Cluster Approach (Pendekatan Klaster)

Pendekatan Berkelompok / Cluster Aproach

Pada prinsipnya dalam menentukan area wilayah proyek/ program Habitat sedapat mungkin menggunakan pendekatan berkelompok (cluster approach) baik dari aspek fisik bangunan maupun kesamaan aspek lokal masyarakatnya.

Selopamioro, Yogyakarta

Dalam konteks permukiman, permukiman kelompok/clustered settlement adalah suatu pola permukiman di mana rumah dan bangunan lainnya terletak berdekatan satu dengan yang lain. Oleh karena itu cluster mempunyai arti berkelompok dari aspek fisik.

Kabil, Batam

Dalam prakteknya, pengelompokan fisik melibatkan kedua aspek di atas. Oleh karena itu pemilihan cluster perlu mempertimbangkan baik aspek fisik dan aspek lokalitas lainnya, yang terkadang tidak sama dengan satuan terkecil dari unit administratif pemerintah lokal (unstat.un.org). Namun cluster ini bisa saja sama dengan satuan administratif (RT, RW, Desa, Kecamatan).

Tujuan dari mengimplementasikan program secara berkelompok (cluster) adalah:

  • Lebih menjamin tercapainya impact dari suatu program di masyarakat
  • Memudahkan pengorganisasian dan partisipasi masyarakat
  • Untuk efisiensi dan efektivitas monitoring dan biaya

 

 

Mauk, Tangerang

Intinya pendekatan secara berkelompok (cluster approach) merupakan LOB di mana program perbaikan kualitas perumahan dilakukan tidak menyebar namun berkelompok di mana rumah dan bangunan fisik lainnya terletak berdekatan satu dengan yang lain. Pendekatan ini diharapkan bisa menghasilkan impact yang lebih dalam melalui intervensi yang lebih holistic di suatu kawasan yang tidak menyebar. Program ini diimplementasikan pada suatu area tertentu (misalnya Kelurahan / Desa) yang disebut Program Site, dengan jumlah warga yang berada di bawah garis kemiskinan yang cukup signifikan, memiliki Master Plan dan Komitmen cukup panjang (2-5 tahun).

Wringin Anom, Surabaya