Pendekatan Pembangunan Bertumpu pada Masyarakat

Pendekatan Pembangunan Bertumpu Pada Masyarakat (Community Based Development Approach) merupakan salah satu pendekatan dalam membangun suatu masyarakat, yang sering diidentikkan dengan kesadaran, keterlibatan, dan kemandirian masyarakat bagi pembangunan mereka sendiri. Pembangunan bertumpu pada komunitasjuga dapat diartikan sebagai pembangunan yang diprakarsai, direncanakan, dilaksanakan oleh komunitas dan dengan hasil yang memberi manfaat pada komunitas itu sendiri. (Tjuk Kuswartoyo, “PBPIVI: Konsep Dan Implementasinya Dalam Penanganan Permukiman Kumuh”, 1999)

Dalam menerapkan pendekatan community based dalam pembangunan perumahan, masyarakat mempunyai hak dan kesempatan untuk memutuskan apa yang baik bagi mereka. Semua keputusan diambil berdasarkan aspirasi, kebutuhan, keinginan, potensi, dan usaha masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat sebagai aktor utama. (Parwoto, “Community Based Housing Development”, lnternat7’onal Advanced Course on Integrated Technology For Housing Planning, Bandung, 1998)

8 Langkah Program Pembangunan Rumah HFH Indonesia

Dalam mengimplementasikan programnya, HFH Indonesia berusaha menggunakan pendekatan berbasis masyarakat di mana keterlibatan masyarakat merupakan faktor penting di dalamnya. Sebagai acuan, HFH Indonesia menggunakan 8 Iangkah dalam program pembangunan rumah.

8 Langkah Program Pembangunan Rumah HFH Indonesia:
1. Survey dan assessment
2. Sosialisasi Program dan Identifikasi Kebutuhan
3. Pembentukan Komite Pembangunan dan Penajaman Program
4. Melakukan seleksi keluarga dengan rekomendasi Komite
5. Melakukan uji publik (untuk program non-pinjaman)
6. Melakukan finalisasi daftar penerima bantuan
7. Membuat kontrak sosial / aturan main bersama kelompok masyarakat
8. Mengimplementasikan program pembangunan

5 Standar Rumah Layak Huni

1. Desain: Luas Rumah miniml 3,5 IVI2 / orang dan minimum 2 ruangan.

Bahan baku menggunakan tenaga kerja dan material lokal yang aman bagi lingkungan dan kesehatan penghuni rumah, serta memungkinkan perawatan yang mudah melalui penggunaan sumber daya lokal.

Lokasi rumah terletak di lokasi yang aman; risiko dari bencana alam diupayakan seminimal mungkin, dan bukan wilayah yang mudah terjangkit penyakit menular, serta ancaman kesehatan.

2. Ketahanan: Pencegahan Bencana di wilayah yang rawan bencana, konstruksi, dan spesifikasi material dapat mencegah dampak terburuk dari bencana yang mungkin terjadi.

Keamanan material struktur cukup kuat untuk memberi kesempatan kepada penghuni rumah guna menyelamatkan diri pada saat terjadi bencana alam, serta memenuhi standar konstruksi yang disetujui Pemerintah dan Habitat for Humanity Indonesia.

3. Kepemilikan Tanah: Kepemilikan ada hak kepemilikan tanah dan bangunan yang sah dari pemerintah berupa Sertifikat Tanah atau Surat keterangan Hak Milik dari pemerintah setempat.

4. Air bersih: Kualitas memiliki suplai kualitas air bersih.

Akses & Kuantitas ada akses air bersih yang aman dan mencukupi untuk kebutuhan minum, memasak serta kebutuhan pribadi. Public Water Point cukup dekat dengan rumah sebagai suplai minimum kebutuhan air keluarga. (minimum 15 liter/hari, jarak maksimum Public Water Point 500 meter, waktu mengantri tidak melebihi 30 menit)

5. Sanitasi: Akses ke Toilet Komunitas memiliki jumlah toilet yang cukup, dekat dengan rumah, dan memungkinkan untuk dijangkau dengan cepat dan aman setiap waktu. Untuk pembangunan rumah baru, wajib disertai dengan toilet pribadi.

Desain, Konstruksi & Kegunaan Toilet diletakkan, dirancang, dibangun, dan dapat dipelihara sedemikian rupa sehingga nyaman, higienis, dan aman. Letak toilet setidaknya 10 meter dari sumber air dan 1,5 meter di atas permukaan air tanah. Untuk toilet komunal, pengguna maksimum 20 orang/toilet, serta harus dipisahkan antara pria dan wanita.

Drainase rumah memiliki lingkungan yang aman dari gangguan kesehatan karena erosi dan genangan air, termasuk semburan air, banjir, air kotor rumah tangga, dan air kotor fasilitas medis.