Bangkit dan Terus Mengemudi : Kisah Herman

Herman (38), lahir dan besar di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah. Herman kehilangan pekerjaannya sebagai sopir truk pengangkut air mineral setelah gempa bumi dan tsunami melanda Palu, Donggala, Sigi dan wilayah sekita (28/9/2018) . Seminggu sesudahnya ayah 4 orang anak ini bekerja sebagai sopir  tim tanggap cepat (rapid respond tim) Habitat for Humanity Indonesia hingga hari ini. Lebih dari sebulan setelah gempa bumi dan tsunami melululantakan Palu dan sekitarnya, Herman kini tinggal di sebuah kamp pengungsian bersama istri dan keempat anaknya.

“Saya hampir kehilangan keluarga saya ketika gempa bumi dan likuifaksi melenyapkan Balaroa. Saya beruntung mereka selamat,” Herman menceritakan gempa bumi dan tsunami berkekuatan 7,5 SR yang menimbulkan kerusakan yang masif di lingkungan tempat tinggalnya dan daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah.

Hari itu Herman keluar mengendarai truk, mengantarkan air dari kota Palu ke wilayah sekitar; rutinitas biasa yang sudah ditekuninya selama tiga tahun terakhir. “Saat itu sudah sore dan saya baru saja selesai melakukan pengiriman air terakhir. Tiba-tiba saya merasa mobil terseok ke kiri dan kanan, makin lama makin cepat.” Saya menghentikan truk di pinggir jalan dan melihat orang-orang berlari dan keluar dari rumah dan bangunan tempat mereka berada,”katanya.

“Saya melihat jalan retak-retak hingga menganga, tiang-tiang listrik dan lampu-lampu jalan tumbang. Orang-orang menangis dan menjerit. Saya mencoba untuk tidak panik ketika saya berpikir tentang keluarga saya di rumah.”

Herman kemudian mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa di dalam dirinya untuk sampai ke rumah.

“Di tengah kepanikan dan kehancuran di sekitar saya, saya harus menemukan jalan pulang ketika malam tiba. Hari sudah gelap ketika saya sampai di rumah kami. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat, rumah kami rata dengan tanah. Puing-puingnya berserakan hingga ke tepi jalan. Setengah tanah runtuh, bersamaan dengan puluhan hektar tanah lainnya yang mengubur wilayah Balaroa, termasuk sejumlah sanak saudara dan  kerabat dekat saya. ”

“Istri dan anak-anak saya dicekam ketakutan, menangis ketika saya menemukan mereka. Mereka hampir tidak selamat. Istri saya mengatakan kepada saya bahwa mereka keluar secepat yang mereka bisa sebelum rumah roboh dan sebagian tanah runtuh. Istri saya yang sedang mandi bahkan tidak sempat memakai apa-apa karena fokus menyelamatkan anak-anak kami.”

Herman khawatir tentang masa depan keluarganya yang kini tinggal di kamp pengunsian. Dia tidak ingin anak-anaknya sakit. Herman dan keluarga termasuk di antara ribuan  pengungsi yang kini masih tinggal di kamp pengungsian.

“Kami hidup tergantung dari jata harian di kamp. Mulai dari air, makanan dan kebutuhan lainnya. Rasanya sulit untuk dibayangkan bagaimana susahnya tinggal di kamp selama beberapa bulan ke depan, bahkan lebih lama lagi. Saya ingin memindahkan keluarga saya di tempat yang lebih aman. ”

Sebagai sopir, Herman dapat melihat bagaimana Habitat for Humanity Indonesia bekerja di lapangan, melayani masyarakat yang terdampak. Baru-baru ini Habitat for Humanity Indonesia hadir di Desa Wisolo dan Jono, Kabupaten Sigi untuk mendistribusikan Hygine Kits dan Emergency Shelter Kits untuk membantu ribuan keluarga yang terdampak bencana.

“Saya bersyukur mendapat pekerjaan baru di Habitat yang juga memungkinkan saya melakukan satu hal kecil  untuk membantu mereka yang terdampak gempa seperti saya. Saya berharap dalam beberapa bulan ke depan saya bisa mulai membangun kembali rumah kami. Dengan semangat gotong royong seluruh masyarakat Sulawesi Tengah dapat mengatasi kesulitan yang ada dan bangkit kembali. ”