Habinion

MERAWAT ANAK-ANAK DEMI KEJAYAAN BANGSA

Ada suatu kutipan menarik dari John F. Kennedy – mantan Presiden Amerika Serikat  tentang betapa pentingnya keberadaan anak-anak bagi sebuah bangsa. “Anak-anak adalah sumber daya yang paling berharga di dunia dan harapan terbaik untuk masa depan.” Kutipan ini membuat kita jadi teringat sebuah kutipan menarik lainnya yang dari Soekarno – Presiden R.I. pertama : “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan di awal tahun 2015 oleh UNICEF Indonesia, disebutkan bahwa dari sekitar 250 juta orang penduduk Indonesia, kira-kira 84 juta diantaranya atau sepertiganya adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.  Dengan tingkat kesuburan sebesar 2,6 dan harapan hidup saat lahir, yaitu 69 tahun untuk anak laki-laki dan 73 tahun untuk perempuan, Indonesia akan terus memiliki penduduk anak-anak dan remaja yang bertambah dengan pesat.  

Sementara itu, berbagai teori psikologi perkembangan tegas menyatakan bahwa usia anak ialah periode keemasan. Rumah, sekolah, dan masyarakat menjadi tiga medan strategis untuk pembentukan fondasi fisik, psikis, sosial, dan spiritual yang dibutuhkan seluruh individu. Konsekuensinya, dibutuhkan tiga pilar yang harus selalu ada di setiap rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai bagian integral dalam setiap pola asuh dan pola pendidikan.

Sayangnya data KPAI per Maret 2018 menunjukkan sejumlah kasus kekerasan yang menyebabkan anak meninggal dilakukan oleh orang tua dan orang dekat. Ibu, menempati pelaku kekerasan tertinggi yaitu 44 persen, ibu dan ayah tiri 22 persen, ayah 18 persen, pengasuh 8 persen, dan pengasuh pengganti (tante, ayah tiri) 8 persen (Beritagar.id, 2018).  Sementara itu dari pengawasan langsung KPAI hingga Mei 2018 tercatat kasus kekerasan seksual oknum guru terhadap peserta didik, mencapai 13 persen.” (Kompas.com, 2018).

Data-data di atas memperlihatkan kita orang dewasa gagal melindungi dan mempersiapkan pertumbuhan serta pendidikan karakter yang baik bagi sebagian besar anak-anak negeri ini. Jika ini yang terjadi maka Bumi Pertiwi tercinta ini akan menjadi bangsa yang terus terjajah. Orangtua, guru, dan masyarakat mestinya kembali pada peran sentralnya untuk melindungi, mencari minat dan bakat seorang anak dalam menentukan masa depannya nanti.  Sebab, mereka merupakan garda terdepan dalam membentuk karakter anak ke arah yang lebih baik; dan sebaliknya bukan sebagai predator anak!

Unicef pada Desember 2005 meneliti kondisi anak-anak korban tsunami di beberapa negara (Mediaindonesia.com, 2018). Sejumlah kutipan langsung berikut ini ialah jawaban mereka. Di India, anak-anak berseru, “Kami ingin bekerja gigih, belajar tekun. Namun, kadang kami waswas, dapatkah kami menuntut ilmu lebih tinggi lagi?”

Anak lain India berkata, “Kami ingin bekerja secara layak agar bisa mendapatkan kembali barang-barang kami yang hilang.” Jawaban anak-anak di Thailand, “Kami hanya ingin wisatawan kembali ke sini.” Bocah-bocah di Sri Lanka menyatakan, “Aku ingin ayahku bisa mendapatkan peralatan sehingga mereka dapat kembali bekerja.”

Berbeda pilihan kata, tetapi ada benang merah: mereka ialah anak-anak visioner yang percaya perbaikan nasib ditentukan diri sendiri.

Anak-anak Indonesia juga tidak akan terintimidasi oleh proyeksi seram apa pun tentang masa depan, Tsunami bisa meluluhlantakkan bumi, gempa bisa meremukkan semua yang dicintai, dan api dapat menghanguskan apa pun yang berharga. Namun, bangsa ini akan menuju ke titik paling bawah atau terporosok jika tumbuh kembang  dan pendidikan anak-anak diabaikan, serta mata rantai kekerasan terhadap anak tidak diputus.

Oleh: Aditya Ferdiand

Dari berbagai sumber