null

HABIPARTNER

Berpuluh-puluh tahun pasangan Sauri (55) dan Awikah (52) melewatkan malam di rumah bilik bambu berukuran 5x10m, berlantai tanah, tanpa toilet, di Dusun Kulon, RT 03 RW 04 Kesamben kulon, Wringinanom, Gresik. Keadaan seperti ini membuat Sauri dan istri minder dan malu untuk menerima tetangga, bahkan saudara yang datang bersilaturahmi saat momen lebaran tiba. “Rumahnya reyot, jelek, dan kami tidak mampu memperbaiki, apalagi membangun baru. Kami malu kedatangan tamu,” kenang Sauri.

Keadaan mulai berubah ketika Habitat for Humanity Indonesia dan Terminal Peti Kemas Surabaya membangun rumah baru yang kokoh dan nyaman, lengkap dengan kamar mandi dalam untuk keluarga Sauri. Lantas puasa dan idul fitri kali ini menjadi sangat istimewa, karena untuk pertama kalinya  Sauri dan Awikah menjalani puasa dan merayakan idul fitri di rumah baru mereka.

“Alhamdulilah sekali, ini adalah puasa dan lebaran pertama setelah mempunyai dan menempati rumah baru. Anak cucu dan saudara-saudara berkumpul semua di rumah ini. 2 anak, 4 cucu, dan adik-adik bapak, semua berkumpul pas hari raya Idul Fitri. Banyak juga tetangga-tetangga yang datang kerumah untuk berkunjung. Sekarang saya dan istri sudah tidak malu lagi jika di kunjungi saudara atau pun tetangga  saat Lebaran, ” pungkas Sauri.

Rumah baru telah membuat lebaran impian Sauri dan Awikah menjadi kenyataan.  “Di hati kecil kami selalu mendambakan nuansa lebaran seperti ini, namun keadaan membuat kami selama ini tidak berdaya.   Rasanya bahagia sekali akhirnya bisa berkumpul bersama keluarga besar layaknya keluarga-keluarga lain,” papar Awikah dengan mata berkaca-kaca.

Misnadiyanto adalah seorang ayah dengan 2 orang anak. Beliau tinggal bersama ibu mertua dan adik ipar di rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Beruntung sekitar tahun 2016 ada bantuan dari koramil, sehingga ruang tamu rumah itu bisa direnovasi menjadi berdinding bata. Tapi sayang bantuan tersebut tidak termasuk membuatkan WC, sehingga keluarga Yanto begitu biasa beliau dipanggil, masih harus ke sungai utk BAB. Sebagai pekerja serabutan, keuangan keluarga Yanto masih belum bisa utk membuat WC sendiri seperti tetangga-tetangga yang lain.

Tapi bukan hal itu yang membuat sedih Sulasmi, mertua Yanto, apalagi saat Hari Raya Idul Fitri. Yang membuat Sulasmi sedih saat saudara beliau yang dari solo datang, mereka tidak bisa menginap terlalu lama. Mereka terlihat tidak nyaman dirumah tersebut karena belum memiliki WC, sedangkan saudara-saudara tersebut tidak terbiasa BAB di sungai. “Memang ada tetangga yg menawarkan wc nya untuk dipakai, tapi lama-lama ya sungkan mas” kata Yanto.

Berbeda dengan Idul Fitri tahun ini. “Ayo kapan datang ke sini, di sini sudah ada wc” ucap Sulasmi dengan berapi-api, cerita Yanto. Akhirnya tahun ini keluarga tersebut dapat puas melepas kangen dan bersilaturahmi dengan saudara-saudaranya yang jauh dari solo. “Mereka sampai 3 hari disini loh mas, bukan hanya itu teman adik saya juga jadi sering mampir kesini karena mereka sudah tidak khawatir lagi kalo mau BAB. Terimakasih mas”

Pasangan Yamsus (58) dan Aliyah (53) telah bekerja keras sepanjang hidup mereka. Dengan menjadi buruh lepas Yamsus mendapat upah 40 ribu rupiah dan Aliyah 25 ribu rupiah per harinya.  Dari penghasilan tersebut,  Yamsus dan Aliyah membangun rumah berukuran 5×15.5m dengan dinding depan bata, sedangkan selebihnya bilik bambu berlantai tanah di  Dusun Randusongo RT 06 RW 07 Kesamben kulon, Wringinanom, Gresik.

Kenangan yang sangat melekat di benak Yamsus saat rumah bilik bambu adalah Agus anaknya malu kalau di rumah ketika hari raya Idul Fitri. Agus memilih pergi bersama teman-temannya. Agus bahkan tidak memperbolehkan teman-temannya datang atau bermain ke rumah.  “Kalau dulu anak saya yang kecil itu jika lebaran seperti ini malu kalau di rumah. Malah teman-temannya tidak boleh datang ke rumah, ya karena rumah saya dulu kan jelek dan reyot,” kenang Yamsus.

Namun semua itu akhirnya berubah sejak Yamsus dan keluarga tinggal di rumah baru yang dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia dan Lautan Luas. Apalagi lebaran kali ini menjadi lebaran pertama Yamsus dan keluarga di rumah baru mereka.  “Benar-benar ini Lebaran yang membahagiakan pak, selain sekarang sudah mempunyai dan menempati rumah baru, pertama kali pula kami keluarga besar bisa berkumpul di rumah ini,” pungkas  Yamsus.

Lebaran di rumah baru dan bagus seperti ini lebih-lebih menjadi penantian panjang Agus Soleh, putra Yamsus yang sehari-hari bekerja di luar kota. “Pas anak saya pulang ke rumah (mudik), belum apa-apa sudah mengajak pergi untuk beli perabot pak, beli Kasur, lemari, kipas angin dan kulkas. Saya merasa senang sekali pak, bukan karena dibelikan perabot, tetapi bahagia anak saya sekarang sudah tidak malu lagi dengan rumahnya. Teman-temannya banyak yang datang kemarin, disuruh main ke rumah,” kisah  Yamsus.