Visi

Dunia di mana setiap orang memiliki tempat tinggal yang layak untuk hidup

Misi

Berusaha mewujudkan kasih Tuhan, Habitat for Humanity mengajak setiap orang bersama membangun rumah, komunitas, dan harapan.

Peternakan Koionia dan Dana Kemanusiaan

Pada awalnya, konsep dari Habitat for Humanity ini lahir di Amerika Serikat, tepatnya Koinonia Farm, yaitu sebuah komunitas peternakan Kristiani yang kecil. Koinonia Farm didirikan pada tahun 1942 oleh seorang petani dan Sarjana Alkitab, Clarence Jordan (kanan) dan beberapa orang lainnya untuk mempromosikan rekonsiliasi rasial. Di Koinonia, Jordan dan rekannya, Linda Fuller mengembangkan sebuah konsep “Partnership Housing” yang mengutamakan mereka yang membutuhkan bangunan yang memadai.

Habitat for Humanity International

Habitat for Humanity lahir pada tahun 1968, dimulai dari penataan 42 setengah hektar situs rumah dengan 4 hektarnya dibangun untuk sebuah taman komunitas dan area rekreasi. Modalnya pun disumbangkan dari berbagai negara.  Lalu, pada tahun 1973, Fuller memutuskan untuk mulai menerapkan konsep,”Fund for Humanity” pada negara berkembang dengan tujuan menawarkan tempat tinggal yang terjangkau namun layak pakai untuk 2000 orang, beliau pun kembali ke Amerika Serikat setelah 3 tahun.

Melalui usaha Habitat, ratusan ribu keluarga berpenghasilan rendah telah menemukan harapan baru dalam bentuk perumahan yang terjangkau. Perusahaan, gereja, kelompok masyarakat, pemerintah dan lain-lain juga telah bergabung bersama untuk mengatasi masalah sosial yang signifikan ini.

Habitat for Humanity Indonesia

Melalui perjalanan panjang, akhirnya Habitat for Humanity Indonesia lahir pada tanggal 1 Mei 1997. Habitat for Humanity Indonesia adalah sebuah organisasi non-profit yang didedikasikan untuk mengurangi perumahan-perumahan yang tidak layak dari masyarakat Indonesia dengan membangun rumah-rumah yang sederhana, layak dan terjangkau.

Sejak berdiri tahun 1997, Habitat for Humanity Indonesia telah membangun rumah untuk lebih dari 49.274* keluarga di 13 provinsi, 47 daerah dan kotamadya se-Indonesia. Telah banyak sukarelawan yang bersedia untuk mengikuti kegiatan “Build” di mana mereka akan langsung berpartisipasi dalam pembangunan rumah-rumah untuk para penduduk yang membutuhkan. Tidak lupa juga, anak-anak muda pun juga mengikuti kegiatan tersebut untuk membantu Habitat dalam mewujudkan visi mereka, yaitu,”Dunia di mana setiap orang punya hunian layak untuk hidup”

(*Data Desember 2016)

1997-2002

Merintis Kepedulian bagi Keluarga Berpenghasilan Rendah

Rumah pertama dibangun Habitat for Humanity Indonesia bekerja sama dengan Universitas Kristen Duta Wacana, Sleman Yogyakarta. Memulai Program Menabung, keluarga menyediakan sepertiga dana untuk membangun rumah, Habitat for Humanity Indonesia menanggung sisanya. Pada 2002 Habitat for Humanity Indonesia meluncurkan program tanggap bencana pertama di Kec. Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dengan membangun 50 rumah.

2003-2007

Membangun rumah di Wilayah Terdampak Bencana Alam

Membangun rumah dan fasilitas warga di Bantul, Yogyakarta pasca bencana gempa bumi. Berperan serta aktif dalam pembangunan kembali Aceh Paska bencana Tsunami. Menjangkau 8.248 keluarga terlayani.

2008-2013

Membangun Profesionalisme

Menjangkau 32.278 keluarga terlayani Tanggap Bencana (Disaster Response) Pengalengan, Jawa Barat Tanggap Bencana (Disaster Response) Sumatera Barat. Tanggap Bencana (Disaster Response) Tsunami di Mentawai. Tanggap Bencana (Disaster Response) Ledakan Gunung Merapi. Penerapan sistem cluster area.

2014-2020

Bertumbuh dalam Kualitas

Menjangkau 100.000 keluarga terlayani. Standarisasi bentuk ukuran rumah. Standarisasi Pemilihan keluarga Mitra, Audit Independen, bergabung dalam IGCN (International Global Compact Network) dan Humanitarian Forum Indonesia.

Karena Rumah adalah Awal dari Kehidupan Keluarga dan Sarana Membangun Bangsa

  • Rumah layak huni adalah hak asasi manusia. Setiap orang berhak untuk tinggal di rumah yang layak. Rumah layak huni juga sangat penting bagi pembangunan kesehatan, pendidikan, dan taraf ekonomi keluarga. Bahkan, rumah menjadi satu cara paling kuat untuk mengurangi indikator kemiskinan suatu bangsa.
  • Keluarga Membutuhkan Air Bersih. Untuk keperluan memasak makanan dan minuman, mandi, serta mencuci.
  • Keluarga Membutuhkan Sanitasi. Sehingga kotoran bisa jauh dari jangkauan kontak manusia dan tidak menjadi sarana penyebaran bibit penyakit.
  • Anak-anak Membutuhkan Tempat Belajar. Pendidikan di rumah adalah kunci penting bagi anak-anak untuk meraih masa depan yang cerah.
  • Keluarga Membutuhkan Pengembangan Taraf Ekonomi. Banyak bisnis besar berawal dari skala rumah tangga dan keluarga bisa memperoleh tambahan penghasilan.