Ranta, seorang warga Desa Baturaden, Kabupaten Karawang, tak pernah membayangkan hari ini ia bisa menikmati air bersih yang mengalir langsung ke rumahnya. Selama lebih dari 40 tahun, air bersih adalah mimpi yang terasa jauh dari kenyataan.
“Airnya kenceng banget, Pak. Udah gitu bersih lagi,” ujar Ranta penuh sukacita saat ditemui di rumahnya.
Namun, kebahagiaan ini datang setelah melewati perjalanan panjang yang sulit. Bertahun-tahun, Ranta dan ratusan keluarga di desanya terpaksa menggunakan air dari Sungai Citarum yang sudah tercemar. Air itu digunakan untuk mencuci pakaian, mandi, buang air, hingga membersihkan bahan pangan untuk dikonsumsi. Sayangnya, air yang mereka pakai justru membawa ancaman kesehatan. “Penyakit kulit itu sudah biasa, Pak. Dari gatal-gatal, panu, kudis, sampai kurap,” kenang Ranta.

Hal serupa dirasakan Lukman, warga Desa Cicinde Utara. Sebagai pengusaha ikan pindang, air bersih menjadi kunci kelangsungan usahanya. “Produksi ikan pindang saya menurun karena sulitnya dapat air bersih, apalagi saat kemarau. Meskipun kami juga punya air dari sumur, tapi itu tak selamanya bagus, sering banget kotor,” jelas Lukman.
Di desa Cicinde utara ini, lebih dari 90 keluarga yang menggantungkan hidup pada produksi ikan pindang menghadapi persoalan serupa. Ketiadaan air bersih bukan hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari, tetapi juga sumber penghasilan mereka.
Tak hanya sektor keluarga dan perekonomian, kesulitan air bersih juga mengancam sektor pendidikan. Di SDN Wanajaya 1 Kabupaten Karawang, Estika Mulia, seorang guru, kerap cemas melihat kondisi air yang digunakan para siswa. “Kami bergantung pada air irigasi dari Sungai Cibeet. Tapi airnya sering kotor, terutama saat hujan kiriman dari Bogor. Saya khawatir anak-anak terkena penyakit,” ujarnya prihatin.
Langkah Nyata Menuju Perubahan
Melihat situasi ini, Habitat for Humanity Indonesia bersama Amazon Web Services (AWS) mengambil langkah nyata. Melalui program AWS Water Positive, keduanya membangun sembilan akses air bersih di empat desa di Kabupaten Karawang.
Di Desa Baturaden, Habitat Indonesia dan AWS telah membangun empat titik penyaringan air yang memanfaatkan aliran irigasi Sungai Citarum. Sedangkan, di Desa Wanajaya, satu titik penyaringan air dari irigasi Sungai Cibeet juga telah dibangun. Sementara itu, Desa Cicinde dan Desa Lemahmukti kini memiliki empat sumur bor yang menjamin pasokan air bersih bagi warganya.

Baca juga: Setetes Air, Sejuta Harapan: Upaya Membangun Akses Air Bersih untuk Ratusan Warga
Semua fasilitas akses air bersih ini telah diuji oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, memastikan air yang mengalir ke rumah-rumah warga memenuhi standar kualitas yang layak untuk digunakan dan juga dikonsumsi.
“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih kepada AWS dan Habitat atas dukungan luar biasa dalam mengatasi kelangkaan air bersih di Karawang. Kami berharap apa yang telah dibangun ini dapat dijaga dengan baik serta memberikan manfaat besar bagi masyarakat, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas hidup mereka.” ungkap Ridwan Salam, Kepala BAPPEDA Kabupaten Karawang, saat peresmian AWS Water Positive Project di Desa Baturaden (18/2).
Hidup Baru Dimulai dengan Air Bersih
Kini, ribuan warga merasakan dampak positif dari inisiatif ini. Kehidupan mereka berubah, mulai dari lingkup kesehatan, perekonomian, hingga pendidikan.
“Kami enggak lagi sering kena penyakit kulit. Istri saya juga sudah berani masak air dari saluran bersih ini. Anak-anak dan cucu-cucu saya sudah enggak pernah lagi pakai air sungai yang kotor,” ujar Ranta dengan penuh syukur.
Lukman pun turut merasakan suka cita yang sama di mana ia mengalami peningkatan penjualan dalam usahanya. “Produksi ikan pindang kami meningkat. Sekarang bisa jual lebih banyak dan pendapatan juga naik. Perubahan ini sangat membantu keluarga saya,” katanya.
Sementara itu, di SDN Wanajaya 1, air bersih turut membawa dampak besar bagi para siswa. “Sekarang kami bisa mengajarkan praktik cuci tangan yang benar kepada anak-anak. Air bersih ini mengalir setiap hari, jadi kami nggak perlu khawatir lagi,” kata Estika dengan senyum lega.

Lebih dari Sekadar Pembangunan
Tak hanya menyediakan akses air bersih, Habitat Indonesia dan AWS juga memfasilitasi pelatihan teknis untuk mengelola instalasi pengolahan air bersih kepada komite warga setempat. Pelatihan ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan fasilitas, sehingga warga dapat memanfaatkan sumber daya air bersih dengan optimal dan menjaga kualitasnya untuk jangka panjang.
Melalui langkah-langkah kecil dan kolaborasi yang besar, kehidupan di Desa Baturaden, Cicinde, Wanajaya, serta Lemahmukti telah berubah. Dari cerita Ranta, Lukman, dan Estika, terlihat jelas bahwa air bersih bukan hanya tentang kebutuhan fisik, tapi juga tentang harapan dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.
(kh/av)