logotype
Donate
HFHI – MedcoEnergi
Kisah Perubahan

Rumah yang Menjadi Saksi Kebahagiaan Keluarga Durahman

Tangerang, 13 Januari 2026 – Sore itu, Durahman (55) bersama istrinya, Rohayati (48), sedang berkumpul bersama di ruang tengah rumah barunya, menyaksikan anak-anak dan cucunya bermain dengan tawa riang, tanpa gangguan kebocoran atau udara pengap seperti yang dulu mereka rasakan.

Setiap sudut rumah baru ini menyimpan kebahagiaan yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupnya bersama keluarga di rumah tua yang rapuh penuh keterbatasan, namun hari ini, keadaan terasa berbalik. Rumah kini menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat, sebuah hadiah dari kerja keras dan doa yang tak pernah padam.

Sebelum memiliki rumah layak huni, kehidupan Durahman penuh ketidakpastian. Ia bekerja sebagai buruh serabutan, siap mengerjakan apa saja yang diminta, mulai dari kuli cangkul hingga tukang bangunan. Penghasilannya pun tak menentu, hanya lima puluh ribu rupiah per hari bila ada panggilan kerja. Dua tahun sebelumnya, saat tubuhnya masih kuat, Durahman menempuh jalan puluhan kilometer untuk mengumpulkan dan menjual barang rongsokan. Namun usia dan kondisi tubuh membuatnya tak lagi sanggup menempuh pekerjaan berat itu.

Di sisi lain, Rohayati, setia mengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak perempuan, dengan dua anak sulung yang telah menikah dan tinggal bersebelahan. Anak ketiga berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, sementara anak bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Keterbatasan ini sering membuat Durahman dan istrinya merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.

Rumah lama yang mereka tempati juga memperparah kesulitan itu. Sebagian dindingnya dari bata, sebagian lagi dari bilik bambu tanpa tiang struktur kokoh. Atap yang menua menjadi sarang kebocoran di musim hujan.

“Itu rumah sering banget kebocoran, Pak. Saya kasihan sama anak saya, suka terganggu belajarnya di rumah. Saya coba benerin seadanya, saya tambal-tambal tetap bocor,” kenang Durahman.

Kondisi rumah milik Durahman sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia dan MedcoEnergi di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Indah Mai

Meski lantainya dari keramik, keramik itu sendiri adalah hasil jerih payahnya memungut barang rongsok. “Makanya lantai saya itu belang-belang, beda-beda,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Soal sanitasi turut menjadi tantangan besar. Keluarga hanya memiliki bilik mandi sederhana, sedangkan kebutuhan buang air besar harus menumpang ke rumah orang tua atau pergi ke empang. Meski begitu, Durahman tetap bersyukur keluarga bisa berkumpul di rumah, meski penuh keterbatasan.

“Sebenernya saya ingin sekali bisa memberikan tempat tinggal layak untuk keluarga saya. Tapi untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Anak yang paling kecil pernah bilang kepengen punya rumah dua lantai. Tapi saya cuma bilang, ‘Berdoa aja ya Nak,’” ujarnya.

Baca juga: Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Harapan itu akhirnya menjumpai jalan melalui program Rumah Layak Huni yang dijalankan oleh Habitat for Humanity Indonesia, bekerja sama dengan MedcoEnergi dan Medco Foundation. Rumah Durahman, beserta 14 keluarga lain di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dibangun kembali sebagai bagian dari total 45 rumah layak huni yang dibangun di tiga wilayah yakni, Tangerang, Palembang, dan Situbondo.

“Bapak enggak pernah menyangka ternyata rumah Bapak bisa dibedah dan jadi bagus seperti ini,” ujar Durahman, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Perubahan terlihat dari setiap sudut rumah, mulai dari atap baru yang rapat, dinding kokoh berwarna krem, lantai keramik seragam, serta fasilitas sanitasi yang layak.

Pertama kali tidur di rumah baru, Durahman mengaku sulit memejamkan mata. Bayangan rumah lama yang bocor dan rapuh masih terngiang di kepala. Namun pagi berikutnya, tawa anak-anak yang belajar dan bermain di ruang tengah membuatnya tersadar, mereka kini benar-benar memiliki tempat yang aman dan nyaman. Binatang pengganggu seperti tikus tak lagi mengusik, udara bersih memenuhi setiap ruang, dan toilet sendiri memberikan rasa martabat dan kebersihan yang tak ternilai.

Dengan rumah baru yang kini aman dan nyaman, Durahman mulai memikirkan langkah berikutnya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya dan mewujudkan impian anak-anaknya. “Perlahan-lahan, sambil saya cari tambahan modal, saya ingin kembali berjualan rongsokan ke kota. Tapi saat ini saya mau fokus dulu agar anak ketiga saya bisa bersekolah lagi, dia ingin ikut pesantren seperti kakaknya,” ujar Durahman.

Ia juga menegaskan, rumah ini bukan hanya untuknya, melainkan untuk anak bungsu yang masih kecil, sebagai warisan kenyamanan, keamanan, dan kesempatan.

Potret keluarga Durahman di depan rumah miliknya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Hidup keluarga Durahman kini penuh kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai. Ia bisa duduk bersama anak-anak dan cucunya di ruang tengah, menyaksikan mereka belajar, bermain, dan tertawa, sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Setiap bata yang tersusun, setiap genteng yang menahan hujan, bukan hanya bangunan fisik, melainkan saksi bisu dari doa, harapan, dan cinta yang melekat pada dinding rumah. Rumah Durahman kini adalah fondasi masa depan, tempat di mana generasi berikutnya dapat tumbuh dengan aman, sehat, dan penuh percaya diri.

Seperti cahaya mentari yang menembus jendela rumah baru, rumah ini menyalakan harapan baru bagi keluarga Durahman. Dan dengan setiap dukungan yang diberikan, lebih banyak keluarga seperti Durahman dapat merasakan hangatnya doa yang terwujud, ketekunan yang berbuah nyata, dan kehidupan yang lebih layak.

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Kamila
Kisah Perubahan

Kisah Seorang Ibu yang Hampir Pergi demi Masa Depan Keluarganya

Tangerang, 8 Januari 2026 – Di sebuah sudut desa yang tenang di Kabupaten Tangerang, Kamila duduk menggendong bayi bungsunya di teras rumah barunya yang kini berdiri kokoh. Sesekali ia memandangi dinding yang bersih, atap yang rapat, dan lantai yang tak lagi becek. Satu anaknya yang lain berlarian kecil di ruang tengah sambil tertawa, suara yang dulu sering tenggelam oleh derasnya hujan yang menembus atap rumah lama mereka.

Tiga minggu sudah Kamila tinggal di rumah layak huni ini, namun rasa syukurnya seolah tak pernah surut. Setiap pagi, saat membuka mata, ia masih sering tertegun. “Ya Allah… beneran rumah saya sudah seperti ini,” ujarnya lirih, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa mimpi yang dulu terasa begitu jauh kini telah menjadi kenyataan.

Sebelum Rumah Baru Itu Ada

Beberapa bulan ke belakang, kehidupan Kamila jauh dari rasa aman seperti yang ia rasakan hari ini. Ia dan keluarga kecilnya hidup dalam rumah yang hampir roboh dengan bilik bambu yang rapuh, lantai tanah yang becek, dan atap yang tak lagi mampu menahan hujan.

“Kalau hujan, kami pasti angkat kasur. Nadahin bocor pakai panci,” kenangnya. Dalam sekali hujan deras, air tak hanya turun dari atas, tapi juga merembes dari bawah. Lantai tanah berubah menjadi lumpur, basah di mana-mana. Tidak jarang, malam-malam keluarga kecil itu terjaga, bukan karena bayi menangis, melainkan karena takut atap runtuh.

Pada masa kehamilannya, ketakutan itu semakin besar. “Waktu itu saya masih mengandung anak yang kecil ini… saya sering merasa sedih, Pak. Kepikiran gimana kalau nanti melahirkan tapi masih tinggal di rumah seperti itu. Takut roboh… takut kenapa-kenapa sama anak saya.”

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tak bisa berbuat banyak. Suaminya, Samsul—lelaki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh serabutan—menghabiskan hari-harinya di sawah atau di proyek bangunan dengan upah Rp50.000 per hari. Itulah satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Dengan satu anak sekolah TK dan satu bayi, kebutuhan sehari-hari sering kali tak terpenuhi. “Kadang mau beli beras aja harus hutang ke warung tetangga,” kata Kamila. Untuk biaya sekolah anaknya, yang hampir satu juta rupiah, Samsul pun sering terpaksa menyicil atau meminjam sana-sini. “Berat rasanya, Pak…” ucap Kamila.

Saking terdesaknya keadaan, Kamila pernah berencana bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita. Ia mengurus dokumen, mengisi formulir, bahkan kehilangan ijazahnya di tengah proses administrasi yang panjang. Namun pada akhirnya, ia membatalkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Samsul.

“Suami saya bilang, ‘Sabar ya, Mah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Mamah di sini aja, enggak usah berangkat. Kita jaga keluarga dan anak-anak kita.’”

Saat Kamila menirukan ucapan suaminya, matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena cinta, tapi karena ia tahu keputusannya bertahan hanyalah karena keluarga, meski itu berarti terus tinggal di rumah yang nyaris tidak bisa disebut rumah.

“Apa daya, Pak… kemampuan kami cuma seperti ini. Setiap dapat uang lebih, langsung habis buat bayar hutang,” ungkapnya.

Potret keluarga Kamila di depan rumahnya yang telah layak huni di Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Harapan Datang Mengetuk Pintu

Harapan itu datang pada hari yang tidak pernah ia duga. “Saya masih ingat… waktu tim Habitat datang pertama kali buat survei. Rasanya lega sekali. Waktu itu aja saya sudah punya sedikit harapan. Tapi begitu benar-benar terpilih dapat bantuan… Masya Allah, bersyukur sekali.”

Habitat for Humanity Indonesia bersama donatur membangun kembali rumah Kamila dari nol, memberinya struktur yang kuat, dinding yang kokoh, atap yang tidak lagi bocor, dan ruang-ruang yang membuat keluarganya bisa bernapas lega. Sebelum ditempati, Kamila bahkan ikut swadaya semampunya untuk membangun dapur dan merapikan beberapa bagian rumah, usaha kecil yang dilakukan dari hati yang besar.

Saat ia melihat rumah itu selesai dibangun, Kamila hanya mampu menunduk dan menangis. “Ya Allah… apa ini jawaban dari larangan suami saya pergi ke luar negeri? Mungkin kalau saya tetap berangkat, saya enggak bakal dapat semua ini.”

Tiga minggu tinggal di rumah baru membuat hidup keluarga ini berubah drastis. “Tidak ada lagi bocor, tidak ada lagi cerita angkat kasur,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Rasanya aman, nyaman… tidur pun lebih nyenyak.”

Namun perubahan terbesar bukan pada rumahnya, melainkan pada pikirannya. Kamila kini bisa fokus mengurus anak-anaknya tanpa dihantui rasa takut rumah roboh atau biaya perbaikan. Ia bisa memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan sekadar bertahan hidup hari demi hari. Dan dengan tidak adanya lagi pengeluaran mendesak untuk memperbaiki rumah, keluarga kecil ini bisa mulai perlahan melunasi hutang-hutangnya.

“Rumah ini… anugerah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.

Kamila tahu betul bahwa keberuntungannya tidak dialami semua orang. “Jutaan keluarga di luar sana juga bermimpi punya rumah seperti ini, Pak. Tapi kemampuan mereka… ya mungkin sama seperti kami dulu. Serba terbatas.”

Cerita Kamila menjadi pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan pondasi bagi keluarga untuk hidup layak, membesarkan anak dengan aman, dan bermimpi lebih tinggi. Dan bagi keluarga seperti Kamila, tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.

Bantu wujudkan lebih banyak rumah layak bagi keluarga di Indonesia: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Sibolga
Kabar Habitat

Ribuan Warga Sibolga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Banjir dan Longsor; Habitat for Humanity Indonesia Ajak Publik Bergerak Pulihkan Rumah Layak Huni

Sibolga, 5 Januari 2026 – Bencana banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang melanda bagian utara Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 telah meninggalkan duka mendalam. Jutaan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka hancur diterjang material longsor dan luapan sungai. Menanggapi krisis ini, Habitat for Humanity Indonesia menyerukan aksi solidaritas nasional untuk membantu proses pemulihan hunian bagi keluarga terdampak, khususya di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Berdasarkan laporan Rapid Assessment yang dilakukan Tim Rapid Assessment Habitat Indonesia pada periode 11–21 Desember 2025, tercatat 633 unit rumah rusak, dengan 311 di antaranya mengalami kerusakan berat yang membuat warga kehilangan tempat bernaung yang aman. Kondisi penyintas banjir dan longsor di Sibolga kini memasuki fase kritis. Laporan terbaru Joint Needs Assessment (JNA) 2025 mengungkapkan bahwa lebih dari 57% total rumah warga yang terdampak sudah tidak aman lagi untuk ditinggali. Habitat for Humanity Indonesia kini menyerukan tindakan segera dari seluruh lapisan masyarakat untuk membantu ribuan jiwa yang kehilangan tempat tinggal dan akses kesehatan dasar.

Krisis Kemanusiaan di Tengah Reruntuhan

Saat ini, diperkirakan 7.276 jiwa mengungsi. Wilayah Sibolga Selatan dan Sibolga Utara menjadi titik paling kritis, di mana ratusan rumah di lereng perbukitan dan bantaran sungai mengalami kerusakan struktural serius.

“Rumah bukan sekadar bangunan, ia adalah benteng perlindungan terakhir bagi sebuah keluarga. Di Sibolga, benteng itu runtuh bagi ratusan keluarga,” ujar Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia. “Kami hadir di lapangan tidak hanya untuk mendata kerusakan, tetapi untuk memastikan bahwa mereka bisa kembali ke rumah yang lebih aman, lebih layak, dan lebih tangguh terhadap bencana di masa depan.”

Langkah Nyata Habitat Indonesia di Lapangan

Habitat Indonesia telah menyusun rencana respon kemanusiaan tahun pertama yang berfokus pada:

  • Distribusi Recovery Shelter Kit (aneka alat menukang untuk perbaikan rumah): Menargetkan bantuan kepada 1.000 keluarga.
  • Perbaikan Hunian: Melakukan repair dan retrofitting (penguatan struktur) untuk 500 rumah.
  • Pemulihan Water, Sanitation, and Hygiene (WASH): Menyediakan akses air bersih, layanan sanitasi, serta pelatihan praktik membangun kembali dengan lebih aman (build back safer).
  • Dukungan di bidang Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI): Memastikan kelompok rentan (perempuan kepala rumah tangga, lansia, dan disabilitas) mendapatkan akses pasar dan bantuan tunai secara aman dan inklusif.

Panggilan Kemanusiaan: Mari Membangun Kembali

Pemulihan pascabencana membutuhkan sumber daya yang besar. Habitat for Humanity Indonesia mengajak sektor swasta, komunitas, dan individu untuk berkontribusi dalam misi kemanusiaan ini. Setiap dukungan yang diberikan akan disalurkan langsung untuk pengadaan material bangunan, alat pertukangan, dan pendampingan teknis pembangunan hunian yang aman.

Habitat for Humanity Indonesia mengajak Anda untuk mewujudkan harapan warga Sibolga melalui laman kitabisa.com/bangunharapansibolga atau melalui rekening donasi resmi Habitat for Humanity Indonesia: Bank BCA: 210-3002-958 (Habitat Kemanusiaan Ind Yay)

Mohon tambahkan angka ’26’ di akhir nominal donasi Anda (contoh: IDR 100.026) untuk membantu kami mengidentifikasi kontribusi Anda.

“Kami mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi. Dengan donasi Anda, kita tidak hanya memberikan atap, tetapi memberikan harapan baru bagi warga Sibolga untuk membangun dan menata kembali masa depan mereka,” tambah Arwin.

Penulis: Astridinar Vania

(av/kh)

HFHI – 2025
Kabar Habitat

Menutup Perjalanan 2025: Terima Kasih Telah Membangun Harapan Bersama

Jakarta, 31 Desember 2025 — Menjelang akhir perjalanan panjang di tahun 2025, Habitat for Humanity Indonesia ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para donatur, mitra, lembaga, sukarelawan, dan setiap individu yang telah berjalan berdampingan bersama kami sepanjang tahun ini.

Terima kasih atas waktu yang telah Anda bagikan. Atas energi yang telah Anda curahkan. Atas sumber daya yang ditawarkan dengan hati yang tulus. Di atas segalanya, terima kasih karena telah mempercayai visi sederhana namun kuat, bahwa setiap keluarga berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Setiap langkah yang diambil tahun ini lebih dari sekadar aktivitas. Setiap rumah yang kini berdiri tegak lebih dari sekadar bangunan. Setiap cerita yang kami dengar lebih dari sekadar laporan. Masing-masing adalah jejak kebaikan — sebuah warisan yang menetap dalam kehidupan keluarga-keluarga yang kini memiliki ruang aman untuk tumbuh, pulih, dan merencanakan masa depan yang lebih baik.

Saat kami menoleh ke belakang dan menelusuri kembali jalan kami sepanjang tahun 2025, kami menyadari bahwa dampak kolektif dari tindakan kita telah menjangkau jauh melampaui apa yang terlihat oleh mata.

Sejak tahun 1997 Habitat for Humanity hadir di Indonesia, kerja kolaboratif ini telah membantu 219.704 keluarga mencapai stabilitas, kemandirian, dan kesejahteraan. Sebanyak 39.870 rumah layak huni telah dibangun, menghadirkan keamanan yang telah lama dinantikan bagi ribuan keluarga.

Selain hunian, kami juga memperluas akses sanitasi dan air bersih. Sebanyak 31.842 fasilitas sanitasi yang memadai dan berbagai sumber air bersih kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak keluarga. Sementara itu, 787 fasilitas umum telah dibangun untuk memperkuat komunitas lokal.

Di balik angka-angka ini, terdapat tangan-tangan tak terhitung jumlahnya yang bekerja tanpa lelah di Indonesia selama lebih dari 28 tahun. Ada 54.747 sukarelawan Habitat yang tidak hanya mengangkat batu bata dan membangun dinding, tetapi juga menanam harapan. Terdapat pula inisiatif pengembangan pasar perumahan yang menjangkau 73.987 individu, membuka ekosistem yang lebih inklusif bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Berkat kedermawanan dan kasih sayang dari #SahabatHabitat, sebanyak 988.668 individu di seluruh Indonesia kini merasakan manfaat nyata dari program-program ini — mulai dari Batam, Tangerang, Bogor, Karawang, Garut, Cilegon, Palembang, Yogyakarta, Gresik, Kupang, hingga Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.

Ringkasan data capaian Habitat for Humanity Indonesia selama 28 tahun, mulai dari program rumah layak huni hingga program peningkatan kualitas hidup masyarakat. Infografis: HFHI/Tias Ester Widhari

Di antara ratusan ribu kisah yang ada, salah satunya mencerminkan perjalanan banyak keluarga. Amalia, penerima manfaat rumah layak huni di Mauk, Kabupaten Tangerang, telah menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam kondisi yang tidak aman, terus-menerus khawatir akan kebocoran saat hujan deras. Setiap malam, ia hanya bisa berharap anak-anaknya tetap sehat dan tidak merasa takut.

Hari ini, ekspresinya berubah saat ia menceritakan kehidupan barunya. “Di sini, saya akhirnya merasa seperti seorang ibu yang benar-benar memiliki tempat untuk melindungi anak-anak. Anak saya bisa belajar tanpa rasa khawatir, dan saya bisa memikirkan masa depan mereka dengan tenang. Rasanya seperti diberikan kesempatan kedua untuk menata kembali hidup kami,” tuturnya.

Kisah Amalia mengingatkan kita bahwa sebuah rumah bukan sekadar dinding dan atap. Rumah adalah sebuah awal — tempat di mana nilai-nilai, kasih sayang, pendidikan, dan harapan dipupuk.

Kontribusi Anda telah membantu mengurangi jumlah keluarga yang masih tinggal di hunian yang tidak layak. Namun, jika kita hanya fokus pada statistik, kita berisiko kehilangan makna mendalam dari perjalanan ini. Dampak yang sesungguhnya terletak pada hari-hari panjang di lapangan, keputusan-keputusan sulit, ketekunan dalam menghadapi rintangan, dan emosi yang dibagikan kepada keluarga-keluarga yang terus bertahan. Inilah yang mengubah perubahan menjadi kenyataan.

Menyambut 2026: Lanjutkan Harapan, Perkuat Kepedulian

Memasuki tahun 2026, Habitat for Humanity Indonesia dengan rendah hati memohon doa dan dukungan Anda. Tahun depan, kami akan memulai program pemulihan pascabencana selama dua tahun di Sibolga, Sumatera Utara.

Pada pertengahan Januari 2026, tim Habitat akan mendistribusikan shelter kits kepada 1.000 keluarga penyintas sebagai langkah awal untuk membangun kembali kehidupan mereka. Bagi siapa pun yang ingin menjadi bagian dari perjalanan pemulihan ini, Anda dapat berkontribusi melalui: kitabisa.com/campaign/bangunharapansibolga

Menyambut tahun baru, kami melangkah dengan keyakinan yang diperbarui—keyakinan bahwa setiap langkah kecil sangat berarti, dan ketika kita bergerak bersama, perubahan dapat terjadi berulang kali, berlipat ganda dengan cara yang mungkin tidak kita duga sebelumnya.

Habitat for Humanity Indonesia bangga dapat terus membangun masa depan bersama keluarga-keluarga di seluruh negeri—tidak hanya hari ini, tetapi juga di tahun-tahun mendatang.

Dengan rasa syukur yang mendalam, kami mengucapkan:

Terima kasih atas kepercayaan Anda,

terima kasih atas kerja keras Anda,

dan terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga besar Habitat for Humanity Indonesia.

Kami menantikan tahun-tahun ke depan yang penuh dengan kolaborasi, pertumbuhan, dan kisah-kisah luar biasa bersama Anda.

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Climate
Kabar Habitat

Dorong Strategi “Climate Resilient Housing 2030”, Habitat for Humanity Indonesia Gandeng Kolaborasi Lintas Sektor

Jakarta, 23 Desember 2025 – Perumahan yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan nasional bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia, Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan menyatakan bahwa hampir 80% bencana di Indonesia terkait hidroklimatologi (banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang/badai). Dampak ini sangat memukul masyarakat terutama wanita di permukiman informal dengan dampak kesehatan dan biaya hidup akibat kekeringan, kenaikan suhu dan naiknya permukaan laut.

Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Boby Wahyu Hernawan, menyampaikan dalam media briefing Kemenkeu (29 Mei 2024) tanpa langkah adaptasi serius, perubahan iklim diproyeksikan merugikan Indonesia hingga 2,87% dari PDB setiap tahunnya pada 2045.

Dalam sambutannya, Handoko Ngadiman (Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia) menyatakan, “Bagi keluarga besar Habitat for Humanity, perumahan tangguh iklim bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah per tahun adalah peluang strategis untuk memasukkan prinsip ketangguhan dan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan. Selain itu, kami menyadari pentingnya skema pembiayaan yang inklusif dan fleksibel—seperti pembiayaan mikro dan peningkatan rumah secara bertahap—agar keluarga berpenghasilan rendah, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan kelompok rentan tidak tertinggal. Pembiayaan yang inklusif ini juga diperlukan untuk membiayai perbaikan rumah menjadi adaptif terhadap iklim.”

Kolaborasi Strategis dan Kebijakan

Lokakarya yang dimoderatori oleh Dr. Saut Sagala (Global Resilience Specialist dari RDI dan Associate Professor dari ITB) menghadirkan para pakar dari berbagai institusi untuk menyelaraskan kebijakan adaptasi. Berdasarkan hasil curah gagasan, lokakarya ini merumuskan beberapa Temuan Kunci:

  • Ketahanan iklim di bidang perumahan telah dimandatkan dalam RPJPN-RPJMN dan terhubung dengan sektor air, sanitasi, serta tata ruang hingga level rumah tangga.
  • Implementasi di tingkat tapak masih belum konsisten meskipun perumahan merupakan bagian penting agenda adaptasi nasional.
  • Desain “passive cooling” berbasis kondisi lokal (seperti hasil kajian di Desa Wunung, Kabupaten Gunung Kidul) efektif meningkatkan kualitas udara dan kesejukan rumah.

“Program pembangunan rumah nasional merupakan peluang unik untuk memasukkan desain adaptif iklim ke dalam kebijakan pemerintah. Kita perlu memastikan adanya enabler berupa kerangka kerja dan regulasi yang mendukung keterjangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, agar target hunian layak dan tangguh tahun 2030 dapat tercapai,” Ira Lubis, ST., MIDP, Koordinator Bidang Perumahan, Kementerian PPN/Bappenas, menekankan pentingnya integrasi kebijakan

Khairunnisa Destyany Qatrunnada, S.Si., Staf Ahli Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, mewakili Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, menambahkan terkait aspek mitigasi dan adaptasi, “Mengadaptasi bangunan untuk menghadapi perubahan iklim dan mengurangi emisi adalah dua hal yang saling memperkuat. Kami mendukung langkah-langkah teknis seperti penggunaan material rendah karbon dan sistem drainase yang lebih baik untuk menjaga kohesi komunitas di lokasi asli mereka.” Selain itu, Prof. Ir. Suparwoko, MURP., Ph.D. (Universitas Islam Indonesia), juga menyoroti pentingnya panduan teknis perumahan adaptif yang kontekstual bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Ekosistem Pembiayaan dan Ekonomi Sirkular

Lokakarya ini juga membahas inovasi finansial bersama Tadianto Slamet Saputro dari Komida, yang menekankan pentingnya indikator ketangguhan yang dirancang secara bertahap agar peningkatan rumah tetap terjangkau bagi komunitas MBR. Di sisi lain, Novita Tan (Co-founder dan CEO Rebricks) memaparkan potensi ekonomi sirkular dalam sektor konstruksi untuk mengurangi risiko iklim sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Rekomendasi Utama Lokakarya

Sebagai hasil dari diskusi intensif, Habitat for Humanity Indonesia merangkum rekomendasi berikut:

  • Pendekatan Berbasis Bukti: Mengutamakan evidence-based design dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pada program perumahan MBR.
  • Inklusi Komunitas: Memprioritaskan intervensi dengan pemanfaatan material lokal dan penguatan kapasitas tukang setempat melalui pelatihan.
  • Pilot Project: Melaksanakan studi percontohan untuk menguji efektivitas panduan teknis di berbagai wilayah, terutama di wilayah rawan bencana.

Habitat for Humanity Indonesia berharap hasil lokakarya ini menjadi landasan kolaborasi jangka panjang melalui skema Public Private Partnership (PPP) demi mewujudkan hunian yang tangguh bagi masa depan Indonesia.

(av/as)

HFHI – DR Sumatera
Kabar Habitat

Awali Program Pemulihan Pasca Banjir Sumatera, Habitat for Humanity Indonesia Lakukan Kajian Cepat Pascabencana di Sibolga

Sibolga, 12 Desember 2025 – Lebih dari dua pekan pasca banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, puluhan ribu keluarga masih berada dalam kondisi sulit. Lebih dari 157.800 rumah rusak dan ratusan ribu warga masih mengungsi (BNPB, 12 Desember 2025). Di banyak titik, warga belum dapat kembali karena kondisi lingkungan yang belum aman dan rumah yang hancur diterjang material longsor.

Di Kota Sibolga, Sumatera Utara, dampak kerusakan juga sangat besar. Menurut laporan BPBD Kota Sibolga per 12 Desember 2025, sedikitnya 7.276 jiwa mengungsi, sementara 665 rumah mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat. Situasi ini membuat kebutuhan akan hunian, sanitasi, dan akses air bersih semakin mendesak, terutama di wilayah yang berada dekat tebing perbukitan dan bantaran sungai.

Asesmen di Lokasi Paling Terdampak

Sejak 10 Desember 2025, tim Habitat for Humanity Indonesia telah berada di Sibolga untuk melakukan asesmen cepat (rapid assessment) guna memetakan kebutuhan mendesak masyarakat khususnya rumah layak huni. Fokus utama pencatatan awal dilakukan di wilayah yang mengalami kerusakan terparah, yaitu Kecamatan Sibolga Utara, meliputi Kelurahan Simare Mare, Angin Nauli, dan Huta Tonga Tonga.

Di Kelurahan Simare Mare, tim menemukan puluhan rumah hancur tersapu banjir bandang dan longsoran material kayu serta batu dari bukit. Banyak keluarga harus meninggalkan rumah tanpa sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

Riang (43), salah satu penyintas yang kini mengungsi di gedung Bank Indonesia, menggambarkan detik-detik terjadinya bencana. “Seharian itu hujan deras dan mati lampu. Sekitar setengah satu malam, saya dengar suara gemuruh batu. Saat itu juga kami lari ke bawah, tak sempat selamatkan apa pun. Rumah saya hancur…,” ujarnya.

Kerusakan juga terjadi di Kelurahan Angin Nauli, di mana sejumlah rumah berdiri di atas daerah aliran sungai (DAS) dan tepi Sungai Aek Doras. Saat banjir bandang pada 25 November 2025, material lumpur, batu, dan kayu menyapu wilayah tersebut dan memicu gelombang air dari bukit menuju dataran rendah. Rumah-rumah mengalami kerusakan beragam dari ringan hingga sedang.

Pilu mendalam juga dirasakan warga Kelurahan Huta Tonga Tonga. Sebanyak 71 kepala keluarga terdampak, dan 51 rumah mengalami rusak berat setelah material pasir setinggi 1,5–2 meter masuk dan menimbun bagian dalam rumah mereka.

Ronald (55), salah satu warga yang memilih bertahan di rumahnya yang hampir tertutup pasir, bercerita kepada tim Habitat for Humanity Indonesia, “Saya tidur di atas sisa kasur yang sudah hampir menyentuh atap. Saya tetap tinggal karena ingin jaga rumah, takut barang dijarah. Tapi tiap hari pasir makin naik… rumah ini hampir tertimbun.”

Cerita para penyintas menggambarkan betapa tingginya kebutuhan akan bantuan pemulihan rumah dan pembersihan lingkungan di Sibolga.

Habitat Indonesia Siapkan Intervensi Dua Tahun untuk Pemulihan Sibolga

Berdasarkan hasil asesmen dan koordinasi di lapangan, Habitat for Humanity Indonesia merencanakan intervensi pemulihan selama dua tahun di Kota Sibolga dan wilayah sekitarnya.

Di tahun pertama, Habitat Indonesia akan berfokus pada dukungan darurat dan perbaikan dasar bagi keluarga terdampak, meliputi:

  • Distribusi shelter kit untuk 500 keluarga
  • Dukungan rubble removal equipment/assistance untuk membantu pembersihan material longsor
  • Perbaikan 500 rumah dengan penguatan struktur (retrofitting)
  • Pengembalian akses sanitasi dan air bersih (WASH)
  • Pelatihan WASH dan Build Back Safer untuk komunitas

Di tahun kedua, Habitat Indonesia akan membangun kembali 300 rumah layak huni berbasis kawasan bagi keluarga terdampak, dengan standar ketahanan lebih baik agar risiko bencana dapat diminimalkan di masa depan.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Habitat Indonesia untuk membantu para penyintas kembali memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan bermartabat.

#Bersama, Bangun Sumatera

Di tengah masa-masa sulit ini, dukungan dari berbagai pihak sangat berarti. Habitat for Humanity Indonesia mengajak masyarakat dari berbagai elemen, baik individu, korporasi, dan para mitra untuk turut serta dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan keluarga terdampak bencana di Sibolga.

Bagi Sahabat Habitat yang ingin berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini, donasi dapat disalurkan melalui BCA: 210-3002-958 (Habitat Kemanusiaan Ind Yay). Informasi lebih lengkap dapat dilihat pada flyer di bawah.

Foto & Penulis: HFHI/Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Pakuwon
Kabar Habitat

Habitat for Humanity Indonesia dan Pakuwon Group Lanjutkan Kolaborasi Bangun Hunian Layak di Gresik

Gresik, 11 Desember 2025 – Habitat for Humanity Indonesia bersama Pakuwon Group kembali melanjutkan komitmen bersama dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya untuk mengurangi angka jutaan keluarga yang masih tinggal di hunian tidak layak.  

Upaya ini diperkuat melalui program CSR Pakuwon Group yang pada tahun ini diarahkan untuk pembangunan 21 unit rumah layak huni di Desa Campurejo, Panceng, Kabupaten Gresik. Pembangunan tersebut secara resmi dimulai dengan seremoni peletakan batu pertama pada Kamis (4/12) lalu. 

Pada kesempatan ini, Bupati Gresik yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Fisik dan Prasarana, Johar Gunawan, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap sinergi yang terbangun dalam program ini. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas permukiman menjadi komitmen serius Pemerintah Kabupaten Gresik.  

Berdasarkan data Dinas Cipta Karya, Perumahan, dan Kawasan Permukiman serta Bappeda, terdapat 145 unit rumah yang menjadi sasaran peningkatan kualitas permukiman, serta 90 unit rumah baru yang dibangun sebagai lokasi relokasi warga dari tanah kas desa. 

“Dari 90 unit tersebut, 69 unit dibiayai negara dan 21 unit difasilitasi melalui CSR Pakuwon Group bersama Habitat for Humanity Indonesia. Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini dan berharap keluarga-keluarga dapat menjaga rumah yang telah dibangun,” ujar Johar Gunawan. 

Dukungan serupa disampaikan oleh Habitat for Humanity Indonesia melalui Abraham Tulung, Resources Development General Manager. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari perjalanan panjang Habitat Indonesia dalam membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga berpenghasilan rendah.  

“Habitat for Humanity Indonesia telah hadir lebih dari 10 tahun membangun hunian layak, menyediakan akses air bersih, serta menghadirkan community center dan sarana toilet bagi keluarga-keluarga yang termasuk dalam kategori desil 1 dan desil 2,” ujarnya. 

Direktur Pakuwon Group, Saibun Wijaya, juga menekankan pentingnya hunian yang aman sebagai fondasi bagi keluarga untuk berkembang. “Rumah yang kami bangun bersama Habitat Indonesia ini diharapkan dapat membantu pemilik rumah merencanakan masa depan dan membuka harapan baru bagi mereka,” katanya. 

Kolaborasi ini menjadi wujud nyata bagaimana sektor swasta, organisasi nirlaba, dan pemerintah daerah dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan solusi perumahan yang berkelanjutan. Dengan pembangunan 21 unit rumah layak huni ini, Desa Campurejo tidak hanya mendapat infrastruktur baru, tetapi juga peluang bagi warganya untuk memulai perjalanan menuju kehidupan yang lebih aman, sehat, dan bermartabat. 

(kh/av)

HFHI – PropCon Golf
Kabar Habitat

PropCon Golf Club Bersama Habitat for Humanity Indonesia Dorong Dampak Nyata Melalui Golf

Jakarta, 8 Desember 2025 – PropCon Golf Club kembali menyelenggarakan turnamen golf tahunannya bertajuk 17th Interdesign PropCon Not Another End of Year Golf Tournament 2025, yang sukses digelar pada Sabtu, 6 Desember 2025 di Damai Indah Golf – BSD Course. Ajang ini menjadi ruang temu para pegolf dari berbagai latar belakang, sekaligus wadah kolaborasi untuk menciptakan dampak sosial. 

Untuk kedua kalinya, PropCon Golf Club menggandeng Habitat for Humanity Indonesia sebagai charity partner, menegaskan komitmen berkelanjutan dalam mendukung akses sanitasi dan pendidikan yang layak. Melalui turnamen ini, berhasil dihimpun dana sebesar Rp103.000.000,-. 

Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk mendukung renovasi 5 unit toilet sekolah serta pembangunan 1 unit toilet baru di MTs–MA Batamiyah, Batam, guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan aman bagi para siswa. 

“Kami percaya bahwa olahraga dapat menjadi jembatan kolaborasi sekaligus sarana berbagi. Melalui turnamen ini, kami ingin menghadirkan dampak nyata yang bisa langsung dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” ujar Bapak Desmond Kandiawan, Ketua Propcon Golf Club. 

Sementara itu, Habitat for Humanity Indonesia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kolaborasi yang terus terjalin. “Ini merupakan sebuah kehormatan bagi Habitat Indonesia untuk kedua kalinya dipercaya sebagai charity partner oleh PropCon Golf Club. Dukungan PropCon Golf Club menjadi bagian penting dalam upaya kami memastikan sekolah memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Dari lapangan golf, harapan itu dibangun bersama,” ungkap Abraham Tulung, Resource Development General Manager Habitat for Humanity Indonesia. 

Turnamen berlangsung dengan suasana kompetitif namun tetap hangat dan bersahabat, mencerminkan semangat kebersamaan di antara para peserta. Lebih dari sekadar penutup tahun, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi mampu menghadirkan perubahan positif bagi masa depan generasi muda Indonesia. 

Simak tayangan video di bawah ini untuk melihat bagaimana kolaborasi Habitat for Humanity Indonesia dan PropCon Golf Club telah memberikan dampak nyata bagi dua sekolah di Karawang dan Gresik pada program sebelumnya:

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Syefira Salsabilla

(ia/kh)

HFHI – HDRR
Kisah Perubahan

15 Tahun Transformasi Kampung Jogoyudan Pasca Erupsi Merapi

Yogyakarta, 3 Desember 2025 – Setiap sudut Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, kini tampak hidup kembali. Tapi lebih dari satu dekade lalu, kawasan ini nyaris kehilangan harapan.

Bagi Rodi Firdaus, Ketua RW 10, ingatan tentang bencana erupsi Gunung Merapi pada 2010 masih terpatri jelas. Kala itu, hujan deras melanda dan lahar dingin mengalir deras ke pemukiman, membawa pasir dan batu sebesar mobil. Hampir 200 rumah terendam, tanggul pembatas tidak mampu menahan arus deras, dan banyak warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka tertimbun lumpur.

“Air waktu itu bergelombang sampai setinggi empat meter. Semuanya terbawa arus, pasir, batu… semua hanyut ke rumah warga,” ujar Rodi, mengenang kejadian itu. Siti Fathonah, warga RW 10, mengingat betul bagaimana paniknya warga kala itu. “Sore itu saya sedang arisan di Balai Warga. Tiba-tiba air deras masuk halaman rumah. Semua terkejut, berlarian menyelamatkan diri,” kata Siti. “Tiga kali banjir datang berturut-turut. Rasanya hampir frustasi.” tambahnya.

Bencana itu menghancurkan fisik dan semangat warga. Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kini rusak berat, sebagian hilang tertimbun lumpur, sebagian lagi kehilangan atap dan dinding. “Rasanya membangun kembali kehidupan di sini sudah tidak mungkin,” kenang Rodi.

Di tengah keterbatasan itu juga, bantuan dari pihak luar nyaris tak terlihat, karena kampung ini tidak masuk dalam titik fokus masa tanggap darurat. Warga merasa terasing dan putus asa.

Namun, harapan mulai muncul pada awal 2011. Habitat for Humanity Indonesia datang ke Jogoyudan, melakukan survei dan pendataan sebagai respons awal pasca-erupsi Merapi. Intervensi pertama berupa pembangunan tujuh sarana toilet komunal, langkah awal untuk memulihkan kebutuhan dasar. “Kami berdiskusi dengan tokoh masyarakat, mendengarkan kebutuhan warga. Dari situ lahir rencana membangun rumah layak huni kembali,” kata Wahyu Kustanta, Community Organizer Habitat Indonesia.

Awal pembangunan rumah dimulai dari RW 10 dengan tujuh rumah. Secara bertahap, pembangunan meluas ke RW 8, 11, 12, dan 13, hingga lebih dari 160 rumah layak huni berdiri kokoh. Rumah-rumah ini dibangun dengan prinsip keamanan, kualitas bahan yang tahan lama, dan desain yang mempertimbangkan kebutuhan warga. “Alhamdulillah, rumah saya ikut dibangun kembali. Karena saya punya usaha warung di rumah, rumah juga dibangun menyesuaikan usaha saya. Sangat membantu,” ungkap Siti Fathonah.

Foto udara Kampung Jogoyudan yang berada di Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta (9/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Selain rumah, Habitat Indonesia membangun sarana air bersih di beberapa titik kampung. Sistem air ini tidak hanya melayani keluarga yang terdampak, tetapi juga warga lain, sehingga akses air bersih merata. Warga juga terlibat langsung dalam pembangunan, menyumbangkan material, tenaga, dan ide. Tiga saluran air hujan juga turut dibangun melalui pendekatan Participatory Approach for Safe Shelter Awareness (PASSA), yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan.

“Keterlibatan warga sangat aktif. Mereka bukan hanya penerima bantuan, tapi juga bagian dari proses pembangunan,” kata Wahyu. “Gotong royong ini membuat mereka merasa memiliki rumahnya sendiri dan komunitas. Warga merasa terlahir kembali,” tambahnya.

Konsep transformation housing yang diterapkan di Jogoyudan tidak sekadar membangun fisik rumah, tetapi juga membangun kapasitas komunitas, memulihkan ekonomi lokal, dan membentuk kesadaran akan tanggung jawab kolektif.

Siti bercerita tentang dampak perubahan itu pada kehidupannya. “Rumah saya sudah layak huni ini membawa perubahan besar bagi hidup saya. Saya mulai menata kembali usaha warung, sedikit demi sedikit. Kini warung saya berkembang, memiliki banyak barang dagangan, dan keluarga merasa aman.” Transformasi ini tidak hanya menyentuh fisik rumah, tapi juga ekonomi rumah tangga dan rasa percaya diri warga.

Hingga penghujung 2025, semua sarana yang dibangun sejak masa pemulihan bencana masih digunakan dan dirawat warga. “Bahkan kami kembangkan dan perbaiki lagi,” kata Rodi. Fasilitas air bersih, misalnya, digunakan oleh warga untuk usaha laundry dan kegiatan ekonomi lain. Hasil pengelolaan air bersih yang dikelola oleh grup PASSA juga digunakan kembali untuk kesejahteraan masyarakat melalui simpan pinjam komunitas.

Program ini menunjukkan bahwa bencana bukanlah akhir, tetapi awal dari perubahan yang nyata. Warga yang semula kehilangan harapan kini menata kembali kehidupan mereka di tanah yang sama. Rumah layak huni, sarana air bersih, dan saluran air hujan bukan hanya aset fisik, tetapi simbol ketangguhan dan kemampuan warga untuk bangkit.

Lebih dari itu, program ini menekankan prinsip disaster risk reduction (DRR) melalui tranformation housing. Konsep ini memadukan pembangunan fisik rumah yang aman, partisipasi masyarakat, dan kesiapsiagaan terhadap bencana di masa depan. Warga yang pernah menjadi korban kini memahami bagaimana menata rumah dan lingkungan agar lebih tahan terhadap risiko, meningkatkan kesadaran kolektif, dan memperkuat komunitas.

Aktivitas warga Kampung Jogoyudan dalam merawat lingkungan di Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta (9/10). Foto: HFHI/Kevin Herbian

Kini, 15 tahun setelah bencana, Kampung Jogoyudan tidak hanya pulih, tetapi menjadi contoh nyata bahwa intervensi berbasis partisipasi masyarakat dapat mengubah kehidupan. Rumah-rumah yang kokoh, fasilitas air bersih yang merata, dan sistem saluran hujan yang berfungsi baik adalah bukti transformasi yang berkelanjutan. Warga tidak lagi hanya menunggu bantuan, melainkan mereka menjadi agen perubahan bagi komunitasnya sendiri.

Rodi menutup ceritanya dengan keyakinan, “Jika Habitat tidak hadir, mungkin kami tidak bisa tinggal kembali di sini. Sekarang kami tidak hanya punya rumah, tetapi juga rasa aman, ekonomi yang membaik, dan komunitas yang kuat.”

Bencana memang meninggalkan luka, tapi luka itu diubah menjadi fondasi baru untuk kehidupan yang lebih baik. Kampung Jogoyudan membuktikan bahwa pemulihan pasca-bencana bukan sekadar membangun kembali, tetapi menciptakan komunitas tangguh yang mampu menata kehidupan dengan mandiri dan berkelanjutan.

Simak video berikut untuk memahami lebih dalam tentang Housing Disaster Resilience and Recovery (HDRR)!

Video: HFHI/Budi Ariyanto

Penulis: Kevin Herbian

(kh/av)

HFHI – Caterpillar
Kisah Perubahan

Ibu Asnah: Ketekunan dan Doa yang Membuka Pintu Rumah Layak Huni

Tangerang, 1 Desember 2025 – Asnah, 38 tahun, memulai hari sebelum fajar menyingsing. Sejak pukul lima pagi, ia sudah bersiap untuk bekerja di rumah tetangganya, membantu di warung sayur milik mereka. Aktivitasnya berlangsung hingga sore, dengan upah yang tak lebih dari enam puluh ribu rupiah per hari. Kadang, ketika tetangga membutuhkan, Asnah juga diminta membantu pekerjaan rumah mulai dari mencuci pakaian, menggosok baju, atau membersihkan rumah. Ia rela bekerja hingga larut malam demi tambahan penghasilan. Penghasilan ekstra ini sangat berarti, bisa mencapai seratus ribu rupiah, tak jarang juga ditambahkan sembako seperti beras, mie, bahkan telur.

Sebelum menjadi penjaga warung sayur, profesi utama Asnah adalah pembantu rumah tangga. Dari pekerjaan ini, ia bekerja keras, menabung sedikit demi sedikit, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, meski hidup mereka sangat sederhana. Suaminya, Niin, 49 tahun, bekerja sebagai buruh di penggilingan beras dengan upah lima puluh ribu rupiah per hari. Bersama, mereka tinggal di Rajeg, Kabupaten Tangerang, dengan satu anak perempuan yang telah menikah dan masih tinggal bersama mereka.

Kehidupan mereka penuh tantangan. Rumah yang mereka tinggali lebih dari tiga puluh tahun hanyalah bangunan bambu, tanpa struktur kokoh, dengan lantai tanah yang mudah becek saat musim hujan. Genteng yang berlubang dan dinding bambu yang keropos membuat air merembes masuk ke rumah. “Kalau hujan deras, kami semua keluar rumah, numpang ke rumah saudara di sebelah,” kenang Asnah.

Masalah yang paling memilukan adalah ketiadaan toilet. “Saya harus menumpang ke rumah orang. Karena terlalu sering numpang, tetangga sampai mengunci toiletnya supaya keluarga saya tidak pakai,” ujarnya. Ketika keadaan benar-benar mendesak, mereka terpaksa buang air di jamban halaman belakang rumah, bahkan di malam hari dalam gelap gulita.

Krisis mereka tak berhenti di situ. Akses air bersih di rumah juga tidak tersedia. “Waktu saya masih bekerja sebagai pembantu, saya sampai berhutang ke sana-sini agar bisa mengebor air dan memasang sanyo,” cerita Asnah. Begitu pula listrik, hanya setelah menyicil, mereka bisa memasangnya dan berlangganan.

Ibu Asnah dan suaminya berdiri di depan rumah mereka yang tidak layak huni sesaat sebelum dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia di Tangerang. Foto: HFHI/Indah Mai

Setelah fasilitas air dan listrik tersedia, Asnah menyadari satu hal yang tak kalah penting yaitu, rumahnya harus diperbaiki agar layak huni. Namun takdir belum berpihak. “Pas semua hutang untuk air dan listrik lunas, beberapa bulan kemudian rumah saya roboh. Saya pulang kerja, rumah sudah rata. Saya menangis sejadi-jadinya. Sampai akhirnya saya pinjam uang lagi ke majikan saya, sampai beliau datang langsung melihat rumah saya,” kenangnya.

Dengan bantuan majikan, Asnah mendapat pinjaman empat juta rupiah untuk membangun kembali rumahnya. “Ya, dibangun sebisanya saja, dibantu saudara-saudara. Rumah berdiri dengan dinding bambu dan lantai tanah,” ujarnya. Meski sederhana, rumah itu menjadi tempat berlindung. Dari sisa reruntuhan yang masih bisa digunakan, Asnah dan keluarganya memanfaatkannya untuk membangun kembali rumah mereka.

Meski begitu, Asnah dan Niin tidak pernah putus harapan. Mereka terus berdoa dan menabung sedikit demi sedikit, menargetkan tahun 2026 untuk merenovasi rumah agar lebih kokoh dan layak. Namun kehidupan sehari-hari memaksa mereka menunda impian itu. Uang yang dikumpulkan selalu habis untuk kebutuhan keluarga, memaksa Asnah bekerja lebih giat hingga waktu bersama keluarga pun berkurang.

Hingga akhirnya, impian mereka menjadi nyata lebih cepat dari yang diperkirakan. Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan PT Caterpillar Indonesia dan PT Caterpillar Finance Indonesia memilih Asnah sebagai salah satu penerima program Rumah Layak Huni.

“Waktu saya dapat kabar lewat Pak RT bahwa rumah saya akan dibangun lebih layak, saya sangat bersyukur. Sampai terharu, enggak bisa berkata-kata,” ujar Asnah dengan mata berkaca-kaca.

Gotong royong relawan Caterpillar membangun rumah layak huni milik Ibu Asnah dan dua keluarga lainnya di Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Baca juga: Rumah Layak Jadi Tumpuan Hidup Keluarga Ibu Imas

Pada awal Agustus 2025, sebanyak 69 relawan karyawan Caterpillar memulai pembangunan pondasi rumah Asnah bersama dua keluarga lain. Perjuangan bertahun-tahun Asnah akhirnya membuahkan hasil, rumah layak huni yang bisa memberikan perlindungan dan martabat bagi keluarga.

“Usaha saya bertahun-tahun menghidupi keluarga banting tulang, baru kali ini punya rumah yang bagus. Dulu serba sulit, sampai beli gas untuk masak saja harus ngutang. Sekarang saya punya rumah layak, ada toilet dan kamar mandi, jadi enggak perlu numpang lagi. Saya enggak malu lagi,” ungkapnya penuh kebahagiaan.

Bantuan ini juga terasa seperti jawaban doa mereka. “Rencana saya mau renovasi rumah tahun depan, Alhamdulillah terjawab sekarang. Jadi saya bisa pakai uang tabungan untuk bayar semua hutang. Rasanya seperti memulai hidup dari nol, jauh lebih tenang,” tambah Asnah.

Selama hampir dua bulan pembangunan, Asnah dan Niin turut berkontribusi langsung. Mereka bangun lebih pagi, memindahkan material, dan bahkan menyediakan hidangan bagi para pekerja konstruksi, meski dengan keterbatasan mereka sendiri.

“Bapak selalu bantu pak tukang. Saya bekerja di rumah tetangga cari penghasilan tambahan. Bahkan majikan saya sering memberi lebih dari upah untuk bantu pembangunan rumah. Syukur, plafon rumah saya akhirnya terbeli tanpa hutang,” jelas Asnah.

Kini, rumah baru Asnah menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Udara lebih bersih, bebas tikus, dan cucu mereka pun tidak lagi rewel setiap malam karena kepanasan.

Potret keluarga kecil Ibu Asnah di depan rumah mereka yang telah layak huni setelah dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia bersama Caterpillar di Tangerang. Foto: HFHI/Kevin Herbian

Ia kini tetap bekerja sebagai penjaga warung sayur tetangganya yang baru ia geluti setelah rumahnya layak huni, juga tetap menambah penghasilan sebagai pembantu rumah tangga di waktu kosong. Perubahan ini bukan sekadar soal pekerjaan, tapi juga martabat, kesehatan, dan stabilitas ekonomi keluarga.

“Rumah ini tempat saya berteduh sampai akhir hayat. Seumur hidup, keluarga pasti kembali ke rumah ini,” tutup Asnah dengan keyakinan dan senyum penuh haru.

Setiap bata yang tersusun, setiap lantai yang tertata rapi, bukan hanya sekadar bangunan, tapi saksi bisu perjuangan, harapan, dan doa yang tak pernah padam. Dengan bantuanmu, lebih banyak keluarga seperti Asnah bisa menyalakan cahaya di rumah mereka, menata hidup dari nol, dan menatap masa depan dengan percaya diri.

Mari bersama-sama menjadi bagian dari cerita ini, menanam kebaikan yang akan terus tumbuh di setiap rumah yang kita bantu. Kunjungi: habitatindonesia.org/donate

Penulis: Kevin Herbian

(av/kh)