logotype
Donate
HFHI – POSCO – Muhdi
Kisah Perubahan

Kisah Muhdi: Rumah Layak Huni Inklusif untuk Tunanetra di Cilegon

Cilegon, 26 November 2025 – Setiap hari, langkah-langkah kecil beriring pelan di jalanan Kota Cilegon. Di tangannya tersampir tas kecil berisi minyak pijat dan kain bersih, sementara tangan satunya menggenggam tongkat kecil yang menuntunnya melangkah. Di bawah terik matahari atau rintikan hujan yang mengguyur, sosok itu terus melangkah pasti, tanpa ragu meski pandangannya gelap sejak lahir.

Dialah Muhdi Hadi, seorang tukang pijat keliling berusia 40 tahun yang hidupnya diwarnai keteguhan dan kesabaran luar biasa. Bersama sang istri, Baitini (31 tahun), yang juga seorang tunanetra sejak lahir, mereka tinggal di rumah sederhana di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten. Pasangan ini tidak memiliki anak, namun keduanya saling melengkapi dalam menghadapi hari-hari yang penuh tantangan.

Setiap pagi, Muhdi memulai rutinitasnya dengan memeriksa minyak pijat dan kain yang selalu ia bawa. Ia berkeliling dari rumah ke rumah, menawarkan jasanya kepada warga sekitar. Penghasilannya tidak menentu, terkadang hanya Rp 400.000 hingga Rp 500.000 per bulan. Namun baginya, setiap rupiah adalah hasil dari keringat dan niat baik. “Pas-pasan, tapi cukup untuk makan sehari-hari,” ujarnya dengan nada ikhlas.

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, ada satu kenyataan pahit yang tak bisa ia abaikan yaitu, rumah tempat ia dan istrinya berteduh jauh dari kata layak. Bangunan itu sudah berusia tua, berdinding rapuh, dan beratap keropos. Setiap kali hujan deras datang, air menetes dari sela-sela atap, membuat seluruh lantai basah dan becek. Bahkan potongan atap yang lapuk kerap jatuh saat mereka sedang tertidur.

“Kalau hujan besar, air masuk dari mana-mana,” kenangnya. “Pernah waktu itu saya lagi mijat pelanggan di rumah, eh tiba-tiba bocor. Kami harus pindah-pindah tempat biar enggak kehujanan. Malu sekali rasanya, tapi saya enggak punya uang buat perbaiki rumah.”

Muhdi tahu betul bahayanya tinggal di rumah yang ringkih. “Karena bangunannya sudah reot dan keropos, kami takut aja gitu, apalagi kalau ada angin besar,” ujarnya pelan. “Pernah waktu angin kencang datang, saya sama istri cuma duduk di depan pintu, biar bisa cepat lari kalau sewaktu-waktu rumahnya rubuh.”

Kondisi rumah yang tak layak itu membuat kesehariannya semakin berat. “Saya ini sudah punya keterbatasan penglihatan,” katanya lirih. “Tinggal di rumah yang rusak, dalam suasana gelap, dan lembab bikin semua terasa lebih sulit.”

Muhdi memasuki rumahnya yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity bersama POSCO di Cilegon. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Namun di balik keterbatasan itu, Muhdi tak pernah kehilangan semangat. Ia terus berusaha, membuka jasa pijat di rumah kecilnya meski ruangan sempit itu sering bocor. Hingga suatu hari, kabar yang tak pernah ia bayangkan datang menghampiri. Habitat for Humanity bersama POSCO datang ke wilayahnya, mengabarkan bahwa mereka akan membangun kembali rumah-rumah tak layak huni, termasuk rumah miliknya.

“Saya sangat bahagia sekali, saking bahagianya saya bingung dan enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” tutur Muhdi haru.

Ketika pembangunan dimulai, ia tak hanya duduk diam menunggu. Meski memiliki keterbatasan, Muhdi ikut terlibat sebisanya, membantu menyediakan hidangan makanan ringan untuk pekerja konstruksi. Ia pun sering menelusuri dinding-dinding baru dengan jemarinya, menyentuh lantai yang kini kokoh, dan merasakan kesejukan ruangan yang dulu pengap dan lembab.

“Saya terharu meski saya tidak bisa melihat, tapi saya bisa merasakan bahwa rumah ini benar-benar layak buat saya,” ucapnya. “Rumah ini memang didesain untuk saya dan istri yang punya kebutuhan khusus. Ada pagarnya, ada pegangan di setiap ruangan, bahkan lantainya dibuat beda, ada bagian yang kasar, ada yang tidak. Ini sangat-sangat membantu kami.”

Kini, rumah baru itu bukan hanya tempat berlindung, tapi juga sumber harapan baru. Baitini, sang istri, mengaku tak lagi was-was setiap kali mendengar suara hujan atau angin malam. “Rumah itu kan tempat berlindung dari hujan dan panas,” katanya lembut. “Sekarang saya bersyukur punya rumah bagus seperti ini, rumah ini rasanya sudah jadi anugerah besar.”

Bagi Muhdi, rumah baru itu juga berarti kesempatan baru untuk memperbaiki taraf hidup. Ia berencana memasang plang usaha pijat di depan rumahnya, agar pelanggan lebih mudah menemukan jasanya. “Semoga rumah ini membawa berkah rezeki baru buat keluarga saya,” ucapnya penuh semangat. “Saya ingin nabung buat masa depan, siapa tahu nanti bisa buat biaya kalau kami punya anak.”

Muhdi bersama istrinya bersantai di kamar rumah layak huni mereka setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama POSCO di Cilegon. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Proyek pembangunan rumah ini merupakan bagian dari “2025 POSCO 1% Foundation Echo Village”, hasil kolaborasi antara Habitat for Humanity dan POSCO. Melalui inisiatif ini, enam rumah layak huni dibangun dengan desain ramah lingkungan dan aman bagi penghuninya. Inovasinya meliputi penggunaan eco-brick dari limbah plastik, sistem penampungan air hujan, serta septic tank dan soak pit untuk memastikan sanitasi yang sehat bagi keluarga penerima manfaat.

Tak berhenti di situ, proyek ini juga menghadirkan pelatihan manajemen rumah sehat dan Building Back Safer (BBS) bagi 50 keluarga lainnya di sekitar wilayah Ciwandan dan Citangkil. Para warga juga mendapatkan penguatan kapasitas melalui pelatihan bagi Tim Siaga Bencana Kelurahan (TBSK), serta difasilitasi untuk mengajukan status Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) ke BNPB, agar masyarakat memiliki dukungan resmi dalam penanggulangan bencana.

Kini, di antara deretan rumah baru yang berdiri kokoh di Cilegon, rumah kecil milik Muhdi menjadi simbol harapan. Ia mungkin tidak bisa melihatnya, tapi setiap kali tangannya menyentuh tembok rumah barunya, ia tahu perjuangannya tak sia-sia.

“Dulu saya cuma bisa bermimpi punya rumah kuat yang enggak bocor. Sekarang mimpi itu sudah jadi kenyataan.” tutup Muhdi.

Penulis: Kevin Herbian

(av/kh)

HFHI – Centratama
Kabar Habitat

Akses Literasi Digital Baru bagi Siswa SMPN 1 Pakem

Sleman, 21 November 2025 – Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Centratama Group kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan literasi pendidikan di Indonesia melalui pembangunan perpustakaan digital di SMP Negeri 1 Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang inklusif dan modern dapat diwujudkan melalui sinergi antara sektor swasta dan lembaga sosial. 

Peresmian fasilitas tersebut dilakukan secara simbolis melalui pemotongan pita dan dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, Chief of Finance Officer PT Centratama Group, Caba Pinter, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, serta jajaran tenaga pendidik SMPN 1 Pakem. 

Program ini tidak hanya membangun ruang perpustakaan baru, tetapi juga melakukan renovasi menyeluruh, mulai dari pengerjaan bangunan, pengecatan mural, hingga penyediaan fasilitas pendukung seperti karpet, meja dan kursi belajar, sofa, LED TV, sound system, AC, komputer, dan berbagai furnitur lainnya. Semua fasilitas tersebut dirancang untuk menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman dan modern. 

PT Centratama Group juga memastikan bahwa teknologi menjadi elemen utama dalam transformasi ini. Mereka berkontribusi dalam instalasi software serta pelatihan penggunaan aplikasi Edoo, platform perpustakaan digital yang menyediakan lebih dari 1.000 e-book dari berbagai kategori. Handoko Ngadiman menjelaskan bahwa “Selama 10 tahun di SMPN 1 Pakem baru mendapatkan 1.000 buku cetak, namun dalam tiga minggu ini siswa sudah memiliki akses pada e-book sebanyak 487 buku dengan 709 salinan. Hal ini diharapkan dapat semakin meningkatkan dampak baik kepada siswa khususnya dunia literasi.” 

Baca juga: Pojok Baca Digital: Memperkaya Kesempatan Belajar Bersama

Dari pihak Centratama, Caba Pinter menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memperkuat pendidikan berbasis teknologi di Indonesia. “Program ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan kami. Kami percaya bahwa literasi digital merupakan fondasi penting untuk masa depan, dan melalui fasilitas ini kami ingin memastikan para siswa memiliki akses yang luas terhadap sumber belajar modern,” ujarnya. 

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menilai inisiatif ini sebagai langkah strategis dalam membangun budaya literasi di kalangan pelajar. Ia mengatakan, “Kehadiran perpustakaan digital ini tidak hanya menambah fasilitas belajar, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memperkuat literasi bagi anak-anak kita. Jadi, harapan saya fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena semaju apa pun teknologi, kalau tidak dimanfaatkan, tidak ada gunanya.” 

Dengan adanya perpustakaan digital, siswa dan guru kini dapat mengakses berbagai sumber bacaan kapan pun dan di mana pun melalui smartphone mereka. Selain meningkatkan mutu proses pembelajaran, fasilitas ini juga diharapkan mampu mendukung peningkatan prestasi akademik serta menjadi nilai tambah dalam penguatan akreditasi sekolah melalui pemanfaatan teknologi. 

Kepala SMPN 1 Pakem, Titin Sumarni, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menutup dengan mengatakan, “Harapannya ini dapat meningkatkan kompetensi literasi dan minat baca siswa-siswi kami. Terbukti dalam waktu tiga minggu setelah aktivasi dan pelatihan, sudah ada 145 digital buku yang diakses. Dengan adanya perpustakaan digital, ini lompatan yang luar biasa.”

Foto & Video: HFHI/Budi Ariyanto

(kh)

HFHI-Arthawena 01
Kisah Perubahan

Rumah yang Menghidupkan Harapan: Kisah Keluarga Alex dari Kupang Timur

21 November 2025 – Di sebuah dusun kecil di Kupang Timur, Kabupaten Kupang – Nusa Tenggara Timur, berdirilah rumah sederhana berukuran 4×6 meter milik Alex Batuk (46). Dindingnya dari bebak lontar, atapnya dari daun lontar yang telah mengering, dan lantainya masih berupa tanah. Di rumah inilah Alex tinggal bersama istrinya, Trudelyanti (34), serta tiga anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dan satu di antaranya seorang balita.

Setiap sudut rumah menyimpan kisah perjuangan. Ketika hujan deras datang, air masuk dari segala arah, membuat lantai becek dan lembap. Dinding-dinding dari lontar kerap rapuh dimakan usia, dan jendela satu-satunya tidak mampu menyalurkan udara dengan baik. Rumah itu telah mereka huni lebih dari tujuh tahun, tahun demi tahun yang penuh kekhawatiran dan harapan.

“Karena kondisi rumah menggunakan atap dari daun, setiap tiga tahun sekali saya harus menyisihkan uang untuk mengganti atap tersebut, begitupun dengan dinding setiap kali dirayapi,” tutur Alex. Penghasilan sebagai petani sebesar satu juta rupiah per bulan membuat setiap rupiah terasa berarti. Untuk menambah pemasukan, Alex berjualan gula pohon gewang di sela waktu luangnya.

Namun, yang paling menakutkan bagi keluarga kecil ini bukan hanya soal ekonomi. Ketika badai datang, rasa takut selalu menghantui. “Saya selalu was-was setiap ada angin besar, seperti waktu itu saat Seroja datang. Rumah saya bisa patah dan rubuh. Setiap ada angin kencang, kita duduk di depan pintu. Takut angin bawa, kita bisa lari keluar,” kenangnya.

Kondisi rumah Alex Batuk sebelum menerima dukungan pembangunan rumah layak huni di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Titik Balik Harapan Baru

Harapan baru datang ketika tim Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Arthawenasakti Gemilang datang ke kampung mereka. Setelah melihat kondisi rumah Alex yang tidak layak huni, Habitat Indonesia memutuskan untuk membantu membangun kembali rumahnya menjadi rumah yang lebih aman dan sehat untuk ditinggali.

Namun kisah ini tidak hanya berhenti pada bantuan semata. Saat program pembangunan dimulai, Alex yang mengaku pernah bekerja sebagai tukang bangunan diminta ikut bergabung sebagai pekerja konstruksi. Ia tidak sekadar penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun rumah impiannya sendiri.

“Sebelum Habitat hadir di kampung saya, saya juga mencari sambilan sebagai tukang bangunan. Jadi saya tahu betul mana rumah yang layak dan kokoh, saya tahu bagaimana pondasi yang kuat menggunakan cakar ayam,” ujar Alex.

Melalui pelatihan yang diberikan Habitat Indonesia, Alex semakin memahami pentingnya standar rumah tahan gempa dan struktur bangunan yang aman. Ia terlibat langsung dari awal hingga akhir proses pembangunan, memastikan setiap dinding berdiri tegak dan setiap atap terpasang kuat.

“Perbedannya luar biasa. Adanya bantuan rumah ini terasa sangat kuat dan kokoh, karena saya tahu betul pembangunan rumah ini seperti apa. Saya ikut terlibat langsung membangunnya,” katanya dengan senyum bangga.

Alex Batuk terlibat dalam proses pembangunan rumah layak huni bersama Habitat for Humanity Indonesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Baca juga: Hadiah dari Doa yang Tak Pernah Putus

Rumah yang Mengubah Hidup

Kini, rumah baru Alex telah berdiri kokoh. Bagi keluarga kecil itu, rumah ini bukan hanya tempat berlindung dari hujan dan panas, tetapi juga simbol kehidupan baru.

“Rumah itu kan tempat berlindung di dalam, saat hujan, panas. Sekarang saya bersyukur punya rumah bagus seperti ini,” kata Trudelyanti sambil menatap dinding baru rumahnya. “Rumah ini sangat pas untuk keluarga kami tinggal, dua anak kami bisa punya kamar sendiri.”

Lebih dari itu, rumah layak ini turut membawa perubahan nyata bagi ekonomi keluarga. Jika dulu sebagian penghasilan harus disisihkan untuk memperbaiki atap lontar atau mengganti dinding yang rusak, kini uang itu bisa digunakan untuk hal yang lebih penting yakni, pendidikan anak-anak mereka.

“Sekarang saya bisa menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan anak-anak. Tidak perlu lagi khawatir atap bocor atau rumah rusak,” ujar Alex penuh rasa syukur.

Setelah rumahnya selesai dibangun, Alex tetap memilih untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pekerja konstruksi bersama tim Habitat. Ia ingin membantu membangun rumah-rumah layak huni lainnya di desanya.

Kini, setiap kali ia membantu mendirikan rumah baru untuk tetangganya, ada semangat yang sama yang ia rasakan yaitu, semangat untuk memberi rasa aman dan harapan kepada keluarga lain, sebagaimana ia pernah menerimanya.

Potret keluarga Alex Batuk di depan rumah mereka yang telah layak huni di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Berkat dukungan PT Arthawenasakti Gemilang, program pembangunan rumah layak huni ini berhasil menghadirkan 100 rumah baru dan renovasi bagi keluarga di wilayah Kupang dan sekitarnya. Di balik angka itu, tersimpan kisah-kisah nyata seperti keluarga Alex, tentang perjuangan, ketulusan, dan harapan yang tumbuh di antara dinding rumah yang baru berdiri.

Karena bagi Alex dan banyak keluarga lainnya, rumah bukan hanya tempat tinggal. Rumah adalah tempat di mana harapan tumbuh, cinta berdiam, dan kehidupan dimulai kembali.

Penulis: Kevin Herbian

(av/kh)

HFHI – Housing System
Kabar Habitat

Menuju Sistem Perumahan yang Lebih Inklusif

Jakarta, 17 November 2025 – Sekitar 2,8 miliar orang di seluruh dunia masih hidup tanpa hunian yang layak—angka yang mencengangkan, setara dengan sepertiga umat manusia yang setiap hari menghadapi risiko perubahan iklim yang semakin parah. Pemerintah dan berbagai lembaga perumahan telah bertahun-tahun berupaya mencari solusi, membangun program, dan merumuskan sistem untuk menjawab tantangan ini. Namun kenyataannya, defisit perumahan global tetap membesar, diperburuk oleh urbanisasi yang cepat, bencana yang makin intens, dan pemanasan global yang tidak menunjukkan tanda melambat.

Tantangan terbesar hari ini bukan hanya tentang membangun lebih banyak rumah, tetapi menyatukan berbagai sistem yang seharusnya saling mendukung dalam menyediakan hunian layak bagi masyarakat.

Mengurai Kerumitan Sistem Perumahan

Berbagai pihak—dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga sektor swasta—memiliki peran dan keahlian masing-masing dalam mendukung akses masyarakat terhadap perumahan yang layak. Namun, pendekatan yang masih terkotak-kotak dan praktik lama yang sulit berubah kerap menghambat integrasi upaya-upaya tersebut.

Melihat besarnya kebutuhan, perbaikan kecil tidak lagi memadai. Hanya membangun rumah atau merencanakan permukiman baru tidak akan menyelesaikan masalah. Tantangan yang lebih besar terletak pada bagaimana sistem yang mengatur akses masyarakat terhadap perumahan itu sendiri dapat diperbaiki. Sebab perumahan bukanlah satu sistem tunggal, melainkan jaringan kompleks yang mencakup pasar, institusi, kebijakan, hingga norma sosial.

Jika hambatan antar-sistem ini dapat diruntuhkan, sektor perumahan dapat berkembang menjadi ruang yang lebih kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Foto bersama para peserta workshop TCIS, yang menghabiskan beberapa hari di Jakarta untuk berbagi ide, pengalaman, dan strategi dalam mendorong solusi perumahan yang lebih tangguh bagi keluarga berpenghasilan rendah. Foto: HFHI/Astridinar Vania

Satu Langkah Kecil Menuju Perubahan Lebih Besar

Sepekan lalu, langkah menuju perubahan itu mulai terlihat ketika Terwilliger Center for Innovation in Shelter (TCIS) menyelenggarakan lokakarya peningkatan kapasitas bagi tim Habitat for Humanity dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.

Habitat for Humanity Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah acara ini, yang menghadirkan pengenalan terhadap systems thinking, human-centered design, dan pengembangan sistem pasar—tiga pendekatan penting untuk memperkuat ekosistem perumahan.

Materi yang dibahas memang berat, namun sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi sektor perumahan saat ini. Para peserta pulang dengan pemahaman baru yang lebih tajam serta kemampuan yang lebih kuat untuk menggerakkan solusi perumahan yang benar-benar menjangkau keluarga berpenghasilan rendah yang paling rentan.

Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Scott Merrill, Sheldon Yoder, dan Al Francis Razon, beserta seluruh tim TCIS. Dengan fasilitasi yang cermat dan kolaboratif, mereka mampu menyederhanakan konsep yang kompleks menjadi pengalaman belajar yang reflektif dan mudah diterapkan oleh rekan-rekan Habitat for Humanity dari seluruh kawasan.

Jika semua wawasan yang diperoleh dalam lokakarya ini mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata, bukan tidak mungkin lebih banyak keluarga di Asia-Pasifik akan segera mendapatkan akses ke hunian yang lebih sehat, aman, dan tangguh di masa depan.

Penulis: Arwin Soelaksono/Program Director Habitat for Humanity Indonesia

(kh/av)

HFHI – HFH COP30
Kabar Habitat

Laporan Habitat for Humanity Ungkap Minimnya Dukungan bagi Negara Rentan Perubahan Iklim

BELEM, Brasil (11 November 2025) — Habitat for Humanity International merilis laporan terbaru yang mengungkap bahwa negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim justru belum menjadi prioritas dalam kebijakan iklim nasional maupun pendanaan pembangunan terkait iklim.

Dalam laporan berjudul Climate Action through Housing and Informal Settlements, Habitat menelaah Nationally Determined Contribution (NDC) dari 188 negara, dokumen resmi yang berisi komitmen publik suatu negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim sesuai dengan tujuan Paris Agreement.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar NDC belum memasukkan aspek perumahan secara memadai, padahal sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Selain itu, hanya 11 negara yang menyinggung isu permukiman informal atau kawasan kumuh dalam NDC mereka, meski lebih dari 1 miliar orang di dunia tinggal di wilayah tersebut.

Laporan ini juga menemukan ketidaksesuaian antara komitmen dan pendanaan yakni, beberapa negara dengan komitmen tinggi terhadap perumahan, seperti Bahama dan Benin, justru menerima dukungan finansial yang sangat minim dari pendanaan pembangunan terkait iklim. Sebaliknya, sejumlah penerima dana iklim terbesar memiliki komitmen perumahan yang lemah. Costa Rica menjadi pengecualian yang menonjol karena berhasil menyelaraskan antara komitmen tinggi dan penerimaan dana iklim yang signifikan.

Secara keseluruhan, hanya sekitar 7% dari total pembiayaan pembangunan terkait iklim yang diarahkan untuk peningkatan perumahan secara bertahap di kawasan permukiman informal. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim masih belum menjadi prioritas dalam kebijakan maupun pendanaan global.

“Temuan dalam laporan ini sangat mengkhawatirkan, meskipun sayangnya tidak mengejutkan,” ujar Patrick Canagasingham, Chief Operating Officer Habitat for Humanity International. “Berkali-kali kami melihat bahwa masyarakat yang tinggal di permukiman informal, yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, justru menjadi kelompok yang paling sedikit menerima dukungan dalam hal kebijakan maupun pendanaan. Kami mendesak pemerintah untuk mengintegrasikan aspek perumahan ke dalam NDC mereka demi memastikan ketahanan dan keamanan iklim bagi komunitas rentan di seluruh dunia.”

Rekomendasi Utama bagi Pembuat Kebijakan

Untuk memperkuat ketahanan iklim dan mengurangi emisi melalui sektor perumahan, Habitat for Humanity menyerukan agar negara-negara mengambil langkah nyata dalam pembaruan NDC berikutnya. Beberapa rekomendasi utama antara lain:

  • Pemerintah perlu mengintegrasikan transformasi perumahan dan permukiman informal ke dalam NDC, rencana adaptasi, serta kerangka kerja pengurangan risiko bencana, dengan target terukur dan intervensi berbasis komunitas.
  • Donor dan lembaga multilateral perlu menjadikan perumahan sebagai investasi strategis berdampak tinggi untuk mencapai ketahanan iklim, dengan memperluas pendekatan yang telah terbukti, meningkatkan transparansi pendanaan, dan menyelaraskan dukungan dengan ambisi iklim nasional.
  • Organisasi masyarakat sipil diharapkan berperan aktif dalam memantau komitmen, mengadvokasi solusi perumahan yang inklusif dan tangguh, serta memperkuat inisiatif berbasis komunitas yang berfokus pada peningkatan hunian, penghidupan, dan ketahanan iklim.

Laporan ini juga menunjukkan perkembangan positif yaitu, dari 20 negara yang memperbarui NDC mereka hingga pertengahan 2025, sebanyak 16 negara meningkatkan komitmen terkait perumahan, termasuk menambahkan fokus baru pada permukiman informal dan perumahan sosial.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai laporan Climate Action through Housing and Informal Settlements atau partisipasi Habitat dalam COP 30, silahkan kunjungi habitat.org/Habitat-COP30

Tentang Habitat for Humanity

Habitat for Humanity merupakan gerakan global yang mengajak masyarakat di berbagai negara untuk bersama-sama membangun komunitas yang lebih sejahtera dan berdaya dengan memastikan setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak, aman, dan terjangkau.

Sejak berdiri pada tahun 1976, Habitat telah membantu lebih dari 62 juta orang di seluruh dunia membangun masa depan yang lebih baik melalui akses terhadap perumahan yang layak. Habitat mewujudkan hal ini dengan bekerja bersama masyarakat dalam membangun, memperbaiki, dan membiayai rumah, mengembangkan inovasi di bidang konstruksi dan pembiayaan, serta mendorong kebijakan publik yang mendukung kemudahan akses terhadap perumahan.

Bersama, kita membangun rumah, komunitas, dan harapan.

(av/kh)

HU – HFHI – Home Equals (2)
Kabar Habitat

Home Equals Habitat for Humanity Perkuat Literasi Digital Karang Taruna Desa Campurejo

Gresik, 7 November 2025 – Dalam upaya memperkuat peran pemuda desa sebagai agen perubahan di era digital, Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar kegiatan Pemberdayaan Karang Taruna dalam Pengelolaan Informasi Berbasis Potensi Wilayah di Media Sosial di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Kegiatan ini diikuti oleh 20 anggota Karang Taruna Desa Campurejo dan menjadi bagian dari dukungan terhadap Proyek Home Equals Habitat for Humanity, yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan informasi dan komunikasi publik berbasis potensi wilayah.

Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi lokal di bidang sosial, budaya, dan ekonomi. Namun, tantangan di era digital menunjukkan perlunya peningkatan kemampuan dalam memanfaatkan media sosial secara efektif. Melalui kegiatan ini, para pemuda didorong untuk mampu mengelola media sosial sebagai sarana promosi dan branding wilayah secara kreatif dan terarah.

Narasumber utama dalam kegiatan ini, Dr. Inri Inggrit Indrayani, M.Si, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra sekaligus Kepala Bidang Studi Strategic Communication, bersama timnya, Vanessa Febriani, Devina Aurelia Cokro, Hendrawan Surya Wijaya, dan Michael Juan Ivander Widiarto, memberikan pendampingan mengenai strategi komunikasi digital, penulisan kreatif, dan produksi konten berbasis potensi lokal.

Baca juga: Gelora Sumpah Pemuda Menggema Lewat Aksi Nyata di 28UILD 2025

Program pelatihan ini dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu persiapan dan koordinasi, pelatihan dasar, implementasi, serta evaluasi dan keberlanjutan. Pada tahap awal, tim Habitat for Humanity dan UK Petra berkoordinasi dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk memetakan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi konten digital. Peserta kemudian dilatih dalam pengelolaan media sosial yang berorientasi pada promosi potensi desa, mulai dari produk UMKM, kegiatan budaya, hingga pariwisata lokal.

Dr. Inri menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas digital pemuda desa menjadi langkah penting dalam mendukung kemandirian dan pembangunan berbasis komunitas. “Kami ingin para pemuda memiliki kesadaran bahwa media sosial bisa menjadi alat strategis untuk membangun citra positif wilayah, bukan sekadar tempat berbagi informasi harian. Dengan kemampuan digital yang baik, mereka dapat berperan aktif memperkenalkan potensi lokal, memperluas jaringan, dan menginspirasi masyarakat luas,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Karang Taruna diharapkan mampu mengelola akun media sosial desa secara konsisten dan kreatif. Akun tersebut akan menjadi saluran utama dalam menyebarkan informasi positif dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan wilayah.

Program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan bagi para pemuda Desa Campurejo terhadap potensi daerahnya sendiri. Peningkatan literasi digital ini menjadi langkah awal menuju desa yang lebih berdaya, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki identitas digital yang kuat.

(kh/av)

HU – HFHI – 28uild 2025
Kabar Habitat

Gelora Sumpah Pemuda Menggema Lewat Aksi Nyata di 28UILD 2025

Jakarta, 28 Oktober 2025 – Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebanyak 400 pemuda Indonesia membuktikan tekad persatuan melalui aksi nyata membangun rumah layak huni bersama Habitat for Humanity Indonesia dalam kegiatan 28UILD 2025.

Sejak dideklarasikan pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda menjadi simbol tekad generasi muda untuk memajukan bangsa. Kini, semangat itu terus hidup melalui tangan-tangan muda yang bekerja bersama membangun rumah bagi keluarga berpenghasilan rendah, sebuah wujud nyata kepedulian dan gotong royong di tengah tantangan backlog perumahan nasional yang masih mencapai lebih dari 12 juta unit.

Habitat for Humanity Indonesia meyakini, keterlibatan pemuda adalah kunci menghadirkan perubahan nyata. Melalui 28UILD, mereka tidak hanya membangun dinding dan pondasi, tetapi juga membangun harapan, solidaritas, serta nilai kemanusiaan.

Tahun ini, kegiatan 28UILD 2025 dilaksanakan serentak di Tangerang, Yogyakarta, dan Gresik pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Ratusan relawan muda turun langsung mengerjakan pembangunan rumah, mulai dari pemasangan tembok, pengecatan, hingga pembentukan pondasi. Di bawah teriknya matahari, semangat mereka tak padam, disertai tawa, percakapan hangat, dan rasa bangga bisa berkontribusi untuk sesama.

Baca juga: Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Habitat for Humanity Indonesia Gelar 28UILD 2024 untuk Mengajak Generasi Muda Beraksi Bangun Indonesia

Selain membangun rumah, acara ini juga menghadirkan lomba kreatif dengan total hadiah Rp16 juta, mencakup desain kaos, yel-yel, jingle, dan liputan kegiatan. Melalui lomba ini, generasi muda diajak menyalurkan ide, energi, dan kreativitas mereka secara positif untuk menggaungkan pesan rumah layak huni bagi semua.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai Key Opinion Leader (KOL) dan figur publik yang turut menginspirasi generasi muda untuk beraksi, antara lain Han Chandra, Josh Kunze, serta komunitas Act of Love yang didirikan oleh Cinta Laura. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa kepedulian sosial bukan hanya wacana, melainkan panggilan nyata bagi setiap anak muda Indonesia.

“Pemuda adalah harapan dan sudah membuktikan dalam sejarah sebagai pembawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Melalui 28UILD, kami ingin mengajak para pemuda untuk terus berani bermimpi dan bertindak untuk turut membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia. “Semoga semakin banyak anak muda yang menghidupkan semangat Sumpah Pemuda melalui aksi nyata dalam pengentasan kemiskinan rumah di Indonesia untuk keluarga-keluarga prasejahtera.”

Kegiatan 28UILD 2025 turut mendapat dukungan dari berbagai mitra yang percaya pada kekuatan kolaborasi untuk membangun negeri antara lain, Daily Box, Kapal Api Group, BUMA, Orang Tua Group, Gebacken, Delami (Executive), PT Trikemindo Utama, Brawijaya Hospital, Pepsico, L’Oréal, Aplus, PT Avia Avian Tbk, Smart Tools, Flow, Superbank, Rentokil, WRP, Karsa, Heritage, TRAC, The Southern Hotel, dan Bima Bissaloy.

Keberhasilan 28UILD 2025 menjadi bukti bahwa semangat Sumpah Pemuda tetap berkobar di hati generasi muda Indonesia. Habitat for Humanity Indonesia akan terus menyalakan api semangat itu, menginspirasi lebih banyak pemuda untuk membangun rumah, menumbuhkan harapan, dan mewujudkan Indonesia yang lebih layak huni.

Penulis: Syefira Salsabilla

Foto/Video: HFHI/Budi Ariyanto & Kevin Herbian

(av/kh)

HU – HFHI – Nimah
Kisah Perubahan

Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Yuk, berkenalan dengan Ibu Nimah, salah satu perempuan warga Kampung Tanjung Kait yang ikut terlibat langsung dalam membangun rumah layak huni.  

Tangerang, 13 Oktober 2025 – Ada semangat yang tak pernah padam dari sosok sederhana bernama Ibu Nimah. Setiap pagi, perempuan berusia 55 tahun ini selalu memulai hari dengan sebuah pertanyaan kecil dalam hati, “Apa yang bisa saya bantu hari ini? Apa yang bisa saya lakukan hari ini?” Kalimat sederhana itu menjadi pemantik energi yang membuatnya tetap kuat, meski hidup tidak selalu mudah baginya. 

Ibu Nimah adalah salah satu warga Kampung Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang, yang rumahnya ikut dibangun kembali dalam Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait. Program ini menghadirkan 110 rumah layak huni baru untuk warga, sekaligus infrastruktur penunjang yang lebih memadai. Bagi Nimah, program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan kesempatan untuk ikut meninggalkan jejak dalam membangun kampungnya. 

Awal Mula Perjalanan 

Awalnya, keterlibatan Ibu Nimah di proyek pembangunan ini sederhana saja. Ia hanya menyediakan minuman dan makanan ringan untuk para pekerja yang sibuk membangun rumah-rumah di kampungnya. Namun, semakin hari, ia merasa bahwa dirinya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar. Ia menyadari, meski tak punya cukup uang untuk memperbaiki rumahnya sendiri, setidaknya ia masih memiliki tenaga. “Saya enggak punya uang, enggak punya apa-apa. Tapi saya punya tenaga, dan itu yang bisa saya berikan,” ungkapnya. 

Sejak saat itu, Nimah tak lagi sekadar berdiri di pinggir, melainkan turun langsung ke lapangan, ikut bergotong royong bersama warga lainnya, termasuk para perempuan, membantu para pekerja konstruksi. 

Keterlibatan Nimah ini tentu tidak lepas dari kondisi rumah lamanya. Selama puluhan tahun, ia tinggal di rumah yang semakin hari semakin rapuh. Dindingnya retak, lantai tak lagi rata, dan atap bocor setiap kali hujan turun. Yang paling parah, setiap kali pasang air laut datang, rumahnya kerap terendam banjir. Air asin menggenang hingga ke dalam rumah, merusak perabotan, membuat dinding lembab, dan memicu kerusakan lebih parah. 

Sebagai seorang janda yang menggantungkan hidup dari penghasilan anak-anaknya dan sesekali bekerja serabutan seperti mengupas kerang, Nimah tidak memiliki cukup biaya untuk memperbaiki rumah. Rasa cemas selalu menghantui, terutama saat hujan deras disertai pasang laut. Ia tak pernah tahu kapan rumahnya bisa benar-benar roboh. 

Namun, kondisi pilu itu perlahan terjawab ketika Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait hadir. Program ini digagas oleh Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang, Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA), serta didukung oleh para donatur. Bagi Nimah, program ini adalah anugerah yang menjawab doa-doanya selama ini. 

Potret Nimah yang tampak sibuk mengamplas dinding rumahnya di Kampung Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang (2/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Penguatan Kapasitas Warga Jadi Kunci Strategi Keberlanjutan Revitasisasi Kampung Tanjung Kait

Saat proses pembangunan dimulai, Nimah semakin tergerak untuk turut serta. Ia sadar, rumahnya sendiri termasuk yang akan dibangun. Karena itu, ia merasa perlu memberikan jejak kontribusi. Nimah selalu berusaha ikut berkontribusi dengan cara yang ia mampu. Mulai dari pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membantu mengangkut material ringan, merapikan area kerja, hingga ikut memberi sentuhan sederhana di dinding. Meski terlihat sepele, baginya setiap usaha adalah bentuk nyata keterlibatan dalam membangun rumah impian. 

“Awalnya tukang-tukang itu kasihan lihat saya. Tapi setelah mereka lihat semangat saya, malah mereka jadi semangat juga. Saya enggak malu, enggak canggung, karena saya yakin tenaga saya ini bisa berguna,” tuturnya dengan wajah berbinar. 

Keterlibatan Nimah memberi warna tersendiri di tengah hiruk pikuk pembangunan. Para pekerja dan warga lain melihat keteguhan seorang perempuan yang tidak menyerah pada keadaan. Gotong royong yang ia jalani bersama warga lain semakin memperkuat ikatan sosial di Tanjung Kait. 

Bagi Nimah, setiap tetes keringat adalah doa. Ia percaya bahwa usahanya ini akan meninggalkan kenangan indah, bukan hanya karena ia membantu membangun rumahnya sendiri, tetapi juga karena ia ikut membangun masa depan kampungnya. 

Kini, rumah baru Nimah memang belum selesai sepenuhnya. Ia masih sibuk membantu proses akhir, mulai dari mengamplas hingga mengecat dinding. Meski begitu, ada harapan besar yang ia titipkan pada rumah itu. “Saya berharap rumah baru ini bisa memberi kebahagiaan lahir dan batin. Bisa jadi tempat aman untuk saya dan anak-anak, tempat untuk kami berkumpul tanpa takut banjir atau atap bocor lagi,” ujarnya penuh harap. 

Harapan Nimah sederhana, tetapi sarat makna. Ia ingin rumah barunya kelak menjadi sumber ketenangan, tempat yang membuatnya merasa tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang bencana, dan menjadi simbol semangat baru dalam hidupnya. 

Keterlibatan Nimah ini merupakan bentuk kontribusi nyata warga dalam proses pembangunan rumah layak huni di kampungnya, sekaligus semangat nyata bagaimana peran perempuan bisa memberi dampak positif (2/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Sejarah Baru Dimulai: Revitalisasi Kampung Tanjung Kait Demi 110 Keluarga Dapatkan Kepemilikan Tanah dan Rumah Layak Huni

Perempuan dan Ruang Partisipasi 

Lebih dari sekadar membangun rumah, kisah Nimah juga menyingkap isu penting yakni, keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan komunitas. Selama ini, pekerjaan konstruksi sering dianggap hanya urusan laki-laki. Namun, kehadiran Nimah membuktikan bahwa perempuan juga mampu mengambil peran aktif, meski dengan segala keterbatasan. 

Semangat Nimah adalah gambaran nyata bagaimana pemberdayaan perempuan bisa memberi dampak positif. Kehadirannya di lokasi pembangunan menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya menunggu hasil, melainkan juga bisa menjadi bagian dari proses. Di Tanjung Kait, suara dan tenaga perempuan ikut membangun pondasi bukan hanya rumah, tetapi juga kebersamaan dan kemandirian masyarakat. 

Dari kisah ini juga mengajarkan bahwa kontribusi tidak selalu diukur dari besarnya harta atau banyaknya materi yang diberikan. Dalam keterbatasannya, Nimah tetap mampu memberi sumbangsih besar melalui tenaga, semangat, dan ketekunan. Kisah ini sekaligus menjadi cerminan bahwa revitalisasi kampung bukan hanya tentang membangun rumah, melainkan juga tentang membangun manusia mulai dari kesadaran, kemandirian, dan partisipasi, termasuk dari kaum perempuan. 

Akhir kata, Ibu Nimah berdiri sebagai simbol sederhana yang menyimpan arti besar bahwa setiap orang, siapa pun dia, mampu menjadi bagian dari perubahan. 

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HU – HFHI – Revitalisasi Tj. Kait
Kabar Habitat

Penguatan Kapasitas Warga Jadi Kunci Strategi Keberlanjutan Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Tangerang, 9 Oktober 2025 – Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait kini telah memasuki fase akhir. Sebanyak 110 rumah layak huni baru yang dibangun untuk warga saat ini tengah melalui proses pengecatan dan perapihan sebagai bagian dari tahap penyelesaian akhir (finishing). Selain itu, pembangunan infrastruktur penunjang seperti posyandu, balai warga, tempat pengepul ikan, jaringan listrik, drainase, serta sarana air bersih juga tengah berjalan secara paralel. 

Sebagai bagian dari upaya memastikan keberlanjutan program, Habitat for Humanity Indonesia memfasilitasi kegiatan sosialisasi dan penguatan kapasitas warga yang berlangsung sejak 22 September 2025 dan diselenggarakan selama empat pekan di Kelenteng Co Su Kong, Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang. 

Kegiatan ini dibentuk sebagai langkah pengelolaan berbasis komunitas (community-managed system) untuk memastikan pemeliharaan hasil pembangunan dapat berjalan berkelanjutan, inklusif, transparan, serta mendorong kemandirian warga. Melalui forum ini, lebih dari 30 warga yang mewakili komunitas Tanjung Kait berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan, seperti manajemen sampah rumah tangga, pengelolaan sistem drainase, hingga pemanfaatan fasilitas umum. 

Baca juga: Rumah Layak Jadi Tumpuan Hidup Keluarga Ibu Imas

“Revitalisasi kampung tidak berhenti pada pembangunan rumah dan fasilitas, tapi juga membangun kesadaran serta kemandirian masyarakat. Dengan begitu, keberlangsungan kampung akan terjaga,” jelas Wijang Wijanarko, fasilitator sekaligus konsultan perumahan dan permukiman, dalam sesi diskusi. 

Tujuan kegiatan ini antara lain menetapkan kerangka kerja, peran, dan mekanisme koordinasi warga dalam mengelola kampung, memastikan partisipasi aktif masyarakat dalam pemeliharaan infrastruktur, serta membentuk kelembagaan pengelola berbasis komunitas yaitu Komite Pengelola Komunitas. 

Agenda kegiatan berlangsung secara bertahap. Pada minggu pertama, warga bersama tokoh masyarakat dan perangkat desa melakukan sosialisasi program sekaligus membentuk Tim Pengelola Lingkungan. Minggu berikutnya, warga mengikuti pelatihan singkat mengenai pengelolaan lingkungan dan administrasi kelembagaan serta menyusun aturan bersama. Tahap selanjutnya difokuskan pada penyusunan rencana kerja lanjutan mencakup pemeliharaan infrastruktur, pengelolaan fasilitas umum, hingga perumusan mekanisme keuangan komunitas. Seluruh rangkaian akan ditutup dengan rapat pleno dan serah terima simbolis hasil program pada pertengahan Oktober mendatang. 

Melalui pendekatan ini, warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penggerak utama dalam menjaga dan mengembangkan kampungnya. Dengan selesainya tahap akhir revitalisasi dan penguatan kapasitas masyarakat, Kampung Tanjung Kait diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik transformasi kawasan pesisir menuju lingkungan yang lebih layak, sehat, dan berdaya. 

Foto: HFHI/Kevin Herbian

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HU – HFHI Prudential – 01
Kisah Perubahan

Rumah Layak Jadi Tumpuan Hidup Keluarga Ibu Imas

Bogor, 30 September 2025 – Ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan dari wajah Imas Laelasari (52). Senyum itu lahir dari hadirnya sebuah rumah layak nan sederhana yang membawa rasa aman, ketenangan, sekaligus secercah harapan baru bagi dirinya dan ketiga anaknya. Di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, rumah dengan dinding berkelir merah dan abu itu kini berdiri kokoh, menggantikan bangunan lama yang rapuh dan penuh perasaan resah. 

Sejak 2015, Imas menempati rumah yang jauh dari kata layak. Bangunan tanpa struktur kuat itu membuat dinding retak di berbagai sisi. Atap bocor, lantai keramik hancur, dan setiap malam ia harus berdoa agar rumah tidak runtuh menimpa keluarga kecilnya. “Waktu itu malam hari saya sedang menonton TV bersama anak pertama saya, tiba-tiba atap genteng jatuh roboh. Panik sekali saya. Saya khawatir sewaktu-waktu bisa menimpa saya dan anak-anak,” kenang Imas. 

Doa agar rumahnya bisa kembali layak selalu ia panjatkan. Ia masih teringat pesan mendiang suaminya sebelum berpulang delapan tahun lalu, “Rumah ini jangan sampai dijual, ya Mah, supaya bisa ditempati anak-anak kita nanti.” Pesan itu tertanam kuat, sehingga meski kondisi rumah memburuk, ia tetap bertahan. Namun, memperbaiki rumah bukan hal mudah. Untuk kebutuhan sehari-hari saja, Imas hanya bisa mengandalkan penghasilan anak-anaknya yang sering kali tidak menentu. 

“Kalau rumah ini roboh, saya benar-benar bingung harus tinggal di mana. Makanya saya cuma bisa berdoa semoga ada jalan keluar,” ucap Imas lirih. 

Imas menunjukkan kondisi rumahnya yang tidak layak huni sebelum dibangun kembali oleh Habitat for Humanity Indonesia dan Prudential Indonesia di Gunung Putri, Bogor (18/1). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Rumah Layak Ubah Masa Depan Keluarga Iqballudin

Jawaban itu akhirnya datang. Habitat for Humanity Indonesia bersama Prudential Indonesia melalui Program Desa Maju Prudential hadir membangun kembali rumah milik Imas. Dindingnya kini berdiri kokoh, atapnya kuat, lantainya rapi, dan ruangan dalamnya jauh lebih nyaman. Toilet yang dulu membuatnya takut karena pernah dimasuki ular, kini sudah bersih dan aman digunakan. 

“Alhamdulillah, Ibu senang sekali dan banyak-banyak terima kasih kepada semuanya yang telah membantu keluarga Ibu. Sekarang keadaan jauh lebih berubah. Ibu udah enggak pernah takut atau khawatir lagi rumah bakalan roboh,” tutur Imas dengan lega. 

Lebih dari sekadar bangunan rumah, yang hadir bagi Imas adalah rasa aman. Ia tidak lagi cemas dinding retak akan runtuh, tidak lagi khawatir pencuri mudah masuk, dan tidak lagi waswas ketika hujan deras turun.  

Rumah ini juga turut memunculkan semangat baru. Tak berselang lama setelah berdiri, Imas mencoba mencari modal untuk berjualan makanan ringan di depan rumah. Ia ingin memanfaatkan ruang baru itu sebagai titik awal usaha kecil, agar bisa sedikit demi sedikit mandiri. 

“Rumah itu hartanya Ibu. Andai saja Bapak masih ada, pasti beliau juga senang lihat rumah ini,” ucapnya sambil menahan haru. 

Imas menata dagangan di warung kecil depan rumahnya yang telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Prudential Indonesia di Gunung Putri, Bogor (28/8). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Perubahan yang dirasakan Imas sejalan dengan tujuan besar Program Desa Maju Prudential tahap ketiga yang berjalan sejak November 2024. Program ini tidak hanya membangun rumah seperti milik Imas, tetapi juga memberi dampak luas bagi komunitas. Ada 27 unit rumah layak huni baru yang dibangun, 21 unit toilet rumah tangga baru, serta renovasi 4 fasilitas pendidikan dan umum. Selain itu, program ini menyediakan mesin untuk mengubah sampah menjadi biji plastik, mengadakan pelatihan pengolahan sampah bagi 210 peserta, melatih 75 pengurus pengolahan sampah, hingga memberikan edukasi tentang konstruksi dasar rumah sehat, perilaku hidup bersih dan sehat, serta mitigasi bencana bagi masyarakat. 

Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya dinilai sebagai tempat berteduh. Namun bagi Imas, rumah baru ini adalah simbol kehidupan baru. Dari rumah ini, ia kembali menemukan semangat, harapan, dan keberanian untuk melangkah maju bersama anak-anaknya. 

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)