logotype
Donate
HFHI – EME
Kisah Perubahan

Harapan Baru di Masa Senja untuk Karju dan Jumiyati

Gunungkidul, 16 Maret 2026 – Ada rasa haru yang tidak bisa terbendung ketika Karju mengenang perjalanan hidupnya. Di usia yang sudah menginjak 75 tahun, ia tak pernah membayangkan bahwa di masa tuanya, ia dan sang istri akhirnya bisa menikmati dapur dan toilet yang lebih layak di rumah sederhana mereka di Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Karju dan istrinya, Jumiyati yang berusia 64 tahun, adalah pasangan petani sederhana. Sehari-hari mereka mengandalkan hasil sawah untuk menyambung hidup. Padi yang mereka tanam sebagian dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dijual untuk membeli kebutuhan dapur. Jika hasil panen tidak banyak, mereka memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kebun.

“Enggak cuma padi, mas. Apapun yang ada di kebun seperti pisang, atau ada ayam, apapun kami jual. Yang penting bisa makan setiap harinya,” ujar Karju.

Namun kehidupan sederhana itu juga diiringi berbagai keterbatasan. Dapur rumah mereka hanya berdinding bambu yang sudah rapuh dan berlubang dimakan usia. Kondisi tersebut sering menyulitkan Jumiyati ketika menyiapkan makanan untuk suaminya, terlebih ketika hujan atau angin kencang datang.

Tak jarang, binatang juga masuk melalui celah-celah bambu, membuat dapur menjadi kotor dan berbau tidak sedap. Bagi pasangan lansia ini, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga kesehatan mereka.

Potret Jumiyati berdiri di depan dapur yang tidak layak sebelum Habitat for Humanity Indonesia merenovasi bangunan tersebut di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Kesulitan lain yang sudah mereka hadapi selama puluhan tahun adalah tidak adanya fasilitas sanitasi yang layak di rumah. Setiap kali ingin menggunakan toilet, mereka harus keluar rumah dan berjalan beberapa meter.

“Saya selalu berdoa, semoga dan mudah-mudahan bisa punya rejeki memiliki dapur dan toilet yang bagus,” kata Karju.

Ia juga sering merasa khawatir setiap kali terjadi gempa atau angin kencang, sesuatu yang bukan hal asing di wilayah Gunungkidul. “Kalau misalkan ada gempa, disini kan terasa sekali ya, mas. Atau ada angin kencang, kami takut dapur atau toiletnya rubuh. Apalagi bahannya cuma dari bambu,” ujarnya.

Baca juga: Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Doa yang selama ini mereka panjatkan akhirnya menemukan jalannya. Melalui program peningkatan akses air bersih dan sanitasi layak (WASH), Habitat for Humanity Indonesia bersama para dermawan membantu membangun kembali ruang dapur dan toilet milik Karju dan Jumiyati agar lebih aman dan layak digunakan. Program ini tidak hanya menyentuh keluarga mereka, tetapi juga membantu 24 keluarga lainnya di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Kini dapur dan toilet baru berdiri kokoh di rumah mereka. Perubahan itu terasa bukan hanya secara fisik, tetapi juga di dalam hati pasangan lansia ini. Perasaan cemas yang dulu sering datang perlahan digantikan dengan rasa tenang.

“Ya tenang, perasaan lega. Enggak ada lagi rasa atau pikiran khawatir. Dapur dan toilet yang baru jauh lebih bagus dan kokoh,” ujar Karju.

Dapur baru itu kini menjadi ruang yang paling sering mereka gunakan. Apalagi di saat bulan suci Ramadhan, tempat itu menjadi saksi kebahagiaan sederhana mereka. “Kami sekarang sahur dan berbuka puasa ya di dapur ini. Senang dan bahagia rasanya,” kata Karju dengan senyum.

Karju dan Jumiyati menikmati hidangan di dapur yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Keberadaan toilet yang kini berada di dalam rumah juga membawa kenyamanan tersendiri, terutama bagi mereka yang sudah tidak lagi muda. “Sekarang juga kami sudah tidak khawatir lagi kalau ke toilet malam hari atau saat hujan, karena toiletnya sudah di dalam rumah. Membantu kami sekali,” tambahnya.

Bagi Karju dan Jumiyati, dapur dan toilet yang baru bukan sekadar bangunan semata. Ia menjadi simbol harapan, ketenangan, dan martabat yang lebih terjaga di masa tua mereka. Di usia senja, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu, memiliki rumah yang aman dan layak menjadi berkah yang sangat berarti.

Perubahan kecil seperti ini membuktikan bahwa dukungan dan kepedulian dapat menghadirkan dampak besar bagi kehidupan keluarga yang membutuhkan. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk menjalani hari-hari dengan rasa aman, nyaman, dan penuh harapan.

Yuk, simak lebih banyak kisah inspiratif lainnya tentang bagaimana program Habitat for Humanity Indonesia menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga-keluarga di berbagai daerah di sini. Setiap cerita adalah bukti bahwa bersama, kita bisa membangun rumah sekaligus membangun harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Jasindo (1)
Kabar Habitat

UMKM Karawang Siap Naik Kelas Lewat Pelatihan GoGreen dan Inklusif

Karawang, 9 Maret 2026 – Emang bisa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas? Jawabannya sangat bisa.

Melalui pelatihan yang digagas oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Asuransi Jasindo), sebanyak 20 pelaku UMKM di Kabupaten Karawang kini memiliki wawasan baru tentang konsep GoGreen dan bisnis inklusif untuk menjawab tantangan pasar yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.

Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya keberlanjutan pemberdayaan keluarga penerima manfaat program rumah layak huni. Sejumlah pelaku UMKM yang terlibat merupakan keluarga yang menjalankan usaha rumahan yang tumbuh dari hunian yang lebih layak. Dari rumah yang aman dan sehat tersebut, mereka mulai merintis berbagai usaha kecil untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Sebanyak 20 pelaku UMKM di Kabupaten Karawang mengikuti kegiatan ini, termasuk lima pelaku usaha penyandang disabilitas. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ruang pembelajaran yang inklusif, sehingga setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kapasitas dan memperluas peluang usaha.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak 25 hingga 27 Februari 2026, digelar di Aula Kantor Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Karawang. Selama kegiatan, para peserta dibekali berbagai materi komprehensif yang dirancang untuk memperkuat daya saing usaha mereka di tengah perubahan tren pasar.

Materi yang diberikan mencakup pemahaman tentang konsep bisnis hijau (green business), cara mengidentifikasi peluang ramah lingkungan dalam usaha yang dijalankan, hingga menyusun perencanaan bisnis hijau melalui business model canvas sederhana. Peserta juga mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan ide menjadi desain kemasan ramah lingkungan, memahami prinsip desain berkelanjutan dan pemilihan material yang tepat, hingga mempersiapkan produksi kemasan hijau sebagai bagian dari strategi pemasaran yang bernilai tambah.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber berpengalaman, yakni Dr. Agung Surya Dwianto, SE., MM., CHRP, Dr. Didin Hikmah Perkasa, SE., MM., dan Nur Endah Retno Wuryandari, S.Sos., MM., yang membagikan perspektif akademis sekaligus praktik bisnis yang relevan dengan kebutuhan UMKM saat ini.

Baca juga: Foto: Meningkatkan Kesehatan Komunitas melalui Pelatihan PHBS

Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku UMKM dalam menerapkan konsep GoGreen secara konkret dalam proses produksi dan pengemasan. Selain itu, program ini mendorong inovasi produk berbasis material ramah lingkungan serta memperluas akses pasar melalui penguatan branding dan peluang kolaborasi dengan sektor swasta.

Lebih jauh, inisiatif ini dirancang untuk membangun ekosistem bisnis hijau yang terintegrasi di Kabupaten Karawang. Pelaku UMKM diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada pelestarian sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat. Melalui penerapan prinsip produksi bersih, efisiensi energi, serta pengelolaan limbah yang lebih baik, UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar.

Komitmen kolaborasi ini juga ditandai dengan penyerahan mockup secara simbolis oleh Head of TJSL Jasindo, Bapak Firman, kepada Kepala Dinas Perindagkop UKM Kabupaten Karawang, Bapak H. Dindin Rachmadhy, S.Sos., M.M. Penyerahan ini menjadi simbol dukungan terhadap penguatan ekosistem UMKM yang lebih berkelanjutan dan inklusif di Karawang.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal merupakan langkah strategis dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan baru, para pelaku UMKM Karawang kini semakin siap untuk naik kelas—bukan hanya dari sisi skala usaha, tetapi juga dari sisi dampak positif yang mereka berikan bagi lingkungan dan masyarakat.

Foto: HFHI/Edwin Manahan

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – EME Wash
Kisah Perubahan

Harapan yang Mengepul dari Dapur Kecil Milik Ibu Sri

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Setiap hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, dapur kecil itu sudah hidup. Asap tipis mengepul, tangan terampil membentuk adonan bakso cilok, dan harapan kembali diracik sejak pukul tiga dini hari.

Di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Ibu Sri Lestari (45) menghabiskan hampir seluruh harinya di dapur. Bersama sang suami, Bapak Sumarno (49), mereka menggantungkan hidup dari bakso cilok dan susu kedelai yang dijual berkeliling. Dari subuh hingga larut malam, Ibu Sri menyiapkan dagangan yang kemudian dibawa suaminya menyusuri kampung demi kampung.

Namun, dapur tempat harapan itu diracik jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tua tanpa ventilasi yang memadai. Cahaya matahari sulit masuk, sehingga bahkan di siang hari lampu harus tetap menyala agar ia bisa melihat adonan yang diolahnya. Ketika hujan turun deras, air merembes masuk melalui celah-celah dinding dan atap yang bocor.

“Dulu kalau hujan deras, airnya masuk ke dalam dapur. Jadinya saya harus berhenti memasak bakso di sini. Alhasil suami saya enggak bisa berjualan,” tutur Ibu Sri.

Kondisi dapur milik Sri Lestari sebelum direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul. Foto: Tim HFHI

Bukan hanya dapur yang menjadi tantangan. Toilet rumah mereka berada di luar, terpisah dari bangunan utama. Untuk menggunakannya, keluarga harus berjalan kaki melewati halaman yang gelap dan licin, terutama saat hujan turun atau malam tiba. Kekhawatiran akan terpeleset selalu menghantui. Di sisi lain, rasa malu juga kerap muncul karena belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak.

“Kalau sudah hujan deras, kami takut licin dan takut jatuh. Kalau malam hari juga gelap sekali. Kami juga malu punya toilet di luar,” ungkapnya pelan.

Baca juga: Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Melalui Program Akses Air Bersih dan Sanitasi Layak, Habitat for Humanity Indonesia bersama dukungan para donatur membangun kembali dapur dan toilet milik keluarga Ibu Sri. Dapur baru kini berdiri kokoh dengan dinding permanen berwarna hijau, dilengkapi ventilasi dan jendela yang memungkinkan cahaya serta udara mengalir bebas. Toilet pun dibangun lebih aman dan menyatu dengan rumah, memberikan rasa nyaman dan privasi bagi seluruh keluarga.

Perubahan itu terasa sejak hari pertama.

Kini, dari kejauhan, aroma sedap bakso kembali tercium setiap pagi. Asap mengepul tanpa henti dari dapur yang jauh lebih terang dan sehat. Ibu Sri tak lagi khawatir ketika hujan turun. Ia bisa terus memasak kapan pun diperlukan.

“Sekarang kalau pintunya ditutup saja masih terang, cahaya dari luar masuk. Ventilasinya juga banyak, jadi hawanya enak,” katanya sambil tersenyum.

Sri Lestari memasak adonan bakso cilok di dapurnya yang telah direnovasi oleh Habitat for Humanity Indonesia di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dengan dapur yang lebih aman dan nyaman, produksi hariannya meningkat dari 5 kilogram menjadi 7 kilogram per hari. Ia bahkan mulai menambah varian bakso kuah. Penghasilan keluarga pun bertambah sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari dibandingkan sebelumnya. Ketika dagangan Bapak Sumarno habis, Ibu Sri kini bisa segera menyusul untuk memasok kembali tanpa hambatan.

“Sekarang kalau barang dagangan Bapak habis, saya sudah bisa langsung samperin untuk ngasih baksonya lagi,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Ibu Sri dan suaminya, perubahan ini bukan hanya tentang bangunan fisik. Ini tentang semangat yang tumbuh kembali. Tentang keyakinan bahwa kerja keras mereka bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi dua anak yang masih bersekolah.

“Dengan dapur dan toilet baru ini, menambah semangat saya dan suami untuk berjualan demi menghidupi dua anak kami,” tuturnya haru.

Ke depan, Ibu Sri bermimpi dapat membeli kulkas atau freezer baru agar produksi bisa semakin meningkat. Ia ingin usahanya terus berkembang, selangkah demi selangkah.

Kisah Ibu Sri adalah bukti bahwa akses terhadap hunian dan sanitasi yang layak bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang membuka peluang ekonomi, menjaga kesehatan keluarga, dan memulihkan martabat.

Potret Sri Lestari saat tim Habitat for Humanity Indonesia melakukan wawancara dan monitoring ke rumahnya di Gunungkidul (15/2). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dukungan para donatur telah membantu menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga seperti Ibu Sri. Setiap kontribusi yang diberikan turut mengubah dapur yang gelap menjadi ruang penuh cahaya dan harapan.

Yuk, baca kisah inspiratif lainnya dan lihat bagaimana dukungan Anda dapat menghadirkan perubahan nyata bagi lebih banyak keluarga di sini.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Perspektif Habitat

Memahami Retrofitting: Upaya Memperkuat Rumah Penyintas Pascabencana di Sumatera

Foto udara Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, dua bulan setelah dilanda bencana banjir bandang. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Sibolga, 23 Februari 2026 – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera meninggalkan dampak kerusakan hunian dalam skala besar. Mengutip laman BNPB (10/2), sebanyak 301.102 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 58.505 rusak berat, 66.785 rusak sedang, dan 175.722 rusak ringan. Kerusakan tersebut tersebar di 53 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, menunjukkan luasnya dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat.

Besarnya angka kerusakan ini tidak hanya berarti hilangnya tempat tinggal, tetapi juga hilangnya rasa aman bagi ribuan keluarga. Proses pemulihan pun tidak cukup sebatas membersihkan puing, melainkan membutuhkan upaya membangun kembali hunian agar lebih kuat dan tahan terhadap risiko bencana di masa depan.

Menjawab kebutuhan tersebut, pada 21 Januari 2026, Habitat for Humanity Indonesia memulai komitmen jangka panjang selama dua tahun untuk mendampingi pemulihan keluarga terdampak di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Pada tahun pertama, fokus diarahkan pada perbaikan dan retrofitting 500 rumah dengan kategori rusak ringan hingga sedang, sehingga rumah yang masih dapat dihuni bisa diperkuat tanpa harus dibangun ulang sepenuhnya.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan retrofitting?

Sebelum memahami metode retrofitting, penting untuk mengenali terlebih dahulu bagaimana tingkat kerusakan rumah diklasifikasikan. Berdasarkan Buku Tata Cara Identifikasi dan Verifikasi Kerusakan yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2021 melalui laman perkim.id, kerusakan rumah dibagi menjadi tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat. Penilaian dilakukan dengan melihat kondisi komponen struktural seperti pondasi, kolom, dan balok, serta komponen non-struktural seperti dinding, atap, dan lantai.

Project Management Support Habitat for Humanity Indonesia, Dwijo Andrijanto, melakukan asesmen mendalam terhadap rumah rusak ringan hingga sedang pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga. Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Rumah rusak ringan umumnya hanya mengalami kerusakan pada elemen non-struktural, seperti plafon atau penutup atap, sehingga masih aman untuk dihuni. Sementara itu, rusak sedang mencakup sebagian elemen struktur maupun non-struktur yang terdampak. Rumah ini masih dapat ditempati, tetapi perlu segera diperbaiki agar kerusakan tidak meluas. Adapun rusak berat terjadi ketika sebagian besar komponen bangunan mengalami kerusakan, sehingga berbahaya untuk ditinggali dan sering kali memerlukan pembangunan kembali secara menyeluruh.

Baca juga: Menjangkau 676 Keluarga, Habitat Indonesia Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatera Utara

Apa itu retrofitting?

Untuk rumah dengan kategori ringan hingga sedang inilah Habitat for Humanity Indonesia menerapkan metode retrofitting. Mengutip siagabencana.com, retrofitting merupakan teknik memperkuat atau memodifikasi bangunan yang sudah ada dengan menambahkan elemen baru tanpa membongkar keseluruhan struktur. Pendekatan ini memungkinkan rumah diperbaiki secara lebih efisien, hemat biaya, sekaligus meningkatkan ketahanannya.

Penerapannya dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti menambah atau mempertebal dinding, memasang kawat ayam sebelum diplester, hingga sistem jacketing dengan tambahan tulangan besi. Strategi tersebut bertujuan meningkatkan kekuatan, kekakuan, dan kelenturan struktur agar bangunan lebih tahan terhadap tekanan atau guncangan saat bencana. Program Director Habitat for Humanity Indonesia, Arwin Soelaksono, yang berpengalaman bekerja bersama American Red Cross, menyebutkan bahwa retrofitting dapat dilakukan dengan dana relatif minim namun tetap efektif memperkuat rumah.

Salah satu penerapan metode retrofitting yang dilakukan Habitat for Humanity Indonesia untuk memperkuat bangunan rumah di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Dilansir dari Tempo, metode retrofit bahkan dapat dimulai dari langkah sederhana seperti menambal retakan tembok, menginjeksikan air semen, dan mengikat komponen penahan beban agar bangunan bekerja sebagai satu kesatuan struktur. Menariknya, pendekatan ini tidak hanya digunakan setelah bencana terjadi, tetapi juga dapat diterapkan sebagai langkah mitigasi bagi rumah-rumah di wilayah rawan risiko bencana.

Melalui pendekatan retrofitting, proses pemulihan tidak sekadar mengembalikan rumah ke kondisi semula, tetapi juga membangun hunian yang lebih aman dan tangguh untuk jangka panjang. Habitat for Humanity Indonesia percaya bahwa membangun kembali berarti membangun dengan lebih baik, sehingga keluarga penyintas dapat kembali menjalani hidup dengan rasa aman.

Untuk itu, Habitat Indonesia terus mengajak masyarakat luas berpartisipasi dalam upaya pemulihan pascabencana ini. Dukungan dari para dermawan akan membantu lebih banyak keluarga memperbaiki rumah mereka dan memulai kembali kehidupan dengan harapan baru.

Salurkan dukungan Anda melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Tanjung Kait
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Tangerang Resmikan Revitalisasi Tanjung Kait untuk Masyarakat Pesisir

Tangerang, 13 Februari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) secara resmi melaksanakan acara Serah Terima Program Revitalisasi Tanjung Kait yang berlangsung di Kampung Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, pada Jumat (13/2). Acara ini diresmikan langsung oleh Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia Handoko Ngadiman, Bupati Kabupaten Tangerang Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., serta perwakilan dari Kementerian PKP.

Program Revitalisasi Kampung Tanjung Kait merupakan inisiatif kolaboratif multipihak yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir, khususnya keluarga nelayan berpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian layak, akses kepemilihan lahan, serta pembangunan infrastruktur dasar yang mendukung kehidupan yang lebih sehat dan aman. Program ini menjangkau sekitar 110 keluarga yang sebelumnya tinggal dalam kondisi permukiman yang tidak layak, dengan keterbatasan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan fasilitas dasar lainnya.

Melalui program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan rumah layak huni yang dirancang lebih aman dan tahan terhadap risiko lingkungan pesisir, tetapi juga memperoleh kepastian hak atas tanah melalui skema pembiayaan yang difasilitasi bersama mitra, serta dukungan selama masa pembangunan. Pembangunan kawasan juga dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti jalan lingkungan, drainase, jaringan air bersih, fasilitas umum, dan ruang komunal yang mendorong kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

Sejak dimulai pada 2021 melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan warga, pemerintah daerah, Koperasi Mitra Dhuafa (Komida), Selavip, PT. Lautan Luas Tbk, BMI Monier, PT Avia Avian Tbk, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, dan PT Prudential Life Assurance, revitalisasi ini menjadi simbol transformasi kawasan pesisir yang sebelumnya tergolong kumuh menjadi lingkungan permukiman yang tertata, aman, dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka.

Baca juga: Semangat Perempuan Tangguh di Balik Revitalisasi Kampung Tanjung Kait

Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, menyampaikan bahwa program ini merupakan kolaborasi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

“Melihat keluarga-keluarga di Tanjung Kait kini memiliki rumah yang aman dan kepastian tempat tinggal adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Kami berharap revitalisasi ini menjadi fondasi yang kuat bagi masyarakat Tanjung Kait untuk terus berkembang menata masa depan yang lebih baik. Dengan lingkungan yang lebih sehat dan akses infrastruktur yang lebih baik, kami percaya perubahan positif ini akan menghadirkan rasa aman dan martabat bagi setiap penerima bantuan rumah layak huni. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra yang secara aktif terlibat dalam revitalisasi ini,” ujar Handoko Ngadiman.

Bupati Kabupaten Tangerang, Drs. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir, khususnya para nelayan yang menjadi bagian penting dalam perekonomian daerah. Revitalisasi ini sejalan dengan visi pembangunan wilayah yang berkelanjutan dan inklusif, dengan menghadirkan lingkungan hunian yang sehat, aman, dan tertata.

Dengan selesainya pembangunan dan dilaksanakannya serah terima ini, masyarakat Kampung Tanjung Kait kini memiliki awal baru, lingkungan yang lebih layak huni, lebih aman, dan memberikan harapan baru bagi generasi mendatang. Revitalisasi ini juga diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi penataan kampung-kampung pesisir di berbagai daerah lainnya, sehingga semakin banyak keluarga yang dapat merasakan manfaat dari hunian yang layak, lingkungan yang sehat, dan kehidupan yang lebih sejahtera.

Foto & Penulis: HFHI/Syefira Salsabilla

(kh/av)

HFHI – Thunderbird
Aksi Relawan

Relawan Thunderbird Menggali Asa, Membangun Rumah untuk Keluarga Pak Ade

Bogor, 18 Februari 2026 – Pagi itu, langit Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tampak menghitam. Awan tebal menggantung rendah, dan tak lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi tanah di lokasi pembangunan rumah milik Bapak Ade Saputra. Tanah menjadi becek, udara terasa dingin, tetapi suasana di tempat ini justru dipenuhi rasa semangat.

Sebanyak 16 relawan dari Thunderbird sudah bersiap memulai hari mereka. Sepatu berlumpur dan pakaian yang perlahan basah oleh hujan tak mengurangi senyum di wajah mereka. Tak ada raut gelisah, yang terlihat justru antusiasme dan tawa kecil. Hari itu, mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk membantu membangun rumah layak huni bagi Pak Ade dan keluarganya.

Pak Ade adalah seorang kepala keluarga dengan tiga orang anak. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh serabutan, menerima pekerjaan apa pun yang datang. Penghasilannya tak menentu, sementara rumah yang ditempati selama ini jauh dari kata aman dan nyaman. Dindingnya rapuh tanpa struktur yang kuat, dan atapnya sudah berlubang di banyak sisi. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk hingga menggenangi lantai rumah. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah itu justru sering membuat keluarga mereka khawatir.

Melihat kondisi tersebut, pembangunan rumah layak huni menjadi harapan baru bagi Pak Ade. Harapan itu kini perlahan mulai terwujud, dibangun bersama-sama oleh tangan-tangan para relawan yang bekerja tanpa pamrih.

Baca juga: Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Para relawan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian merangkai besi untuk memperkuat struktur bangunan, memastikan rumah berdiri kokoh dan aman. Kelompok lainnya menggali tanah untuk pondasi. Suara cangkul menghantam tanah, gesekan besi, dan obrolan ringan saling bersahutan, menciptakan irama kerja yang terasa akrab. Meski keringat mengucur dan tenaga terkuras, tak satu pun berhenti, karena mereka tahu setiap langkah kecil hari itu berarti besar bagi satu keluarga.

Muhammad, salah satu relawan, mengaku merasa seperti berada di rumah sendiri. “Saya dan teman-teman disambut hangat sekali. Kami senang bisa membantu keluarga Pak Ade. Semoga setelah rumah ini selesai, rumahnya membawa berkah dan kehidupan yang lebih baik untuk mereka,” ujarnya.

Bagi para relawan Thunderbird, kegiatan ini bukan sekadar aksi sukarela biasa. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sederhana dapat memberi dampak nyata. Dari kebersamaan, gotong royong, dan waktu yang mereka luangkan, tumbuh rasa empati yang semakin dalam terhadap perjuangan keluarga seperti Pak Ade.

Habitat for Humanity Indonesia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan yang telah memberikan tenaga dan hati dalam proses pembangunan ini. Di tengah hujan dan tanah berlumpur, mereka membuktikan bahwa harapan bisa dibangun bersama.

Perlahan, fondasi rumah mulai terbentuk, dinding demi dinding berdiri, dan impian Pak Ade tentang tempat tinggal yang aman akhirnya semakin dekat menjadi kenyataan. Kelak, rumah ini bukan hanya bangunan fisik semata, melainkan ruang untuk berteduh, berkumpul, dan memulai hari-hari yang lebih tenang bersama keluarga.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Menjangkau 676 Keluarga, Habitat Indonesia Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatera Utara

Tapanuli Tengah, 10 Februari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia terus mendampingi keluarga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Memasuki fase pasca tanggap darurat, fokus kini beralih pada pemulihan lingkungan dan perbaikan hunian, agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman dan layak.

Pada 31 Januari 2026, tim Habitat Indonesia melanjutkan distribusi community shelter kit yang menjangkau 170 kepala keluarga di Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Bantuan ini difokuskan pada penyediaan kereta sorong untuk mempercepat pembersihan puing, mengangkut sisa material bencana, sekaligus mendukung semangat gotong royong warga dalam menata kembali lingkungan dan fasilitas publik skala kecil.

Penyaluran tersebut melengkapi bantuan yang telah diberikan sebelumnya. Hingga akhir Januari 2026, total 676 keluarga di empat kecamatan di Kota Sibolga dan satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah telah menerima dukungan berupa family shelter kit maupun community shelter kit.

Menurut Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, distribusi ini menjadi langkah awal dari komitmen jangka panjang Habitat Indonesia di Sumatera Utara. Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, proses pemulihan dirancang berjalan seiring dengan upaya mitigasi risiko bencana. “Fokus kami bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi juga memperkuat ketangguhan komunitas agar lebih siap menghadapi bencana di masa depan,” ujarnya.

Baca juga: Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Bantuan Shelter Kit dan Aneka Alat Pembersihan Puing di Sumatera Utara

Sejak 10 Desember 2025, tim Habitat Indonesia secara konsisten melakukan rapid assessment yang dilanjutkan dengan in-depth assessment untuk memetakan kebutuhan para penyintas, khususnya rumah dengan kerusakan ringan hingga sedang. Hasil kajian ini menjadi dasar pelaksanaan program perbaikan dan retrofitting bagi 500 rumah dalam dua tahun ke depan guna meningkatkan keamanan struktur hunian.

Ke depan, Habitat Indonesia juga merencanakan pembangunan kembali rumah bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan berat. Upaya ini sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan, dengan melibatkan para ibu sebagai penggerak utama dalam proses perbaikan dan pembangunan rumah, sehingga mereka memiliki peran penting dalam membangun kembali kehidupan keluarga dan komunitasnya.

Seluruh langkah ini dapat terwujud berkat dukungan para dermawan, mitra, dan berbagai pihak yang terus bergandeng tangan bersama Habitat for Humanity Indonesia. Habitat Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat yang ingin ikut ambil bagian dalam upaya pemulihan pascabencana di Sibolga dan sekitarnya. Dukungan Anda akan membantu lebih banyak keluarga mendapatkan rumah yang aman, layak, dan tangguh.

Salurkan bantuan melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Astra
Kisah Perubahan

Perjuangan Ibu Kepala Keluarga Mewujudkan Rumah Layak

Bogor, 2 Februari 2026 – Di sebuah sudut Kabupaten Bogor, Ibu Kokom (55) kerap duduk termenung di depan rumahnya saat matahari sore mulai turun. Ia adalah seorang janda, seorang ibu rumah tangga, sekaligus ibu kepala keluarga bagi lima orang anaknya. Dalam diam, ia sering memandangi rumah yang telah lama menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi keluarganya, rumah yang menyimpan banyak cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang nyaris padam.

Sejak tahun 2012, hidup Ibu Kokom berubah sepenuhnya. Kepergian sang suami meninggalkan duka yang mendalam sekaligus beban besar yang harus ia pikul sendiri. Sejak hari itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, membesarkan kelima anaknya dengan segala keterbatasan. Tahun demi tahun dilalui dengan tertatih-tatih. Ia berusaha berlapang dada, meski kenyataan sering kali terasa begitu berat.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru perlahan kehilangan fungsinya. Bangunan itu pernah roboh sebagian, lalu diperbaiki seadanya. Dindingnya terbuat dari bilik bambu tanpa struktur yang kokoh, hanya ditopang oleh kayu-kayu sederhana. Atap seng yang telah dimakan usia menjadi pelindung yang rapuh. Dari kejauhan, rumah itu tampak miring, seakan bisa runtuh lagi kapan saja.

Selama bertahun-tahun, Ibu Kokom dan anak-anaknya hidup tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk buang air, mereka mengandalkan aliran kali kecil di sekitar rumah. Di dekat situ terdapat sumber mata air kecil yang kerap digunakan untuk mandi dan membersihkan diri.

“Kalau sudah kepepet, saya suka menumpang ke rumah tetangga,” tutur Ibu Kokom pelan. “Tapi itu enggak sering, karena malu. Rasanya enggak enak banget numpang.”

Ibu Kokom membawa ember dan gayung, berjalan menuju aliran kali kecil untuk membersihkan diri di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Rumah Ibu Kokom letaknya cukup jauh dari tempat tinggal sanak saudara. Sejak suaminya tiada, ia hanya bisa mengandalkan tetangga di sekitar. Namun bantuan itu tak selalu mudah diterima. Ada rasa sungkan, ada rasa tidak enak hati, terlebih ketika kebaikan tidak selalu datang setiap waktu.

“Saya pernah, karena sering numpang toilet, sampai pintu toiletnya dikunci. Enggak boleh numpang lagi,” kenangnya.

Pengalaman itu meninggalkan luka kecil di hati Ibu Kokom. Bukan karena marah, melainkan karena merasa tak berdaya. Ia tahu, tidak semua orang bisa terus berbagi, dan ia pun lelah harus selalu berada di posisi meminta.

Di tengah keterbatasan itu, Ibu Kokom tetap menyimpan satu mimpi sederhana, memiliki rumah yang layak. Bukan rumah mewah, bukan pula rumah besar. Ia hanya ingin rumah yang bisa melindungi keluarganya, meringankan beban hidup, dan memberi rasa aman bagi anak-anaknya. Doa itu tak pernah putus ia panjatkan, setiap kali beribadah, setiap kali rasa lelah datang. Hingga suatu hari, doa tersebut menemukan jalannya.

Baca juga: Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra datang menemui Ibu Kokom dan menawarkan bantuan perbaikan rumah agar menjadi layak huni. Kabar itu datang seperti cahaya di tengah kelelahan panjang yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, saya sama anak-anak senang banget,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Proses pembangunan rumah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. Banyak tangan terlibat, banyak kebaikan yang mengalir. Tetangga dan warga sekitar ikut membantu secara swadaya, mengangkut material, membongkar rumah lama, hingga menggali septictank. Rumah yang dulu rapuh perlahan berubah menjadi bangunan yang kokoh dan aman.

Kini, beban yang selama ini menghimpit pundaknya terasa terangkat. Rumahnya tidak lagi menjadi sumber kecemasan. “Ibu sekarang sudah enggak pernah kepikiran macem-macem soal rumah,” katanya. “Rumahnya kuat, bagus, dan kami sekarang punya kamar mandi dan toilet sendiri. Enggak perlu ke kali lagi.”

Lebih dari sekadar bangunan fisik, rumah layak huni ini turut memulihkan martabat keluarga Ibu Kokom. Mereka kini memiliki ruang privasi yang terjaga, kebersihan yang lebih baik, dan rasa percaya diri yang perlahan tumbuh. Anak-anak tak lagi merasa rendah diri, dan Ibu Kokom tak lagi diliputi rasa malu.

Ibu Kokom membersihkan lantai kamar mandi di rumahnya yang kini telah layak huni, hasil pembangunan Habitat for Humanity Indonesia bersama Astra di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Bagi Ibu Kokom, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Rumah ini adalah tempat berteduh dari kerasnya hidup, tempat harapan kembali disemai, dan tempat masa depan anak-anaknya mulai dirancang dengan lebih tenang.

“Rumah itu tempat kita pulang setiap hari,” ucapnya. “Dan rumah ini akan jadi tempat segalanya untuk masa depan anak-anak.”

Masih banyak keluarga seperti Ibu Kokom yang memendam harapan serupa, harapan sederhana untuk hidup lebih layak, namun terhalang oleh keterbatasan. Setiap rumah yang dibangun bukan hanya mengubah wujud sebuah bangunan, tetapi juga mengubah arah hidup sebuah keluarga.

Uluran tangan yang tepat bisa menjadi jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan. Jika kamu ingin menjadi bagian dari perubahan itu, kebaikanmu dapat disalurkan melalui: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – MPM
Kisah Perubahan

Rumah yang Menguatkan Langkah Seorang Office Boy

Bogor, 21 Januari 2026 – Pagi itu, Muhamad Qosim berdiri sejenak di ambang pintu rumahnya yang kini berwarna biru cerah. Rumah kecil yang dulu terasa pengap dan penuh kekhawatiran, kini tampak lapang dan menenangkan. Sesuatu yang dulu hampir mustahil ia bayangkan, kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Qosim yang berusia 47 tahun bukanlah sosok yang asing di Kantor Desa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sejak tahun 2020, ia bekerja sebagai office boy di kantor desa tersebut. Lima tahun lebih ia mengabdi, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan kantor, dan memastikan aktivitas pelayanan berjalan lancar. Upah yang ia terima tidak lebih dari satu juta rupiah per bulan, jumlah yang harus ia kelola dengan sangat irit untuk menghidupi istrinya, Ella yang berusia 41 tahun, serta tiga orang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan berusia dua tahun.

Sebelum menjadi office boy, Qosim bekerja sebagai pengendara ojek pangkalan. Pekerjaan berpindah-pindah sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Namun satu hal yang tak pernah berubah, tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan keinginannya memberikan rasa aman bagi orang-orang yang ia cintai.

Rumah yang mereka tempati bukan rumah baru. Dua puluh tahun lalu, Qosim membeli rumah itu dari neneknya dengan luas tanah hanya 21 meter persegi. Ketika masih berdua dengan istrinya, rumah itu terasa cukup. Namun seiring bertambahnya anak, ruang yang sempit mulai terasa menekan.

“Sejak saya punya rumah ini, belum pernah dibangun atau dibesarin. Kondisinya seperti ini saja. Paling saya perbaiki sedikit demi sedikit kalau bocor atau dindingnya mulai kelupas,” tutur Qosim.

Qosim menunjukkan titik kebocoran di rumahnya saat proses pembongkaran rumah yang akan dibangun kembali menjadi rumah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Atap rumahnya masih menggunakan asbes, material yang ia ketahui berisiko bagi kesehatan keluarga. Namun mengganti atap dengan genteng juga bukan hal mudah karena keterbatasan biaya. “Kalau mau ganti atap genteng, saya enggak sanggup. Biayanya besar, sementara penghasilan saya cuma cukup buat makan dan sekolah anak,” katanya pelan.

Setiap kali menemukan dinding berlubang atau bagian rumah yang mulai keropos, Qosim selalu berusaha memperbaikinya. Rasa takut rumah tersebut dapat membahayakan keluarganya sewaktu-waktu menjadi penggeraknya, walau kondisi finansial sering kali tidak memadai. Akibatnya, uang yang ia miliki selalu habis untuk menambal kerusakan. Hidup mereka pun berjalan dalam kondisi pas-pasan, nyaris tanpa ruang untuk menabung. Penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Perubahan mulai datang ketika Habitat for Humanity Indonesia bersama PT Mitra Pinasthika Mustika hadir di Desa Sentul. Melalui proses asesmen, rumah yang ditempati Qosim dinilai membutuhkan peningkatan menjadi rumah layak huni. Kondisi kerusakan rumah, masuk dalam kelompok ekonomi terendah, dan kepadatan jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan luas rumah menjadi pertimbangan Qosim untuk dibangunkan rumah layak huni.

Proses pembangunan rumah baru menjadi momen yang penuh harap. Perlahan, rumah lama yang rapuh berganti menjadi hunian yang lebih luas dan kokoh. Kini, rumah Qosim berdiri dengan luas 28 meter persegi, berwarna biru cerah yang memancarkan suasana berbeda dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur banget punya rumah ini. Senangnya sekeluarga bukan main. Anak saya yang paling kecil saja waktu itu langsung bilang, kamarnya mau di sebelah sini,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan rumah yang lebih luas, Qosim tidak lagi harus berbagi kasur dengan seluruh anggota keluarga. Ia, istri, dan anak bungsunya kini memiliki kamar sendiri, sementara dua anak lainnya juga memiliki ruang tidur masing-masing.

Qosim dan istrinya, Ella, bermain bersama putra bungsunya di ruang tengah rumah mereka yang telah layak huni di Kabupaten Bogor. Foto: HFHI/Kevin Herbian

“Saya juga merasa lebih percaya diri. Sekarang enggak malu lagi kalau nerima tamu. Dulu sering saya arahkan ke rumah orang tua karena rumah sendiri sempit dan kurang layak,” tuturnya.

Keberkahan rumah layak huni itu tidak berhenti pada perubahan fisik. Beberapa minggu setelah rumahnya selesai dibangun, Qosim mendapatkan tawaran untuk mengemban peran baru sebagai staf pelayanan di kantor desa. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Qosim, rumah layak huni bukanlah penyebab langsung dari perubahan statusnya. Namun rumah itu menjadi fondasi yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh. Dengan kondisi hidup yang lebih stabil, ia mampu menunjukkan kapasitas dan dedikasinya dalam bekerja.

“Sekarang saya punya semangat baru. Saya ingin kerja lebih giat, nabung pelan-pelan. Ke depan saya ingin nambah satu kamar lagi,” katanya penuh harap.

Kisah Qosim membuktikan bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah fondasi kehidupan yang membuka ruang bagi perubahan. Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, harapan pun menemukan tempat untuk tumbuh.

Bagi Qosim, rumah layak huni itu telah mengantarkannya bukan hanya pada tempat tinggal yang lebih baik, tetapi juga pada kehidupan yang lebih bermartabat dan penuh harapan.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia Salurkan Bantuan Shelter Kit dan Aneka Alat Pembersihan Puing di Sumatera Utara

Sibolga, 21 Januari 2026 – Habitat for Humanity Indonesia bergerak cepat dalam fase pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara pada akhir 2025. Melalui dukungan para donatur, Habitat Indonesia menyalurkan bantuan berupa 200 paket Shelter Kits & Rubble Removal dari total target 1000 paket untuk keluarga terdampak di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, dan sekitarnya. Aksi kemanusiaan ini terwujud berkat dukungan dana dari para donatur.

Momentum distribusi bantuan ini juga diperkuat dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Habitat for Humanity Indonesia dengan Kota Sibolga yang diwakili oleh Akhmad Syukri Nazry Penarik, S.Pd., M.H., selaku Walikota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, yang diwakili oleh Masinton Pasaribu, S.H., selaku Bupati Tapanuli Tengah. Kerja sama resmi ini dilakukan untuk mensinergikan data penerima manfaat serta memastikan bahwa proses pemulihan fisik rumah warga berjalan selaras dengan rencana tata ruang dan mitigasi bencana pemerintah daerah. Dengan dukungan legalitas ini, Habitat Indonesia mendapatkan akses lebih luas dalam mengoordinasikan bantuan teknis dan logistik di lapangan.

Distribusi bantuan dipimpin langsung oleh Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, dan Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia guna memastikan perlengkapan diterima langsung oleh keluarga yang membutuhkan untuk memulai perbaikan hunian secara mandiri.

Dukungan Aneka Alat Bantu Perbaikan Rumah dan Pembersihan Puing

Berdasarkan kebutuhan di lapangan, paket yang dibagikan mencakup perlengkapan teknis untuk perbaikan rumah dan pembersihan sisa material banjir (rubble removal). Setiap keluarga menerima:

  • Material Pelindung: 2 lembar terpal ukuran 4×6 meter dan 15 lembar karung kapasitas 50 kg.
  • Perangkat Pertukangan: Palu/martil sedang, gergaji kayu, linggis, sekop, cangkul lengkap dengan gagang, serta 2 kg paku (ukuran 7 cm dan 10 cm).
  • Alat Keamanan Kerja: 3 rol tali tambang, 1 lusin sarung tangan, serta masing-masing 2 buah helm proyek, sepatu boot, dan kacamata safety untuk menjamin keselamatan warga saat bekerja.

Selain bantuan per keluarga, Habitat juga menyediakan Community Shelter Kit yang mencakup peralatan bersama seperti kereta sorong (wheelbarrow) sebanyak 5 unit per kelompok untuk mempercepat pembersihan lingkungan.

Baca juga: Ribuan Warga Sibolga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir dan Longsor: Habitat for Humanity Indonesia Ajak Publik Bergerak Pulihkan Rumah Layak Huni

Program Dua Tahun Pasca Bencana

Penyaluran shelter kit ini menandai dimulainya komitmen jangka panjang Habitat Indonesia selama satu tahun ke depan yang berfokus kepada perbaikan rumah dan retrofitting serta pembangunan hunian baru pada tahun kedua.

  1. Perbaikan rumah dan retrofitting untuk 500 rumah rusak ringan dan rusak sedang, yang merupakan perbaikan dan perkuatan struktur rumah agar lebih aman dari ancaman bencana di masa depan.
  2. Bagi warga yang rumahnya rusak berat, pembangunan kembali rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal pada tahun kedua
  3. Pemberdayaan perempuan di bidang pembangunan kembali untuk mendorong peran perempuan sebagai penggerak pembangunan kembali pasca bencana. Program ini menitikberatkan pada keterlibatan ibu-ibu dalam memimpin proses pemulihan dan pembangunan rumah bagi keluarga mereka. Secara khusus, program ini mendorong perempuan sebagai penggerak utama pembangunan.

“Distribusi shelter kit ini hanyalah langkah awal dari komitmen jangka panjang kami di Sumatera Utara. Melalui kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, kami memastikan bahwa proses pemulihan ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan selaras dengan mitigasi bencana daerah. Fokus kami adalah keberlanjutan; kami tidak hanya membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga membangun ketangguhan komunitas—terutama peran perempuan—agar mereka mampu menjaga dan mewariskan hunian yang lebih aman bagi generasi mendatang,” ujar Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia.

Habitat for Humanity Indonesia meyakini bahwa keterlibatan aktif perempuan sangat krusial dalam keberlanjutan pemulihan pascabencana. Sebagai sosok yang paling memahami kebutuhan domestik dan keamanan anggota keluarganya, perempuan memiliki ketelitian serta ketahanan emosional yang tinggi dalam mengelola perbaikan hunian. Dengan menempatkan perempuan sebagai pengambil keputusan dalam proses pembangunan, rumah yang dihasilkan tidak hanya menjadi bangunan fisik yang kokoh, tetapi juga menjadi ruang yang lebih aman, inklusif, dan tangguh bagi seluruh anggota keluarga di masa depan.

Habitat for Humanity Indonesia masih membuka kesempatan bagi #SahabatHabitat yang ingin turut mengambil bagian dalam upaya pemulihan pascabencana di Sibolga dan sekitarnya. Dukungan dari masyarakat luas akan memperkuat langkah pemulihan jangka panjang, mulai dari perbaikan rumah hingga pembangunan hunian yang lebih aman dan tangguh bagi keluarga penyintas. Uluran tangan dapat disalurkan melalui kampanye donasi di kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga, sebagai wujud solidaritas untuk membantu keluarga bangkit dan membangun kembali harapan mereka.

Foto: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Astridinar Vania

(as/kh)