iklim bagi komunitas rentan di seluruh dunia.”

Rekomendasi Utama bagi Pembuat Kebijakan

Untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi emisi melalui sektor perumahan, Habitat for Humanity menyerukan agar negara-negara mengambil langkah nyata dalam pembaruan NDC berikutnya. Beberapa rekomendasi utama antara lain:

  • Pemerintah perlu mengintegrasikan transformasi perumahan dan permukiman informal ke dalam NDC, rencana adaptasi, serta kerangka kerja pengurangan risiko bencana, dengan target terukur dan intervensi berbasis komunitas.
  • Donor dan lembaga multilateral perlu menjadikan perumahan sebagai investasi strategis berdampak tinggi untuk mencapai ketahanan iklim, dengan memperluas pendekatan yang telah terbukti, meningkatkan transparansi pendanaan, dan menyelaraskan dukungan dengan ambisi iklim nasional.
  • Organisasi masyarakat sipil diharapkan berperan aktif dalam memantau komitmen, mengadvokasi solusi perumahan yang inklusif dan tangguh, serta memperkuat inisiatif berbasis komunitas yang berfokus pada peningkatan hunian, penghidupan, dan ketahanan iklim.

Laporan ini juga menunjukkan perkembangan positif yaitu, dari 20 negara yang memperbarui NDC mereka hingga pertengahan 2025, sebanyak 16 negara meningkatkan komitmen terkait perumahan, termasuk menambahkan fokus baru pada permukiman informal dan perumahan sosial.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai laporan Climate Action through Housing and Informal Settlements atau partisipasi Habitat dalam COP 30, silahkan kunjungi habitat.org/Habitat-COP30

Tentang Habitat for Humanity

Habitat for Humanity merupakan gerakan global yang mengajak masyarakat di berbagai negara untuk bersama-sama membangun komunitas yang lebih sejahtera dan berdaya dengan memastikan setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak, aman, dan terjangkau.

Sejak berdiri pada tahun 1976, Habitat telah membantu lebih dari 62 juta orang di seluruh dunia membangun masa depan yang lebih baik melalui akses terhadap perumahan yang layak. Habitat mewujudkan hal ini dengan bekerja bersama masyarakat dalam membangun, memperbaiki, dan membiayai rumah, mengembangkan inovasi di bidang konstruksi dan pembiayaan, serta mendorong kebijakan publik yang mendukung kemudahan akses terhadap perumahan.

Bersama, kita membangun rumah, komunitas, dan harapan.

(av/kh)

HU – HFHI – Home Equals (2)
Kabar Habitat

Home Equals Habitat for Humanity Perkuat Literasi Digital Karang Taruna Desa Campurejo

Gresik, 7 November 2025 – Dalam upaya memperkuat peran pemuda desa sebagai agen perubahan di era digital, Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar kegiatan Pemberdayaan Karang Taruna dalam Pengelolaan Informasi Berbasis Potensi Wilayah di Media Sosial di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Kegiatan ini diikuti oleh 20 anggota Karang Taruna Desa Campurejo dan menjadi bagian dari dukungan terhadap Proyek Home Equals Habitat for Humanity, yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan informasi dan komunikasi publik berbasis potensi wilayah.

Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi lokal di bidang sosial, budaya, dan ekonomi. Namun, tantangan di era digital menunjukkan perlunya peningkatan kemampuan dalam memanfaatkan media sosial secara efektif. Melalui kegiatan ini, para pemuda didorong untuk mampu mengelola media sosial sebagai sarana promosi dan branding wilayah secara kreatif dan terarah.

Narasumber utama dalam kegiatan ini, Dr. Inri Inggrit Indrayani, M.Si, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra sekaligus Kepala Bidang Studi Strategic Communication, bersama timnya, Vanessa Febriani, Devina Aurelia Cokro, Hendrawan Surya Wijaya, dan Michael Juan Ivander Widiarto, memberikan pendampingan mengenai strategi komunikasi digital, penulisan kreatif, dan produksi konten berbasis potensi lokal.

Baca juga: Gelora Sumpah Pemuda Menggema Lewat Aksi Nyata di 28UILD 2025

Program pelatihan ini dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu persiapan dan koordinasi, pelatihan dasar, implementasi, serta evaluasi dan keberlanjutan. Pada tahap awal, tim Habitat for Humanity dan UK Petra berkoordinasi dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk memetakan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi konten digital. Peserta kemudian dilatih dalam pengelolaan media sosial yang berorientasi pada promosi potensi desa, mulai dari produk UMKM, kegiatan budaya, hingga pariwisata lokal.

Dr. Inri menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas digital pemuda desa menjadi langkah penting dalam mendukung kemandirian dan pembangunan berbasis komunitas. “Kami ingin para pemuda memiliki kesadaran bahwa media sosial bisa menjadi alat strategis untuk membangun citra positif wilayah, bukan sekadar tempat berbagi informasi harian. Dengan kemampuan digital yang baik, mereka dapat berperan aktif memperkenalkan potensi lokal, memperluas jaringan, dan menginspirasi masyarakat luas,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Karang Taruna diharapkan mampu mengelola akun media sosial desa secara konsisten dan kreatif. Akun tersebut akan menjadi saluran utama dalam menyebarkan informasi positif dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan wilayah.

Program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan bagi para pemuda Desa Campurejo terhadap potensi daerahnya sendiri. Peningkatan literasi digital ini menjadi langkah awal menuju desa yang lebih berdaya, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki identitas digital yang kuat.

(kh/av)