Tipe Program

Program Habitat terbagi dalam 2 kelompok yaitu housing (perumahan) dan non-housing (non perumahan). Program perumahan Habitat terbagi atas Housing Construction dan Housing Support Services.

Habitat for Humanity Indonesia ikut mendukung program Pemerintah dalam rangka penanganan kawasan kumuh, merancang `Program Prakarsa Permukiman 100-0-100. Deretan angka tersebut yaitu 100 persen akses air bersih, 0 persen kawasan kumuh, dan 100 persen akses sanitasi melalui program-program kreatif dan inovatif dari Pemerintah Daerah, komunitas atau kelompok masyarakat.

A. Housing Construction

– New House: pembangunan rumah dari awal (pondasi) dan memenuhi 5 standar kualitas rumah Habitat for Humanity (lihat HFH Indonesia, Housing Quality Standard)
– Rehabilitation: perbaikan rumah dalam rangka memenuhi 5 standar kualitas rumah
– Incremental: perbaikan / pembangunan dalam rangka menjawab salah satu dari 5 standar kualitas rumah
– Repair: perbaikan rumah yang tidak terkait langsung dengan 5 standar kualitas rumah
– Community Facilities: fasilitas bersama yang digunakan oleh komunitas seperti ruang serbaguna, taman bermain, perpustakaan

B. Housing Support Services

– Secure Tenure: memberikan pendampingan dalam rangka mendapatkan tanah untuk tempat tinggal secara legal, atau (HSS) meningkatkan status legal tanah.
– Training & Capacity Building
– Safe and Healthy House: Rumah yang Aman dan Sehat, merupakan pelatihan standar yang harus diberikan kepada setiap penerima program HFH Indonesia dalam rangka penyadaran pentingnya rumah yang aman dan sehat
– Water, Sanitation, and Hygiene: pelatihan terkait fasilitas / sarana air bersih, saluran pembuangan air kotor, MCK, dan gaya hidup yang sehat
– Construction Training for Local Labor: pelatihan untuk meningkatkan kualitas tukang lokal / keluarga yang siap menjadi tukang agar mempunyai pengetahuan dan keahlian untuk membangun rumah dengan standar kualitas HFH Indonesia
– Financial Education: pelatihan ekonomi berbasis rumah tangga, memiliki 4 modul yaitu tabungan, pinjaman, menyusun anggaran, merencanakan anggaran pembangunan rumah
– Community Based Disaster Risk Management (CBDRM): pelatihan kepada masyarakat agar slap mengatur komunitasnya dalam menghadapi maupun mitigasi bencana
– Participatory Approach for Save Shelter Awareness (PASSA): pelatihan peningkatan kesadaran masyarakat tentang hunian yang aman terhadap bencana.
Dalam rangka menjaga kualitas training yang diberikan Habitat, dalam setiap pelatihan wajib menggunakan alat/tools untuk mengukur perubahan pemahaman peserta sebelum dan sesudah training diberikan (misalnya adanya pre-test dan post-test). Ketentuan ini mengacu ke standard Housing Quality Standard HFH.
– Material Production: mendirikan workshop atau pabrik untuk memproduksi material yang murah, ramah Iingkungan, dan tepat bagi masyarakat termasuk memberian pelatihan kepada masyarakat untuk bisa memproduksi sendiri material bangunan yang dibutuhkan dalam pembangunan rumah
– Emergency Shelter Kit / Cleaning Kit: pendistribusian alat-alat yang dibutuhkan pasca terjadinya bencana agar masyarakat bisa membangun hunian sementara atau menyiapkan rumahnya untuk bisa dihuni kembali setelah terkena bencana
– Advocacy: kegiatan yang ditujukan kepada stake holder perumahan yang bisa mempengaruhi keputusan, kebijakan, maupun awareness masyarakat akan pentingnya rumah dalam pengentasan kemiskinan

Program Non-Perumahan (Non-Housing Program)
Sebagai sebuah pemicu (trigger) seringkali program perumahan tidak dapat berdiri sendiri, melainkan terkait dengan intervensi lainnya, seperti program pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, maupun advokasi lainnya. HFH Indonesia juga menyadari bahwa dalam pembangunan masyarakat diperlukan kerjasama banyak aktor dengan keahlian dan pengalaman yang berbeda. Oleh karena itu HFH Indonesia mengutamakan pendekatan kemitraan (partnership) dalam mengimplementasikan program-program non-housing. Kemitraan ini dapat berbentuk kerjasama dengan konsultan, LSM / NGO, Community Based Organization (BPD, BKM), Micro Finance Institution (Koperasi, Lembaga Keuangan Mikro), Rural Bank (BPR), organisasi keagamaan, dan organisasi sosial lainnya. Dalam pemilihan mitra, Habitat akan bekerja sama hanya dengan organisasi yang mempunyai misi yang sejalan, dan praktek-praktek yang sesuai prinsip misi (mission principle) maupun kebijakan organisasi HFH maupun HFH Indonesia. Setiap kerjasama akan dituangkan dalam bentuk Perjanjian Kerjasama atau Perjanjian Proyek yang isinya disesuaikan dengan kebutuhan proyek atau program tersebut

Program Tanggap Bencana Dan Rekonstruksi Pasca Bencana
Indonesia adalah salah satu negara yang seringkali mengalami bencana. Dalam bencana, hunian merupakan salah satu aspek yang turut terkena dampak bencana. Sejak tahun 2005 HFH secara khusus memperkuat program tanggap bencananya ketika terjadi tsunami di Asia Pasifik dimana HFH Indonesia juga membangun Iebih dari 6.000 rumah bagi korban bencana tsunami di Aceh.
Terkait bencana, HFH Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam mengatasi dampak bencana, melalui program tanggap bencana (disaster response). Di lihat dari tahapannya dalam siklus bencana, program HFH Indonesia terkait bencana terbagi menjadi:
1. Program Mitigasi Bencana: program untuk meningkatkan ketahanan dan mengurangi kerentanan suatu kelompok masyarakat, meliputi pelatihan mitigasi bencana seperti Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) dan Pasrticipatory Approach for Save Shelter Awareness (PASSA).
2. Program Tanggap Bencana: program yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana, dilakukan pada masa setelah emergency, utamanya meliputi distribusi Emergency Shelter Kit, Cleaning Kit, dan pembangunan MCK sementara bagi pengungsi.
3. Program Rekonstruksi Pasca Bencana: program yang bertujuan untuk merekonstruksi kembali hunian yang rusak akibat dampak bencana. Programnya meliputi Konstruksi Rumah maupun sarana perumahan, HSS, dan juga program pendukung lainnya.