Yogyakarta: Kisah Nekat Penjual Mie Ayam yang Sadar Pentingnya Sebuah Hunian

Sabari tidak pernah mampu membangun sebuah rumah. Tiap kali berencana selalu gagal. Seperti yang pernah ia alami beberapa tahun lalu di Kulon Progo. Dia meminjam dana sebesar 8 juta rupiah untuk membeli bahan-bahan bangunan. Tapi karena kurangnya dana, bahan bangunan tersebut dibiarkan mangkrak hingga dirinya kembali ke kampung kelahiran di Selopamioro Bantul. Hutang 8 juta rupiah saat itu pun ia tinggalkan tanpa mampu mengembalikan sepeser pun.
Ketika menentap di Selopamioro Sabari lagi-lagi nekat membangun rumah ala kadarnya. Yang ada di benak Sabari adalah dirinya harus berhasil membangun rumah sendiri. Banyaknya hutang yang dimiliki tak dijadikannya sebagai beban. Sabari sendiri menyadari bahwa seringkali tindakan dan idenya terdengar tak logis, seperti rela menggadaikan motor satu-satunya dan meminjam dana dengan jumlah besar hanya untuk membeli bahan-bahan bangunan bekas untuk digunakan membangun rumah yang sangat sederhana.
Kondisi rumah ala kadarnya ini juga sangat miris, pasalnya atap berupa asbes bekas cukup rendah dari lantai rumah. Sabari mengaku sering kepanasan ketika berada di dalam ruang di siang hari. “Untuk bangun rumah, dulu saya mengumpulkan barang-barang bekas seperti triplek, bambu, GRC, seng dan sebagainya untuk saya jadikan sebagai dinding dan atap. Beberapa ada yang saya beli bekas di toko, ada juga yang merupakan pemberian saudara-saudara di kampung. Kalau listrik saya minta dari adik di rumah sebelah,” ungkapnya.
Untuk MCK, Sabari dan keluarga harus pandai-pandai mencari kakus di rumah-rumah tetangga. Bahkan sering kali karena semua kakus dipakai, Sabari nekat pergi ke masjid terdekat untuk MCK sembari sholat. “Ya kadang bilangnya ke tetangga mau sholat, padahal sebenarnya mau numpang mandi atau numpang ke belakang,” jelasnya sembari tertawa.
Kini Sabari telah menempati rumah baru yang dibangun oleh HFH Indonesia. Atapnya jauh lebih tinggi dibanding atap rumah sebelumnya. Kakus juga tersedia di dalam rumah, sehingga Sabari dan keluarga tidak perlu kebingungan numpang MCK di rumah tetangga atau nekat numpang MCK di masjid desa.
Sambil terus menggeluti usaha Mie Ayamnya, Sabari berharap dapat mengembalikan hutang-hutangnya dengan segera. Dengan memiliki rumah baru yang kokoh dan nyaman, Sabari memiliki keyakinan besar bahwa babak baru dalam kehidupannya baru saja dimulai. “Nanti, kalau dinding rumah ini selesai saya cat mbak, foto rumah lama tidak akan saya buang. Malah mau saya pajang, supaya saya selalu ingat waktu-waktu susah dan sulitnya bangun rumah itu.” Tandas Sabari sambil menatap dinding ruang tamunya.

Leave A Comment