Relawan Thunderbird Menggali Asa, Membangun Rumah untuk Keluarga Pak Ade
Bogor, 18 Februari 2026 – Pagi itu, langit Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tampak menghitam. Awan tebal menggantung rendah, dan tak lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi tanah di lokasi pembangunan rumah milik Bapak Ade Saputra. Tanah menjadi becek, udara terasa dingin, tetapi suasana di tempat ini justru dipenuhi rasa semangat.
Sebanyak 16 relawan dari Thunderbird sudah bersiap memulai hari mereka. Sepatu berlumpur dan pakaian yang perlahan basah oleh hujan tak mengurangi senyum di wajah mereka. Tak ada raut gelisah, yang terlihat justru antusiasme dan tawa kecil. Hari itu, mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk membantu membangun rumah layak huni bagi Pak Ade dan keluarganya.
Pak Ade adalah seorang kepala keluarga dengan tiga orang anak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh serabutan, menerima pekerjaan apa pun yang datang. Penghasilannya tak menentu, sementara rumah yang ditempati selama ini jauh dari kata aman dan nyaman. Dindingnya rapuh tanpa struktur yang kuat, dan atapnya sudah berlubang di banyak sisi. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk hingga menggenangi lantai rumah. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah itu justru sering membuat keluarga mereka khawatir.
Melihat kondisi tersebut, pembangunan rumah layak huni menjadi harapan baru bagi Pak Ade. Harapan itu kini perlahan mulai terwujud, dibangun bersama-sama oleh tangan-tangan para relawan yang bekerja tanpa pamrih.






Baca juga: Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy
Para relawan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian merangkai besi untuk memperkuat struktur bangunan, memastikan rumah berdiri kokoh dan aman. Kelompok lainnya menggali tanah untuk pondasi. Suara cangkul menghantam tanah, gesekan besi, dan obrolan ringan saling bersahutan, menciptakan irama kerja yang terasa akrab. Meski keringat mengucur dan tenaga terkuras, tak satu pun berhenti, karena mereka tahu setiap langkah kecil hari itu berarti besar bagi satu keluarga.
Muhammad, salah satu relawan, mengaku merasa seperti berada di rumah sendiri. “Saya dan teman-teman disambut hangat sekali. Kami senang bisa membantu keluarga Pak Ade. Semoga setelah rumah ini selesai, rumahnya membawa berkah dan kehidupan yang lebih baik untuk mereka,” ujarnya.
Bagi para relawan Thunderbird, kegiatan ini bukan sekadar aksi sukarela biasa. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sederhana dapat memberi dampak nyata. Dari kebersamaan, gotong royong, dan waktu yang mereka luangkan, tumbuh rasa empati yang semakin dalam terhadap perjuangan keluarga seperti Pak Ade.
Habitat for Humanity Indonesia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang telah memberikan tenaga dan hati dalam proses pembangunan ini. Di tengah hujan dan tanah berlumpur, mereka membuktikan bahwa harapan bisa dibangun bersama.
Perlahan, fondasi rumah mulai terbentuk, dinding demi dinding berdiri, dan impian Pak Ade tentang tempat tinggal yang aman akhirnya semakin dekat menjadi kenyataan. Kelak, rumah ini bukan hanya bangunan fisik semata, melainkan ruang untuk berteduh, berkumpul, dan memulai hari-hari yang lebih tenang bersama keluarga.
Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian
(kh/av)


