
Kamis, 27 Februari 2025, mentari pagi menyapa Kampung Tanjung Kait dengan sinar yang berbeda. Hari itu, suasana di Desa Tanjung Anom, Mauk, Kabupaten Tangerang, terasa lebih hidup. Bukan karena hiruk-pikuk tempat pelelangan ikan atau suara kapal nelayan yang biasa terdengar, melainkan karena ada semangat baru yang mengalir di setiap sudut kampung.
Sejak pagi, puluhan warga berkumpul, bukan untuk sekadar berbincang atau menjalani rutinitas biasa, tetapi untuk bergotong-royong. Mereka menurunkan genteng, merobohkan dinding, dan merapikan puing-puing rumah yang telah bertahun-tahun mereka huni. Tak ada wajah muram atau kesedihan di sana, hanya ada antusiasme dan kebersamaan. Rumah-rumah lama itu memang akan dirobohkan, tapi di tempat yang sama akan berdiri hunian baru—lebih layak, lebih nyaman, dan lebih bermartabat.
“Ya, Ibu mah engga ada perasaan sedih sama sekali, Pak. Ibu malah seneng banget bisa terlibat dalam kegiatan gotong-royong ini. Ibu enggak sabar nanti rumah barunya bisa cepet jadi, Ibu kepengen punya kehidupan yang lebih layak,” ujar Komariyah sambil sibuk menyiapkan gorengan untuk para warga yang bekerja.
“Rasanya seperti mimpi, Pak! Tapi ternyata ini benar-benar terjadi—Habitat membangun rumah yang layak untuk kami,” ujar Amah dengan wajah penuh syukur sambil sibuk memindahkan perabotan. “Akhirnya, Ibu punya tempat tinggal yang nyaman dan aman untuk anak-anak tumbuh besar nanti.” tambahnya.
Selama puluhan tahun lamanya, lebih dari seratus warga Kampung Tanjung Kait hidup dalam ketidakpastian. Mereka tidak hanya berjuang dengan kondisi rumah yang tidak layak huni, tetapi juga menghadapi permasalahan hak kepemilikan tanah. Status mereka selalu menggantung, membuat mereka hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran.

Baca juga: Foto: Membangun Pemukiman yang Sehat dan Inklusif
Namun, melalui program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait, Habitat for Humanity Indonesia bersama berbagai pihak melangkah untuk membawa perubahan nyata. Tidak hanya sekadar membangun rumah, program ini juga menghadirkan kepastian bagi para warga. Sejak akhir tahun 2024, ratusan warga telah menerima sertifikat tanah yang sah, berkat kerja sama dengan Koperasi Mitra Dhuafa (Komida). Kini, mereka tidak hanya memiliki rumah, tetapi juga hak yang jelas atas tanah yang mereka tinggali.
Tidak berhenti di situ, ratusan warga juga mendapatkan bantuan uang sewa kontrakan untuk tempat tinggal sementara selama proses pembangunan berlangsung. Pemerintah Kabupaten Tangerang turut berperan dengan menyediakan kendaraan alat berat untuk mempercepat pembongkaran serta pembangunan fasilitas umum yang mendukung kehidupan warga. Infrastruktur pendukung bagi para nelayan serta turab untuk mencegah abrasi juga masuk dalam rencana besar revitalisasi ini.
Sebagai bagian dari transparansi dan keterlibatan warga, Habitat for Humanity Indonesia juga memfasilitasi diskusi bersama seluruh warga mengenai proyek revitalisasi ini. Diskusi tersebut mencakup prosedur pembongkaran, tahapan pembangunan, hingga penempatan penduduk dalam bentuk denah yang telah didesain sesuai dengan keputusan bersama berbagai pihak. Dengan demikian, setiap warga memiliki pemahaman yang jelas mengenai proses yang akan dijalani serta mendapatkan berpartisipasi secara langsung pada pembangunan tempat tinggal mereka di masa depan.
Tahun 2025 menjadi awal yang penuh harapan bagi ratusan keluarga di Tanjung Kait. Lebih dari sekadar rumah, mereka kini memiliki tempat yang layak untuk kembali, tempat yang memberi kehangatan, keamanan, dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Ini bukan hanya tentang bangunan fisik, tetapi juga tentang martabat yang dipulihkan, mimpi yang kembali hidup, dan harapan yang kini nyata di depan mata.

Mari bersama kita doakan agar program ini berjalan dengan lancar dan segera memberikan manfaat nyata bagi seratus keluarga yang tinggal di Kampung Tanjung Kait.
(kh/av)