Jakarta, 25 Maret 2026 – Ketika berbicara tentang pembangunan rumah layak huni, banyak orang membayangkan para tukang yang bekerja di bawah terik matahari, mulai dari mengangkat bata, mencampur semen, dan memasang dinding. Namun di balik proses tersebut, ada peran penting yang sering luput dari perhatian yaitu, keterlibatan perempuan dalam merancang, membangun, hingga menjaga keberlangsungan rumah dan komunitasnya.
Di berbagai belahan dunia, isu keterlibatan perempuan dalam pembangunan komunitas semakin mendapat perhatian. Kesetaraan gender dan pembangunan yang inklusif kini menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan global, karena pengalaman menunjukkan bahwa perempuan sering kali memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya. Ketika perempuan diberi ruang untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, hasil pembangunan tidak hanya lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat, tetapi juga lebih berkelanjutan.
Pendekatan inilah yang juga diupayakan oleh Habitat for Humanity Indonesia dalam berbagai programnya. Pembangunan rumah tidak hanya dipandang sebagai proses membangun struktur fisik, tetapi juga sebagai proses memberdayakan komunitas, termasuk memastikan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat, menyampaikan pendapat, dan menjadi bagian dari perubahan di lingkungannya.
Perempuan sebagai Perencana Komunitas
Salah satu contoh nyata terlihat dalam program revitalisasi kampung Tanjung Kait di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Dalam proses perencanaan pembangunan, perempuan di kampung tersebut dilibatkan secara aktif dalam berbagai musyawarah komunitas.
Di forum-forum diskusi ini, para perempuan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari kondisi rumah yang tidak layak, sanitasi yang kurang memadai, hingga kebutuhan ruang yang lebih aman bagi keluarga mereka. Tidak hanya menyampaikan masalah, mereka juga ikut merumuskan solusi serta menentukan seperti apa lingkungan tempat tinggal mereka seharusnya dibangun kembali.

Pendekatan partisipatif ini menjadi penting karena perempuan sering kali memiliki perspektif yang sangat dekat dengan kebutuhan rumah tangga. Mereka memahami bagaimana ruang dapur digunakan setiap hari, bagaimana anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk tumbuh, hingga bagaimana akses air bersih dan sanitasi memengaruhi kesehatan keluarga.
Ketika suara perempuan diikutsertakan dalam perencanaan, pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah yang lebih layak, tetapi juga lingkungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dari Musyawarah ke Aksi Lapangan
Keterlibatan perempuan tidak berhenti pada ruang diskusi. Dalam proses pembangunan rumah di Kampung Tanjung Kait, para perempuan juga turun langsung membantu berbagai pekerjaan di lapangan.
Sebagian dari mereka adalah ibu rumah tangga, pengupas kerang, hingga keluarga nelayan yang sehari-harinya bergantung pada hasil laut. Namun ketika pembangunan dimulai, mereka dengan sukarela ikut terlibat dalam berbagai aktivitas mulai dari mengangkut material bangunan, membantu pengecatan dinding, hingga menyiapkan kebutuhan logistik bagi para pekerja.

Salah satunya adalah Nimah (55 tahun), warga Kampung Tanjung Kait yang rumahnya turut direvitalisasi. Bagi Nimah, keterlibatan tersebut bukan sekadar membantu pekerjaan fisik, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap masa depan komunitasnya.
“Rumah ini adalah rumah saya dan untuk komunitas saya sendiri, jadi saya merasa perlu ikut terlibat dalam setiap pembangunan,” ujarnya.
Semangat seperti inilah yang membuat proses pembangunan menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur. Ia berubah menjadi gerakan gotong royong yang memperkuat rasa kepemilikan bersama terhadap lingkungan tempat tinggal.
Baca juga: Memahami Retrofitting: Upaya Memperkuat Rumah Penyintas Pascabencana di Sumatera
Perempuan dan Ketangguhan Pasca Bencana
Peran perempuan juga terlihat jelas dalam situasi pemulihan pasca bencana. Ketika bencana melanda wilayah Sibolga dan sekitarnya pada akhir 2025 lalu, proses pemulihan tidak hanya melibatkan tenaga relawan dan organisasi kemanusiaan, tetapi juga masyarakat setempat termasuk para perempuan.
Dalam berbagai kegiatan pemulihan, para ibu dan perempuan di komunitas tersebut turut bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan, memilah material yang masih bisa digunakan, hingga membantu menata kembali lingkungan tempat tinggal mereka.

Bagi banyak keluarga, perempuan sering menjadi figur yang menjaga stabilitas rumah tangga ketika situasi sulit terjadi. Mereka memastikan anak-anak tetap merasa aman, mengatur kebutuhan sehari-hari, dan pada saat yang sama ikut terlibat dalam upaya membangun kembali kehidupan yang sempat terguncang.
Keterlibatan ini menunjukkan bahwa ketangguhan komunitas tidak hanya dibangun dari kekuatan fisik, tetapi juga dari solidaritas dan kepedulian yang tumbuh di antara para anggotanya.
Relawan Perempuan yang Menggerakkan Perubahan
Di berbagai program pembangunan rumah layak huni yang digagas Habitat for Humanity Indonesia, perempuan juga kerap terlibat sebagai relawan. Tidak jarang mereka ikut mengambil bagian dalam kegiatan pembangunan yang selama ini identik dengan pekerjaan laki-laki.
Mulai dari menggali pondasi, membantu memasang dinding, hingga melakukan pengecatan rumah, para relawan perempuan menunjukkan bahwa semangat untuk membantu sesama tidak mengenal batasan peran. Kehadiran mereka tidak hanya menambah tenaga, tetapi juga membawa energi kebersamaan yang memperkuat semangat gotong royong di lapangan.
Melalui keterlibatan ini, perempuan tidak lagi dipandang hanya sebagai penerima manfaat dari program pembangunan, tetapi juga sebagai aktor penting yang ikut mendorong perubahan.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembangunan rumah layak huni yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan. Ketika perempuan dilibatkan secara aktif, pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah yang lebih kokoh secara fisik, tetapi juga komunitas yang lebih kuat, inklusif, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Perempuan membawa perspektif yang unik dalam melihat kebutuhan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Mereka menjadi jembatan antara kebutuhan rumah tangga dan kepentingan komunitas yang lebih luas.
Di banyak tempat, perubahan sering dimulai dari langkah-langkah kecil, dari suara yang didengar dalam musyawarah, dari tangan yang ikut mengecat dinding rumah, atau dari semangat untuk bangkit bersama setelah bencana. Dan sering kali, di balik perubahan-perubahan itu, ada perempuan yang bekerja dengan penuh ketulusan untuk membangun rumah, harapan, dan masa depan komunitasnya.
Penulis: Kevin Herbian
(kh/av)



